Share

Bab 5

Auteur: Miss Jawelia
last update Date de publication: 2026-05-05 12:12:57

Alvaro masih memegangi bibirnya, menatap Alana lama. Napasnya belum stabil, tapi matanya justru terlihat semakin dalam dan sulit dibaca.

“Kakak ipar…” ulang Alvaro pelan, seperti menahan sesuatu di dadanya.

Alana langsung membuang wajah, berusaha mengatur napasnya yang masih kacau. “Jangan bikin situasi ini makin aneh, Alvaro…”

Alvaro tertawa kecil, tapi tidak ada humor di sana. “Aneh?” ulangnya. “Dari dulu ini sudah aneh, Ana.”

Alana langsung menoleh cepat. “Jangan panggil aku gitu.”

Alvaro melangkah setengah lebih dekat, lalu berhenti lagi tepat di sisi ranjang. “Kalau aku cuma bisa manggil kamu ‘Mbak Alana’, kenapa setiap lihat kamu aku malah ingat semua yang dulu?” suaranya lebih pelan.

Alana menegang, matanya langsung berkaca-kaca tapi ia menahan diri. “Itu masa lalu kamu. Bukan urusanku lagi.”

Alvaro menggeleng pelan. “Kamu masih istrinya Arga… tapi kenapa reaksimu masih sama waktu kita dulu?”

Alana langsung mengangkat suara kecil. “Berhenti, Alvaro.”

Alvaro tidak menjawab. Ia hanya menatapnya, lalu menghela napas panjang.

“Maaf,” ucapnya akhirnya, tapi terdengar tidak benar-benar selesai.

Alana terdiam beberapa detik, lalu menarik selimut sedikit ke dadanya. “Keluar aja… aku capek.”

Alvaro tidak langsung bergerak.

“Aku nggak nyangka kamu bakal sekeras ini nolaknya aku sekarang,” katanya pelan.

Alana menatapnya tajam, tapi suaranya melemah. “Karena sekarang kamu bukan siapa-siapa aku lagi.”

Kalimat itu membuat Alvaro diam cukup lama.

Akhirnya ia mundur satu langkah, lalu mengusap bibirnya yang masih sedikit perih.

“Kalau itu pilihan kamu…” gumamnya pelan.

Ia berbalik menuju pintu, lalu berhenti sebentar tanpa menoleh.

“Tapi jangan pernah bilang kamu baik-baik aja di depan aku, kalau kamu masih nangis kayak gini,” ucapnya pelan.

Alana langsung menoleh, tapi Alvaro sudah lebih dulu membuka pintu dan keluar.

Ruangan kembali sunyi.

Alana menunduk, napasnya perlahan mulai stabil, tapi matanya masih basah.

Tiga hari kemudian, Alana sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Ia duduk di ranjang rawat, memegang ponselnya dengan tangan sedikit lemah.

“Hallo, Mas… kamu jemput aku jam berapa?” suara Alana pelan tapi terdengar ada kecewa di dalamnya.

“Dari kemarin kamu nggak datang nengokin aku, apalagi nemenin aku. Sampai sekarang aku udah boleh pulang, yang datang cuma mama kamu sama Alvaro…”

Di ujung telepon, suara Arga terdengar datar dan sibuk.

“Aku lagi banyak kerjaan. Kamu pulang aja sama Alvaro sama mama.”

Alana terdiam sejenak, lalu bertanya lagi dengan suara lebih pelan.

“Jadi kamu nggak bisa jemput aku?”

“Enggak. Aku sibuk.”

Alana menelan ludah, menahan rasa di dadanya.

“Oh ya… nanti setelah kamu sampai rumah, kamu beresin kamar tamu. Mama bakal tinggal di rumah kita.”

Alana langsung mengernyit.

“Kenapa mama tinggal di rumah kita, Mas?” tanyanya cepat.

Arga menjawab santai, seolah itu hal biasa.

“Ya tinggal aja. Kamu nggak suka?”

