Share

Bab 82

Penulis: Ipak Munthe
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-16 08:19:29

Sarapan pagi itu terasa berbeda.

Lala duduk bersandar di kepala ranjang, selimut menutup separuh tubuhnya. Wajahnya masih pucat, tapi matanya mengikuti setiap gerak Aran yang duduk di sampingnya, mangkuk kecil di tangan.

“Pelan-pelan,” kata Aran sambil meniup sendok berisi bubur hangat sebelum mendekatkannya ke bibir Lala.

“Kak, aku bisa sendiri,” ujar Lala, meski tangannya tak bergerak mengambil sendok.

“Aku tahu,” jawab Aran tenang. “Tapi pagi ini biar aku aja.”

Lala terdiam.

Akhirnya ia membuka mulut, menerima suapan itu. Hangatnya bubur menyentuh lidahnya, bersamaan dengan perasaan aneh di dadanya—bukan malu, tapi nyaman.

Aran tak tergesa. Setiap suapan diberi jeda, seolah memastikan Lala benar-benar baik-baik saja. Sesekali ibu jarinya mengusap sudut bibir Lala dengan gerakan kecil yang refleks, terlalu lembut untuk disebut kebiasaan, terlalu tulus untuk sekadar perhatian.

“Kamu jangan maksa,” bisik Aran ketika melihat Lala menelan dengan susah payah.

Lala menga
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Godaan Dokter Cantik   Bab 88

    Sarah berdiri di pintu kamar, menatap Aran yang sedang menempelkan ponsel ke telinganya. Wajah Aran serius, nada suaranya dingin tapi lembut—dan itu langsung membuat Sarah sedikit cemburu. “Mas… ngomong sama siapa?” tanya Sarah, mencoba terdengar santai tapi suaranya sedikit meninggi. Aran menoleh sebentar, menatap Sarah dengan ekspresi datar. “Hanya urusan kerjaan… tidak penting,” jawabnya singkat. Sarah mengerutkan alis, tidak puas dengan jawaban itu. “Kerjaan? Yakin,” mendadak Sarah menatap Aran penuh curiga, sambil menyilangkan tangan. Aran menunduk sedikit, sadar ada nada cemburu di suara Sarah. “Ini… memang penting,” ucapnya, mencoba menenangkan suasana. Sarah melangkah mendekat, matanya menatap tajam. “Hmm… serius banget ya? Sampai segitunya?” Aran menghela napas pelan, sedikit frustrasi tapi tetap tenang. “Iya, memangnya kenapa.” katanya, nada sedikit manis tapi tetap tegas. Sarah mendesah, campur kesal dan penasaran. Ia menatap Aran sebentar, lalu menund

  • Godaan Dokter Cantik   Bab 87

    Lala turun dari sepeda motor Kala dengan anggun, tubuhnya tegak dan langkahnya mantap. Setiap gerakan kakinya terlihat lentur dan halus, seolah menari di udara. Kakinya yang ramping dan mulus menyentuh lantai dengan ringan, namun penuh percaya diri. Rambutnya sedikit tertiup angin, menambah kesan anggun yang alami. Saat ia melangkah memasuki ruangan, banyak mata tak sengaja menatapnya, takjub oleh ketenangan dan pesona yang terpancar dari setiap gerakannya. Tidak ada yang bisa mengalihkan pandangan—Lala hadir, dan suasana seketika seolah berhenti sejenak, terpikat oleh keanggunan yang begitu alami. Begitu juga dengan Kala. Matanya tak lepas menatap Lala saat ia melangkah memasuki ruangan. Setiap gerakan Lala terasa ringan, namun penuh wibawa, membuat Kala sejenak lupa bernapas. Kala hanya bisa menelan ludah, takjub oleh cara Lala membawa diri—anggun, percaya diri, dan memikat tanpa perlu berusaha. Ada sesuatu pada Lala yang membuatnya berbeda dari siapapun yang pernah ia temui

  • Godaan Dokter Cantik   Bab 86

    Waktu yang sama… “Hay,” sapa Kala saat melihat Lala keluar dari rumah. “Hay,” jawab Lala singkat. “Kamu kemana dua hari ini? Aku kan kangen sama kamu,” celetuk Kala sambil tersenyum nakal. “Eleh, bulsit. Kemarin juga kamu ngomong gitu ke Indri,” sahut Hani cepat. Kala menoleh, alisnya bertaut. “Apa lihat-lihat?!” geram Hani. “Ada apa dengan asistenmu ini, La? Waktu itu ngintip aku di kamar mandi, kemarin dia nabrak aku, hari ini dia ngomong nggak jelas,” kata Kala sambil menatap Hani tajam. “Heh, aku ngomong jelas, kok. Suster Indri juga bilang begitu,” balas Hani yakin. “Dasar tukang ngintip! Matamu bintitan tu! Suster ngesot kamu cocoknya.” ejek Kala. “Kamu bintitan?” tanya Lala, memperhatikannya dengan serius tapi penasaran. Dan Lala juga baru menyadari. “Abis ngintip!” sela Kala cepat. “Heh, ini itu virus. Aku nggak ngintip, apalagi ngintip kamu. Lagian juga… apa yang mau diintip, kecil,” kata Hani, wajahnya memerah. “Kamu tau dari mana?” tanya Lala, ter

