Share

GTM 6

Penulis: RIANNA ZELINE
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-14 09:15:03

Satu kata itu adalah perintah yang tidak bisa dibantah. Lastri menurut. Ia duduk di kursi seberang meja kerja Tuan Ardan. Punggungnya tegak, namun tangannya saling bertaut di atas pangkuan.

"Bisa perkenalkan data diri kamu?" tanya Tuan Ardan datar, tapi tatapannya menunjukkan suatu keseriusan.

Lastri sempat terkesiap, wajahnya terangkat menatap mata Tuan Ardan, seolah menangkap maksud di balik pertanyaan yang seperti sebuah perintah itu.

"Bukankah kita belum benar-benar berkenalan?" tanyanya lagi, tapi lebih mirip sebuah pernyataan.

Lastri menelan ludah, ketegangan kembali terasa meski ia sudah mencoba membiasakan diri beberapa hari ini. Sementara Tuan Ardan terus menatapnya—menunggu seolah tak ada urusan yang lebih penting lainnya.

Setelah mengambil napas sesaat, Lastri akhirnya memperkenalkan diri.

"Nama saya Lastri Astuti, Tuan. Usia saya tiga puluh dua tahun. Saya sudah menikah dan memiliki satu anak laki-laki berusia enam tahun," terangnya dengan jelas dan hati-hati.

Tuan Ardan mengangguk-angguk. Wajahnya tetap serius.

"Saya dengar kamu tetangganya Mbok Jiah dan belum pernah bekerja sebagai asisten rumah tangga sebelumnya. Jadi apa yang membuatmu mau bekerja di sini?"

Lastri menunduk sedikit, jarinya saling meremat sambil memikirkan jawaban yang tepat.

"Saya... saya membutuhkan pekerjaan, Tuan," jawabnya, lalu mengangkat wajah dan menatap Tuan Ardan dengan sungguh-sungguh. "Walaupun saya belum pernah bekerja sebagai asisten rumah tangga, saya janji akan bekerja dengan sungguh-sungguh. Saya mohon beri saya kesempatan untuk membuktikannya."

Tuan Ardan masih menatapnya dengan tatapan datar. Namun dari tatapan itu jelas ia sedang menilai Lastri. Kemudian ia bangkit, berjalan perlahan ke arah jendela, memandangi langit jingga yang menyorot pada bunga-bunga di taman samping rumah.

"Ada alasan khusus kamu memilih pekerjaan ini?" tanya Tuan Ardan lagi, masih di posisinya saat ini.

Lastri kembali mengambil napas panjang, kemudian menjawab, "Tidak ada alasan khusus, Tuan. Pekerjaan apapun saya terima karena saya memang membutuhkannya. Suami saya sakit. Dia lumpuh pasca kecelakaan, dan saya harus menggantikannya mencari nafkah."

"Jadi dia setuju kamu jadi seorang ART?"

"Sebenarnya dia berat mengizinkan saya bekerja, tapi saya tidak ada pilihan lain. Kebutuhan rumah harus tetap dipenuhi."

Ardan mengangguk-angguk di belakang Lastri. Ia puas dengan jawabannya yang sama persis dengan apa yang ia dengar tadi pagi. Namun, seolah sesi wawancara itu belum cukup, ia berbalik dan kembali menghadap Lastri. Dari posisinya berdiri, ia bisa mengamati seluruh tubuh Lastri.

Dari caranya duduk tegang dan sedikit gelisah. Rambut hitamnya yang dikucir ke belakang dengan beberapa helai yang jatuh di dekat pipi dan telinga. Rambut-rambut halus di belakang leher yang tampak sedikit berantakan, namun justru itulah bagian dari pesonanya. Daster longgar sederhana membalut tubuhnya yang ramping, tapi sedikit membusung di bagian dada. Serta betisnya yang tampak putih, bersih dan mulus, seolah tak ada bulu kaki di kulitnya.

Semua itu tak luput dari perhatiannya. Dan sesuatu dalam dirinya yang selama ini ia tahan—entah bagaimana bisa—kembali membara. Seolah wanita yang kini ada di hadapannya adalah sebuah bahan bakar yang siap menghidupkan sesuatu yang telah lama padam.

Ardan menarik napas dalam, menekan rasa yang tak seharusnya ada. Rasa yang membuat sesuatu mendesak di dalam celananya—sesuatu yang panjang, keras, dan tegak—yang kali ini tak bisa ia kendalikan dengan mudah.

