แชร์

[Bab 6] Sisa-Sisa Pria Brengsek

ผู้เขียน: Mom_cgs
last update วันที่เผยแพร่: 2026-04-29 20:59:38

Dimas semakin menekan, napas alkoholnya menusuk, membuat mual naik ke tenggorokan Namia.

“Di tempat kayak gini, semua bisa dibeli. Termasuk lo.”

Tangan pria itu semakin kasar, menarik lengannya tanpa izin, sementara tangannya yang lain meremas pinggang Namia. Sesuatu di dalam diri Namia berontak.

“Lepaskan!”

Kali ini bukan sekadar desisan. Tangannya bergerak lebih dulu dari pikirannya. Namia menyambar vas bunga keramik kecil yang menjadi hiasan di meja lorong, lalu menghantamkannya ke bahu Dimas. Saat pegangan pria itu melonggar karena terkejut dan kesakitan, sekuat tenaga Namia kabur.

Ia berlari membabi buta, masuk ke pintu terdekat yang ia temui, toilet. Dengan napas tersengal-sengal, ia masuk ke salah satu ruangan paling pojok, kemudian mengunci pintunya dari dalam.

Tubuhnya bergetar hebat. Ia takut sekali jika Dimas sampai memburunya ke sini, apalagi lantai VIP ini sangat sepi.

Dadanya makin berdebar hebat kala mendengar langkah kaki seseorang di luar. Namia makin pias. Namun, langkah itu terdengar tenang, bukan langkah terburu-buru seperti seseorang yang sedang mengejar mangsa.

Dengan tubuh gemetar, Namia menempelkan telinganya ke pintu.

Sepi. Mungkin itu hanya perasaannya saja. Bisa saja Dimas sudah pergi, kan?

Dengan tangan masih gemetar, Namia membuka kunci dan mendorong pintu toilet itu sedikit demi sedikit. Benar, ruangan luarnya tampak kosong. Namun, ketika ia baru saja hendak bernapas lega dan melangkah keluar, sebuah suara bariton yang sangat ia kenal mengagetkannya dari arah samping.

"Apa sekarang kamu punya hobi aneh? Masuk ke toilet pria?"

Namia tersentak dan hampir melompat. Ia menoleh cepat dan menemukan Galandra berdiri di sana, sedang merapikan jam tangan mahalnya di depan wastafel. Pria itu menatapnya melalui pantulan cermin dengan tatapan dingin dan penuh selidik.

Namia baru sadar, di atas pintu yang ia masuki tadi memang terdapat simbol pria. Wajahnya yang semula pucat kini memerah karena malu sekaligus kaget.

"Galan..." desisnya tertahan.

Galandra berbalik, menyandarkan pinggulnya pada pinggiran wastafel marmer sambil menyilangkan tangan di dada. Matanya menyapu penampilan Namia yang berantakan, seragam yang sedikit kusut dan rambut yang tak lagi rapi.

"Kenapa? Dikejar pelanggan karena kamu kurang memuaskan?" sindir Galandra pedas. "Atau ini cara baru kamu buat menarik perhatian saya?"

Namia mencoba mengatur napasnya, mengabaikan sindiran itu. "Aku... aku nggak sengaja masuk. Tadi ada orang mabuk yang—"

"Alasan klasik," potong Galan cepat. Ia melangkah mendekat, mengikis jarak hingga Namia kembali terdesak ke pintu toilet yang baru saja ia buka. "Kamu pikir saya akan percaya? Setelah melihat kamu bekerja di tempat sampah seperti ini, saya rasa masuk ke toilet pria bukan hal besar buat wanita macam kamu, Namia."

Namia mengepalkan tangannya. Rasa takutnya pada Dimas tadi mendadak berubah menjadi kemarahan pada pria di depannya ini. "Kalau kamu memang sepicik itu menilaiku, kenapa kamu masih di sini? Awas! Jangan halangi jalanku, aku mau keluar!"

