MasukLeon menggendongku tanpa berkata apa-apa, langkahnya mantap namun terasa lembut.
Leon membawaku ke kamarnya, yang ternyata berada di lantai berbeda dari kamarku. Begitu pintu kamarnya terbuka, aroma maskulin dan hangat langsung menyambutku. Ruangan itu luas, dengan pencahayaan redup dan sentuhan elegan di setiap sudutnya. Leon menurunkanku perlahan di atas sofa empuk berwarna krem, lalu duduk di seberangku sambil menatapku lekat. "Lia, kalau kamu masuk ke dalam sini, berarti kamu tidak bisa keluar begitu saja," lontarnya, sembari melepas satu per satu kancing kemejanya, memperlihatkan dada bidangnya yang tampak sempurna di bawah cahaya lampu. Aku tertawa kecil, mencoba menutupi kegugupan yang sebenarnya mulai merayapi dadaku. Perlahan aku berdiri, melangkah mendekatinya, lalu duduk di pangkuannya. Dengan tatapan genit, aku menyentuh dagu Leon dan memaksanya menatapku. Tatapan Leon sempat berubah. Menyadari mataku yang sembab, kekhawatiran langsung tergambar di wajahnya. Ia mengangkat tangannya dan mengelus pipiku yang dingin. "Siapa yang berani membuatmu menangis?" tanyanya pelan. Aku meraih jemari besar Leon, menurunkannya perlahan. "Itu tidak penting, Leon. Malam ini, aku ingin kamu menghiburku," pintaku, tanpa rasa malu. Sebuah senyuman merekah di wajah Leon, senyuman yang mampu menambah ketampanan di wajahnya. "Dengan senang hati," katanya, dengan nada rendah yang membuat udara di antara kami terasa semakin panas. Aku sempat tersentak ketika bibir Leon tiba-tiba mengecup leherku. Sentuhan hangat itu membuat seluruh tubuhku menegang seketika. Ada perasaan aneh yang menjalari inci kulitku setiap kali bibirnya menyentuhku, seperti campuran antara rasa bersalah, dan keinginan yang tak bisa dijelaskan. Namun aku berusaha menepis semuanya. Aku yang menginginkan ini. Aku yang memutuskan untuk membalas perselingkuhan suamiku dengan cara yang sama kejamnya. "Leon... Hentikan," pintaku lirih. Leon langsung berhenti, menatapku dengan sorot mata penuh tanya. Tapi belum sempat ia bicara, aku lebih dulu mencium bibirnya. Sepertinya Leon sempat terkejut dengan tindakanku yang spontan dan tanpa berpikir. Aku bisa merasakannya dari tubuhnya yang menegang beberapa detik, sebelum akhirnya ia membalas ciumanku. Ketika ciuman kami terlepas, hanya napas kami yang tersisa di udara. Kami pun saling menatap, seolah mencoba membaca isi hati masing-masing. "Lia, bibirmu enak," ujarnya serak, sambil menjilat bibir bawahnya sendiri. Aku tersenyum tipis. "Kenapa kamu berhenti memanggilku Mbak? Aku ini atasanmu, loh...." godaku. Leon tertawa kecil, nada suaranya berubah lebih rendah. "Sekarang kita tidak berada di kantor. Kita di dalam kamar hotel... Hanya berdua." Aku yang tersipu, sedikit menundukkan kepalaku, lalu perlahan menatapnya lagi dengan tatapan berani. "Leon, bantu aku melepas pakaian ku," bisikku, nyaris tanpa suara. Dengan senang hati Leon melepas atasan yang aku kenakan. Matanya langsung menyorot pada buah dadaku yang memiliki ukuran lumayan besar. "Jangan hanya dilihat, kamu boleh menyentuhnya," ucapku, menahan malu. Aku yang selama ini menolak Leon, kini malah berlagak layaknya wanita murahan di hadapannya. "Aku pria paling beruntung di dunia ini," ucapnya, sebelum meremas dadaku yang masih berbalut bra. Jantungku berdegup kencang. Ini pertama kalinya aku dijamah lagi, setelah enam bulan lamanya