"Pekerjaan ini... saya tidak bilang ini akan sulit, bukan berarti ini juga akan mudah. Tapi... " kata Ardan kemudian, tapi tak langsung menyelesaikan kalimatnya.

Lastri menelan ludah, tubuhnya menegang. Menunggu kalimat selanjutnya seolah sedang menunggu putusan sidang. Karena setiap jeda yang ia hitung, hanya menambah kerasnya detak jantung.

Ardan berjalan pelan. Seolah setiap ketukan langkah adalah detik-detik yang menegangkan. Matanya menatap lekat pada Lastri hingga langkahnya berhenti tepat di belakang pembantunya itu.

Tangannya terangkat perlahan, menyentuh kedua bahu Lastri—tidak terlalu kuat, tapi cukup untuk memberikan sedikit tekanan di tubuh Lastri.

Kepala Ardan menunduk, sejajar dengan kepala Lastri. Lalu dengan suara rendah ia berbisik, "Saya percaya kamu bisa bekerja dengan baik di sini, walaupun ada banyak tekanan yang akan saya berikan padamu nanti."

Tubuh Lastri membeku, lidahnya kelu, namun jantungnya terus berpacu.

"Kamu boleh keluar," kata Tuan Ardan sebelum Lastri sempat merespon apapun.

Dengan langkah yang sedikit kaku, Lastri berjalan menuju pintu. Jantungnya masih berdebar, sementara pikirannya dipenuhi tanda tanya tentang tekanan-tekanan yang bisa diberikan Tuan Ardan.

