مشاركة

Sangat Mapan

مؤلف: Mom_cgs
last update تاريخ النشر: 2026-04-07 18:34:00

Pagi hari setelah menyiapkan makanan sederhana untuk Mama dan Papanya, Namia tampak keluar dari rumah petak itu. Ia mengenakan jaket dengan logo perusahaan pengantaran makanan yang sudah sedikit pudar warnanya. Meski tubuhnya masih terasa remuk akibat kerja hingga larut malam tadi, Namia tetap harus memutar gas motornya. Ia siap berjuang lagi hari ini.

Saat tiba di sebuah perempatan besar, lampu lalu lintas berubah merah. Namia berhenti di barisan depan, fokus menatap aspal di depannya sambil sesekali memijat pergelangan tangannya yang pegal. Ia tidak memperhatikan sebuah mobil mewah yang berhenti tepat di sisi kanannya.

​Di dalam mobil itu, Galandra duduk di kursi belakang, tersembunyi di balik kaca film yang sangat gelap. Matanya yang tajam tidak sengaja menangkap sosok yang sangat ia kenal.

​"Dia..."

​Galandra bergumam rendah. Rahangnya mengeras saat melihat dengan jelas logo pengantaran makanan di jaket yang dikenakan Namia. Wanita yang dulu bahkan tidak mau menyentuh piring kotor, kini harus bergelut dengan panasnya aspal dan debu jalanan demi sesuap nasi.

​"Niko," panggil Galandra tanpa mengalihkan pandangan dari Namia.

​"Iya, Tuan?" jawab asistennya sigap.

​"Cek jadwal pengantarannya hari ini. Saya mau pesanan untuk makan siang ini, dia yang ambil... langsung minta dia yang kirim ke kantor."

​Niko tertegun sejenak, namun segera mengangguk. "Baik, Tuan."

​Lampu berubah hijau. Namia segera memacu motornya dengan lincah, membelah kemacetan, tanpa menyadari bahwa sepasang mata mantan suaminya terus mengawasi punggungnya dengan tatapan yang sulit diartikan, antara benci, kasihan, dan obsesi yang belum tuntas.

"Namia, ada orderan ke gedung perkantoran pusat! Isinya lumayan banyak, kayaknya buat rapat besar. Buruan ambil, lumayan poinnya tinggi!" seru rekan sesama kurir di pangkalan.

​Namia langsung menegakkan punggungnya. "Oke, siap!"

Tanpa pikir panjang, ia segera memacu motornya menuju restoran yang dimaksud. Ada sekitar sepuluh kantong besar berisi paket makan siang mewah yang harus ia bawa. Berat memang, tapi dalam benak Namia, nominal tips yang mungkin ia dapatkan jauh lebih menggoda daripada rasa pegal di bahunya.

Ia sama sekali tidak tahu jika gedung pencakar langit dengan fasad kaca yang memantulkan cahaya matahari itu adalah markas besar Pramarta Group, Perusahaan yang Galandra pimpin, pria yang dulu ia kenal hanyalah seorang pemuda yang ia cap pemalas karena lebih suka mengutak-atik mesin daripada duduk di kelas. Ia tidak pernah menyangka jika dalam sepuluh tahun, Galandra telah membangun imperium bisnis yang sanggup membeli seluruh harga diri Namia saat ini.

Sesampainya di lobi gedung megah itu, Namia merasa ciut. Jaket kurirnya yang berdebu tampak kontras dengan lantai marmer yang mengkilap.

​"Permisi, pengantaran makanan untuk lantai 35, atas nama... Tuan Niko?" tanya Namia pada resepsionis cantik yang menatapnya dengan pandangan menilai.

​"Oh, pesanan untuk ruang rapat utama. Silakan lewat lift barang di sebelah sana, langsung menuju lantai 35," jawab resepsionis itu tanpa senyum.

​Namia mengangguk patuh. Ia menata kantong-kantong berat itu di lengannya, melangkah masuk ke dalam lift dengan napas sedikit terengah. Begitu pintu lift terbuka di lantai 35, ia disambut oleh suasana kantor yang sangat sunyi dan profesional.

​"Nona Namia?" Seorang pria berkacamata, Niko, sudah menunggunya di depan pintu kayu jati yang besar.

