Share

Bab 4

Author: Miss Jawelia
last update publish date: 2026-05-04 15:02:12

“Alvaro, perkenalkan ini Alana, istri mas,” ucap Arga sambil sedikit menoleh ke arah istrinya. “Sayang, ini Alvaro.”

Alvaro mengangguk pelan, lalu menatap Alana cukup lama sebelum akhirnya tersenyum tipis.

“Salam kenal, Mbak,” ucapnya tenang, tapi sorot matanya terlihat sulit ditebak.

Alana membalas dengan suara pelan.

“Salam kenal…”

Suasana sempat canggung.

“Bu, saya pamit kembali ke kantor dulu ya. Saya harus memberi tahu pihak kantor kalau Ibu masih dirawat di rumah sakit,” ujar Widia sopan.

Alana mengangguk lemah.

“Terima kasih, Widia…”

“Baik, Bu,” jawab Widia sebelum keluar dari ruangan.

Tidak lama setelah itu, pintu kembali terbuka. Seorang dokter masuk dengan membawa berkas medis.

“Permisi, keluarga dari Bu Alana?” tanya dokter dengan nada profesional.

Arga langsung berdiri.

“Saya, Dok. Suami pasien. Bagaimana kondisi istri saya?”

Dokter membuka berkasnya, lalu berbicara dengan hati-hati.

“Baik, saya jelaskan ya. Dari hasil pemeriksaan, pasien mengalami keguguran akibat jatuh dan pendarahan yang cukup berat.”

Ruangan langsung hening.

Arga menatap dokter tidak percaya.

“Dok… janinnya tidak bisa diselamatkan?”

Dokter mengangguk pelan.

“Mohon maaf, Pak. Janin tidak dapat dipertahankan.”

Indah yang berdiri di samping langsung terdiam, wajahnya menegang.

Arga menunduk sesaat, terlihat terpukul.

“Dok… kalau untuk ke depannya, masih bisa hamil lagi kan?” tanyanya cepat, ada harapan dalam suaranya.

Dokter menjawab tenang.

“Secara medis, peluang hamil masih ada, Pak. Tapi pasien perlu istirahat fisik dan mental, serta kontrol rutin ke dokter kandungan.”

Indah langsung menambahkan dengan suara penuh harap.

“Dok, saya sangat ingin menggendong cucu…”

Sebelum dokter sempat menjawab, Alvaro yang berdiri di sudut ruangan akhirnya angkat suara.

“Mas, Mah… kenapa kalian cuma mikirin itu?” ucapnya datar tapi tegas. “Kondisi Alana dulu yang harus dipikirin.”

Arga langsung menoleh ke Alvaro.

“Jangan ikut campur kamu, Al. Ini urusan rumah tangga mas.”

Alvaro tidak langsung menjawab, hanya menatap Arga lama, lalu melirik Alana yang masih terbaring lemah.

Alvaro menarik napas pelan, lalu menatap Arga lebih tegas.

“Mas, ini bukan soal ikut campur atau nggak,” ucapnya datar. “Ini soal pasien yang baru kehilangan janinnya. Kondisinya masih lemah, masih syok.”

Arga terdiam, rahangnya mengeras tapi tidak langsung membalas.

Dokter yang berdiri di antara mereka segera menengahi dengan nada profesional.

“Pak, Bu… saya sarankan saat ini jangan ada tekanan emosional pada pasien. Itu sangat memengaruhi pemulihan fisiknya.”

Indah menghela napas panjang, mencoba menahan emosinya.

“Jadi sekarang yang penting Alana istirahat saja ya, Dok?” tanyanya memastikan.

“Iya, Bu. Istirahat total. Jangan terlalu banyak pikiran, jangan stres.”

Alana yang sejak tadi hanya diam akhirnya bersuara pelan.

“Dok… aku boleh pulang kapan?” tanyanya lirih.

Dokter menatapnya dengan lembut.

“Belum untuk sekarang. Kami observasi dulu beberapa hari. Kalau stabil, baru boleh rawat jalan.”

Alana mengangguk pelan, matanya kembali berkaca-kaca.

Arga mendekat ke sisi ranjang lagi, suaranya lebih pelan.

“Sayang… maafin mas tadi. Mas cuma… kaget.”

Alana tidak langsung menjawab, hanya memalingkan wajahnya sedikit.

Alvaro yang melihat itu langsung mengalihkan pandangan ke arah Arga.

“Sekarang yang dia butuhkan bukan dimarahi atau dituntut,” ucapnya singkat. “Tapi didampingi.”

Arga menatap Alvaro sekilas, lalu menghela napas panjang.

Indah akhirnya duduk di kursi dekat ranjang, meski masih terlihat kaku.

