LOGINLeon menggendongku tanpa berkata apa-apa, langkahnya mantap namun terasa lembut.
Ia membawaku ke kamarnya, yang ternyata berada di lantai berbeda dari kamarku. Begitu pintu kamarnya terbuka, aroma maskulin dan hangat langsung menyambutku. Ruangan itu luas, dengan pencahayaan redup dan sentuhan elegan di setiap sudutnya. Leon menurunkanku perlahan di atas sofa empuk berwarna krem, lalu duduk di seberangku sambil menatapku lekat. "Lia, kalau kamu masuk ke dalam sini, berarti kamu tidak bisa keluar begitu saja," lontarnya, sembari melepas satu per satu kancing kemejanya, memperlihatkan dada bidangnya yang tampak sempurna di bawah cahaya lampu. Aku tertawa kecil, mencoba menutupi kegugupan yang sebenarnya mulai merayapi dadaku. Perlahan aku berdiri, melangkah mendekatinya, lalu duduk di pangkuannya. Dengan tatapan genit, aku menyentuh dagu Leon dan memaksanya menatapku. Tatapan Leon sempat berubah. Begitu menyadari mataku yang sembab, kekhawatiran langsung tergambar di wajahnya. Ia mengangkat tangannya dan mengelus pipiku yang dingin. "Siapa yang berani membuatmu menangis?" tanyanya pelan. Aku meraih jemari besar Leon, menurunkannya perlahan. "Itu tidak penting, Leon. Malam ini, aku ingin kamu menghiburku," pintaku, tanpa rasa malu. Sebuah senyuman merekah di wajah Leon, senyuman yang mampu menambah ketampanan di wajahnya. "Dengan senang hati," katanya, dengan nada rendah yang membuat udara di antara kami terasa semakin panas. Aku sempat tersentak ketika bibir Leon tiba-tiba mengecup leherku. Sentuhan hangat itu membuat seluruh tubuhku menegang seketika. Ada perasaan aneh yang menjalari setiap inci kulitku setiap kali bibirnya menyentuhku, seperti campuran antara rasa bersalah, dan keinginan yang tak bisa dijelaskan. Namun aku berusaha menepis semuanya. Aku yang menginginkan ini. Aku yang memutuskan untuk membalas perselingkuhan suamiku dengan cara yang sama kejamnya. "Leon... Hentikan," pintaku lirih. Leon langsung berhenti, menatapku dengan sorot mata penuh tanya. Tapi belum sempat ia bicara, aku lebih dulu mencium bibirnya. Sepertinya Leon sempat terkejut dengan tindakanku yang spontan dan tanpa berpikir. Aku bisa merasakannya dari tubuhnya yang menegang beberapa detik, sebelum akhirnya ia membalas ciumanku. Ketika ciuman kami terlepas, hanya napas kami yang tersisa di udara. Kami pun saling menatap, seolah mencoba membaca isi hati masing-masing. "Lia, bibirmu enak," ujarnya serak, sambil menjilat bibir bawahnya sendiri. Aku tersenyum tipis. "Kenapa kamu berhenti memanggilku Mbak? Aku ini atasanmu, loh...." godaku. Leon terkekeh kecil, nada suaranya berubah lebih rendah. "Sekarang kita tidak berada di kantor. Kita di dalam kamar hotel... Hanya berdua." Aku yang tersipu, sedikit menundukkan kepalaku, lalu perlahan menatapnya lagi dengan tatapan berani. "Leon, bantu aku melepas pakaian ku," bisikku, nyaris tanpa suara. Dengan senang hati Leon melepas atasan yang aku kenakan. Matanya langsung menyorot pada buah dadaku yang memiliki ukuran lumayan besar. "Jangan hanya dilihat, kamu boleh menyentuhnya," ucapku, menahan malu. Aku yang selama ini menolak Leon, kini malah berlagak layaknya wanita murahan di hadapannya. "Aku pria paling beruntung di dunia ini," ucapnya, sebelum meremas dadaku yang masih berbalut bra. Jantungku berdegup kencang. Ini pertama kalinya aku dijamah lagi, setelah enam bulan lamanya tidak