LOGINDalam kokpit, Mahes perlu beberapa saat untuk membuat dirinya merasa nyaman sebelum menerbangkan pesawat Super Midsize Jets. Bersamanya seorang kopilot yang akan membantu selama penerbangan, “Biasa menerbangkan pesawat komersil, malah jadi canggung ya Pak, menerbangkan pesawat kecil?” ucap lelaki bernama Anton yang duduk di samping Mahes itu.
“Iya, ibaratnya biasa mengendarai mobil, tiba-tiba harus naik motor. Seperti itulah rasanya,” ungkap Mahesa sambil tersenyum. Namun, pengalamannya bertahun-tahun menerbangkan pesawat, semuanya bisa ia atasi.
“Nyonya Emma sudah masuk pesawat,” ucap Robert tiba-tiba masuk dalam kokpit. “Katanya Ibu ingin bicara dengan Pak Mahes,” tambahnya memberitahu.
Mahes pun mengiyakan, lalu ia pergi ke dalam kabin.
Seorang pramugari tampak sedang menuangkan minuman untuk Emma Laurent yang sedang duduk sendirian di kursi penumpang berbentuk sofa. Tampak ia sudah melepas jaket yang dikenakannya. Baju tanpa lengan yang dipakainya memperlihatkan kulitnya yang putih dan terlihat masih kencang meskipun sudah tidak muda lagi.
“Duduklah Mahes,” ucap Emma terdengar mesra saat Mahes mendekatinya. “Tidak apa-apa kan aku panggil nama saja?” tambahnya sambil menatap wajah Mahes.
“I-iya, Nyonya, tidak apa-apa,” balas Mahes kemudian ia duduk sejurus dengan tuannya itu.
“Jadi begini Mahes, dari awal ingin aku jelaskan, bahwa saat ini aku wanita single, dan aku harus menguruskan banyak hal, selain karirku, kamu pasti sudah tahu kan, juga perusahaan peninggalan suamiku sekarang aku yang mengelolanya. Kamu bisa membayangkan sesibuk apa kan keseharianku?”
Mahes mendengarkan setiap ucapan yang terlontar dari mulut Emma dengan hati berdebar-debar, berharap ada kebaikan untuknya.
“Sehebat apa pun wanita, tanpa seorang lelaki, tetap saja ia akan kesulitan menjalani kodratnya. Betul begitu kan, Mahes?”
Kali ini pertanyaan Emma membuat jantung Mahes berhenti berdetak, apalagi tatapan wanita itu tepat ke arah matanya. “I-iya, Nyonya…” Mahes mengangguk mengiyakan dengan gugup.
“Aku ingin menawarkan sesuatu yang sedang kamu butuhkan karena aku tahu kehidupanmu saat ini sedang tidak baik-baik saja.”
Pertanyaan Emma seperti menelanjangi Mahes. “Sudah aku duga, ia pasti tahu tentang video yang beredar itu,” batin Mahes.
“Orang-orang yang ingin bangkit dari masalah yang dialaminya, selalu memiliki power yang kuat, itulah yang menjadi pertimbanganku menerimamu bekerja sebagai pilot pribadiku. Apalagi setelah melihat langsung aslinya, walaupun baru hitungan menit, aku sangat yakin kalau pilihanku tepat,” ujar Emma sambil menyunggingkan senyum ke arah Mahes.
“Terima kasih atas kebaikan Nyonya,” balas Mahes sambil menangkupkan tangannya.
“Kembali pada penawaran yang ingin aku katakan tadi. Dengan semua kesibukan yang aku jalani setiap hari, aku memerlukan kamu mendampingi aku. Sebagai pilot pribadi sudah tentu, tapi untuk urusan-urusan pribadiku yang lain aku ingin kamu juga yang menguruskan.”
“Maksud Nyonya, menjadi asisten pribadi?”
“Boleh dibilang begitu, tapi boleh juga lebih dari itu. Kamu tahu kan maksudku?”
