Beranda / Romansa / Godaan Panas Pegawai Magang / Bab. 09. RUMOR BURUK TENTANGKU

Share

Bab. 09. RUMOR BURUK TENTANGKU

Penulis: Kurnia
last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-17 13:00:18

Aku terkekeh pelan. Mana mungkin Leon adalah pemilik rumah sakit swasta terbesar di kota ini? Dasar aneh.

Tawa kecilku meredup, berganti dengan helaan napas panjang.

Aku lelah.

Akhir-akhir ini terlalu banyak hal yang terjadi. Kepalaku terasa penuh.

Mendengar napasku yang berat, Leon menatapku dengan wajah yang tampak khawatir.

"Kalau kamu capek, kamu bisa bersandar di bahuku," katanya lembut.

"Aku akan selalu ada untukmu," imbuhnya, suaranya terdengar tulus.

Aku menatap Leon dan tersenyum samar. "Terima kasih, Leon. Kata-katamu manis sekali," jawabku pelan.

Aku... Menyandarkan kepalaku pada bahu Leon. Rasanya, sangat nyaman.

***

Beberapa jam berlalu, operasi ibuku akhirnya selesai, dan beliau dipindahkan ke ruang rawat VIP.

Aku tersenyum senang ketika ibuku perlahan membuka matanya.

"Nduk, suamimu mana? Kok kamu sendirian?" tanya Ibu dengan suara lemah dan serak.

"Mas Yuan lagi sibuk, Bu. Tapi tadi sempat ke sini kok," jawabku, tersenyum kecil.

Aku selalu berusaha mengatakan hal-hal baik tentang Mas Yuan di depan ibuku.

Aku tidak ingin membuat ibuku kepikiran. Yang paling penting bagiku hanyalah kesehatan ibuku.

Aku menggenggam tangan ibuku dan menciumnya lembut.

"Bu... Ibu istirahat saja. Jangan banyak bicara," pintaku.

Ibuku mengangguk pelan, lalu kembali memejamkan matanya.

Aku memperhatikan wajah ibuku yang mulai tenang.

Karena aku tidak ingin meninggalkan ibuku sendirian, aku memutuskan untuk menginap di rumah sakit malam ini.

Untungnya, ruang VIP tempat ibuku dirawat memiliki kamar khusus untuk keluarga yang menunggu, jadi aku bisa beristirahat tanpa jauh darinya.

Aku merebahkan tubuh di sofa panjang, menatap langit-langit putih ruangan.

"Huuhhh...."

Ingatanku melayang pada masa lalu.

Setelah menjual rumah dan sawah di kampung demi membantu bisnis Mas Yuan yang hampir bangkrut, ibuku ikut bersamaku ke kota.

Ibuku lebih memilih tinggal di panti jompo daripada tinggal bersamaku dan Mas Yuan. Aku tidak pernah memaksa beliau karena memahami alasannya.

Ibuku tidak suka kesepian, sedangkan aku dan Mas Yuan jarang di rumah. Di panti jompo, beliau punya banyak teman untuk berbagi cerita dan tawa.

***

Keesokan harinya.

Aku pulang ke apartemen untuk mengambil beberapa potong pakaian santai.

Saat aku membuka pintu kamar, langkahku terhenti paksa akibat terkejut.

Aku melihat Desy sedang duduk santai di ranjangku. Ia tampak panik begitu menyadari kehadiranku. Ia pun buru-buru berdiri dan menghampiriku.

"Mbak...."

Aku memperhatikan rambut Desy yang masih sedikit basah. Sepertinya dia baru saja mandi.

Dia... Mandi di kamar mandiku, ya?

Aku hanya tersenyum getir sambil berjalan melewatinya menuju lemari.

Karena aku tak menghiraukannya, Desy berusaha menarik perhatianku.

"Mbak Lia kok pulang? Katanya lagi nemenin ibu Mbak di rumah sakit?" tanyanya, menyentuh lenganku.

"Kenapa? Aku nggak boleh pulang ke apartemen yang biaya sewanya aku bayar pakai uangku?" ketusku.

Aku memiringkan kepala, menatap Desy tajam. "Lagi pula, ngapain kamu di kamarku saat aku nggak ada?"