disentuh oleh suamiku. "Leon...." Aku yang sudah kehilangan akal sehat, melepas braku, dan memintanya untuk menyusu seperti bayi. Tanpa berbicara, Leon langsung melahap gunung kembar milikku secara bergantian. Ia terlihat begitu bersemangat. Sedangkan aku hanya mendesah sambil memejamkan mataku. Puas dengan payudaraku, Leon menggendongku dan membaringkan tubuhku di atas kasur empuk. Aku menatapnya dari bawah, menyaksikan bagaimana ia melepas kemejanya, lalu melonggarkan sabuknya dengan gerakan santai namun menggoda. Leon menunduk, mengukung tubuhku sambil terus menatapku dalam. Tatapannya tajam, tapi entah kenapa terasa lembut di waktu yang sama. "Kamu suka dilembutin atau dikasarin?" tawarnya, menggodaku. "Aku suka dua-duanya," jawabku, menantangnya tanpa ragu. Leon tertawa kecil, lalu bangkit. Ia menyisir rambutnya yang sedikit berantakan dengan jemarinya sendiri. Matanya kemudian berhenti pada perutku. Tatapannya berubah, bukan lagi sekadar nafsu, seakan ada sesuatu yang lebih dalam di sana. Leon menatap bekas jahitan di perutku cukup lama, hingga aku mulai merasa tak nyaman. Spontan, aku menarik selimut untuk menutupinya. Namun tangan Leon menahanku. "Dari mana kamu mendapatkan luka di perutmu?" tanyanya pelan. Aku menatapnya, heran melihat matanya yang berkaca-kaca. Aku memalingkan wajah, menelan ludah sebelum menjawab. "Ketika aku masih berusia dua puluh tahun, aku pernah menyelamatkan anak kecil yang hanyut di sungai kampungku. Perutku tersayat ranting pohon yang tajam." Aku menarik napas panjang dan mengubah posisiku menjadi duduk. "Kita hentikan saja. Aku tidak mau membuatmu trauma karena bercinta dengan wanita yang memiliki tubuh jelek sepertiku." "Aku nggak mau berhenti," tandas Leon, mendorongku hingga aku kembali terlentang. Leon menggenggam kedua tanganku, menahannya di atas kepala, sementara tatapannya tidak lepas dariku. Lalu, tanpa berkata apa pun, Leon menunduk dan mengecup lembut perutku, tepat di atas bekas jahitan yang selama ini selalu kusembunyikan. Aku tertegun, tak tahu harus bereaksi seperti apa. Mas Yuan selalu menutupi bagian itu dengan selimut setiap kali bercinta denganku, seolah luka itu membuatku tidak layak untuk disentuh. Tapi Leon... Ia justru memperlakukannya dengan begitu lembut, seakan bekas luka itu sesuatu yang indah. Dadaku terasa sesak. Tanpa sadar, air mataku menetes. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku merasa diinginkan. Leon melucuti pakaian yang kami kenakan, lalu melakukannya dengan penuh gairah. Selama permainan, aku hanya bisa mendesah keenakan. Aku akui, Leon sangat jago, seperti seseorang yang sudah berpengalaman. Apalagi milik Leon yang besar dan panjang, semakin membuatku gila. Kami bercinta dengan berbagai gaya. Leon membuatku melayang, dan menjadi diriku sendiri. Entah mengapa, aku bisa merasakan perasaan Leon dari gerakannya saat menghujaniku. "Lia... Lihat dirimu di cermin," pinta Leon, berdiri di depan cermin. Dengan mata sayu, aku melihat pantulan diriku yang sedang digendong Leon. Namun mataku tertuju pada benda panjang milik Leon yang keluar masuk di lubangku. Aku benar-benar dibuat gila olehnya. "Lia, hanya aku yang boleh begini. Bahkan suamimu, tak akan aku biarkan menyentuhmu," bisik Leon, semakin membuatku bergairah. Aku hanya mengangguk sembari terus mendesah. Otakku sudah konslet, tak mampu lagi berpikir. Entah sudah berapa kali