tidak disentuh oleh suamiku. "Leon...." Aku yang sudah kehilangan akal sehat, melepas braku, dan memintanya untuk menyusu seperti bayi. Tanpa berbicara, Leon langsung melahap gunung kembar milikku secara bergantian. Ia terlihat begitu bersemangat. Sedangkan aku hanya mendesah sambil memejamkan mataku. Puas dengan payudaraku, Leon menggendongku dan membaringkan tubuhku di atas kasur empuk. Aku menatapnya dari bawah, menyaksikan bagaimana ia melepas kemejanya, lalu melonggarkan sabuknya dengan gerakan santai namun menggoda. Leon menunduk, mengukung tubuhku sambil terus menatapku dalam. Tatapannya tajam, tapi entah kenapa terasa lembut di waktu yang sama. "Kamu suka dilembutin atau dikasarin?" tawarnya, menggodaku. "Aku suka dua-duanya," jawabku, menantangnya tanpa ragu. Leon tertawa kecil, lalu bangkit. Ia menyisir rambutnya yang sedikit berantakan dengan jemarinya sendiri. Matanya kemudian berhenti pada perutku. Tatapannya berubah, bukan lagi sekadar nafsu, seakan ada sesuatu yang lebih dalam di sana. Leon menatap bekas jahitan di perutku cukup lama, hingga aku mulai merasa tak nyaman. Spontan, aku menarik selimut untuk menutupinya. Namun tangan Leon menahanku. "Dari mana kamu mendapatkan luka di perutmu?" tanyanya pelan. Aku menatap Leon, heran melihat matanya yang berkaca-kaca. Aku memalingkan wajah, menelan ludah sebelum menjawab. "Ketika aku masih berusia dua puluh tahun, aku pernah menyelamatkan anak kecil yang hanyut di sungai kampungku. Perutku tersayat ranting pohon yang tajam." Aku menarik napas panjang dan mengubah posisiku menjadi duduk. "Kita hentikan saja. Aku tidak mau membuatmu trauma karena bercinta dengan wanita yang memiliki tubuh jelek sepertiku." "Aku nggak mau berhenti," tandas Leon, mendorongku hingga aku kembali terlentang. Leon menggenggam kedua tanganku, menahannya di atas kepala, sementara tatapannya tidak lepas dariku. Lalu, tanpa berkata apa pun, Leon menunduk dan mengecup lembut perutku, tepat di atas bekas jahitan yang selama ini selalu kusembunyikan. Aku tertegun, tak tahu harus bereaksi seperti apa. Mas Yuan selalu menutupi bagian itu dengan selimut setiap kali bercinta denganku, seolah luka itu membuatku tidak layak untuk disentuh. Tapi Leon... Ia justru memperlakukannya dengan begitu lembut, seakan bekas luka itu sesuatu yang indah. Dadaku terasa sesak. Tanpa sadar, air mataku menetes. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku merasa diinginkan. Leon melucuti pakaian yang kami kenakan, lalu melakukannya dengan penuh gairah. Selama permainan, aku hanya bisa mendesah keenakan. Aku akui, Leon sangat jago, seperti seseorang yang sudah berpengalaman. Apalagi milik Leon yang besar dan panjang, semakin membuatku gila. Kami bercinta dengan berbagai gaya. Leon membuatku melayang, dan menjadi diriku sendiri. Entah mengapa, aku bisa merasakan perasaan Leon dari gerakannya saat menghujaniku. "Lia... Lihat dirimu di cermin," pinta Leon, berdiri di depan cermin. Dengan mata sayu, aku melihat pantulan diriku yang sedang digendong Leon. Namun mataku tertuju pada benda panjang milik Leon yang keluar masuk di lubangku. Aku benar-benar dibuat gila olehnya. "Lia, hanya aku yang boleh begini. Bahkan suamimu, tak akan aku biarkan menyentuhmu," bisik Leon, semakin membuatku bergairah. Aku hanya mengangguk sembari terus mendesah. Otakku sudah konslet, tak mampu