Home / Romansa / Godaan Panas Pegawai Magang / Bab. 09. Gosip Buruk Tentangku

Share

Bab. 09. Gosip Buruk Tentangku

Author: Kurnia
last update Last Updated: 2025-10-17 13:00:18

Aku terkekeh pelan. Mana mungkin Leon adalah pemilik rumah sakit swasta terbesar di kota ini? Dasar aneh.

Tawa kecilku meredup, berganti dengan helaan napas panjang.

Aku lelah.

Akhir-akhir ini terlalu banyak hal yang terjadi, membuat kepalaku terasa penuh.

Mendengar napasku yang berat, Leon menatapku dengan wajah yang tampak khawatir.

"Kalau kamu capek, kamu bisa bersandar di bahuku," katanya lembut.

"Aku akan selalu ada untukmu," imbuhnya, suaranya terdengar tulus.

Aku menatapnya dan tersenyum samar. "Terima kasih, Leon. Kata-katamu manis sekali," jawabku pelan.

Aku... Benar-benar menyandarkan kepalaku pada bahunya. Rasanya, sangat nyaman.

***

Beberapa jam berlalu. Operasi ibuku akhirnya selesai, dan beliau dipindahkan ke ruang rawat VIP.

Aku tersenyum senang ketika ibuku perlahan membuka matanya.

"Nduk, suamimu mana? Kok kamu sendirian?" tanya Ibu dengan suara lemah dan serak.

"Mas Yuan lagi sibuk, Bu. Tapi tadi sempat ke sini kok," jawabku, tersenyum kecil.

Aku selalu berusaha mengatakan hal-hal baik tentang Mas Yuan di depan ibuku.

Aku tidak ingin membuat ibuku kepikiran.

Yang paling penting bagiku hanyalah kesehatan ibuku.

Aku menggenggam tangan ibuku dan menciumnya lembut.

"Bu... Ibu istirahat saja. Jangan banyak bicara," pintaku.

Ibuku mengangguk pelan, lalu kembali memejamkan matanya.

Aku memperhatikan wajah ibuku yang mulai tenang.

Ah iya, karena aku tidak ingin meninggalkan ibuku sendirian, aku memutuskan untuk menginap di rumah sakit malam ini.

Untungnya, ruang VIP tempat ibuku dirawat memiliki kamar khusus untuk keluarga, jadi aku masih bisa beristirahat tanpa jauh darinya.

Aku merebahkan tubuh di sofa panjang, menatap langit-langit putih ruangan.

"Huuhhh...."

Ingatanku melayang pada masa lalu.

Setelah menjual rumah dan sawah di kampung demi membantu bisnis Mas Yuan yang hampir bangkrut, ibuku ikut bersamaku ke kota.

Namun, beliau lebih memilih tinggal di panti jompo daripada tinggal bersamaku dan Mas Yuan. Aku tidak pernah memaksa beliau karena memahami alasannya.

Ibuku memang tidak suka kesepian, sedangkan aku dan Mas Yuan jarang di rumah. Di panti jompo, beliau punya banyak teman untuk berbagi cerita dan tawa.

***

Keesokan harinya, aku pulang ke apartemen untuk mengambil beberapa potong pakaian santai.

Begitu membuka pintu kamar, langkahku langsung terhenti.

Aku menemukan Desy sedang duduk santai di ranjangku. Ia tampak panik begitu menyadari kehadiranku, lalu ia buru-buru berdiri dan menghampiriku.

"Mbak...."

Aku memperhatikan rambutnya yang masih sedikit basah. Sepertinya dia baru saja mandi. Mandi di kamar mandiku, ya?

Aku hanya tersenyum getir sambil berjalan melewatinya menuju lemari.

Karena aku tak menghiraukannya, Desy berusaha menarik perhatianku.

"Mbak Lia kok pulang? Katanya lagi nemenin ibu Mbak di rumah sakit?" tanyanya, menyentuh lenganku.

"Kenapa? Aku nggak boleh pulang ke apartemen yang biaya sewanya aku bayar pakai uangku?" ketusku.

Aku memiringkan kepala, menatapnya tajam. "Lagi pula, ngapain kamu di kamarku saat aku nggak ada?"