​"Iya, Pak. Ini pesanannya, maaf agak terlambat karena tadi antre di restoran," ucap Namia sopan sambil mencoba mengatur napasnya yang memburu.

​"Tidak apa-apa. Tolong bawa masuk saja ke dalam, saya sedang memegang banyak dokumen. Letakkan di meja panjang itu," pinta Niko sambil membukakan pintu ruangan yang luasnya hampir separuh rumah petak Namia.

​Namia melangkah masuk, matanya tertuju pada meja rapat yang panjang. Ia sibuk mengeluarkan kotak-kotak makanan satu per satu, menatanya dengan rapi tanpa menyadari bahwa di balik kursi kebesaran di ujung ruangan, seseorang sedang duduk membelakanginya, menatap pemandangan kota dari balik jendela besar.

​"Sudah semua, Pak. Totalnya sesuai di aplikasi," ujar Namia berbalik arah, hendak pamit pada Niko.

​Namun, kursi di ujung ruangan itu berputar pelan.

​"Letakkan satu porsi di meja kerja saya, Namia. Dan jangan pergi dulu sebelum saya memastikan isinya benar."

​Suara bariton itu membua Namia mematung. Jantungnya seakan berhenti berdetak saat melihat Galandra duduk di sana, mengenakan kemeja putih dengan lengan yang digulung hingga siku, tampak sangat berkuasa dan... sangat mapan.

​Namia menelan ludah. "Tuan... Galandra?"

​Galandra menyandarkan punggungnya, menatap Namia dari ujung helm yang ia jinjing hingga sepatu ketsnya yang sudah jebol di bagian samping.

​"Selamat datang di kantor saya, Namia. Bagaimana? Masih ingin menyebut saya pria pemalas yang tidak berguna?"

Galandra berdiri dari kursi kebesarannya, melangkah perlahan mendekatinya dengan gestur yang sangat mengintimidasi. Namia merasa ruang kantor yang luas itu mendadak menyempit. Setiap langkah kaki Galandra yang beradu dengan lantai kayu terdengar seperti detak jam kematian bagi harga diri Namia.

​"Mari kita lihat seberapa profesional kamu sebagai... kurir," ucap Galan dengan nada meremehkan.

​Ia mulai membongkar kantong-kantong makanan itu dengan kasar. Kotak-kotak yang tadinya sudah ditata rapi oleh Namia, kini berantakan di atas meja karena ulah tangan Galan.

​"Ini apa?" Galan mengangkat satu kotak salad. "Saya pesan tanpa bawang bombay. Kamu cek tidak tadi?"

​Namia mengerutkan kening, mencoba mengingat. "Di pesanan aplikasi tidak ada catatan khusus itu, Tuan. Saya hanya membawa apa yang disiapkan restoran."

​"Restoran hanya menjalankan perintah, tapi kurir yang cerdas harusnya memastikan pesanan pelanggannya sempurna," potong Galan cepat. Ia kemudian membuka kotak sup, mengaduknya sebentar, lalu mendecak kesal. "Dingin. Kamu sengaja mampir-mampir dulu sampai makanan ini tidak layak makan?"

​"Saya langsung ke sini setelah dari restoran, Tuan. Jaraknya lumayan jauh dan tadi macet," bela Namia, suaranya mulai bergetar karena menahan emosi.

​"Alasan. Tipikal orang yang tidak kompeten, selalu punya seribu alasan," Galan melempar kembali tutup kotak itu hingga menimbulkan bunyi plak yang keras.

​Ia kemudian berjalan memutari Namia, berhenti tepat di belakang wanita itu. "Apa karena ini? Kamu terlalu sibuk meratapi nasibmu sampai tidak bisa kerja dengan benar?" Galan menyentuh ujung jaket kurir Namia yang sedikit kotor dengan ujung jarinya, seolah-olah menyentuh sampah yang menjijikkan.

​Namia memejamkan mata. Ia sudah bekerja sejak subuh, hanya sarapan sepotong roti sisa kemarin, dan kini ia harus berdiri di sini dihina oleh pria yang dulu pernah berjanji akan menjaganya selamanya.

