เข้าสู่ระบบAku mengabaikan pesan Jason, Ancamannya tidak membuatku takut. Aku ingin menjawab pertanyaan Casandra dan Debora namun pesan beruntun dari Jason masuk lagi.
"Miss, sekarang!" "Miss, jangan menantangku! Kamu akan menyesal." Aku memandangi pesan darinya dan mengangkat wajahku saat Casandra berseru. "Jason? Ada apa?" "Saya ingin bertemu Miss Caroline, beliau menjatuhkan buku di lapangan." "Miss Caroline." Jason menyodorkan sebuah buku dan aku menerimanya, saat tanganku menerima buku tangannya meremas cepat jariku. Mataku membulat, tak menyangka Jason bakalan masuk keruanganku. Tatapan Jason mengunciku sehingga aku terpaksa mengangguk dan mengucapkan kan kata "Baiklah" tanpa suara. Tak mau memperkeruh keadaan. Setelah Jason pergi, mau tak mau aku langsung membuka blokiran nomornya. "Huh anak nakal itu." Gerutu Debora. "Kamu hati - hati Line, Jason itu sangat berbahaya. Orang tuanya sampai angkat tangan. Anak itu sangat nekat, pernah menghajar guru olahraga disekolahnya dulu." Tambah Casandra "Oh ya? Benarkah?" "Ya benar, anak itu menuduh gurunya melecehkan teman perempuan. Karena kesal guru itu tidak dihukum Jason mengamuk dan menghajarnya sampai guru itu masuk rumah sakit, tulang rusuknya patah." Pak Oscar datang menimpali, beliau guru olahraga di sekolahku. "Ya karena itu Jason di keluarkan dari sekolah lamanya dan pindah kekota ini sampai lulus dan mendaftar di kampus kita." Casandra membenarkan. "Tapi sekarang guru itu sudah ditahan di penjara karena terbukti bersalah." Deborah memberikan informasi yang tak ku minta. "Jason sebenarnya anak pintar tapi karena sifat nakalnya, nilainya banyak yang kosong. Kalau bukan karena ayahnya yang kaya dan donatur kampus kita sudah lama dia dikeluarkan." Casandra menambahkan. Aku termenung, karena penasaran aku membuka - buka lagi data diri Jason, Jason Ortega anak dari pemilik pabrik kertas Ortega, anak satu -satunya. Rumahnya tak jauh dari kampus, Ibunya seorang pengacara sukses. Bisa dibilang Jason adalah seorang putra mahkota. Membaca latar belakang Jason membuat Caroline membayangkan wajah anak nakal itu. Mata ceria dengan sorot jahil, bibir penuh yang selalu melengkung tersenyum. Anak yang beruntung. Mata kuliah hari ini berlangsung lebih lama, karena 2 hari absen aku harus mengejar materi yang harus ku ajarkan, para mahasiswaku di semester 1 sangat manis. Mereka sangat sopan dan ceria aku betah berlama - lama di kelas. "Miss Caroline." Wiliam mahasiswa semester 1 menghampiriku. Aku berhenti berjalan dan menunggunya di depan kantor dosen. "Ini untuk Miss." Anak itu, William menyodorkan sekotak coklat, aku menyambutnya dengan senyum. "Terima kasih William, Miss akan memakannya." Aku menepuk bahunha pelan membuat pipi gembulnya merona. Dia segera berlari menjauh. "Wah banyak juga ya penggemarmu." Oscar yang berpapasan dengaku dipintu melihat ke arah coklat yang ku taruh di atas meja. "Yaah, anak - anak ini sangat manis." Ujarku tersenyum membuka kotak coklat. "Kau mau?" Oscar menggeleng. "Aku tak suka coklat, membuat gigiku ngilu." "Caroline, apa kamu benar sudah menikah?" tanya Oscar, Belum sampat aku menjawab Jason masuk sambil membawa tumpukan buku tugas, anak itu melirikku sekilas lalu meletakkan bawaannya di atas meja Cassandra, dosen ekonomi. "Hey Caroline kamu belum menjawab pertanyaanku." Oscar mengingatkan. "Pertanyaan apa?" Tanyaku balik. "Benarkah kamu sudah menikah?" Ulangnya. "Iya benar, bukannya aku sudah sering menceritakan suamiku?" Jawabku membuat Oscar mendengus kesal. "Padahal kamu masih sangat muda dan cantik, sayang sekali begitu cepat menikah." Gerutu Oscar nyaris tak kudengar. "Apa maksudmu?" Tanyaku, Aneh saja Oscar dosen yang paling irit bicara tiba - tiba bertanya padaku. "Aah tidak apa - apa, hanya penasaran." Jawabnya. Oscar berdiri hendak keluar ruangan tapi langsung terjerebab di langkah berikutnya. Aku melongo melihatnya terguling, tali sepatu di kedua kakinya saling terikat. Aku menahan tawa namun di detik berikutnya kudengar suara tawa Debora pecah. Masih tepingkal - pingkal Deborah membantu Oscar berdiri, sekelebat kulihat Jason menyelinap keluar, aku menepuk dahiku pelan. 