Aku mendengus pelan ketika menyadari kalau Desy memakai gaun tidurku. Perempuan satu ini benar-benar lancang.

Ah, ya... Aku lupa. Dia 'kan sudah tidur dengan suamiku.

Mengenakan barang orang lain tanpa izin pasti bukan hal tabu baginya.

"Desy, kenapa kamu pakai pakaianku tanpa izin?" tanyaku, datar.

Belum sempat Desy menjawab, aku sudah memotong, "Gaun ini mahal, kamu nggak mungkin bisa membelinya. Tapi tenang saja, kamu boleh ambil. Aku udah nggak menginginkannya."

Wajah Desy tampak tersinggung, tapi dia terlihat berusaha menahan diri.

"Mbak Lia... Maafin aku, aku nggak sopan banget. Habisnya, Paman yang nyuruh aku pakai," katanya lembut, suaranya dibuat semanja mungkin.

"Asal kamu tahu, semua bajuku, aku beli pakai uangku sendiri. Jadi Mas Yuan nggak punya hak buat ngizinin siapa pun menyentuh, apalagi sampai memakainya," balasku dengan senyum remeh.

"Ih... Mbak Lia kenapa sih? Kok jahat banget? Lagian, biasanya Mbak bolehin aku pakai barang Mbak, kok sekarang gini?" ujarnya berwajah sedih.

Dengan senyun tipis, aku menatapnya tajam. "Sudah aku bilang, pakaianku yang kamu kenakan sekarang sudah jadi milikmu. Aku... Tidak menginginkannya lagi."

Desy mengerjapkan mata. Aku tahu dia kesal. Tapi, bukan Desy namanya kalau nggak pandai berakting.

Benar saja, ia merangkul lenganku dan mengelusnya lembut.

"Mbak Lia... Aku beneran minta maaf. Lain kali aku bakal minta izin dulu," rajuknya.

Aku menarik napas panjang, menyingkirkan lengannya dengan pelan.

"Mending kamu keluar dari kamarku," usirku secara baik-baik.

Aku membuka lemari dan mengambil tas kecil yang kubeli di Singapura. Tas yang diinginkan oleh Desy. Tas yang seharusnya aku berikan padanya.

"Mbak Lia? Katanya nggak beli tas ini?" Desy langsung menyentuh tas di tanganku dan berusaha merebutnya. Untung aku cepat mengamankannya.

"Mbak Lia? Kok gitu? Itu tasku 'kan?" Desy mengerucutkan bibir.

"Tasmu? Sejak kapan? Aku yang beli tas ini, berarti tas ini milikku," balasku cepat.

Tiba-tiba suara pintu kamar mandi terbuka. Kami berdua langsung menoleh.

Mas Yuan keluar dengan rambut basah. Tatapan terkejutnya langsung tertuju padaku. Ia buru-buru menghampiri.

Dadaku terasa sesak. Rambutnya yang masih meneteskan air... Oh aku tahu, kalian baru saja bercinta di ranjangku.

Rasa mual langsung naik ke tenggorokan.

"Lia? Kamu ngapain di sini?" Itu pertanyaan pertama yang keluar dari mulut suamiku.

"Ngapain aku di kamarku sendiri?" ulangku sinis.

Desy buru-buru membuka suara. "Paman... Mbak Lia nggak mau ngasih tas yang aku pesan ke aku."

"Lia? Cepat serahkan tas yang dipesan Desy," perintah Mas Yuan, meninggikan suaranya.

Sungguh konyol.

"Kenapa aku harus menyerahkan tasku pada Desy? Tas ini milikku. Aku membelinya dengan uangku sendiri," jawabku tegas, tanpa ragu.

"Paman... Mbak Lia kok gitu?" adu Desy manja. "Aku pengen tas itu."

"Lia! Berikan tasnya kepada Desy!" bentak Mas Yuan.

Aku mendengus kesal. "Tas ini harganya sepuluh juta, sedangkan tas yang Desy pesan lima juta! Dari harganya aja sudah beda jauh! Ini bukan tas yang dia maksud!"