lagi berpikir. Entah sudah berapa kali kami mencapai titik ternikmat kami, tapi Leon sama sekali tak ingin berhenti. Bahkan saat aku sudah lemas pun, ia tetap memasukkan burungnya. *** Keesokan paginya, aku terbangun dengan tubuhku yang terasa nyeri, seolah habis melewati badai panjang. Aku membuka mataku perlahan, dan menemukan Leon masih tertidur di sampingku, wajahnya tenang dalam posisi tengkurap. Di punggungnya terlihat beberapa goresan samar, bekas dari malam penuh emosi yang kami lalui. Aku menggigit bibir, merasa bersalah karena telah melukainya. Pelan-pelan aku turun dari ranjang, mencari keseimbangan di antara rasa lelah dan pening yang masih tersisa. Aku melangkah menuju kamar mandi. Aku ingin membasuh diriku yang terasa sangat lengket. Aku melepas kemeja Leon yang membalut tubuhku, lalu berdiri di bawah shower. Aku merasakan sesuatu keluar dari lubangku, lalu turun melewati pahaku. Itu... Sperma milik Leon. Aku tak menghiraukannya, toh, tadi malam ia tak mengenakan pengaman apa pun. Tapi, bagaimana jika aku hamil? Ya, itu akan menjadi anak Leon. Air hangat mengalir di atas kepalaku. Aku pun menutup mata, membiarkan diriku larut dalam keheningan. Ketika tubuhku mulai kehilangan keseimbangan, seseorang menangkapku dari belakang. Leon. Entah sejak kapan ia sudah berdiri di dekatku. "Aku akan memandikanmu," bisiknya lembut di telingaku. Aku hanya bisa mengangguk pelan. Dengan suaraku nyaris tak terdengar, aku berkata, "Terima kasih, Leon." *** Hari-hari berlalu, kunjunganku di Singapura telah berakhir. Dan kini aku berdiri di depan pintu unit apartemenku. Tanganku gemetar saat memegang gagang pintu apartemen. Ada rasa mual yang naik ke tenggorokan, tapi aku memaksakan diri untuk tetap membuka pintu tersebut. Begitu pintu terbuka, aroma khas ruangan langsung menyergap, campuran antara parfum Desy dan wangi sabun yang kupilihkan untuk Mas Yuan. Perasaanku seketika berantakan. Aku benar-benar jijik membayangkan betapa banyak kenangan kotor yang terjadi di tempat ini. Namun, aku tetap melangkah masuk, menahan sesak yang menghimpit dadaku. Aku harus kuat. Aku tidak boleh terlihat rapuh. Di ruang tamu, Mas Yuan dan Desy duduk bersama. Begitu melihatku, mereka berdua langsung berdiri. "Mbak Lia! Kok nggak bilang kalau sudah pulang? Aku dan Paman Yuan bisa jemput loh!" seru Desy ceria, ia melangkah ke arahku seperti tidak terjadi apa-apa. Senyum Desy yang dulu terlihat manis, kini bagiku terasa menjijikkan. Setelah aku tahu kelakuannya di belakangku, semua yang melekat pada Desy, kepolosan, keluguan, dan sikap manjanya, berubah menjadi topeng murahan yang membuatku muak. "Iya! Kenapa kamu tidak menghubungiku? Aku ingin menjemputmu di bandara," sambut Mas Yuan, dengan nada sok perhatian yang membuatku ingin tertawa sinis. Aku menarik napas panjang, lalu memaksakan sebuah senyum palsu di wajahku. Tanpa sepatah kata pun, aku melangkah menuju kamar, melewati mereka. "Mbak Lia kenapa?" tanya Desy dari belakang, ia mengikutiku hingga ke ambang pintu kamar. Aku berhenti sejenak, tapi tak menoleh. Nafasku tersengal, menahan amarah dan air mata yang hampir pecah. "Desy, aku capek banget. Aku pengen tidur," kataku, meletakkan koper di depan lemari. Desy tampaknya tidak mengerti. Ia malah menghampiriku dengan wajah ceria, lalu menagih tas yang sempat ia pesan sebelum aku berangkat ke Singapura. Aku