Aku mendengus pelan ketika menyadari kalau Desy memakai gaun tidurku. Perempuan satu ini... Sungguh lancang.

Ah, ya... Aku lupa. Dia 'kan sudah tidur dengan suamiku.

Mengenakan barang orang lain tanpa izin pasti bukan hal tabu baginya.

"Desy, kenapa kamu pakai pakaianku tanpa izin?" tanyaku, datar.

Belum sempat Desy menjawab, aku sudah memotong, "Gaun ini mahal, kamu nggak mungkin bisa membelinya. Tapi tenang saja, kamu boleh ambil. Aku udah nggak menginginkannya."

Wajah Desy tampak tersinggung, tapi dia terlihat berusaha menahan diri.

"Mbak Lia... Maafin aku, aku nggak sopan banget. Habisnya, Paman yang nyuruh aku pakai," katanya lembut, suaranya dibuat semanja mungkin.

"Asal kamu tahu, semua bajuku, aku beli pakai uangku sendiri. Jadi, Mas Yuan nggak punya hak buat ngizinin siapa pun menyentuh, apalagi sampai memakainya," balasku dengan senyum remeh.

"Ih... Mbak Lia kenapa sih? Kok jahat banget? Lagian, biasanya Mbak bolehin aku pakai barang Mbak, kok sekarang gini?" ujarnya berwajah sedih.

Dengan senyun tipis, aku menatap Desy tajam. "Sudah aku bilang, pakaianku yang kamu kenakan sekarang sudah jadi milikmu. Aku... Tidak menginginkannya lagi."

Desy mengerjapkan mata. Aku tahu dia kesal. Tapi, bukan Desy namanya kalau nggak pandai berakting.

Benar saja, ia merangkul lenganku dan mengelusnya.

"Mbak Lia... Aku beneran minta maaf. Lain kali aku bakal minta izin dulu," rajuknya.

Aku menarik napas panjang, menyingkirkan lengan Desy dengan pelan.

"Mending kamu keluar dari kamarku," usirku secara baik-baik.

Aku membuka lemari dan mengambil tas kecil yang kubeli di Singapura. Tas yang diinginkan oleh Desy. Tas yang seharusnya aku berikan padanya.

"Mbak Lia? Katanya nggak beli tas ini?" Desy langsung menyentuh tas di tanganku dan berusaha merebutnya. Untung aku cepat mengamankannya.

"Mbak Lia? Kok gitu? Itu tasku 'kan?" Desy mengerucutkan bibir.

"Tasmu? Sejak kapan? Aku yang beli tas ini, berarti tas ini milikku," balasku cepat.

Tiba-tiba suara pintu kamar mandi terbuka. Kami berdua langsung menoleh.

Mas Yuan keluar dengan rambut basah. Tatapan terkejutnya langsung tertuju padaku. Ia buru-buru menghampiri kami.

Aku memperhatikan Mas Yuan. Rambutnya yang masih meneteskan air... Oh aku tahu, kalian baru saja bercinta di ranjangku.

Rasa mual langsung naik ke tenggorokanku.

"Lia? Kamu ngapain di sini?" Itu pertanyaan pertama yang keluar dari mulut suamiku.

"Ngapain aku di kamarku sendiri?" ulangku sinis.

Desy buru-buru membuka suara. "Paman... Mbak Lia nggak mau ngasih tas yang aku pesan ke aku."

"Lia? Cepat serahkan tas yang dipesan Desy," perintah Mas Yuan, meninggikan suaranya.

Sungguh konyol.

"Kenapa aku harus menyerahkan tasku pada Desy? Tas ini milikku. Aku membelinya dengan uangku sendiri," jawabku tegas, tanpa ragu.

"Paman... Mbak Lia kok gitu?" adu Desy manja. "Aku pengen tas itu."

"Lia! Berikan tasnya kepada Desy!" bentak Mas Yuan.

Aku mendengus kesal. "Tas ini harganya sepuluh juta, sedangkan tas yang Desy pesan lima juta! Dari harganya aja sudah beda jauh! Ini bukan tas yang dia maksud!"

"Tapi... Mbak, model dan warnanya mirip banget," lirih Desy, pura-pura tak berdaya.