"Tapi... Mbak, model dan warnanya mirip banget," lirih Desy, pura-pura tak berdaya.

"Lia, sebagai orang dewasa, seharusnya kamu bisa ngalah. Berikan saja tas itu pada Desy, meskipun bukan pesanan dia." Mas Yuan lebih memihak pada Desy, ketimbang aku, istrinya.

Ah... Seharusnya aku tidak perlu terkejut. Mereka adalah sepasang kekasih yang saling mencintai.

Kendati demikian, aku tak ingin mengalah.

Aku menatap Mas Yuan tajam. "Kenapa aku harus memberikannya pada Desy?" suaraku naik setingkat.

"Kamu! Berani-beraninya bicara keras sama suamimu!" geram Mas Yuan.

Situasi semakin panas. Desy pun langsung memainkan perannya dengan sempurna, ia menyandarkan tubuhnya pada lengan Mas Yuan, mengelusnya lembut.

"Paman... Tolong jangan marahi Mbak Lia," ujarnya lembut.

"Tas itu biar buat Mbak Lia aja. Aku nggak masalah kok. Pokoknya, Paman sama Mbak Lia jangan berantem," imbuhnya, dengan ekspresi sedih yang dibuat-buat.

"Tas ini buat aku saja?" sahutku, sinis. "Sejak awal tas ini memang milikku! Aku beli pakai uangku sendiri! Nggak sepeser pun pakai uang Mas Yuan!" cerocosku, tak bisa menahan amarah.

Rasanya ingin sekali aku menampar wajah sok polos Desy itu.

"Mbak Lia...." rengek Desy, semakin bergelayut manja di lengan suamiku.

"Lia, kamu...." desis Mas Yuan, nadanya mengancam.

Aku menatap keduanya bergantian. Mas Yuan, suami yang tidak pernah membelaku, dan Desy, perempuan yang bersembunyi di balik topeng manisnya.

"Mas Yuan... Desy," ucapku pelan tapi dingin, "Ngomong-ngomong... Kalian berdua ada di kamar yang sama, sementara aku nggak di rumah. Apa yang sebenarnya kalian lakukan?"

Mas Yuan langsung membentak, suaranya meledak. "Apa maksud dari pertanyaanmu itu?! Hei! Kamu pikir hubunganku dengan Desy itu apa?! Desy keponakanku!"

Keponakan? Aku terkekeh mendengarnya. Mana ada paman yang tidur dengan keponakannya sendiri? Hubungan kalian sangat menjijikkan.

Aku menarik napas dalam-dalam, mencoba menahan emosi yang membuncah. "Aku nggak mau berdebat. Ibuku sedang di rumah sakit. Aku harus kembali ke sana."

Tanpa menunggu reaksi mereka, aku segera memasukkan beberapa potong pakaian ke dalam tas, lalu bergegas keluar dari apartemen.

***

Hari demi hari berlalu. Karena kondisi ibuku belum stabil, beliau belum diperbolehkan pulang. Jadi aku memutuskan untuk tetap tinggal di rumah sakit demi menjaganya.

Setiap pagi aku berangkat kerja dari rumah sakit.

Pagi ini, sesampainya di kantor, aku langsung dihadang oleh Kevin yang duduk di kursiku.

Aku menatapnya heran. Ini pertama kalinya Kevin datang sepagi ini. Tumben sekali. Jangan-jangan ada sesuatu yang "merasukinya"?

"Ada apa, Bos?" tanyaku, mengernyit bingung.

"Lia, kamu ada hubungan apa sama Leon?" lontar Kevin tiba-tiba, nadanya terdengar tajam. "Bukannya kamu sudah menikah?"

Aku langsung kaku di tempat. Jantungku berdebar cepat. Mungkinkah... Hubungan terlarangku dengan Leon ketahuan?

Kevin menghela napas panjang, suaranya terdengar berat.

"Kamu tahu, 'kan, seberapa kejam perusahaan ini dalam menghukum karyawannya? Kenapa malah muncul rumor kamu punya hubungan sama pegawai magang?" katanya, seakan khawatir.

Meskipun Kevin termasuk atasan yang menyebalkan, tapi aku tahu, dia begitu perhatian, dan tak ingin anak buahnya jatuh.

