Share

Bab 2

Penulis: Miss Jawelia
last update Tanggal publikasi: 2026-05-04 05:00:12

Alana masih terlihat lemah ketika beberapa staf pria segera mengangkatnya dengan hati-hati.

“Pelan-pelan ya, Bu… jangan banyak gerak,” ucap salah satu staf, sambil memastikan posisi Alana tetap aman di gendongan.

Widia berjalan cepat di samping mereka menuju lift.

“Cepat, kita ke bawah sekarang!” perintahnya tegas, meski wajahnya jelas panik.

Di dalam lift, suasana terasa tegang. Alana memejamkan mata sambil menahan sakit.

“Bu Alana, tahan ya… bentar lagi sampai bawah,” kata Widia pelan, berusaha menenangkan.

Beberapa detik kemudian, lift terbuka di lobby.

Mobil sudah standby di depan pintu masuk kantor.

“Cepat masukin Bu Alana ke mobil!” seru Widia.

Staf langsung membantu menurunkan Alana dengan hati-hati ke kursi belakang mobil.

“Ayo cepat Pak, ke rumah sakit sekarang!” Widia ikut naik dan duduk di samping Alana. “Sabar ya, Bu… kita langsung ke dokter.”

Sopir mengangguk cepat.

“Siap, Bu!"

Mobil langsung melaju meninggalkan gedung kantor dengan kecepatan stabil.

Di tengah perjalanan, Widia terlihat bingung dan panik.

“HP Bu Alana di mana ya…” gumamnya.

Ia membuka tas Alana lalu menemukan ponselnya.

“Maaf ya Bu, saya pinjam telepon Pak Arga dulu, ini darurat,” ucap Widia pelan sebelum menekan layar ponsel.

Namun panggilan tidak diangkat.

“Haduh… Pak Arga kenapa nggak angkat-angkat sih, ini urgent banget…” Widia semakin cemas.

Ia mencoba sekali lagi, tetap tidak tersambung.

Widia menarik napas dalam, lalu mengambil keputusan lain.

“Kalau begini… saya harus hubungi ibu mertuanya.”

Ia menekan kontak bernama “Ibu Indah”.

Beberapa detik kemudian, panggilan tersambung.

“Hallo… Alana sayang? Ada apa tumben telepon mama nak?” suara lembut di seberang terdengar.

Widia langsung menelan ludah, lalu menjawab cepat.

“Hallo Bu… maaf, saya Widia, sekretarisnya Bu Alana.”

Suara di seberang langsung berubah waspada.

“Kenapa HP Alana ada di kamu?”

Widia menarik napas dalam sebelum menjelaskan.

“Begini Bu… tadi Bu Alana kepleset di kantor. Sekarang beliau pendarahan. Kami sedang dalam perjalanan ke rumah sakit.”

Hening sejenak di telepon.

“Pendarahan? Maksudnya bagaimana bisa?” suara Indah mulai panik.

Widia menatap Alana yang semakin lemah.

“Bu Alana… sedang hamil, Bu.”

Suara di seberang langsung meninggi.

“Apa?! Hamil?! Alana hamil?!”

“Iya, Bu…”

“Kalau begitu…” suara Indah bergetar, “jangan-jangan ini… keguguran?”

Di dalam mobil, Widia langsung terdiam mendengar suara Ibu Indah yang bergetar di seberang telepon.

“Bu… kami belum tahu pasti. Kami masih menuju rumah sakit sekarang,” jawab Widia cepat, berusaha tetap tenang.

Di kursi belakang, Alana mulai menggeliat pelan.

“Widia…” suaranya sangat lirih.

“Iya, Bu Alana? Saya di sini,” Widia langsung mendekat, memegang tangannya.

“Mas Arga… sudah dihubungi?” tanya Alana dengan napas tersengal.

Widia ragu sejenak.

“Belum diangkat, Bu… saya masih coba lagi.”

Air mata Alana mulai menggenang, tapi ia menahannya.

“Jangan bilang apa-apa dulu… aku takut dia panik di jalan…”

“Bu Alana, fokus dulu ya… kita hampir sampai rumah sakit,” Widia menenangkan.

Di telepon, suara Ibu Indah terdengar semakin cemas.

