Se connecterSatu kata itu adalah perintah yang tidak bisa dibantah. Lastri menurut. Ia duduk di kursi seberang meja kerja Tuan Ardan. Punggungnya tegak, namun tangannya saling bertaut di atas pangkuan.
"Bisa perkenalkan data diri kamu?" tanya Tuan Ardan datar, tapi tatapannya menunjukkan suatu keseriusan. Lastri sempat terkesiap, wajahnya terangkat menatap mata Tuan Ardan, seolah menangkap maksud di balik pertanyaan yang seperti sebuah perintah itu. "Bukankah kita belum benar-benar berkenalan?" tanyanya lagi, tapi lebih mirip sebuah pernyataan. Lastri menelan ludah, ketegangan kembali terasa meski ia sudah mencoba membiasakan diri beberapa hari ini. Sementara Tuan Ardan terus menatapnya—menunggu seolah tak ada urusan yang lebih penting lainnya. Setelah mengambil napas sesaat, Lastri akhirnya memperkenalkan diri. "Nama saya Lastri Astuti, Tuan. Usia saya tiga puluh dua tahun. Saya sudah menikah dan memiliki satu anak laki-laki berusia enam tahun," terangnya dengan jelas dan hati-hati. Tuan Ardan mengangguk-angguk. Wajahnya tetap serius. "Saya dengar kamu tetangganya Mbok Jiah dan belum pernah bekerja sebagai asisten rumah tangga sebelumnya. Jadi apa yang membuatmu mau bekerja di sini?" Lastri menunduk sedikit, jarinya saling meremat sambil memikirkan jawaban yang tepat. "Saya... saya membutuhkan pekerjaan, Tuan," jawabnya, lalu mengangkat wajah dan menatap Tuan Ardan dengan sungguh-sungguh. "Walaupun saya belum pernah bekerja sebagai asisten rumah tangga, saya janji akan bekerja dengan sungguh-sungguh. Saya mohon beri saya kesempatan untuk membuktikannya." Tuan Ardan masih menatapnya dengan tatapan datar. Namun dari tatapan itu jelas ia sedang menilai Lastri. Kemudian ia bangkit, berjalan perlahan ke arah jendela, memandangi langit jingga yang menyorot pada bunga-bunga di taman samping rumah. "Ada alasan khusus kamu memilih pekerjaan ini?" tanya Tuan Ardan lagi, masih di posisinya saat ini. Lastri kembali mengambil napas panjang, kemudian menjawab, "Tidak ada alasan khusus, Tuan. Pekerjaan apapun saya terima karena saya memang membutuhkannya. Suami saya sakit. Dia lumpuh pasca kecelakaan, dan saya harus menggantikannya mencari nafkah." "Jadi dia setuju kamu jadi seorang ART?" "Sebenarnya dia berat mengizinkan saya bekerja, tapi saya tidak ada pilihan lain. Kebutuhan rumah harus tetap dipenuhi." Ardan mengangguk-angguk di belakang Lastri. Ia puas dengan jawabannya yang sama persis dengan apa yang ia dengar tadi pagi. Namun, seolah sesi wawancara itu belum cukup, ia berbalik dan kembali menghadap Lastri. Dari posisinya berdiri, ia bisa mengamati seluruh tubuh Lastri. Dari caranya duduk tegang dan sedikit gelisah. Rambut hitamnya yang dikucir ke belakang dengan beberapa helai yang jatuh di dekat pipi dan telinga. Rambut-rambut halus di belakang leher yang tampak sedikit berantakan, namun justru itulah bagian dari pesonanya. Daster longgar sederhana membalut tubuhnya yang ramping, tapi sedikit membusung di bagian dada. Serta betisnya yang tampak putih, bersih dan mulus, seolah tak ada bulu kaki di kulitnya. Semua itu tak luput dari perhatiannya. Dan sesuatu dalam dirinya yang selama ini ia tahan—entah bagaimana bisa—kembali membara. Seolah wanita yang kini ada di hadapannya adalah sebuah bahan bakar yang siap menghidupkan sesuatu yang telah lama padam. Ardan menarik napas dalam, menekan rasa yang tak seharusnya ada. Rasa yang membuat sesuatu mendesak di dalam celananya—sesuatu yang panjang, keras, dan tegak—yang kali ini tak bisa ia kendalikan dengan mudah. "Pekerjaan ini... saya tidak bilang ini akan sulit, bukan berarti ini juga akan mudah. Tapi... " kata Ardan kemudian, tapi tak langsung menyelesaikan kalimatnya. Lastri menelan ludah, tubuhnya menegang. Menunggu