"Siapa sih, Bos, yang nyebarin rumor kayak gitu?" tanyaku, berusaha mencairkan suasana.

"Mana mungkin aku punya hubungan sama Leon. Kami itu profesional," kilahku cepat, sambil tersenyum canggung.

Kevin menatapku tajam beberapa detik, lalu berkata, "Oh... Berarti cuma gosip doang, nih?"

"Iya, Bos. Cuma gosip. Lagian, siapa yang nyebar hal kayak gitu? Pasti orang nganggur," timpalku sambil tertawa kecil.

Namun tawa itu langsung lenyap saat Kevin menatapku lebih dalam dan berkata datar, "Terus... Kamu beneran mandul?"

Aku membulatkan mata. Apa barusan yang dia katakan?

Kenapa tiba-tiba Kevin menyinggung soal itu? Dari gosip juga kah?

Kevin menyerahkan ponselnya padaku. Di layar terlihat ulasan di situs perusahaan. Dan di sana ada tulisan yang menjelek-jelekkan diriku secara pribadi.

Mataku membesar, tak percaya. Ada yang sampai tega menulis hal sekeji itu di tempat umum.

"Apakah kamu punya musuh?" tanya Kevin, nada bicaranya kini agak lembut.

Aku menggeleng cepat. "Tidak, Bos. Aku nggak punya musuh."

Aku menggelengkan kepalaku. Perasaan, aku nggak punya musuh. lantas, kenapa ada orang yang berniat menjatuhkanku? Dia membuat akun untuk memberi ulasan negatif di website perusahaan.

Siapa dia? Aku harus mencari tahu.

Kevin menatapku sejenak, lalu berkata tegas, "Aku akan menyuruh tim IT untuk menghapus ulasan itu dan memperbarui halaman website. Kamu fokus saja pada pekerjaanmu. Jangan terlalu dipikirkan. Aku cuma ingin mengonfirmasi langsung darimu."

Aku menarik napas lega dan tersenyum kecil. "Terima kasih, Bos! Aku janji nggak akan mengecewakan perusahaan!" seruku penuh semangat.

Aku duduk di kursiku setelah Kevin pergi.

Seperti biasa, aku menyalakan komputer, memeriksa email yang menumpuk sejak kemarin sore.

Saat aku sedang fokus pada layar, suara langkah ringan terdengar mendekat.

Tak lama kemudian, Desy muncul dan meletakkan sebuah kotak bekal di samping keyboard-ku. Aku otomatis menoleh.

"Ada apa, Desy? Aku nggak punya waktu buat ngobrol sama kamu," ucapku dingin, tanpa basa-basi.

"Mbak Lia... Aku nggak maksud ganggu pagi kamu, kok," katanya lembut.

"Aku cuma mau ngasih makanan ke Mbak Lia. Sebagai permintaan maafku," lanjutnya dengan senyum yang tampak tulus di permukaan, tapi terasa palsu bagiku.

Aku mendengus pelan. Kalau saja aku tidak tahu kebusukannya, mungkin aku akan luluh.

Aku menatap Desy sejenak, lalu tersenyum datar. "Terima kasih," kataku, mencoba mengakhiri interaksi kami. "Sekarang, tolong biarkan aku bekerja. Tinggalkan aku sendiri."

Bukannya pergi, Desy malah duduk di kursi kosong di sebelahku.

"Mbak Lia... Akhir-akhir ini aku nggak bisa tidur mikirin Mbak. Nanti, sepulang kerja, aku jenguk ibu Mbak ya," pintanya, dengan suara manja yang dibuat-buat.

"Maaf ya, ibuku butuh istirahat yang cukup. Nggak boleh dikunjungi siapa pun," tolakku cepat.

Aku tak mau mengambil risiko lagi. Aku masih ingat kejadian dulu, saat Desy mendorong ibuku dari tangga.

Waktu itu ia bilang tidak sengaja, tapi semakin kupikir, semakin aku yakin, kalau itu bukan kecelakaan. Desy pasti melakukannya dengan sengaja.

"Begitu ya, Mbak. Oh! Nanti aku pergi ke kuil, aku akan mendoakan ibu Mbak," katanya ceria.

