Beranda / Romansa / Godaan Liar Sang Pengasuh / Bab 5. Mulai Bergairah

Share

Bab 5. Mulai Bergairah

Penulis: Unknown_Book's
last update Terakhir Diperbarui: 2025-11-20 16:27:57

Pagi-pagi sekali Abel sudah mendengar suara jeritan anak bayi dan bahkan ini belum sampai pagi sebab matahari pun belum muncul di bumi ini.

Abel menggeliatkan tubuhnya dan membuka matanya.

"Astaga suara bayi siapa itu," gumam Abel yang masih mengantuk, dia kembali bergemul di dalam selimut tebal dan menikmati tidurnya lagi, tetapi beberapa detik kemudian dia teringat satu hal.

"Astaga bisa-bisanya aku lupa, gumam Abel sambil menepuk jidatnya pelan, wanita itu langsung menyingkap selimut tebalnya dan langsung mendekat ke arah Arvaz yang saat ini sedang menangis.

"Ya ampun Tuan kecil, maafkan Sus Abel ya, Sus Abel tidurnya nyenyak banget," ucap Abel merasa bersalah, dial mengambil Arvaz dari box bayinya.

Pampersnya basah dan Abel menghela nafas pelan..

"Pantesan nangisnya kenceng banget, basah toh popoknya," gumam Abel yang meletakkan Arvaz di sana lalu mengambil popok baru, baju dan semuanya baru agar bisa menggantikannya.

Setelah menyiapkannya Abel mulai mengambil Arvaz lagi dan mulai menggantikan pakaiannya Arvaz

"Ar gak boleh nangis ya, ini masih pagi loh, Sus Abel gantiin nih bajunya," gumam Abel, bahkan saat ini dia masih mengantuk dan menguap.

Abel dengan kepandaiannya mengurus bayi kini Arvaz sudah bersih dengan baju barunya, Abel juga memberikan minyak telon pada bayi itu dan tercium wangi sekali.

"Bobok sama Sus Abel aja ya," ucap Abel sambl membawa Arvaz naik ke atas ranjangnya, wanita itu mengeluarkan salah satu gunungnya dan menyusui Arvaz.

Arvaz langsung melahapnya dengan cepat, anak itu terlihat sangat haus sekali.

"Kasihan banget anaknya Sus Abel, haus ya sayang," ujar Abel sambil mengusap lembut kepala Arvaz

Abel mengambil selimut dan menutupi mereka berdua, karena masih mengantuk Abel pun kembali tertidur dan membiarkan Arvaz menyusu kepadanya.

Hingga pagi hari saat matahari terbit Bibi Olla mengetuk pintu kamar Abel hingga membuat wanita itu terbangun.

"Ish siapa lagi yang ganggu tidurku," ucap Abel dengan kesal, saat dia bangun ada Arvaz disampingnya dengan mulutnya yang berada di bagian gunung kembar Abel.

Abel melepaskannya dengan pelan-pelan agar Arvaz tidak terbangun.

Wanita itu beranjak dan mendekati pintu, melihat ternyata Bibi Olla di depan.

"Astaga Bi, ini masih pagi. Aku begadang semalaman menjaga Arvaz," kata Abel dengan bibir yang cemberut.

"Kasihan sekali dirimu, tapi ini sudah waktunya Tuan kecil berjemur," ucap Bibi Olla mengingatkan Abel.

Abel menghela nafas kasar dan menggaruk tengkuk lehernya yang tak gatal.

"Baiklah, aku akan membawa Arvaz berjemur di teras kamarku saja," ucap Abel dan Bibi Olla pun menganggukkan kepalanya.

"Hem baiklah, setelah itu mandi dan bersiap ya."

Abel hanya menganggukkan kepalanya saja, wanita itu segera pergi dari sana dan melihat ke arah Arvaz yang tampak. tidumya sangat nyenyak sekali.

