Share

Rahasia Itu

Author: Mom_cgs
last update publish date: 2026-04-07 18:35:53

​Namia terbelalak. "Uang saya sendiri? Tuan, ini ada sepuluh porsi lebih! Harganya hampir setengah dari gaji bulanan saya!"

​Galan tersenyum miring, sebuah senyuman yang tidak sampai ke mata. "Oh, jadi sekarang kamu tahu arti nilai uang? Bukankah dulu bagimu uang orang tuamu tidak akan pernah habis? Ke mana perginya kesombonganmu itu, Namia Prissilia?"

Namia menarik napas panjang, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang terasa menyakitkan. Ia memaksakan sebuah senyum manis, senyum yang paling tulus yang bisa ia buat, meski matanya menyiratkan kelelahan yang luar biasa. Ia menatap tepat ke manik mata Galandra, tidak lagi menghindar.

​"Mohon maaf yang sebesar-besarnya, Tuan Galandra yang terhormat," ucap Namia dengan nada lembut namun tertata. "Saya memohon toleransi Anda. Saya tidak memiliki uang sebanyak itu saat ini untuk mengganti semua pesanan ini. Bagi saya, setiap rupiah sangat berarti sekarang."

Namia menjeda sejenak, senyumnya masih tertahan di bibir meski hatinya perih.

​"Dan soal menghargai uang... saya selalu menghargainya sejak dulu, Tuan. Hanya saja, mungkin dulu saya terlalu naif dalam menunjukkannya," lanjut Namia. Ia memberanikan diri melangkah satu senti lebih dekat, menantang intimidasi Galan.

​"Lagipula... kenapa Tuan Galandra yang terhormat masih sangat gemar mengungkit hal-hal yang sudah lewat sepuluh tahun lalu? Semua itu sudah lama mati dan terkubur. Melihat Tuan yang sepertinya sangat dendam dan hobi mencari gara-gara dengan kurir seperti saya..."

Namia memiringkan kepalanya sedikit, menatap Galan dengan pandangan menyelidik yang berani. "Apa jangan-jangan Tuan belum bisa move on dari saya?"

Suasana di ruangan itu mendadak hening. Niko yang berdiri di dekat pintu bahkan sampai menahan napas, terkejut mendengar keberanian wanita yang tadinya terlihat sangat rapuh itu.

Rahang Galandra mengeras seketika. Pertanyaan Namia barusan seperti sebuah tamparan keras yang mendarat tepat di wajahnya yang angkuh. Ia tertawa pendek, sebuah tawa kering yang terdengar sangat sinis.

​"Saya? Belum move on?" Galan mendekatkan wajahnya hingga hanya tersisa jarak beberapa senti di antara mereka. Namia bisa merasakan kemarahan yang meluap-luap dari hembusan napas pria itu.

"Jangan terlalu percaya diri, Namia. Kamu yang sekarang... pelayan kelab malam, kurir berdebu, wanita yang bahkan tidak bisa membeli bedak yang layak... Kamu pikir ada bagian dari dirimu yang layak untuk saya rindukan?"

Galan mencengkeram dagu Namia, memaksanya untuk terus menatapnya. "Saya hanya sedang menikmati tontonan. Melihat bagaimana 'tuan putri' yang dulu membuang saya, sekarang mengemis toleransi di depan meja saya. Itu hiburan yang sangat mahal, bukan?"

Namia merasakan matanya memanas, namun ia menolak untuk menumpahkan air mata di depan pria ini. "Kalau begitu, sebagai penonton yang baik, biarkan saya pergi. Tuan sudah mendapatkan hiburannya, dan saya harus kembali mencari uang."

Galandra melepaskan cengkeramannya pada dagu Namia dengan sentakan kasar, seolah-olah kulit wanita itu baru saja membakar jemarinya. Ia kembali berdiri tegak, merapikan kemeja mahalnya dengan gestur yang sangat angkuh, lalu kembali ke meja kerjanya.

​"Pergilah," ucap Galandra dingin tanpa menoleh sedikit pun. Tangannya menunjuk dengan dagu ke arah jaket yang dikenakan Namia. "Dan mungkin besok kamu sudah tak bekerja lagi di tempat itu."

