Share

Bab 52

Author: Joker Sarjana
last update publish date: 2025-12-28 20:55:25

Pagi harinya, aku terbangun dengan tubuh yang masih terasa sakit di mana-mana. Dokter datang untuk memeriksa dan mengatakan tidak ada yang patah, tapi ada memar cukup parah di rusuk dan beberapa luka yang perlu waktu untuk sembuh.

"Kamu beruntung," ucap dokter sambil mencatat. "Kalau pukulannya lebih keras lagi, bisa jadi tulang rusukmu retak. Istirahat total minimal tiga hari, jangan banyak gerak dulu."

"Baik, Dok. Terima kasih."

Setelah dokter pergi, aku sendirian di ruangan. Mama Jessica tid
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Godaan Mama Muda   Bab 350

    Sinar matahari menyusup lembut melalui tirai kamar Kara. Untuk pertama kalinya dalam beberapa hari terakhir, ia bangun tanpa beban berat di dada.Boneka kelinci tuanya masih berada dalam pelukannya, sudah agak basah oleh air mata semalam. Kara tersenyum kecil sambil mencium kepala boneka itu.“Dulu kamu satu-satunya temanku,” bisiknya pelan. “Sekarang aku punya keluarga yang nyata.”Suara tawa Arka terdengar dari lantai bawah, diikuti aroma telur goreng dan roti bakar yang menggoda. Kara cepat-cepat mandi, mengikat rambutnya yang masih basah, lalu turun ke dapur dengan langkah ringan.Radit sedang membalik telur di wajan, sementara Maya menuangkan susu untuk Arka. Begitu melihat Kara, wajah Radit langsung cerah.“Princess-ku sudah bangun!” serunya sambil membuka tangan lebar-lebar.Kara langsung memeluk ayahnya erat. “Pagi, Pa. Pagi, Ma. Pagi, bawel,” katanya sambil mengacak rambut Arka yang acak-acakan.Arka tertawa ker

  • Godaan Mama Muda   Bab 349

    Malam itu, Kara duduk di teras belakang, kakinya yang dingin menyentuh lantai keramik yang sudah agak retak. Ponsel di pangkuannya masih menyala, pesan dari Mira terbaca berulang kali hingga huruf-hurufnya terasa kabur.Ia mendengar langkah pelan di belakangnya. Radit keluar dengan jaket tebal di tangan, lalu menyelimutinya ke pundak Kara tanpa banyak bicara. Ia duduk di samping, bahu mereka bersentuhan.“Masih mikirin pesan itu?” tanya Radit pelan.Kara mengangguk kecil. “Mereka bilang besok malam jam delapan. Kalau aku datang dan tanda tangani, foto-foto itu akan dihancurkan. Tapi kalau aku nggak… Papa bisa hancur lagi.”Radit menghela napas panjang. Ia menatap langit yang sama gelapnya dengan perasaan Kara. “Papa sudah bilang tadi. Papa nggak mau kamu ambil keputusan karena takut. Kita hadapi bareng.”“Tapi Pa… kalau video itu tersebar, gimana dengan yayasan Papa? Gimana dengan Arka di sekolah? Orang-orang pasti ngomongin kita terus.”

  • Godaan Mama Muda   Bab 348

    Kara berdiri di tengah ballroom mewah yang penuh lampu kristal berkilauan. Gaun hitam sederhana yang dikenakannya terasa biasa saja di antara gaun-gaun mewah para tamu. Semua mata keluarga Lang tertuju padanya. Ada yang melihat dengan iri, ada yang curiga, dan ada pula yang tersenyum palsu seolah-olah mereka mendukungnya.Mira, wanita yang kemarin mengajaknya ke sini, berdiri di samping Kara sambil menyentuh bahu gadis itu dengan lembut. “Kamu pewaris tunggal sekarang, Kara. Semua milik kakekmu, Victor Lang, jatuh ke tanganmu. Ratusan miliar rupiah, rumah-rumah besar, perusahaan-perusahaan, bahkan saham di luar negeri. Tinggal bilang ‘ya’, dan kamu tidak perlu lagi hidup susah di rumah kecil itu.”Kara menunduk, melihat surat wasiat asli yang masih dipegangnya. Tulisan tangan kakeknya yang dulu terasa dingin kini seperti janji kekayaan yang menggoda. Ia ingat bagaimana hidupnya selama ini—rumah kecil yang bocor kalau hujan deras, makan seadanya, dan ibunya yang selalu capek bekerja.