"Anak kecilku yang tampan, ayo bangun sayang Sus Abel mau ajakin Arvaz berjemur," ucap Abel sambil menoel-noel pipi Arvaz yang sangat menggemaskan sekali.

Tetapi tampaknya Arvaz tidak mengindahkannya membuat Abel mengangkatnya saja, wanita itu membuka gorden kamarnya dan membawa Arvaz berjemur di sana.

"Pagi-pagi Arvaz sudah bangun, bangun-bangun mau

minum susu Sus Abel," ujarnya sambil bernyanyi, wanita itu merasa jika dirinya saat ini sudah cocok sekali menjadi seorang Ibu.

"Ish aku belum mau punya anak, anak orang saja yang aku jaga kalau anak sendiri gimana ya lahirkannya," gumam Abel dan membayangkan dia mengeluarkan bayi di dari bawah sudah membuat wanita itu merinding jadinya.

"Astaga, itu pasti sangat sakit," ucapnya sambil bergedik ngeri, dia menatap Arvaz yang begitu sangat tampan sekali.

Abel lama berdiri di sana sampai beberapa saat kemudian. dia kembali ke kamar, ternyata Arvaz sudah terbangun dari tidurnya.

"Waahh anak tampannya Sus Abel sudah bangun ya," kata Abel mengajak Arvaz bicara, dia mencel hidung Arvaz yang terlihat mancung.

"Ganteng banget sih," ucap Abel sambil menduselkan wajahnya pada Arvaz membuat anak itu tersenyum.

Abel ikut tersenyum melihat Arvaz yang tersenyum, dia menyiapkan pakaian-pakaiannya Arvaz dengan cepat agar anak itu bisa mandi segera.

"Arvaz mandinya sama Sus aja ya, Sus akan mandikan Arvaz biar Arvaz wangi."

Setelah semua keperluan Arvaz selesai kini Abel membawa Arvaz menuju ke kamar mandi, memandikan anak itu.

"liihhh pup ya Ar, kenapa Tuan kecil ini pupnya banyak sih," kata Abel sambil menutup hidungnya yang terasa sangat bau sekali, menyengat sekali pup Tuan kecilnya ini.

Tetapi karena sudah terbiasa jadinya Abel tidak jijik, hanya baunya saja yang semerbak. Dengan sabar Abel mengasuhnya dan memandikan Arvaz

Awalnya Arvaz tampak menangis dimandikan, anak itu terus menangis sampai beberapa saat kemudian dia tidak lagi menangis.

"Nah gitu dong, gak boleh nangis kalau mandi. Busuk tau kalau Tuan kecil ini nangis disuruh mandi," ucap Abel dengan kekehannya.

Beberapa saat kemudian dia sudah selesai memandikan Arvaz, kini anak itu sudah selesai mandi dan tinggal dipakaikan baju saja lagi oleh Abel.

"Nah anak wangi ini harus mandi agar wangi ya sayangnya Sus Abel"

Setiap apa yang Abel kerjakan dia selalu mengajak Arvaz berinteraksi agar anak itu tau jika dirinya sedang bicara dengan si kecil, Sampai beberapa saat kemudian Arvaz sudah selesai mandi dan memakai baju, Abel yang pandai sekali fashion tentu saja akan memakaikan anak itubaju yang comel-comel sekali.

"Nah begini kan ganteng banget," ucap Abel melihat anak kecil itu yang sangat tampan sekali.

Abel duduk di sofa dan saat ini waktunya Arvaz menyusu, bagian dadanya juga sudah sedikit sakit karena harus segera dikeluarkan, hormonnya begitu berlebihan sekali.

Abel memandangi Arvaz yang menyusu sampai anak itu kenyang

"Aduh gimana ini, masih sakit," ucap Abel melihat dadanya yang mengeluarkan asinya tetapi Arvaz sudah tidak mau lagi menyusu.