menahan napas sejenak. Aku yang Enggan menatap wajahnya, terpaksa berbalik menghadapnya. "Tas yang kamu pesan tidak ada. Semua toko yang aku kunjungi sudah tidak menjualnya. Tasmu memang lagi ngetren di sana, mangkanya habis," jelasku, berbohong dengan suara datar. Padahal kenyataannya, aku sudah membeli tas itu untuknya. Tapi setelah tahu kelakuannya, aku tak akan menyerahkannya. Ia tidak pantas mendapatkan apa pun lagi dariku. Desy tampak kecewa. Wajahnya merengut, dan bibirnya mengerucut seperti anak kecil. "Padahal aku pengen banget...." ucapnya pelan "Mau gimana lagi? Kamu beli saja di online yang bekas," kataku sambil menguap kecil. "Sudah ya, aku ngantuk." "Eh tunggu, Mbak. Emangnya Mbak enggak bawa oleh-oleh lain?" tanya Desy, berharap ada sesuatu dariku. "Maaf ya, aku nggak sempat belanja. Soalnya aku ke Singapura itu kerja, bukan tamasya," ketusku, kali ini tanpa berusaha menahan nada kesal di suaraku. Desy hanya mengangguk-angguk, tampak kikuk. "Oh ya, Mbak. Masak, Mas Leon nggak masuk kerja selama seminggu. Dia ikut ke Singapura kah?" tanyanya tiba-tiba. Aku sedikit tertegun. "Mana aku tahu, aku tidak melihat Leon di Singapura," jawabku datar, malas menanggapi lebih jauh. Desy tertawa canggung. "Ya sudah, Mbak istirahat dulu," katanya, sebelum melangkah keluar dari kamarku. Aku menghela napas panjang saat mendengar pintu kamarku tertutup. *** Besoknya, di kantor, aku berusaha sebisa mungkin menghindari Leon yang sejak pagi terus mencari kesempatan bicara denganku. Sialnya, saat aku berjalan melewati lorong menuju ruangan Manajer, Leon berhasil menarikku ke ruang rapat yang kosong. "Aku sibuk banget. Nggak ada waktu buat kamu," kataku ketus, mencoba menjaga jarak. Leon menatapku tajam, sambil perlahan mendekat. "Lia, aku cuma ingin bicara denganmu, kekasihku," ujarnya dengan nada tenang namun memaksa. Aku memalingkan wajah, tidak sanggup menatapnya. "Kita hanya melakukannya sekali, Leon. Bukan berarti aku menjadi kekasihmu. Anggap saja kemarin itu hanya... Coba-coba," ucapku, menahan gejolak dalam dada. Aku merasa jahat karena berbicara seperti itu dengannya. "Jadi, harus melakukannya berkali-kali ya? Baru bisa dianggap kekasih?" lontar Leon, mengukungku. Aku berusaha mendorong dada bidang Leon yang semakin menghimpitku. "Kalau begitu, ayo kita lakukan lagi," ajaknya. "Leon... Lepaskan aku...." mohonku, ketika Leon menarikku ke dalam pelukannya. "Kita sedang berada di kantor. Nanti kalau ada yang lihat, gimana?" Aku resah. "Tidak akan ada yang melihatnya," balas Leon, menciumi leherku. Leon melepaskan pelukannya, bukan untuk membebaskanku, melainkan untuk mengunci pintu ruangan rapat. Kemudian ia menggendongku, mendudukkanku di atas meja rapat. "Leon, jangan melewati batas," tegurku, menahan lengan Leon yang mulai menyikap rokku. "Jika kamu mengakuiku sebagai kekasihmu. Maka aku akan berhenti," lontarnya, memberiku pilihan sempit. Karena aku masih mencintai karierku, aku pun bersedia mengakuinya sebagai kekasih. Benar saja, Leon langsung melepaskanku, membiarkanku pergi tanpa berkata apa-apa. Leon sinting! Seharusnya aku tidak bermain api dengannya. Baru saja aku bisa bernapas lega karena terbebas dari Leon, ponselku tiba-tiba berdering. Dari layar, terpampang nama rumah sakit. Jantungku langsung berdegup kencang. Aku buru-buru mengangkat panggilan tersebut. Suara di seberang