Share

9. Cokelat 2

last update Last Updated: 2025-07-05 13:15:37

Sesampai dirumah aku segera menyusun belanjaanku di dalam kulkas. Karena sudah lelah aku hanya memasak mie instan dan telur sebagai topingnya.

Mungkin karena terlalu lapar, mie instan ini terasa sangat enak. Rumah terasa sepi, tiba - tiba aku menginginkan seorang anak. Tapi itu hanya ada di angan - angan ku saja, karena Edgar belum mau memiliki bayi.

'Masih belum stabil' itu alasannya saat aku membahas tentang hadirnya seorang bayi.

"Edgar aku kesepian." Ujarku, kala itu kami minum teh di sore hari.

"Kembalilah bekerja sayang, di kampus pasti ramai sekali."

Jawab Edgar saat aku mengeluh kesepian saat Edgar sibuk bekerja dan sering berangkat keluar kota.

Karena itu setelah 6 bulan pernikahan kami aku mulai kembali bekerja. Padahal aku berencana ingin langsung mempunyai banyak anak, mengingat aku anak tunggal yatim piatu. Aku ingin sekali punya rumah dengan banyak anggota keluarga.

Jam sudah menunjukkan jam 11 malam, namun aku belum juga ngantuk. Bosan, aku pun menyalakan tv, tak ada program bagus untuk di tonton.

'Sayaang.' aku mengirim pesan pada Edgar. Namun hingga 10 menit tak ada balasan. Aku pun memutuskan untuk tidur.

*

Alarm tak berbunyi sehingga hampir jam 10 siang aku baru bangun, untung hari ini cuti bersama. Kalau hari kerja pasti aku sudah terlambat.

'Kluung' 1 notifikasi masuk di ponselku.

'Miss? sedang apa?' Yang jelas bukan dari Edgar. Belum sempat aku membalas, pesan kedua dari Jason sudah masuk.

'Selamat Menikmati Miss, I Love u.' Aku mengernyit, menikmati apa? tak lama suara bel di pagar depan terdengar. Aku membuka pintu melongokkan kepala keluar.

"Paket kak." Teriak kurir yang sudah berdiri di depan pintu pagar. Mobil box tampak menjadi latar belakangnya.

"Terima kasih pak." Aku buru - buru masuk kerumah dengan kewalahan karena paketnya besar banget, penasaran ingin segera membuka paket itu. Aku merobek kertas dan isolasi yang membungkus si paket.

Ternyata puluhan cokelat dengan berbagai varian tersusun di dalam kardus, dan sudah bisa di tebak siapa pengirimnya.

"Kamu suruh aku berjualan cokelat?" Aku mengirim pesan pada Jason.

"Iya Miss sama - sama." Tak ada 2 menit balasan dari Jason masuk di ponselku.

"Baiklah, terima kasih Jason. Kamu suka ya kalau gigi ku bolong - bolong kebanyakan makan cokelat?"

"Iya Miss, Aku suka kamu." Balasnya ngacoo. Aku sudahi berkirim pesan pada Jason.

Hmm sepertinya enak, aku mencicipi cokelat varian almond. Iseng aku memotret Cokelat yang sudah ku gigit itu lalu memostingnya di akun Wa dengan caption.

'Semoga hari ini semanis cokelat'.

'kluung' 1 notifikasi dan 1 reaction masuk.

"Senyummu lebih manis dari cokelat manapun." Jason mengomentari Story ku. Karena sudah mengirimkan cokelat aku memilih menganggapi komennya.

"Ya ya, terima kasih cokelatnya." balas ku kemudian.

"Sama - sama Manies." hu uh untung jalur pribadi kalau post di I* or F* di jamin banyak yang kepo.

Puluhan cokelat itu aku susun di dalam kulkas. Saat cokelat terakhir sudah tersusun didalam kulkas aku menemukan catatan di dalam kardus.

'Coklat manis semanis senyum mu. Lihat Miss aku bisa memberimu cokelat lebih banyak dari pada bocilmu'

aku menepuk keningku merasa frustasi.

Hari libur begini paling nyaman berbaring sambil bermain game, aku pun tenggelam dalam game seru. Bahkan sampai jam makan siang aku masih asik bermain, mandi pun aku lupakan.

'klung' 1 notifikasi aku mengabaikannya, malas mengganggu saja. Aku masih terus bermain game. Namun tiba - tiba layar ponselku berubah, ada panggilan video Mungkin karena pesannya tak kubaca jadi si pengirim menelponku.