"Lia, sebagai orang dewasa, seharusnya kamu bisa ngalah. Berikan saja tas itu pada Desy, meskipun bukan pesanan dia." Mas Yuan lebih memihak pada Desy, ketimbang aku, istrinya.

Ah... Seharusnya aku tidak perlu terkejut. Mereka adalah sepasang kekasih yang saling mencintai.

Kendati demikian, aku tak ingin mengalah.

Aku menatap Mas Yuan tajam. "Kenapa aku harus memberikannya pada Desy?" suaraku naik setingkat.

"Kamu! Berani-beraninya bicara keras sama suamimu!" geram Mas Yuan.

Situasi semakin panas. Desy pun langsung memainkan perannya dengan sempurna, ia menyandarkan tubuhnya pada lengan Mas Yuan, mengelusnya lembut.

"Paman... Tolong jangan marahi Mbak Lia," ujarnya.

"Tas itu biar buat Mbak Lia aja. Aku nggak masalah kok. Pokoknya, Paman sama Mbak Lia jangan berantem," imbuhnya, dengan ekspresi sedih yang dibuat-buat.

"Tas ini buat aku saja?" sahutku, sinis. "Sejak awal tas ini memang milikku! Aku beli pakai uangku sendiri! Nggak sepeser pun pakai uang Mas Yuan!" cerocosku, tak bisa menahan amarah.

Rasanya ingin sekali aku menampar wajah sok polos Desy itu.

"Mbak Lia...." rengek Desy, semakin bergelayut manja di lengan suamiku.

"Lia, kamu...." desis Mas Yuan, nadanya mengancam.

Aku menatap keduanya bergantian. Mas Yuan, suami yang tidak pernah membelaku, dan Desy, perempuan yang bersembunyi di balik topeng manisnya.

"Mas Yuan... Desy," ucapku pelan tapi dingin, "Ngomong-ngomong... Kalian berdua ada di kamar yang sama, sementara aku nggak di rumah. Apa yang sebenarnya kalian lakukan?"

Mas Yuan langsung membentak, suaranya meledak. "Apa maksud dari pertanyaanmu itu?! Hei! Kamu pikir hubunganku dengan Desy itu apa?! Desy keponakanku!"

Keponakan? Aku terkekeh mendengarnya. Mana ada paman yang tidur dengan keponakannya sendiri? Hubungan kalian sangat menjijikkan.

Aku menarik napas dalam-dalam, mencoba menahan emosi yang membuncah. "Aku nggak mau berdebat. Ibuku sedang di rumah sakit. Aku harus kembali ke sana."

Tanpa menunggu reaksi mereka, aku segera memasukkan beberapa potong pakaian ke dalam tas, lalu bergegas keluar dari apartemen.

***

Hari demi hari berlalu.

Berhubung kondisi ibuku belum stabil, beliau tidak diperbolehkan pulang. Jadi, aku memutuskan untuk tetap tinggal di rumah sakit demi menjaganya.

Setiap pagi aku berangkat kerja dari rumah sakit.

Pagi ini, sesampainya di kantor, aku langsung dihadang oleh Kevin yang duduk di kursiku.

Aku menatapnya heran. Ini pertama kalinya Kevin datang sepagi ini. Tumben sekali. Jangan-jangan ada sesuatu yang merasukinya.

"Ada apa, Bos?" tanyaku, mengernyit bingung.

"Lia, kamu ada hubungan apa sama Leon?" lontar Kevin tiba-tiba, nadanya terdengar tajam. "Bukannya kamu sudah menikah?"

Aku langsung kaku di tempat. Jantungku berdebar cepat. Mungkinkah... Hubungan terlarangku dengan Leon ketahuan?

Kevin menghela napas panjang, suaranya terdengar berat.

"Kamu tahu, 'kan, seberapa kejam perusahaan ini dalam menghukum karyawannya? Kenapa malah muncul rumor kamu punya hubungan sama pegawai magang?" katanya, seakan khawatir.

Meskipun Kevin termasuk atasan yang menyebalkan, tapi aku tahu, dia perhatian, dan tak ingin anak buahnya jatuh.

"Siapa sih, Bos, yang nyebarin rumor kayak gitu?" tanyaku, berusaha mencairkan suasana.