memberi kabar yang membuat lututku hampir lemas. Ibuku mengalami serangan jantung. Tanpa banyak berpikir, aku segera menuju rumah sakit. Sepanjang perjalanan, pikiranku kosong, hanya doa yang terus meluncur dari bibirku. Sesampainya di rumah sakit, aku mendapati ibuku terbaring lemah di ruang gawat darurat. Tubuhnya penuh dengan kabel dan alat medis. Aku hampir tak sanggup menatapnya seperti itu. Dokter yang menangani ibuku menjelaskan dengan nada serius bahwa jantung ibuku harus segera dipasangi ring agar kondisinya stabil. Aku langsung mengangguk, menyetujui tindakan tersebut tanpa ragu. Dokter juga menambahkan bahwa biaya harus dilunasi terlebih dahulu sebelum tindakan dilakukan. Aku tercekat. Dengan tangan gemetar, aku segera mengeluarkan ponsel dari tas dan berusaha menghubungi Mas Yuan. Aku berharap dia segera datang ke rumah sakit, mengingat ibuku butuh pertolongan secepatnya. Uang di rekeningku tidak cukup untuk membayar biaya operasi ibuku. Semua sudah habis kutransfer untuk pembangunan rumah. Aku duduk di kursi ruang tunggu, mencoba menenangkan diri sambil menatap pintu ruang ICU yang tertutup rapat. Tak lama kemudian, Mas Yuan datang. Begitu melihatnya, aku langsung menghampiri dan meminta Mas Yuan melunasi biaya rumah sakit ibuku dengan uang dari tabungan bersama kami. Akan tetapi, Mas Yuan menolak mentah-mentah. Alasan yang ia berikan membuat hatiku teriris. Katanya, uang itu disimpan untuk masa depan anak kami. "Tapi kita belum memiliki anak. Gunakan uang itu untuk ibuku!" pintaku, berusaha menahan air mata. "Lia! Bukankah kamu bisa membiayai ibumu sendiri? Saat kamu bersikukuh membawa ibumu ke kota. Tanggung saja biaya ibumu, jangan melibatkatkanku!" lontar Mas Yuan dingin. Aku terdiam. Rasanya seperti tertampar keras oleh kenyataan. "Mas... Ibuku jual sawah buat bantu bisnismu yang hampir bangkrut. Tapi kamu nggak mau keluar uang buat ibuku?" mohonku dengan suara bergetar. "Itu sudah kewajiban ibumu membantu menantunya. Toh, kalau aku bangkit, kamu juga yang senang," balasnya tanpa rasa bersalah. Aku hanya bisa menunduk, membiarkan air mataku keluar. "Mas Yuan, kenapa kamu nggak pernah menyayangi ibuku," gumamku lirih, pasrah. "Ah sudah, aku lagi sibuk! Kamu urus sendiri ibumu! Jangan ganggu pekerjaanku!" katanya kasar, sebelum berbalik meninggalkanku. Aku menatap punggung Mas Yuan yang menjauh. Untuk pertama kalinya, aku benar-benar merasa sendirian. Baiklah, Mas Yuan… Aku akan mengingat kelakuanmu ini. Aku yang tidak ingin terpuruk, mencoba mencari jalan keluar. Dengan tangan yang masih bergetar, aku membuka kontak Intan di ponselku. Hanya dia, satu-satunya orang yang mungkin bisa kumintai tolong untuk meminjam uang. Namun, belum sempat sambungan terhubung, seorang suster menghampiriku sambil membawa berkas di tangannya. "Bu Lia, mohon tanda tangan di sini agar pasien segera di operasi. Biaya operasi ibumu sudah dilunasi," katanya sopan. Aku tertegun. Dilunasi? Mungkinkah Mas Yuan berubah pikiran dan membayarnya? Aku pun segera menandatangani dokumen itu. "Sus, siapa yang melunasi biaya operasi ibu saya?" tanyaku, hanya ingin memastikan. "Pemilik rumah sakit melihat anda kesulitan, jadi beliau melunasinya," jelas sang suster sambil tersenyum kecil. "Pemilik rumah sakit sangat baik. Bisakah aku bertemu dengan beliau, untuk mengucapkan terima kasih secara langsung?" harapku. Suster