'hmm pasti ulah Jason' pikirku. "Kamu baik - baik saja?" Tanyaku pada Oscar. Wajahnya yang menghantam lantai sedikit memar, untung saja tidak mengenai ujung meja yang terbuat dari besi. Oscar hanya diam mengelus pipinya. "Kok bisa - bisanya tali sepatumu tersangkut?" Deborah memberikan kompres ke Oscar yang langsung menempelkannya di pipi. "Pasti ada yang mengerjaiku!" "Hah, aku tau pasti Jason yang mengerjaiku. Aku tadi melihatnya membawakan buku - buku Casandra." Timpal Oscar emosi. "Hey di ruangan itu hanya ada kita berdua sebelum Debora masuk. Jason sudah dari tadi keluar. Benarkan Debora?" Entah mengapa aku memilih membela Jason yang sudah pasti pelakunya. "Ya, aku hanya melihat kalian berdua di dalam ruang tadi." Jawab Debora tanpa berfikir. Siang ini sangat panas, sebelum pulang aku mengantre di pom bensin. Bensin di mobilku nyaris kosong, dan ternyata antreannya cukup panjang. Maklumlah di kota kecil ini hanya ada satu pom bensin. Sambil menunggu antrean, aku membuka kotak coklat pemberian William. Memakannya dengan tangaku, karena cuaca cukup panas coklat di tanganku cepat melelah membuatnya belepotan di tangan kananku. Aku segera mencari - cari tisu. Tau - tau, dari belakang ada yang menarik tanganku lalu menjilati sisa - sia coklat di jari - jariku. "Hmm enaak." Seringainya Jason tersenyum Jahil.Di kampus Caroline terus menghindari Jason, saat di kelas Caroline berkali - kali membuang muka saat tak sengaja bertatapan dengan Jason. klung [Miss, kenapa memghindariku?] Caroline mengabaikan pesan itu. [Kenapa tidak balas?]Caroline terus berjalan menuju ruangan dosen, dia mengabaikan pesan Jason.Saat berada di tikungan, antara kantor dan koridor yang menuju ke arah kantin, Caroline merasa terkejut saat tangannya di tarik kesudut yang sepi."Miss!" Bisik Jason tepat di telinga Caroline, tubuhnya berada di antara Jason dan tembok.Jantung Caroline berdegub kencang, tubuhnya terasa gerah. Nafas Jason yang hangat menyapu wajahnya."Lepas Jas, gimana kalau ada yang melihat?""Biarkan saja, kita tidak sedang melanggar hukum." Jason makin merapatkan tubuhnya, memhimpit tubuh mungil Caroline.Caroline memalingkan wajahnya, tak ingin menatap Jason."Jika butuh bantuan, panggil saja aku. Aku akan selalu membantumu.""Apa maksudmu?""Ini maksud ku!" Jason memgangkat dagu Caroline dan
"Jaaas.." Panggil Caroline lirih. Jason makin rakus menjilatt dan menhisap payudaranya, Badan Caroline bergetar gairahnya memuncak. Logikanyapun menghilang. Jason terus menikmati payudara dosennya itu, tangan kirinya merayap kebagian bawah tubuh Caroline. Menyibak rok pendeknya dan mulai mengelus vagina yang masih tertutup celana dalam. "Eehm auh, Jass." Mulut Jason terus melumat payudara sedangkan tangan kirinya mulai mencoba menarik lepas celana dalam, dan menekan jari tengahnya ke dalam vagina Caroline. "Aaah Jaaas, ehhm." "Kamu sangat basah dan hangat." Bisik Jason di telinga Caroline. Jason menarik kaki Caroline lalu membukanya lebih lebar, wajahnya mendekat dan mulai menjilati bukit itu, membuat Caroline menggelinjang tak karuan. Tangan sebelah kanan nya menyentuh rambut Jason dan tangan kirinya meremas payudaranya. "Aah aaah aaah, Jasooon. Jasoooon." Rintihnya, Mendengar namanya terus di sebut Jason makin beringas menjilati vagina Caroline, jari tengahnya bergan