kalimat selanjutnya seolah sedang menunggu putusan sidang. Karena setiap jeda yang ia hitung, hanya menambah kerasnya detak jantung. Ardan berjalan pelan. Seolah setiap ketukan langkah adalah detik-detik yang menegangkan. Matanya menatap lekat pada Lastri hingga langkahnya berhenti tepat di belakang pembantunya itu. Tangannya terangkat perlahan, menyentuh kedua bahu Lastri—tidak terlalu kuat, tapi cukup untuk memberikan sedikit tekanan di tubuh Lastri. Kepala Ardan menunduk, sejajar dengan kepala Lastri. Lalu dengan suara rendah ia berbisik, "Saya percaya kamu bisa bekerja dengan baik di sini, walaupun ada banyak tekanan yang akan saya berikan padamu nanti." Tubuh Lastri membeku, lidahnya kelu, namun jantungnya terus berpacu. "Kamu boleh keluar," kata Tuan Ardan sebelum Lastri sempat merespon apapun. Dengan langkah yang sedikit kaku, Lastri berjalan menuju pintu. Jantungnya masih berdebar, sementara pikirannya dipenuhi tanda tanya tentang tekanan-tekanan yang bisa diberikan Tuan Ardan. Ketika pintu itu akhirnya tertutup rapat, Ardan justru mengukir senyuman. ~~~ Lampu kamar sudah dipadamkan, namun mata Ardan tetap terbuka. Langit-langit tampak asing, seolah jaraknya lebih dekat dari biasanya. Napas Ratih di sampingnya terdengar teratur, rapuh, membuat dadanya terasa sesak oleh rasa bersalah yang tak kunjung menemukan bentuk. Ia memejamkan mata, mencoba memaksa pikirannya kosong. Sia-sia. Bayangan Lastri muncul begitu saja—caranya menunduk saat berbicara, suara lirihnya yang selalu terdengar berhati-hati, dan sorot mata yang tak pernah benar-benar berani menatap lurus. Terlalu sederhana. Terlalu hadir. Ardan menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Ia berbalik menghadap sisi lain, menjauh dari Ratih, seolah jarak sekecil itu bisa meredam kekacauan di kepalanya. Namun semakin ia berusaha tidur, semakin pikirannya terjaga. "Kenapa dia terus hadir di pikiranku?" tanyanya dalam hati. Hampir tengah malam, matanya tak juga terpejam. Hembusan napas lelah keluar ketika ia akhirnya menyerah. Ardan bangkit pelan dari ranjang, memastikan Ratih tak terusik. Ia melangkah keluar kamar, menutup pintu dengan hati-hati. Rumah itu sunyi, hanya suara detik jam dinding yang terdengar di kejauhan. Langkahnya dalam keheningan ruangan membawanya tiba di dapur. Ia menuang air ke dalam gelas, meneguknya sekali, lalu sekali lagi. Dinginnya air tak cukup untuk menenangkan sesuatu yang bergejolak di dalam dada. Ia membawa gelas itu ke meja makan dan duduk, menyandarkan punggung pada kursi. Tangannya mengetuk-ngetuk meja, sementara tatapannya melayang tanpa tujuan, hingga akhirnya berhenti di lorong sempit menuju belakang dapur. Lorong itu redup, hanya diterangi cahaya lampu kecil di ujungnya—arah di mana kamar Lastri berada. Ardan mengalihkan pandangan, lalu tanpa kendali kembali menatap ke sana. Ada jeda di antara detik-detik, di mana ia sadar betul apa yang sedang ia harapkan. Sebuah langkah. Bayangan seseorang melintas. Atau sekadar pintu yang terbuka. Tapi tak ada apa-apa. Lorong itu tetap sunyi "Aku pasti gila." Ia tersenyum tipis, getir pada dirinya sendiri. Mengangkat gelas, meneguk sisa air, lalu meletakkannya kembali. Ia memutuskan bangkit dari kursi, berniat kembali ke kamar atau menuju balkon untuk mencari udara segar. Namun kakinya bergerak lebih dulu sebelum pikirannya sempat menahan. Satu langkah. Lalu satu lagi. Hingga langkahnya berada di lorong kecil yang sunyi. Lorong itu terasa lebih panjang saat ia menyusurinya. Setiap langkahnya menggema pelan di lantai, seperti peringatan yang diabaikan. Dan di depan pintu kamar Lastri, ia berhenti. Pintu itu tertutup rapat. Tak ada suara dari dalam. Ardan berdiri diam, menatap kayu pintu yang sederhana, berusaha