MasukTidak sampai di situ, begitu jari - jariku bersih dari sisa - sisa coklat, Jason menatapku penuh minat. Dengan sekali sentakan wajahku ditarik mendekat, tanpa aba - aba lidahnya menjilati bibirku yang belepotan coklat.
"Apa apaan kamu." Aku terkejut dan mendorong kasar wajahnya, kepalanya sampai membentur sandaran kursi. "Aow Miss, kasar sekali." Jason mengelus belakang kepalanya. "Kenapa kamu bisa didalam mobilku?" "Aku menunggu Miss pulang, sampai ketiduran. Saat terbangun aku melihat cemilan lezat." Jason menatap bibirku. Reflek aku segera menutupnya dengan telapak tangan. Suara klakson terdengar dari belakang, aku segera menginjak pelan pedal gas memajukan mobilku. "Kamu kan yang mengikat tali sepatu Pak Oscar?" "Tapi kenapa Miss membelaku?" Jason Balik bertanya. Aku hanya mengabaikannya, karena tak tau harus menjawab apa. "Aku membencinya, Miss tau?" Karena aku hanya diam, Jason lanjut berceloteh. "Anda tau Miss, aku tidak suka Oscar. dia mesum." "Hus, kamu jangan bicara sembarangan." "Benar, Oscar sangat mesum. Dia selalu memandangimu dengan sangat bernafsu. Tatapannya seolah - olah ingin menelanjangimu." "Hmm, seperti kamu? bukanya pikiran laki - laki relatif sama ya?" Aku menimpali sambil menginjak pelan pedal gas memajukan mobil ku mengikuti antrean. "Aku? sama dengan Oscar? oh itu tidak benar Miss, kalau aku tulus. Aku sudah jatuh cinta saat pertama bertemu denganmu." Mendengar itu aku teringat pertemuan pertamaku dengan Jason, situasi yang sangat memalukan. Dia melihatku telanjang dan sedang memuaskankan diriku sendiri. "Ah sudah hentikan." Aku berusaha menutup mulutnya dengan tanganku, tapi Jason malah menarik tanganku kemulutnya dan mulai menciumnya dengan lembut. Melihat itu aku menarik dan memukul keras bahunya. "Miss, kasar sekali hanya padaku berbeda dengan perlakuan Miss pada anak - anak lainnya." "Karena kamu sangat nakal, beda dengan William yang manis." "Apa karena dia memberimu sekotak cokelat?" Aku hanya mengedikkan bahuku. "Aku juga bisa memberimu cokelat, lebih banyak darinya." serunya lagi. " Ya yaa yaa, aku tau kamu anak kaya. Tapi tidak perlu memamerkannya." Ujarku yang sudah selesai mengisi Bbm dan segera melaju meninggalkan POm bensin. " Miss, turunkan aku di dekat halte." Pinta Jason. " Daah Miss, sampai jumpa. Bolehkah aku mencium keningmu sebelum pergi?" Tanpa menjawab aku segera menginjak keras pedal gas meninggalkan Jason yang nyengir puas. Sepertinya hari - hariku akan sangat melelahkan, menghadapi pekerjaan dan Jason. Sesampai rumah aku langsung merebahkan diri, menyalakan pendingin ruangan dan melepas seluruh pakaian kerjaku yang membuatku gerah. 'klung' Saat hampir terlelap notifikasi ponselku berbunyi. "Sayang, pekerjaanku belum selesai jadi aku akan lebih lama di Hamsruck" "Iya sayang, Aku baru saja pulang dan merindukanmu." "Nanti malam, Selesai bekerja aku akan menelponmu." Aku tidak membalas lagi pesan Edgar, cukup lama aku terlelap karena saat bangun aku mendapati langit sudah mulai gelap. Aku menyalakan air memenuhi bak mandi, ingin berendam menikmati kesunyian. Saat bersiap masuk ke bak mandi dering ponselku mengurungkan niatku. "Haloo