MasukMahes berusaha memberi jawaban agar Rose tidak kecewa, “Hmm…, maaf Nyonya, dalam SOP penerbangan, selama delay seorang pilot sebaiknya tidak berada di dalam pesawat. Sebaliknya, ia berada di ruang tunggu atau di udara terbuka. Untuk menghilangkan kebosanan pada pilot tersebut, Nyonya. Begitu…” jelasnya memberi alasan pada Emma.
“Oh, seperti itu… kalau begitu tunggu sebentar, aku juga ingin ikut ke bandara,” ujar Emma, lalu ia pergi ke dalam ruang pribadi untuk mengambil jaket dan tasnya.
Rose tentu saja dibuat kesal dengan sikap ibunya, “Benar-benar deh, Mama… tidak mau jauh dari Mahes…” gumamnya dalam hati.
“Robert, kamu tunggu mama, aku dan Pak Mahes pergi duluan. Ayo…” Rose menarik lengan Mahes untuk mengajaknya keluar dari pesawat.
“Tapi, Nona…” ucap Robert tak dihiraukan Rose. Duh, lama-lama aku bisa sakit jiwa menghadapi ibu dan anak yang selalu bersaing ini, gumam Robert lalu menghela napas untuk menenangkan dirinya.
“Mengapa kita tidak menunggu Nyonya Emma saja, Nona Rose?” tanya Mahes saat berjalan beriringan menuju mobil yang sedang terparkir di depan hanggar.
“Mamaku kalau mau keluar itu dandannya lama, Kapten. Tahu sendiri kan dia seorang artis, harus selalu menjaga penampilannya. Sebagian hidupku sudah habis untuk menunggunya bersolek, sebenarnya aku sudah sangat jenuh, tapi ya bagaimana lagi…”
Mahes memahami apa yang dirasakan Rose sebagai anak seorang public figure, tetapi ia juga merasa kurang nyaman harus meninggalkan Nyonya Emma.
Seorang sopir berseragam serba hitam mempersilakan Rose dan Mahes masuk ke dalam mobil alphard. Jarak dari hanggar itu ke bandara memang dekat, tidak sampai lima menit. Dalam waktu yang singkat itu Rose mengambil kesempatan untuk bercerita mengenai kehidupan pribadinya pada Mahes, “Kalau bukan pesan terakhir dari papaku sebelum meninggal, aku tidak mungkin mau mengikuti kemana saja mamaku pergi. Aku juga ingin punya kehidupanku sendiri,” ungkap Rose sambil duduk bersandar di samping Mahes.
“Jadi mendiang papanya Nona Rose meminta Nona menjaga Nyonya Emma, begitu ya?”
“Iya, seperti itu, bahkan suatu hari kalau aku sudah menikah pun aku harus tinggal bersama mamah. Begitu pesan terakhir, papa.”
“Mungkin papa Nona berpesan seperti itu untuk kebaikan nona dan nyonya Emma juga, supaya saling menjaga satu sama lain.”
“Iya aku ngerti. Dulu saat masih ada papa, hubunganku dengan mama baik-baik saja, tidak ada masalah sama sekali. Mama dan papa banyak menghabiskan waktunya di luar rumah, sedang aku disibukkan dengan aktivitasku sendiri. Bahkan aku jarang bisa bertemu mama di rumah. Sejak setahun lalu aku saat menggantikan posisi papa, harus selalu menemani mama bepergian, mulailah aku menyadari kalau aku dan mama itu memiliki banyak sekali perbedaan pandangan. Coba Pak Mahes bayangkan, dua orang yang selalu bertolak belakang diharuskan selalu bersama-sama, yang timbul hanya perdebatan, kemarahan, dan rasa kesal yang tidak habis-habisnya, berlangsung terus seperti itu tiap hari.”
Mendengar Rose mengungkapkan isi hatinya, Mahes bisa merasakan kalau gadis di sampingnya dalam keadaan tertekan, “Mungkin aku hanya bisa menyarankan pada Nona, sebagai seorang anak kita harus lebih banyak mengalah pada orangtua. Jika saling mengedepankan ego, tidak akan ada habisnya. Bukan begitu, Nona?”
“Aku pernah dalam posisi mengalah seperti yang Pak Mahes katakan itu, tapi aku tetap saja salah di mata mama. Kesabaran dalam diriku sekarang sudah habis, tapi aku juga tetap ingin mengikuti pesan terakhir papa agar selalu mendampingi mama. Begitu dilema yang sedang aku hadapi, Pak Mahes.”
“Iya, Nona. Sekarang aku paham yang nona rasakan. Begini saja, Nona, mulai hari ini aku selalu siap untuk jadi teman bercerita atau teman ngobrol Nona. Kalau ada hal atau masalah jangan sungkan untuk mengatakannya padaku, aku siap membantu. Oke, Nona?”
