Share

Bab 194

Author: Joker Sarjana
last update publish date: 2026-03-06 23:58:16

Radit dan Maya sudah resmi berkencan selama tiga minggu, meski mereka tidak pernah secara eksplisit mendefinisikan hubungan mereka.

Mereka makan siang bersama hampir setiap hari, makan malam beberapa kali seminggu, dan akhir pekan kadang jalan-jalan ke berbagai tempat di Singapura.

Tapi mereka belum... resmi.

Belum ada pembicaraan hubungan.

Belum ada label.

Dan Radit bersyukur untuk itu, karena dia butuh waktu. Butuh kepastian bahwa dia tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.

Malam ini, Maya
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Godaan Mama Muda   Bab 322

    Kara duduk diam di kursi belakang aula, tablet kecilnya berada di pangkuan, earphone kecil tersembunyi di telinga kirinya. Matanya melebar, bibirnya bergetar. Video itu sudah berjalan hampir tiga menit.Suara Papa yang berat, suara Tante Alya yang mendesah, kata-kata kasar yang tak pernah ia dengar sebelumnya. Gambar yang buram tapi cukup jelas untuk membuat perutnya mual. Setiap detik terasa seperti pisau yang diputar pelan di dada kecilnya.“Papa… kenapa…” bisiknya hampir tak terdengar.Di panggung, Radit masih berdiri tegar di depan kamera, suaranya lantang menyelesaikan pidato. Tepuk tangan mulai terdengar. Tapi Kara tak mendengar apa-apa lagi. Dunianya hanya video itu.Maya yang duduk di sampingnya menyadari ada yang salah. Ia menoleh, melihat wajah Kara yang pucat dan air mata yang mengalir tanpa suara. “Kara…?”Maya merebut tablet itu dengan cepat. Layar masih menyala. Video sudah memasuki menit ke-7. Maya langsung mematikan semuanya, tangannya gemetar hebat.“Kara… Sayang… jan

  • Godaan Mama Muda   Bab 321

    Radit berlari masuk ke kamar seperti orang kesetanan. Maya sudah berdiri di depan meja, wajahnya sepucat mayat, ponsel di tangannya bergetar hebat. Layar ponsel Maya menampilkan notifikasi grup WA orang tua sekolah Kara yang sudah meledak.Grup Orang Tua Kelas 1B Anton Wijaya: Video penting untuk Kara. Orang tua sekalian lihat dulu sebelum anak-anak bangun. Ini bukti siapa sebenarnya Radit Pranata. Lampiran: Full Video 47menit.mp4Belum sempat Radit bereaksi, ponsel Kara di meja samping ranjang berdering notifikasi email masuk. Layar tablet kecil yang sempat dimatikan tadi malam menyala lagi—entah bagaimana Anton berhasil bypass semua blokir.Kara yang masih dalam pelukan Maya langsung menegang. Matanya yang bengkak menatap layar tablet dengan ketakutan yang dalam.“Pa… itu email dari orang jahat lagi ya?” suaranya kecil, tapi ada keberanian aneh di sana. “Kara… Kara mau lihat. Biar Papa nggak usah bayar 20M. Kara kuat kok…”“Tidak!!!” Radit berteriak, suaranya pecah. Ia merebut t

  • Godaan Mama Muda   Bab 320

    Radit mendorong pintu kamar dengan kasar hingga berdebam. Napasnya tersengal, keringat dingin membasahi punggungnya. Di ranjang besar, Kara duduk setengah bangun, matanya masih mengantuk tapi mulai melebar melihat cahaya tablet kecil di sampingnya.“Pa... ada suara aneh...” gumam Kara pelan, tangan kecilnya meraih tablet itu.Di layar, video sudah memutar 12 detik. Suara Radit yang berat dan desahan Alya samar terdengar dari speaker. Gambar buram tapi cukup jelas—dua orang dewasa di apartemen gelap, pakaian berserakan.Radit merasa dunia berhenti berputar. Ia menerjang maju, merebut tablet dari tangan Kara dan mematikan video itu dengan jari gemetar. Layar langsung hitam.“Kara... jangan lihat, Sayang!” suaranya pecah.Kara mengerjap bingung, wajah kecilnya polos tapi mulai ketakutan melihat reaksi ayahnya. “Itu... suara Papa? Kenapa Papa sama Tante Alya... seperti di video yang kemarin?”Maya yang berlari menyusul dari belakang langsung naik ke ranjang, memeluk Kara erat dari belakan