kami mencapai titik ternikmat kami, tapi Leon sama sekali tak ingin berhenti. Bahkan saat aku sudah lemas pun, ia tetap memasukkan burungnya. *** Keesokan paginya, aku terbangun dengan tubuhku yang terasa nyeri, seolah habis melewati badai panjang. Aku membuka mataku perlahan, dan menemukan Leon masih tertidur di sampingku, wajahnya tenang dalam posisi tengkurap. Di punggungnya terlihat beberapa goresan samar, bekas dari malam penuh emosi yang kami lalui. Aku menggigit bibir, merasa bersalah karena telah melukainya. Pelan-pelan aku turun dari ranjang, mencari keseimbangan di antara rasa lelah dan pening yang masih tersisa. Aku melangkah menuju kamar mandi. Aku ingin membasuh diriku yang terasa sangat lengket. Aku melepas kemeja Leon yang membalut tubuhku, lalu berdiri di bawah shower. Aku merasakan sesuatu keluar dari lubangku, lalu turun melewati pahaku. Itu... Sperma milik Leon. Aku tak menghiraukannya, toh, tadi malam ia tak mengenakan pengaman apa pun. Tapi, bagaimana jika aku hamil? Ya, itu akan menjadi anak Leon. Air hangat mengalir di atas kepalaku. Aku pun menutup mata, membiarkan diriku larut dalam keheningan. Ketika tubuhku mulai kehilangan keseimbangan, seseorang tiba-tiba menangkapku dari belakang. Leon. Entah sejak kapan ia sudah berdiri di sana. "Aku akan memandikanmu," bisiknya lembut di telingaku. Aku hanya bisa mengangguk pelan. Dengan suaraku nyaris tak terdengar, aku berkata, "Terima kasih, Leon." *** Hari-hari berlalu, kunjunganku di Singapura telah berakhir. Dan kini aku berdiri di depan pintu unit apartemenku. Tanganku gemetar saat memegang gagang pintu apartemen. Ada rasa mual yang naik ke tenggorokan, tapi aku memaksakan diri untuk tetap membuka pintu tersebut. Begitu pintu terbuka, aroma khas ruangan langsung menyergap, campuran antara parfum Desy dan wangi sabun kupilihkan untuk Mas Yuan. Perasaanku seketika berantakan. Aku benar-benar jijik membayangkan betapa banyak kenangan kotor yang terjadi di tempat ini. Namun, aku tetap melangkah masuk, menahan sesak yang menghimpit dadaku. Aku harus kuat. Aku tidak boleh terlihat rapuh. Di ruang tamu, Mas Yuan dan Desy duduk bersama. Begitu melihatku, mereka berdua langsung berdiri. "Mbak Lia! Kok nggak bilang kalau sudah pulang? Aku dan Paman Yuan bisa jemput loh!" seru Desy ceria, ia melangkah ke arahku seperti tidak terjadi apa-apa. Senyum Desy yang dulu terlihat manis, kini bagiku terasa menjijikkan. Setelah aku tahu kelakuannya di belakangku, semua yang melekat padanya, kepolosan, keluguan, dan sikap manjanya, berubah menjadi topeng murahan yang membuatku muak. "Iya! Kenapa kamu tidak menghubungiku? Aku ingin menjemputmu di bandara," sambut Mas Yuan, dengan nada sok perhatian yang membuatku ingin tertawa sinis. Aku menarik napas panjang, lalu memaksakan sebuah senyum palsu di wajahku. Tanpa sepatah kata pun, aku melangkah menuju kamar, melewati mereka. "Mbak Lia kenapa?" tanya Desy dari belakang, ia mengikutiku hingga ke ambang pintu kamar. Aku berhenti sejenak, tapi tak menoleh. Nafasku tersengal, menahan amarah dan air mata yang hampir pecah. "Desy, aku capek banget. Aku pengen tidur," kataku, meletakkan koper di depan lemari. Namun Desy tampaknya tidak mengerti. Ia malah menghampiriku dengan wajah ceria, lalu menagih tas yang sempat ia pesan sebelum aku berangkat ke Singapura. Aku menahan napas sejenak. Aku yang Enggan menatap wajahnya, terpaksa