LOGINJovian menarik pinggang Vandella untuk memberikan dorongan-dorongan terdalam yang akan mengakhiri kewarasan mereka.
Vandella terengah hebat. Di ambang ledakan orgasme yang sudah mencengkeram rahimnya, insting kepemilikannya meledak. Ia menarik wajah Jovian mendekat ke arah wajahnya yang mendongak, hidung mancungnya bersiap meraup aroma tubuh pria itu di sekitar lehernya.
![]()
Jovian mematikan sambungan telepon itu secara sepihak.Ia melemparkan ponselnya ke atas meja marmer hingga menimbulkan bunyi benturan yang keras. Di tengah ruang konferensi VIP yang gelap dan sunyi itu, napas Jovian memburu. Buku-buku jarinya yang masih menyisakan luka robek kini memutih pucat karena kedua tangannya mengepal dengan sangat kuat.Kenapa wanita itu sama sekali tidak memedulikannya?Dada Jovian bergemuruh oleh amarah dan ego yang terluka parah. Hari ini, ia telah mempertaruhkan segalanya. Ia telah menunjukkan kesetiaannya dengan membantai Yohanes dan Markus di depan seluruh dewan direksi. Ia bahkan baru saja merampungkan tugas perizinan OJK—sebuah birokrasi neraka yang mustahil bisa diselesaikan oleh jajaran eksekutif level C sekalipun dalam waktu satu malam. Ia bekerja seperti mesin pembunuh tanpa henti hanya demi wanita itu.Dan apa balasannya?Vandella justru pergi ke kelab malam penuh dosa milik Hartono. Wanita itu meninggalkannya, mengabaikannya, dan secara terang-te
Jarak pandang di balik kegelapan itu hanya tersisa beberapa sentimeter lagi dari Jovian. Udara di koridor tangga darurat seakan membeku, menunggu satu sentuhan yang akan menyadarkannya.Namun, sebelum sentuhan itu terjadi—Drrrttt! Drrrttt!Suara getaran ponsel yang melengking dari dalam saku jas Jovian meledak, memecah kesunyian koridor.Jovian tersentak, ia menegakkan tubuhnya, rahangnya kembali mengeras saat ia merogoh saku jasnya. Layar ponselnya berkedip, menampilkan nama salah satu manajer senior dari divisi Arthesia Coin.Sambil mengusap kasar darah yang mengering di buku-buku jarinya, Jovian menggeser layar dan menempelkan benda pipih itu ke telinganya."Bicara," desis Jovian, suaranya kembali sedingin es dan tajam, tanpa menyisakan sedikit pun kerapuhan yang baru saja ia tunjukkan pada Binar."P-Pak Jovian, maaf mengganggu," suara stafnya di seberang sana terdengar tergesa-gesa. "Tim legal dan beberapa perwakilan OJK sedang menunggu di lobi. Karena Arthesia Coin adalah divisi
Di dalam koridor tangga darurat yang temaram, waktu seolah kehilangan maknanya. Pertautan bibir yang brutal itu berubah menjadi sebuah penjara yang mencekik.Jovian melumat bibir Binar dengan keputusasaan seorang pria yang menolak kehilangan miliknya. Ia menjajah rongga mulut gadis itu tanpa ampun, menyalurkan seluruh amarah, kecemburuan, dan rasa sakitnya menjadi sebuah dominasi fisik yang tak tertembus.Binar merasa pasokan oksigennya direnggut paksa. Air mata mengalir semakin deras dari sudut matanya, membasahi pipinya dan menyusup masuk ke sela-sela ciuman mereka, menciptakan rasa asin yang bercampur dengan dominasi pria itu. Binar hancur. Ini bukanlah ciuman cinta; ini adalah sebuah hukuman. Hukuman atas dosa yang bahkan tidak ia mengerti.Di tengah isakannya yang tertahan di tenggorokan, sisa-sisa insting pertahanan Binar meronta.Dengan sisa tenaga terakhir yang ia miliki, Binar mengepalkan kedua tangannya yang sedari tadi meremas kemeja Jovian. Ia menekan telapak tangannya ke
