LOGINPada jemari yang menggenggam erat hendle pintu, ada hati yang sedang berperang dengan logika. Tentang niatnya. Tentang tujuannya. Dan tentang apa yang sebenarnya dilakukannya.
Saat pikirannya belum sepenuhnya mencerna, pintu itu terbuka tiba-tiba. Ardan tersentak. Tangannya refleks terlepas dari gagang, langkahnya mundur setengah. Lastri berdiri di ambang pintu, rambutnya tergerai seadanya, wajahnya tampak terkejut tak kalah darinya. Cahaya lampu kamar yang temaram membingkai sosoknya, membuat lorong sempit itu terasa lebih sunyi dari sebelumnya. “T-Tuan…?” suara Lastri lirih, nyaris berbisik. “Ada yang Tuan perlukan?” Detik-detik berlalu tanpa jawaban. Ardan mendapati dirinya menatap terlalu lama, lalu buru-buru mengalihkan pandangan. Tenggorokannya terasa kering, pikirannya kosong. Ia tidak siap dengan pintu yang terbuka. Tidak siap dengan kenyataan bahwa Lastri berdiri begitu dekat, begitu nyata. “I—itu…” Ardan berdeham, mencari kata yang terasa wajar. “Saya… belum bisa tidur.” Lastri mengangguk pelan, masih tampak gugup. Kedua tangannya mencengkeram daun pintu, seolah bersiap menutupnya kapan saja. Tapi tidak bisa. Ia masih menunggu kata-kata yang akan keluar dari mulut majikannya. Ardan menarik napas dalam-dalam, lalu akhirnya menemukan pegangan. “Bisa tolong buatkan saya susu hangat?” ucapnya, nada suaranya kembali datar seperti biasa. “Mungkin itu bisa membantu.” “Oh, i—ya, Tuan,” jawab Lastri cepat, seakan lega karena ada sesuatu yang bisa ia lakukan. “Saya buatkan sekarang.” Ia melangkah keluar kamar dengan sedikit canggung, menutup pintu di belakangnya dengan hati-hati. Sedangkan Ardan berdiri terpaku sejenak, menyadari jantungnya berdetak lebih cepat dari seharusnya. Ia berbalik dan berjalan lebih dulu menyusuri lorong kembali ke dapur, berusaha menata ulang sikapnya. Di dapur, Lastri bergerak cekatan namun canggung. Ia mengambil panci kecil, menuang susu, menyalakan kompor dengan api kecil. Ardan berdiri agak menjauh, bersandar di ambang pintu dapur, kedua lengannya terlipat longgar di dada. Ia tidak berniat mengawasi, setidaknya itu yang ia katakan pada dirinya sendiri. Namun sejak Lastri menyalakan kompor dan menuang susu ke panci kecil, tatapannya tak pernah benar-benar beralih. Lastri berdiri membelakanginya. Gerakannya rapi, nyaris terlalu hati-hati. Setiap kali sendok kayu mengaduk susu, bahunya ikut sedikit menegang, seolah ia sadar betul ada sepasang mata yang memperhatikannya. Tidak ada percakapan. Hanya suara susu yang dipanaskan perlahan dan detak jam yang samar terdengar dari ruang tengah. Sesekali, Lastri melirik ke arahnya, lalu buru-buru menunduk kembali. Ardan menangkap gerakan itu, namun memilih diam. Ia merasa berada di wilayah yang seharusnya tak ia masuki—bukan karena jarak fisik, melainkan karena sesuatu yang tak kasatmata. “Biasanya kamu tidur jam segini?” suara Ardan akhirnya memecah keheningan. Lastri tersentak kecil, lalu menjawab tanpa menoleh. “Biasanya sudah, Tuan. Tapi tadi… belum mengantuk.” Lastri berkata jujur. Beberapa menit yang lalu sejak ia masuk ke dalam kamar, matanya sulit terpejam. Selain karena memikirkan suami dan anaknya di rumah, ia juga belum bisa tenang setiap kali teringat ucapan Tuan Ardan soal tekanan. Namun ia tak mungkin mengatakan alasan detailnya pada Tuan Ardan. Ia berusaha fokus pada susu di dalam panci. Tapi jujur saja irama jantungnya masih berdetak lebih cepat dari yang seharusnya. Bukan karena ada perasaan yang aneh, tapi karena sikap Tuan Ardan yang masih belum