Namia terpaku. Ancaman itu sangat nyata. Di dunia di mana Galandra memiliki kekuasaan sebesar ini, hanya dengan satu telepon, akun kurirnya bisa langsung disuspensi permanen. Karier sampingannya sebagai pelayan di kelab pun bisa berakhir dalam sekejap jika Galandra menginginkannya.

​"Tuan Galan—"

​"Keluar, Namia. Sebelum saya berubah pikiran dan meminta kamu membersihkan lantai ini dengan jaket kusammu itu," potong Galandra dengan nada final.

Namia mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga kukunya menusuk telapak tangan. Ia ingin berteriak, ingin memaki pria itu seperti sepuluh tahun lalu. Namun, bayangan wajah sang Mama yang butuh obat dan kursi roda sang Papa yang sudah reyot menahan lidahnya.

​Tanpa sepatah kata lagi, Namia menyambar helmnya. Ia berbalik dan melangkah cepat keluar dari ruangan megah yang terasa seperti penjara bawah tanah itu.

Di dalam ruangan, Galandra menatap punggung Namia yang menghilang di balik pintu kayu jati. Ia mendengus sinis, namun tangannya yang berada di bawah meja tampak bergetar hebat.

​"Niko," panggil Galandra setelah keheningan menyelimuti ruangan.

​"Ya, Tuan?" Niko masuk dengan kepala tertunduk.

​"Jangan lakukan apa pun pada akunnya. Biarkan dia tetap bekerja," perintah Galandra yang membuat Niko mendongak kaget. Bukankah tadi bosnya mengancam akan memecatnya?

​Galandra menyandarkan punggungnya ke

kursi, seringai tipis muncul di wajah tampannya. "Jika dia kehilangan pekerjaan, dia tidak akan punya alasan untuk berkeliaran di jalanan. Saya masih ingin melihat sejauh mana harga dirinya akan terkikis habis oleh kerasnya aspal.

...

Begitu kaki Namia menginjak aspal di luar lobi megah Pramarta Group, pertahanan yang ia bangun dengan susah payah runtuh seketika. Ia berjalan cepat menuju parkiran motor, hampir saja tersandung kakinya sendiri karena saking emosinya.

​Setelah sampai di samping motor bebek tuanya, Namia melempar helmnya ke jok dengan kasar. Napasnya memburu, wajahnya merah padam.

​"Brengsek! Sombong! Arrogant! Galandra Pramarta gila!" maki Namia dengan suara tertahan, takut orang-orang di sekitar sana menganggapnya tidak waras.

​Ia memukul stang motornya pelan. "Lo pikir lo siapa, hah?! Cuma karena lo punya gedung ini, lo bisa injak-injak gue sepuasnya? Sepuluh tahun lalu lo gak kayak gini, dan sekarang lo malah jadi orang kaya yang nggak punya hati!"

Namia mengusap kasar setetes air mata yang nekat jatuh. Ia benci dirinya sendiri karena merasa kalah. Ia benci karena ternyata Galandra punya kekuatan untuk menghancurkan satu-satunya mata pencahariannya.

​"Gue nggak akan kalah. Lo mau lihat gue hancur? Jangan harap!" umpatnya lagi. "Besok kalau akun gue beneran di-suspend, gue bakal maki-maki lo di depan gedung ini, Galan! Lihat aja!"

Namia memakai helmnya dengan sentakan keras, lalu menyalakan mesin motor yang suaranya sudah mulai batuk-batuk. Di bawah terik matahari yang menyengat, ia memacu motornya keluar dari kawasan gedung itu. Pikirannya kalut antara kemarahan yang meluap dan ketakutan akan hari esok.

...

"Muka lo jelek banget, lagi PMS ya?"

​Namia menoleh lesu, menerima botol minuman dingin yang disodorkan Nesa. Sahabatnya sejak SMA itu duduk di sampingnya di sebuah bangku taman kota, memanfaatkan jam istirahat kantornya yang singkat untuk menemui Namia yang sedang break narik kurir.

​Namia mengembuskan napas panjang, lalu menceritakan semuanya. Mulai dari pertemuan memuakkan di kelab semalam, hingga insiden "pesanan dingin" di kantor megah Galandra tadi siang.

​"Serius?! Galan mantan suami lo?" Nesa memekik, hampir tersedak minumannya sendiri. "Jadi Galandra Pramarta yang punya gedung kaca raksasa di pusat kota itu, dia?"

