Share

Bab 27

Penulis: Joker Sarjana
last update Tanggal publikasi: 2025-12-15 15:30:49

Hari ini, aku pulang kerja lebih cepat dari biasanya karena tidak ada lembur. Begitu masuk rumah, aku mendengar suara air dari kamar mandi.

"Mama Jessica lagi mandi," pikirku.

Aku berjalan ke kamar untuk ganti baju. Tapi saat melewati kamar mandi, pintu tiba-tiba terbuka.

Mama Jessica keluar dengan hanya mengenakan handuk putih yang melilit tubuhnya. Handuk yang cukup pendek, memperlihatkan paha mulus yang beningnya bukan main.

"Eh, Dit! Udah pulang?" sapanya sambil tersenyum, seolah tidak ada
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Godaan Mama Muda   Bab 268

    Radit duduk di tepi tempat tidur Kara, memandangi kertas yang sudah ia remas tadi malam. Tulisan tangan itu rapi sekali, huruf-hurufnya miring elegan, seolah ditulis dengan tenang. "Arka menunggu kakaknya pulang. Jangan biarkan Papa menyembunyikan kami lagi. -Mira."Ia mendengar suara Maya di dapur, sedang menyiapkan bekal sekolah Kara. Biasanya suara itu menenangkan, tapi pagi ini terasa seperti pengingat bahwa rumah ini sedang retak pelan-pelan."Papa, kenapa diam aja?" Kara muncul dari balik selimut, rambutnya acak-acakan. Ia meraih tangan Radit. "Kamu lagi sakit lagi ya? Kayak waktu di rumah sakit dulu."Radit memaksakan senyum dan menyimpan kertas itu ke saku celananya. "Enggak, Sayang. Papa cuma mikir kerjaan. Kamu sudah mandi belum? Nanti telat."Kara mengangguk, tapi matanya masih penasaran. "Mira bilang Arka itu adik aku yang hilang. Katanya Papa tahu kok. Beneran ada ya?"Pertanyaan polos itu seperti jarum kecil yang menusuk. Radit mengusap kepala putrinya. "Itu cuma cerita

  • Godaan Mama Muda   Bab 267

    Radit sedang menuang kopi, tiba-tiba bel pintu berbunyi. Suaranya pendek, dua kali, seperti orang yang sudah hafal rumah ini. Jam baru menunjukkan pukul delapan pagi. Terlalu pagi untuk tamu biasa.Maya mengangkat alis dari balik meja makan, sendoknya berhenti di udara. "Kamu pesan apa?""Enggak." Radit meletakkan teko kopi, tangannya agak licin. "Mungkin kurir."Tapi ketika ia membuka pintu, yang berdiri di depan bukan kurir.Alya tersenyum tipis, rambutnya terikat rapi, membawa kotak kue pastel yang kelihatan mahal. Di sampingnya, seorang perempuan lebih muda, mungkin awal dua puluhan, berdiri dengan sikap santai, tangan di saku jaket denimnya. Rambut hitam panjangnya sedikit berantakan karena angin pagi, tapi matanya tajam, seolah sudah menilai seluruh ruangan sebelum masuk."Pagi," kata Alya ringan. "Maaf datang mendadak. Aku bawa sarapan. Ini Mira, temanku. Dia baru pindah ke sini dan aku pikir... ya, kenalan dulu lah."Mira mengangguk kecil, senyumnya sopan tapi tidak berlebihan

  • Godaan Mama Muda   Bab 266

    Pagi itu dapur dipenuhi aroma roti panggang dan kopi yang baru diseduh. Radit berdiri di depan kompor, membalik telur dengan gerakan yang terlalu lambat, seolah takut api kecil itu bisa membakar sesuatu yang lebih besar.Maya menuang susu untuk Kara, senyumnya tetap tenang meski matanya sesekali melirik ke arah meja makan.Kara duduk di kursi tinggi, kakinya bergoyang-goyang. Di depannya tergeletak amplop kecil yang sama seperti kemarin, tapi kali ini stikernya bergambar dinosaurus biru. Mira duduk di sebelahnya, rambut panjangnya diikat sederhana, tangannya memegang gelas air dengan tenang.“Papa, ini surat baru dari Arka,” kata Kara sambil mendorong amplop itu ke depan Radit. Suaranya ceria, seolah sedang membagikan hadiah. “Kak Mira bilang Arka sudah mulai bergerak. Dia bilang dia mau lahir sebentar lagi.”Radit mengambil amplop itu dengan tangan yang terasa berat. Ia membukanya di depan semua orang, tidak lagi menyembunyikan. Di dalamnya ada selembar kertas kecil, tulisan tangan K