membaca sesuatu yang tak mungkin terlihat. Ia tahu, selama ia berdiri di sana, belum ada kesalahan yang benar-benar terjadi. Ia masih bisa berbalik. Masih bisa kembali ke kamarnya, ke perannya, ke hidup yang seharusnya. Namun tangannya terangkat juga. Jarinya melingkar pada gagang pintu kamar Lastri.Jantung Lastri berdegup lebih cepat. Ia sama sekali tidak menyangka Tuan Ardan benar-benar akan masuk ke ruang rawat.Sementara Arman memandang pria itu dengan bingung. Ia belum pernah melihatnya sebelumnya.Ardan melangkah masuk dengan senyum ramah yang langsung membuat kesan pertamanya terlihat baik."Permisi."Arman sedikit menegakkan tubuhnya. "Maaf...?"Lastri buru-buru berdiri."Oh, Mas..." Ia berusaha menyembunyikan kegugupannya. "Ini Tuan Ardan."Arman masih menatap bingung."Majikan tempat Lastri bekerja.""Oh..." Arman langsung mengangguk paham. "Salam, Pak Ardan." Ardan mengangguk hormat membalas sapaan suami Lastri.Lastri buru-buru melanjutkan penjelasannya. "Kebetulan Tuan Ardan ada proyek dan urusan kerja di sekitar sini. Jadi tadi Lastri diberi tumpangan ke rumah sakit."Ardan tersenyum tipis."Betul." Nada suaranya tenang dan meyakinkan. "Kebetulan sekali arah kami sejalan."Lastri diam-diam mengembuskan napas lega. Syukurlah Tuan Ardan langsung memahami maksudnya.P
"Apa, Bu? Mas Arman masuk rumah sakit?"Lastri sangat terkejut mendengar kabar itu. Bahkan tanpa sadar ia langsung menutup bajunya asal dan langsung turun dari atas meja dapur. Membuat Ardan yang sedang menikmati buah melon manis dan segar itu ikut terdorong ke belakang.Ardan menatap Lastri serius. Namun wanita itu masih begitu fokus dengan panggilan telepon. Sementara satu tangannya masih memegang baju bagian atasnya agar tidak terlalu terbuka."Sebenarnya apa yang terjadi, Bu? Kenapa Mas Arman bisa masuk rumah sakit?""Maaf kalau Ibu baru mengabarimu sekarang, Nduk." Nada bicara Bu Ningsih menyiratkan rasa bersalah. Lalu ia menjelaskan, "Sebenarnya sudah beberapa hari ini Arman sering tidak mau makan. Tadi malam badannya demam, dan panasnya cukup tinggi.""Ya ampun Mas Arman...." Lastri menutup mulutnya dengan perasaan sedih. "Lalu keadaan Mas Arman sekarang gimana, Bu?""Ibu langsung membawanya ke rumah sakit malam itu juga. Setelah diperiksa, dokter bilang kalau Arman terkena typ
Ardan meraih tengkuk leher Lastri tanpa terduga. Menariknya pelan tapi cukup untuk membuat Lastri tak sempat melawan. Dalam waktu singkat, bibir Ardan sudah mendarat lembut di permukaan bibir Lastri.Dalam keterkejutannya, Lastri tidak melawan. Ia hanya mendorong bahu Ardan untuk sesaat sebelum akhirnya memilih memejamkan mata.Tak butuh waktu lama, napas mereka mulai terasa berat. Baik Ardan maupun Lastri sudah terhanyut pada gairah yang kini tak perlu lagi mereka sembunyikan. Seolah sudah sama-sama tahu apa yang mereka butuhkan.Dapur itu kini tak lagi hening. Suara decapan-decapan halus mengisi udara di sekitar mereka. Bak simphoni mengalun merdu. Menghanyutkan jiwa mereka ke dalam gelombang gairah yang semakin menggelora.Lastri tak hanya diam. Insting tubuh bekerja lebih profesional daripada yang otak katakan. Jemari lentik miliknya bertumpu di kedua bahu Ardan. Kepalanya dimiringkan. Menjaga posisi tetap aman saat tenggelam dalam kenikmatan.Satu tangan Ardan masih menahan tengk