“Bukan nggak suka… tapi biasanya kan cuma nginep semalam,” balas Alana pelan.

Arga langsung memotong dengan nada lebih tegas.

“Mulai sekarang beda. Mama yang akan ngatur rumah. Kamu juga jangan capek-capek kerjaan rumah, biar cepat hamil lagi.”

Alana terdiam beberapa detik, lalu suaranya mulai bergetar.

“Aku baru aja keguguran, Mas… kamu malah ngomong soal hamil lagi?”

Arga menghela napas, terdengar tidak sabar.

“Makanya kamu harus nurut sama mama. Biar semuanya cepat normal lagi.”

Alana menatap kosong ke depan, suaranya melemah.

“Normal lagi… maksud kamu apa?”

Arga menjawab singkat.

“Udah, nanti aja kita bahas. Aku lagi sibuk."

Telepon langsung terputus.

Alana masih memegang ponselnya, diam cukup lama. Matanya mulai berkaca-kaca, tapi ia tidak langsung menangis.

Indah berdiri di dekat pintu kamar rawat, menatap Alana yang masih duduk lemah di ranjang. Suaranya terdengar dingin tanpa banyak empati.

“Udah, kamu jangan nangis. Untung aja Arga nggak nikah lagi karena kamu lemah kandungan, dua tahun nikah baru sekali hamil, langsung gagal,” ucap Indah datar.

Alana langsung menoleh, matanya membesar tidak percaya.

“Ma… kenapa mama ngomong kayak gitu?” suara Alana bergetar. “Kita kan sama-sama perempuan…”

Indah menghela napas, tapi ekspresinya tetap keras.

“Perempuan atau bukan, kenyataan tetap kenyataan. Keluarga butuh penerus, Alana.”

Alana menunduk, menggenggam selimutnya erat.

“Aku juga kehilangan, Ma… bukan cuma soal itu,” ucapnya pelan.

Indah melipat tangan di dada, nada suaranya tidak berubah.

“Semua perempuan juga bisa kehilangan. Tapi nggak semua perempuan lemah kayak kamu sampai bikin keadaan jadi ribet begini.”

Alana mengangkat wajahnya cepat, matanya mulai basah lagi.

“Aku nggak minta ini terjadi…”

Indah memotong cepat.

“Tapi tetap terjadi. Dan sekarang kamu harus kuat, bukan malah nangis terus.”

Alvaro yang sejak tadi berdiri di dekat pintu akhirnya ikut bersuara, suaranya rendah tapi tegas.

“Ma, cukup.”

Indah menoleh ke Alvaro.

“Apa?”

Alvaro melangkah sedikit maju, menatap Indah tanpa ragu.

“Jangan ngomong kayak gitu ke Alana. Dia baru keluar rumah sakit.”

Indah mendengus pelan.

“Dia istri Arga, bukan anak kecil.”

Alvaro menghela napas, lalu melirik Alana yang menunduk diam.

“Justru karena dia istri Arga, dia butuh dihargai, bukan direndahin.”

Alana masih diam, tapi air matanya jatuh tanpa suara.

Indah menatap mereka bergantian, lalu berbalik dengan kesal kecil.

“Sudah, terserah kalian. Tapi jangan harap keluarga ini bisa jalan kalau semuanya rapuh begini.”

Alana turun dari ranjang dengan langkah pelan, masih terlihat lemah. Indah sudah pergi lebih dulu. Alvaro berada di sampingnya, membantu membawa barang-barang Alana tanpa banyak bicara.

“Aku bawain ya,” ucap Alvaro singkat sambil merapikan tas.

Alana mengangguk pelan. “Terima kasih…”

Mereka berjalan menuju pintu kamar rawat. Suasana hening beberapa saat sebelum Alvaro membuka suara.

“Aku bisa bantu kamu kalau kamu butuh anak.”

Alana langsung berhenti melangkah dan menoleh cepat.

“Apa kamu bilang?” tanyanya, alisnya mengernyit tajam.

