LOGINJovian menarik pinggang Vandella untuk memberikan dorongan-dorongan terdalam yang akan mengakhiri kewarasan mereka.
Vandella terengah hebat. Di ambang ledakan orgasme yang sudah mencengkeram rahimnya, insting kepemilikannya meledak. Ia menarik wajah Jovian mendekat ke arah wajahnya yang mendongak, hidung mancungnya bersiap meraup aroma tubuh pria itu di sekitar lehernya.
![]()
Namun perlawanan itu sia-sia. Tangan kiri Jovian mencengkeram kuat punggung Lin, menahan tubuh gadis itu agar tidak bisa lari atau menjauh sedikit pun dari mulutnya. Sementara itu, tangan kanan Jovian merayap turun ke bokong dan pinggul Lin.Jovian meremas pinggul Lin dengan kuat, lalu mulai menggerakkan tubuh gadis itu memutar dan maju-mundur di atasnya.Gerakan paksa itu membuat selangkangan Lin yang sudah basah kuyup langsung bergesekan erat dengan batang kejantanan Jovian yang keras, panas, dan berdenyut di bawah sana.Sllrrrtt...Bunyi gesekan kulit yang licin itu membuat mata Lin membelalak lebar. Sensasi panas yang menggesek kasar tepat di titik paling sensitifnya membuat seluruh tubuhnya meremang hebat. Jovian terus menghisap dadanya tanpa henti, sementara tangan kanannya memaksa pinggul Lin terus bergesekan."Ahhh... T-Tuan... geli... ssshhh..." desah Lin tak beraturan, kepalanya mendongak.Air mata menggenang, Ia benci pria ini, ia sangat ingin berontak, tapi tubuhnya justru
Hawa panas yang menguar dari tiga tubuh tanpa busana itu seakan membakar seluruh oksigen di atas ranjang king-size tersebut. Terkurung dalam kukungan Jovian, dua gadis kembar itu terjebak dalam pusaran dosa yang tak lagi memiliki jalan keluar.Jovian menundukkan wajahnya, menatap mata Hana yang sudah sangat sayu dan berkabut. Tanpa keraguan, ia meraup bibir gadis polos itu dalam sebuah ciuman yang teramat dalam dan rakus. Lidahnya menyusup masuk, membelit lidah Hana yang merespons dengan nafsu yang bergejolak.Di saat bibir mereka bertaut beringas, kedua tangan Jovian merayap turun menyusuri punggung mulus si kembar. Telapak tangannya yang lebar mendarat tepat di atas sepasang bongkahan bokong montok dan mungil milik Lin dan Hana. Jovian meremas kedua bokong kenyal itu secara bersamaan dengan kelembutan yang sangat posesif, lalu menariknya dengan tenaga penuh, menekan tubuh kedua gadis itu hingga menekan pada pinggul dan paha bagian dalamnya.Sllrrrtt...Tekanan itu membuat selangkang
"T-Tuan..." suara Lin mengalun lirih, tersendat oleh isak tangis yang mulai pecah di ujung kerongkongannya.Jovian tak menjawab. Senyum tipis yang mematikan tetap terukir di wajahnya. Alih-alih mendengarkan permohonan pelayan itu, Jovian menegakkan punggungnya sedikit, tangannya merobek sisa pertahanan terakhir Hana. Ia melucuti pakaian gadis itu sepenuhnya, mengekspos tubuh mulus Hana yang kini telanjang bulat di bawah cahaya lampu yang temaram.Melihat adiknya ditelanjangi, Lin melangkah maju satu langkah. Langkah yang terasa begitu berat, seolah ia sedang menyeret kakinya sendiri menyusuri dasar neraka. Dadanya naik-turun dengan beringas. Amarah yang membara bergemuruh di rusuknya, menolak melihat darah dagingnya diperlakukan layaknya objek pemuas. Namun, di saat yang sama, air mata keputusasaan menetes deras membasahi pipinya. Ia tak memiliki kuasa apa pun untuk melawan tuan muda di hadapannya ini.Jovian mengabaikan kehadiran Lin seutuhnya. Fokus pria itu kini kembali pada tubuh
