Share

Bab 4. Mulai tergoda

Penulis: Unknown_Book's
last update Terakhir Diperbarui: 2025-11-20 16:27:24

Malam ini Abel tidurnya bersama dengan Arvaz, kamarnya pun dibuat cukup mewah bagi Abel karena wanita itu harus menyusui Arvaz juga.

Anak itu tampak sangat suka menyusu dengan Abel, Abel merasa memiliki anak sendiri jika begini.

"Kamu ini tampan sekali, jadi anaknya Sus Abel sajalah kalau begitu," kata Abel dengan kekehannya, dia sekarang punya teman mengobrol yaitu Arvaz, anak itu seolah melihat Abel yang terus saja mengajaknya bicara meski Arvaz tidak bisa menjawabnya.

Tetapi Abel teringat satu hal, dia menghidupi dirinya saja susah apalagi harus menghidupi Arvaz, diam-diam Abel tersenyum kecut mengingat jika dirinya miskin dan tidak memiliki kehidupan yang menjamin, apalagi keluarganya yang begitu buruk.

"Tidak jadilah Ar, Sus Abel miskin soalnya," gumam Abel dengan kekehannya, dia mengusap kepala Arvaz yang berbaring disebelahnya sambil menyusu.

Anak itu menyusu sampai dia tertidur, setelah memastikan Arvaz tidur kini Abel memperbaiki pakaiannya..

"Ah tidak usahlah pakai bra, takutnya Arvaz juga nangis minta susu lagi, gumam Abel yang langsung melepaskan branya.

Wanita itu mengangkat Arvaz dan membawanya ke dalam box bayi, Abel terlihat sangat hati-hati meletakkan Arvaz yang tampak sangat lelap tidurnya, tapi karena baru tidur Abel takut dia terbangun lagi

"Sudah nyusu, sudah tidur kini Sus Abel yang harus melakukan perawatan, gumam Abel dengan sangat senangnya. Dia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, wanita itu tidak menutup pintu kamar mandi sebab jika Arvaz menangis dia bisa langsung keluar dan tidak menunggu sampai anak itu menjerit-jerit.

Abel merasa kehidupannya jadi seperti orang kaya saat ini, makan disajikan, kamarnya luas dan mewah sekali ada AC pulak tu, bahkan kamar mandinya sangat mewah saat ini.

"Luluran ahh biar kulitku jadi bersih dan wangi," kata Abel sambil duduk bersantai luluran di sana, wanita itu selalu menjaga tubuhnya karena itu adalah aset berharganya.

Setelah beberapa saat dia luluran kini wanita itu udah selesai membersihkannya juga, dari harum kulitnya saja sudah tercium wangi segar yang begitu enak sekali dicium.

"Hem kalau punya suami nanti pasti dia suka cium-cium Abel," gumam Abel dengan terkikik geli sendiri membayangkannya.

Dia memakai handuk yang hanya menutupi bagian gunung besarnya itu sampai ke paha saja, setelahnya dia mulai melakukan bodycare.

Dengan pakai lotion di seluruh tubuhnya sehingga membuat kulitnya jadi bersih, mengkilap dan wangi semerbak, sesekali Abel melirik ke arah boxnya Arvaz

"Aish aku harus memompa ASI-ku biar tidak keluar terus," gumam Abel, dia menyelesaikan bodycarenya dan memompa ASI nya terlebih dahulu sebelum memakai bodymistnya agar semakin wangi.

Tanpa Abel ketahui jika di dalam kamarnya ada CCTV, itu dipasang tanpa Abel ketahui dan bahkan tidak terlihat jika ada CCTV di sana.

Saat ini Leon sedang berada di sebuah hotel, dia baru saja sampai di negara itu dan kini sedang bersantai dengan minumannya sambil melihat layar ipadnya.

Leon hanya memastikan jika anaknya aman di sana bersama pengasuh barunya, ingatkan lagi Leon dengan kejadian dimasa lalu membuat pria itu jadi selalu waspada dengan siapapun yang menjaga anaknya.

Saat ini dia melihat Abel yang duduk di sana sambil memakai sesuatu di tubuhnya, seketika Abel membuka handuknya Leon yang sedang minum hampir saja tersedak.