"Kau dan Jovian harus hadir malam ini! Aku ingin minum bersama anak muda yang baru saja menyelamatkan asetku itu! Beritahu dia, aku punya hadiah khusus untuknya di kelab nanti. Mungkin sepasang bidadari kembar dari Rusia untuk menghibur monstermu itu? Hahahaha!"Tawa Hartono yang menggelegar memantul di dinding ruang rapat. Pria buncit itu kemudian mencondongkan tubuhnya sedikit, memelankan suaranya menjadi sebuah bisikan konspirasi yang kotor."Dan untukmu..." bisik Hartono. "Aku memiliki koleksi pria yang sengaja didatangkan dari Korea dengan tampang seperti artis K-Pop. Sangat fresh."Mata Vandella mendelik tajam. Hawa dingin seketika menguar dari sorot matanya. "Kau pikir aku wanita apa, hmm?" desisnya.Hartono sama sekali tidak terintimidasi. Pria itu justru menyunggingkan bibirnya, membentuk senyum mesum yang penuh arti. "Aku tahu persis, setiap wanita memiliki fantasi liar," kekehnya santai.Alih-alih meledak dalam kecemburuan, senyum di wajah Vandella justru perlahan mengemban
Begitu pintu ganda mahoni itu tertutup rapat di belakang punggung Jovian, keheningan di lorong luar terasa sangat kontras dengan badai yang baru saja pecah di dalam ruang rapat eksekutif Arthesia Capital. Di dalam ruangan kedap suara itu, oksigen seolah mendadak hilang, menyisakan residu ketakutan yang mencekik.Selama beberapa detik, tidak ada yang berani bernapas."Cepat bantu dia bangun! Kalian semua buta?!" jerit Nyonya Malora. Suaranya yang melengking membelah keheningan, memerintah dua staf notulen yang sedari tadi membeku di sudut ruangan seperti patung lilin.Kedua staf itu buru-buru berlari, memapah Pendeta Yohanes yang masih gemetar dan pucat pasi dari atas lantai karpet. Jas abu-abu arang sang pendeta—yang biasanya tampak licin dan tak bercela—kini kusut masai, menyedihkan seperti martabatnya yang baru saja diinjak-injak.Sementara itu, Markus masih duduk mematung di kursinya. Tatapannya kosong, terpaku pada titik di mana Jovian baru saja merangkak dan menyalak tepat di dep
"Vandella!"Pendeta Yohanes mengalihkan murkanya yang meledak-ledak kepada sang CEO. "Apakah begini standar tata krama di perusahaan ini?! Membiarkan seekor anjing liar menggonggong dan melecehkan pemegang saham di meja direksi yang terhormat?!"Gema teriakan sang pendeta memantul di dinding-dinding ruang rapat. Hening seketika mencekik ruangan. Para direktur menahan napas, menunggu reaksi Vandella atas kekacauan ini.Namun, sebelum Vandella sempat membuka mulutnya, tangan Jovian yang berada di bawah meja merayap naik. Pria itu meremas lembut pangkal paha Vandella, lalu menoleh menatap Vandella.Jovian tersenyum. Sebuah senyuman mematikan yang sangat jarang ia tunjukkan. Tatapan mata Jovian seakan berbisik pada Vandella: Biarkan aku mengambil panggung ini, Sayang. Hanya untuk kali ini saja.Melihat kilat kegilaan di mata asistennya, Vandella justru merasakan desiran gairah yang semakin menyiksa. Wanita itu perlahan menarik tangannya, menyandarkan punggungnya ke kursi dengan anggun, da
Proses penandatanganan kontrak di lantai 12 terasa seperti sebuah ritual pengabdian yang tidak nyata. Jemari Jovian masih gemetar saat menggoreskan tinta di atas kertas berlambang Arthesia Capital. Namun, pikirannya sama sekali tidak terpaku pada angka gaji yang fantastis. Pikirannya tertinggal di
Hening di dalam kabin jet itu terasa begitu berat, seolah tekanan udara di ketinggian 30.000 kaki telah merembes masuk dan menghimpit paru-paru Jovian. Hanya ada suara deru mesin jet yang samar dan detak jantung Jovian yang berdegup kencang, memukul dinding dadanya laksana genderang perang yang men
Jovian merasakan waktu membeku. Bola mata Binar yang biasanya hangat kini berubah menjadi mata pisau yang berkilauan, siap menguliti setiap inci kebohongannya. Aroma parfum jeruk busuk, perpaduan konyol dengan sisa wangi tubuh Luna yang manis, kini berteriak "pengkhianatan!" di ruang tangga darurat
Dunia Jovian saat ini adalah sebuah medan perang antara kewarasan dan kegilaan, antara persahabatan dan pengkhianatan yang paling kotor. Di bawah selimut tipis kosannya, ia sedang tenggelam dalam pusaran gairah yang begitu primitif hingga rasanya sanggup melumat seluruh akal sehatnya. Di bawah sana







