MasukAbel tidak bolehh sampai ceroboh seperti sebelumnya, saat dia mandi wanita itu meminta agar Bibinya menjaga Arvaz sebentar.
"Jangan lama-lama," ucap Bibinya dan Abel menganggukkann kepalanya. "Iya Bibi, sabaran napa sih," kata Abel yang langsung menuju ke kamarnya untuk membersihkan dirinya, Arvaz saja sudah dimandikannya dan anak itu terlihat sangat segar dan begitu tampan sekali, Arvaz juga sudah dia berikan susu jadi dia sudah tidak menangis lagi membuat Abel bisa mandi dengan tenang. Abel menyabuni dirinya sampai ke sela-selanya, wanita itu selalu menjaga tubuhnya karena hanya dirinya saja yang dia punya. Ingat, investasi itu ke tubuh agar enak dipandang. Setelah beberapa saat Abel sudah selesai mandi, dia memakai parfum dan lotion agar selalu wangi semerbak tetapi tidak menyengat karena dia akan mengurus bayi. Abel mengikat rambutnya satu ke atas dan kembali ke kamar, untung saja Arvaz tidak menangis. "Sudah mandinya?" tanya Bibinya dan Abel menganggukkan kepalanya. "Sudah Bi, terimakasih ya." Abel mengambil alih Arvaz dari bibinya dan menggendong anak itu yang terlihat nyaman di pelukannya Abel. "Bi, boleh gak bawa Arvaz jalan-jalan?" ttanya Abel karena dia sangat bosan sekali seharian berada di kamar. "Boleh saja, hanya pekarangan mansion," ucap Bibinya membuat Abel pun mengerti. Dia segera membawa Arvaz pergi untuk jalan-jalan, anak itu terlihat sangat anteng sekali. "Kita jalan-jalan ya, Sus Abel bosan banget ada di kamar," keluh Abel kepada Arvaz, seolah paham anak itu hanya. menggapi-gapai tangannya saja kepada Abel membuat Abel langsung menggenggam tangan kecil itu. Abel segera mengelilingi setiap sudut dan jalan-jalan melewati berbagai macam tempat, melihat-lihat mansion mewah ini yang begitu besar sekali. "Rumah Arvaz besar sekali, kalah banget sama rumah Sus Abel," kata Abel melihat dengan mata binarnya betapa mewahnya kediaman ini, setiap lantai memiliki ornamen sendirinya dan Abel melihat sepertinya pemilik rumah ini menyukai warna gelap. "Arvaz beruntung banget punya rumah besar gini, kalau Sus Abel saja punya rumah begini pasti Sus Abel betah di rumah," ucap Abel mengomel sendiri sambil mengelilingi tempat itu.. Seolah Arvaz mengerti saja dengan apa yang dia ucapkan, tanpa sadar Abel tak sengaja melewati ruangannya Leon dan terlihat pria itu keluar dari sebuah ruangan bersama satu orang pria yang Abel lihat juga sangat tampan. "Tuan," sapa Abel sambil menundukkan kepalanya, dia tidak tau kalau ini ruangannya Leon. "Ngapain kamu di sini?" tanya Leon dengan wajah dinginnya. Abbel sampai menelan salivanya dengan susah payah, dia selalu bergetar saat bertemu dengan Leon, pria ini memang sangat membawa aura negatif sekali. "I-itu Tuan, bawa Tuan kecil jalan-jalan," jawab Abel pelan dan terasa gugup sekali dan Leon melihat Arvaz yang anteng sekali digendongannya Abel. "Jangan pernah melewati tempat ini lagi," titah Leon dan Abel menganggukkan kepalanya. "Baik Tuan," jawab Abel dengan patuh. Leon menatap tajam Abel. "Saya ada urusan pekerjaan, jangan sampai kamu berbuat macam-macam di sini. Jika saya mendengar kamu lalai dengan pekerjaanmu dan membahayakan. putraku bersiap saja kamu akan saya beri pelajaran!" Abel hanya menganggukkan kepalanya, dia selalu mendapatkan ancaman itu seolah Leon memang ingin membuat mental Abel drop dan tidak akan berani melakukan apapun di mansion ini. "Baik Tuan," jawab Abel dengan pasrah, dia juga tidak