ANMELDENAlvaro tidak mengalihkan pandangan. Tatapannya tetap lurus ke arah Alana.
“Aku cuma menawarkan solusi agar kamu tidak dituntut hamil terus, Ana,” ucapnya pelan, nada suaranya lebih rendah dari sebelumnya. Alana langsung menggeleng cepat, wajahnya berubah tegas. “Jangan gila kamu,” balasnya, suaranya mulai naik. “Aku ini istri kakak kamu.” Alvaro menarik napas pelan, rahangnya sedikit mengeras. “Istri…?” ulangnya pelan. “Istri yang diperlakukan seperti itu?” Alana langsung menatapnya tidak suka. “Jangan bawa-bawa rumah tangga aku,” potongnya cepat. Alvaro melangkah sedikit lebih dekat, tapi tetap menjaga jarak. “Aku cuma lihat kenyataan, Ana,” ucapnya tegas. “Suami yang benar-benar peduli sama kesehatan kamu… apa bakal lebih mikirin ego dia sendiri?” Alana menggeleng, berusaha membela meski suaranya mulai goyah. “Mas Arga nggak seperti itu,” ucapnya cepat. “Dia cuma… kecewa aja.” Alvaro tersenyum tipis, tapi jelas bukan senyum hangat. “Kecewa?” ulangnya. “Tiga hari kamu dirawat, dia nggak datang sekalipun.” Alana terdiam. “Yang datang siapa?” lanjut Alvaro, suaranya semakin dalam. “Aku sama mama. Bahkan buat jemput kamu pulang aja, dia masih milih kerjaan.” Alana menunduk, tangannya menggenggam tasnya lebih erat. “Dia sibuk…” ucapnya pelan, tapi terdengar seperti mencoba meyakinkan diri sendiri. Alvaro menggeleng pelan. “Bukan sibuk, Ana,” katanya tegas. “Dia yang gak mau datang. ” Hening beberapa detik. Alana akhirnya mengangkat wajahnya lagi, matanya sudah berkaca-kaca. “Mau bagaimana pun… dia suami aku,” ucapnya pelan tapi pasti. “Aku tetap harus di sisi dia.” Alvaro menatapnya lama, lalu menghela napas. “Dan kamu akan terus pura-pura kuat di depan orang yang bahkan nggak lihat kamu lagi lemah?” tanyanya pelan. Alana tidak menjawab. Ia hanya memalingkan wajahnya, menahan air mata. Alvaro akhirnya mundur satu langkah. “Ya sudah…” gumamnya. “Kalau itu pilihan kamu.” Indah berdiri di depan pintu rumah sakit dengan wajah tidak sabar. “Ayo cepat, lama banget kamu,” ucapnya ketus. Alana berjalan pelan mendekat, tubuhnya masih lemah. “Iya, Mah… aku kan baru keguguran,” jawabnya lirih. Indah langsung mendengus kesal. “Alah, keguguran aja, bukan lahiran. Jangan manja. Mama mau arisan habis ini,” balasnya dingin. Alana hanya menunduk, tidak membalas lagi. Mereka bertiga keluar dari rumah sakit dan masuk ke dalam mobil. Suasana terasa kaku. Begitu duduk, Indah langsung membuka suara lagi. “Al, mama minta uang dong. Buat biaya arisan sama makan teman-teman mama. Mama sudah janji mau traktir,” ucapnya santai. Alana yang duduk di kursi belakang menjawab pelan. “Uang aku sudah kepakai buat biaya rumah sakit, Mah… aku nggak ada uang lagi.” Indah langsung menoleh ke belakang dengan ekspresi tidak suka. “Lagian kamu sih pakai sakit segala. Memangnya kantor kamu nggak ngasih tunjangan?” katanya tajam. Alana menunduk, menggenggam tasnya erat. “Ada… tapi nggak cukup nutup semuanya,” jawabnya pelan. Alvaro yang duduk di depan akhirnya ikut bicara. “Memangnya mama butuh berapa? Aku kasih nanti,” ucapnya singkat. Indah langsung tersenyum tipis. “Udah, uang kamu simpan saja. Buat jalan sama Diana,” katanya ringan. “Mama malah suka sama dia.” Alvaro langsung mengernyit. “Aku nggak ada