LOGINNamia mempercepat langkahnya, merapatkan jaket kulit Galan yang masih menyisakan kehangatan tubuh pria itu. Ia berharap kegelapan gang bisa menelannya bulat-bulat, menyembunyikannya dari dunia, terutama dari sepasang mata tajam yang ia tahu masih mengawasinya dari kejauhan.Namun, harapan itu hancur saat ia melihat bayangan pria bertubuh besar duduk di bangku kayu reyot depan rumahnya."Baru pulang, Cantik?" suara serak pria itu membelah sunyi malam, membuat bulu kuduk Namia meremang.Namia mematung. Ini alasan kenapa ia menolak Galan mengantarnya sampai pintu. Ia tidak sanggup jika Galan harus melihat sisa-sisa kehancurannya yang paling menjijikkan, diteror penagih utang yang tak pernah bosan mencarinya, sisa beban masa lalu keluarganya yang seolah tak berujung."Aku... aku belum ada uangnya, Bang. Aku baru mau setor besok," ucap Namia pelan, suaranya bergetar hebat.Pria itu berdiri, melangkah mendekat dengan senyum meremehkan. Ia menatap jaket kulit mahal yang tersampir di bah
Namia menghapus air matanya dengan kasar menggunakan punggung tangan. Ia merasa ini bukan waktunya untuk membongkar rahasia besar itu, rahasia tentang ayahnya yang terlilit hutang pada rentenir kejam demi menyelamatkan perusahaan, rahasia tentang ancaman yang ia terima jika tidak segera meninggalkan Galan agar pria itu tidak ikut terseret dalam kehancuran keluarganya. Ia memilih menelan itu semua sendirian sepuluh tahun lalu agar Galan bisa fokus pada masa depannya."Tidak ada gunanya dijelaskan sekarang," ucap Namia dengan suara lemas, energinya seolah terkuras habis. "Kamu sudah mendapatkan jawaban yang kamu inginkan. Kamu sukses, aku hancur. Kamu pemenang, aku pecundang. Bukankah itu yang ingin kamu dengar?"Namia mencoba mendorong Galan sekali lagi, dan kali ini pria itu membiarkannya. Namia melangkah menuju pintu apartemen dengan kaki yang terasa berat."Aku akan mengembalikan pakaianmu besok setelah dicuci. Dan tolong... jangan pernah muncul lagi di hadapanku. Biarkan aku hid
"Setelah sepuluh tahun, apa ini salah satu caramu untuk mendapatkan kembali apa yang sudah kamu buang dulu? Menunjukkan sisi rapuhmu agar aku merasa kasihan?"Namia merasakan dadanya sesak. Jantungnya berpacu liar, bukan karena jatuh cinta, tapi karena rasa terhina yang kembali menggunung."Aku tidak serendah itu, Galan!" Namia berusaha menepis tangan Galan, namun pria itu justru semakin mengunci posisinya. "Aku hanya ingin mandi dan kamu antar aku pulang! Aku tidak peduli dengan hartamu atau apartemen mewahmu ini!""Benarkah?" Galandra menyeringai sinis, tatapannya turun ke bibir Namia yang sedikit terbuka. "Kalau begitu, kenapa tubuhmu bergetar? Kenapa matamu terlihat ketakutan sekaligus... menginginkan sesuatu?"Namia membuang muka ke sisi lain, berusaha menciptakan jarak meski mustahil. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga terasa menyakitkan. Hembusan napas Galan yang beraroma alkohol dan maskulin terasa panas di kulit wajahnya, memicu memori yang seharusnya sudah ia kubur d
Mobil mewah yang dikemudikan Galan itu berhenti dengan mulus di basement sebuah apartemen kelas atas. Namia mencengkeram tasnya kuat-kali, matanya menatap nanar deretan mobil mahal yang terparkir rapi di sana. "Turun," perintah Galandra pendek. "Nggak. Aku gak mau di sini. Aku mau pulang, Galan. Antarkan aku ke pangkalan atau biarkan aku pesan ojek dari sini," tolak Namia tegas. Jantungnya berdegup kencang, berada di ruang tertutup dengan Galandra dalam situasi seperti ini adalah ide buruk. Galandra mematikan mesin, suasana mendadak sunyi yang mencekam. Ia menoleh, menatap Namia dengan pandangan mengintimidasi yang membuat nyali Namia ciut seketika. "Jangan membuat saya menyeret kamu keluar, Namia. Kamu tahu saya tidak suka dibantah." Namia mendesis kesal, namun akhirnya ia membuka pintu mobil dengan kasar. Dengan perasaan dongkol dan was-was, ia mengekor di belakang Galandra menuju lift. Keheningan di dalam lift terasa begitu menyesakkan. Namia hanya bisa menunduk menatap pant
Dimas semakin menekan, napas alkoholnya menusuk, membuat mual naik ke tenggorokan Namia. “Di tempat kayak gini, semua bisa dibeli. Termasuk lo.” Tangan pria itu semakin kasar, menarik lengannya tanpa izin, sementara tangannya yang lain meremas pinggang Namia. Sesuatu di dalam diri Namia berontak. “Lepaskan!” Kali ini bukan sekadar desisan. Tangannya bergerak lebih dulu dari pikirannya. Namia menyambar vas bunga keramik kecil yang menjadi hiasan di meja lorong, lalu menghantamkannya ke bahu Dimas. Saat pegangan pria itu melonggar karena terkejut dan kesakitan, sekuat tenaga Namia kabur. Ia berlari membabi buta, masuk ke pintu terdekat yang ia temui, toilet. Dengan napas tersengal-sengal, ia masuk ke salah satu ruangan paling pojok, kemudian mengunci pintunya dari dalam. Tubuhnya bergetar hebat. Ia takut sekali jika Dimas sampai memburunya ke sini, apalagi lantai VIP ini sangat sepi. Dadanya makin berdebar hebat kala mendengar langkah kaki seseorang di luar. Namia makin pi
Gerakan tangan Namia yang hendak membuka tutup botol terhenti. Ia menoleh perlahan ke Nesa, lalu kembali menatap lurus ke depan dengan pandangan miris."Tahu pun sekarang nggak ada gunanya, Nes. Kami sudah selesai sepuluh tahun lalu. Lagipula, dia yang sekarang bukan Galan yang dulu. Galan yang sekarang cuma orang kaya sombong yang buta karena dendam," ucap Namia pahit."Tapi Mia, kalau dia tahu alasan sebenarnya lo minta cerai dulu, kalau dia tahu kenapa lo harus bersikap sejahat itu buat ngelepasin dia, mungkin dia nggak akan—""Cukup, Nes," potong Namia cepat. Suaranya bergetar. "Biarkan dia benci gue. Itu lebih baik daripada dia tahu yang sebenarnya dan malah merasa kasihan. Gue nggak butuh dikasihani, apalagi sama dia."Nesa menghela napas, ia mengusap lembut bahu Namia, memberi dukungan tanpa kata. Ia tahu betapa keras kepalanya Namia jika sudah menyangkut harga diri dan perlindungan terhadap orang-orang yang ia sayangi."Terus sekarang lo mau gimana? Kalau dia beneran mau