Matahari sudah merangkak turun saat Ardan baru saja memarkir mobilnya di garasi rumah. Ia membuka pintu mobil dan turun dengan wajah yang tampak sumringah. Seolah tak merasakan lelah setelah seharian bekerja.Dengan langkah yang sangat ringan, ia berjalan masuk ke dalam rumah. Ia melepas jas, lalu menggulung lengan kemejanya hingga sebatas siku. Tak lupa juga melonggarkan dasinya.Sejak dari ruang tamu hingga ke ruang keluarga, sorot matanya mencari keberadaan seseorang yang beberapa hari ini terus ia rindukan. Lastri. Namun tak ada tanda-tanda keberadaannya sama sekali. Bahkan saat sorot matanya menyusup ke dapur, ia juga tak melihat batang hidung Lastri di sana."Ke mana dia?" gumamnya bertanya-tanya.Ardan berhenti sejenak, meletakkan tas kerja dan jas di sofa ruang keluarga. Ia melihat jam di pergelangan tangannya sebelum akhirnya menebak keberadaan Lastri di halaman belakang.Tanpa membuang waktu lebih lama, Ardan berjalan ke sana. Dan benar saja, sore hari memang jadwalnya Lastr
Reihan refleks ikut menoleh. Wajahnya datar, tanpa ada ekspresi terkejut sama sekali."Oh, sudah pulang."Ardan hanya mengangguk tipis. Tatapannya sempat singgah pada wajah Lastri yang masih menyisakan senyum."Kalian tertawa. Apa yang lucu?"Lastri dan Reihan saling berpandangan sesaat."Lastri salah paham soal istilah kantor," jawab Reihan santai."Itu bukan salah paham, Mas," protes Lastri."Jelas salah paham.""Mas yang jelasinnya muter-muter."Reihan tertawa lagi. Merasa lucu dengan sikap Lastri.Dan Lastri juga ikut tersenyum. Pipinya sedikit memerah karena sadar bahwa obrolannya dengan Reihan membuat hubungan mereka lebih baik dari sebelumnya.Sementara Ardan berdiri diam memperhatikan keduanya. Entah kenapa dadanya terasa tidak nyaman."Kalian sudah terlihat lebih akrab sekarang.Lastri segera menunduk. Jemarinya saling bertaut di depan tubuh. Sementara Reihan justru tersenyum lebar."Tentu saja," jawab Reihan santai. "Papa dan Mama suka sama dia. Jadi aku pikir tidak buruk ju
Ardan menuruni anak tangga dengan langkah pelan sambil merapikan kerah kaos polo yang dikenakan. Wajahnya tampak sudah segar setelah mandi. Sorot matanya memancarkan kebahagiaan. Bukan karena kepulangan Reihan, melainkan karena hubungannya dengan Lastri berjalan sesuai harapan. Namun kali ini, kehadiran Reihan di rumah harus membuatnya menahan diri untuk leluasa berduaan dengan Lastri.Begitu tiba di lantai bawah, aroma masakan langsung menyambut begitu ia mendekati ruang makan. Namun meja makan masih belum sepenuhnya terisi. Baru ada nasi hangat, semangkuk sayur, dan beberapa piring kosong yang tersusun rapi. Sementara dari arah dapur terdengar suara minyak mendesis pelan.Ardan melirik sekilas ke arah tangga dan lantai atas. Sepi.“Reihan belum turun?” tanyanya sambil berjalan mendekati dapur.Lastri yang sedang membalik lauk di atas penggorengan spontan menoleh. Ia memakai celemek sederhana dengan beberapa helai rambut yang terlepas di dekat pipi karena kesibukan memasak.“Belum, T
Pada jemari yang menggenggam erat hendle pintu, ada hati yang sedang berperang dengan logika. Tentang niatnya. Tentang tujuannya. Dan tentang apa yang sebenarnya dilakukannya.Saat pikirannya belum sepenuhnya mencerna, pintu itu terbuka tiba-tiba.Ardan tersentak. Tangannya refleks terl
Lastri berusaha tetap tenang meski kini ia menyadari ada sedikit ketegangan di antara dirinya dan Tuan Ardan. Tapi ia meyakinkan diri bahwa ia tidak membuat kesalahan fatal. Bahkan saat ia menghubungi putranya, Tuan Ardan sama sekali tidak marah atau melarang. Yang penting ia bertanggug jawab penuh
Lastri membuang napas pelan."Itu karena... saya menghormati Tuan Ardan," jawabnya, berusaha tenang dan meyakinkan.Reihan mengusap dagunya dengan tatapan sedikit menyelidik. "Emmm... menghormati, ya?"“Udah cukup, Reihan,” pungkas Ardan. Nada suaranya kali ini lebih berat.Ruangan langsung hening
Masih dengan posisi Ardan menggendong tubuh Lastri sambil berpagutan, udara kamar tamu yang semula terasa pengap, kini berubah hangat. Ardan membawa tubuh Lastri ke ranjang. Dengan perlahan dan hati-hati, ia membaringkan Lastri tanpa melepas ciuman. Kemudian menindihnya lembut, seolah tanpa tekanan