  • Godaan Mama Muda   Bab 265

    Pagi itu, Radit menuang kopi untuk dirinya sendiri, gerakannya lambat, seolah takut suara sendok yang menyentuh cangkir bisa membangunkan sesuatu yang lebih besar.Di meja makan, Kara sedang menggambar dengan krayon merah lagi. Mira duduk di sebelahnya, dagunya bertumpu di tangan, tersenyum melihat adik kecilnya bekerja. Maya berdiri di depan kompor, membalik telur, tapi matanya sesekali melirik ke arah meja.Kara mengangkat gambarnya tinggi-tinggi dengan bangga.“Papa, lihat! Ini surat dari Arka!”Radit hampir menumpahkan kopinya. Ia mendekat dan mengambil kertas itu. Di atas gambar bayi kecil yang tersenyum, ada tulisan tangan Kara yang masih agak miring, tapi jelas.“Untuk Papa, Aku sudah hampir lahir. Aku mau lihat rumah kita. Aku mau main dinosaurus sama Kak Kara. Jangan takut lagi ya, Papa. Aku sayang Papa. -Arka”Radit menatap tulisan itu lama. Huruf-hurufnya polos, tapi kata-katanya terlalu dewasa untuk Kara yang baru tujuh tahun.Maya mendekat, membaca dari atas bahu Radit. S

  • Godaan Mama Muda   Bab 264

    Radit berdiri di dapur, menuang kopi untuk dirinya sendiri. Bau kopi hitam yang pekat sedikit menenangkan sarafnya yang tegang. Di meja makan, Kara dan Mira sudah duduk bersama, kepala mereka hampir bersentuhan sambil melihat buku gambar.Kara menunjuk salah satu halaman dengan jari kecilnya. “Kak Mira, ini Arka yang kamu gambar. Lucu ya? Rambutnya keriting seperti Papa.”Mira tersenyum lembut, tangannya mengusap rambut Kara. “Iya. Arka mirip Papa. Matanya juga. Dia bilang dia sudah tidak sabar ingin lahir supaya bisa main dinosaurus sama kita.”Radit meletakkan cangkir kopi di meja dengan pelan. Suaranya tetap tenang meski dadanya bergolak.“Mira, kita perlu bicara. Arka bukan nama yang kami pilih. Dia hanya ada dalam mimpi burukku. Bagaimana kamu bisa tahu nama itu?”Mira mengangkat wajahnya. Matanya jernih, tidak ada rasa bersalah di dalamnya.“Aku juga mimpi tentang Arka sejak kecil. Dalam mimpi itu, dia lahir setelah Papa dan Mama saling memaafkan. Dia bayi yang ceria, suka terta

  • Godaan Mama Muda   Bab 263

    Meja makan pagi itu terasa seperti panggung sandiwara yang sangat pelan. Radit memegang sendoknya tanpa benar-benar mengaduk kopi.Maya duduk di seberang, tangannya memegang gelas susu Kara, tapi matanya sesekali melirik Mira dengan waspada yang ia coba sembunyikan.Kara makan sereal dengan riang, sementara Mira duduk tenang, kaos kebesaran Kara masih melekat di tubuhnya.Mira menatap Radit dengan senyum lembut, suaranya halus seperti hembusan angin pagi.“Papa, aku mimpi Arka lagi semalam. Dia kecil sekali, masih bayi. Dia tertawa saat aku gendong. Kamu juga ada di mimpi itu, Papa. Kamu memeluk kami semua.”Kara mengangkat kepala, mata besarnya penuh rasa ingin tahu.“Arka? Siapa Arka, Kak Mira? Namanya lucu. Kayak nama dinosaurus baru!”Mira tersenyum lebih lebar, tapi matanya tetap tertuju pada Radit.“Arka adalah adik kita yang belum lahir. Dalam mimpi aku, dia lahir dari Papa dan Mama. Lucu sekali, rambutnya mirip Papa.”Radit merasa udara di ruangan menjadi berat. Sendok di tang

  • Godaan Mama Muda   Bab 101

    "Pak... saya...""Diam!" bentaknya keras, membuatku tersentak. "Jangan coba-coba membela diri! Aku sudah melihatnya! Kami semua sudah melihatnya!"Mama Kiara menangis terisak di sudut ruangan. Kiara masih menunduk, tubuhnya bergetar menahan tangis."Kamu tau siapa wanita itu?" tanya Papa Kiara deng

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-25
  • Godaan Mama Muda   Bab 102

    Plak!Sebuah tamparan keras mendarat di pipiku. Kiara menamparku dengan sekuat tenaga.Rasa panas menjalar seketika, meninggalkan denyut perih yang menjalar hingga ke rahang.Namun, sengatan fisik itu tak ada apa-apanya dibanding tatapan matanya. Tatapan yang biasanya penuh binar hangat, kini redup

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-25
  • Godaan Mama Muda   Bab 100

    Tiga minggu berlalu sejak malam itu. Hubunganku dengan Kiara semakin renggang.Kami masih bertemu, tapi tidak sesering dulu. Dan setiap kali bertemu, ada jarak yang tercipta di antara kami.Jarak yang sebenarnya kubuat sendiri.Perubahan pada diri Kiara pun mulai terlihat jelas. Senyumnya yang dulu

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-25
  • Godaan Mama Muda   Bab 85

    Ia berbalik menatapku sepenuhnya, lalu mengusap air matanya sendiri dengan punggung tangan."Dan… aku akan ingat ini selamanya," ucapnya pelan. "Walaupun kamu akan lupa."Aku menggeleng cepat, reflek."Aku… aku gak akan lupa, Siska," ucapku. "Aku akan ingat. Selamanya."Ia menatapku ragu, seakan ta

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-24
Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status