​"Kalau memang pesanan ini dianggap tidak layak, silakan ajukan komplain di aplikasi, Tuan. Saya akan terima konsekuensinya," ucap Namia dengan suara rendah namun tegas. Ia hendak meraih helmnya, ingin segera pergi.

​Namun, Galandra lebih cepat. Ia mencengkeram lengan Namia, memutar tubuh wanita itu agar menghadapnya.

​"Konsekuensi? Kamu pikir rating bintang satu bisa membayar kekecewaan saya?" Galandra menatap tajam ke dalam mata Namia yang mulai berkaca-kaca. "Buang makanan ini. Semuanya! Dan saya mau kamu belikan lagi yang baru, pakai uangmu sendiri, dan pastikan sampai di meja saya dalam keadaan panas."

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Godaan Mantan Suami   Lupakan

    Namia mempercepat langkahnya, merapatkan jaket kulit Galan yang masih menyisakan kehangatan tubuh pria itu. Ia berharap kegelapan gang bisa menelannya bulat-bulat, menyembunyikannya dari dunia, terutama dari sepasang mata tajam yang ia tahu masih mengawasinya dari kejauhan.​Namun, harapan itu hancur saat ia melihat bayangan pria bertubuh besar duduk di bangku kayu reyot depan rumahnya.​"Baru pulang, Cantik?" suara serak pria itu membelah sunyi malam, membuat bulu kuduk Namia meremang.​Namia mematung. Ini alasan kenapa ia menolak Galan mengantarnya sampai pintu. Ia tidak sanggup jika Galan harus melihat sisa-sisa kehancurannya yang paling menjijikkan, diteror penagih utang yang tak pernah bosan mencarinya, sisa beban masa lalu keluarganya yang seolah tak berujung.​"Aku... aku belum ada uangnya, Bang. Aku baru mau setor besok," ucap Namia pelan, suaranya bergetar hebat.​Pria itu berdiri, melangkah mendekat dengan senyum meremehkan. Ia menatap jaket kulit mahal yang tersampir di bah

  • Godaan Mantan Suami   [Bab 9]Jangan Pernah Muncul Lagi

    ​Namia menghapus air matanya dengan kasar menggunakan punggung tangan. Ia merasa ini bukan waktunya untuk membongkar rahasia besar itu, rahasia tentang ayahnya yang terlilit hutang pada rentenir kejam demi menyelamatkan perusahaan, rahasia tentang ancaman yang ia terima jika tidak segera meninggalkan Galan agar pria itu tidak ikut terseret dalam kehancuran keluarganya. Ia memilih menelan itu semua sendirian sepuluh tahun lalu agar Galan bisa fokus pada masa depannya.​"Tidak ada gunanya dijelaskan sekarang," ucap Namia dengan suara lemas, energinya seolah terkuras habis. "Kamu sudah mendapatkan jawaban yang kamu inginkan. Kamu sukses, aku hancur. Kamu pemenang, aku pecundang. Bukankah itu yang ingin kamu dengar?"Namia mencoba mendorong Galan sekali lagi, dan kali ini pria itu membiarkannya. Namia melangkah menuju pintu apartemen dengan kaki yang terasa berat.​"Aku akan mengembalikan pakaianmu besok setelah dicuci. Dan tolong... jangan pernah muncul lagi di hadapanku. Biarkan aku hid

  • Godaan Mantan Suami   [Bab 8] Jangan Menyentuhku

    "Setelah sepuluh tahun, apa ini salah satu caramu untuk mendapatkan kembali apa yang sudah kamu buang dulu? Menunjukkan sisi rapuhmu agar aku merasa kasihan?"Namia merasakan dadanya sesak. Jantungnya berpacu liar, bukan karena jatuh cinta, tapi karena rasa terhina yang kembali menggunung."Aku tidak serendah itu, Galan!" Namia berusaha menepis tangan Galan, namun pria itu justru semakin mengunci posisinya. "Aku hanya ingin mandi dan kamu antar aku pulang! Aku tidak peduli dengan hartamu atau apartemen mewahmu ini!"​"Benarkah?" Galandra menyeringai sinis, tatapannya turun ke bibir Namia yang sedikit terbuka. "Kalau begitu, kenapa tubuhmu bergetar? Kenapa matamu terlihat ketakutan sekaligus... menginginkan sesuatu?"Namia membuang muka ke sisi lain, berusaha menciptakan jarak meski mustahil. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga terasa menyakitkan. Hembusan napas Galan yang beraroma alkohol dan maskulin terasa panas di kulit wajahnya, memicu memori yang seharusnya sudah ia kubur d

  • Godaan Mantan Suami   [Bab 7] Kamu Bermaksud Menggodaku?

