Masuk“Ya,” jawab Neil singkat, suaranya terdengar dingin.Kathy menatap Lucy dari atas kepala, hingga ujung kaki. Ia juga tidak tutup mata dengan paras cantik Lucy, yang bahkan lebih cocok menjadi cucunya. Daripada menantunya.Setelah itu, Kathy langsung duduk dan tidak bertanya apa-apa lagi. Ia bahkan belum sempat memperkenalkan dirinya, Lucy berusaha tetap tenang dan tersenyum. Louis langsung mengenalkan dirinya sebagai kakak Neil kepada Lucy. Ia juga tidak lupa mengenalkan istrinya. Setelah itu mereka duduk di meja makan yang sama. Lucy diam-diam memperhatikan Neil, sorot matanya tampak dingin, berbeda dengan biasanya. Sebelum makan malam disajikan, Neil hanya berbicara tentang perusahaan dengan kakaknya.Hingga makan malam disajikan, Kathy hanya memperhatikan Lucy terang-terangan. Melihat putranya memberi perhatian kepada Lucy. Kathy memutar matanya, tatapannya dingin. Lucy merasa kalau Kathy belum sepenuhnya menerima keberadaanya di rumah ini.Setelah selesai makan malam, Kathy langs
Melihat ekspresi Lucy, Neil menurunkan pandangannya dan tersenyum kecil, dan kembali menatap Lucy membelai wajahnya yang masih ada jejak lima jari.“Beraninya melukai menantu keluarga Dravencourt.”Lucy terkejut, ia langsung mundur. Tidak ingin Neil menyentuh wajahnya lagi. Selain itu, Lucy merasa malu memperlihatkan dirinya yang seperti ini. Ia tidak pernah tahu, Neil akan menyuruh orang menjemputnya. Jika tahu, ia akan menyamarkan jejak lima jari itu dengan foundation.“Paman, kamu terlalu berlebihan.”Neil menekan kepala Lucy, tetapi tidak langsung mengacak rambutnya. Lucy mendongak menatap Neil, Lucy tidak percaya sosok Neil yang tidak tersentuh dan rumornya dingin, arogan dan begitu disegani. Bisa bersikap ramah padanya. Bahkan kerap kali memperlakukannya seperti seorang gadis kecil dan senang menggodanya.“Saat berada di lingkaran keluarga Dravencourt jangan memanggilku Paman. Panggil Neil atau Chesney, mengerti.”Lucy menyilangkan kedua tangan di bawah perut. “Kalau aku tidak m
Aurelia terdiam. Putri yang dulu dikenalnya patuh, sekarang bisa membangkang. Lucy merasakan, cairan panas menggenangi pelupuk mata, tetapi ia tidak mengizinkan dirinya untuk menangis. Ia dapat merasakan kemarahan Aurelia. Namun, hatinya jauh terluka. Mau semarah apapun Aurelia saat ini, tidak akan menghentikan niat Lucy untuk menikah dengan Neil.“Kamu pikir Mama tidak tahu, kenapa kamu ingin menikah dengan Neil. Kamu ingin balas dendam pada Roselia dan Noah. Lucy sadarlah, Roselia kakakmu. Tidak seharusnya kamu memusuhinya. Kamu tidak tahu keluarga Dravencourt seperti apa.”“Apapun itu, aku tetap menikahinya. Hidupku milikku, kalian tidak bisa mengatur jalan hidupku.”Lucy menarik koper tanpa ragu.“Jika kamu tetap menikahi Neil, aku tidak akan lagi menganggapmu sebagai putriku lagi. Dan jangan mengambil apapun dari rumah ini.” Ancam Aurelia.Lucy menahan napas, dadanya sesak. Ucapan ibunya seperti duri yang menusuk jantung, merobek hatinya. Demi Roselia, ia dengan sadar mengatakan
Roselia tercengang mendengar perkataan Lucy.“Lucy, kamu terlalu sombong. Kamu pikir kamu siapa, hah?”“Aku, jelas Lucianna Gwyneira.” Lucy melangkah lebih dekat lagi pada Roselia. “Berhentilah sok lemah di depanku. Awalnya aku mengabaikan semua itu karena kupikir kamu membutuhkan kasih sayang orang tuaku. Jadi, kamu selalu mencari perhatian mereka. Namun, seiring jalannya waktu aku mulai sadar kamu ingin menjadi sepertiku.”Roselia terkejut, matanya berbinar.“Kamu ingin memiliki semua yang kupunya. Pakaian, septu, tas, perhiasan. Bahkan Noah. Semua yang kumiliki, kamu harus memilikinya juga.”Lucy tidak pernah melupakan saat mereka ia SMP, ia pernah kehilangan sebuah gaun yang dibelikan ibunya. Saat mencari gaun itu, ia menemukan gaunnya berada di dalam kamar Roselia. Saat Lucy hendak mengambil buku yang dipinjam Lucy.Namun, Roselia mengatakan kalau gaun itu diberikan oleh sang nenek. Ini bukan pertama kalinya, saat SMA Lucy kehilangan sepatu. Dan benar saja, ia melihat Roselia men
Lucy membelalak, ia menelan saliva nya.“Tapi, sejak awal Paman tahu, kalau aku mencari Andrew. Jika sejak awal aku tahu, Paman bukan orang yang aku cari. Aku tidak akan sampai sejauh itu.”Mata Neil menajam. “Saat menggodaku, kamu sangat percaya diri. Pernahkah kamu berpikir sampai ke situ?”Lucy terdiam dan hanya menatap wajah tampan pria yang terpaut jauh darinya. Namun, mengingat itu semua membuatnya malu.“A-aku—”“Menikah denganku, tidak akan membuat kamu rugi. Aku sudah memutuskan malam ini akan melamarmu. Dan kau tidak boleh menolak.”“Apa?” Lucy tertegun.Neil melepaskan Lucy, lalu meraih sebuah kotak perhiasaan dari dalam saku celananya. Dan mengeluarkan sebuah cincin berlian yang sangat indah.“Lucianna Gwyneira, menikahlah denganku.”Lucy membelalak. Apa yang dilihat di depan matanya, bukanlah sebuah ilusi melainkan sungguhan. Ia tidak pernah membayangkan bahwa orang lain yang akan melamarnya. Bukan pria yang dicintainya, matanya perlahan berkabut.Lucy diam untuk waktu ya
Pernyataan Neil mengejutkan orang-orang yang mendengarnya. Termasuk Lucy yang kini membeku, tanpa sepatah kata menatap Neil dengan tatapan tidak biasa. Ia berusaha mencerna semua ini, kenapa Andrew menjadi Neil Chesney Dravencourt.Rosalia menatap Lucy tidak percaya, dan membuka suara. “Anda ingin menikahi Lucy?” tanya Roselia.Neil sama sekali tidak menoleh kepada Roselia. Ia juga mengabaikan perkataan Roselia, Neil meraih tangan Lucy. “Maaf membuatmu menunggu.” Neil mengecup punggung tangan Lucy di hadapan semua orang.Lucy terpaku menatap Neil yang dikenalnya sebagai Andrew paman mantan kekasihnya. Lucy bertanya-tanya kenapa Neil bisa menjadi Andrew? Ingatannya kembali ke malam dimana ia mencari sosok Andrew, Lucy menyadari kalau selama ini ia telah salah orang. Dan ia merasa malu, tetapi nasi sudah menjadi bubur.Pria yang ia goda selama ini bukanlah Andrew Valcor, melainkan Neil Chesney Dravencourt. Keluarga konglomerat di negara Bravenia. Keluarga Dravencourt lebih kaya dari ke