  • Godaan Dokter Cantik   Bab 85

    Pagi datang tanpa aba-aba, menyusup lewat celah gorden yang tak tertutup rapat. Cahaya matahari jatuh miring ke lantai, memantul pucat, seolah ikut ragu untuk menyapa. “Mas, bangun yuk. Sarah sudah masak,” kata Sarah sambil mengelus wajah Aran. Wajah Aran memang tampan, membuatnya sejak dulu sudah jatuh hati padanya. Tapi saat Sarah menyentuh, tubuh Aran terasa hangat—terlalu hangat. “Mas, kamu demam? Muka kamu pucat,” kata Sarah, khawatir. “Kayaknya kecapekan,” jawab Aran pelan. “Makanya kita pindah ke kota saja, Mas. Biar kamu nggak bolak-balik capek begini,” lanjut Sarah. “Iya,” jawab Aran singkat. Sarah tersenyum, membayangkan hidup nyaman sebagai orang kaya. “Aku panggil Lala dulu, biar dia periksa kamu,” katanya lagi, lalu pergi. Aran perlahan keluar dari selimut, tak menyangka Sarah akan memanggil Lala. “Lala,” panggil Sarah sambil menghampiri Lala yang tengah duduk di meja makan. “Ya,” jawab Lala menoleh. “Kamu bisa periksa Mas Aran sebelum berangkat?”

  • Godaan Dokter Cantik   Bab 84

    Di kamar lainnya, Sarah meletakkan kaos kemeja milik Aran yang barusan ia pilih dengan hati-hati di atas ranjang. “Mas, ini pakaian gantinya. Mau mandi dulu atau ganti aja?” tanya Sarah lembut. “Ganti saja,” jawab Aran singkat. “Oh, ya sudah. Aku ke dapur dulu, bikinin kamu teh hangat. Sekalian ambil es buat kompres muka kamu,” katanya lagi. Dengan langkah ringan dan wajah yang tampak lebih cerah, Sarah menuju dapur. Tak lama kemudian ia kembali, membawa secangkir teh hangat, wadah kecil berisi es, dan handuk kecil. Semuanya ia letakkan rapi di atas meja. “Mas…” panggilnya pelan. Sarah melangkah mendekat, lalu memeluk Aran dari belakang. Aran yang baru saja selesai mengenakan pakaian gantinya seketika terdiam. Tubuhnya menegang sesaat, lalu perlahan melembut. “Mas, aku kangen kamu, tau,” ujar Sarah manja, suaranya nyaris berbisik. Aran tak langsung menjawab. Tangannya turun menahan lengan Sarah yang melingkar di pinggangnya. Ada pelukan yang familiar, tapi juga sesuatu

  • Godaan Dokter Cantik   Bab 83

    Mobil akhirnya berhenti di depan rumah ketika malam benar-benar turun. Lampu teras menyala terang, seperti tanda bahwa seseorang telah lama menunggu. Begitu pintu terbuka, Sarah yang sejak tadi berdiri gelisah di ruang tamu langsung berlari kecil ke arah Aran. “Mas!” Tanpa ragu, Sarah menghabur dan memeluk Aran erat, seolah baru saja melepaskan napas yang ia tahan seharian. Tangannya mencengkeram punggung Aran kuat-kuat. “Kamu ke mana aja?” suaranya bergetar. “Aku takut banget. Dari kemarin nggak bisa dihubungi.” Aran sempat terkejut, tapi kemudian membalas pelukan itu sekadarnya. “Aku baik-baik aja,” katanya pelan. “Maaf bikin kamu khawatir.” Lala yang berdiri sedikit di belakang mereka langsung terdiam. Langkahnya tertahan. Pemandangan itu membuat dadanya terasa nyeri, entah karena lelah atau karena sesuatu yang lebih dalam. Tapi akhirnya ia menyadarkan dirinya, ia hanya orang ketiga diantara mereka. Sarah akhirnya melepaskan pelukan itu perlahan, lalu menatap wa

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status