“Ya sudah… sekarang fokus sembuh dulu,” ucapnya datar, tapi lebih tenang dari sebelumnya.

Dokter baru saja keluar dari ruangan, meninggalkan suasana yang masih terasa berat.

Indah langsung berdiri dan merapikan tasnya.

“Gak, mama lapar. Temenin mama makan siang yuk,” ucapnya pada Arga.

Arga mengangguk pelan.

“Al, kamu mau ikut nggak?” tanyanya ke Alvaro.

Alvaro melirik sekilas ke arah Alana yang masih terbaring lemah.

“Alana sama siapa di sini?” tanyanya datar.

Arga menjawab santai.

“Banyak suster di rumah sakit, nggak mungkin dia kenapa-kenapa.”

Alana langsung menoleh, suaranya pelan tapi jelas terdengar sedih.

“Mas… kamu mau ninggalin aku sendirian?”

Arga berhenti sejenak, lalu menghela napas.

“Banyak orang di rumah sakit, sayang. Kamu aman.”

Alana menunduk.

“Aku di sini aja, mas… aku belum lapar.”

Arga mengangguk singkat.

“Ya sudah. Mas titip Alana ya,” ucapnya pada Indah dan Alvaro. “Soalnya setelah ini mas mau langsung ke kantor, ada meeting.”

Alana langsung menoleh cepat.

“Mas… kamu lebih mementingkan pekerjaan kamu daripada aku?”

Arga terlihat sedikit kesal, lalu menjawab datar.

“Di sini sudah ada mama dan Alvaro. Kamu nggak usah manja.”

Alana terdiam, matanya langsung berkaca-kaca.

Arga melanjutkan dengan nada lebih keras tanpa sadar.

“Kalau kamu masuk rumah sakit karena hamil, mas masih bisa izin. Tapi ini keguguran… bikin malu, tau nggak? Mau ditaruh di mana muka mas? Semua teman-teman mas sudah punya anak, sementara kita sudah dua tahun menikah, baru hamil sekali… langsung keguguran.”

Ruangan langsung hening.

Alana menunduk, bibirnya bergetar menahan air mata.

Alvaro mengepalkan tangan pelan, tapi masih menahan diri untuk tidak berbicara.

Indah segera menyela cepat.

“Sudah, Arga. Nanti mama yang urus Alana. Kamu nggak perlu mikirin dia lagi. Ayo sekarang pergi.”

Arga akhirnya mengangguk, lalu berjalan keluar bersama Indah, meninggalkan Alana di ruang rawat dengan suasana yang semakin sunyi dan berat.

Alvaro berdiri di depan pintu, lalu perlahan menutupnya hingga terdengar bunyi “klik” pelan.

Alana langsung menoleh, wajahnya tegang.

“Kenapa pintunya ditutup?” tanyanya pelan tapi waspada.

Alvaro berbalik, menatapnya tenang.

“Kenapa? Kamu takut berduaan sama aku?” suaranya datar, tanpa emosi berlebihan.

Alana langsung mengernyit.

“Jangan macam-macam ya, Al.”

Alvaro mengangkat alis sedikit, lalu melangkah pelan mendekat ke arah ranjang.

“Aku nggak macam-macam,” jawabnya santai. “Cuma satu macam aja.”

Alana langsung mundur sedikit di ranjang, meski tubuhnya masih lemah.

“Alvaro, aku kakak ipar kamu. Jangan mendekat.”

Alvaro berhenti tepat di sisi ranjang, menatapnya dalam.

“Kamu… sudah lupa semua kenangan kita semudah itu, Ana?” suaranya lebih pelan sekarang.

Alana mengalihkan pandangan, mencoba menahan emosinya.

“Hubungan kita sudah berakhir sejak kamu selingkuh.”

Alvaro langsung menggeleng cepat.

“Aku sudah bilang berkali-kali, aku nggak selingkuh. Kenapa kamu nggak pernah percaya sama aku?”

Alana menatapnya balik, matanya mulai berkaca-kaca.

“Semua sudah jelas, Al. Kamu berciuman dengan Diana. Kamu pikir aku buta?”

Alvaro menghela napas panjang, nada suaranya mulai sedikit naik.

“Aku nggak pernah berciuman dengan Diana. Kamu salah paham.”

Alana menggeleng cepat.

“Sudahlah… jangan bahas masa lalu lagi.”

Ia menarik napas pelan, lalu melanjutkan dengan suara lebih tegas meski lemah.

“Sekarang aku istri kakak kamu. Kamu adik iparku. Itu saja.”

Alvaro terdiam, tatapannya tetap pada Alana, tapi ada sesuatu yang sulit dibaca di matanya antara marah, kecewa, dan hal-hal yang belum selesai sejak lama.