"Mana mungkin aku punya hubungan sama Leon. Kami itu profesional," kilahku cepat, sambil tersenyum canggung.

Kevin menatapku tajam beberapa detik, lalu berkata, "Oh... Berarti cuma gosip doang, nih?"

"Iya, Bos. Cuma gosip. Lagian, siapa yang nyebar hal kayak gitu? Pasti orang nganggur," timpalku sambil tertawa kecil.

Namun tawaku langsung lenyap saat Kevin menatapku lebih dalam dan berkata datar, "Terus... Kamu beneran mandul?"

Aku membulatkan mata. Barisan dia ngomong apa? Mandul?

Kenapa tiba-tiba Kevin menyinggung soal itu? Dari gosip juga kah?

Kevin menyerahkan ponselnya padaku. Di layar terlihat ulasan di situs perusahaan. Dan di sana ada tulisan yang menjelek-jelekkan diriku secara pribadi.

Mataku membesar, tak percaya. Ada yang sampai tega menulis hal sekeji itu di tempat umum.

"Apakah kamu punya musuh?" tanya Kevin, nada bicaranya kini agak lembut.

Aku menggeleng cepat. "Tidak, Bos. Aku nggak punya musuh."

Aku menggelengkan kepalaku. Perasaan, aku nggak punya musuh. lantas, kenapa ada orang yang berniat menjatuhkanku? Orang itu membuat akun untuk memberi ulasan negatif di website perusahaan.

Siapa orang itu? Aku harus mencari tahu.

Kevin menatapku sejenak, sebelum berkata tegas, "Aku akan menyuruh tim IT untuk menghapus ulasan itu dan memperbarui halaman website. Kamu fokus saja pada pekerjaanmu. Jangan terlalu dipikirkan. Aku cuma ingin konfirmsi langsung darimu."

Aku menarik napas lega dan tersenyum kecil. "Terima kasih, Bos! Aku janji nggak akan mengecewakan perusahaan!" seruku penuh semangat.

Aku duduk di kursiku setelah Kevin pergi.

Seperti biasa, aku menyalakan komputer, memeriksa email yang menumpuk sejak kemarin sore.

Saat aku sedang fokus pada layar, suara langkah ringan terdengar mendekat.

Tak lama kemudian, Desy muncul dan meletakkan sebuah kotak bekal di samping keyboard-ku. Aku otomatis menoleh.

"Ada apa, Desy? Aku nggak punya waktu buat ngobrol sama kamu," ucapku dingin, tanpa basa-basi.

"Mbak Lia... Aku nggak maksud ganggu pagi kamu, kok," katanya lembut.

"Aku cuma mau ngasih makanan ke Mbak Lia. Sebagai permintaan maafku," lanjutnya dengan senyum yang tampak tulus di permukaan, tapi terasa palsu bagiku.

Aku mendengus pelan. Kalau saja aku tidak tahu kebusukannya, mungkin aku akan luluh.

Aku menatap Desy sambil tersenyum datar. "Terima kasih," kataku, mencoba mengakhiri interaksi kami. "Sekarang, tolong biarkan aku bekerja. Tinggalkan aku sendiri."

Bukannya pergi, Desy malah duduk di kursi kosong di sebelahku.

"Mbak Lia... Akhir-akhir ini aku nggak bisa tidur mikirin Mbak. Nanti, sepulang kerja, aku jenguk ibu Mbak ya," pintanya, dengan suara manja yang dibuat-buat.

"Maaf ya, ibuku butuh istirahat yang cukup. Nggak boleh dikunjungi siapa pun," tolakku cepat.

Aku tak mau mengambil risiko lagi. Aku masih ingat kejadian dulu, saat Desy mendorong ibuku dari tangga.

Waktu itu Desy bilang tidak sengaja, tapi semakin kupikir, semakin aku yakin, kalau itu bukan kecelakaan. Desy pasti melakukannya dengan sengaja.

"Begitu ya, Mbak. Oh! Nanti aku pergi ke kuil, aku akan mendoakan ibu Mbak," katanya ceria.

"Nggak perlu repot-repot mendoakan ibuku. Lebih baik kamu mendoakan ibumu saja. Bukankah ibumu terkena kolestrol?" balasku, tersenyum tipis.