itu mengangguk dan memberitahuku bahwa sang pemilik sedang berada di ruang tamu paviliun utama. Aku pun segera melangkah cepat ke sana. Namun begitu sampai, langkahku terhenti. Orang yang kulihat duduk santai di sofa paviliun, ternyata adalah Leon. Leon lagi, Leon lagi. Bocah satu ini ada di mana-mana. "Leon... Kamu ngapain di sini? Bolos kerja nih?" tanyaku sambil duduk di sebelahnya, mencoba bersikap biasa. "Gimana? Mertuaku sudah dioperasi?" ujarnya santai, sambil meletakkan ponselnya di meja. Aku mematung. "Kamu sudah menikah? Kok punya mertua?" tanyaku dengan nada bingung. Ada sedikit rasa aneh di dadaku, entah kenapa aku merasa sedih mendengarnya. "Ibumu adalah mertuaku," jawab Leon singkat, tanpa ekspresi berlebihan. Aku refleks memukul pundaknya. Sejak kejadian di hotel, sikap Leon berubah, sok dewasa, sok berkuasa, dan menganggapku miliknya seorang. "Kamu kembali ke kantor sana," usirku, tak serius. "Oh ya, kamu lihat ada orang lain selain kamu nggak yang tadi di sini? Si pemilik rumah sakit ini," tanyaku, mataku menelusuri ruangan yang sepi. "Dari tadi hanya ada aku. Mungkin aku si pemilik rumah sakit." Bersambung...Besoknya, aku terbangun di siang bolong. Saat menyadarinya, aku bergegas membersihkan diri, dan turun untuk menemui Nyonya Lusi. Rupanya, Nyonya Lusi telah menungguku, dan beliau tak marah atau kesal karena aku bangun kesiangan. Aku bisa bernapas lega. Aku pikir, sikap Nyonya Lusi akan berubah sinis. "Lia... Ayo makan siang dulu. Aku sengaja masak makanan kesukaan kamu," ajak Nyonya Lusi, tersenyun ramah. Aku duduk di kursi yang ditunjuk Nyonya Lusi. Dan beliau langsung mengisi piringku dengan beberapa makanan. "Terima kasih, Nyonya," kataku. "Jangan panggil nyonya. Aku ini calon ibu mertuamu. Panggil ibu saja, biar lebih akrab," timpal Nyonya Lusi, menepuk punggung tanganku pelan. Aku mengangguk penuh antusias. "Iya, Ibu...."Kami pun makan berdua tanpa ditemani Leon yang sedang mengurus suatu hal penting. Setelah makan siang, Nyonya Lusi mengajakku berkeliling mansion. Beliau menceritakan mengenai Leon,
Leon baru puas dan berhenti setelah keluar lima kali. Dia benar-benar gila. Sekarang ia berbaring di sampingku sambil meny*su seperti bayi. "Leon...." panggilku lirih. "Hm?" Leon menanggapi tanpa membuka matanya. "Dadaku sakit...." keluhku. "Sudah, jangan dihisap lagi," pintaku, suaraku parau.Leon menurut tanpa drama. Bahkan ia langsung meminta maaf. Aku tak mempermasalahkan hal tersebut.Aku meraih ponsel milik Leon yang tergeletak di atas nakas. Aku menyalakannya, dan terkejut mengetahui jika waktu sudah menunjukkan pukul dua pagi. Itu artinya, kami berdua bermain seharian penuh. Pantas saja, tubuhku terasa hancur. Aku menggoyang-goyang pelan pundak Leon, membangunkan lelaki itu."Leon... Ayo kita pindah kamar. Ranjang di sini basah. Aku... Tidak bisa tidur nyeyak," ajakku, ketika Leon memperhatikanku.Dengan wajah lelah, dan napas berat, Leon bangkit dari ranjang. Ia meraih celana pendek, lalu mengenakan