“Widia, kalian di mana sekarang?”

“Kami di jalan ke rumah sakit, Bu. Tolong segera ke sana juga kalau bisa.”

“Baik… saya akansegera berangkat. Alana harus ditangani cepat!”

Telepon ditutup.

Mobil melaju kencang di jalanan kota. Sopir terlihat serius, beberapa kali membunyikan klakson.

“Permisi! Darurat!” katanya saat menyalip kendaraan di depan.

Di dalam mobil, suasana semakin tegang.

“Bu Alana, bertahan ya… sedikit lagi sampai,” kata sopir dari depan kaca spion.

Alana memejamkan mata, wajahnya pucat.

“Aku… takut, Widia…” suaranya hampir tidak terdengar.

Widia menggenggam tangannya lebih erat.

“Jangan takut, Bu. Dokter pasti bantu.”

Tak lama kemudian, mobil akhirnya masuk ke area rumah sakit.

“Sudah sampai!” seru sopir.

Pintu langsung dibuka cepat oleh petugas rumah sakit yang sudah dipanggil lewat telepon darurat.

“Pasien darurat! Pendarahan, diduga hamil!” teriak Widia panik.

Beberapa perawat segera datang dengan brankar.

“Cepat, pindahkan ke sini!”

Alana langsung dipindahkan dari mobil ke brankar dengan sangat hati-hati.

“Bu Alana, dengar saya ya… kita bantu Ibu sekarang,” ucap perawat sambil berlari menuju ruang IGD.

“Mas Arga…” Alana kembali memanggil lemah, sebelum matanya mulai berat.

“Tenang Bu… kami di sini,” jawab salah satu perawat.

Widia berdiri di belakang sambil gemetar, menatap pintu IGD yang mulai tertutup.

Dan dalam hatinya hanya satu doa yang terus berulang: semoga semuanya masih bisa diselamatkan.

Alana sudah dipindahkan ke ruang rawat setelah penanganan awal di IGD. Wajahnya masih pucat, tangannya lemah menggenggam selimut.

Pintu kamar terbuka cepat.

“Ibu Indah…” sapa Widia pelan, menyingkir memberi jalan.

Indah masuk dengan wajah tegang dan langkah cepat. Matanya langsung tertuju pada Alana yang terbaring lemah di ranjang.

“Alana…” suaranya terdengar lebih dingin dari biasanya.

Alana langsung menoleh, matanya berkaca-kaca.

“Mah… bayi aku…”

Indah berdiri di samping ranjang, menatapnya cukup lama sebelum akhirnya berkata tajam.

“Kata Dokter kamu keguguran tau gak.”

Alana terdiam sesaat, lalu mengangguk pelan dengan air mata jatuh.

“Iya… aku juga nggak tahu kenapa bisa jatuh seperti itu…”

Indah menghela napas keras, lalu nadanya meninggi.

“Alana, mama sudah sangat menunggu cucu. Dua tahun kamu menikah, baru sekarang hamil… tapi malah begini?"

Alana terkejut dengan nada Indah. Selama ini mertuanya selalu lembut padanya, tapi kali ini berbeda.

“Mah… aku juga nggak mau ini terjadi… aku jatuh di kantor, lantainya licin—”

Indah langsung memotong.

“Kamu itu pasti terlalu sibuk kerja! Tidak bisa jaga diri! Sekarang lihat akibatnya…”

Alana terdiam, bibirnya bergetar.

“Mah… aku sudah hati-hati…”

Widia yang berdiri di sudut ruangan terlihat tidak nyaman, tapi tidak berani menyela.

Alana perlahan bertanya dengan suara pelan,

“Mas Arga… di mana?”

Indah menarik napas, mencoba menahan emosinya.

“Arga sebentar lagi datang. Dia lagi jemput Alvaro.”

Alana mengernyit.

“Alvaro?”

“Iya, adiknya. Dia baru sampai Indonesia.”

Alana menatap kosong ke arah langit-langit, mencoba menahan air matanya.

“Jadi… dia belum tahu soal ini?”

“Belum,” jawab Indah singkat, lalu menatapnya lagi. “Dan nanti dia pasti akan kaget juga. ”

Suasana ruangan menjadi hening sesaat.