berbalik menghadapnya. "Tas yang kamu pesan tidak ada. Semua toko yang aku kunjungi sudah tidak menjualnya. Tasmu memang lagi ngetren di sana, mangkanya habis," jelasku, berbohong dengan suara datar. Padahal kenyataannya, aku sudah membeli tas itu untuknya. Tapi setelah tahu kelakuannya, aku tak akan menyerahkannya. Ia tidak pantas mendapatkan apa pun lagi dariku. Desy tampak kecewa. Wajahnya merengut, dan bibirnya mengerucut seperti anak kecil. "Padahal aku pengen banget...." ucapnya pelan "Mau gimana lagi? Kamu beli saja di online yang bekas," kataku sambil menguap kecil. "Sudah ya, aku ngantuk." "Eh tunggu, Mbak. Emangnya Mbak enggak bawa oleh-oleh lain?" tanya Desy, berharap ada sesuatu dariku. "Maaf ya, aku nggak sempat belanja. Soalnya aku ke Singapura itu kerja, bukan tamasya," ketusku, kali ini tanpa berusaha menahan nada kesal di suaraku. Desy hanya mengangguk-angguk, tampak kikuk. "Oh ya, Mbak. Masak, Mas Leon nggak masuk kerja selama seminggu. Dia ikut ke Singapura kah?" tanyanya tiba-tiba. Aku sedikit tertegun. "Mana aku tahu, aku tidak melihat Leon di Singapura," jawabku datar, malas menanggapi lebih jauh. Desy tertawa canggung. "Ya sudah, Mbak istirahat dulu," katanya, sebelum melangkah keluar dari kamarku. Begitu pintu tertutup, aku menghela napas panjang. Semua terasa pengap karena kebohongan yang mulai mengelilingi hidupku. *** Besoknya, di kantor, aku berusaha sebisa mungkin menghindari Leon yang sejak pagi terus mencari kesempatan bicara denganku. Tapi sialnya, saat aku berjalan melewati lorong menuju ruangan Direktur, Leon berhasil menarikku ke ruang rapat yang kosong. "Aku sibuk banget. Nggak ada waktu buat kamu," kataku ketus, mencoba menjaga jarak. Leon menatapku tajam, lalu perlahan mendekat. "Lia, aku cuma ingin bicara denganmu, kekasihku," ujarnya dengan nada tenang namun memaksa. Aku memalingkan wajah, tidak sanggup menatapnya. "Kita hanya melakukannya sekali, Leon. Bukan berarti aku menjadi kekasihmu. Anggap saja kemarin itu hanya... Coba-coba," ucapku, menahan gejolak dalam dada. Aku benar-benar merasa jahat karena berbicara seperti itu dengannya. "Jadi, harus melakukannya berkali-kali ya? Baru bisa dianggap kekasih?" lontar Leon, mengukungku. Aku berusaha mendorong dada bidang Leon yang semakin menghimpitku. "Kalau begitu, ayo kita lakukan lagi," ajaknya. "Leon... Lepaskan aku...." mohonku, ketika Leon menarikku ke dalam pelukannya. "Kita sedang berada di kantor. Nanti kalau ada yang lihat, gimana?" Aku resah. "Tidak akan ada yang melihatnya," balas Leon, menciumi leherku. Leon melepaskan pelukannya, bukan untuk membebaskanku, melainkan untuk mengunci pintu ruangan rapat. Lalu ia menggendongku, mendudukkanku di atas meja rapat. "Leon, jangan keterlaluan," tegurku, menahan lengan Leon yang mulai menyikap rokku. "Jika kamu mengakuiku sebagai kekasihmu. Maka aku akan berhenti," lontarnya, memberiku pilihan sempit. Karena aku masih mencintai karierku, aku pun bersedia mengakuinya sebagai kekasihku. Benar saja, Leon langsung melepaskanku, membiarkanku pergi tanpa berkata apa-apa. Leon benar-benar sinting! Seharusnya aku tidak bermain api dengannya. Baru saja aku bisa bernapas lega karena terbebas dari Leon, ponselku tiba-tiba berdering. Dari layar, terpampang nama rumah sakit. Jantungku langsung berdegup kencang. Begitu panggilan diangkat, suara di seberang memberi kabar yang