"Shit wanita ini," umpat Leon menatap bagian lekuk tubuhnya Abel yang terlihat sangat-sangat sempurna, bodynya sangat mantap sekali.

Leon sampai tidak mengalihkan pandangannya sama sekali dari Abel di layar ipadnya.

Terlihat wanita itu memompa ASI-nya agar bisa diberikan kepada bayi kecil yang saat ini tertidur, siapa tau nanti malam dia menangis dan Abel sudah menyiapkan stok ASI untuk si kecil atau bisa saja Arvaz minum dari sumbernya langsung.

Pria itu menatap dengan mata tajamnya bagaimana Abel yang sudah selesai memompa ASI-nya, setelah itu dia semakin tegang saat melihat Abel yang sudah tidak memakai handuk lagi. "Siall" umpat Leon dengan pelan, dia ingin mengalihkan. tatapannya tetapi seperti sayang mau melewatkan tontonan

gratis di layar ipadnya, Leon kembali memperhatikannya.

"Wanita ini kenapa dia sengaja tidak memakai pakaiannya," gumam Leon sambil meneguk habis wine ditangannya.

Sesuatu dibalik celananya ada yang seperti mendesak ingin keluar, mata Leon menatap yang di bawah yang sudah menegang seperti tiang listrik.

"Fuck!"

Leon menggeram rendah, biasanya dia tidak pernah tergoda dengan wanita-wanita yang mencoba merayunya, banyak wanita yang menginginkannya yang bisa didapatkan oleh Leon siapa saja, tetapi tidak ada yang membuat Leon tertarik pada mereka.

Tapi sialnya hanya melihat penampilan Abel dari layar lagi

sudah berhasil membuat Leon menegang sampai seperti itu.

Sedangkan Abel kini memiliki baju tidurnya, dia tidak suka memakai baju tidur yang panjan sehingga memilih baju tidur tali satu dan celana pendek sampai pahanya saja, terlihat sangat seksy sekali wanita satu ini.

Abel melihat pantulan dirinya, rambutnya yang masih basah segera dia keringkan.

"Ish kalau hidupkan pengering bisa-bisa bangun Tuan kecil," gumam Abel dan dia memilih ke kamar mandi untuk mengeringkan rambutnya..

wanita itu ke kamar mandi tetapi lama sekali. "Kemana dia," gumam Leon yang tidak melihat Abel di sana,

"Seharusnya aku pasang saja juga CCTV di sana," gumam Leon dengan gilanya, entah mengapa dia jadi seperti itu terhadap Abel.

Tak lama dia kembali menyeringai melihat Abel yang sudah keluar dari sana, dia duduk di meja rias dan memakai skincarenya.

"Jadi cewe itu harus cantik, rugi banget cowo-cowo gak mau sama cewe cantik kaya Abel gini," kata Abel dengan sangat percaya diri sekali.

Abel terkekeh geli sendiri, dia sudah selesai memakai skincarenya lalu bersiap untuk tidur.

"Ah rasanya baru sehari kerja sudah sangat lelah, tapi ini benar-benar nyaman sekali tuhan," kata Abel dengan merasa nikmat mana lagi yang harus dia dapatkan selain bekerja di sini.

Dia bisa tidur di kasur empuk, kamar mewah dan fasilitasnya juga, hanya minus bosnya saja yang sangat galak tetapi tidak masalah Abel akan bekerja dengan baik agar bisa hidup lebih lama di rumah mewah ini.

Saat hendak tertidur dia membayangkan sesuatu di dalam otak cantiknya itu, Abel memikirkan bagaimana jika dia bersama dengan bsnya Leon yang memiliki tubuh kekar itu tidur bersama.

"Bagaimana dengan rasa pelukannya ya, pasti hangat,"

gumam Abel dengan tersenyum-senyum sendiri.

Abel membayangkan bagaimana jika dia merasakan tubuh hangat dan pelukan dari tubuh kekar dan gagah dan mereka sama-sama memadu kasih.