Mahes mengangkat tangan kanannya ke arah Rose di sampingnya, Rose pun tersenyum lalu menyambut tangan Mahes dengan menepuknya.
“Nah, begitu dong senyum… makin kelihatan manisnya… hehehe…”
“Ih Pak Mahes, bisa aja sih…”
Rose tertunduk malu diperlakukan seperti anak kecil oleh Mahes, namun ia bisa merasakan ada kehangatan yang ditebarkan oleh sang pilot tampan itu.
Terlebih lagi saat berjalan beringan dengan Mahes di bandara, Rose merasakan ruang kosong yang selama ini ada dalam dirinya perlahan-lahan seperti terisi kembali. Kerinduannya pada sosok lelaki idaman, gagah, tampan, dan penyayang, itu semua sudah ada pada diri Mahes. “Aku akan berjuang untuk mendapatkan hatimu, Pak Mahes…" batin Rose ditaburi harapan.
Sementara itu di dalam kabin, setelah beberapa menit Emma baru keluar dari kamar pribadinya, “Lho, mana Rose dan Mahes?” tanyanya pada Robert dengan kening berkerut.
“Nona Rose tidak sabar menunggu, Nyonya, jadi dia minta Pak Mahes menemaninya,” jawab Robert sambil menundukkan pandangan karena tahu bossnya itu sedang marah.
“Kalau Rose mau jalan duluan, harusnya kamu yang menemani, kenapa jadi Mahes pula yang diajaknya? Dengar ya Robert, sekarang Mahes itu pilot pribadi sekaligus asisten pribadiku, jadi kalau kemana-mana harus bersamaku. Aku tidak mau siapa pun, termasuk Rose, mendekati Mahes. Dia hanya boleh dekat denganku! Tolong pastikan itu, Robert!”
“I-iya… siap Nyonya Emma!”
Detik itu Robert berpikir kalau kehadiran Mahes hanya akan menambah pekerjaannya sebagai manajer Emma Laurent. Siap-siap aku dimarahin terus tiap hari, batin Robert sambil mengiringi Emma menuju bandara menyusul putrinya bersama Mahes.
Saat tiba di bandara, kehadiran Emma langsung menjadi pusat perhatian. Ia tersenyum ramah pada setiap orang yang menyapanya, namun dalam pikirannya hanya tertuju pada Mahes, “Dimana kamu Mahes? Kamu milikku, tidak ada siapa pun yang boleh dekat denganmu, selain aku,” batin Emma berceracau sendiri…
Mahes melirik jam dinding di kamar hotel. Sudah hampir tengah malam, namun Rose belum juga kembali. Sampai detik ini Robert pun belum mendapat kabar dari Pierre. Perasaan tidak tenang itu kini berubah menjadi debar jantung yang memburu. Di luar, lampu-lampu di Kota Paris mulai meredup, membuat keindahan Paris terasa kelam di mata Mahes."Tidak bisa. Aku tidak bisa hanya diam menunggu di sini," gumam Mahes sembari menyambar jaketnya.Baru saja ia hendak melangkah ke arah balkon, Robert melihatnya dengan wajah yang jauh lebih tegang dari sebelumnya. Ponselnya pun masih menempel di telinga."Pak Mahes! Pierre akhirnya mengangkat teleponnya, tapi..." Robert menggantung kalimatnya, napasnya memburu."Tapi apa, Pak Robert? Di mana mereka?!" seru Mahes tak sabar."Suaranya sangat gaduh, Pak. Sepertinya mereka tidak sedang berada di diskotik. Pierre hanya berteriak 'Grands Boulevards' dan 'help' sebelum sambungannya terputus. Aku mendengar suara pecahan kaca dan teriakan Nona Rose!"Darah M
Sesampainya di hotel, Anton dan Robert memilin untuk bersantai di balkon kamar hotel melihat pemandangan kota Paris, sambil sesekali menyeruput kopi panas, sebaliknya Mahes di dalam kamar terlihat tidak tenang memikirkan keadaan Nona Rose.“Mengapa aku merisaukan Nona Rose keluar dengan Pierre? Aku percaya dia lelaki yang baik dan bertanggung jawab, tidak akan berbuat macam-macam pada Nona Rose.” Mahes coba menenangkan diri.Namun, beberapa saat kemudian, Mahes tetap merasa tidak tenang, “Ck…, kenapa tiba-tiba aku sangat mencemaskannya? Apa aku merasa sedang tersaingi dengan Pierre? “ Mahes bicara sendiri dengan dirinya. Mahes berusaha mengusir perasaan yang bukan-bukan di dalam dirinya, “Aku tidak sedang cemburu!” ia meyakinkan dirinya.“Apa aku hubungi Nona Rose saja, sekadar untuk mengetahui keadaannya?” pikir Mahes, lalu ia coba menghubungi nomor HP Rose, tapi tidak aktif. Kemudian ia berpikir untuk menelpon Pierre saja, tapi tak memiliki nomor ponselnya. Mahes tambah termenung d
