LOGINHujan deras mengguyur sore itu, membuat lalu lintas macet parah. Radit tiba di rumah hampir setengah jam terlambat, bajunya basah di bahu meski ia pakai jas hujan. Begitu masuk, ia langsung mencium aroma kopi yang baru diseduh, Maya selalu buat yang pahit sekali kalau sedang tegang.Di ruang tamu, Mira sudah duduk di sofa tunggal, kakinya disilang santai. Alya ada di sebelahnya, memegang gelas air putih. Kara sedang di lantai, asyik mewarnai buku gambar sambil sesekali melirik ke arah tamu dengan mata berbinar.Maya berdiri di ambang dapur, tangannya memegang nampan kecil. "Kamu telat," katanya pelan ke Radit, tapi nada suaranya tidak marah. Lebih seperti peringatan."Maaf. Meeting molor." Radit meletakkan tasnya, lalu mengangguk ke Mira dan Alya. "Terima kasih sudah datang."Mira tersenyum tipis. "Nggak apa. Hujannya deras banget sih. Aku bawa Arka, tapi Alya bilang lebih baik dia nunggu di mobil dulu. Takut Kara kaget."Kara langsung angkat kepala. "Arka? Di mana? Boleh lihat?"Radi
Radit memarkir mobil di pinggir taman kecil dekat sekolah Kara. Jam menunjukkan setengah empat sore, waktu jemput biasa. Tapi hari ini ia datang lebih awal, duduk di bangku kayu sambil pura-pura baca berita di ponsel. Angin sore membawa bau tanah basah setelah hujan siang tadi.Ia melihat Kara dari kejauhan, tas ranselnya bergoyang-goyang saat berlari kecil ke arah ayunan. Tapi bukan Maya yang menunggu di sana.Mira sudah duduk di bangku sebelah ayunan, memegang dua es krim cone. Satu ia serahkan ke Kara begitu anak itu mendekat. Kara menerimanya dengan senyum lebar, lalu duduk di samping Mira sambil bercerita sesuatu tentang gurunya yang lucu.Radit bangkit pelan, tangannya terkepal di saku. Ia mendekat tanpa suara dulu, cukup dekat untuk mendengar."...terus Papa bilang itu cuma mimpi," kata Kara sambil menjilat es krim cokelatnya. "Tapi aku suka cerita Arka. Dia pasti suka main bola sama aku."Mira tertawa pelan, suaranya hangat. "Pasti. Adik laki-laki biasanya suka gitu. Kamu mau
Radit duduk di tepi tempat tidur Kara, memandangi kertas yang sudah ia remas tadi malam. Tulisan tangan itu rapi sekali, huruf-hurufnya miring elegan, seolah ditulis dengan tenang. "Arka menunggu kakaknya pulang. Jangan biarkan Papa menyembunyikan kami lagi. -Mira."Ia mendengar suara Maya di dapur, sedang menyiapkan bekal sekolah Kara. Biasanya suara itu menenangkan, tapi pagi ini terasa seperti pengingat bahwa rumah ini sedang retak pelan-pelan."Papa, kenapa diam aja?" Kara muncul dari balik selimut, rambutnya acak-acakan. Ia meraih tangan Radit. "Kamu lagi sakit lagi ya? Kayak waktu di rumah sakit dulu."Radit memaksakan senyum dan menyimpan kertas itu ke saku celananya. "Enggak, Sayang. Papa cuma mikir kerjaan. Kamu sudah mandi belum? Nanti telat."Kara mengangguk, tapi matanya masih penasaran. "Mira bilang Arka itu adik aku yang hilang. Katanya Papa tahu kok. Beneran ada ya?"Pertanyaan polos itu seperti jarum kecil yang menusuk. Radit mengusap kepala putrinya. "Itu cuma cerita
Radit sedang menuang kopi, tiba-tiba bel pintu berbunyi. Suaranya pendek, dua kali, seperti orang yang sudah hafal rumah ini. Jam baru menunjukkan pukul delapan pagi. Terlalu pagi untuk tamu biasa.Maya mengangkat alis dari balik meja makan, sendoknya berhenti di udara. "Kamu pesan apa?""Enggak." Radit meletakkan teko kopi, tangannya agak licin. "Mungkin kurir."Tapi ketika ia membuka pintu, yang berdiri di depan bukan kurir.Alya tersenyum tipis, rambutnya terikat rapi, membawa kotak kue pastel yang kelihatan mahal. Di sampingnya, seorang perempuan lebih muda, mungkin awal dua puluhan, berdiri dengan sikap santai, tangan di saku jaket denimnya. Rambut hitam panjangnya sedikit berantakan karena angin pagi, tapi matanya tajam, seolah sudah menilai seluruh ruangan sebelum masuk."Pagi," kata Alya ringan. "Maaf datang mendadak. Aku bawa sarapan. Ini Mira, temanku. Dia baru pindah ke sini dan aku pikir... ya, kenalan dulu lah."Mira mengangguk kecil, senyumnya sopan tapi tidak berlebihan