Walaupun masih menebak-nebak ke arah mana pembicaraan Emma, Mahes hanya mengiyakan saja ucapannya. “Apa pun akan aku lakukan untuk mendapatkan penghasilan yang setara dengan penghasilanku sebagai pilot maskapai internasional,” hanya itu yang terlintas di benak Mahes.
Senyum Emma mengembang, apa yang diinginkannya dengan mudah diterima baik oleh Mahes. Detik itu, segala rencana mulai bermain di benaknya.
“Hmm…, kalau pilotnya diajak ngobrol terus, kapan terbangnya kita?” ucap Rose tiba-tiba datang menyindir ibunya.
Mahes melirik jam di tangannya, waktu untuk take off memang sudah tidak lama lagi. Ia pun meninggalkan Emma lalu masuk ke dalam kokpit untuk melakukan penerbangan perdana sebagai pilot pribadi seorang artis ternama.
Saat masuk ke dalam kabin, kopilot Anton memberitahu Mahes, ia baru saja mendapat informasi dari ATC bahwa penerbangan terpaksa harus ditunda karena pada laluan yang akan mereka lewati terdapat banyak awan cumulonimbus, “Kira-kira dua hingga tiga jam pesawat delay,” jelas kopilot.
“Oke, Anton, aku akan beritahu Nyonya Emma,” ucap Mahes, lalu ia masuk kembali ke dalam kabin penumpang. Tampak Robert sedang duduk berdua dengan Rose membicarakan sesuatu. Sedangkan Emma tidak ada di antara mereka.
“Maaf Nona Rose dan Pak Robert, aku ingin memberitahu kalau pesawat kita harus delay kira-kira tiga jam karena faktor cuaca yang buruk,” beritahu Mahes.
“Yah, Kapten…, padahal aku sudah bosan lho menunggu sejak tadi…” keluh Rose sambil mengerutkan wajah di depan Mahes.
“Iya, Nona, ini perintah dari ATC langsung, untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, begitu.”
“Begini saja, Nona, agar tidak bosan menunggu, bagaimana kalau kita jalan-jalan dulu di bandara. Nona bisa belanja-belanja dulu atau mau makan di cafe. Dijamin, tiga jam itu tidak akan terasa lama. Betul kan, Pak Mahes?” ucap Robert coba membujuk nyonya mudanya.
“Oh iya, ide bagus itu. Tapi, Pak Mahes harus ikut menemani ya?” ujar Rose sambil melirik ke arah Mahes.
“Bagaimana Pak Robert?” tanya Mahes meminta persetujuan.
“Tentu saja boleh, lagipula di sini kan ada kopilot, jadi tidak masalah kalau Pak Mahes pergi menemani Nona Rose.”
Mendengar Mahes diperbolehkan menemaninya berbelanja di bandara, senyum di wajah Rose terukir. Semua wanita di sana pasti akan iri melihat aku berjalan dengan seorang pilot gagah dan tampan seperti Pak Mahes, batin Rose penuh rencana.
“Ayo Pak Mahes, kita keluar sekarang…” ajak Rose penuh antusias pada Mahes. Namun, tiba-tiba Emma muncul dari ruang pribadinya.
“Mau kemana Rose? Bukannya sebentar lagi kita mau terbang?” tanya Emma merasa heran dengan keinginan putrinya.
“Maaf, Nyonya Emma, pesawat kita mengalami delay karena cuaca buruk,” beritahu Mahes sambil menangkup kedua tangannya pada Emma Laurent.
“Terus, Rose mau mengajak Pak Mahes kemana?”
Robert yang berdiri di samping Rose lantas menjelaskan keinginan tuan mudanya selama delay ingin berjalan-jalan di bandara.