"Siapa lagi yang bernama Galan dan punya muka nyebelin selain dia," ucap Namia lirih, bahunya merosot lemas.

​Nesa menggeleng tak percaya. "Gila... dunia sempit banget. Terus, reaksi dia gimana? Dia sebenci itu sama lo?"

​Namia mengangguk pelan. "Dia kayak mau nelan gue hidup-hidup, Nes. Setiap kata yang keluar dari mulutnya itu isinya cuma penghinaan. Dia benar-benar pengin lihat gue hancur sehancur-hancurnya."

Nesa terdiam sejenak, menatap wajah sahabatnya yang kini tampak tirus dan lelah. "Dan... lo masih tetap dengan rahasia itu?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Godaan Mantan Suami   Lupakan

    Namia mempercepat langkahnya, merapatkan jaket kulit Galan yang masih menyisakan kehangatan tubuh pria itu. Ia berharap kegelapan gang bisa menelannya bulat-bulat, menyembunyikannya dari dunia, terutama dari sepasang mata tajam yang ia tahu masih mengawasinya dari kejauhan.​Namun, harapan itu hancur saat ia melihat bayangan pria bertubuh besar duduk di bangku kayu reyot depan rumahnya.​"Baru pulang, Cantik?" suara serak pria itu membelah sunyi malam, membuat bulu kuduk Namia meremang.​Namia mematung. Ini alasan kenapa ia menolak Galan mengantarnya sampai pintu. Ia tidak sanggup jika Galan harus melihat sisa-sisa kehancurannya yang paling menjijikkan, diteror penagih utang yang tak pernah bosan mencarinya, sisa beban masa lalu keluarganya yang seolah tak berujung.​"Aku... aku belum ada uangnya, Bang. Aku baru mau setor besok," ucap Namia pelan, suaranya bergetar hebat.​Pria itu berdiri, melangkah mendekat dengan senyum meremehkan. Ia menatap jaket kulit mahal yang tersampir di bah

  • Godaan Mantan Suami   [Bab 9]Jangan Pernah Muncul Lagi

    ​Namia menghapus air matanya dengan kasar menggunakan punggung tangan. Ia merasa ini bukan waktunya untuk membongkar rahasia besar itu, rahasia tentang ayahnya yang terlilit hutang pada rentenir kejam demi menyelamatkan perusahaan, rahasia tentang ancaman yang ia terima jika tidak segera meninggalkan Galan agar pria itu tidak ikut terseret dalam kehancuran keluarganya. Ia memilih menelan itu semua sendirian sepuluh tahun lalu agar Galan bisa fokus pada masa depannya.​"Tidak ada gunanya dijelaskan sekarang," ucap Namia dengan suara lemas, energinya seolah terkuras habis. "Kamu sudah mendapatkan jawaban yang kamu inginkan. Kamu sukses, aku hancur. Kamu pemenang, aku pecundang. Bukankah itu yang ingin kamu dengar?"Namia mencoba mendorong Galan sekali lagi, dan kali ini pria itu membiarkannya. Namia melangkah menuju pintu apartemen dengan kaki yang terasa berat.​"Aku akan mengembalikan pakaianmu besok setelah dicuci. Dan tolong... jangan pernah muncul lagi di hadapanku. Biarkan aku hid

  • Godaan Mantan Suami   [Bab 8] Jangan Menyentuhku

    "Setelah sepuluh tahun, apa ini salah satu caramu untuk mendapatkan kembali apa yang sudah kamu buang dulu? Menunjukkan sisi rapuhmu agar aku merasa kasihan?"Namia merasakan dadanya sesak. Jantungnya berpacu liar, bukan karena jatuh cinta, tapi karena rasa terhina yang kembali menggunung."Aku tidak serendah itu, Galan!" Namia berusaha menepis tangan Galan, namun pria itu justru semakin mengunci posisinya. "Aku hanya ingin mandi dan kamu antar aku pulang! Aku tidak peduli dengan hartamu atau apartemen mewahmu ini!"​"Benarkah?" Galandra menyeringai sinis, tatapannya turun ke bibir Namia yang sedikit terbuka. "Kalau begitu, kenapa tubuhmu bergetar? Kenapa matamu terlihat ketakutan sekaligus... menginginkan sesuatu?"Namia membuang muka ke sisi lain, berusaha menciptakan jarak meski mustahil. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga terasa menyakitkan. Hembusan napas Galan yang beraroma alkohol dan maskulin terasa panas di kulit wajahnya, memicu memori yang seharusnya sudah ia kubur d

  • Godaan Mantan Suami   [Bab 7] Kamu Bermaksud Menggodaku?