Namia mencoba menerobos lewat samping Galan, namun tangan kokoh pria itu mengunci pergerakannya dengan menumpu pada pintu di belakang kepala Namia.

"Kamu berutang penjelasan soal kekacauan yang baru saja kamu buat," ucap Galan rendah, suaranya mengintimidasi. "Dimas teman saya. Dan dia bilang, pelayan rendahan baru saja memukulnya."

Suaranya tertahan sejenak,

"Bahkan dia berencana mau melaporkan pelayan itu ke keamanan di sini. Jika itu terjadi, menurut kamu, pelayan itu bakalan gimana?" tanya Galan, suaranya rendah namun tajam, seolah sedang menikmati posisi Namia yang tersudut.

Namia mendongak, matanya yang berkaca-kaca kini menyala karena amarah. Rasa takutnya pada Dimas hilang, berganti menjadi muak pada pria di depannya ini.

"Dia brengsek! Dia berusaha melecehkan aku!" bentak Namia, suaranya bergetar menahan tangis yang hampir pecah. "Jika itu kamu, apa kamu bakalan diam saja dijamah siapapun? Hah?!"

Galandra terdiam sesaat. Rahangnya mengeras ketika mendengar kata pelecehan itu. Ada kilatan aneh di matanya yang dingin, namun ia dengan cepat menutupinya dengan seringai sinis.

"Menarik," desis Galandra, wajahnya semakin mendekat hingga hidung mereka hampir bersentuhan. "Dulu kamu paling anti disentuh orang asing, tapi sekarang kamu kerja di tempat yang menjual sentuhan. Jangan naif, Namia. Kamu tahu persis risiko kerja di sini."

"Aku kerja di sini buat cari uang halal, Galan! Bukan buat jadi mainan orang-orang seperti pria tadi!"

Namia mendorong dada Galan dengan seluruh sisa tenaganya, namun pria itu tidak bergeming sedikit pun.

"Kalau kamu mau bantu teman brengsekmu itu lapor ke keamanan, silakan! Aku nggak takut! Pecat aku sekalian kalau itu bisa bikin kalian puas!"

Galan mencengkeram kedua pergelangan tangan Namia, menguncinya di atas kepala wanita itu ke pintu kayu di belakang mereka.

"Kamu pikir saya peduli kamu dipecat atau tidak?" Galandra menatap bibir Namia yang gemetar, emosinya campur aduk antara amarah dan gairah yang berusaha ia tekan. "Tapi saya nggak suka barang milik saya disentuh orang lain, sekalipun itu sampah seperti Dimas."

"Barang milik kamu?" Namia tertawa getir di sela napasnya yang terengah. "Kita sudah selesai sepuluh tahun lalu, Tuan Galandra! Aku bukan milik siapa-siapa!"

"Selama hutang rasa sakit ini belum lunas, kamu tetap berurusan dengan saya, Namia," Galan berbisik tepat di depan bibir Namia, membuat jantung wanita itu berpacu tak karuan.

Tiba-tiba, terdengar suara dan langkah kaki beberapa orang dari arah luar pintu utama toilet. Namia mematung, sementara Galan perlahan melepaskan cengkeramannya, namun tetap berdiri sangat dekat.

"Perbaiki bajumu. Keluar dari sini dan saya tunggu di parkiran dalam sepuluh menit," perintah Galan dengan nada mutlak.

"Ngapain? Aku masih harus kerja—"

"Saya beri waktu sepuluh menit, Namia. Atau saya sendiri yang akan menyeret kamu ke depan Dimas sekarang juga. Kebetulan dia sudah menyuruh orang-orangnya mencari kamu."

...

Namia melangkah cepat membelah lorong kelab dengan kepala tertunduk. Tatapan menyelidik dari beberapa pria yang tadi memergokinya keluar dari toilet pria bersama Galandra masih terasa membakar kulitnya. Rasa malu itu ia telan bulat-bulat, berganti dengan kecemasan yang lebih besar.