hubungan apa-apa sama Diana, Mah,” jawabnya tegas. Indah mengangkat bahu. “Ya makanya, kamu deketin dia. Dia itu anak orang kaya, jelas masa depannya,” balasnya santai. Alvaro menghela napas, tampak tidak ingin memperpanjang. Sementara itu, Alana yang duduk di belakang hanya diam. Tatapannya kosong, tapi pikirannya penuh. Jadi… mereka masih berhubungan selama ini? batin Alana pelan. Kenapa dia bilang mau balikan sama aku…? Tangannya menggenggam lebih erat, sementara suasana di dalam mobil kembali hening, tapi jauh lebih berat dari sebelumnya.Alvaro tidak mengalihkan pandangan. Tatapannya tetap lurus ke arah Alana. “Aku cuma menawarkan solusi agar kamu tidak dituntut hamil terus, Ana,” ucapnya pelan, nada suaranya lebih rendah dari sebelumnya. Alana langsung menggeleng cepat, wajahnya berubah tegas. “Jangan gila kamu,” balasnya, suaranya mulai naik. “Aku ini istri kakak kamu.” Alvaro menarik napas pelan, rahangnya sedikit mengeras. “Istri…?” ulangnya pelan. “Istri yang diperlakukan seperti itu?” Alana langsung menatapnya tidak suka. “Jangan bawa-bawa rumah tangga aku,” potongnya cepat. Alvaro melangkah sedikit lebih dekat, tapi tetap menjaga jarak. “Aku cuma lihat kenyataan, Ana,” ucapnya tegas. “Suami yang benar-benar peduli sama kesehatan kamu… apa bakal lebih mikirin ego dia sendiri?” Alana menggeleng, berusaha membela meski suaranya mulai goyah. “Mas Arga nggak seperti itu,” ucapnya cepat. “Dia cuma… kecewa aja.” Alvaro tersenyum tipis, tapi jelas bukan senyum hangat. “Kecewa?” ulangnya. “Tiga hari kam
Alvaro masih memegangi bibirnya, menatap Alana lama. Napasnya belum stabil, tapi matanya justru terlihat semakin dalam dan sulit dibaca. “Kakak ipar…” ulang Alvaro pelan, seperti menahan sesuatu di dadanya. Alana langsung membuang wajah, berusaha mengatur napasnya yang masih kacau. “Jangan bikin situasi ini makin aneh, Alvaro…” Alvaro tertawa kecil, tapi tidak ada humor di sana. “Aneh?” ulangnya. “Dari dulu ini sudah aneh, Ana.” Alana langsung menoleh cepat. “Jangan panggil aku gitu.” Alvaro melangkah setengah lebih dekat, lalu berhenti lagi tepat di sisi ranjang. “Kalau aku cuma bisa manggil kamu ‘Mbak Alana’, kenapa setiap lihat kamu aku malah ingat semua yang dulu?” suaranya lebih pelan. Alana menegang, matanya langsung berkaca-kaca tapi ia menahan diri. “Itu masa lalu kamu. Bukan urusanku lagi.” Alvaro menggeleng pelan. “Kamu masih istrinya Arga… tapi kenapa reaksimu masih sama waktu kita dulu?” Alana langsung mengangkat suara kecil. “Berhenti, Alvaro.” Alvaro ti
“Alvaro, perkenalkan ini Alana, istri mas,” ucap Arga sambil sedikit menoleh ke arah istrinya. “Sayang, ini Alvaro.” Alvaro mengangguk pelan, lalu menatap Alana cukup lama sebelum akhirnya tersenyum tipis. “Salam kenal, Mbak,” ucapnya tenang, tapi sorot matanya terlihat sulit ditebak. Alana membalas dengan suara pelan. “Salam kenal…” Suasana sempat canggung. “Bu, saya pamit kembali ke kantor dulu ya. Saya harus memberi tahu pihak kantor kalau Ibu masih dirawat di rumah sakit,” ujar Widia sopan. Alana mengangguk lemah. “Terima kasih, Widia…” “Baik, Bu,” jawab Widia sebelum keluar dari ruangan. Tidak lama setelah itu, pintu kembali terbuka. Seorang dokter masuk dengan membawa berkas medis. “Permisi, keluarga dari Bu Alana?” tanya dokter dengan nada profesional. Arga langsung berdiri. “Saya, Dok. Suami pasien. Bagaimana kondisi istri saya?” Dokter membuka berkasnya, lalu berbicara dengan hati-hati. “Baik, saya jelaskan ya. Dari hasil pemeriksaan, pasien meng