Aku tertawa melihat Desy kebingungan."Desy... Desy... Rumah ini dibangun menggunakan uangku. Tentu saja, rumahku. Masak... Rumahmu?" ledekku."Ini rumah Mas Yuan yang dikasih ke aku!" ujar Desy, menyangkal pernyataanku.Suara tawaku semakin kencang. Kalimat yang dilontarkan Desy barusan, sangat menghiburku.Baiklah, aku harus menghentikan tawaku dan memberitahu Desy yang sebenarnya. "Mas Yuan menipumu," kataku."Apa? Menipuku? Enggak mungkin. Rumah ini... Mahar dari Mas Yuan," gumam Desy, terduduk di atas lantai dengan tubuh lemas. "Mas Yuan keterlaluan! Tak hanya menikahiku secara palsu, bahkan dia menikahimu dengan mahar palsu! Benar-benar berengs*k!" seruku, sambil menghentakkan kakiku, pura-pura kesal. "Desy... Bagaimana jika kamu pastikan dulu, apakah harta gono-gini yang diberikan Yuan itu beneran asli," saran Leon, yang sedari tadi diam. Aku langsung setuju dengan Leon. "Mas Yuan j
Mas Yuan mengepalkan kedua tangannya. Wajahnya merah padam, menandakan jika ia benar-benar marah. "Desy! Coba, ulangi lagi perkataanmu!"Baru kali ini aku mendengar Mas Yuan membentak Desy. Pertunjukkan yang menarik. "Aku! Men-cin-tai Mas Leon! Hanya Mas Leon!" teriak Desy tepat di wajah Mas Yuan. 'Plak!' Satu tamparan keras menghantam pipi Desy hingga wanita itu terhuyung, dan jatuh di atas lantai.Semua orang tercengang, tak terkecuali aku. Pak Wan buru-buru naik ke atas panggung untuk menolong putrinya yang akan mendapat pukulan lagi dari Mas Yuan. Bisik-bisik dari tamu mulai bermunculan. Aksi tak terduga Mas Yuan sangat cocok untuk dijadikan bahan gosip. Ah sial, aku ingin sekali tertawa lepas. Tapi aku harus menahannya. Simpan perayaan ini untuk nanti di rumah."Wanita sialan! Coba ulangi kata-katamu!" perintah Mas Yuan, menarik rambut Desy.Dilihat dari respons Mas Yuan yang begitu marah, di
“Walaupun kamu turut andil dalam menipuku. Tapi aku bisa mengerti, kamu pasti dipaksa oleh Mas Yuan. Jadi, sangat sulit bagiku untuk membencimu,” tuturku, bersuara lembut dan penuh perhatian.Desy meletakkan kembali sendok dan garpu yang ia pegang untuk memberiku atensi.“Mbak Lia? Kamu....” Desy tak melanjutkan kalimatnya. Mungkin ia tak memiliki kata yang pas untuk disuarakan.“Di mataku, kamu tetaplah gadis kecil yang aku sayangi. Aku ingin yang terbaik untukmu. Maka dari itu, aku sarankan untuk menceraikan Mas Yuan,” kataku, meyakinkan Desy.Aku membeberkan semua keburukan Mas Yuan selama kami tinggal bersama pada Desy. Aku juga mengatakan bahwa aku tak ingin Desy bernasib sama sepertiku, terbuang, dikhianati, dan diperlakukan seperti sapi perah.“Kamu sudah masuk dunia hiburan. Penghasilanmu bisa mencapai ratusan juta sekali posting. Kamu kira, Mas Yuan tidak akan memanfaatkan itu? Dia akan menghisapmu, menyuruhmu membayar biaya hidu
Hari ini niatku datang ke kantor untuk menemui Kevin, dan melayangkan protes atas cutiku yang diperpanjang, eh... Malah bertemu dengan Desy. Kebetulan, karena Desy yang duluan mengejekku, tak ada salahnya untuk membalasnya. "Kamu kira, setelah bercerai dari pernikahan palsu, aku bakal menghabiskan sisa hidupku dengan meratap dan menangis?" ucapku, tersenyum miring."Aku... Akan melanjutkan hidupku dengan suka cita. Apalagi, sekarang aku sudah memiliki pengganti Yuan," imbuhku, sambil terus memandang rendah Desy.Desy yang semula terduduk di lantai, perlahan mendirikan tubuhnya sendiri. Ia menarik napas dalam, lalu mengembalikan ekspresi wajahnya yang tadi bengong seperti orang kehilangan jiwa, menjadi Desy yang sombong, manja, dan penuh percaya diri.Tatapan matanya kembali tajam, dagunya sedikit terangkat, seolah tak pernah ada momen rapuh yang barusan singgah. Ia kembali mengenakan topengnya dengan rapi, menutup segala kegamangan yang