Alana menggenggam selimut lebih erat.

“Mah… aku benar-benar nggak sengaja…”

Indah tidak langsung menjawab. Wajahnya masih tegang, tapi ada sedikit keraguan di matanya.

“Sekarang yang penting kamu istirahat dulu,” ucapnya akhirnya, lebih datar.

Alana hanya mengangguk pelan, sementara air matanya terus jatuh tanpa suara.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Godaan Terlarang Adek Ipar   Bab 6

    Alvaro tidak mengalihkan pandangan. Tatapannya tetap lurus ke arah Alana. “Aku cuma menawarkan solusi agar kamu tidak dituntut hamil terus, Ana,” ucapnya pelan, nada suaranya lebih rendah dari sebelumnya. Alana langsung menggeleng cepat, wajahnya berubah tegas. “Jangan gila kamu,” balasnya, suaranya mulai naik. “Aku ini istri kakak kamu.” Alvaro menarik napas pelan, rahangnya sedikit mengeras. “Istri…?” ulangnya pelan. “Istri yang diperlakukan seperti itu?” Alana langsung menatapnya tidak suka. “Jangan bawa-bawa rumah tangga aku,” potongnya cepat. Alvaro melangkah sedikit lebih dekat, tapi tetap menjaga jarak. “Aku cuma lihat kenyataan, Ana,” ucapnya tegas. “Suami yang benar-benar peduli sama kesehatan kamu… apa bakal lebih mikirin ego dia sendiri?” Alana menggeleng, berusaha membela meski suaranya mulai goyah. “Mas Arga nggak seperti itu,” ucapnya cepat. “Dia cuma… kecewa aja.” Alvaro tersenyum tipis, tapi jelas bukan senyum hangat. “Kecewa?” ulangnya. “Tiga hari kam

  • Godaan Terlarang Adek Ipar   Bab 5

    Alvaro masih memegangi bibirnya, menatap Alana lama. Napasnya belum stabil, tapi matanya justru terlihat semakin dalam dan sulit dibaca. “Kakak ipar…” ulang Alvaro pelan, seperti menahan sesuatu di dadanya. Alana langsung membuang wajah, berusaha mengatur napasnya yang masih kacau. “Jangan bikin situasi ini makin aneh, Alvaro…” Alvaro tertawa kecil, tapi tidak ada humor di sana. “Aneh?” ulangnya. “Dari dulu ini sudah aneh, Ana.” Alana langsung menoleh cepat. “Jangan panggil aku gitu.” Alvaro melangkah setengah lebih dekat, lalu berhenti lagi tepat di sisi ranjang. “Kalau aku cuma bisa manggil kamu ‘Mbak Alana’, kenapa setiap lihat kamu aku malah ingat semua yang dulu?” suaranya lebih pelan. Alana menegang, matanya langsung berkaca-kaca tapi ia menahan diri. “Itu masa lalu kamu. Bukan urusanku lagi.” Alvaro menggeleng pelan. “Kamu masih istrinya Arga… tapi kenapa reaksimu masih sama waktu kita dulu?” Alana langsung mengangkat suara kecil. “Berhenti, Alvaro.” Alvaro ti

  • Godaan Terlarang Adek Ipar   Bab 4

    “Alvaro, perkenalkan ini Alana, istri mas,” ucap Arga sambil sedikit menoleh ke arah istrinya. “Sayang, ini Alvaro.” Alvaro mengangguk pelan, lalu menatap Alana cukup lama sebelum akhirnya tersenyum tipis. “Salam kenal, Mbak,” ucapnya tenang, tapi sorot matanya terlihat sulit ditebak. Alana membalas dengan suara pelan. “Salam kenal…” Suasana sempat canggung. “Bu, saya pamit kembali ke kantor dulu ya. Saya harus memberi tahu pihak kantor kalau Ibu masih dirawat di rumah sakit,” ujar Widia sopan. Alana mengangguk lemah. “Terima kasih, Widia…” “Baik, Bu,” jawab Widia sebelum keluar dari ruangan. Tidak lama setelah itu, pintu kembali terbuka. Seorang dokter masuk dengan membawa berkas medis. “Permisi, keluarga dari Bu Alana?” tanya dokter dengan nada profesional. Arga langsung berdiri. “Saya, Dok. Suami pasien. Bagaimana kondisi istri saya?” Dokter membuka berkasnya, lalu berbicara dengan hati-hati. “Baik, saya jelaskan ya. Dari hasil pemeriksaan, pasien meng