Saat tamu bulanannya hampir datang, Caroline merasa tubuhnya gampang sekali terangsang. Karena itu dia tidak ingin berada dekat - dekat dengan pria.Seperti malam ini, vaginanya dan payudaranya mulai terasa gatal. Dengan gelisah Caroline membolak balikkan tubuhnya merasa tidak nyaman berbaring.Tangannya mengusap dada dan vaginanya berulang namun rasa gatal makin parah. Dia lalu berdiri dan masuk kedalam kamar mandi.Di dalam kamar mandi Caroline membuka seluruh pakaiannya dan mengguyur tubuhnya dengan air dingin. Setelah beberapa menit di bawah sower, badannya mulai menggigil. Ini cukup efektif meredakan rasa gatal. Dengan handuk dia keringkan tubuhnya dan kembali berpakaian. Setelahnya Caroline mencoba untuk tidur lagi. Namun rasa gatal yang tidak nyaman itu datang lagi. Caroline bangkit lagi menuju kamar mandi."Miss? ada apa kamu mondar mandir kamar mandi?" Jason bangun dan duduk memandang Caroline yang sudah berada di depan pintu kamar mandi."Tidak hanya mules." Caroline langs
"Tidak bekerja di rumah sakit?" "Iya, mama Jason bekerja di perusahaan Timberlake sedangkan papa Jason bekerja di perusahaan Timberlake luar negeri." "Oh ya? apa mamanya Jason sodara dokter Marco satu - satunya?""Ya, kami dua bersaudara. Dia kakak yang baik.""Apa dokter sering bertemu dengan mama Jason?""Hanya hari - hari besar saja. Kami sibuk dengan pekerjaan masing - masing. Jadi jarang sekali bertemu, namun kami masih sering bertelepon." "Lalu gimana dengan kehidupanmu?" Tanya dokter Marco. "Tak banyak yang bisa ku ceritakan." Jawab Cassandra agak malu. "Kamu gadis yang hebat, di usia muda sudah jadi dosen." "Biasa saja, aku hanya dosen baru di kampus. Aku baru lulus S2 tahun lalu." "Kamu mengajar mata kuliah apa?" "Matematika." Jawab Cassandra tersenyum lebar. "Waah, kamu pasti pintar. Tak banyak gadis cantik yang menyukai ilmu pasti." "Dokter terlalu memuji." "Sepertinya seru, apa yang kalian obrolkan?" Dari arah pintu suara Caroline terdengar, membuat
"Jas, aku akan pulang mandi dan berganti baju lalu kembali ke rumah sakit." Ucap Caroline saa makanan mereka datang. "Mau aku antar?" "Ya." Mereka makan dalam diam, tenggelam dengan pikiran masing - masing. Setelah makan, Caroline pulang dan mandi lalu mengemas barang - barangnya karena malam ini akan menginap di rumah sakit. "Sudah siap?" "Ya ayo kita pergi." Jason mengambil tas besar dari tangan Caroline dan membawanya masuk kedalam mobil. "J, kamu sudah datang." "Iya paman." Saat memasuki kamar Cassandra, dokter Marco sedang memeriksa kondisinya. "Satu jam lagi akan di laksanakan operasi, apa kamu sudah puasa?" Cassandra mengangguk. "Baiklah, istirahat dulu ya. Satu ajam lagi perawat akan membawamu keruang operasi." "Baik dok, terima kasih." Caroline duduk di samping ranjang Cassandra. "Maaf ya Cas, kamu lama ya nunggu aku datang? pasti bosan banget." "Nggak kok, dokter Marco menemaniku mengobrol. Orangnya cukup ramah." "Syukurlah kalau begitu. Apa yang in
"Aah." Desahan lolos dari bibir Caroline. Tangan sirambut abu mengelus pelan sisi dalam paha Caroline. Ujung jarinya menyentuh bibir vaginanya yang masih tertutup celana dalam. "Aaah. Jangaan sentuuh ehmm." Caroline meraoatkan pahanya, namun sang lelaki melebarkannya kembali. Dibagian atas tubuh Caroline si lelaki berambut biru terus meremas dan memijat payudaranya, sedangkan si lelaki berambut hijau terus membelai sisi dalam pahanya sesekali menyentuh vagina Caroline dengan lembut. "Aah aaah." Desahnya lagi. Kini Jari - jari si rambut abu mulai menggesek celah vagina Caroline, Caroline menggelinjang antara geri dan terangsang hebat. "Aku sangat ingin menyentuh vagina anda tanpa pengahalang." "Tidaaak, jangan lakukan itu." Lelaki itu tersenyum, tangan kirinya menarik lepas celana dalam Caroline. Kini Caeoline telanjang bulat tanpa sehelai pun yang menutupi tubuhnya. "Waah, vagina indah ini mulai basaah." Jari - jari itu mulai mengelus dan meraba bagian paling sensitiv.