membuat lututku hampir lemas. Ibuku mengalami serangan jantung. Tanpa pikir panjang, aku segera menuju rumah sakit. Sepanjang perjalanan, pikiranku kosong, hanya doa yang terus meluncur dari bibirku. Sesampainya di sana, aku mendapati ibuku terbaring lemah di ruang gawat darurat. Tubuhnya penuh dengan kabel dan alat medis. Aku hampir tak sanggup menatapnya seperti itu. Dokter yang menanganinya menjelaskan dengan nada serius bahwa jantung ibuku harus segera dipasangi ring agar kondisinya stabil. Aku langsung mengangguk, menyetujui tindakan tersebut tanpa ragu. Namun, dokter menambahkan bahwa biaya harus dilunasi terlebih dahulu sebelum tindakan dilakukan. Aku tercekat. Dengan tangan gemetar, aku segera mengeluarkan ponsel dari tas dan berusaha menghubungi Mas Yuan. Aku berharap dia segera datang ke rumah sakit, mengingat ibuku butuh pertolongan secepatnya. Uang di rekeningku tidak cukup untuk membayar biaya operasi ibuku. Semua sudah habis kutransfer untuk pembangunan rumah bodong yang bahkan belum jelas wujudnya. Aku duduk di kursi ruang tunggu, mencoba menenangkan diri sambil menatap pintu ruang ICU yang tertutup rapat. Tak lama kemudian, Mas Yuan datang. Begitu melihatnya, aku langsung menghampiri dan memintanya melunasi biaya rumah sakit ibuku dengan uang dari tabungan bersama kami. Namun, Mas Yuan menolak mentah-mentah. Alasan yang ia berikan membuat hatiku teriris. Katanya, uang itu disimpan untuk masa depan anak kami. "Tapi kita belum memiliki anak. Gunakan uang itu untuk ibuku!" pintaku, berusaha menahan air mata. "Lia! Bukankah kamu bisa membiayai ibumu sendiri? Saat kamu bersikukuh membawa ibumu ke kota. Tanggung saja biaya ibumu, jangan melibatkatkanku!" lontar Mas Yuan dingin. Aku terdiam. Rasanya seperti tertampar keras oleh kenyataan. "Mas... Ibuku jual sawah buat bantu bisnismu yang hampir bangkrut. Tapi kamu nggak mau keluar uang buat ibuku?" mohonku dengan suara bergetar. "Itu sudah kewajiban ibumu membantu menantunya. Toh, kalau aku bangkit, kamu juga yang senang," balasnya tanpa rasa bersalah. Aku hanya bisa menunduk, menahan air mata yang jatuh begitu saja. "Mas Yuan, kenapa kamu nggak pernah menyayangi ibuku," gumamku lirih, pasrah. "Ah sudah, aku lagi sibuk! Kamu urus sendiri ibumu! Jangan ganggu pekerjaanku!" katanya kasar sebelum berbalik meninggalkanku begitu saja. Aku menatap punggungnya yang menjauh. Untuk pertama kalinya, aku benar-benar merasa sendirian. Baiklah, Mas Yuan… Aku akan mengingat kelakuanmu ini. Aku yang tidak ingin terpuruk, mencoba mencari jalan keluar. Dengan tangan bergetar, aku membuka kontak Intan di ponselku. Hanya dia, satu-satunya orang yang mungkin bisa kumintai tolong untuk meminjam uang. Namun, belum sempat sambungan terhubung, seorang suster menghampiriku sambil membawa berkas di tangannya. "Bu Lia, mohon tanda tangannya di sini agar pasien segera di operasi. Biaya operasi ibunya sudah dilunasi," katanya sopan. Aku tertegun. Dilunasi? Mungkinkah Mas Yuan berubah pikiran dan membayarnya? Tanpa banyak berpikir, aku segera menandatangani dokumen itu. "Sus, siapa yang melunasi biaya operasi ibu saya?" tanyaku, hanya ingin memastikan. "Pemilik rumah sakit melihat Anda kesulitan, jadi beliau melunasinya," jelas sang suster sambil tersenyum kecil. "Pemilik rumah sakit sangat baik. Bisakah aku bertemu dengannya, untuk mengucapkan terima kasih secara langsung?" harapku. Suster