Wajah Desy langsung berubah. "Mbak Lia, tahu dari mana kalau ibuku terkena kolestrol?" tanyanya, pelan, matanya meneliti wajahku.

"Ibumu, 'kan pernah masuk rumah sakit gara-gara kolestrolnya naik," jawabku, baru teringat.

"Oh ya, waktu itu, aku loh yang membayar biaya pengobatan ibumu. Kamu nggak tahu, ya? Wajar, kamu, 'kan sama sekali tidak menengok ibumu di rumah sakit," cerocosku, dengan nada yang sengaja kutekankan.

Desy tampak kikuk. Matanya berkelit, dan senyum manisnya menguap begitu saja.

"Mbak Lia, aku ke mejaku dulu, ya! Pengen ngobrol sama Mas Leon!" pamitnya cepat-cepat, nyaris tergesa.

Aku memandang punggung Desy yang menjauh. Dalam hati aku mendengus sinis.

Desy... Kamu sudah merebut suamiku. Dan sekarang, kamu juga ingin mendekati Leon? Tidak akan aku biarkan. Kamu tidak akan memiliki segalanya.

Ponselku yang berdering menarik perhatianku. Aku meraihnya, lalu membuka pesan dari Mas Yuan. Pria bajingan itu mengirim foto rumah kami yang sedang dibangun.

Mau sampai kapan dia terus memerasku, dan membohongiku? Dasar ular berbisa.

Aku sengaja tidak membalas pesan darinya.

Kalau diingat-ingat, hampir seminggu aku tidak pulang ke apartemen. Entah sudah berapa kali Mas Yuan dan Desy bercinta di sana.

Aku meletakkan ponsel di meja, menarik napas panjang, lalu kembali fokus membalas email yang menumpuk.

***

Waktu jam makan siang, aku berdiri bersama rekan-rekanku sambil berbincang. Mereka memberitahuku soal akun di media sosial yang sedang menyebarkan rumor tak sedap tentangku.

Di layar ponsel salah satu dari mereka, tampak akun yang mengolok-olok namaku.

"Bukankah ini akun bodong? Followersnya saja nggak ada," komentarku, menahan geli.

"Berarti dia sengaja bikin akun untuk menghinamu. Benar-benar menyeramkan," timpal seorang teman.

"Dia pasti benci banget sama kamu," sahut yang lain.

"Lia, kamu harus laporin ini ke polisi. Ini jelas pencemaran nama baik," saran salah satu teman.

"Benar. Kamu seorang buyer. Reputasimu penting buat brand. Masukin ke jeruji besi, si penyebar hoax ini," tambah teman lain setuju.

Aku menatap nama akun itu di layar. "Monyet Naik Kursi". Nama yang aneh, tapi cukup menggambarkan niatnya.

"Iya... Kalau akun ini berulah lagi, bakal aku laporin," kataku sambil tersenyum kecil.

Saat kami lewat dekat meja Desy, mataku menangkap tablet yang tergeletak di sana.

Aku meminta teman-temanku untuk duluan karena aku ingin mengamankan barang milik Desy. Mereka mengerti dan meninggalkanku.

Aku meraih tablet Desy dan tersenyum kecil. Ternyata layarnya tidak dikunci. Iseng, kuklik beberapa menu.

Dan tebak, apa yang kutemukan? Akun I*******m bernama Monyet Naik Kursi, ternyata milik Desy.

Lihatlah... Bagaimana Dewa membantuku menangkap basah orang-orang yang menyakitiku.

Sepertinya aku tak membutuhkan polisi untuk menyelesaikan masalah ini. Aku... Aku akan menyerang balik Desy.

Permainan baru saja dimulai. Jangan berhenti, Desy... Karena kamu yang mengawalinya.

Menggunakan akun itu, aku membuat beberapa postingan tentang Kevin yang genit dan tak bermartabat. Aku juga menulis unggahan lain yang menyinggung Leon, rekan kerjaku yang lain.

Setelah puas melakukannya, aku buru-buru meletakkan tablet itu ke tempat semula, lalu menyusul teman-temanku.