“Kenapa harus ditemani Pak Mahes, nanti kalau dia kecapean gimana? Menerbangkan pesawat itu perlu stamina yang kuat lho? Sudah pergi saja sana ditemani Robert, biarkan Pak Mahes istirahat di sini. Iya kan Pak Mahes?”
Detik itu Mahes dilema untuk membuat jawaban…
Penerbangan telah berlangsung selama 6 jam, tanpa terasa hari sudah mendekati tengah malam. Di dalam kokpit, kopilot Anton mulai mengantuk, beberapa kali dia terdengar menguap. “Kalau sudah ngantuk, istirahat dulu saja, Pak,” ucap Mahes yang sedang duduk dengan tenang dan nyaman di kursinya tanpa ada sembarang gangguan.“Saya ke belakang sebentar, Pak, mau ambil kopi, sekalian ke toilet,” jawab Anton, kemudian ia beranjak dari kursinya di sebelah kanan Mahes.Saat Anton masuk dalam kabin, rupanya lampu di ruang itu sudah redup, tampak Robert sedang duduk sambil bersandar di kursinya dengan mata terpejam, Ritha terlihat masih terjaga di tempat duduknya, ia dengan santai sedang membuka-buka gawai di tangannya, “Iya ada apa, Pak Anton?” tanyanya saat meyadari lelaki itu datang mendekatinya.“Tolong buatkan aku kopi ya,” jawab Anton.“Baik Pak, apalagi? Mungkin Pak Anton mau camilan atau mau aku buatkan mie rebus?”“Oh iya, camilan boleh tuh. Aku mau ke toilet dulu ya…” tambah Anton, lalu
Emma menatap nyalang ke arah Rose, saat melihat putrinya itu sengaja mempertontonkan kemesraan dengan menggandeng tangan Mahes di hadapannya. Mahes yang menyadari sedang diperhatikan oleh Emma merasakan dalam situasi tidak nyaman. “Ayo Pak Mahes mau makan apa?” tanya Rose saat duduk di depan meja makan bersama Mahes. Mahes menoleh ke arah Ritha yang berdiri di dekatnya, “Kalau Pak Anton tadi makan apa ya?” tanyanya memastikan.“Oh, tadi Pak Anton makan pasta, Pa,” jawab Ritha.“Kalau begitu berikan aku makanan selain pasta saja,” jelas Mahes.“Kenapa harus beda dari Pak Anton?” Rose menegasi.“SOP penerbangan seperti itu, Nona. Dalam penerbangan antara Pilot dan Kopilot tidak boleh makan makanan yang sama, untuk menghindari sakit perut atau keracunan pada makanan.”“Oh iya… aku paham.”Rose pun memesan makanan yang sama dengan Mahes, lalu menemani sang pilot makan malam. “Nyonya Emma, mari sekalian makan, Nyonya?” ucap Mahes pada Emma setelah Ritha menyiapkan makanan di atas me
“Mama… apa-apaan sih?” ucap Rose dengan tatapan penuh kecurigaan pada ibunya. Sesaat keduanya saling mengunci pandang, menciptakan segitiga kekuasaan yang kejam di dalam kokpit di ketinggian 36.000 kaki, dan Mahes seolah tengah dikepung oleh daya tarik menarik keduanya, ia menyadari bahaya sejatinya bukan lagi cuaca buruk atau kegagalan mesin, melainkan berada di tengah intrik dua wanita keluarga Laurent yang kini memegang kendali penuh atas nasibnya.“Kenapa, kamu?” balas Emma dengan gerakan sedikit menjauhkan diri dari Mahes.“Seharusnya aku yang bertanya, kenapa Mamah mengganggu orang yang sedang bekerja?”“Mengganggu? Jangan asal bicara, Rose,” tegas Emma. “Terus kamu mau apa ke sini?” tanyanya.“Aku mau memastikan agar tidak mati konyol karena kelalaian orang yang hanya menuruti keinginan hatinya sendiri, tanpa kenal situasi,” ucap Rose menyindir Emma.Ucapan kedua wanita itu membuat ruangan kokpit terasa menyempit dan menghimpit, hingga Mahes susah bernapas dibuatnya.“Nona Rose