sepenuhnya ia mengerti. Kadang datar dan dingin, kadang menekan, dan malam ini... sikap hangat seolah mulai ditunjukkan. Ardan mengangguk pelan, meski ia tahu Lastri tak melihatnya. “Rumah ini memang sunyi kalau malam,” katanya, seolah berbicara tentang hal remeh. “Tidak semua orang betah.” Lastri tersenyum tipis. “Saya sudah mulai terbiasa, Tuan.” "Terbiasa?" Alis Ardan sedikit mengernyit. Entah kenapa setiap jawaban Lastri seolah memiliki makna lain baginya. Lastri menoleh sesaat sebelum kembali fokus pada panci. "Iya, saya mulai terbiasa dengan rumah ini, dengan suasananya, dan juga dengan pekerjaan saya," terangnya. "Oh... saya pikir sudah terbiasa sendiri." Gerakan Lastri terhenti sesaat mendengar ucapan itu. Entah apa maksud Tuan Ardan, tapi kalimat 'terbiasa sendiri' seolah membuka pikirannya akan fakta yang baru ia sadari. Fakta bahwa hatinya sempat merasa sendiri dan sepi sejak suaminya, Arman, mengalami kelumpuhan. Walaupun ucapan suaminya tidak pernah kasar, Lastri tahu ada sesuatu yang mulai berubah di antara mereka. Arman tak lagi sehangat dulu. Dan Lastri tahu alasannya, rasa bersalah yang masih menumpuk di dalam dada. "Ada yang salah?" "Oh, tidak ada Tuan," jawab Lastri cepat, nada suaranya datar. Namun ada sesuatu yang tertinggal di ujung kalimatnya. Ardan menatap pantulan wajah Lastri di kaca lemari dapur—wajah yang berusaha tenang, namun matanya menyimpan kelelahan yang tak ia ceritakan. Dan ia tetap fokus menyelesaikan tugasnya. Ada jeda hening sebelum Ardan memperhatikan cara Lastri mematikan api, lalu menuang susu dengan perlahan agar tidak tumpah. Tangannya tampak sedikit gemetar, meski gerakannya tetap rapi. Susu itu akhirnya siap. Lastri menuangkannya ke dalam cangkir, lalu menyerahkannya dengan kedua tangan. “Ini, Tuan.” “Terima kasih,” jawab Ardan singkat, menerima cangkir itu. Jari mereka nyaris bersentuhan—cukup dekat untuk disadari, cukup singkat untuk diabaikan. "Maaf sudah membangunkanmu." Lastri melangkah mundur satu langkah, memberi jarak. “Tidak apa-apa, Tuan. Jika memang perlu bantuan, Anda boleh membangunkan saya." Ardan menatap Lastri beberapa detik, memahami kata-kata yang sudah jelas hanya sebuah formalitas. Tapi baginya, kata-kata itu adalah sebuah undangan atas sesuatu yang lebih dari sekadar kata 'butuh'. Melihat Tuan Ardan hanya diam, Lastri kembali berbicara, "Apa masih ada yang Tuan butuhkan? Kalau tidak ada lagi, saya kembali ke kamar.” Ardan mengangguk. “Istirahatlah.” "Baik, Tuan." Lastri berbalik dan berjalan menjauh, langkahnya cepat namun terkontrol. Ardan memperhatikannya, menahan diri untuk tidak memanggilnya lagi. Setidaknya tidak untuk hari ini. Sebab bagaimanapun, ada sebagian dirinya yang ingin Lastri tinggal lebih lama, entah untuk mengobrol, atau hanya sekedar melihatnya tak melakukan apapun. Hingga sosok itu kembali menghilang di balik lorong dapur. Ia meneguk susu hangat itu perlahan. Hangatnya menjalar ke dada, namun tak sepenuhnya menenangkan. Di kepalanya, satu hal menjadi semakin jelas—malam itu, yang membuatnya terjaga bukan sekadar susah tidur, tapi sesuatu yang telah berhasil mengusik hati dan perasaannya. "Ini bukan akhir, tapi awal dari malam-malam yang lain," gumamnya menatap uap hangat yang masih mengepul di permukaan gelas. ~~~ Pagi itu Ardan baru selesai membantu Ratih keluar dari kamar mandi. Cahaya lembut matahari menyorot tubuhnya yang kini duduk di tepi ranjang. Rambutnya setengah basah, dibantu keringkan oleh Ardan. Begitu melihat jam pada dinding