Di kantin. Dengan nampan berisi makanan kesukaanku, aku duduk di hadapan Leon dan Desy.

"Kalian berdua dekat banget. Udah jadian ya?" candaku.

Leon meletakkan sendoknya. Wajahnya tampak tak senang mendengar ucapanku, sedangkan Desy malah tersipu malu.

"Sudah jelas-jelas keponakan Mbak yang nempel terus kayak lintah," protes Leon. "Dia bisa bikin aku anemia," imbuhnya.

Aku tertawa kecil. "Desy sangat cantik, kulitnya putih seperti vampir. Dia bukan lintah," timpalku.

"Mbak Lia pikir vampir tidak menyeramkan? Mereka memiliki taring. Justru lebih menjijikkan daripada lintah," balas Leon, mengolok Desy.

"Mas Leon kejam banget mulutnya," sahut Desy, kesal.

"Leon memang kejam," kataku, terkekeh pelan.

Dengan wajah cemberut, Desy bertanya, "Mbak Lia enggak makan bekal dariku?"

"Oh... Bekalmu diminta sama Bos Kevin. Kayaknya dia naksir sama kamu deh," tuturku, berbohong.

"Apa? Pak Kevin nggak mungkin naksir aku. Bukankah dia sudah punya istri dan anak?" tanya Desy malu-malu.

"Bos Kevin memang punya banyak anak, tapi beliau tidak memiliki istri," jawabku, memberitahunya.

"Dan kebetulan, Bos Kevin sedang mencari istri untuk mewarisi hartanya yang triliunan," tambahku, agar terdengar lebih meyakinkan.

"Nah, lebih baik kamu mendekati Bos Kevin, dia itu konglomerat," saran Leon. "Sedangkan aku, aku ini orang miskin, mokondo," imbuhnya.

Leon orang miskin? Aku baru tahu. Tapi... Bukankah motor sport yang ia pakai setiap hari harganya ratusan juta? Hm, sepertinya Leon sedang ngibul.

"Mas Leon nggak mungkin orang miskin. Kemarin aku lihat merk parfum yang Mas pakai, itu harganya jutaan," sanggah Desy.

Leon berdecap. "Itu palsu. Sekarang banyak barang palsu," jelasnya.

"Terus, motor Mas gimana? Itu motor edisi terbatas, hanya beberapa orang yang memilikinya, dan Mas salah satunya!" sembur Desy masih tak percaya.

Aku kagum dengan Desy yang bisa mengulik informasi tentang Leon. Sungguh luar biasa. Kenapa kamu tidak jadi detektif saja, Desy?

"Di dunia ini ada teknologi yang bernama rental. Gunakan otakmu, Desy," sungut Leon, terdengar kesal.

Desy cemberut. Ia tampak kehilangan selera makan.

"Yang pasti-pasti saja, Bos Kevin tajir melintir. Dia layak diperjuangkan," tandas Leon.

"Mas Leon lebih ganteng! Kalau Mas Leon nggak punya uang, aku bisa menghidupimu, Mas!" ujar Desy, mantap.

Leon menghela napas lelah, sementara aku menahan tawa.

"Kalian berdua cocok, loh...." ucapku.

"Nggak cocok. Aku sukanya sama istri orang!" tukas Leon, menatapku.

Desy langsung terkejut sampai menutup mulutnya dengan tangan.

"Mas Leon? Kenapa menyukai wanita yang sudah kendor, dan dipakai sama suaminya berkali-kali. Mending sama aku yang masih ting-ting," rayu Desy, bersuara genit.

Ok, Desy menyindirku.

"Ngomong tai," gumam Leon.

Aku menunduk, merasa tidak nyaman.

"Mbak Lia, makanannya jangan hanya dilihat," tegur Leon, memperhatikanku.

"Ah iya, agak nggak napsu makan," balasku seadanya.

"Jangan begitu, aku nggak pengen kamu sakit," tegas Leon.

Ah... Leon, kenapa kamu harus menunjukkan perhatianmu di depan Desy? Aku jadi senang.

Aku tersenyum. "Napsu makanku kembali lagi!" kataku, sedikit menggodanya.

"Apaan, sih, Mbak Lia? Genit banget. Ingat suami di rumah," cibir Desy tak senang.