Abel meletakkan Arvaz di box bayinya dan memeras susunya dengan pompa yang di sana, wanita itu beberapa saat menunggu sampai selesai asinya di pompa.

"Aaahhh leganya," ucap Abel dengan helaan nafas lega, wanita itu segera beranjak dan menyimpan ASinya untuk nanti Anvaz minum.

Setelah selesai Abel pun pergi membersihkan tubuhnya, mandi dengan cepat karena takut Arvaz menangis.

Beberapa saat kemudian Abel sudah mandi dan sudah bersiap, wanita itu kini terlihat sangat cantik juga dengan. rambutnya yang diikat satu seperti ekor kuda.

"Ini namanya Suster yang hot banget," gumam Abel dengan kekehannya, baju yang dia gunakan saja sangat ketat sekali hingga tercetak tubuhnya yang pulen itu.

"Cantik banget sih bodyku ini," ucap Abel memuji dirinya sendiri.

Abel merasa jika dirinya sangat cantik, wangi dan mempesona, makanya orang di desanya semua tertarik dengan wanita itu.

"Sekarang ajakin Tuan kecil jalan-jalan," ucap Abel dengan

semangatnya, dia melihat Arvaz di sana yang berbaring sendiri menatapnya dengan mata yang terlihat bening itu.

"Tidak menangis anak kecil ini, hebat banget sih," ucap Abel cukup kagum kepada Arvaz yang tidak menangis saat ini, bahkan Arvaz terlihat sangat tenang.

"Ayo kita jalan-jalan sayang."

Mereka pun segera keluar dari kamar Abel dan jalan-jalan ke bawah, para pelayan yang melihat Abel turun tersenyum dan menyapa Abel.

"Hallo Tuan kecil, selamat pagi," sapa mereka melihat Tuan kecilnya yang sudah tampak wangi itu, melihatnya saja sudah bisa meneba aroma wanginya yang terasa hangat dan lembut.

"Tuan kecil mau kemana?" tanya para pelayan.

"Mau jalan-jalan Bibi," jawab Abel menirukan suara anak kecil.

Mereka merasa jika Abel sangat cocok sekali menjadi pengasuhnya Arvaz dan anak itu juga tidak rewel.

"Fara, jangan melamun, lanjutkan pekerjaanmu," ucap Bibi Olla menatap ke arah Fara yang memandang Abel tidak suka.

Fara dengan cepat melanjutkan lagi pekerjaannya

sedangkan Abel hanya melihatnya saja dan tidak

menghiraukannya, bagi Abel orang seperti Fara itu memiliki hati iri dengki sekali.

Abel pergi keluar dari rumah dan para penjaga di sana menatap tubuh Abel yang terlihat sangat seksy, wanita itu sepertinya memang suka tebar-tebar pesona.

"Mereka pasti tergoda dengan bodyku ini," batin Abel

dengan senyum penuh makna, dengan sengaja Abel menaikkan dressnya semakin pendek agar semakin terlihat sangat seksy, para penjaga di kediaman itu melihat pemandangan seperti ini jelas saja matanya ta berpaling.

Abel melihat salah satu pengawal di sana, pria itu menelan

salivanya dengan susah payah dan matanya tak lepas dari Abel, dengan nakainya Abel mengedipkan sebelah matanya.

Blushh!!!

Wajah pria itu jadi salah tingkah, ingin sekali Abel tertawa melihatnya dan dilihat bagian junior mereka semua berdiri tega membesar di balik celana mereka.

"Hah semua pria sama saja, melihat tubuh molek langsung saja menegang," batin Abel dan dia seolah tidak memperdulikan dan tidak mempermasalahkan jika mereka melihat tubuh Abel dengan mata keranjangnya karena sudah biasa terjadi dikampungnya.