kamar, wajahnya mulai tampak tergesa. "Aku ada jadwal meeting daring pagi ini," kata Ardan dengan nada tetap lembut pada istrinya. "Aku akan meminta bantuan Lastri untuk membantu kamu berganti pakaian, ya?" "Iya," jawabnya sambil tersenyum mengangguk. Ratih tak bisa berbuat banyak. Ia sadar bahwa kondisinya butuh perhatian Ardan, tapi tak ingin membatasi kegiatan ataupun pekerjaan suaminya. Baginya sudah cukup Ardan memperhatikannya dan tidak mencampakkannya sedikit pun. Tak lama, Lastri masuk setelah mengetuk pintu pelan. Ia membawa pakaian bersih yang sudah disetrika. Dan Ardan menatapnya sekilas. "Tolong bantu istri saya ganti baju, sekaligus suapi dia seperti biasa. Saya harus siapkan materi meeting." "Iya, Tuan," jawab Lastri patuh. Ardan keluar kamar, meninggalkan mereka berdua. Membiarkan Lastri lebih leluasa. Dengan sabar dan hati-hati, Lastri mulai memakaikan baju ke tubuh Nyonya Ratih. Gerakannya sudah cukup terlatih—pengalaman dari merawat suaminya selama ini. Tak lupa ia juga menyisir rambut Nyonya Ratih dengan lembut dan hati-hati. Setelah selesai berpakaian, Ratih dibantu Lastri duduk di kursi balkon dekat pagar pembatas. Ia menghibur diri dengan melihat-lihat pemandangan dari kamarnya, sekaligus untuk berjemur di bawah sinar matahari yang sampai pada tempatnya. Sedangkan Lastri mengambil nampan sarapan yang sudah disiapkan sebelumnya. Ia duduk di samping Nyonya Ratih dan menyuapinya dengan sabar. Sesekali ia menyeka ujung bibir majikannya menggunakan tisu saat ada sisa makanan yang tertinggal. Ketika makanan di piring sudah tinggal sesuap, Nyonya Ratih berkata, "Tolong kamu cek suami saya, ya. Dia sering lupa sarapan kalau sudah kerja." "Baik, Nyonya," jawab Lastri tanpa banyak membantah. Walaupun cara bicaranya tidak cukup jelas, tapi Lastri mudah memahaminya. Setelah selesai dengan tugasnya, Lastri membantu Nyonya Ratih kembali ke ranjang. Tak lupa juga mengemas piring dan perlatan lain yang sudah digunakan. Sebelum tiba di dapur, Lastri sempat melirik ke arah ruang kerja Tuan Ardan. Pintunya masih tertutup, tapi suara Tuan Ardan yang sedang berbicara dengan para staff terdengar samar. Di dapur, Lastri memindahkan masakan ke dalam wadah, mulai dari nasi, lauk, sayur dan buah yang sudah dipotong-potong. Setelahnya ia menyajikannya di atas meja makan. Ketika ia berniat memanggil Tuan Ardan, ada keraguan di dalam hatinya. Ia takut jika meetingnya belum selesai dan ia justru mengganggu pekerjaan tuannya. Namun, Lastri tetap memberanikan diri menemui Tuan Ardan di ruang kerja. Lastri berhenti di depan pintu, mencoba mendengar apakah Tuan Ardan masih berbicara dengan staffnya atau tidak. Ketika tak ada apapun yang ia dengar, Lastri akhirnya mengetuk pintu pelan. Suara sahutan dari Tuan Ardan langsung terdengar. "Permisi, Tuan, sarapannya sudah siap. Apa mau saya bawakan ke sini?" "Tidak perlu. Saya makan di sana sekarang," katanya sambil menutup laptop dan langsung bangkit meninggalkan meja. ~~~ Tuan Ardan duduk di kursi meja makan dan mulai mengambil makanan. Lastri berdiri dua langkah di sampingnya, memastikan tidak ada lagi yang dibutuhkan oleh tuannya. "Kamu sudah sarapan?" tanya Tuan Ardan tanpa menatap Lastri. "Setelah ini saya makan, Tuan," jawab Lastri sopan. "Duduklah. Temani saya makan," kata Tuan Ardan dengan tenang. Ia mengalihkan tatapannya pada Lastri yang berdiri tegang.Jantung Lastri berdegup lebih cepat. Ia sama sekali tidak menyangka Tuan Ardan benar-benar akan masuk ke ruang rawat.Sementara Arman memandang pria