Ketika pintu itu akhirnya tertutup rapat, Ardan justru mengukir senyuman.

~~~

Lampu kamar sudah dipadamkan, namun mata Ardan tetap terbuka. Langit-langit tampak asing, seolah jaraknya lebih dekat dari biasanya. Napas Ratih di sampingnya terdengar teratur, rapuh, membuat dadanya terasa sesak oleh rasa bersalah yang tak kunjung menemukan bentuk.

Ia memejamkan mata, mencoba memaksa pikirannya kosong. Sia-sia. Bayangan Lastri muncul begitu saja—caranya menunduk saat berbicara, suara lirihnya yang selalu terdengar berhati-hati, dan sorot mata yang tak pernah benar-benar berani menatap lurus. Terlalu sederhana. Terlalu hadir.

Ardan menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Ia berbalik menghadap sisi lain, menjauh dari Ratih, seolah jarak sekecil itu bisa meredam kekacauan di kepalanya. Namun semakin ia berusaha tidur, semakin pikirannya terjaga.

"Kenapa dia terus hadir di pikiranku?" tanyanya dalam hati.

Hampir tengah malam, matanya tak juga terpejam. Hembusan napas lelah keluar ketika ia akhirnya menyerah.

Ardan bangkit pelan dari ranjang, memastikan Ratih tak terusik. Ia melangkah keluar kamar, menutup pintu dengan hati-hati. Rumah itu sunyi, hanya suara detik jam dinding yang terdengar di kejauhan.

Langkahnya dalam keheningan ruangan membawanya tiba di dapur. Ia menuang air ke dalam gelas, meneguknya sekali, lalu sekali lagi. Dinginnya air tak cukup untuk menenangkan sesuatu yang bergejolak di dalam dada. Ia membawa gelas itu ke meja makan dan duduk, menyandarkan punggung pada kursi.

Tangannya mengetuk-ngetuk meja, sementara tatapannya melayang tanpa tujuan, hingga akhirnya berhenti di lorong sempit menuju belakang dapur. Lorong itu redup, hanya diterangi cahaya lampu kecil di ujungnya—arah di mana kamar Lastri berada.

Ardan mengalihkan pandangan, lalu tanpa kendali kembali menatap ke sana. Ada jeda di antara detik-detik, di mana ia sadar betul apa yang sedang ia harapkan. Sebuah langkah. Bayangan seseorang melintas. Atau sekadar pintu yang terbuka.

Tapi tak ada apa-apa. Lorong itu tetap sunyi

"Aku pasti gila." Ia tersenyum tipis, getir pada dirinya sendiri. Mengangkat gelas, meneguk sisa air, lalu meletakkannya kembali.

Ia memutuskan bangkit dari kursi, berniat kembali ke kamar atau menuju balkon untuk mencari udara segar. Namun kakinya bergerak lebih dulu sebelum pikirannya sempat menahan.

Satu langkah. Lalu satu lagi. Hingga langkahnya berada di lorong kecil yang sunyi.

Lorong itu terasa lebih panjang saat ia menyusurinya. Setiap langkahnya menggema pelan di lantai, seperti peringatan yang diabaikan. Dan di depan pintu kamar Lastri, ia berhenti.

Pintu itu tertutup rapat. Tak ada suara dari dalam.

Ardan berdiri diam, menatap kayu pintu yang sederhana, berusaha membaca sesuatu yang tak mungkin terlihat. Ia tahu, selama ia berdiri di sana, belum ada kesalahan yang benar-benar terjadi. Ia masih bisa berbalik. Masih bisa kembali ke kamarnya, ke perannya, ke hidup yang seharusnya.

Namun tangannya terangkat juga.

Jarinya melingkar pada gagang pintu kamar Lastri.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Godaan Tuan Majikan   GTM 23 : Makan Malam Romantis

    Lastri merasa jantungnya nyaris melonjak keluar saat melihat cara Tuan Ardan menatapnya. Bukan seperti majikan pada pelayan. Tapi seperti... pria pada wanita. Ia hampir menyesal telah mengenakan gaun itu.Namun ketika Tuan Ardan melangkah mendekat, langkah yang tenang namun penuh tujuan, penyesalan itu berubah menjadi getaran halus yang menjalar ke seluruh tubuhnya.“Kau terlihat…” Ardan berhenti tepat di depannya, jarak mereka hanya sejengkal. “Sangat cantik.”Suara itu rendah. Hangat. Tidak lagi formal.Lastri menunduk, napasnya tak stabil. “Ini… terlalu berlebihan untuk saya, Tuan.”“Tidak,” Ardan menggeleng pelan. “Justru sangat pantas.”Tangannya terangkat, seolah ingin menyentuh pundak tipis yang terbuka itu. Namun ia berhenti di udara, menahan diri.“Terima kasih sudah kembali malam ini,” lanjutnya lebih pelan.Lastri mengangkat wajahnya perlahan. Hujan masih terdengar di luar, tapi di dalam ruangan itu, suasana terasa jauh lebih panas. Ia tidak tahu apa yang lebih berbahaya: H

  • Godaan Tuan Majikan   GTM 22 : Menepati Janji

    Pagi datang dengan cahaya yang lebih ramah.Lastri terbangun lebih dulu. Refleks, tangannya langsung menyentuh kening Yudha. Tidak sepanas semalam. Tidak lagi membakar.Ia menghela napas panjang. “Alhamdulillah...” bisiknya lirih.Yudha menggeliat pelan, matanya membuka setengah. Wajahnya masih pucat, tapi senyumnya muncul ketika melihat ibunya. “Ibu nggak kerja?”Lastri tersenyum, mengusap rambut anaknya. “Hari ini Ibu di rumah. Katanya ada yang mau dibeliin mainan?”Mata Yudha langsung berbinar, seolah sisa demamnya luruh bersama antusiasme itu. Arman memperhatikan dari tempat tidurnya. Ada sesuatu yang hangat melihat Lastri tertawa kecil menghadapi rengekan anaknya yang mendadak sehat luar biasa.Menjelang siang, Lastri mengajak Yudha ke warung mainan kecil di ujung gang. Bukan toko besar—hanya etalase kaca dengan mobil-mobilan plastik, robot murah, dan balon warna-warni yang bergantung di langit-langit seng.Yudha memegang tangannya erat-erat.“Ibu, yang itu...” Ia menunjuk mobil-