"Apa? Aku sedang bermain game. Menggangu saja." Semprotku jengkel

"Sayang? kamu marah ya?" Ternyata Edgar ku kira Jason. Aku diam aja tak menjawab.

"Maaf sayang semalam aku capek banget, jadi tidak membalas pesanmu."

"Aku kesepian." Setelah berdiam beberapa detik akupun menjawab.

"Kamu pergilah bermain dengan teman - temanmu, makan di caffe or sekedar minum kopi. Belilah tas atau sepatu yang mau suka." Jawab Edgar.

"Aku malas." Ucap ku lagi cemberut.

"Sayaang ayolah, pergi keluar jajan makanan enak sambil menunggu aku pulang." Aku hanya diam tak menanggapi.

"Sayaaang aku harus pergi, masih ada pekerjaanku."

"Iya, hati - hati." lalu Edgar menutup telpon. Tak lama notifikasi dari Mbanking, Edgar mengirimiku uang jajan.

Mood bermain gameku bubar, aku malas melanjutkan gameku. Kemana ya malam ini? aku berpikir keras.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Godaan Nakal Brondong Manis   106

    Di kampus Caroline terus menghindari Jason, saat di kelas Caroline berkali - kali membuang muka saat tak sengaja bertatapan dengan Jason. klung [Miss, kenapa memghindariku?] Caroline mengabaikan pesan itu. [Kenapa tidak balas?]Caroline terus berjalan menuju ruangan dosen, dia mengabaikan pesan Jason.Saat berada di tikungan, antara kantor dan koridor yang menuju ke arah kantin, Caroline merasa terkejut saat tangannya di tarik kesudut yang sepi."Miss!" Bisik Jason tepat di telinga Caroline, tubuhnya berada di antara Jason dan tembok.Jantung Caroline berdegub kencang, tubuhnya terasa gerah. Nafas Jason yang hangat menyapu wajahnya."Lepas Jas, gimana kalau ada yang melihat?""Biarkan saja, kita tidak sedang melanggar hukum." Jason makin merapatkan tubuhnya, memhimpit tubuh mungil Caroline.Caroline memalingkan wajahnya, tak ingin menatap Jason."Jika butuh bantuan, panggil saja aku. Aku akan selalu membantumu.""Apa maksudmu?""Ini maksud ku!" Jason memgangkat dagu Caroline dan

  • Godaan Nakal Brondong Manis   105

    "Jaaas.." Panggil Caroline lirih. Jason makin rakus menjilatt dan menhisap payudaranya, Badan Caroline bergetar gairahnya memuncak. Logikanyapun menghilang. Jason terus menikmati payudara dosennya itu, tangan kirinya merayap kebagian bawah tubuh Caroline. Menyibak rok pendeknya dan mulai mengelus vagina yang masih tertutup celana dalam. "Eehm auh, Jass." Mulut Jason terus melumat payudara sedangkan tangan kirinya mulai mencoba menarik lepas celana dalam, dan menekan jari tengahnya ke dalam vagina Caroline. "Aaah Jaaas, ehhm." "Kamu sangat basah dan hangat." Bisik Jason di telinga Caroline. Jason menarik kaki Caroline lalu membukanya lebih lebar, wajahnya mendekat dan mulai menjilati bukit itu, membuat Caroline menggelinjang tak karuan. Tangan sebelah kanan nya menyentuh rambut Jason dan tangan kirinya meremas payudaranya. "Aah aaah aaah, Jasooon. Jasoooon." Rintihnya, Mendengar namanya terus di sebut Jason makin beringas menjilati vagina Caroline, jari tengahnya bergan

  • Godaan Nakal Brondong Manis   104

    Saat tamu bulanannya hampir datang, Caroline merasa tubuhnya gampang sekali terangsang. Karena itu dia tidak ingin berada dekat - dekat dengan pria.Seperti malam ini, vaginanya dan payudaranya mulai terasa gatal. Dengan gelisah Caroline membolak balikkan tubuhnya merasa tidak nyaman berbaring.Tangannya mengusap dada dan vaginanya berulang namun rasa gatal makin parah. Dia lalu berdiri dan masuk kedalam kamar mandi.Di dalam kamar mandi Caroline membuka seluruh pakaiannya dan mengguyur tubuhnya dengan air dingin. Setelah beberapa menit di bawah sower, badannya mulai menggigil. Ini cukup efektif meredakan rasa gatal. Dengan handuk dia keringkan tubuhnya dan kembali berpakaian. Setelahnya Caroline mencoba untuk tidur lagi. Namun rasa gatal yang tidak nyaman itu datang lagi. Caroline bangkit lagi menuju kamar mandi."Miss? ada apa kamu mondar mandir kamar mandi?" Jason bangun dan duduk memandang Caroline yang sudah berada di depan pintu kamar mandi."Tidak hanya mules." Caroline langs