​

Sesampainya di ruang staf, Namia dengan gerakan kilat melepas seragam kerjanya. Ia menyambar celana jins dan kaus oblongnya, lalu meraup tas ransel lusuhnya yang sudah mulai mengelupas. Persetan dengan izin Manajer Ria. Karena jika ia tidak segera muncul di parkiran, Galandra benar-benar bisa menghancurkan hidupnya malam ini juga.

​"Sepuluh menit... jangan sampai lebih dari sepuluh menit," gumamnya dengan tangan gemetar saat mengikat tali sepatu.

​Ia berlari kecil menuju area parkir VIP yang remang-remang. Aroma asap knalpot dan udara malam yang dingin menyambutnya. Di sudut terjauh, sebuah sedan hitam mewah dengan lampu depan yang masih menyala tampak menunggu seperti predator yang mengintai mangsa.

​

Begitu Namia mendekat, kaca mobil itu turun perlahan, menampilkan profil samping wajah Galandra yang keras.

​"Satu menit lebih lambat dari perintah saya," ucap Galandra dingin tanpa menoleh. "Masuk."

​Namia mematung di samping pintu mobil. "Galan, memangnya kita mau ke mana? Aku masih di jam kerja, atau setidaknya aku harus ambil motorku di—"

​"Masuk, Namia. Atau saya biarkan motor rongsokanmu itu diangkut petugas keamanan karena parkir di area yang salah."

​Namia menggigit bibir bawahnya. Ia tahu Galandra tidak sedang bercanda. Dengan perasaan dongkol sekaligus was-was, ia membuka pintu mobil dan duduk di kursi penumpang yang sangat empuk dan harum, sangat kontras dengan jok motornya yang keras dan berdebu.

​Begitu pintu tertutup, Galandra langsung menginjak pedal gas, membuat tubuh Namia terhenyak ke belakang.

​"Galan! Pelan-pelan!" pekik Namia sambil mencengkeram sabuk pengaman.

​

Galandra tetap diam, wajahnya fokus ke depan dengan rahang yang mengeras. Ia melajukan mobilnya membelah jalanan kota yang mulai sepi. Namia hanya bisa menatap ke luar jendela, merasa seperti tawanan di dalam kemewahan mantan suaminya sendiri.

​"Kita mau ke mana?" tanya Namia akhirnya, suaranya mengecil.

​"Membersihkan sisa-sisa sentuhan pria brengsek tadi di tubuhmu," jawab Galan singkat, matanya berkilat tajam saat melirik Namia sekilas.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Godaan Mantan Suami   Lupakan

    Namia mempercepat langkahnya, merapatkan jaket kulit Galan yang masih menyisakan kehangatan tubuh pria itu. Ia berharap kegelapan gang bisa menelannya bulat-bulat, menyembunyikannya dari dunia, terutama dari sepasang mata tajam yang ia tahu masih mengawasinya dari kejauhan.​Namun, harapan itu hancur saat ia melihat bayangan pria bertubuh besar duduk di bangku kayu reyot depan rumahnya.​"Baru pulang, Cantik?" suara serak pria itu membelah sunyi malam, membuat bulu kuduk Namia meremang.​Namia mematung. Ini alasan kenapa ia menolak Galan mengantarnya sampai pintu. Ia tidak sanggup jika Galan harus melihat sisa-sisa kehancurannya yang paling menjijikkan, diteror penagih utang yang tak pernah bosan mencarinya, sisa beban masa lalu keluarganya yang seolah tak berujung.​"Aku... aku belum ada uangnya, Bang. Aku baru mau setor besok," ucap Namia pelan, suaranya bergetar hebat.​Pria itu berdiri, melangkah mendekat dengan senyum meremehkan. Ia menatap jaket kulit mahal yang tersampir di bah