  • Godaan Tuan Majikan   GTM 21 : Pulang Sementara

    Sup buatan Lastri akhirnya siap. Ia menghidangkan makanan itu di ruang tengah. Tak lupa ia memanggil ibu dan ayah mertuanya untuk makan malam bersama.Lastri lebih dulu mengambilkan makanan untuk Arman, kemudian mengambil lagi dengan porsi lebih sedikit untuk Yudha. Dengan penuh kesabaran, ketelatenan, dan kasih sayang, ia menyuapi putranya. Hal yang sudah lama tak ia lakukan sejak Yudha mulai belajar makan sendiri. Dan kini, melihat tubuhnya dalam keadaan lemah karena demam, hatinya merasa teriris. Ia berharap dalam waktu dua hari ini, Yudha benar-benar sembuh agar ia bisa kembali bekerja dengan tenang."Bagaimana pekerjaanmu di sana, Nduk? Siapa yang handle kalau kamu sedang cuti seperti ini?" tanya Ningsih di sela makan malam keluarga kecil mereka."Biasanya Tuan sendiri yang mengurus istrinya. Kalau soal makan bisa tinggal pesan. Dan urusan bersih-bersih setahu Lastri panggil tukang taman yang biasa ngurus taman di rumah, Bu.""Oh, gitu? Kenapa nggak nambah asisten saja, ya? Kan b

  • Godaan Tuan Majikan   GTM 20 : Meminta Izin

    Pagi itu langkah Lastri terdengar pelan. Baki sarapan di tangannya sedikit bergetar, sendok kecil beradu pelan dengan cangkir porselen. Ia mengetuk pintu kamar dengan sopan, lalu masuk setelah mendengar suara lembut Nyonya Ratih mempersilakan.Di dalam, tirai jendela setengah terbuka. Cahaya matahari jatuh hangat di lantai marmer. Nyonya Ratih duduk bersandar di kepala ranjang, sementara Ardan tampak di sofa dekat jendela, membaca sesuatu di tablet-nya. Setidaknya, itulah yang terlihat.Lastri meletakkan baki di atas meja kecil di sisi ranjang. “Sarapan pagi, Nyonya.”Nyonya Ratih menatapnya lama. Alisnya berkerut tipis. “Lastri… wajahmu pucat. Kamu masih sakit?”Lastri buru-buru menggeleng. Senyumnya dipaksakan, tipis dan rapuh. “Tidak, Nyonya. Hanya… semalam kurang tidur.”“Kurang tidur?” Suara Ratih melembut. “Kenapa?”Lastri menunduk, jari-jarinya saling meremas di depan perut. “Semalam perasaan saya tidak tenang. Saya kepikiran anak saya, Nyonya. Lalu pagi tadi ibu mertua saya me

  • Godaan Tuan Majikan   GTM 19 : Bermain Sendiri

    —Lastri tak menjawab. Ia menunduk menahan malu—bukan hanya pada Tuan Ardan, tapi pada dirinya sendiri. Ia masih tak mengerti mengapa tubuhnya justru merespon sampai seperti itu—ikut terhanyut pada suasana. Mungkin saja karena ia sudah lama tak mendapatkan jatah itu dari suaminya.Ardan mengangkat dagu Lastri menggunakan ibu jari dan telunjukknya, meminta agar Lastri menatapnya. Dan dengan ragu-ragu, Lastri mengikuti gerakan itu."Kamu lihat, 'kan? Tubuh kamu juga menginginkannya. Kamu merindukan semua itu tapi kamu masih tak mau jujur dengan dirimu sendiri.""Tapi Tuan—"Ardan meletakkan jari telunjukknya di bibir Lastri, menahannya agar tidak berbicara lebih."Kamu takut," tebak Ardan. "Kamu takut ada yang mengetahui hubungan ini, bukan?"Lastri memejamkan mata rapat-rapat, lalu mengangguk cepat. "Iya, Tuan. Ini salah," ucapnya sedikit terisak.Ardan menangkup kedua pipi Lastri, mengusap air matanya yang perlahan turun di pipi."Aku hanya ingin kita sama-sama jujur, Lastri," bisikny

  • Godaan Tuan Majikan   GTM 18 : Awal yang Panas

    Lastri berdiri di depan wastafel, membasuh wajahnya setelah muntah-muntah. Namun hanya cairan asam yang keluar, membuat perutnya terasa kosong sekarang. Setelah memastikan kamar mandi sudah bersih, Lastri langsung keluar. Ia sangat terkejut mendapati Ardan berdiri di depan pintu kamar mandi."Tu—tuan? Ada yang bisa saya bantu?" tanyanya terbata.Ardan menggeleng pelan. "Saya mendengar kamu mual-mual di dalam sana. Apa kamu baik-baik saja? Wajah kamu masih kelihatan pucat," ucapnya penuh rasa khawatir."Tidak apa-apa, Tuan. Saya hanya masuk angin. Setelah minum minuman hangat pasti akan baikan," jawab Lastri sambil menunduk sopan."Kalau begitu biar aku yang buatkan," ucapnya serius, bukan menawarkan diri. Lalu ia melangkah menuju dapur."Tidak, Tuan Ardan, saya masih bisa membuatnya sendiri," ucapnya sambil menghentikan Tuan Ardan, namun tak berhasil.Ardan berhenti ketika sudah berada di dapur. Ia berbalik dan berdiri di hadapan Lastri yang wajahnya merasa tak enak. Namun, tangan Ard

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status