"Mereka seperti tidak pernah melihat wanita seksy saja, iya kan sayang," ucap Abel kepada Arvaz, beruntunglah Arvaz bisa

berada dalam dekapan Abel setiap saat dan bahkan anak itu bisa merasakan asetnya Abel yang tidak pernah dirasakan oleh pria mana pun.

"Arvaz menang banyak nih, Arvaz lah yang bisa menaklukkan Sus Abel," ucap Abel dengan kekehannya.

Wanita itu berdiri di sana menjadikan dirinya bahan fantasi

dalam pikiran-pikiran para pengawal, memang segila itu Abel untuk menggoda mereka, seolah itu kesenangannya.

Tiba-tiba saja Abel melihat beberapa mobil mewah

memasuki pekarangan mansion ini dan mendekat ke arah pintu

utama, Abel mengerinyitkan keningnya dan berfikir siapa itu.

"Apakah itu daddymu yang menyeramkan sayang," ucap Abel melihat mobil-mobil mewah itu akhirnya berhenti tak jauh darinya.

"Jika iya maka biarkan Sus Abel menebarkan pesona Sus Abel yang sangat aduhai."

Bersambung....

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Godaan Liar Sang Pengasuh   Bab 25

    Leonardo terlihat begitu semangat untuk mendapatkan nutrisinya, pria itu membuat Abel tidak bisa kemana-mana. "Kasihan sekali tuyul kecilku itu," batin Abel melihat Arvaz yang sedang menunggunya di box bayi. "Apa Tuan tidak ke kantor?" tanya Abel tetapi Leon seolah menulikan telinganya dan hanya fokus dengan apa yang dia lakukan saat ini. Abel sampai tak habis pikir kenapa Leon begitu semangatnya, biasanya dia akan terus marah-marah saja kepada Abel. Hingga beberapa saat kemudian Leon pun melepaskan tubuh Abel, dia mendudukkan dirinya dan melihat ke arah Abel. "Ingat ya, satu ini menjadi jatahku," kata Leon yang sudah mengklaim jika itu miliknya. Abel menghela nafas pelan karena Leon begitu bern*fsu sekali. "Ayo bersiap turun, kau harus makan yang bergizi agar asimu terus mengalir dengan deras," ucap Leon yang hanya ingin asinya saja yang

  • Godaan Liar Sang Pengasuh   Bab 24 Pagi Asupan

    Leon melihat asinya Abel yang sedang melimpah itu sangat semangat padahal tadi dia sudah menghisapnya. "Tuan, nanti Ar gak kebagian," kata Abel mencoba menghentikan Leon. Leon mendengus pelan, ternyata dia secandu itu dengan milik Abel. Abel terkekeh melihat wajah tak senangnya Leon, pria itu tampak sangat kecewa saat Abel melarangnya. "Maaf ya, Tuan harus berbagi dengan Tuan kecil," kata Abel sebab jika Arvaz menangis dan asinya habis juga kasihan anak kecil itu, tuyulnya harus mendapatkan asupan gizi juga. "Hemm," kata Leon dengan malas. Leon memeluk Abel dan menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Abel, dadanya sungguh empuk sekali. "Apa Tuan tidak kembali ke kamar Tuan?" tanya Abel tetapi Leon malah semakin mempererat pelukannya kepada Abel. "Kenapa? Kau tidak senang aku di sini?" tanya Leon dan Abel dengan cepat menggelengkan kepalanya, sepertiny