Aku tak membalas cibiran Desy. Aku memilih berbincang dengan Leon.

Tak lama kemudian, suasana kantin menjadi gaduh.

Ternyata, postingan yang kubuat lewat akun Monyet Naik Kursi, langsung menjadi bahan perbincangan anak-anak kantor.

Semua pegawai yang makan di kantin, terlihat kesal dan geram terhadap tindakan akun itu.

"Sepertinya, semua pegawai akan melaporkan akun bernama Monyet Naik Kursi."

Bersambung...

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Godaan Panas Pegawai Magang   Bab. 32. KEHIDUPAN ASLI LEON

    Besoknya, aku terbangun di siang bolong. Saat menyadarinya, aku bergegas membersihkan diri, dan turun untuk menemui Nyonya Lusi. Rupanya, Nyonya Lusi telah menungguku, dan beliau tak marah atau kesal karena aku bangun kesiangan. Aku bisa bernapas lega. Aku pikir, sikap Nyonya Lusi akan berubah sinis. "Lia... Ayo makan siang dulu. Aku sengaja masak makanan kesukaan kamu," ajak Nyonya Lusi, tersenyun ramah. Aku duduk di kursi yang ditunjuk Nyonya Lusi. Dan beliau langsung mengisi piringku dengan beberapa makanan. "Terima kasih, Nyonya," kataku. "Jangan panggil nyonya. Aku ini calon ibu mertuamu. Panggil ibu saja, biar lebih akrab," timpal Nyonya Lusi, menepuk punggung tanganku pelan. Aku mengangguk penuh antusias. "Iya, Ibu...."Kami pun makan berdua tanpa ditemani Leon yang sedang mengurus suatu hal penting. Setelah makan siang, Nyonya Lusi mengajakku berkeliling mansion. Beliau menceritakan mengenai Leon,

  • Godaan Panas Pegawai Magang   Bab. 31. BERTEMU CALON IBU MERTUA

    Leon baru puas dan berhenti setelah keluar lima kali. Dia benar-benar gila. Sekarang ia berbaring di sampingku sambil meny*su seperti bayi. "Leon...." panggilku lirih. "Hm?" Leon menanggapi tanpa membuka matanya. "Dadaku sakit...." keluhku. "Sudah, jangan dihisap lagi," pintaku, suaraku parau.Leon menurut tanpa drama. Bahkan ia langsung meminta maaf. Aku tak mempermasalahkan hal tersebut.Aku meraih ponsel milik Leon yang tergeletak di atas nakas. Aku menyalakannya, dan terkejut mengetahui jika waktu sudah menunjukkan pukul dua pagi. Itu artinya, kami berdua bermain seharian penuh. Pantas saja, tubuhku terasa hancur. Aku menggoyang-goyang pelan pundak Leon, membangunkan lelaki itu."Leon... Ayo kita pindah kamar. Ranjang di sini basah. Aku... Tidak bisa tidur nyeyak," ajakku, ketika Leon memperhatikanku.Dengan wajah lelah, dan napas berat, Leon bangkit dari ranjang. Ia meraih celana pendek, lalu mengenakan

  • Godaan Panas Pegawai Magang   Bab. 30. HAMPIR BERCINTA DI MEJA DAPUR

    Aku tertawa melihat Desy kebingungan."Desy... Desy... Rumah ini dibangun menggunakan uangku. Tentu saja, rumahku. Masak... Rumahmu?" ledekku."Ini rumah Mas Yuan yang dikasih ke aku!" ujar Desy, menyangkal pernyataanku.Suara tawaku semakin kencang. Kalimat yang dilontarkan Desy barusan, sangat menghiburku.Baiklah, aku harus menghentikan tawaku dan memberitahu Desy yang sebenarnya. "Mas Yuan menipumu," kataku."Apa? Menipuku? Enggak mungkin. Rumah ini... Mahar dari Mas Yuan," gumam Desy, terduduk di atas lantai dengan tubuh lemas. "Mas Yuan keterlaluan! Tak hanya menikahiku secara palsu, bahkan dia menikahimu dengan mahar palsu! Benar-benar berengs*k!" seruku, sambil menghentakkan kakiku, pura-pura kesal. "Desy... Bagaimana jika kamu pastikan dulu, apakah harta gono-gini yang diberikan Yuan itu beneran asli," saran Leon, yang sedari tadi diam. Aku langsung setuju dengan Leon. "Mas Yuan j