"Nggak perlu repot-repot mendoakan ibuku. Lebih baik kamu mendoakan ibumu saja. Bukankah ibumu terkena kolestrol?" balasku, tersenyum tipis.

Wajah Desy langsung berubah. "Mbak Lia, tahu dari mana kalau ibuku terkena kolestrol?" tanyanya, pelan, matanya meneliti wajahku.

"Ibumu, 'kan pernah masuk rumah sakit gara-gara kolestrolnya naik," jawabku, baru teringat.

"Oh ya, waktu itu, aku loh yang membayar biaya pengobatan ibumu. Kamu nggak tahu, ya? Wajar, kamu, 'kan sama sekali tidak menengok ibumu di rumah sakit," cerocosku, dengan nada yang sengaja kutekankan.

Desy tampak kikuk. Matanya berkelit, dan senyum manisnya menguap begitu saja.

"Mbak Lia, aku ke mejaku dulu, ya! Pengen ngobrol sama Mas Leon!" pamitnya cepat-cepat, nyaris tergesa.

Aku memandang punggung Desy yang menjauh. Dalam hati aku mendengus sinis.

Desy... Kamu sudah merebut suamiku. Dan sekarang, kamu juga ingin mendekati Leon? Tidak akan aku biarkan. Kamu tidak akan memiliki segalanya.

Ponselku yang tiba-tiba berdering menarik perhatianku. Aku meraihnya, lalu membuka pesan dari Mas Yuan. Ia mengirim foto rumah kami yang sedang dibangun.

Mau sampai kapan dia terus memerasku, dan membohongiku? Dasar ular berbisa.

Aku sengaja tidak membalas pesan itu.

Hampir seminggu aku tidak pulang ke apartemen. Entah sudah berapa kali Mas Yuan dan Desy bercinta di sana.

Aku meletakkan ponsel di meja, menarik napas panjang, lalu kembali fokus membalas email yang menumpuk.

***

Waktu jam makan siang, aku berdiri bersama rekan-rekanku sambil berbincang. Mereka memberitahuku soal akun di media sosial yang sedang menyebarkan rumor tak sedap tentangku.

Di layar ponsel salah satu dari mereka, tampak akun yang mengolok-olok namaku.

"Bukankah ini akun bodong? Followersnya saja nggak ada," komentarku, menahan geli.

"Berarti dia sengaja bikin akun untuk menghinamu. Benar-benar menyeramkan," timpal seorang teman.

"Dia pasti benci banget sama kamu," sahut yang lain.

"Lia, kamu harus laporin ini ke polisi. Ini jelas pencemaran nama baik," saran salah satu teman.

"Benar. Kamu seorang buyer. Reputasimu penting buat brand. Masukin ke jeruji besi, si penyebar hoax ini," tambah teman lain setuju.

Aku menatap nama akun itu di layar. "Monyet Naik Kursi". Nama yang aneh, tapi cukup menggambarkan niatnya.

"Iya... Kalau akun ini berulah lagi, bakal aku laporin," kataku sambil tersenyum kecil.

Saat kami lewat dekat meja Desy, mataku menangkap tablet yang tergeletak di sana.

Aku meminta teman-temanku untuk duluan karena aku ingin mengamankan barang milik Desy. Mereka mengerti dan meninggalkanku.

Aku meraih tablet Desy dan tersenyum kecil. Ternyata layarnya tidak dikunci. Iseng, kuklik beberapa menu.

Dan tebak, apa yang kutemukan? Akun I*******m bernama Monyet Naik Kursi, ternyata milik Desy.

Lihatlah... Bagaimana Dewa membantuku menangkap basah orang-orang yang menyakitiku.

Sepertinya aku tak membutuhkan polisi untuk menyelesaikan masalah ini. Aku... Aku akan menyerang balik Desy.

Permainan baru saja dimulai. Jangan berhenti, Desy... Karena kamu yang mengawalinya.

Menggunakan akun itu, aku membuat beberapa postingan tentang Kevin yang genit dan tak bermartabat. Aku juga menulis unggahan lain yang menyinggung Leon, rekan kerjaku yang lain.