  • Godaan Mama Muda   Bab 347

    Waktu berlalu cepat. Sudah dua belas tahun berlalu sejak Kara kecil dulu diselamatkan dari situasi sulit di keluarga asalnya. Kini Kara sudah berusia 12 tahun.Gadis yang dulu rapuh dan sering menangis diam-diam itu kini telah tumbuh menjadi remaja yang cantik. Rambutnya panjang sebahu, hitam dan lurus, biasanya diikat rapi saat berangkat sekolah.Matanya masih menyimpan kedalaman luka masa kecil, tapi sekarang ada kekuatan dan ketegasan di sana yang membuat siapa pun yang melihatnya merasa kagum.Arka, adik laki-lakinya yang sekarang berusia 9 tahun, sudah menjadi bocah yang sangat aktif dan nakal. Ia selalu mengikuti kakaknya ke mana-mana, seperti bayangan kecil yang ribut. Rumah mereka yang dulu kecil dan sederhana sudah diganti dengan rumah dua lantai yang lebih nyaman di pinggiran kota. Meski lebih besar, rumah itu tetap terasa hangat.Ada taman kecil di belakang, ruang keluarga yang selalu penuh mainan Arka, dan dapur yang menjadi pusat kegiatan setiap pagi.Radit masih memimpi

  • Godaan Mama Muda   Bab 346

    Pagi itu Radit belum memejamkan mata sama sekali. Sejak subuh, ia duduk diam di teras depan rumah kecil mereka, sebatang rokok menyala di antara jari-jarinya yang kasar. Asap tipis mengepul pelan di udara dingin pagi.Matanya lelah, lingkaran hitam tebal menggantung di bawah kelopak, tapi tatapannya tetap waspada. Sesekali ia melirik ke dalam rumah melalui jendela kaca yang buram.Di kamar utama, Kara tidur meringkuk di tengah, dipeluk Maya di satu sisi dan Arka di sisi lain. Ketiganya terlihat seperti sedang berjaga-jaga, seolah takut ada sesuatu yang datang dan mengganggu ketenangan yang rapuh itu.Radit menghela napas panjang. Sudah berhari-hari ia seperti ini—gelisah, takut, dan penuh penyesalan. Kehidupan mereka yang baru mulai membaik kembali terguncang setelah rekaman lama itu beredar. Rekaman yang membuat Kara menangis berhari-hari, yang membuatnya mempertanyakan segalanya tentang ayahnya.Pukul 08.45, sebuah mobil hitam mengkilap berhenti tepat di depan gerbang rumah. Radit l

  • Godaan Mama Muda   Bab 345

    Pagi itu udara terasa dingin. Radit sudah berdiri di teras rumah sejak subuh, matanya terus tertuju ke arah gerbang. Sesekali ia melirik jam di ponselnya. Kara masih tidur di dalam rumah, tapi Radit sudah merasa gelisah sejak bangun. Hari ini rasanya akan jadi hari yang berat.Pukul 09.15, terdengar suara motor mendekat. Seorang kurir ojek online turun sambil membawa kotak kecil berwarna hitam. Kotak itu diikat dengan pita merah yang mencolok. Tidak ada nama pengirim. Hanya ada tulisan tangan rapi di atasnya:Untuk Kara, Dari Seseorang yang Tahu Semua Rahasia PapamuRadit merasa tangannya dingin saat mengambil kotak itu. Tak lama kemudian, Maya keluar dari rumah dengan wajah tegang. “Buka di luar saja, Dit. Jangan dibawa masuk dulu,” kata Maya pelan.Mereka membuka kotak itu di teras. Di dalamnya hanya ada sebuah flashdisk kecil dan selembar kertas lipat.Radit membaca surat itu dengan suara pelan:“Kara, ini hadiah terakhir dariku. Rekaman malam ketika papamu memutuskan untuk menin

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status