  • Godaan Liar Sang Pengasuh   Bab 23

    Lorenzo menatap ke arah Abel dengan nafas yang tercekat, pria itu menghembuskan nafasnya lemah dan yang juga sedang berburu saat ini. Abel didudukkan ke atas tempat meja makan hingga wanita itu terduduk di sana, Leon memandanginya, sungguh Abel terlihat menggoda dimatanya. "Cantik," batin Leon yang kini berhadapan dengan Abel. Ketika dekat seperti ini entah mengapa Abel terlihat lebih cantik dimatanya, wajahnya ternyata sangat mulus tanpa adanya pori-pori, pria itu tidak kira wajah Abel hanya cantiknya begitu saja tetapi tidak sepertinya dia memang tercipta untuk memiliki wajah yang mulus dan begitu mempesona. Begitu juga dengan Abel, dilihatnya ternyata Leon sangat tampan, selama ini mengaguminya dari jauuh tetapi lebih dekat saja sudah sangat tampan begini. "Tuan," lirih Abel membuat Leon langsung menarik pinggang Abel yang ada di atas meja, pria itu menyeringai menatap wajah Abel. "Kau meman

  • Godaan Liar Sang Pengasuh   Bab 22 Berhasil

    Malam ini Abel merasa tidurnya sangat nyenyak, wanita itu terus membayangkan kejadian siang tadi. "Ah sepertinya mimpi indah malam ini," ucap Abel dengan malu-malu, wanita itu tersenyum geli membayangkan kejadian siang tadi membuat hatinya bergetar, Abel memegang dadanya yang terasa berdebar. "Astaga, seharunsya Tuan jangan menyusu saja," ucap Abel dengan tertawa kecil, dia sangat menikmati bagaimana Leon yang menikmati susunya itu. "Ehmm... Gak sabar deh," ucap Abel dengan terkekeh geli sendiri, Abel tertawa dengan hal itu. Karena terus membayangkannya membuat Abel tidak bisa. tidur. Leon saat ini berada di ruangan kerjanya, pria itu juga membayangkan kejadian tadi siang dia dan Abel. Diam-diam Leon mencecap pelan lidahnya, pria itu sangat tidak kuat menahan milik Abel yang begitu empuk sekali. "Bagaimana bisa seempuk itu," ucap Leon merasa gemas, ingin sekali dia meremasnya den

  • Godaan Liar Sang Pengasuh   Bab 21 jatah dari abel

    Abel sudah selesai menyusui Arvaz hingga anak itu tertidur sambil menyusu dengannya, Abel tersenyum melihat anak tampannya itu tertidur. Jalanan cukup macet karena hari ini weekend, tetapi seketika hujan pun turun saat mereka sedang macet-macetnya. "Wahh enak banget makan yang berkuah pas hujan begini," batin Abel membayangkan dia sedang makan yang hangat-hangat. Jalanan yang basah, hujan dan macet membuat mereka menunggu sangat lama di sana hingga Abel pun merasa bosa. Abel memainkan ponselnya dan membuka social medianya. "Eh siapa namanya tadi, Lukas, batin Abel mengingat nama Lukas adiknya Leon. Abel pun mencari social medianya dan ketemu, ternyata Lukas sangat aktif juga bermain social media membuat Abel suka dengan foto-fotonya Lukas. "Sepertinya dia tertarik denganku," batin Abel yang tersenyum-senyum memandang foto Lukas. Leon yang tidak tau jika Abel sedang

  • Godaan Liar Sang Pengasuh   Bab 20

    manusia kutub utara. Lihatlah, dia sangat-sangat tidak perduli dengan apa yang terjadi. Tetapi tanpa diketahui siapapun Leon juga tampak curiga dengan Jef, kenapa dia sangat dekat dengan Abel. Jef tidak pernah sekali pun dekat dengan wanita yang Leon tau dan Jef sangat susah didekati. Asistennya itu sangat dingin juga tetapi dengan Abel interaksinya sangat berbeda sekali. Melihat jam sudah mau senja Leon mengambil Arvaz dari gendongan Daddynya, "Kami akan pulang," ucap Leon tetapi Mommynya mencoba menghentikannya.. "Tidak mau makan malam di rumah?" tanya Mommy Emily. "Lain kali saja," jawab Leon. "Kak Leon ayo main sekali lagi, Naura masih mau main sama Kak Leon," ucap Naura menatap Leon yang ingin pergi. Nau

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status