  • Godaan Mantan Suami   [Bab 9]Jangan Pernah Muncul Lagi

    ​Namia menghapus air matanya dengan kasar menggunakan punggung tangan. Ia merasa ini bukan waktunya untuk membongkar rahasia besar itu, rahasia tentang ayahnya yang terlilit hutang pada rentenir kejam demi menyelamatkan perusahaan, rahasia tentang ancaman yang ia terima jika tidak segera meninggalkan Galan agar pria itu tidak ikut terseret dalam kehancuran keluarganya. Ia memilih menelan itu semua sendirian sepuluh tahun lalu agar Galan bisa fokus pada masa depannya.​"Tidak ada gunanya dijelaskan sekarang," ucap Namia dengan suara lemas, energinya seolah terkuras habis. "Kamu sudah mendapatkan jawaban yang kamu inginkan. Kamu sukses, aku hancur. Kamu pemenang, aku pecundang. Bukankah itu yang ingin kamu dengar?"Namia mencoba mendorong Galan sekali lagi, dan kali ini pria itu membiarkannya. Namia melangkah menuju pintu apartemen dengan kaki yang terasa berat.​"Aku akan mengembalikan pakaianmu besok setelah dicuci. Dan tolong... jangan pernah muncul lagi di hadapanku. Biarkan aku hid

  • Godaan Mantan Suami   [Bab 8] Jangan Menyentuhku

    "Setelah sepuluh tahun, apa ini salah satu caramu untuk mendapatkan kembali apa yang sudah kamu buang dulu? Menunjukkan sisi rapuhmu agar aku merasa kasihan?"Namia merasakan dadanya sesak. Jantungnya berpacu liar, bukan karena jatuh cinta, tapi karena rasa terhina yang kembali menggunung."Aku tidak serendah itu, Galan!" Namia berusaha menepis tangan Galan, namun pria itu justru semakin mengunci posisinya. "Aku hanya ingin mandi dan kamu antar aku pulang! Aku tidak peduli dengan hartamu atau apartemen mewahmu ini!"​"Benarkah?" Galandra menyeringai sinis, tatapannya turun ke bibir Namia yang sedikit terbuka. "Kalau begitu, kenapa tubuhmu bergetar? Kenapa matamu terlihat ketakutan sekaligus... menginginkan sesuatu?"Namia membuang muka ke sisi lain, berusaha menciptakan jarak meski mustahil. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga terasa menyakitkan. Hembusan napas Galan yang beraroma alkohol dan maskulin terasa panas di kulit wajahnya, memicu memori yang seharusnya sudah ia kubur d

  • Godaan Mantan Suami   [Bab 7] Kamu Bermaksud Menggodaku?

    Mobil mewah yang dikemudikan Galan itu berhenti dengan mulus di basement sebuah apartemen kelas atas. Namia mencengkeram tasnya kuat-kali, matanya menatap nanar deretan mobil mahal yang terparkir rapi di sana. "Turun," perintah Galandra pendek. "Nggak. Aku gak mau di sini. Aku mau pulang, Galan. Antarkan aku ke pangkalan atau biarkan aku pesan ojek dari sini," tolak Namia tegas. Jantungnya berdegup kencang, berada di ruang tertutup dengan Galandra dalam situasi seperti ini adalah ide buruk. Galandra mematikan mesin, suasana mendadak sunyi yang mencekam. Ia menoleh, menatap Namia dengan pandangan mengintimidasi yang membuat nyali Namia ciut seketika. "Jangan membuat saya menyeret kamu keluar, Namia. Kamu tahu saya tidak suka dibantah." Namia mendesis kesal, namun akhirnya ia membuka pintu mobil dengan kasar. Dengan perasaan dongkol dan was-was, ia mengekor di belakang Galandra menuju lift. Keheningan di dalam lift terasa begitu menyesakkan. Namia hanya bisa menunduk menatap pant