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Latest chapter

  • Godaan Terlarang Adek Ipar   Bab 6

    Alvaro tidak mengalihkan pandangan. Tatapannya tetap lurus ke arah Alana. “Aku cuma menawarkan solusi agar kamu tidak dituntut hamil terus, Ana,” ucapnya pelan, nada suaranya lebih rendah dari sebelumnya. Alana langsung menggeleng cepat, wajahnya berubah tegas. “Jangan gila kamu,” balasnya, suaranya mulai naik. “Aku ini istri kakak kamu.” Alvaro menarik napas pelan, rahangnya sedikit mengeras. “Istri…?” ulangnya pelan. “Istri yang diperlakukan seperti itu?” Alana langsung menatapnya tidak suka. “Jangan bawa-bawa rumah tangga aku,” potongnya cepat. Alvaro melangkah sedikit lebih dekat, tapi tetap menjaga jarak. “Aku cuma lihat kenyataan, Ana,” ucapnya tegas. “Suami yang benar-benar peduli sama kesehatan kamu… apa bakal lebih mikirin ego dia sendiri?” Alana menggeleng, berusaha membela meski suaranya mulai goyah. “Mas Arga nggak seperti itu,” ucapnya cepat. “Dia cuma… kecewa aja.” Alvaro tersenyum tipis, tapi jelas bukan senyum hangat. “Kecewa?” ulangnya. “Tiga hari kam

  • Godaan Terlarang Adek Ipar   Bab 5

    Alvaro masih memegangi bibirnya, menatap Alana lama. Napasnya belum stabil, tapi matanya justru terlihat semakin dalam dan sulit dibaca. “Kakak ipar…” ulang Alvaro pelan, seperti menahan sesuatu di dadanya. Alana langsung membuang wajah, berusaha mengatur napasnya yang masih kacau. “Jangan bikin situasi ini makin aneh, Alvaro…” Alvaro tertawa kecil, tapi tidak ada humor di sana. “Aneh?” ulangnya. “Dari dulu ini sudah aneh, Ana.” Alana langsung menoleh cepat. “Jangan panggil aku gitu.” Alvaro melangkah setengah lebih dekat, lalu berhenti lagi tepat di sisi ranjang. “Kalau aku cuma bisa manggil kamu ‘Mbak Alana’, kenapa setiap lihat kamu aku malah ingat semua yang dulu?” suaranya lebih pelan. Alana menegang, matanya langsung berkaca-kaca tapi ia menahan diri. “Itu masa lalu kamu. Bukan urusanku lagi.” Alvaro menggeleng pelan. “Kamu masih istrinya Arga… tapi kenapa reaksimu masih sama waktu kita dulu?” Alana langsung mengangkat suara kecil. “Berhenti, Alvaro.” Alvaro ti

  • Godaan Terlarang Adek Ipar   Bab 4

    “Alvaro, perkenalkan ini Alana, istri mas,” ucap Arga sambil sedikit menoleh ke arah istrinya. “Sayang, ini Alvaro.” Alvaro mengangguk pelan, lalu menatap Alana cukup lama sebelum akhirnya tersenyum tipis. “Salam kenal, Mbak,” ucapnya tenang, tapi sorot matanya terlihat sulit ditebak. Alana membalas dengan suara pelan. “Salam kenal…” Suasana sempat canggung. “Bu, saya pamit kembali ke kantor dulu ya. Saya harus memberi tahu pihak kantor kalau Ibu masih dirawat di rumah sakit,” ujar Widia sopan. Alana mengangguk lemah. “Terima kasih, Widia…” “Baik, Bu,” jawab Widia sebelum keluar dari ruangan. Tidak lama setelah itu, pintu kembali terbuka. Seorang dokter masuk dengan membawa berkas medis. “Permisi, keluarga dari Bu Alana?” tanya dokter dengan nada profesional. Arga langsung berdiri. “Saya, Dok. Suami pasien. Bagaimana kondisi istri saya?” Dokter membuka berkasnya, lalu berbicara dengan hati-hati. “Baik, saya jelaskan ya. Dari hasil pemeriksaan, pasien meng

