เข้าสู่ระบบArga masuk ke ruang rawat dengan langkah cepat, wajahnya panik dan napasnya tidak beraturan.
“Sayang… kamu kenapa bisa sampai pendarahan di rumah sakit?” tanyanya langsung, menatap Alana yang terbaring lemah. Alana hanya menatapnya kosong, bibirnya bergetar. Belum sempat ia menjawab, Widia pelan angkat suara dari samping ranjang. “Istri Anda keguguran, Pak…” Arga langsung membeku. “Apa… keguguran?” Ia menatap Alana cepat. “Kamu hamil?” Alana menunduk, air matanya jatuh. “Iya… aku hamil… baru tes tadi pagi…” Arga terdiam beberapa detik, lalu suaranya meninggi karena kaget. “Kenapa kamu nggak bilang sama aku waktu kita teleponan?” Alana menggenggam selimutnya kuat-kuat. “Aku mau ngasih kamu surprise… hadiah anniversary kita, mas…” Ruangan mendadak hening. Indah yang berdiri di sudut ruangan langsung menyahut dengan nada tajam. “Sekarang lihat akibatnya. Karena kecerobohan kamu sendiri kamu keguguran. Ini pasti karena kamu kerja terus, jadi seperti ini!” Alana langsung menoleh, suaranya bergetar tapi masih mencoba menjelaskan. “Mah… aku kerja buat bantu perekonomian keluarga kita. Sebagian gajinya mas Arga kan dikasih ke mama. Kalau aku nggak kerja, aku sama mas Arga mau makan apa?” Indah langsung menyela dengan nada tinggi. “Kamu perhitungan banget sama mama! Lagian rezeki kamu itu banyak karena kamu memuliakan orang tua, tau nggak!” Alana terdiam, matanya mulai berkaca-kaca. “Mah…” Belum sempat lanjut, Arga langsung memotong dengan suara tegas. “Cukup!” Semua langsung menoleh ke Arga. “Alana kamu yang salah di sini. Apa yang mama bilang itu bener.” Alana menatap Arga tidak percaya, suaranya lirih. “Mas… kamu kenapa malah belain Mama yang istri kamu itu aku? ” Arga menghela napas, lalu melanjutkan lebih keras. “Iya, aku belain mama karena mama aku bener. Dia aja bisa melahirkan dua anak, masih bisa kerja, bersihin rumah, merawat anak dan suami. Kamu baru hamil aja sudah keguguran.” Suasana langsung berubah tegang. Alana menatap Arga dengan mata basah, seperti tidak mengenal suaminya sendiri. “Mas… kamu bentak aku? kenapa kamu berubah…” suaranya pecah, bukan marah, tapi kecewa. Arga terdiam sejenak, lalu hanya mengalihkan pandangan. Indah masih berdiri dengan ekspresi dingin, sementara Widia menunduk tidak nyaman, merasa ruangan itu semakin sesak oleh kata-kata yang saling melukai. Arga menarik napas panjang, lalu duduk di sisi ranjang Alana dengan wajah yang mulai melunak meski suaranya masih berat. “Sayang… mas nggak bermaksud bentak kamu tadi,” ucapnya pelan. “Mas cuma kecewa… kamu kan tahu mas sangat menginginkan anak.” Ia menatap Alana dengan mata yang mulai memerah. “Dua tahun kita menunggu… dan pas kamu hamil, malah keguguran.” Alana menatapnya lama, lalu air matanya jatuh tanpa bisa ditahan. “Aku juga nggak minta ini terjadi, mas…” Suaranya pelan, hampir pecah. Arga langsung terdiam. Alana melanjutkan dengan napas bergetar. “Aku juga senang… aku juga bahagia waktu tahu aku hamil… aku bahkan sudah bayangin kita bakal punya bayi…” Ia menunduk, memegang selimut erat-erat. “Tapi aku jatuh, mas… aku nggak tahu lantai itu licin… aku nggak sengaja…” Arga menatapnya, ekspresinya berubah antara menyesal dan bingung harus berkata apa. Indah yang masih ada di ruangan itu menyela dingin. “Sudah terjadi ya tetap terjadi. Sekarang jangan cari alasan.” Alana menoleh cepat, matanya merah. “Mah… aku bukan cari alasan…” Suasana kembali tegang. Arga mengusap wajahnya, lalu berdiri lagi. “Udah… cukup,” ucapnya pelan tapi tegas, kali ini bukan kepada Alana, tapi suasana di ruangan itu. Ia kembali menatap Alana, suaranya lebih lembut. “Sekarang kamu