    Mobil mewah yang dikemudikan Galan itu berhenti dengan mulus di basement sebuah apartemen kelas atas. Namia mencengkeram tasnya kuat-kali, matanya menatap nanar deretan mobil mahal yang terparkir rapi di sana. "Turun," perintah Galandra pendek. "Nggak. Aku gak mau di sini. Aku mau pulang, Galan. Antarkan aku ke pangkalan atau biarkan aku pesan ojek dari sini," tolak Namia tegas. Jantungnya berdegup kencang, berada di ruang tertutup dengan Galandra dalam situasi seperti ini adalah ide buruk. Galandra mematikan mesin, suasana mendadak sunyi yang mencekam. Ia menoleh, menatap Namia dengan pandangan mengintimidasi yang membuat nyali Namia ciut seketika. "Jangan membuat saya menyeret kamu keluar, Namia. Kamu tahu saya tidak suka dibantah." Namia mendesis kesal, namun akhirnya ia membuka pintu mobil dengan kasar. Dengan perasaan dongkol dan was-was, ia mengekor di belakang Galandra menuju lift. Keheningan di dalam lift terasa begitu menyesakkan. Namia hanya bisa menunduk menatap pant

  • Godaan Mantan Suami   [Bab 6] Sisa-Sisa Pria Brengsek

    Dimas semakin menekan, napas alkoholnya menusuk, membuat mual naik ke tenggorokan Namia. “Di tempat kayak gini, semua bisa dibeli. Termasuk lo.” Tangan pria itu semakin kasar, menarik lengannya tanpa izin, sementara tangannya yang lain meremas pinggang Namia. Sesuatu di dalam diri Namia berontak. “Lepaskan!” Kali ini bukan sekadar desisan. Tangannya bergerak lebih dulu dari pikirannya. Namia menyambar vas bunga keramik kecil yang menjadi hiasan di meja lorong, lalu menghantamkannya ke bahu Dimas. Saat pegangan pria itu melonggar karena terkejut dan kesakitan, sekuat tenaga Namia kabur. Ia berlari membabi buta, masuk ke pintu terdekat yang ia temui, toilet. Dengan napas tersengal-sengal, ia masuk ke salah satu ruangan paling pojok, kemudian mengunci pintunya dari dalam. Tubuhnya bergetar hebat. Ia takut sekali jika Dimas sampai memburunya ke sini, apalagi lantai VIP ini sangat sepi. Dadanya makin berdebar hebat kala mendengar langkah kaki seseorang di luar. Namia makin pi

  • Godaan Mantan Suami   Selesai Sepuluh Tahun Lalu

    Gerakan tangan Namia yang hendak membuka tutup botol terhenti. Ia menoleh perlahan ke Nesa, lalu kembali menatap lurus ke depan dengan pandangan miris.​"Tahu pun sekarang nggak ada gunanya, Nes. Kami sudah selesai sepuluh tahun lalu. Lagipula, dia yang sekarang bukan Galan yang dulu. Galan yang sekarang cuma orang kaya sombong yang buta karena dendam," ucap Namia pahit.​"Tapi Mia, kalau dia tahu alasan sebenarnya lo minta cerai dulu, kalau dia tahu kenapa lo harus bersikap sejahat itu buat ngelepasin dia, mungkin dia nggak akan—"​"Cukup, Nes," potong Namia cepat. Suaranya bergetar. "Biarkan dia benci gue. Itu lebih baik daripada dia tahu yang sebenarnya dan malah merasa kasihan. Gue nggak butuh dikasihani, apalagi sama dia."​Nesa menghela napas, ia mengusap lembut bahu Namia, memberi dukungan tanpa kata. Ia tahu betapa keras kepalanya Namia jika sudah menyangkut harga diri dan perlindungan terhadap orang-orang yang ia sayangi.​"Terus sekarang lo mau gimana? Kalau dia beneran mau

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status