  • Godaan Terlarang Adek Ipar   Bab 3

    Arga masuk ke ruang rawat dengan langkah cepat, wajahnya panik dan napasnya tidak beraturan. “Sayang… kamu kenapa bisa sampai pendarahan di rumah sakit?” tanyanya langsung, menatap Alana yang terbaring lemah. Alana hanya menatapnya kosong, bibirnya bergetar. Belum sempat ia menjawab, Widia pelan angkat suara dari samping ranjang. “Istri Anda keguguran, Pak…” Arga langsung membeku. “Apa… keguguran?” Ia menatap Alana cepat. “Kamu hamil?” Alana menunduk, air matanya jatuh. “Iya… aku hamil… baru tes tadi pagi…” Arga terdiam beberapa detik, lalu suaranya meninggi karena kaget. “Kenapa kamu nggak bilang sama aku waktu kita teleponan?” Alana menggenggam selimutnya kuat-kuat. “Aku mau ngasih kamu surprise… hadiah anniversary kita, mas…” Ruangan mendadak hening. Indah yang berdiri di sudut ruangan langsung menyahut dengan nada tajam. “Sekarang lihat akibatnya. Karena kecerobohan kamu sendiri kamu keguguran. Ini pasti karena kamu kerja terus, jadi seperti ini!” Alana langsung me

  • Godaan Terlarang Adek Ipar   Bab 2

    Alana masih terlihat lemah ketika beberapa staf pria segera mengangkatnya dengan hati-hati. “Pelan-pelan ya, Bu… jangan banyak gerak,” ucap salah satu staf, sambil memastikan posisi Alana tetap aman di gendongan. Widia berjalan cepat di samping mereka menuju lift. “Cepat, kita ke bawah sekarang!” perintahnya tegas, meski wajahnya jelas panik. Di dalam lift, suasana terasa tegang. Alana memejamkan mata sambil menahan sakit. “Bu Alana, tahan ya… bentar lagi sampai bawah,” kata Widia pelan, berusaha menenangkan. Beberapa detik kemudian, lift terbuka di lobby. Mobil sudah standby di depan pintu masuk kantor. “Cepat masukin Bu Alana ke mobil!” seru Widia. Staf langsung membantu menurunkan Alana dengan hati-hati ke kursi belakang mobil. “Ayo cepat Pak, ke rumah sakit sekarang!” Widia ikut naik dan duduk di samping Alana. “Sabar ya, Bu… kita langsung ke dokter.” Sopir mengangguk cepat. “Siap, Bu!" Mobil langsung melaju meninggalkan gedung kantor dengan kecepatan stabil. Di teng

  • Godaan Terlarang Adek Ipar   Keguguran

    “Bisa diam gak sih? Tangisan kamu berisik banget!”Bentakan Arga membuat Alana tersentak. Baru saja ia merebahkan tubuhnya di ranjang, tetapi bukannya mendapat pelukan atau kata-kata penghiburan, suaminya yang baru pulang dari kantor malah memarahinya dengan wajah penuh kekesalan. Alana langsung menunduk. Jemarinya meremas ujung dasternya. Wajahnya pucat, bibirnya kering, dan langkahnya masih terasa lemas setelah kehilangan banyak darah akibat keguguran. Dua tahun pernikahan…Baru kali ini Tuhan menitipkan janin di rahimnya.Namun belum sempat ia mendengar detak jantung bayinya lebih lama, calon anak itu sudah pergi meninggalkannya. Dan yang lebih menyakitkan, orang yang paling ia harapkan untuk menguatkannya justru menjadi orang pertama yang menyalahkannya. “Ini pasti karena kamu gak dengerin omongan Mama,” ucap Arga dingin tanpa rasa kasihan. “Orang hamil itu jangan malas-malasan, Alana. Makanya kandungan kamu jadi lemah!” Air mata Alana kembali jatuh. Malas? Rasanya tuduhan it

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status