Share

Bab 162

Author: Joker Sarjana
last update publish date: 2026-02-18 12:01:26

Tiga Bulan Kemudian...

Mama Jessica sudah bangun dari subuh, memasak di dapur dengan semangat yang tidak biasa. Aroma rendang, opor ayam, dan sambal goreng kentang memenuhi seluruh penjuru rumah.

Aku turun ke dapur sambil mengucek mata.

"Ma, ini masak buat berapa orang? Kayak mau kondangan."

Mama Jessica tertawa.

"Hari ini spesial, Radit. Pakde Hendra dan keluarganya datang dari Surabaya. Om Rudi dan Tante Lilis juga. Kamu lupa?"

Aku memukul dahiku sendiri.

Reuni keluarga tahunan.

"Radit, Dinda
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Nurcahyowidi Setia
perhari update cuman 2 bab..yg banyak min
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Godaan Mama Muda   Bab 279

    Maya memarkir mobil di garasi dengan gerakan biasa, tapi tangannya sedikit lebih lambat saat mematikan mesin. Ia duduk sebentar di kursi pengemudi, memandang pintu rumah yang tertutup rapat. Udara di dalam mobil masih terasa dingin dari AC kafe. Ia mengambil napas dalam, lalu turun.Radit sudah berdiri di ambang pintu depan begitu mendengar suara mobil. Ia tidak bilang apa-apa dulu, hanya membuka pintu lebar-lebar dan menunggu Maya masuk. Begitu pintu tertutup di belakang mereka, Radit langsung bertanya, "Gimana?"Maya meletakkan tasnya di meja kecil dekat pintu, lalu berjalan ke sofa dan duduk. Radit mengikuti, duduk di sebelahnya. Mereka berdua diam sebentar, seperti sedang mengumpulkan kata-kata."Alya langsung terbuka," kata Maya akhirnya. Suaranya pelan tapi jelas. "Dia bilang Lena memang lebih agresif. Mereka berdua dekat sejak kecil. Sama-sama anak Victor yang nggak diakui. Tapi Lena punya dendam kecil sama kamu dulu, waktu kamu tolak dia pas masih sama Alya."Radit mengerutkan

  • Godaan Mama Muda   Bab 278

    Radit menatap layar laptop yang masih terbuka di halaman email yang sama selama lima menit terakhir. Kata-kata di depannya buram.Ia mengambil ponsel Maya sekali lagi, membuka screenshot pesan Lena yang kedua, lalu mengirimkannya ke ponselnya sendiri. Setelah itu ia mengetik cepat ke Maya."Baru dapat pesan kedua dari Lena. Screenshot sudah aku kirim ke HP aku. Dia bilang ada surat dari Victor buat Kara. Hati-hati ya."Pesan terkirim. Dua centang biru langsung muncul. Maya sedang online.Radit meletakkan ponsel dan mencoba kembali ke pekerjaan. Ia membuka dokumen proposal kegiatan yayasan bulan depan, tapi setelah dua paragraf ia menutupnya lagi. Rumah terasa terlalu besar dan terlalu sepi. Ia berdiri, berjalan ke dapur, menuang segelas air dingin yang kedua, lalu kembali ke sofa. Jam dinding menunjukkan pukul sepuluh lewat dua puluh. Maya pasti sudah hampir sampai kafe.Di kafe yang sama tempat Radit bertemu Alya tadi pagi, Maya memarkir mobil di pinggir jalan. Ia melihat Alya sudah

  • Godaan Mama Muda   Bab 277

    Maya masih memegang ponselnya, layarnya sudah gelap lagi, tapi jarinya tetap di pinggir casing seolah takut pesan itu akan muncul kembali.Radit berdiri di sebelah sofa, tangannya di saku celana, mencoba terlihat tenang meski dadanya terasa sesak."Apa isinya?" tanya Radit pelan.Maya membuka layar sekali lagi, membaca cepat. "Cuma ‘Halo Maya, ini Lena. Mira kasih nomor kamu. Boleh bicara sebentar? Ada yang penting soal Kara.’ Pendek. Tapi sudah cukup."Radit mengangguk, rahangnya mengeras. "Dia langsung ke kamu. Bukan lewat aku. Mira pasti kasih nomor ini pagi ini juga."Maya meletakkan ponsel di meja dengan gerakan pelan, seperti meletakkan sesuatu yang panas. "Aku nggak langsung balas. Nanti dulu. Aku mau ketemu Alya dulu, dengar dia bicara apa soal Mira. Baru kita putuskan bareng."Radit melihat Maya berdiri, merapikan blus putihnya di depan cermin kecil dekat pintu masuk. Rambutnya masih agak lembab, tapi ia sudah terlihat siap, tenang di luar, tapi Radit tahu di dalam pasti berg