“Selamat malam, Nyonya Emma…” sapa Mahes saat menyadari majikannya masuk ke dalam kokpit. Seketika di dalam ruangan berukuran sederhana itu tercium aroma parfum yang sulit digambarkan tapi mampu melenakan orang yang menciumnya. “Malam juga Mahes... bagaimana penerbangan kita sejauh ini, aman-aman saja, kan?” balas Emma sambil berdiri di sisi kanan Mahes yang sedang duduk di kursi kendalinya. “Siap, Nyonya, semua lancar dan terkendali,” jelas Mahes untuk meyakinkan majikannya.Emma kemudian mengamati panel dan tombol-tombol yang berada di depan Mahes, “Dari dulu aku tuh kagum dengan pekerjaan sebagai pilot, bisa mengendalikan dan mengontrol tombol-tombol kecil dan rumit seperti ini,” ungkapnya.“Pilot memang salah satu pekerjaan paling menantang, Nyonya, diperlukan komitmen yang kuat dalam menjalani profesinya,” ucap Mahes menimpali.“Jujur, setiap ketemu pilot itu aku merasa kepo, makan apa sih mereka kok sampai bisa cerdas dan hebat begitu?” ujar Emma membuat Mahes tertawa kecil.
Detik yang ditunggu, tiba saatnya penerbangan perdana Kapten Mahesa sebagai pilot pribadi seorang artis kenamaan, Emma Laurent. Sebelum lepas landas sang pilot memberikan informasi keselamatan pada para crew dan penumpang di dalam pesawat: "Selamat sore para penumpang Super Midsize Jets Dassault Falcon 50. Ini adalah kapten Anda yang berbicara. Nama saya Mahesa Prawira, dan saya dengan senang hati menyambut Anda di penerbangan kami menuju Paris, Kota Cahaya. Waktu penerbangan kita hari ini diperkirakan sekitar 11 hingga 12 jam. Saya akan memberikan informasi terbaru selama penerbangan mengenai perkiraan waktu tiba dan cuaca selama perjalanan. Silakan duduk, rileks, dan nikmati penerbangan Anda ke Kota Paris." Senyum Emma mengembang mendengar suara pilot pribadinya, kharismatik, tenang, dan menyejukan hati setiap orang yang mendengar, “Penantianku selama setahun sebagai wanita single akhirnya berbuah manis,” gumamnya sambil duduk memandang keluar jendela, tampak sunset mulai terbentu
Mahes sedang berdiri di luar sebuah toko pastry, menunggu Rose yang sedang memilih roti cokelat kesukaannya. Tiba-tiba pandangan Mahes tertuju pada seorang wanita berpakaian pramugari dan seorang lelaki yang berseragam pilot, keduanya tampak berjalan beriringan keluar dari pintu kedatangan, “Veronica dan Aldo?” gumamnya. Tidak ingin melepaskan keduanya begitu saja, Mahes segera mengejar mereka.“Vero…!” panggil Mahes saat mendekat.Wanita bertubuh tinggi dan ramping itu menoleh ke arah Mahes, “Mahes?” ucapnya terkejut mendapati kehadiran Mahes di depannya dengan mengenakan seragam seorang pilot. “Mau apa kamu di sini? Bukannya kamu sudah dipecat dari maskapai Holy Airways? Atau… kamu sedang mengemis pekerjaan dengan seragammu ini?”“Karirmu sudah tamat, Mahes! Tidak akan ada maskapai manapun yang mau menerimamu, gara-gara video mesummu itu. Kasihan sekali kamu, Mahes… tidak lama lagi kamu pasti jatuh miskin!” Aldo di samping Veronica angkat bicara penuh hinaan.“Diam kamu, Do! Aku t