Setelah puas melakukannya, aku buru-buru meletakkan tablet itu ke tempat semula, lalu menyusul teman-temanku.

Di kantin. Dengan nampan berisi makanan kesukaanku, aku duduk di hadapan Leon dan Desy.

"Kalian berdua dekat banget. Udah jadian ya?" candaku.

Leon meletakkan sendoknya. Wajahnya tampak tak senang mendengar ucapanku, sedangkan Desy malah tersipu malu.

"Sudah jelas-jelas keponakan Mbak yang nempel terus kayak lintah," protes Leon. "Dia bisa bikin aku anemia," imbuhnya.

Aku tertawa kecil. "Desy sangat cantik, kulitnya putih seperti vampir. Dia bukan lintah," timpalku.

"Mbak Lia pikir vampir tidak menyeramkan? Mereka memiliki taring. Justru lebih menjijikkan daripada lintah," balas Leon, mengolok Desy.

"Mas Leon kejam banget mulutnya," sahut Desy, kesal.

"Leon memang kejam," kataku, terkekeh pelan.

Dengan wajah cemberut, Desy bertanya, "Mbak Lia enggak makan bekal dariku?"

"Oh... Bekalmu diminta sama Bos Kevin. Kayaknya dia naksir sama kamu deh," tuturku, berbohong.

"Apa? Pak Kevin nggak mungkin naksir aku. Bukankah dia sudah punya istri dan anak?" tanya Desy malu-malu.

"Bos Kevin memang punya banyak anak, tapi beliau tidak memiliki istri," jawabku, memberitahunya.

"Dan kebetulan, Bos Kevin sedang mencari istri untuk mewarisi hartanya yang triliunan," tambahku, agar terdengar lebih meyakinkan.

"Nah, lebih baik kamu mendekati Bos Kevin, dia itu konglomerat," saran Leon. "Sedangkan aku, aku ini orang miskin, mokondo," imbuhnya.

Leon orang miskin? Aku baru tahu. Tapi... Bukankah motor sport yang ia pakai setiap hari harganya ratusan juta? Hm, sepertinya Leon sedang ngibul.

"Mas Leon nggak mungkin orang miskin. Kemarin aku lihat merk parfum yang Mas pakai, itu harganya jutaan," sanggah Desy.

Leon berdecap. "Itu palsu. Sekarang banyak barang palsu," jelasnya.

"Terus, motor Mas gimana? Itu motor edisi terbatas, hanya beberapa orang yang memilikinya, dan Mas salah satunya!" sembur Desy masih tak percaya.

Aku kagum dengan Desy yang bisa mengulik informasi tentang Leon. Sungguh luar biasa. Kenapa kamu tidak jadi detektif saja, Desy?

"Di dunia ini ada teknologi yang bernama rental. Gunakan otakmu, Desy," sungut Leon, terdengar kesal.

Desy cemberut. Ia tampak kehilangan selera makan.

"Yang pasti-pasti saja, Bos Kevin tajir melintir. Dia layak diperjuangkan," tandas Leon.

"Mas Leon lebih ganteng! Kalau Mas Leon nggak punya uang, aku bisa menghidupimu, Mas!" ujar Desy, mantap.

Leon menghela napas lelah, sementara aku menahan tawa.

"Kalian berdua cocok, loh...." ucapku.

"Nggak cocok. Aku sukanya sama istri orang!" tukas Leon, menatapku.

Desy langsung terkejut sampai menutup mulutnya dengan tangan.

"Mas Leon? Kenapa menyukai wanita yang sudah kendor, dan dipakai sama suaminya berkali-kali. Mending sama aku yang masih ting-ting," rayu Desy, bersuara genit.

Ok, Desy menyindirku.

"Ngomong tai," gumam Leon.

Aku menunduk, merasa tidak nyaman.

"Mbak Lia, makanannya jangan hanya dilihat," tegur Leon, memperhatikanku.

"Ah iya, agak nggak napsu makan," balasku seadanya.

"Jangan begitu, aku nggak pengen kamu sakit," tegas Leon.

Ah... Leon, kenapa kamu harus menunjukkan perhatianmu di depan Desy? Aku benar-benar senang.