  • Godaan Mantan Suami   [Bab 6] Sisa-Sisa Pria Brengsek

    Dimas semakin menekan, napas alkoholnya menusuk, membuat mual naik ke tenggorokan Namia. “Di tempat kayak gini, semua bisa dibeli. Termasuk lo.” Tangan pria itu semakin kasar, menarik lengannya tanpa izin, sementara tangannya yang lain meremas pinggang Namia. Sesuatu di dalam diri Namia berontak. “Lepaskan!” Kali ini bukan sekadar desisan. Tangannya bergerak lebih dulu dari pikirannya. Namia menyambar vas bunga keramik kecil yang menjadi hiasan di meja lorong, lalu menghantamkannya ke bahu Dimas. Saat pegangan pria itu melonggar karena terkejut dan kesakitan, sekuat tenaga Namia kabur. Ia berlari membabi buta, masuk ke pintu terdekat yang ia temui, toilet. Dengan napas tersengal-sengal, ia masuk ke salah satu ruangan paling pojok, kemudian mengunci pintunya dari dalam. Tubuhnya bergetar hebat. Ia takut sekali jika Dimas sampai memburunya ke sini, apalagi lantai VIP ini sangat sepi. Dadanya makin berdebar hebat kala mendengar langkah kaki seseorang di luar. Namia makin pi

  • Godaan Mantan Suami   Selesai Sepuluh Tahun Lalu

    Gerakan tangan Namia yang hendak membuka tutup botol terhenti. Ia menoleh perlahan ke Nesa, lalu kembali menatap lurus ke depan dengan pandangan miris.​"Tahu pun sekarang nggak ada gunanya, Nes. Kami sudah selesai sepuluh tahun lalu. Lagipula, dia yang sekarang bukan Galan yang dulu. Galan yang sekarang cuma orang kaya sombong yang buta karena dendam," ucap Namia pahit.​"Tapi Mia, kalau dia tahu alasan sebenarnya lo minta cerai dulu, kalau dia tahu kenapa lo harus bersikap sejahat itu buat ngelepasin dia, mungkin dia nggak akan—"​"Cukup, Nes," potong Namia cepat. Suaranya bergetar. "Biarkan dia benci gue. Itu lebih baik daripada dia tahu yang sebenarnya dan malah merasa kasihan. Gue nggak butuh dikasihani, apalagi sama dia."​Nesa menghela napas, ia mengusap lembut bahu Namia, memberi dukungan tanpa kata. Ia tahu betapa keras kepalanya Namia jika sudah menyangkut harga diri dan perlindungan terhadap orang-orang yang ia sayangi.​"Terus sekarang lo mau gimana? Kalau dia beneran mau

  • Godaan Mantan Suami   Rahasia Itu

    ​Namia terbelalak. "Uang saya sendiri? Tuan, ini ada sepuluh porsi lebih! Harganya hampir setengah dari gaji bulanan saya!"​Galan tersenyum miring, sebuah senyuman yang tidak sampai ke mata. "Oh, jadi sekarang kamu tahu arti nilai uang? Bukankah dulu bagimu uang orang tuamu tidak akan pernah habis

  • Godaan Mantan Suami   Sangat Mapan

    Pagi hari setelah menyiapkan makanan sederhana untuk Mama dan Papanya, Namia tampak keluar dari rumah petak itu. Ia mengenakan jaket dengan logo perusahaan pengantaran makanan yang sudah sedikit pudar warnanya. Meski tubuhnya masih terasa remuk akibat kerja hingga larut malam tadi, Namia tetap haru

  • Godaan Mantan Suami   Dulu Dan Sekarang Sama Saja

    Namia menarik napas panjang, mencoba mengabaikan denyut perih di pergelangan tangannya. Ia berusaha melepaskan cekalan tangan Galandra dengan gerakan sehalus mungkin. Baginya, harga diri sudah menjadi kemewahan yang tidak mampu ia beli saat ini. Menyelesaikan pekerjaan ini dengan cepat, menghindari

  • Godaan Mantan Suami   Reuni Di Ruang Vip

    "Selamat! Sudah jadi janda, Namia.""Lo pikir ini sebuah reward buat gue? Ngapain lo kasih selamat, Brengsek?!""Bukankah udah dari kemaren-kemaren lo ingin bebas dari gue? Makanya gue kasih selamat.""Ck, gila lo?! Harusnya lo sadar, ini semua karena lo. Jika lo ada usaha sedikit aja dengan pernik

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status