  • Godaan Terlarang Adek Ipar   Bab 3

    Arga masuk ke ruang rawat dengan langkah cepat, wajahnya panik dan napasnya tidak beraturan. “Sayang… kamu kenapa bisa sampai pendarahan di rumah sakit?” tanyanya langsung, menatap Alana yang terbaring lemah. Alana hanya menatapnya kosong, bibirnya bergetar. Belum sempat ia menjawab, Widia pelan angkat suara dari samping ranjang. “Istri Anda keguguran, Pak…” Arga langsung membeku. “Apa… keguguran?” Ia menatap Alana cepat. “Kamu hamil?” Alana menunduk, air matanya jatuh. “Iya… aku hamil… baru tes tadi pagi…” Arga terdiam beberapa detik, lalu suaranya meninggi karena kaget. “Kenapa kamu nggak bilang sama aku waktu kita teleponan?” Alana menggenggam selimutnya kuat-kuat. “Aku mau ngasih kamu surprise… hadiah anniversary kita, mas…” Ruangan mendadak hening. Indah yang berdiri di sudut ruangan langsung menyahut dengan nada tajam. “Sekarang lihat akibatnya. Karena kecerobohan kamu sendiri kamu keguguran. Ini pasti karena kamu kerja terus, jadi seperti ini!” Alana langsung me

  • Godaan Terlarang Adek Ipar   Bab 2

    Alana masih terlihat lemah ketika beberapa staf pria segera mengangkatnya dengan hati-hati. “Pelan-pelan ya, Bu… jangan banyak gerak,” ucap salah satu staf, sambil memastikan posisi Alana tetap aman di gendongan. Widia berjalan cepat di samping mereka menuju lift. “Cepat, kita ke bawah sekarang!” perintahnya tegas, meski wajahnya jelas panik. Di dalam lift, suasana terasa tegang. Alana memejamkan mata sambil menahan sakit. “Bu Alana, tahan ya… bentar lagi sampai bawah,” kata Widia pelan, berusaha menenangkan. Beberapa detik kemudian, lift terbuka di lobby. Mobil sudah standby di depan pintu masuk kantor. “Cepat masukin Bu Alana ke mobil!” seru Widia. Staf langsung membantu menurunkan Alana dengan hati-hati ke kursi belakang mobil. “Ayo cepat Pak, ke rumah sakit sekarang!” Widia ikut naik dan duduk di samping Alana. “Sabar ya, Bu… kita langsung ke dokter.” Sopir mengangguk cepat. “Siap, Bu!" Mobil langsung melaju meninggalkan gedung kantor dengan kecepatan stabil. Di teng

  • Godaan Terlarang Adek Ipar   Keguguran

    “Bisa diam gak sih? Tangisan kamu berisik banget!”Bentakan Arga membuat Alana tersentak. Baru saja ia merebahkan tubuhnya di ranjang, tetapi bukannya mendapat pelukan atau kata-kata penghiburan, suaminya yang baru pulang dari kantor malah memarahinya dengan wajah penuh kekesalan. Alana langsung menunduk. Jemarinya meremas ujung dasternya. Wajahnya pucat, bibirnya kering, dan langkahnya masih terasa lemas setelah kehilangan banyak darah akibat keguguran. Dua tahun pernikahan…Baru kali ini Tuhan menitipkan janin di rahimnya.Namun belum sempat ia mendengar detak jantung bayinya lebih lama, calon anak itu sudah pergi meninggalkannya. Dan yang lebih menyakitkan, orang yang paling ia harapkan untuk menguatkannya justru menjadi orang pertama yang menyalahkannya. “Ini pasti karena kamu gak dengerin omongan Mama,” ucap Arga dingin tanpa rasa kasihan. “Orang hamil itu jangan malas-malasan, Alana. Makanya kandungan kamu jadi lemah!” Air mata Alana kembali jatuh. Malas? Rasanya tuduhan it

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status