fokus istirahat. Mas nggak mau kamu makin sakit.” Alana hanya mengangguk kecil, meski hatinya masih terasa hancur dan berat di antara kata-kata yang baru saja terucap di ruangan itu. Pintu ruang rawat kembali terbuka dengan cukup keras. “Ada apa ini ribut-ribut? Suaranya sampai ke luar, loh,” suara seorang pria terdengar tegas namun tenang. Semua langsung menoleh ke arah pintu. Alvaro masuk dengan langkah mantap, aura dingin dan berwibawa langsung terasa memenuhi ruangan. Alana menoleh pelan ke arah Alvaro yang berdiri di dekat ranjangnya. “Alvaro… ternyata dia Alvaro yang sama… mantan pacarku waktu SMA dulu…” batinnya langsung bergejolak, matanya sedikit melebar. Ingatan lama tiba-tiba muncul, membuat dadanya terasa sesak. “Yang dulu pernah selingkuh…” pikirnya lagi, semakin tidak nyaman. Ia menelan ludah, lalu melanjutkan dalam hati dengan cemas. “Jangan sampai mas Arga tahu… atau Alvaro juga ingat masa lalu itu… bisa gawat…” Alana langsung mengalihkan pandangan, berusaha terlihat tenang meski pikirannya kacau. Di sisi lain, Alvaro masih berdiri dengan tenang, tidak menunjukkan reaksi apa pun selain tatapan serius ke arah kondisi Alana. Sementara itu, di dalam hati Alana, kecemasan terus bertambah. “Kenapa harus dia… kenapa harus dia yang jadi adiknya mas Arga…” batinnya semakin gelisah.Alvaro tidak mengalihkan pandangan. Tatapannya tetap lurus ke arah Alana. “Aku cuma menawarkan solusi agar kamu tidak dituntut hamil terus, Ana,” ucapnya pelan, nada suaranya lebih rendah dari sebelumnya. Alana langsung menggeleng cepat, wajahnya berubah tegas. “Jangan gila kamu,” balasnya, suaranya mulai naik. “Aku ini istri kakak kamu.” Alvaro menarik napas pelan, rahangnya sedikit mengeras. “Istri…?” ulangnya pelan. “Istri yang diperlakukan seperti itu?” Alana langsung menatapnya tidak suka. “Jangan bawa-bawa rumah tangga aku,” potongnya cepat. Alvaro melangkah sedikit lebih dekat, tapi tetap menjaga jarak. “Aku cuma lihat kenyataan, Ana,” ucapnya tegas. “Suami yang benar-benar peduli sama kesehatan kamu… apa bakal lebih mikirin ego dia sendiri?” Alana menggeleng, berusaha membela meski suaranya mulai goyah. “Mas Arga nggak seperti itu,” ucapnya cepat. “Dia cuma… kecewa aja.” Alvaro tersenyum tipis, tapi jelas bukan senyum hangat. “Kecewa?” ulangnya. “Tiga hari kam
Alvaro masih memegangi bibirnya, menatap Alana lama. Napasnya belum stabil, tapi matanya justru terlihat semakin dalam dan sulit dibaca. “Kakak ipar…” ulang Alvaro pelan, seperti menahan sesuatu di dadanya. Alana langsung membuang wajah, berusaha mengatur napasnya yang masih kacau. “Jangan bikin situasi ini makin aneh, Alvaro…” Alvaro tertawa kecil, tapi tidak ada humor di sana. “Aneh?” ulangnya. “Dari dulu ini sudah aneh, Ana.” Alana langsung menoleh cepat. “Jangan panggil aku gitu.” Alvaro melangkah setengah lebih dekat, lalu berhenti lagi tepat di sisi ranjang. “Kalau aku cuma bisa manggil kamu ‘Mbak Alana’, kenapa setiap lihat kamu aku malah ingat semua yang dulu?” suaranya lebih pelan. Alana menegang, matanya langsung berkaca-kaca tapi ia menahan diri. “Itu masa lalu kamu. Bukan urusanku lagi.” Alvaro menggeleng pelan. “Kamu masih istrinya Arga… tapi kenapa reaksimu masih sama waktu kita dulu?” Alana langsung mengangkat suara kecil. “Berhenti, Alvaro.” Alvaro ti