Alvaro mendekat perlahan, lalu tanpa ragu ia mencium bibir Alana. Ciuman itu awalnya singkat, namun semakin lama semakin dalam. Alana yang terkejut langsung meronta pelan di tengah ciuman itu.

“Mmhh…! Alvaro…!” suara Alana teredam di sela-sela napasnya yang mulai tak teratur.

Alana mencoba mendorong dada Alvaro dengan kedua tangannya, berusaha menjauhkan dirinya.

“Lepas… aku bilang lepaskan!” katanya dengan suara tertahan, meski tidak benar-benar kuat menolak.

Namun Alvaro tetap bertahan di posisinya, membuat situasi itu semakin intens.

Alana akhirnya memukul dada Alvaro beberapa kali, napasnya tersengal.

“Jangan gila kamu,Al!” ucap Alana kesal di antara napasnya yang masih kacau.

Dalam dorongan refleks, Alana justru menggigit bibir Alvaro saat mencoba melepaskan diri.

“Ahh…!” Alvaro tersentak sambil sedikit mundur, memegang bibirnya. “Kamu gigit bibir aku!”

Alana menatapnya dengan wajah memerah, masih terengah-engah karena kejadian tadi.

“Ya… itu karena kamu tiba-tiba mencium aku,sadar gak aku ini kakak ipar mu. ” jawab Alana cepat, sedikit defensif.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Godaan Terlarang Adek Ipar   Bab 6

    Alvaro tidak mengalihkan pandangan. Tatapannya tetap lurus ke arah Alana. “Aku cuma menawarkan solusi agar kamu tidak dituntut hamil terus, Ana,” ucapnya pelan, nada suaranya lebih rendah dari sebelumnya. Alana langsung menggeleng cepat, wajahnya berubah tegas. “Jangan gila kamu,” balasnya, suaranya mulai naik. “Aku ini istri kakak kamu.” Alvaro menarik napas pelan, rahangnya sedikit mengeras. “Istri…?” ulangnya pelan. “Istri yang diperlakukan seperti itu?” Alana langsung menatapnya tidak suka. “Jangan bawa-bawa rumah tangga aku,” potongnya cepat. Alvaro melangkah sedikit lebih dekat, tapi tetap menjaga jarak. “Aku cuma lihat kenyataan, Ana,” ucapnya tegas. “Suami yang benar-benar peduli sama kesehatan kamu… apa bakal lebih mikirin ego dia sendiri?” Alana menggeleng, berusaha membela meski suaranya mulai goyah. “Mas Arga nggak seperti itu,” ucapnya cepat. “Dia cuma… kecewa aja.” Alvaro tersenyum tipis, tapi jelas bukan senyum hangat. “Kecewa?” ulangnya. “Tiga hari kam

  • Godaan Terlarang Adek Ipar   Bab 5

    Alvaro masih memegangi bibirnya, menatap Alana lama. Napasnya belum stabil, tapi matanya justru terlihat semakin dalam dan sulit dibaca. “Kakak ipar…” ulang Alvaro pelan, seperti menahan sesuatu di dadanya. Alana langsung membuang wajah, berusaha mengatur napasnya yang masih kacau. “Jangan bikin situasi ini makin aneh, Alvaro…” Alvaro tertawa kecil, tapi tidak ada humor di sana. “Aneh?” ulangnya. “Dari dulu ini sudah aneh, Ana.” Alana langsung menoleh cepat. “Jangan panggil aku gitu.” Alvaro melangkah setengah lebih dekat, lalu berhenti lagi tepat di sisi ranjang. “Kalau aku cuma bisa manggil kamu ‘Mbak Alana’, kenapa setiap lihat kamu aku malah ingat semua yang dulu?” suaranya lebih pelan. Alana menegang, matanya langsung berkaca-kaca tapi ia menahan diri. “Itu masa lalu kamu. Bukan urusanku lagi.” Alvaro menggeleng pelan. “Kamu masih istrinya Arga… tapi kenapa reaksimu masih sama waktu kita dulu?” Alana langsung mengangkat suara kecil. “Berhenti, Alvaro.” Alvaro ti