sayang." ucapku saat logo telpon berwarna hijau berhasil ku geser. Hal selanjutnya yang kulakukan adalah melempar ponselku dengan terkejut karena wajah yang muncul di panggilan video bukannya Edgar, tapi Jason. Aku yang sedang telanjang bulat, kaget bukan main Setelah meraih handuk dan memakai jubah aku menagmbil ponselku yang terlempar keluar kamar mandi. Syukurlah panggilan video Jason sudah berakhir. Namun ada sebuah pesan yang belum ku baca. "Miss, kamu seksi sekali." Aku mengutuk diriku sendiri. Aku mempercepat acara mandiku, bergegas memasak untuk makan malam. Namun saat aku membuka kulkas, isinya sangat mengecewakan. Kulkasku yang sangat besar itu nyaris kosong, hanya sebotol air putih yang masih bertengger di rak. Dengan malas aku mengenakan setelan training longgar dan berjalan santai menuju mini market dekat rumahku. Mengambil keranjang belanja lalu mulai memasukkan beberapa sayuran, cemilan dan juga mie instan. Saat hendak mengambil minuman dingin di dalam showcase bayangan Jason menatapku dari balik kaca. "Hay, kau sedang menguntitku?" Tanyaku berbalik menoleh kearahnya. "Hay miss, aku sangat merindukanmu. Apa lagi saat terakhir melihatmu di panggilan videoku." Bisiknya tepat di telingaku, nafasnya menggelitik telinga. Sebelum sempat aku bereaksi, bibirku dikecupnya sekilas dan dia berlari meninggalkanku yang sangat geram dengan tingkahnya.Mama Jason keluar lalu menutup pintu kamar Jason. Karena Jason jarang berada di rumah untuk makan malam, Mamanya sangat antusias untuk menyiapkan makan malam. Mama Jason segera menstater mobil dan melaju menuju supermarket membeli banyak bahan - bahan masakan yang di sukai anaknya. Saat kembali ke rumah, Jason masih di kamarnya jadi Mamanya langsung menyiapkan bahan masakan dan memasak dengan semangat. "Maah!" Mama Jason menoleh kearah tangga, Jason turun dengan muka kusut, rambut berantakan dan tangannya mengucek mata. "Udah bangun? Sebentar ya mama buatkan makan malam." Mama Jason kembali sibuk dengan pisau dan telenan. Memotong asparagus dan wortel, serta merebus dada ayam. "Harum sekali, tumben banget mama masak banyak." "Karena liat kamu pulang jam segini jadi tadi mama buru - buru belanja. Nanti bawakan makan malam buat calon menantu mama ya." Mama tersenyum menggoda. "Ha?" "Ha? apa? kok malah bengong." "Mama masak sup, salmon panggang dan kentang tumbuk k
Caroline mundur menghindari Jason yang berjalan mendekatinya. "Keluar Jas!" "Miss, cium aku! Biar kamu tau sedalam apa perasaanku." "Tidak!" Caroline menghindar tidak mau menatap Jason. Namun Jason mendesaknya sampai kaki Caroline menabrak kursi meja rias. "Miss!" tubuh Jason merapat jarinya mengangkat dagu Caroline mata mereka bertemu. Perlahan wajahnya mendekat. Bibir Jason menyentuh bibir Caroline dengan lembut, Caroline diam tak merespon. Jason kembali mengecup bibir Caroline awalnya lembut namun menuntut. Perlahan Caroline mulai membalas ciuman Jason, dia mulai membuka bibirnya dan mereka berciuman semakin inten. Caroline mencium Aroma mint, lidahnya mulai bertaut bibirnya berpagut. Jason mengangkat tubuh Caroline ke atas meja rias dan lanjut berciuman sangat lama.
