Share

Bab 51

Penulis: Joker Sarjana
last update Tanggal publikasi: 2025-12-27 20:39:49

Begitu pintu tertutup, suasana di ruangan berubah.

Mama Jessica duduk di kursi yang tadi diduduki Kiara, sangat dekat dengan ranjang. Tangannya memegang tanganku dengan erat.

"Dit..." panggilnya pelan.

"Ya, Ma?"

"Kamu suka sama dia?"

Pertanyaan itu membuatku terdiam.

"Kenapa tiba-tiba Mama nanya kayak gitu?"

"Jawab aja." Mama Jessica menatapku serius. "Kamu suka sama dia?"

Aku menghela napas pelan. Merasa lelah dengan sandiwara yang telah lama kujalani. Mungkin ini saat yang tepat, mengatakan s
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Godaan Mama Muda   Bab 260

    Pagi itu cahaya matahari menyusup lembut melalui jendela dapur, mewarnai meja makan dengan warna keemasan yang hangat.Radit menuang susu ke gelas Kara, gerakannya lambat, hampir hati-hati, seolah takut satu gerakan salah bisa memecahkan sesuatu yang rapuh.Kara duduk di kursi tinggi, kakinya bergoyang-goyang riang sambil mengaduk sereal dengan sendok plastik berwarna biru.“Papa, hari ini aku mau gambar Mira lagi,” kata Kara tiba-tiba, suaranya ringan seperti angin pagi. “Dia bilang suka warna merah. Kayak darah dinosaurus yang lagi bertarung.”Maya yang sedang mengoles selai di roti menoleh, alisnya sedikit terangkat. “Mira? Siapa Mira, sayang?”Kara mengangkat bahu kecilnya, seolah pertanyaan itu biasa saja. “Kakak baru kita. Dia bilang dia sudah lama nunggu ketemu Papa dan Mama. Katanya nanti dia datang main ke rumah. Bawa es krim rasa stroberi yang Papa suka.”Radit merasa udara di dapur tiba-tiba lebih berat. Sendok di tangannya berhenti bergerak. Ia menatap Kara, mencoba memb

  • Godaan Mama Muda   Bab 259

    Hari Minggu pagi, langit pantai Sentosa cerah tanpa awan. Kara berlari di pasir putih, rok pendeknya berkibar, sambil tertawa keras setiap kali ombak kecil menyentuh kakinya.Alya berjalan di sampingnya, memegang keranjang piknik, rambutnya dibiarkan tergerai oleh angin laut.Radit dan Maya berjalan beberapa langkah di belakang. Maya menggenggam tangan suaminya erat, jarinya sesekali mengusap punggung tangan Radit seperti sedang mengingatkan.Kara berbalik, melambai dengan semangat. “Papa! Mama! Cepat! Ada kepiting kecil di sini!”Alya tersenyum ke arah Radit dan Maya. “Dia benar-benar penuh energi. Mirip kamu dulu, Radit.”Radit hanya mengangguk pelan. Ia mencoba menikmati momen itu, angin laut, tawa Kara, kehangatan tangan Maya. Tapi setiap kali Alya tertawa bersama Kara, ia merasa ada benang tipis yang menarik ingatannya kembali ke mimpi buruk.Mereka duduk di tikar piknik. Kara sibuk membangun istana pasir bersama Alya. Maya menyandarkan kepalanya di bahu Radit, suaranya pelan han

  • Godaan Mama Muda   Bab 258

    Pagi itu, Radit dan Maya duduk bersebelahan di ruang tunggu, tangan mereka saling genggam erat.Kara duduk di lantai, menggambar dinosaurus dengan krayon merah sambil bernyanyi pelan.Sesekali ia menoleh dan tersenyum ke ayahnya, seolah ingin meyakinkan bahwa semuanya baik-baik saja.Dr. Tan memanggil mereka masuk. Wajah dokter itu serius, map di tangannya terbuka lebar.“Hasil scan ulang sudah keluar,” katanya langsung. “Ada aktivitas listrik yang tidak biasa di hippocampus Anda, Radit. Seolah otak Anda masih memproses mimpi buruk itu secara aktif, bahkan setelah Anda sadar. Ini bukan kerusakan permanen, tapi cukup kuat untuk memengaruhi emosi dan ingatan jangka pendek.”Maya menegang. “Artinya apa, Dokter?”Dr. Tan menatap Radit. “Artinya mimpi itu belum benar-benar selesai. Otak Anda sedang mencoba menyelesaikan cerita itu. Kalau pemicu stres muncul, pertemuan dengan orang dari masa lalu, tekanan emosional, atau bahkan hal kecil yang mengingatkan, mimpi itu bisa semakin sering dan