Pagi itu dapur dipenuhi aroma roti panggang dan kopi yang baru diseduh. Radit berdiri di depan kompor, membalik telur dengan gerakan yang terlalu lambat, seolah takut api kecil itu bisa membakar sesuatu yang lebih besar.Maya menuang susu untuk Kara, senyumnya tetap tenang meski matanya sesekali melirik ke arah meja makan.Kara duduk di kursi tinggi, kakinya bergoyang-goyang. Di depannya tergeletak amplop kecil yang sama seperti kemarin, tapi kali ini stikernya bergambar dinosaurus biru. Mira duduk di sebelahnya, rambut panjangnya diikat sederhana, tangannya memegang gelas air dengan tenang.“Papa, ini surat baru dari Arka,” kata Kara sambil mendorong amplop itu ke depan Radit. Suaranya ceria, seolah sedang membagikan hadiah. “Kak Mira bilang Arka sudah mulai bergerak. Dia bilang dia mau lahir sebentar lagi.”Radit mengambil amplop itu dengan tangan yang terasa berat. Ia membukanya di depan semua orang, tidak lagi menyembunyikan. Di dalamnya ada selembar kertas kecil, tulisan tangan K
Pagi itu, Radit menuang kopi untuk dirinya sendiri, gerakannya lambat, seolah takut suara sendok yang menyentuh cangkir bisa membangunkan sesuatu yang lebih besar.Di meja makan, Kara sedang menggambar dengan krayon merah lagi. Mira duduk di sebelahnya, dagunya bertumpu di tangan, tersenyum melihat adik kecilnya bekerja. Maya berdiri di depan kompor, membalik telur, tapi matanya sesekali melirik ke arah meja.Kara mengangkat gambarnya tinggi-tinggi dengan bangga.“Papa, lihat! Ini surat dari Arka!”Radit hampir menumpahkan kopinya. Ia mendekat dan mengambil kertas itu. Di atas gambar bayi kecil yang tersenyum, ada tulisan tangan Kara yang masih agak miring, tapi jelas.“Untuk Papa, Aku sudah hampir lahir. Aku mau lihat rumah kita. Aku mau main dinosaurus sama Kak Kara. Jangan takut lagi ya, Papa. Aku sayang Papa. -Arka”Radit menatap tulisan itu lama. Huruf-hurufnya polos, tapi kata-katanya terlalu dewasa untuk Kara yang baru tujuh tahun.Maya mendekat, membaca dari atas bahu Radit. S
Satu bulan kemudian.Radit kembali bekerja penuh waktu. Dinda mulai bisa keluar dari kamar, meski sebagian besar waktunya masih dihabiskan dengan duduk di teras belakang atau menatap televisi tanpa benar-benar menonton.Mereka bicara lebih sering sekarang, meski percakapan mereka dangkal dan berjar
Senin pagi, di Kantor PT Mitra Solusi Digital.Daily standup meeting berjalan seperti biasa. Tapi kali ini, ada sesuatu yang berbeda.Setiap kali mataku bertemu dengan mata Dinda di layar Zoom, ada senyum kecil yang tersirat. Senyum yang hanya kami berdua yang mengerti artinya.Mas Andi yang duduk
"Aku punya hutang ke bank," lanjutnya. "Sekitar lima miliar. Dan aku memang sempat telat bayar cicilan selama beberapa bulan karena cash flow yang macet."Aku mengepalkan tangan di atas paha."Tapi," Pak Darma mengangkat tangannya. "Itu sudah mulai teratasi. Aku sudah negosiasi
Aku bangun dengan pikiran yang masih kalut. Cek satu miliar dari Bu Siska tersimpan di laci meja, tersembunyi di balik tumpukan buku lama.Aku ingin bicara dengan Pak Darma hari ini. Tapi tidak tahu bagaimana cara membuka pembicaraan tanpa terlihat tidak sopan atau tidak percaya.Mama Jessica sudah







