LOGINLastri merasa mulai kewalahan menerima ciuman itu. Tapi setiap kali tangannya berusaha lepas, cengkeraman tangan ARdan bertambah kuat. Saat tubuhnya berusaha memberontak, tubuh Ardan semakin mendekat, lalu ciumannya pun semakin panas. Tak jarang ia memberikan gigitan yang membuat bibir Lastri terasa kebas.Napas Lastri terengah, tapi Ardan seolah tak meberikan waktu untuknya mengambil oksigen. Setiap perlawanan kecil yang dilakukan Lastri, maka semakin kasar gerakan Ardan di tubuhnya.Lastri merasakan tubuhnya mulai lemas, seolah tenaganya baru saja dikuras Ardan habis-habisan. Ia akhirnya mendesah lelah, pasrah pada pria yang kini menguasi tubuhnya.Ia memejamkan mata, berusaha merasakan setiap sentuhan di tubuhnya. Merasakan hasrat yang membakar dalam dirinya, dan perlahan... ia menikmatinya."Eemmhh...."Lastri tak lagi melawan. Ia mulai membalas ciuman Ardan dengan gerakan lembut tapi panas. Saat cengkeraman di tangannya dilepas karena tangan Ardan berpindah ke tengkuknya, Lastri
Beberapa menit berlalu dan hujan mulai reda, menyisakan gerimis kecil yang masih terdengar riuh di atap rumah.Lastri mulai menegakkan tubuhnya, mencoba melepaskan diri dari dekapan Tuan Ardan. Dan ia cukup lega karena kali ini Tuan Ardan tidak menahannya."Saya... mau kembali ke kamar. Terima kasih sudah menemani saya, Tuan," ucap Lastri pelan sambil menunduk, tak berani menatap mata Tuan Ardan.Ardan menatap Lastri beberapa detik sebelum akhinya bertanya, "Apa kamu sudah mengantuk? Kalau belum, tolong buatkan kopi."Lastri mengangkat wajahnya, mencoba mencari makna tersembunyi dari kata-kata itu, tapi ia tak bisa menemukan apa-apa. Akhirnya ia hanya bisa mengangguk patuh. "Baik, Tuan. Saya buatkan sekarang."Listrik belum menyala, Lastri melangkah hati-hati menuju dapur berbekal senter ponselnya. Dalam gelap itu, ia merasakan sesuatu yang mencekam, yaitu tatapan Tuan Ardan yang ia yakin masih mengamatinya dari belakang.Ardan menatap Lastri yang perlahan menjauh. Dalam kegelapan itu
Lastri berdiri beberapa detik di depan pintu kamar Nyonya Ratih sebelum akhirnya mengetuk pelan.Ia sudah mengganti pakaiannya dengan cepat, merapikan rambutnya, bahkan sempat mencuci wajah berkali-kali di wastafel dapur. Namun tetap saja, jantungnya masih berdetak tidak wajar. Seolah tubuhnya belum benar-benar kembali dari kejadian beberapa menit lalu.“Masuk,” terdengar suara Nyonya Ratih dari dalam.Lastri membuka pintu dengan hati-hati sambil membawa nampan sarapan yang sudah ia susun rapi.Ratih setengah duduk di tempat tidur, bersandar pada bantal. Wajahnya masih terlihat pucat seperti beberapa hari terakhir, tetapi matanya tampak lebih segar pagi itu.“Pagi, Nyonya,” ucap Lastri lembut.Ia berjalan mendekat dan meletakkan nampan di meja kecil di samping tempat tidur.Ratih memperhatikan Lastri sebentar. Ada sesuatu yang berbeda.Biasanya Lastri bergerak tenang dan teratur. Pagi ini tangannya terlihat sedikit tergesa saat menata piring, bahkan sendok kecil di tangannya sempat be
Sinar mentari menyusup di antara lubang ventilasi kamar Lastri. Ia mengerjap pelan, lalu membuka matanya lebar. Tangannya meraih ponsel di atas meja dengan jantung berdebar kencang.Pukul 06.00 pagi."Astaga! Aku kesiangan," serunya panik.Dengan cepat ia bangkit dan keluar kamar tanpa merapikan tempat tidur. Ia melangkah tergesa-gesa menuju dapur sambil menguncir rambutnya asal. Kemudian mengambil bahan-bahan di lemari pendingin dan memotongnya secepat yang ia bisa.Waktu sarapan Nyonya Ratih yang tinggal satu jam lagi, membuatnya harus bekerja ekstra cepat. Tak ada waktu untuk bersantai. Semua harus tepat waktu atau ia bisa saja dipecat karena dianggap teledor.Dari lorong arah kamar tamu, Ardan berjalan pelan sambil mengamati Lastri dari kejauhan. Bibirnya tak henti menyunging senyum mengingat aksi panasnya bersama Lastri semalam.Ditambah lagi ia melihat bahwa saat ini Lastri mengenakan gaun rumahan yang ia belikan. Gaun itu begitu pas di tubuhnya. Panjang gaun yang hanya sebatas
Ardan memperdalam ciuman itu, tangannya bergerak naik ke punggung Lastri, merasakan lekuk tubuh yang terbalut gaun hitam tipis itu. Ia tak lagi hanya memastikan perasaan mereka sama. Ia sedang menegaskan bahwa ini nyata.Napas Lastri semakin tak teratur. Tubuhnya terasa semakin panas, bukan hanya karena anggur. Jarak yang dulu selalu ia jaga kini hilang sepenuhnya.Ciuman itu berubah menjadi lebih mendesak. Lebih haus."Emmhhh... "Lenguhan samar itu terdengar. Namun di tengah pusaran panas itu, Lastri tiba-tiba menarik napas tajam dan memalingkan wajahnya.“Kita… tidak boleh…” suaranya gemetar, napasnya masih terputus-putus.Ardan berhenti, meski dahinya masih menempel pada kening Lastri. Napasnya berat. Matanya lebih gelap dari sebelumnya.“Aku tahu,” jawabnya serak.Mereka sama-sama tahu.Ini kesalahan.Ini pengkhianatan.Ini sesuatu yang akan melukai lebih dari satu hati.Namun anehnya, kesadaran itu tidak serta-merta memadamkan api yang sudah terlanjur menyala.Ardan mengusap pip
Lastri merasa jantungnya nyaris melonjak keluar saat melihat cara Tuan Ardan menatapnya. Bukan seperti majikan pada pelayan. Tapi seperti... pria pada wanita. Ia hampir menyesal telah mengenakan gaun itu.Namun ketika Tuan Ardan melangkah mendekat, langkah yang tenang namun penuh tujuan, penyesalan itu berubah menjadi getaran halus yang menjalar ke seluruh tubuhnya.“Kau terlihat…” Ardan berhenti tepat di depannya, jarak mereka hanya sejengkal. “Sangat cantik.”Suara itu rendah. Hangat. Tidak lagi formal.Lastri menunduk, napasnya tak stabil. “Ini… terlalu berlebihan untuk saya, Tuan.”“Tidak,” Ardan menggeleng pelan. “Justru sangat pantas.”Tangannya terangkat, seolah ingin menyentuh pundak tipis yang terbuka itu. Namun ia berhenti di udara, menahan diri.“Terima kasih sudah kembali malam ini,” lanjutnya lebih pelan.Lastri mengangkat wajahnya perlahan. Hujan masih terdengar di luar, tapi di dalam ruangan itu, suasana terasa jauh lebih panas. Ia tidak tahu apa yang lebih berbahaya: H