  • Godaan Panas Pegawai Magang   Bab. 29. AKHIRNYA BERCERAI JUGA

    Mas Yuan mengepalkan kedua tangannya. Wajahnya merah padam, menandakan jika ia benar-benar marah. "Desy! Coba, ulangi lagi perkataanmu!"Baru kali ini aku mendengar Mas Yuan membentak Desy. Pertunjukkan yang menarik. "Aku! Men-cin-tai Mas Leon! Hanya Mas Leon!" teriak Desy tepat di wajah Mas Yuan. 'Plak!' Satu tamparan keras menghantam pipi Desy hingga wanita itu terhuyung, dan jatuh di atas lantai.Semua orang tercengang, tak terkecuali aku. Pak Wan buru-buru naik ke atas panggung untuk menolong putrinya yang akan mendapat pukulan lagi dari Mas Yuan. Bisik-bisik dari tamu mulai bermunculan. Aksi tak terduga Mas Yuan sangat cocok untuk dijadikan bahan gosip. Ah sial, aku ingin sekali tertawa lepas. Tapi aku harus menahannya. Simpan perayaan ini untuk nanti di rumah."Wanita sialan! Coba ulangi kata-katamu!" perintah Mas Yuan, menarik rambut Desy.Dilihat dari respons Mas Yuan yang begitu marah, di

  • Godaan Panas Pegawai Magang   Bab. 28. DRAMA RESEPSI DIMULAI

    “Walaupun kamu turut andil dalam menipuku. Tapi aku bisa mengerti, kamu pasti dipaksa oleh Mas Yuan. Jadi, sangat sulit bagiku untuk membencimu,” tuturku, bersuara lembut dan penuh perhatian.Desy meletakkan kembali sendok dan garpu yang ia pegang untuk memberiku atensi.“Mbak Lia? Kamu....” Desy tak melanjutkan kalimatnya. Mungkin ia tak memiliki kata yang pas untuk disuarakan.“Di mataku, kamu tetaplah gadis kecil yang aku sayangi. Aku ingin yang terbaik untukmu. Maka dari itu, aku sarankan untuk menceraikan Mas Yuan,” kataku, meyakinkan Desy.Aku membeberkan semua keburukan Mas Yuan selama kami tinggal bersama pada Desy. Aku juga mengatakan bahwa aku tak ingin Desy bernasib sama sepertiku, terbuang, dikhianati, dan diperlakukan seperti sapi perah.“Kamu sudah masuk dunia hiburan. Penghasilanmu bisa mencapai ratusan juta sekali posting. Kamu kira, Mas Yuan tidak akan memanfaatkan itu? Dia akan menghisapmu, menyuruhmu membayar biaya hidu

  • Godaan Panas Pegawai Magang   Bab. 27. PILIHAN SULIT DESY

    Hari ini niatku datang ke kantor untuk menemui Kevin, dan melayangkan protes atas cutiku yang diperpanjang, eh... Malah bertemu dengan Desy. Kebetulan, karena Desy yang duluan mengejekku, tak ada salahnya untuk membalasnya. "Kamu kira, setelah bercerai dari pernikahan palsu, aku bakal menghabiskan sisa hidupku dengan meratap dan menangis?" ucapku, tersenyum miring."Aku... Akan melanjutkan hidupku dengan suka cita. Apalagi, sekarang aku sudah memiliki pengganti Yuan," imbuhku, sambil terus memandang rendah Desy.Desy yang semula terduduk di lantai, perlahan mendirikan tubuhnya sendiri. Ia menarik napas dalam, lalu mengembalikan ekspresi wajahnya yang tadi bengong seperti orang kehilangan jiwa, menjadi Desy yang sombong, manja, dan penuh percaya diri.Tatapan matanya kembali tajam, dagunya sedikit terangkat, seolah tak pernah ada momen rapuh yang barusan singgah. Ia kembali mengenakan topengnya dengan rapi, menutup segala kegamangan yang

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status