“Alvaro, perkenalkan ini Alana, istri mas,” ucap Arga sambil sedikit menoleh ke arah istrinya. “Sayang, ini Alvaro.” Alvaro mengangguk pelan, lalu menatap Alana cukup lama sebelum akhirnya tersenyum tipis. “Salam kenal, Mbak,” ucapnya tenang, tapi sorot matanya terlihat sulit ditebak. Alana membalas dengan suara pelan. “Salam kenal…” Suasana sempat canggung. “Bu, saya pamit kembali ke kantor dulu ya. Saya harus memberi tahu pihak kantor kalau Ibu masih dirawat di rumah sakit,” ujar Widia sopan. Alana mengangguk lemah. “Terima kasih, Widia…” “Baik, Bu,” jawab Widia sebelum keluar dari ruangan. Tidak lama setelah itu, pintu kembali terbuka. Seorang dokter masuk dengan membawa berkas medis. “Permisi, keluarga dari Bu Alana?” tanya dokter dengan nada profesional. Arga langsung berdiri. “Saya, Dok. Suami pasien. Bagaimana kondisi istri saya?” Dokter membuka berkasnya, lalu berbicara dengan hati-hati. “Baik, saya jelaskan ya. Dari hasil pemeriksaan, pasien meng
Arga masuk ke ruang rawat dengan langkah cepat, wajahnya panik dan napasnya tidak beraturan. “Sayang… kamu kenapa bisa sampai pendarahan di rumah sakit?” tanyanya langsung, menatap Alana yang terbaring lemah. Alana hanya menatapnya kosong, bibirnya bergetar. Belum sempat ia menjawab, Widia pelan angkat suara dari samping ranjang. “Istri Anda keguguran, Pak…” Arga langsung membeku. “Apa… keguguran?” Ia menatap Alana cepat. “Kamu hamil?” Alana menunduk, air matanya jatuh. “Iya… aku hamil… baru tes tadi pagi…” Arga terdiam beberapa detik, lalu suaranya meninggi karena kaget. “Kenapa kamu nggak bilang sama aku waktu kita teleponan?” Alana menggenggam selimutnya kuat-kuat. “Aku mau ngasih kamu surprise… hadiah anniversary kita, mas…” Ruangan mendadak hening. Indah yang berdiri di sudut ruangan langsung menyahut dengan nada tajam. “Sekarang lihat akibatnya. Karena kecerobohan kamu sendiri kamu keguguran. Ini pasti karena kamu kerja terus, jadi seperti ini!” Alana langsung me
Alana masih terlihat lemah ketika beberapa staf pria segera mengangkatnya dengan hati-hati. “Pelan-pelan ya, Bu… jangan banyak gerak,” ucap salah satu staf, sambil memastikan posisi Alana tetap aman di gendongan. Widia berjalan cepat di samping mereka menuju lift. “Cepat, kita ke bawah sekarang!” perintahnya tegas, meski wajahnya jelas panik. Di dalam lift, suasana terasa tegang. Alana memejamkan mata sambil menahan sakit. “Bu Alana, tahan ya… bentar lagi sampai bawah,” kata Widia pelan, berusaha menenangkan. Beberapa detik kemudian, lift terbuka di lobby. Mobil sudah standby di depan pintu masuk kantor. “Cepat masukin Bu Alana ke mobil!” seru Widia. Staf langsung membantu menurunkan Alana dengan hati-hati ke kursi belakang mobil. “Ayo cepat Pak, ke rumah sakit sekarang!” Widia ikut naik dan duduk di samping Alana. “Sabar ya, Bu… kita langsung ke dokter.” Sopir mengangguk cepat. “Siap, Bu!" Mobil langsung melaju meninggalkan gedung kantor dengan kecepatan stabil. Di teng
“Bisa diam gak sih? Tangisan kamu berisik banget!”Bentakan Arga membuat Alana tersentak. Baru saja ia merebahkan tubuhnya di ranjang, tetapi bukannya mendapat pelukan atau kata-kata penghiburan, suaminya yang baru pulang dari kantor malah memarahinya dengan wajah penuh kekesalan. Alana langsung menunduk. Jemarinya meremas ujung dasternya. Wajahnya pucat, bibirnya kering, dan langkahnya masih terasa lemas setelah kehilangan banyak darah akibat keguguran. Dua tahun pernikahan…Baru kali ini Tuhan menitipkan janin di rahimnya.Namun belum sempat ia mendengar detak jantung bayinya lebih lama, calon anak itu sudah pergi meninggalkannya. Dan yang lebih menyakitkan, orang yang paling ia harapkan untuk menguatkannya justru menjadi orang pertama yang menyalahkannya. “Ini pasti karena kamu gak dengerin omongan Mama,” ucap Arga dingin tanpa rasa kasihan. “Orang hamil itu jangan malas-malasan, Alana. Makanya kandungan kamu jadi lemah!” Air mata Alana kembali jatuh. Malas? Rasanya tuduhan it