itu mengangguk dan memberitahuku bahwa sang pemilik sedang berada di ruang tamu paviliun utama. Aku pun segera melangkah cepat ke sana. Namun begitu sampai, langkahku terhenti. Orang yang kulihat duduk santai di sofa paviliun, ternyata adalah Leon. Leon lagi, Leon lagi. Bocah satu ini ada di mana-mana. "Leon... Kamu ngapain di sini? Bolos kerja nih?" tanyaku sambil duduk di sebelahnya, mencoba bersikap biasa. "Gimana? Mertuaku sudah dioperasi?" ujarnya santai, sambil meletakkan ponselnya di meja. Aku mematung. "Kamu sudah menikah dan memiliki mertua?" tanyaku dengan nada bingung. Ada sedikit rasa aneh di dadaku, entah kenapa aku merasa sedih mendengarnya. "Ibumu adalah mertuaku," jawab Leon singkat, tanpa ekspresi berlebihan. Aku refleks memukul pundaknya. Sejak kejadian di hotel, sikap Leon memang berubah, sok dewasa, sok berkuasa, dan menganggapku seolah miliknya seorang. "Kamu kembali ke kantor sana," usirku, tak serius. "Oh ya, kamu lihat ada orang lain selain kamu nggak yang tadi di sini? Si pemilik rumah sakit ini," tanyaku, mataku menelusuri ruangan yang sepi. "Dari tadi hanya ada aku. Mungkin aku si pemilik rumah sakit." Bersambung...Nama lengkapku Alia Yuanita Baskoro. Aku terlahir di sebuah desa yang aman dan damai. Ayahku meninggal akibat terkena serangan jantung.Beliau meninggalkan warisan berupa sawah satu hertar yang akhirnya dikelola ibuku seorang. Meski sederhana, hidupku di kampung bisa dibilang cukup, tak kekurangan. Bahkan ibuku bisa menyekolahkanku hingga aku lulus S2. Ibuku... Sangat hebat, bukan? Setelah lulus kuliah, aku langsung diterima kerja menjadi Sekretaris di sebuah perusahaan besar, Vici Industri. Aku harus meninggalkan ibuku di desa, dan merantau di ibu kota untuk bekerja. Tenang saja, komunikasi kami berjalan lancar. Aku sempat mengajari ibuku bermain ponsel pintar. Saat sedang santai di sebuah kedai kopi, aku bertemu dengan Mas Yuan, pria yang lembut, dewasa, dan baik (Pada saat itu). Mas Yuan secara blak-blakan mengajakku berkenalan, dan meminta bertukar nomor ponsel. Dari sinilah hubungan kami dimulai.
"Bos Kevin terlalu berlebihan," sahutku, menolak pernyataan tak berdasar yang baru saja dilontarkannya.Kevin hanya menatapku sekilas, lalu kembali memfokuskan pandangannya pada Mas Yuan."Ini kesempatan yang bagus... Jangan terlalu lama berpikir," kata Kevin pada Mas Yuan."Tanpa mengurangi rasa hormat, aku agak... Ragu. Tapi...." Mas Yuan menggantung kalimatnya. Ia menarik napas panjang, seolah ada beban berat di dadanya yang sulit diungkapkan."Karena Tuan CEO tak ada di sini, bukan berarti ajakan kerja sama dengan perusahaanmu hanya bualan semata," sahut Kevin menegaskan. "Bos Kevin, wajar jika Tuan Yuan tidak yakin. Bagaimana jika mengikuti rencana cadangan dari Pak CEO?" usul Leon, nada suaranya tenang namun berwibawa.Dari caranya berbicara, aku bisa menebak Leon punya hubungan cukup dekat dengan CEO baru Vici Industri.Kevin menoleh pada Leon dengan senyum tipis. Ekspresinya menunjukkan seolah ia setuju dengan s