  • Godaan Terlarang Adek Ipar   Bab 4

    “Alvaro, perkenalkan ini Alana, istri mas,” ucap Arga sambil sedikit menoleh ke arah istrinya. “Sayang, ini Alvaro.” Alvaro mengangguk pelan, lalu menatap Alana cukup lama sebelum akhirnya tersenyum tipis. “Salam kenal, Mbak,” ucapnya tenang, tapi sorot matanya terlihat sulit ditebak. Alana membalas dengan suara pelan. “Salam kenal…” Suasana sempat canggung. “Bu, saya pamit kembali ke kantor dulu ya. Saya harus memberi tahu pihak kantor kalau Ibu masih dirawat di rumah sakit,” ujar Widia sopan. Alana mengangguk lemah. “Terima kasih, Widia…” “Baik, Bu,” jawab Widia sebelum keluar dari ruangan. Tidak lama setelah itu, pintu kembali terbuka. Seorang dokter masuk dengan membawa berkas medis. “Permisi, keluarga dari Bu Alana?” tanya dokter dengan nada profesional. Arga langsung berdiri. “Saya, Dok. Suami pasien. Bagaimana kondisi istri saya?” Dokter membuka berkasnya, lalu berbicara dengan hati-hati. “Baik, saya jelaskan ya. Dari hasil pemeriksaan, pasien meng

  • Godaan Terlarang Adek Ipar   Bab 3

    Arga masuk ke ruang rawat dengan langkah cepat, wajahnya panik dan napasnya tidak beraturan. “Sayang… kamu kenapa bisa sampai pendarahan di rumah sakit?” tanyanya langsung, menatap Alana yang terbaring lemah. Alana hanya menatapnya kosong, bibirnya bergetar. Belum sempat ia menjawab, Widia pelan angkat suara dari samping ranjang. “Istri Anda keguguran, Pak…” Arga langsung membeku. “Apa… keguguran?” Ia menatap Alana cepat. “Kamu hamil?” Alana menunduk, air matanya jatuh. “Iya… aku hamil… baru tes tadi pagi…” Arga terdiam beberapa detik, lalu suaranya meninggi karena kaget. “Kenapa kamu nggak bilang sama aku waktu kita teleponan?” Alana menggenggam selimutnya kuat-kuat. “Aku mau ngasih kamu surprise… hadiah anniversary kita, mas…” Ruangan mendadak hening. Indah yang berdiri di sudut ruangan langsung menyahut dengan nada tajam. “Sekarang lihat akibatnya. Karena kecerobohan kamu sendiri kamu keguguran. Ini pasti karena kamu kerja terus, jadi seperti ini!” Alana langsung me

  • Godaan Terlarang Adek Ipar   Bab 2

    Alana masih terlihat lemah ketika beberapa staf pria segera mengangkatnya dengan hati-hati. “Pelan-pelan ya, Bu… jangan banyak gerak,” ucap salah satu staf, sambil memastikan posisi Alana tetap aman di gendongan. Widia berjalan cepat di samping mereka menuju lift. “Cepat, kita ke bawah sekarang!” perintahnya tegas, meski wajahnya jelas panik. Di dalam lift, suasana terasa tegang. Alana memejamkan mata sambil menahan sakit. “Bu Alana, tahan ya… bentar lagi sampai bawah,” kata Widia pelan, berusaha menenangkan. Beberapa detik kemudian, lift terbuka di lobby. Mobil sudah standby di depan pintu masuk kantor. “Cepat masukin Bu Alana ke mobil!” seru Widia. Staf langsung membantu menurunkan Alana dengan hati-hati ke kursi belakang mobil. “Ayo cepat Pak, ke rumah sakit sekarang!” Widia ikut naik dan duduk di samping Alana. “Sabar ya, Bu… kita langsung ke dokter.” Sopir mengangguk cepat. “Siap, Bu!" Mobil langsung melaju meninggalkan gedung kantor dengan kecepatan stabil. Di teng

  • Godaan Terlarang Adek Ipar   Keguguran

    “Bisa diam gak sih? Tangisan kamu berisik banget!”Bentakan Arga membuat Alana tersentak. Baru saja ia merebahkan tubuhnya di ranjang, tetapi bukannya mendapat pelukan atau kata-kata penghiburan, suaminya yang baru pulang dari kantor malah memarahinya dengan wajah penuh kekesalan. Alana langsung menunduk. Jemarinya meremas ujung dasternya. Wajahnya pucat, bibirnya kering, dan langkahnya masih terasa lemas setelah kehilangan banyak darah akibat keguguran. Dua tahun pernikahan…Baru kali ini Tuhan menitipkan janin di rahimnya.Namun belum sempat ia mendengar detak jantung bayinya lebih lama, calon anak itu sudah pergi meninggalkannya. Dan yang lebih menyakitkan, orang yang paling ia harapkan untuk menguatkannya justru menjadi orang pertama yang menyalahkannya. “Ini pasti karena kamu gak dengerin omongan Mama,” ucap Arga dingin tanpa rasa kasihan. “Orang hamil itu jangan malas-malasan, Alana. Makanya kandungan kamu jadi lemah!” Air mata Alana kembali jatuh. Malas? Rasanya tuduhan it

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status