Caroline turun dari ranjang dan bergegas mengunci pintu kamar. "Aku mau mandi J, ada apa?" "Aku membawakanmu makan siang, ini sudah sore dan kamu belum makan." "Terima kasih, kamu simpan saja di dapur." "Oke." Jawab Jason. Caroline menempelkan telinganya di daun pintu, terdengar suara pintu depan di tutup. Dia merasa lega, hasratnya pun padam jadi dia menyalakan air di bak mandi lalu menuangkan sabun aroma lemon yang sangat segar. Caroline berendam sekitar 10 menit dia sudah merasa kedinginan. Karena di rumah sendirian dia hanya memakai tanktop nyaman dan hanya celana dalam. Caroline memakai handbody dan skincare rutinnya, dia jauh merasa segar. Bibirnya masih terlihat lecet dan pipinya masih lebam, sebaiknya besok dia pergi ke kampus mengenakan masker.
"Siapa kau?" Teriak Amos. Jason menjawabnya dengan pukulan di bagian rahang. Amos kembali terjatuh dengan bunyi gedebuk, badannya yang besar terpelanting di lantai senam. "Kami sudah mendapatkan bukti kalau kalian penipu, jika tak mengembalikan semua uang yang sudah kalian tipu siap - siap saja viral dan mendekam di penjara." Caroline memperlihatkan video saat Paul memaksanya menscan barcode. Paul dengan mata merah terlihat kesal, tangannya mengepal tapi dia hanya diam di tempat dengan nafas cepat. Amos duduk kesakitan memegangi wajahnya. "Kamu ingin terkenal? aku akan mengunggah video ini beserta kesaksian para korban kalian. Mau coba?" Ancam Caroline dengan sudut bibir yang masih bengkak dan berdarah. "Kamu menjebakku? siapa kalian sebenarnya?" Teriak Paul frustasi. "Bukan menjebak, tapi mengikuti cara mainmu. Kamu masih ingat sama dia? gadis yang sudah kalian tip
Caroline memperhatikan keliling, toko itu beraroma rempah yang membuat tubuh hangat hanya dengan menciumnya. Desainnya minimalis, tak banyak hiasan di dinding. Hanya beberapa figura berisi daun - dan bunga yang di keringkan. Si dekat pintu masuk sebelah kanan ada meja kasir, seorang ibu paruh baya dengan kaca mata baca duduk disana. Seorang gadis belasan tahun memakai celemek, sedang menyusun beberapa botol minyak zaitun di rak. Gadis itu berambut gelap yang ditutupi skraf. Caroline mendekati rak bagian teh dan kopi herbal yang di keterangannya bisa menurunkan berat badan. Caroline mengambil sekotak teh daun cina lalu membaca inggredent secara detail. "Maaf kak, apa kakak ingin menurunkan berat badan?" Tiba - tiba seseorang menepuk bahu Caroline dari belakang. "Maaf? siapa?" Tanya Caroline. "Kenalkan saya, Amos instruktur aerobik. Apa kakak berminat menurunkan berat badan?" "Saya, saya sebenarnya..." "Saya akan membantu kakak jika berminat, ini kartu nama saya. Dan se
Caroline mematikan ponselnya dan mencoba untuk tidur.* "Line, Cass ayo banguun!" Deborah menarik selimut mereka berdua. "Masih ngantuk, biarkan aku tidur." Caroline menahan selimutnya, lalu kembali meringkuk. "Ayo Ra tidur lagi, ini hari yang indah untuk tidur." "Ayoo anak gadis ini sudah siang, aku sudah memasak sarapan. Ayo buruan bangun." Deborah menatap kedua temannya yang tidak bergerak di tempat tidur, dia menghela nafas lalu keluar dari kamar. [Jaas, ke rumah Miss Caroline, sarapan!] Deborah mengirimi Jason pesan. [Siap] 1 menit berikutnya balasan dari Jason masuk. Tak kurang dari 10 menit kemudian, Jason sudah berdiri di depan pintu rumah Caroline. "Kok sepi miss?" "Kedua dosenmu masih tidur, saya kesulitan membangunkan mereka." "Biar aku saja yang bangunin." Jason segera berdiri lalu masuk ke kamar. Caroline tidur disisi kiri, ada boneka teddy di pelukkanya. Sedangkan Cassandra tidur dengan posisi kaki menyentuh lantai sedangkan badannyan masih di ata