Rose menerima ajakan Pierre.“Where’re we going, Pierre?” “How about going to a nightclub? I have a great recommendation for a nightclub in this city.”“Night club? Sounds interesting.”Pierre ingin mengajak Rose pergi ke sebuah klub malam di pusat kota. Kebetulan sudah cukup lama ia tak pergi ke tempat seperti itu. Beberapa waktu terakhir, hidupnya memang hanya sibuk untuk mengurusi keperluan keluarga, terutama mendampingi sang mama setelah papanya pergi untuk selamanya. Sepertinya, malam ini ia berharap mendapat pengalaman menarik dan menyenangkan dirinya dengan masuk ke dalam tempat hiburan di Paris.“Miss Rose, I have to go home for a while to change clothes. This hotel uniform doesn't suit me when going to the night club.”“Where your home, Pierre?”“Just around here.”Rose pun setuju untuk pergi ke rumah Pierre, sekaligus penasaran seperti apa rumah keluarga pemilik hotel bintang lima itu?Setelah beberapa menit melaju di tengah kota Paris, akhirnya Peugeot Traveller yang dikem
“Miss Rose, how about after eat, I take you to see the beauty of the Seine River at night?” Pierre mengajak Nona Rose untuk melihat-lihat bagian luar studio TF1 yang berdiri megah di samping Sungai Seine. Rose tampak sedang mempertimbangkannya.“Iya, Nona Rose, pergilah melihat pemandangan di luar sana bersama Pierre, biar kami yang menunggu Nyonya Emma di sini,” Robert ikut menyarankan karena melihat suasana hati anak majikannya itu sedang tidak baik. “Okay, Pierre, let's go out…”“Yes, Miss.”Rose bangkit dari tempat duduknya di ruang makan itu, lalu Pierre mengikutinya dari belakang. Namun, setelah di luar studio keduanya berjalan beriringan menuju ke sisi kanan gedung, dari tempat itu tampak pemandangan Sungai Seine yang menawarkan suasana romantis dan menakjubkan dengan ikon Paris seperti Menara Eiffel yang berkilauan di kejauhan. Di atasnya pelayaran malam menyuguhkan pemandangan indah Katedral Notre Dame, Museum Louvre, dan jembatan bersejarah yang menyala di tepian sungai…“M
“Is the news that you will be acting in a film in France already known to your fans?” Emma akhirnya mendapat giliran diwawancarai oleh presenter setelah program talk show itu dimulai.“Yes, of course, everyone in my country supports me playing in this film.” Emma mengiyakan semua orang mendukungnya go internasional.“So, what is your biggest hope for this film?”“This is my chance to show my acting skills, which I have gained over 30 years in this industry. I hope everyone in the world will accept this film, especially my role in this film, as an independent woman, I hope it can have a positive impact for everyone. Thank you...”Semua orang bertepuk tangan mendengar ucapan Emma yang jelas dan penuh percaya diri. Tidak bisa disangkal pada malam itu Emma menjadi bintang yang paling bersinar dari penampilan dan ucapannya selama wawancara berlangsung.Detik itu tanpa terasa Rose merasa terharu sampai menitiskan air mata, ia tidak bisa memungkiri memiliki seorang mama yang begitu hebat, ter
Hari mulai gelap saat mobil yang dikendarai Pierre mulai bergerak menuju pinggiran kota Paris. Pada musim dingin, matahari terbenam lebih cepat seawal jam 5 sore. Perjalanan yang akan mereka tempuh selama 20 menit menuju menara studio TF1, tempat pertemuan dengan crew film yang akan dihadiri Emma.Selama perjalanan, Rose tampak menunjukkan keakraban berbicara dengan Pierre, rasa keingintahuannya mengenai berbagai hal di kota Paris. Sedangkan di kursi penumpang bagian belakang hanya kesunyian yang terlihat. Masing-masing sibuk dengan gawai di tangannya, hanya sesekali Emma terdengar bertanya sesuatu pada Robert, lalu dijawabnya dengan singkat dan anggukan kepala. Demikian pula Mahes, memilih diam, baru bicara jika Emma bertanya padanya. “Sorry, miss, what does the Indonesian say for ‘we have arrived’?” tanya Pierre pada Rose ketika mobil yang ia kendarai sudah sampai di depan menara yang berbentuk silinder berwarna kebiruan. “Kita sudah sampai,” jelas Rose.Pierre pun mengulangi ucapa