Udara di ruang kamar mewah itu terasa sangat pekat, terisi oleh aroma feromon dan napas yang memburu liar. Kekosongan mendadak yang menyergap pusat kewanitaannya membuat tubuh Hana tersentak pelan. Sisa-sisa gelombang orgasme yang menggantung di tepi jurang itu seakan ditarik paksa mundur, meninggalkan rasa ngilu, hampa, dan haus yang menyiksa perut bawahnya.Hana membuka matanya yang sayu dan berkaca-kaca. Dada mungilnya yang naik-turun dengan cepat menempel di kemeja Jovian. Dengan tubuh masih bergetar hebat, gadis pelayan itu menatap wajah sang majikan dengan pandangan memelas."T-Tuan..." bisik Hana, suaranya serak dan nyaris pecah oleh tangisan keputusasaan. Jemarinya meremas lengan baju Jovian. "Tuan Jovian... kenapa... kenapa berhenti...?"Alih-alih menjawab rengekan manja dan tersiksa itu, sebuah seringai tipis yang luar biasa dingin perlahan terukir di sudut bibir Jovian.Pemuda itu membelai helaian rambut Hana yang berantakan, namun pandangan matanya sama sekali tidak tertuj
Jovian menjulurkan tangannya yang dingin akibat udara luar, menyentuh pipi Hana dengan sangat lembut.Sentuhan dingin itu membuat Hana tersentak. Kelopak matanya yang berat terbuka perlahan. Begitu matanya menangkap sosok Jovian yang duduk di hadapannya, Hana terkesiap bangun dan segera bangkit dari tidurnya untuk duduk menjauh karena panik.Namun, Jovian menahannya dengan cepat. Ia menarik lembut lengan Hana, mengikis jarak di antara mereka, hingga tubuh mungil gadis itu terduduk pasrah di atas pangkuannya.Hana terpekik kecil, kedua tangannya secara refleks bertumpu pada dada bidang Jovian. Ia menunduk malu, wajahnya seketika merona merah padam merespons posisi mereka yang terlampau intim. Napasnya memburu cepat, diselimuti kebingungan dan kepanikan yang manis.Tangan Jovian terulur perlahan, mengangkat dagu Hana agar mata sayu gadis itu menatap lurus. "Ssshh... tenanglah, Hana," bisik Jovian dengan suara baritonnya yang teramat hangat dan merayu.Jovian mencondongkan wajahnya, lalu
"Selama enam belas tahun terakhir, saya mengembangkannya dalam diam," Hartono menjelaskan dengan kebanggaan seorang jenderal yang melaporkan pasukannya. "Di bawah bendera The Obsidian Syndicate, kita mengendalikan delapan puluh persen bisnis hiburan malam kelas atas, rumah kasino elit, dan jaringan informasi bawah tanah. Eden's Abyss di Jakarta hanyalah secuil dari operasi kita. Kita memiliki sepuluh klub super-eksklusif seperti ini di London, kasino VIP di Makau, ring pertarungan bawah tanah beromzet miliaran dolar di Las Vegas, hingga jaringan private escort yang melayani para pejabat tinggi dan oligarki di Dubai dan Moskow."Hartono mencondongkan tubuhnya, menatap Jovian dengan mata berapi-api."Semua ini dibangun dari darah dan visi ayah Anda. Nilai aset sindikat ini kini melampaui triliunan rupiah, sepenuhnya bersih dari radar pajak internasional dan audit Vaelis Corp," bisik Hartono. "Saya telah menjaganya, mengembangkannya, menunggu hingga Anda cukup dewasa. Seluruh perusahaan
"Karena kedatanganku menemui Binar pagi ini bukanlah sebuah kebetulan," bisik Markus pelan, menepuk bahu Jovian dengan kelembutan yang menyayat hati. "Ayahku, Pendeta Yohanes, dan Pendeta Paul... mereka berdua sudah sepakat. Binar dan aku telah resmi dijodohkan. Ka
Sebelum melangkah memasuki medan perang sesungguhnya di ruang rapat eksekutif, langkah Jovian berbelok menuju restroom VIP di ujung lorong.
Jovian menatap wajah wanita yang sedang meronta dengan arogansi di bawahnya itu dengan tatapan predator. Sebuah seringai iblis terukir semakin dalam di sudut bibirnya—seringai seseorang yang sudah memenangkan permainan sebelum musuhnya sempat melangkah."Tidak punya kekuatan apa-apa?" Jovian tertaw
Tanpa memundurkan tubuhnya yang masih berdempetan intim dengan dada Jovian, wanita berusia tiga puluh lima tahun itu perlahan merogoh saku blazer ketatnya. Ia mengeluarkan sebuah ponsel pintar berlapis casing hitam pekat. Dengan ibu jari berkuku merah darah, ia membuka kunci layar dan menyodorkan b