mungkin melakukan sesuatu kepada anak kecil, itu hal yang sangat gila sekali. Leon mendekat kepada Abel membuat Abel berdegup kencang, dia berdiri dan mematung di sana tetapi tidak berani menghindar dari Leon. Leon mengusap lembut pipi Leon dan setelah itu dia pergi diikuti oleh pria yang ada di belakangnya. Abel berbalik dan melihat pria itu sudah pergi, Abel merasa dirinya selamat dari malaikat maut. "Ish nyeremin banget sih Daddynya Arvaz itu," gerutu Abel dengan sedikit kesal. Abel bahkan berniat berkenalan dengan pria yang tampan di belakang Leon tadi, walau Leon begitu tampan tetapi tetap saja Abel tidak berani mendekatinya, jika pria dibelakangnya tadi juga boleh. "Aku akan mencoba berkenalan dengan pria itu, apa kamu setuju Ar?" tanya Abel meminta persetujuan dengan bayi kecil yang tidak tau apapun itu. Wajah Arvaz jarang tersenyum atau tertawa, sepertinya menurun dengan wajah dinginnya Leon. "Aish Arvaz yang tampan, jika kamu tersenyum pasti semakiin tampan," ucap Abel dengan mengusap lembut pipi Arvaz. Dia segera berkeliling lagi melihat-lihat mansion ini, Abel memang sangat aktif sekali dan dia sangat cocok menjadi babysitter menjaga Arvaz Sedangkan Leon dan asistennya pergi dari kediamannya. "Jef, perintahkan kepala pelayan mengawasi wanita itu," titah Leon kepada asistennya. "Baik Tuan, akan saya perintahkan kepada kepala pelayan," jawab Jef dengan patuh. Leon menarik nafas dalam dan setelah itu menghembuskannya dengan kasar, dia tidak mau kejadian dulu terulang laagi membuat ada sedikit trauma dalam diri Leon. Leon dan Jef pergi ke bandara, dia saat ini mau pergi melakukan perjalanan bisnis ke luar negri. Sedangkan Abel pergi keluar dan kembali jalan-jalan, di sana banyak sekali penjaganya. "Ah ya, aku ingin mengetahui satu hal lagi," gumam Abel mengingat hal ini. Abel melihat satu orang yang sedang membersihkan pekarangan mansion di taman, dia mendekati pria itu. "Paman," sapanya dan pria itu sedikit terkejut melihat Abel yang dattang kepadanya, saat dia melihat Tuan kecil ada di gendongan Abel pasti wanita itu bukan orang sembarangan. "Namaku Abel dan aku babysitternya Tuan kecil," katanya memperkenalkan diri. Abel. Benar kan, tetapi pria itu hanya mengangguk saja kepada "Ada yang bisa dibantu Nona?" tanya pria itu. "Hem Abel mau nanya, apa benar di kediaman ini ada kandang singa?" tanya Abel, mengingat Leon yangg menakutinya dengan itu tentu saja membuat Abel jadi penasaran, dia akan mencari taunya sendiri. Tak disangka ternyata pria itu menganggukkan kepalanya membenarkan pertanyaan Abel. "lya Nona, ada di belakang kandangnya," jawab pria itu membuat mata Abel melotot tak percaya. "Ja-jadi beneran ada?" tanya Abel lagi memastikan sekali lagi. Pria itu menganggukkan kepalanya lagi. "Benar Nona." Abel menelan salivanya dengan susah payah, ternyata memang ada di sana. "Di-dimana kandangnya?" tanya Abel dengan gugup. "Ada di belakang, di sana dijaga dengan ketat Nona. Hanya Tuan dan para penjaga yang ditugaskan saja bisa masuk ke sana," jawab pria itu membuat kaki Abel jadi lemas karenanya. Abel hanya mengangguk kecil saja. "Ah begitu, terimakasih Paman." Abel segera pergi dari sana, ternyata pia menyeramkan itu memang benar-benar memiliki singa di mansion ini. Seketika tubuh Abel bergedik ngeri membayangkan dirinya dilempar ke sana. "Tuan kecil, kenapa Daddymu itu begitu seram sekali," gumam Abel mengadu kepada Arvaz. Arvaz hanya memandang