  • Godaan Mama Muda   Bab 276

    Radit duduk di sofa ruang tamu, laptop terbuka di pangkuannya, tapi layarnya masih gelap. Ia mendengar suara shower Maya dari kamar mandi utama, air mengalir stabil, sesekali berhenti sebentar saat Maya mengambil sabun atau sampo.Ia mencoba membuka email kerja, tapi pikirannya melayang ke gambar Kara yang sekarang tersimpan di laci. Figur Lena di pojok itu. Chat malam-malam dari Mira. Arka yang tertawa di ayunan. Semuanya berputar pelan, seperti roda yang mulai bergerak tanpa bisa dihentikan.Ponselnya bergetar di meja kopi. Nomor Mira.Radit melirik ke arah kamar mandi. Suara shower masih berlangsung. Ia mengangkat telepon dengan suara rendah."Halo.""Om Radit," suara Mira terdengar santai, hampir ceria. "Alya baru telepon aku. Katanya kamu marah soal chat sama Kara. Maaf ya, aku kelewatan."Radit berdiri, berjalan pelan ke jendela depan. "Ini bukan soal marah, Mira. Ini soal batas. Kara masih kecil. Kamu nggak boleh cerita apa pun tentang Lena, tentang Victor, atau tentang ‘rahasi

  • Godaan Mama Muda   Bab 275

    Radit menutup pintu depan dengan pelan. Maya sudah duduk di kursi makan, tangannya memegang gelas air yang belum disentuh.Gambar Kara dengan figur Tante Lena masih tergeletak di tengah meja, warna-warnanya kontras dengan suasana pagi yang mulai terasa berat."Kamu ketemu Alya di mana?" tanya Maya tanpa basa-basi, suaranya rendah."Di kafe dekat rumahnya," jawab Radit sambil menarik kursi di depan Maya. Ia duduk dan meletakkan kunci mobil di meja. "Aku bilang langsung soal chat Mira sama Kara. Alya bilang dia akan tegur Mira. Dia juga janji pertemuan tetap boleh, tapi cerita-cerita itu harus lewat kita dulu."Maya mengangguk pelan, matanya tidak lepas dari gambar itu. "Bagus. Tapi aku nggak yakin Alya bisa kendalikan Mira sepenuhnya. Mira kelihatan seperti orang yang sudah punya rencana sendiri."Radit mengusap wajahnya dengan kedua tangan. "Aku juga ngerasa gitu. Dia terlalu santai tadi di telepon. Seolah dia sudah siap kalau kita marah."Maya mengambil gambar Kara, memandanginya seb

  • Godaan Mama Muda   Bab 274

    Radit berdiri di ambang dapur, masih memegang ponsel yang layarnya sudah gelap. Suara Kara yang bernyanyi pelan dari koridor terdengar semakin jelas saat ia keluar dari kamar sambil memakai sepatu sekolah."Ma, sepatu aku yang pink mana?" tanya Kara sambil melongok ke dapur. "Yang ada gambar kupu-kupunya."Maya berbalik dari wastafel, senyumnya cepat dipasang. "Di rak sepatu depan, Sayang. Ayo, Mama antar sekarang biar nggak telat."Kara mengangguk riang, tapi matanya melirik Radit sebentar. "Papa ikut nggak hari ini?"Radit menggeleng pelan. "Papa ada urusan sebentar. Nanti sore Papa jemput ya.""Oke!" Kara meraih tas ranselnya yang sudah Maya siapkan. Sebelum berjalan ke pintu, ia berhenti dan memeluk pinggang Radit sebentar. "Jangan lupa ya, Pa. Nanti cerita soal Tante Lena boleh? Aku penasaran."Radit mengusap punggung putrinya, berusaha agar suaranya tetap biasa. "Kita bicarain pelan-pelan. Sekarang buruan ke sekolah dulu."

  • Godaan Mama Muda   Bab 39

    Senin pagi, aku bangun lebih awal sebelum alarm sempat berbunyi. Dan akhirnya, aku merasa lega bisa kembali ke kantor.Dulu, aku menganggap kantor sebagai tempat penuh tekanan. Tapi sekarang, kantor justru terasa lebih aman daripada rumah sendiri.Aku bersiap dengan cepat. Mandi, sarapan seadanya d

    last updateLast Updated : 2026-03-20
  • Godaan Mama Muda   Bab 41

    Aku cepat-cepat mengalihkan pandangan, sebelum ia sadar."Kenapa?" tanya Kiara tiba-tiba."Hah? Gak... gak ada apa-apa," jawabku gugup.Kiara menatapku dengan tatapan menyelidik. "Kamu... liat apa?""Gak ada kok, beneran.""Gak mungkin. Mukamu merah." Ia mengernyitkan alis. "Kamu... liat ke arah si

    last updateLast Updated : 2026-03-20
  • Godaan Mama Muda   Bab 32

    Aku kembali duduk di sofa sambil menyeruput kopi yang baru kubikin.Mataku menatap pemandangan kota dari jendela besar apartemen. Gedung-gedung tinggi, lalu lintas yang mulai ramai, dan langit pagi yang cerah.Namun jujur, sedari tadi pikiranku masih tidak bisa tenang. Aku belum tahu maksud Bu Sisk

    last updateLast Updated : 2026-03-19
  • Godaan Mama Muda   Bab 34

    Aku berdiri kaku di ruang tamu, tidak berani bergerak sedikit pun.Di hadapanku, Mama Jessica menatapku tanpa berkedip, seolah menunggu satu kata dariku untuk menentukan segalanya. Air mata masih menggenang di pelupuk matanya, membuat dadaku terasa semakin sesak."Ma, aku bisa jelasin..." ucapku pe

    last updateLast Updated : 2026-03-19
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status