Arga masuk ke ruang rawat dengan langkah cepat, wajahnya panik dan napasnya tidak beraturan. “Sayang… kamu kenapa bisa sampai pendarahan di rumah sakit?” tanyanya langsung, menatap Alana yang terbaring lemah. Alana hanya menatapnya kosong, bibirnya bergetar. Belum sempat ia menjawab, Widia pelan angkat suara dari samping ranjang. “Istri Anda keguguran, Pak…” Arga langsung membeku. “Apa… keguguran?” Ia menatap Alana cepat. “Kamu hamil?” Alana menunduk, air matanya jatuh. “Iya… aku hamil… baru tes tadi pagi…” Arga terdiam beberapa detik, lalu suaranya meninggi karena kaget. “Kenapa kamu nggak bilang sama aku waktu kita teleponan?” Alana menggenggam selimutnya kuat-kuat. “Aku mau ngasih kamu surprise… hadiah anniversary kita, mas…” Ruangan mendadak hening. Indah yang berdiri di sudut ruangan langsung menyahut dengan nada tajam. “Sekarang lihat akibatnya. Karena kecerobohan kamu sendiri kamu keguguran. Ini pasti karena kamu kerja terus, jadi seperti ini!” Alana langsung me
Alana masih terlihat lemah ketika beberapa staf pria segera mengangkatnya dengan hati-hati. “Pelan-pelan ya, Bu… jangan banyak gerak,” ucap salah satu staf, sambil memastikan posisi Alana tetap aman di gendongan. Widia berjalan cepat di samping mereka menuju lift. “Cepat, kita ke bawah sekarang!” perintahnya tegas, meski wajahnya jelas panik. Di dalam lift, suasana terasa tegang. Alana memejamkan mata sambil menahan sakit. “Bu Alana, tahan ya… bentar lagi sampai bawah,” kata Widia pelan, berusaha menenangkan. Beberapa detik kemudian, lift terbuka di lobby. Mobil sudah standby di depan pintu masuk kantor. “Cepat masukin Bu Alana ke mobil!” seru Widia. Staf langsung membantu menurunkan Alana dengan hati-hati ke kursi belakang mobil. “Ayo cepat Pak, ke rumah sakit sekarang!” Widia ikut naik dan duduk di samping Alana. “Sabar ya, Bu… kita langsung ke dokter.” Sopir mengangguk cepat. “Siap, Bu!" Mobil langsung melaju meninggalkan gedung kantor dengan kecepatan stabil. Di teng
“Bisa diam gak sih? Tangisan kamu berisik banget!”Bentakan Arga membuat Alana tersentak. Baru saja ia merebahkan tubuhnya di ranjang, tetapi bukannya mendapat pelukan atau kata-kata penghiburan, suaminya yang baru pulang dari kantor malah memarahinya dengan wajah penuh kekesalan. Alana langsung menunduk. Jemarinya meremas ujung dasternya. Wajahnya pucat, bibirnya kering, dan langkahnya masih terasa lemas setelah kehilangan banyak darah akibat keguguran. Dua tahun pernikahan…Baru kali ini Tuhan menitipkan janin di rahimnya.Namun belum sempat ia mendengar detak jantung bayinya lebih lama, calon anak itu sudah pergi meninggalkannya. Dan yang lebih menyakitkan, orang yang paling ia harapkan untuk menguatkannya justru menjadi orang pertama yang menyalahkannya. “Ini pasti karena kamu gak dengerin omongan Mama,” ucap Arga dingin tanpa rasa kasihan. “Orang hamil itu jangan malas-malasan, Alana. Makanya kandungan kamu jadi lemah!” Air mata Alana kembali jatuh. Malas? Rasanya tuduhan it







