Share

Bab 76

Penulis: Joker Sarjana
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-08 20:28:53

"Budi?"

"Radit! Gimana? Udah ketemu sama Papa Kiara?"

"Udah, Bud. Tapi... dia kasih syarat. Satu miliar. Dalam lima hari."

"SATU MILIAR?! GILA! Gak masuk akal banget!"

"Aku tau, Bud. Makanya aku perlu bantuan. Aku udah hubungi semua orang. Tapi gak ada yang bisa bantu."

"Radit... gue pengen bantu. Beneran. Tapi... gue cuma punya tabungan lima juta. Itu pun buat nikahan gue tahun depan. Tapi kalau lo butuh... ambil aja."

Air mataku hampir jatuh mendengar ucapan Mas Budi.

"Bud... serius? Tapi itu tabungan buat nikahan..."

"Gak apa-apa. Lo temen gue. Gue gak mau liat lo menderita. Ambil aja. Anggep aja pinjaman tanpa bunga. Lo bayar kapan aja lo bisa."

"Makasih, Bud. Makasih banyak..." Suaraku bergetar.

"Sama-sama, bro. Ntar gue transfer besok pagi ya."

"Oke, Bud. Terima kasih... terima kasih banyak..."

Aku menutup ponsel, lalu menatap catatan di kertas.

Yang terkumpul sejauh ini:

Tabungan sendiri: Rp 15.000.000

Pak Hendra: Rp 10.000.000

Mas Budi: Rp 5.000.000

Total: Rp 30.000.000

Kurang
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Godaan Mama Muda   Bab 88

    Keesokan paginya, aku terbangun jauh lebih awal dari biasanya. Bahkan sebelum alarm sempat berbunyi. Jam di ponselku menunjukkan pukul lima tepat.Aku menatap layar itu cukup lama, lalu memejamkan mata kembali. Tapi kantuk tidak datang.Tidurku semalam benar-benar tidak nyenyak. Mimpi buruk tentang akhir pekan di villa terus berulang, bercampur antara kenangan, rasa bersalah, dan ketakutan yang tak bisa kujelaskan dengan kata-kata.Namun pagi ini aku tidak boleh goyah.Hari ini aku akan membawa uang satu miliar itu ke rumah Papa Kiara. Hari ini, Kiara akan bebas dari perjodohan dengan pria yang bahkan tidak pernah ia cintai.Aku mengambil ponsel dari meja samping ranjang, lalu membuka aplikasi mobile banking. Entah sudah keberapa kalinya aku mengecek angka itu sejak semalam.Saldo: Rp 1.070.000.000Aku menatap layar tanpa berkedip. Angka itu masih di sana. Nyata, bukan mimpi. Bukan halusinasi akibat kurang tidur.Tanganku sedikit gemetar saat mengunci ponsel."Makasih, Siska..." bisik

  • Godaan Mama Muda   Bab 87

    Setelah menempuh perjalanan yang terasa jauh, entah karena macet, entah karena pikiranku yang tak henti bergolak, akhirnya kami tiba di kota.Siska memperlambat laju mobil, lalu menghentikannya tepat di depan area parkir kantor, tempat motorku biasa terparkir setiap hari.Mesin dimatikan. Suasana hening sejenak."Huft… sampai juga akhirnya," ucap Siska pelan, sambil menyandarkan punggung ke sandaran kursi.Nada suaranya terdengar lelah, tapi bukan lelah fisik semata, lebih seperti kelelahan yang sudah lama ia pendam.Aku membuka pintu dan turun. Udara kota terasa berbeda setelah perjalanan panjang itu.Aku melangkah ke belakang mobil, membuka bagasi, dan mengambil tasku. Tanganku sempat berhenti sesaat, seolah ada sesuatu yang masih menggantung."Radit."Aku menoleh. Siska memanggil sebelum aku sempat menutup pintu bagasi."Ya?" jawabku."Cek rekening kamu sekarang."Alisku sedikit berkerut. Walau aku sudah menduga, jantungku tetap berdegup lebih cepat.Aku merogoh saku, mengeluarkan