itu dengan bingung. Ia belum pernah melihatnya sebelumnya.Ardan melangkah masuk dengan senyum ramah yang langsung membuat kesan pertamanya terlihat baik."Permisi."Arman sedikit menegakkan tubuhnya. "Maaf...?"Lastri buru-buru berdiri."Oh, Mas..." Ia berusaha menyembunyikan kegugupannya. "Ini Tuan Ardan."Arman masih menatap bingung."Majikan tempat Lastri bekerja.""Oh..." Arman langsung mengangguk paham. "Salam, Pak Ardan." Ardan mengangguk hormat membalas sapaan suami Lastri.Lastri buru-buru melanjutkan penjelasannya. "Kebetulan Tuan Ardan ada proyek dan urusan kerja di sekitar sini. Jadi tadi Lastri diberi tumpangan ke rumah sakit."Ardan tersenyum tipis."Betul." Nada suaranya tenang dan meyakinkan. "Kebetulan sekali arah kami sejalan."Lastri diam-diam mengembuskan napas lega. Syukurlah Tuan Ardan langsung memahami maksudnya.P
"Apa, Bu? Mas Arman masuk rumah sakit?"Lastri sangat terkejut mendengar kabar itu. Bahkan tanpa sadar ia langsung menutup bajunya asal dan langsung turun dari atas meja dapur. Membuat Ardan yang sedang menikmati buah melon manis dan segar itu ikut terdorong ke belakang.Ardan menatap Lastri serius. Namun wanita itu masih begitu fokus dengan panggilan telepon. Sementara satu tangannya masih memegang baju bagian atasnya agar tidak terlalu terbuka."Sebenarnya apa yang terjadi, Bu? Kenapa Mas Arman bisa masuk rumah sakit?""Maaf kalau Ibu baru mengabarimu sekarang, Nduk." Nada bicara Bu Ningsih menyiratkan rasa bersalah. Lalu ia menjelaskan, "Sebenarnya sudah beberapa hari ini Arman sering tidak mau makan. Tadi malam badannya demam, dan panasnya cukup tinggi.""Ya ampun Mas Arman...." Lastri menutup mulutnya dengan perasaan sedih. "Lalu keadaan Mas Arman sekarang gimana, Bu?""Ibu langsung membawanya ke rumah sakit malam itu juga. Setelah diperiksa, dokter bilang kalau Arman terkena typ
Ardan meraih tengkuk leher Lastri tanpa terduga. Menariknya pelan tapi cukup untuk membuat Lastri tak sempat melawan. Dalam waktu singkat, bibir Ardan sudah mendarat lembut di permukaan bibir Lastri.Dalam keterkejutannya, Lastri tidak melawan. Ia hanya mendorong bahu Ardan untuk sesaat sebelum akhirnya memilih memejamkan mata.Tak butuh waktu lama, napas mereka mulai terasa berat. Baik Ardan maupun Lastri sudah terhanyut pada gairah yang kini tak perlu lagi mereka sembunyikan. Seolah sudah sama-sama tahu apa yang mereka butuhkan.Dapur itu kini tak lagi hening. Suara decapan-decapan halus mengisi udara di sekitar mereka. Bak simphoni mengalun merdu. Menghanyutkan jiwa mereka ke dalam gelombang gairah yang semakin menggelora.Lastri tak hanya diam. Insting tubuh bekerja lebih profesional daripada yang otak katakan. Jemari lentik miliknya bertumpu di kedua bahu Ardan. Kepalanya dimiringkan. Menjaga posisi tetap aman saat tenggelam dalam kenikmatan.Satu tangan Ardan masih menahan tengk
Matahari sudah merangkak turun saat Ardan baru saja memarkir mobilnya di garasi rumah. Ia membuka pintu mobil dan turun dengan wajah yang tampak sumringah. Seolah tak merasakan lelah setelah seharian bekerja.Dengan langkah yang sangat ringan, ia berjalan masuk ke dalam rumah. Ia melepas jas, lalu menggulung lengan kemejanya hingga sebatas siku. Tak lupa juga melonggarkan dasinya.Sejak dari ruang tamu hingga ke ruang keluarga, sorot matanya mencari keberadaan seseorang yang beberapa hari ini terus ia rindukan. Lastri. Namun tak ada tanda-tanda keberadaannya sama sekali. Bahkan saat sorot matanya menyusup ke dapur, ia juga tak melihat batang hidung Lastri di sana."Ke mana dia?" gumamnya bertanya-tanya.Ardan berhenti sejenak, meletakkan tas kerja dan jas di sofa ruang keluarga. Ia melihat jam di pergelangan tangannya sebelum akhirnya menebak keberadaan Lastri di halaman belakang.Tanpa membuang waktu lebih lama, Ardan berjalan ke sana. Dan benar saja, sore hari memang jadwalnya Lastr