  • Godaan Mama Muda   Bab 319

    Meja makan kecil itu dipenuhi tawa untuk pertama kalinya setelah berhari-hari. Kara duduk di pangkuan Radit, memberi makan Arka dengan sendok penuh nasi goreng sambil tertawa kecil setiap kali adiknya menggumam “Enak, Kak!” Alya menuang susu untuk kedua anak itu, sementara Maya menyandarkan kepala di bahu suaminya, tangannya menggenggam tangan Radit di bawah meja.“Papa hebat tadi di TV,” kata Kara sambil menyuap sendiri. “Kara lihat Papa bilang ‘aku nggak takut’. Kara juga nggak takut lagi kok, Pa. Karena Papa dan Mama jagain Kara sama Arka.”Radit tersenyum, tapi senyum itu tak sampai ke matanya. Di saku celananya, ponsel terasa panas seperti bara. Pesan dari nomor tak dikenal itu masih terbuka di layar yang gelap.“Kamu kira Richard cuma punya satu tangan? Aku masih punya rekaman asli malam terakhirmu dengan Alya—yang bahkan Richard tidak tahu. Besok pagi, kalau tidak ada 20M ke rekening ini, rekaman itu akan dikirim ke Kara langsung. Selamat menikmati kemenanganmu yang rapuh, Radi

  • Godaan Mama Muda   Bab 318

    Pukul 08.15 pagi. Langit masih mendung, tapi hujan sudah reda menjadi gerimis tipis. Rumah kecil itu dipenuhi ketegangan yang bisa dirasakan di udara.Radit berdiri di depan cermin kamar, mengikat dasi dengan tangan yang sedikit gemetar. Maya membantu merapikan kerah kemejanya, matanya bengkak tapi penuh tekad.“Kamu yakin mau lakukan ini?” tanya Maya pelan.Radit mengangguk. “Ini satu-satunya cara. Kita nggak bisa sembunyi lagi. Kalau aku diam, Richard akan terus mainkan permainannya.”Di ranjang besar, Kara dan Arka masih tidur berpelukan, boneka kelinci di tengah mereka. Wajah Kara masih pucat, ada bekas lakban samar di pipinya. Alya duduk di samping, mengawasi mereka tanpa berkedip.“Anak-anak aku yang jaga di sini,” kata Alya lirih. “Pengawal polisi sudah 12 orang di luar. Mereka aman.”Radit mendekat, mencium kening Kara dan Arka lama sekali. “Papa pergi sebentar ya, Sayang. Papa akan lawan orang jahat ini supaya kita bisa hidup tenang.”Kara menggeliat, matanya terbuka sedikit.

  • Godaan Mama Muda   Bab 317

    Mobil berhenti mendadak di pinggir jalan pelabuhan. Hujan masih deras, wiper bergerak cepat tapi tak mampu membersihkan kekacauan di hati Radit.Layar ponsel di tangannya menampilkan video live yang mengerikan—Kara kecil duduk di kursi putih, mata tertutup kain hitam, bahunya berguncang karena tangis pelan.“Papa… tolong Kara…” suara itu persis suara Kara. Persis.Maya mencondongkan tubuh dari kursi belakang, wajahnya pucat pasi. “Itu… itu Kara kita? Tapi Kara ada di sini!” Ia memeluk putrinya lebih erat, seolah takut angin bisa merebutnya lagi.Kara yang asli masih setengah sadar di pangkuannya, bibirnya bergerak pelan. “Mama… Kara di sini… jangan takut…”Radit memperbesar video. Di sudut layar terlihat tanggal dan waktu real-time—sedang berlangsung sekarang. Pria Singapura muncul di frame, suaranya dingin dan tenang.“Radit, kamu pikir penculikan tadi adalah akhirnya? Ini Kara cadangan yang sudah saya siapkan sejak bulan lalu. Deepfake? Bukan. Ini hasil kloning teknologi wajah dan s

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status