Abel saja seolah memperhatikan Abel yang mengadu. Abel mendesah pelan, dia segera membawa Arvaz masuk lagi. Tiba-tiba di depan pintu dia bertemu dengan pelayan yang tidak menyukainya itu. "Tuan kecil tidak boleh diajak keluar, dia bisa menghirup debu. Kamu babysitternya saja tidak becus!" Abel mengerinyitkan keningnya, dia melihat nama wanita itu Fara di baju pelayannya. "Kan tidak dibawa sampai kemana-mana, aku hanya membawanya jalan-jalan saja didekat sini," jawab Abel yang juga menunjukkan ketidaksukaannya juga kepada Fara. Fara terlihat geram dengan Abel tetapi dia mencoba untuk bersikap tenang dan tersenyum. "Tuan akan sangat marah jika tau kamu membawa Tuan kecil keluar," ujarnya dengan seringai tipis. "Jika kamu mengetahuinya kenapa tidak kamu saja yang menjadi babysitter, Tuan tidak perlu repot-repot untuk mencari babysitter dari luar lagi bukan," jawab Abel dengan beraninya, meski dia dari kampung jangan harap ada yang bisa menindasnya kecuali Leon, yah pria menyeramkan dan yang berkuasa itu saja yang mampu menindasnya. Fara mengepalkan kedua tangannya mendengar ucapannya Abel yang sangat menusuk, wanita itu benar-benar menjatuhkan harga dirinya Fara. "Berarti kamu bukan termasuk kriteria bisa menjaga Tuan kecil, jadi lebih baik kamu bekerja saja dan urus pekerjaanmu itu. Lihat, teras di depan kotor, silahkan di pel!" Setelah mengatakan itu Abel langsung pergi dari sana meninggalkan Fara yang menggeram marah, wanita itu benar-benar kurang ajar pikir Fara. "Awas saja kamu, anak baru saja belagu!" Sedangkan Abel, dia tidak akan membiarkan dirinya ditindas karena dia hanya anak baru yang bekerja di kediaman ini. "Jangan harap aku mau mengalah!" Bersambung...Leonardo terlihat begitu semangat untuk mendapatkan nutrisinya, pria itu membuat Abel tidak bisa kemana-mana. "Kasihan sekali tuyul kecilku itu," batin Abel melihat Arvaz yang sedang menunggunya di box bayi. "Apa Tuan tidak ke kantor?" tanya Abel tetapi Leon seolah menulikan telinganya dan hanya fokus dengan apa yang dia lakukan saat ini. Abel sampai tak habis pikir kenapa Leon begitu semangatnya, biasanya dia akan terus marah-marah saja kepada Abel. Hingga beberapa saat kemudian Leon pun melepaskan tubuh Abel, dia mendudukkan dirinya dan melihat ke arah Abel. "Ingat ya, satu ini menjadi jatahku," kata Leon yang sudah mengklaim jika itu miliknya. Abel menghela nafas pelan karena Leon begitu bern*fsu sekali. "Ayo bersiap turun, kau harus makan yang bergizi agar asimu terus mengalir dengan deras," ucap Leon yang hanya ingin asinya saja yang
Leon melihat asinya Abel yang sedang melimpah itu sangat semangat padahal tadi dia sudah menghisapnya. "Tuan, nanti Ar gak kebagian," kata Abel mencoba menghentikan Leon. Leon mendengus pelan, ternyata dia secandu itu dengan milik Abel. Abel terkekeh melihat wajah tak senangnya Leon, pria itu tampak sangat kecewa saat Abel melarangnya. "Maaf ya, Tuan harus berbagi dengan Tuan kecil," kata Abel sebab jika Arvaz menangis dan asinya habis juga kasihan anak kecil itu, tuyulnya harus mendapatkan asupan gizi juga. "Hemm," kata Leon dengan malas. Leon memeluk Abel dan menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Abel, dadanya sungguh empuk sekali. "Apa Tuan tidak kembali ke kamar Tuan?" tanya Abel tetapi Leon malah semakin mempererat pelukannya kepada Abel. "Kenapa? Kau tidak senang aku di sini?" tanya Leon dan Abel dengan cepat menggelengkan kepalanya, sepertiny