  • Godaan Mama Muda   Bab 86

    Tidak ada percakapan yang terjadi, hanya pergerakan tubuh saja yang dapat mengartikannya.Yang membuatku heran adalah, kenyataan bahwa kali ini aku tidak menunggu Siska lebih dulu mendekat.Tidak ada isyarat darinya, tidak ada aba-aba. Tubuhku bergerak sendiri, seakan digerakkan oleh naluri yang telah mengenali jalan pulangnya.Seolah si jantan telah menyimpan rasa candu yang mendalam. Candu pada kelembutan yang pernah dirasakan, pada kenyamanan yang sekali singgah lalu menuntut untuk diulang.Tidak ada pemanasan yang terjadi. Semua berlangsung begitu saja, terburu namun pasti.Si jantan langsung menuju ke inti, seperti telah begitu hafal letak sebuah alamat tanpa perlu bertanya."Ahh... Ahh... Ahh...""Yess... Yess... Yess...""Uhh..."Suara-suara itu menjadi pengantar pertarungan sengit malam ini. Mengalir begitu saja di ruang sempit, tanpa noise reduction, jujur dan apa adanya.Detak jantungku berpacu, seirama dengan napas yang kian tak teratur.Segalanya terjadi begitu cepat. Sepe

  • Godaan Mama Muda   Bab 85

    Ia berbalik menatapku sepenuhnya, lalu mengusap air matanya sendiri dengan punggung tangan."Dan… aku akan ingat ini selamanya," ucapnya pelan. "Walaupun kamu akan lupa."Aku menggeleng cepat, reflek."Aku… aku gak akan lupa, Siska," ucapku. "Aku akan ingat. Selamanya."Ia menatapku ragu, seakan takut berharap."Beneran?" tanyanya lirih."Eum, iya."Siska tersenyum, lalu memelukku tiba-tiba."Makasih, Radit. Makasih... udah kasih aku momen terindah dalam hidup aku."Aku membalas pelukannya. Tanganku bergerak pelan di punggungnya. Pelukan itu bukan karena cinta, bukan juga karena hasrat, melainkan karena rasa kasihan yang jujur dan rasa bersalah yang dalam.Dalam pelukan itu, aku menyadari satu hal yang menyakitkan.Walaupun kaya raya, memiliki harta yang melimpah ruah, ternyata wanita ini benar-benar kesepian.Dan aku… tanpa sadar, telah menjadi satu-satunya tempat ia menggantungkan perasaan, walau hanya sementara.***Malam tiba.Langit di atas villa berubah menjadi hitam pekat, bert

  • Godaan Mama Muda   Bab 84

    Kami tiba kembali di villa sekitar pukul empat sore. Matahari masih tinggi, tapi panasnya tak lagi menyengat seperti siang tadi. Siska langsung melangkah naik ke lantai atas tanpa banyak bicara."Aku istirahat dulu ya," katanya singkat, senyumnya tipis tapi matanya terlihat lelah.Aku hanya mengangguk. Langkah kakinya menghilang di balik tangga kayu, meninggalkanku sendirian.Aku kembali duduk di teras, di kursi yang sama seperti pagi tadi.Laut terbentang di hadapanku, warnanya mulai berubah. Biru cerah bergeser menjadi gradasi jingga keemasan. Ombak berkejaran lembut ke pasir, seolah tak peduli dengan kekacauan di kepalaku."Hmm..."Aku menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan.Tiba-tiba ponselku bergetar di genggamanku. Satu pesan masuk.Nomor itu tidak kusimpan, tapi aku tak perlu melihat lebih lama untuk tahu siapa pengirimnya. Jantungku langsung berdegup tak beraturan."Radit... aku kangen kamu. Papa makin ketat jagain aku. Aku gak bisa keluar kamar. Besok... Papa b

  • Godaan Mama Muda   Bab 83

    Aku turun ke bawah pukul tujuh pagi, tepatnya setelah mandi dan berganti pakaian.Udara pagi masih sejuk, menyisakan aroma laut yang asin dan segar.Siska masih tidur di kamar, tubuhnya terbaring menyamping, selimut menutup sebagian bahunya. Wajahnya terlihat sangat damai, seolah tak ada beban sedikit pun yang mengganggu pikirannya.Berbanding terbalik denganku.Aku melangkah ke teras dan berhenti di sana cukup lama. Pantai di hadapanku terlihat tenang, ombak kecil bergulung lembut menyapu pasir putih, memantulkan cahaya matahari pagi yang baru naik.Burung-burung camar beterbangan rendah, sesekali mengeluarkan suara nyaring yang memecah kesunyian.Pemandangan terlihat begitu indah. Namun tidak dengan perasaan hatiku."Apa yang sudah ku lakukan semalam..." gumamku sambil memegang pagar teras dengan erat.Bayangan semalam terus berputar di kepalaku. Sentuhan Siska, ciumannya, dan... pertarungan sengit itu."Tapi... ini demi Kiara," bisikku mencoba meyakinkan diri sendiri.Angin laut me

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status