"Astaga Abel, pikiranmu sangatlah menjijikan sekali,"

gumamnya sambil geleng-geleng kepala, bisa-bisanya dia membayangkan hal itu di dalam otak cantiknya.

"Tidak, tidak, kau tidak boleh seperti itu, itu hanya hayalan saja," ucapnya seolah dia harus sadar diri.

Bagaimana mau berpelukan dan merasakan hangatnya tubuh Leon jika pria itu saja menatap Abel dengan tatapan tajamnya, bahkan Leon terkadang memang suka sekali mengancamnya dengan kata-kata yang sangat menyeramkan, jadi untuk mengabulkan apa yag Abel bayangkan itu tidak akan pernah terjadi.

"Buang semua pikiran kotormu itu Bel," ucapnya pada diri sendiri, Abel segera menarik selimut menutupi tubuhnya, wanita itu memejamkan matanya dan berharap semua hayalannya akan datang di alam mimpi, bermimpi tidak ada salahnya jika kenyataan tidak terkabulkan pikir Abel.

Leon yang memperhatikan wanita itu jadi berfikir apakah Abel ini waras atau tidak, dia bahkan tampak berbicara sendiri dan juga senyum-senyum sendiri.

"Dia harus selalu diawasi," gumam Leon karena dia takut Abel itu tidak waras.

Karena Abel bisa memberikan anaknya air susu saja maka Leon masih mempertahankannya, tetapi jika Abel tampak aneh-aneh maka Leon tak segan-segan untuk mendepaknya dari rumah pria itu.

"Dia seperti... gila."

Bersambung ...

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Godaan Liar Sang Pengasuh   Bab 25

    Leonardo terlihat begitu semangat untuk mendapatkan nutrisinya, pria itu membuat Abel tidak bisa kemana-mana. "Kasihan sekali tuyul kecilku itu," batin Abel melihat Arvaz yang sedang menunggunya di box bayi. "Apa Tuan tidak ke kantor?" tanya Abel tetapi Leon seolah menulikan telinganya dan hanya fokus dengan apa yang dia lakukan saat ini. Abel sampai tak habis pikir kenapa Leon begitu semangatnya, biasanya dia akan terus marah-marah saja kepada Abel. Hingga beberapa saat kemudian Leon pun melepaskan tubuh Abel, dia mendudukkan dirinya dan melihat ke arah Abel. "Ingat ya, satu ini menjadi jatahku," kata Leon yang sudah mengklaim jika itu miliknya. Abel menghela nafas pelan karena Leon begitu bern*fsu sekali. "Ayo bersiap turun, kau harus makan yang bergizi agar asimu terus mengalir dengan deras," ucap Leon yang hanya ingin asinya saja yang

  • Godaan Liar Sang Pengasuh   Bab 24 Pagi Asupan

    Leon melihat asinya Abel yang sedang melimpah itu sangat semangat padahal tadi dia sudah menghisapnya. "Tuan, nanti Ar gak kebagian," kata Abel mencoba menghentikan Leon. Leon mendengus pelan, ternyata dia secandu itu dengan milik Abel. Abel terkekeh melihat wajah tak senangnya Leon, pria itu tampak sangat kecewa saat Abel melarangnya. "Maaf ya, Tuan harus berbagi dengan Tuan kecil," kata Abel sebab jika Arvaz menangis dan asinya habis juga kasihan anak kecil itu, tuyulnya harus mendapatkan asupan gizi juga. "Hemm," kata Leon dengan malas. Leon memeluk Abel dan menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Abel, dadanya sungguh empuk sekali. "Apa Tuan tidak kembali ke kamar Tuan?" tanya Abel tetapi Leon malah semakin mempererat pelukannya kepada Abel. "Kenapa? Kau tidak senang aku di sini?" tanya Leon dan Abel dengan cepat menggelengkan kepalanya, sepertiny