Reihan refleks ikut menoleh. Wajahnya datar, tanpa ada ekspresi terkejut sama sekali."Oh, sudah pulang."Ardan hanya mengangguk tipis. Tatapannya sempat singgah pada wajah Lastri yang masih menyisakan senyum."Kalian tertawa. Apa yang lucu?"Lastri dan Reihan saling berpandangan sesaat."Lastri salah paham soal istilah kantor," jawab Reihan santai."Itu bukan salah paham, Mas," protes Lastri."Jelas salah paham.""Mas yang jelasinnya muter-muter."Reihan tertawa lagi. Merasa lucu dengan sikap Lastri.Dan Lastri juga ikut tersenyum. Pipinya sedikit memerah karena sadar bahwa obrolannya dengan Reihan membuat hubungan mereka lebih baik dari sebelumnya.Sementara Ardan berdiri diam memperhatikan keduanya. Entah kenapa dadanya terasa tidak nyaman."Kalian sudah terlihat lebih akrab sekarang.Lastri segera menunduk. Jemarinya saling bertaut di depan tubuh. Sementara Reihan justru tersenyum lebar."Tentu saja," jawab Reihan santai. "Papa dan Mama suka sama dia. Jadi aku pikir tidak buruk ju
Ardan menuruni anak tangga dengan langkah pelan sambil merapikan kerah kaos polo yang dikenakan. Wajahnya tampak sudah segar setelah mandi. Sorot matanya memancarkan kebahagiaan. Bukan karena kepulangan Reihan, melainkan karena hubungannya dengan Lastri berjalan sesuai harapan. Namun kali ini, kehadiran Reihan di rumah harus membuatnya menahan diri untuk leluasa berduaan dengan Lastri.Begitu tiba di lantai bawah, aroma masakan langsung menyambut begitu ia mendekati ruang makan. Namun meja makan masih belum sepenuhnya terisi. Baru ada nasi hangat, semangkuk sayur, dan beberapa piring kosong yang tersusun rapi. Sementara dari arah dapur terdengar suara minyak mendesis pelan.Ardan melirik sekilas ke arah tangga dan lantai atas. Sepi.“Reihan belum turun?” tanyanya sambil berjalan mendekati dapur.Lastri yang sedang membalik lauk di atas penggorengan spontan menoleh. Ia memakai celemek sederhana dengan beberapa helai rambut yang terlepas di dekat pipi karena kesibukan memasak.“Belum, T
Lastri membuang napas pelan."Itu karena... saya menghormati Tuan Ardan," jawabnya, berusaha tenang dan meyakinkan.Reihan mengusap dagunya dengan tatapan sedikit menyelidik. "Emmm... menghormati, ya?"“Udah cukup, Reihan,” pungkas Ardan. Nada suaranya kali ini lebih berat.Ruangan langsung hening
Masih dengan posisi Ardan menggendong tubuh Lastri sambil berpagutan, udara kamar tamu yang semula terasa pengap, kini berubah hangat. Ardan membawa tubuh Lastri ke ranjang. Dengan perlahan dan hati-hati, ia membaringkan Lastri tanpa melepas ciuman. Kemudian menindihnya lembut, seolah tanpa tekanan
Satu kata itu adalah perintah yang tidak bisa dibantah. Lastri menurut. Ia duduk di kursi seberang meja kerja Tuan Ardan. Punggungnya tegak, namun tangannya saling bertaut di atas pangkuan."Bisa perkenalkan data diri kamu?" tanya Tuan Ardan datar, tapi tatapannya menunjukkan suatu keseriusa
Lastri berusaha tetap tenang meski kini ia menyadari ada sedikit ketegangan di antara dirinya dan Tuan Ardan. Tapi ia meyakinkan diri bahwa ia tidak membuat kesalahan fatal. Bahkan saat ia menghubungi putranya, Tuan Ardan sama sekali tidak marah atau melarang. Yang penting ia bertanggug jawab penuh