Aku tersenyum. "Napsu makanku kembali lagi!" kataku, sedikit menggodanya.

"Apaan, sih, Mbak Lia? Genit banget. Ingat suami di rumah," cibir Desy tak senang.

Aku tak membalasnya. Aku memilih berbincang dengan Leon.

Tak lama kemudian, suasana kantin menjadi gaduh.

Ternyata, postingan yang kubuat lewat akun Monyet Naik Kursi, langsung menjadi bahan perbincangan anak-anak kantor.

Semua pegawai yang makan di kantin, terlihat kesal dan geram terhadap tindakan akun itu.

"Sepertinya, semua pegawai akan melaporkan akun bernama Monyet Naik Kursi."

Bersambung...

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Godaan Panas Pegawai Magang   Bab. 16. Dipaksa Menjual Saham

    Nama lengkapku Alia Yuanita Baskoro. Aku terlahir di sebuah desa yang aman dan damai. Ayahku meninggal akibat terkena serangan jantung.Beliau meninggalkan warisan berupa sawah satu hertar yang akhirnya dikelola ibuku seorang. Meski sederhana, hidupku di kampung bisa dibilang cukup, tak kekurangan. Bahkan ibuku bisa menyekolahkanku hingga aku lulus S2. Ibuku... Sangat hebat, bukan? Setelah lulus kuliah, aku langsung diterima kerja menjadi Sekretaris di sebuah perusahaan besar, Vici Industri. Aku harus meninggalkan ibuku di desa, dan merantau di ibu kota untuk bekerja. Tenang saja, komunikasi kami berjalan lancar. Aku sempat mengajari ibuku bermain ponsel pintar. Saat sedang santai di sebuah kedai kopi, aku bertemu dengan Mas Yuan, pria yang lembut, dewasa, dan baik (Pada saat itu). Mas Yuan secara blak-blakan mengajakku berkenalan, dan meminta bertukar nomor ponsel. Dari sinilah hubungan kami dimulai.

  • Godaan Panas Pegawai Magang   Bab. 15. Akhirnya Tanda Tangan Kontrak

    "Bos Kevin terlalu berlebihan," sahutku, menolak pernyataan tak berdasar yang baru saja dilontarkannya.Kevin hanya menatapku sekilas, lalu kembali memfokuskan pandangannya pada Mas Yuan."Ini kesempatan yang bagus... Jangan terlalu lama berpikir," kata Kevin pada Mas Yuan."Tanpa mengurangi rasa hormat, aku agak... Ragu. Tapi...." Mas Yuan menggantung kalimatnya. Ia menarik napas panjang, seolah ada beban berat di dadanya yang sulit diungkapkan."Karena Tuan CEO tak ada di sini, bukan berarti ajakan kerja sama dengan perusahaanmu hanya bualan semata," sahut Kevin menegaskan. "Bos Kevin, wajar jika Tuan Yuan tidak yakin. Bagaimana jika mengikuti rencana cadangan dari Pak CEO?" usul Leon, nada suaranya tenang namun berwibawa.Dari caranya berbicara, aku bisa menebak Leon punya hubungan cukup dekat dengan CEO baru Vici Industri.Kevin menoleh pada Leon dengan senyum tipis. Ekspresinya menunjukkan seolah ia setuju dengan s

  • Godaan Panas Pegawai Magang   Bab. 14. Kerja Sama Triliunan

    Dari awal pertandingan, aku sudah unggul. Pukulan demi pukulan terasa begitu ringan, seperti tubuhku dipenuhi energi positif.Untung saja rekan setimku ternyata jago bermain voli. Ia berkali-kali mencetak poin dengan mudah, membuat semangatku semakin membara.Sebaliknya, tim lawan terlihat mulai kewalahan.Desy dan Mas Yuan sama sekali tidak kompak. Gerak mereka kaku, seperti orang yang terpaksa bermain bersama.Aku bisa menebak penyebabnya.Sepertinya Desy marah pada Mas Yuan setelah mengetahui kebiasaan bejat Mas Yuan yang suka bermain dengan banyak wanita.Aduh, Desy... Kadang aku kasihan juga padamu."Mbak Lia! Semangat!" teriak seseorang yang langsung disambut sorak-sorai dari lainnya.Refleks aku menoleh ke arah sumber suara, dan mataku langsung terpaku pada sosok Leon yang berdiri di pinggir lapangan sambil mengangkat spanduk besar bertuliskan 'Go Mbak Lia!' dengan tinta warna mencolok.Aku melon