  • Godaan Mama Muda   Bab 257

    Radit berdiri di depan lemari es, memegang gambar Kara dengan tangan yang sedikit gemetar. Krayon merah tebal membentuk sosok Tante Alya berdiri sangat dekat dengan Papa, tangan mereka hampir bersentuhan. Kara sendiri digambar sedang tersenyum lebar di tengah, memegang dinosaurus.“Bagus kan, Papa?” tanya Kara lagi dari lantai ruang tamu, suaranya polos dan ceria.Radit memaksakan senyum. “Bagus sekali, sayang. Papa suka warnanya.”Ia meletakkan gambar itu di atas kulkas, tapi matanya tidak bisa lepas dari sosok Alya yang digambar dengan garis tegas. Maya keluar dari kamar, melihat ekspresi suaminya. Ia mendekat dan memeluk pinggang Radit dari belakang.“Dia hanya menggambar apa yang dia lihat,” bisik Maya lembut. “Kemarin Alya datang, Kara senang sekali. Jangan dipikirkan terlalu dalam.”Radit mengangguk, tapi malam itu ia sulit tidur. Setiap kali memejamkan mata, gambar merah itu muncul , Alya yang tersenyum, Kara yang tersenyum, dan dirinya yang berdiri di tengah, tidak tahu harus

  • Godaan Mama Muda   Bab 256

    Ruang tunggu rumah sakit terasa terlalu dingin. Radit duduk di kursi plastik, tangannya saling menggenggam erat di pangkuan.Maya berada di sampingnya, satu tangannya memegang tangan Radit, sementara tangan yang lain memeluk Kara yang duduk di pangkuannya.Gadis kecil itu sibuk mewarnai buku gambar dinosaurus, tapi sesekali melirik ayahnya dengan mata penuh rasa ingin tahu.“Papa takut ya?” tanya Kara pelan.Radit memaksakan senyum. “Sedikit. Tapi Papa kuat kok.”Pintu ruang dokter terbuka. Dr. Tan, spesialis neurologi yang menangani Radit selama koma, memanggil mereka masuk. Wajah dokter itu tenang, tapi ada kerutan kecil di dahi yang membuat Radit langsung waspada.“Terima kasih sudah datang cepat,” kata Dr. Tan setelah mereka duduk. Ia membuka map hasil tes. “Kami melakukan scan tambahan dan tes darah lengkap saat Anda koma. Ada temuan yang kami anggap perlu dibahas.”Maya menggenggam tangan Radit lebih erat. Kara berhenti mewarnai, mendengarkan dengan serius.Dr. Tan melanjutkan

  • Godaan Mama Muda   Bab 255

    Sabtu pagi, Radit, Maya, dan Kara berjalan menyusuri jalur kebun binatang Singapura. Kara melompat-lompat di depan, memegang peta warna-warni sambil berteriak girang setiap kali melihat hewan baru.“Papa! Lihat jerapahnya tinggi sekali! Kayak dinosaurus yang aku gambar!”Maya tersenyum, tangannya menggenggam tangan Radit. Sentuhannya hangat, penuh harapan. “Lihat dia bahagia. Ini yang kita butuhkan. Keluar rumah, tanpa tekanan.”Radit mengangguk, tapi matanya sesekali melirik ke belakang. Alya berjalan beberapa langkah di belakang mereka, membawa tas kecil berisi camilan untuk Kara. Ia datang atas undangan Kara sendiri, “Tante Alya kan suka hewan juga!” kata gadis kecil itu pagi tadi.Alya tidak memaksa. Ia hanya tersenyum saat Kara menarik tangannya untuk melihat singa. “Kara, lihat itu! Singanya lagi menguap. Lucu ya?”Kara tertawa. “Tante Alya, besok kita ke aquarium ya? Papa bilang boleh!”Radit dan Maya saling pandang. Maya menggenggam tangan suaminya lebih erat, seolah ingin

  • Godaan Mama Muda   Bab 79

    "Radit, kamu suka pantai?" tanya Siska tiba-tiba."Lumayan," sahutku seadanya."Villa ku menghadap langsung ke pantai. Pemandangannya indah banget. Pasti kamu suka.""Oh..." Aku mengangguk-angguk pelan, membiarkan suasana seolah mencair."Dan... kamarnya juga nyaman. Tempat tidurnya besar, kasur em

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-23
  • Godaan Mama Muda   Bab 75

    Aku duduk di pinggir jalan, tidak jauh dari kawasan Citra Garden, dengan motor masih mati di sampingku. Ponsel di tanganku, kalkulator terbuka.Aku mulai menghitung.Gaji per bulan: Rp 5.000.000Tabungan sekarang: Rp 15.000.000Jemari ku berhenti sejenak. Tenggorokanku terasa kering.Aku menekan to

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-23
  • Godaan Mama Muda   Bab 78

    Keesokan harinya, aku pulang ke rumah lebih cepat dari biasanya. Jam di ponselku baru menunjukkan pukul dua siang ketika aku memarkir motor di halaman.Dadaku terasa sedikit sesak. Bukan karena capek, tapi karena ada sesuatu yang harus kusembunyikan.Bu Siska akan menjemputku tepat jam tiga, di dep

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-23
  • Godaan Mama Muda   Bab 74

    "Menikahi?!" Ia tertawa sambil memegang perutnya. "Kamu... menikahi Kiara? Dengan apa? Dengan gaji UMR kamu? Dengan motor bebek kamu? Dengan rumah kumuh kamu?"Kata-kata yang keluar dari mulutnya benar-benar menusuk jantungku."Pak... saya memang bukan orang kaya. Tapi saya... punya hati yang tulus

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-23
Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status