Dari awal pertandingan, aku sudah unggul. Pukulan demi pukulan terasa begitu ringan, seperti tubuhku dipenuhi energi positif.Untung saja rekan setimku ternyata jago bermain voli. Ia berkali-kali mencetak poin dengan mudah, membuat semangatku semakin membara.Sebaliknya, tim lawan terlihat mulai kewalahan.Desy dan Mas Yuan sama sekali tidak kompak. Gerak mereka kaku, seperti orang yang terpaksa bermain bersama.Aku bisa menebak penyebabnya.Sepertinya Desy marah pada Mas Yuan setelah mengetahui kebiasaan bejat Mas Yuan yang suka bermain dengan banyak wanita.Aduh, Desy... Kadang aku kasihan juga padamu."Mbak Lia! Semangat!" teriak seseorang yang langsung disambut sorak-sorai dari lainnya.Refleks aku menoleh ke arah sumber suara, dan mataku langsung terpaku pada sosok Leon yang berdiri di pinggir lapangan sambil mengangkat spanduk besar bertuliskan 'Go Mbak Lia!' dengan tinta warna mencolok.Aku melon
Aku tak menyangka, Leon benar-benar mendatangi kamarku, dan tidur bersamaku. Bahkan kami juga bercinta semalaman suntuk, sampai aku lemas dan tak berdaya.Aku akui, Leon memang jago di atas ranjang. Mungkin karena ia masih muda, tenaga yang ia miliki pastinya sangat melimpah."Leon... Sebenarnya, rencana apa yang sedang kamu jalankan?" tanyaku dengan suara serak, masih dibalut sisa kelelahan.Leon menoleh, senyum miring menghiasi wajah tampannya."Hanya... Memberi sedikit balasan pada orang-orang yang pernah menyakitimu," jawabnya, santai.Aku terkejut, lalu tersenyum canggung. Ada perasaan hangat, tapi juga cemas yang menjalari tubuhku."Leon... Kamu tidak perlu repot-repot melakukan itu," kataku."Sayang... Kamu tenang saja. Aku punya kemampuan untuk menghancurkan suamimu. Jadi, aku akan melakukannya," tandas Leon dengan nada tenang namun penuh tekad.Dengan sisa tenaga, aku bangkit perlahan, melangkah mendeka
Besoknya, karena hari ini masih termasuk hari libur, aku bisa bangun sedikit lebih siang dan menikmati waktu luang tanpa terburu-buru.Tinggal di apartemen Leon yang megah bagai istana di tengah kota, membuat rasa penat dan stres yang sempat menumpuk perlahan menguap.Aku benar-benar menikmatinya.Kalau dipikir-pikir, Leon memang termasuk orang yang beruntung. Ia mendapatkan fasilitas super mewah dari bos ayahnya.Dari cerita yang kudengar, Ketua Vici Industri memang dikenal dermawan dan sangat memperhatikan kesejahteraan bawahannya.Tak heran kalau Vici Industri tumbuh menjadi salah satu perusahaan raksasa di Asia. Mungkin, semua itu karena pemimpinnya memiliki hati yang tulus, nyaris seperti malaikat dalam dunia bisnis yang kejam.Berbicara soal perusahaan, pikiranku tiba-tiba melayang pada nama Geo Grup, perusahaan yang sempat disinggung Leon semalam.Meskipun Vici Industri sudah begitu besar dan berpengaruh, nyatanya
Setelah tiga hari berlalu, kasus akun penyebar hoaks milik Desy akhirnya terlupakan begitu saja. Aku... Sunggung kecewa. Padahal aku berharap bisa melihat Desy digerebek oleh orang-orang kantor, diseret keluar sambil menangis minta maaf. Baiklah... Kali ini dia memang beruntung, lolos tanpa ganjaran atas perbuatannya yang menjijikkan. Di tengah lamunanku, sesuatu yang dingin tiba-tiba menempel di pipiku. Aku refleks menoleh. "Jangan melamun terus," tegur Leon sambil menyodorkan es krim padaku. Aku tersenyum kecil dan menerima es krim itu, sembari berkata, "Makasih, ya." Pandangan mataku sempat menelusuri wajah Leon yang duduk di sebelahku. "Kamu juga beliin es krim buat anak-anak?" tanyaku. Leon tersenyum lembut, "Iya," jawabnya singkat. Kami sedang berada di panti asuhan. Satu-satunya tempat yang paling aman untuk kami bertemu, atau mungkin, berkencan diam-diam. Lagipula, tempat ini memang paling cocok, karena kami berdua suka anak kecil. Aku memandangi es kr