  • Godaan Panas Pegawai Magang   Bab. 13. Permainan Bola Voli

    Aku tak menyangka, Leon benar-benar mendatangi kamarku, dan tidur bersamaku. Bahkan kami juga bercinta semalaman suntuk, sampai aku lemas dan tak berdaya.Aku akui, Leon memang jago di atas ranjang. Mungkin karena ia masih muda, tenaga yang ia miliki pastinya sangat melimpah."Leon... Sebenarnya, rencana apa yang sedang kamu jalankan?" tanyaku dengan suara serak, masih dibalut sisa kelelahan.Leon menoleh, senyum miring menghiasi wajah tampannya."Hanya... Memberi sedikit balasan pada orang-orang yang pernah menyakitimu," jawabnya, santai.Aku terkejut, lalu tersenyum canggung. Ada perasaan hangat, tapi juga cemas yang menjalari tubuhku."Leon... Kamu tidak perlu repot-repot melakukan itu," kataku."Sayang... Kamu tenang saja. Aku punya kemampuan untuk menghancurkan suamimu. Jadi, aku akan melakukannya," tandas Leon dengan nada tenang namun penuh tekad.Dengan sisa tenaga, aku bangkit perlahan, melangkah mendeka

  • Godaan Panas Pegawai Magang   Bab. 12. Liburan Mendadak Dari Atasan

    Besoknya, karena hari ini masih termasuk hari libur, aku bisa bangun sedikit lebih siang dan menikmati waktu luang tanpa terburu-buru.Tinggal di apartemen Leon yang megah bagai istana di tengah kota, membuat rasa penat dan stres yang sempat menumpuk perlahan menguap.Aku benar-benar menikmatinya.Kalau dipikir-pikir, Leon memang termasuk orang yang beruntung. Ia mendapatkan fasilitas super mewah dari bos ayahnya.Dari cerita yang kudengar, Ketua Vici Industri memang dikenal dermawan dan sangat memperhatikan kesejahteraan bawahannya.Tak heran kalau Vici Industri tumbuh menjadi salah satu perusahaan raksasa di Asia. Mungkin, semua itu karena pemimpinnya memiliki hati yang tulus, nyaris seperti malaikat dalam dunia bisnis yang kejam.Berbicara soal perusahaan, pikiranku tiba-tiba melayang pada nama Geo Grup, perusahaan yang sempat disinggung Leon semalam.Meskipun Vici Industri sudah begitu besar dan berpengaruh, nyatanya

  • Godaan Panas Pegawai Magang   Bab. 11. Tinggal Bersama Selingkuhan

    Setelah tiga hari berlalu, kasus akun penyebar hoaks milik Desy akhirnya terlupakan begitu saja. Aku... Sunggung kecewa. Padahal aku berharap bisa melihat Desy digerebek oleh orang-orang kantor, diseret keluar sambil menangis minta maaf. Baiklah... Kali ini dia memang beruntung, lolos tanpa ganjaran atas perbuatannya yang menjijikkan. Di tengah lamunanku, sesuatu yang dingin tiba-tiba menempel di pipiku. Aku refleks menoleh. "Jangan melamun terus," tegur Leon sambil menyodorkan es krim padaku. Aku tersenyum kecil dan menerima es krim itu, sembari berkata, "Makasih, ya." Pandangan mataku sempat menelusuri wajah Leon yang duduk di sebelahku. "Kamu juga beliin es krim buat anak-anak?" tanyaku. Leon tersenyum lembut, "Iya," jawabnya singkat. Kami sedang berada di panti asuhan. Satu-satunya tempat yang paling aman untuk kami bertemu, atau mungkin, berkencan diam-diam. Lagipula, tempat ini memang paling cocok, karena kami berdua suka anak kecil. Aku memandangi es kr

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status