  • Godaan Nakal Brondong Manis   103

    "Tidak bekerja di rumah sakit?" "Iya, mama Jason bekerja di perusahaan Timberlake sedangkan papa Jason bekerja di perusahaan Timberlake luar negeri." "Oh ya? apa mamanya Jason sodara dokter Marco satu - satunya?""Ya, kami dua bersaudara. Dia kakak yang baik.""Apa dokter sering bertemu dengan mama Jason?""Hanya hari - hari besar saja. Kami sibuk dengan pekerjaan masing - masing. Jadi jarang sekali bertemu, namun kami masih sering bertelepon." "Lalu gimana dengan kehidupanmu?" Tanya dokter Marco. "Tak banyak yang bisa ku ceritakan." Jawab Cassandra agak malu. "Kamu gadis yang hebat, di usia muda sudah jadi dosen." "Biasa saja, aku hanya dosen baru di kampus. Aku baru lulus S2 tahun lalu." "Kamu mengajar mata kuliah apa?" "Matematika." Jawab Cassandra tersenyum lebar. "Waah, kamu pasti pintar. Tak banyak gadis cantik yang menyukai ilmu pasti." "Dokter terlalu memuji." "Sepertinya seru, apa yang kalian obrolkan?" Dari arah pintu suara Caroline terdengar, membuat

  • Godaan Nakal Brondong Manis   102

    "Jas, aku akan pulang mandi dan berganti baju lalu kembali ke rumah sakit." Ucap Caroline saa makanan mereka datang. "Mau aku antar?" "Ya." Mereka makan dalam diam, tenggelam dengan pikiran masing - masing. Setelah makan, Caroline pulang dan mandi lalu mengemas barang - barangnya karena malam ini akan menginap di rumah sakit. "Sudah siap?" "Ya ayo kita pergi." Jason mengambil tas besar dari tangan Caroline dan membawanya masuk kedalam mobil. "J, kamu sudah datang." "Iya paman." Saat memasuki kamar Cassandra, dokter Marco sedang memeriksa kondisinya. "Satu jam lagi akan di laksanakan operasi, apa kamu sudah puasa?" Cassandra mengangguk. "Baiklah, istirahat dulu ya. Satu ajam lagi perawat akan membawamu keruang operasi." "Baik dok, terima kasih." Caroline duduk di samping ranjang Cassandra. "Maaf ya Cas, kamu lama ya nunggu aku datang? pasti bosan banget." "Nggak kok, dokter Marco menemaniku mengobrol. Orangnya cukup ramah." "Syukurlah kalau begitu. Apa yang in

  • Godaan Nakal Brondong Manis   101

    "Aah." Desahan lolos dari bibir Caroline. Tangan sirambut abu mengelus pelan sisi dalam paha Caroline. Ujung jarinya menyentuh bibir vaginanya yang masih tertutup celana dalam. "Aaah. Jangaan sentuuh ehmm." Caroline meraoatkan pahanya, namun sang lelaki melebarkannya kembali. Dibagian atas tubuh Caroline si lelaki berambut biru terus meremas dan memijat payudaranya, sedangkan si lelaki berambut hijau terus membelai sisi dalam pahanya sesekali menyentuh vagina Caroline dengan lembut. "Aah aaah." Desahnya lagi. Kini Jari - jari si rambut abu mulai menggesek celah vagina Caroline, Caroline menggelinjang antara geri dan terangsang hebat. "Aku sangat ingin menyentuh vagina anda tanpa pengahalang." "Tidaaak, jangan lakukan itu." Lelaki itu tersenyum, tangan kirinya menarik lepas celana dalam Caroline. Kini Caeoline telanjang bulat tanpa sehelai pun yang menutupi tubuhnya. "Waah, vagina indah ini mulai basaah." Jari - jari itu mulai mengelus dan meraba bagian paling sensitiv.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status