  • Godaan Liar Sang Pengasuh   Bab 23

    Lorenzo menatap ke arah Abel dengan nafas yang tercekat, pria itu menghembuskan nafasnya lemah dan yang juga sedang berburu saat ini. Abel didudukkan ke atas tempat meja makan hingga wanita itu terduduk di sana, Leon memandanginya, sungguh Abel terlihat menggoda dimatanya. "Cantik," batin Leon yang kini berhadapan dengan Abel. Ketika dekat seperti ini entah mengapa Abel terlihat lebih cantik dimatanya, wajahnya ternyata sangat mulus tanpa adanya pori-pori, pria itu tidak kira wajah Abel hanya cantiknya begitu saja tetapi tidak sepertinya dia memang tercipta untuk memiliki wajah yang mulus dan begitu mempesona. Begitu juga dengan Abel, dilihatnya ternyata Leon sangat tampan, selama ini mengaguminya dari jauuh tetapi lebih dekat saja sudah sangat tampan begini. "Tuan," lirih Abel membuat Leon langsung menarik pinggang Abel yang ada di atas meja, pria itu menyeringai menatap wajah Abel. "Kau meman

  • Godaan Liar Sang Pengasuh   Bab 22 Berhasil

    Malam ini Abel merasa tidurnya sangat nyenyak, wanita itu terus membayangkan kejadian siang tadi. "Ah sepertinya mimpi indah malam ini," ucap Abel dengan malu-malu, wanita itu tersenyum geli membayangkan kejadian siang tadi membuat hatinya bergetar, Abel memegang dadanya yang terasa berdebar. "Astaga, seharunsya Tuan jangan menyusu saja," ucap Abel dengan tertawa kecil, dia sangat menikmati bagaimana Leon yang menikmati susunya itu. "Ehmm... Gak sabar deh," ucap Abel dengan terkekeh geli sendiri, Abel tertawa dengan hal itu. Karena terus membayangkannya membuat Abel tidak bisa. tidur. Leon saat ini berada di ruangan kerjanya, pria itu juga membayangkan kejadian tadi siang dia dan Abel. Diam-diam Leon mencecap pelan lidahnya, pria itu sangat tidak kuat menahan milik Abel yang begitu empuk sekali. "Bagaimana bisa seempuk itu," ucap Leon merasa gemas, ingin sekali dia meremasnya den

  • Godaan Liar Sang Pengasuh   Bab 21 jatah dari abel

    Abel sudah selesai menyusui Arvaz hingga anak itu tertidur sambil menyusu dengannya, Abel tersenyum melihat anak tampannya itu tertidur. Jalanan cukup macet karena hari ini weekend, tetapi seketika hujan pun turun saat mereka sedang macet-macetnya. "Wahh enak banget makan yang berkuah pas hujan begini," batin Abel membayangkan dia sedang makan yang hangat-hangat. Jalanan yang basah, hujan dan macet membuat mereka menunggu sangat lama di sana hingga Abel pun merasa bosa. Abel memainkan ponselnya dan membuka social medianya. "Eh siapa namanya tadi, Lukas, batin Abel mengingat nama Lukas adiknya Leon. Abel pun mencari social medianya dan ketemu, ternyata Lukas sangat aktif juga bermain social media membuat Abel suka dengan foto-fotonya Lukas. "Sepertinya dia tertarik denganku," batin Abel yang tersenyum-senyum memandang foto Lukas. Leon yang tidak tau jika Abel sedang

  • Godaan Liar Sang Pengasuh   Bab 20

    manusia kutub utara. Lihatlah, dia sangat-sangat tidak perduli dengan apa yang terjadi. Tetapi tanpa diketahui siapapun Leon juga tampak curiga dengan Jef, kenapa dia sangat dekat dengan Abel. Jef tidak pernah sekali pun dekat dengan wanita yang Leon tau dan Jef sangat susah didekati. Asistennya itu sangat dingin juga tetapi dengan Abel interaksinya sangat berbeda sekali. Melihat jam sudah mau senja Leon mengambil Arvaz dari gendongan Daddynya, "Kami akan pulang," ucap Leon tetapi Mommynya mencoba menghentikannya.. "Tidak mau makan malam di rumah?" tanya Mommy Emily. "Lain kali saja," jawab Leon. "Kak Leon ayo main sekali lagi, Naura masih mau main sama Kak Leon," ucap Naura menatap Leon yang ingin pergi. Nau

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status