    Mobil mewah yang dikemudikan Galan itu berhenti dengan mulus di basement sebuah apartemen kelas atas. Namia mencengkeram tasnya kuat-kali, matanya menatap nanar deretan mobil mahal yang terparkir rapi di sana. "Turun," perintah Galandra pendek. "Nggak. Aku gak mau di sini. Aku mau pulang, Galan. Antarkan aku ke pangkalan atau biarkan aku pesan ojek dari sini," tolak Namia tegas. Jantungnya berdegup kencang, berada di ruang tertutup dengan Galandra dalam situasi seperti ini adalah ide buruk. Galandra mematikan mesin, suasana mendadak sunyi yang mencekam. Ia menoleh, menatap Namia dengan pandangan mengintimidasi yang membuat nyali Namia ciut seketika. "Jangan membuat saya menyeret kamu keluar, Namia. Kamu tahu saya tidak suka dibantah." Namia mendesis kesal, namun akhirnya ia membuka pintu mobil dengan kasar. Dengan perasaan dongkol dan was-was, ia mengekor di belakang Galandra menuju lift. Keheningan di dalam lift terasa begitu menyesakkan. Namia hanya bisa menunduk menatap pant

  • Godaan Mantan Suami   [Bab 6] Sisa-Sisa Pria Brengsek

    Dimas semakin menekan, napas alkoholnya menusuk, membuat mual naik ke tenggorokan Namia. “Di tempat kayak gini, semua bisa dibeli. Termasuk lo.” Tangan pria itu semakin kasar, menarik lengannya tanpa izin, sementara tangannya yang lain meremas pinggang Namia. Sesuatu di dalam diri Namia berontak. “Lepaskan!” Kali ini bukan sekadar desisan. Tangannya bergerak lebih dulu dari pikirannya. Namia menyambar vas bunga keramik kecil yang menjadi hiasan di meja lorong, lalu menghantamkannya ke bahu Dimas. Saat pegangan pria itu melonggar karena terkejut dan kesakitan, sekuat tenaga Namia kabur. Ia berlari membabi buta, masuk ke pintu terdekat yang ia temui, toilet. Dengan napas tersengal-sengal, ia masuk ke salah satu ruangan paling pojok, kemudian mengunci pintunya dari dalam. Tubuhnya bergetar hebat. Ia takut sekali jika Dimas sampai memburunya ke sini, apalagi lantai VIP ini sangat sepi. Dadanya makin berdebar hebat kala mendengar langkah kaki seseorang di luar. Namia makin pi

  • Godaan Mantan Suami   Selesai Sepuluh Tahun Lalu

    Gerakan tangan Namia yang hendak membuka tutup botol terhenti. Ia menoleh perlahan ke Nesa, lalu kembali menatap lurus ke depan dengan pandangan miris.​"Tahu pun sekarang nggak ada gunanya, Nes. Kami sudah selesai sepuluh tahun lalu. Lagipula, dia yang sekarang bukan Galan yang dulu. Galan yang sekarang cuma orang kaya sombong yang buta karena dendam," ucap Namia pahit.​"Tapi Mia, kalau dia tahu alasan sebenarnya lo minta cerai dulu, kalau dia tahu kenapa lo harus bersikap sejahat itu buat ngelepasin dia, mungkin dia nggak akan—"​"Cukup, Nes," potong Namia cepat. Suaranya bergetar. "Biarkan dia benci gue. Itu lebih baik daripada dia tahu yang sebenarnya dan malah merasa kasihan. Gue nggak butuh dikasihani, apalagi sama dia."​Nesa menghela napas, ia mengusap lembut bahu Namia, memberi dukungan tanpa kata. Ia tahu betapa keras kepalanya Namia jika sudah menyangkut harga diri dan perlindungan terhadap orang-orang yang ia sayangi.​"Terus sekarang lo mau gimana? Kalau dia beneran mau

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status