Lorenzo menatap ke arah Abel dengan nafas yang tercekat, pria itu menghembuskan nafasnya lemah dan yang juga sedang berburu saat ini. Abel didudukkan ke atas tempat meja makan hingga wanita itu terduduk di sana, Leon memandanginya, sungguh Abel terlihat menggoda dimatanya. "Cantik," batin Leon yang kini berhadapan dengan Abel. Ketika dekat seperti ini entah mengapa Abel terlihat lebih cantik dimatanya, wajahnya ternyata sangat mulus tanpa adanya pori-pori, pria itu tidak kira wajah Abel hanya cantiknya begitu saja tetapi tidak sepertinya dia memang tercipta untuk memiliki wajah yang mulus dan begitu mempesona. Begitu juga dengan Abel, dilihatnya ternyata Leon sangat tampan, selama ini mengaguminya dari jauuh tetapi lebih dekat saja sudah sangat tampan begini. "Tuan," lirih Abel membuat Leon langsung menarik pinggang Abel yang ada di atas meja, pria itu menyeringai menatap wajah Abel. "Kau meman
Malam ini Abel merasa tidurnya sangat nyenyak, wanita itu terus membayangkan kejadian siang tadi. "Ah sepertinya mimpi indah malam ini," ucap Abel dengan malu-malu, wanita itu tersenyum geli membayangkan kejadian siang tadi membuat hatinya bergetar, Abel memegang dadanya yang terasa berdebar. "Astaga, seharunsya Tuan jangan menyusu saja," ucap Abel dengan tertawa kecil, dia sangat menikmati bagaimana Leon yang menikmati susunya itu. "Ehmm... Gak sabar deh," ucap Abel dengan terkekeh geli sendiri, Abel tertawa dengan hal itu. Karena terus membayangkannya membuat Abel tidak bisa. tidur. Leon saat ini berada di ruangan kerjanya, pria itu juga membayangkan kejadian tadi siang dia dan Abel. Diam-diam Leon mencecap pelan lidahnya, pria itu sangat tidak kuat menahan milik Abel yang begitu empuk sekali. "Bagaimana bisa seempuk itu," ucap Leon merasa gemas, ingin sekali dia meremasnya den
Abel sudah selesai menyusui Arvaz hingga anak itu tertidur sambil menyusu dengannya, Abel tersenyum melihat anak tampannya itu tertidur. Jalanan cukup macet karena hari ini weekend, tetapi seketika hujan pun turun saat mereka sedang macet-macetnya. "Wahh enak banget makan yang berkuah pas hujan begini," batin Abel membayangkan dia sedang makan yang hangat-hangat. Jalanan yang basah, hujan dan macet membuat mereka menunggu sangat lama di sana hingga Abel pun merasa bosa. Abel memainkan ponselnya dan membuka social medianya. "Eh siapa namanya tadi, Lukas, batin Abel mengingat nama Lukas adiknya Leon. Abel pun mencari social medianya dan ketemu, ternyata Lukas sangat aktif juga bermain social media membuat Abel suka dengan foto-fotonya Lukas. "Sepertinya dia tertarik denganku," batin Abel yang tersenyum-senyum memandang foto Lukas. Leon yang tidak tau jika Abel sedang
manusia kutub utara. Lihatlah, dia sangat-sangat tidak perduli dengan apa yang terjadi. Tetapi tanpa diketahui siapapun Leon juga tampak curiga dengan Jef, kenapa dia sangat dekat dengan Abel. Jef tidak pernah sekali pun dekat dengan wanita yang Leon tau dan Jef sangat susah didekati. Asistennya itu sangat dingin juga tetapi dengan Abel interaksinya sangat berbeda sekali. Melihat jam sudah mau senja Leon mengambil Arvaz dari gendongan Daddynya, "Kami akan pulang," ucap Leon tetapi Mommynya mencoba menghentikannya.. "Tidak mau makan malam di rumah?" tanya Mommy Emily. "Lain kali saja," jawab Leon. "Kak Leon ayo main sekali lagi, Naura masih mau main sama Kak Leon," ucap Naura menatap Leon yang ingin pergi. Nau







