Share

GTM 28 :

Penulis: RIANNA ZELINE
last update Tanggal publikasi: 2026-03-12 21:40:50

Lastri merasa mulai kewalahan menerima ciuman itu. Tapi setiap kali tangannya berusaha lepas, cengkeraman tangan ARdan bertambah kuat. Saat tubuhnya berusaha memberontak, tubuh Ardan semakin mendekat, lalu ciumannya pun semakin panas. Tak jarang ia memberikan gigitan yang membuat bibir Lastri terasa kebas.

Napas Lastri terengah, tapi Ardan seolah tak meberikan waktu untuknya mengambil oksigen. Setiap perlawanan kecil yang dilakukan Lastri, maka semakin kasar gerakan Ardan di tubuhnya.

Lastri me
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Godaan Tuan Majikan   GTM 35 : Kecurigaan Reihan

    Lastri membuang napas pelan."Itu karena... saya menghormati Tuan Ardan," jawabnya, berusaha tenang dan meyakinkan.Reihan mengusap dagunya dengan tatapan sedikit menyelidik. "Emmm... menghormati, ya?"“Udah cukup, Reihan,” pungkas Ardan. Nada suaranya kali ini lebih berat.Ruangan langsung hening sesaat.Lastri makin salah tingkah. Ia buru-buru mengambil kembali ember pelnya. “Saya lanjut bersih-bersih dulu…”Namun saat ia hendak pergi, Ardan tiba-tiba berkata tanpa melihatnya,“Setelah ini siapkan makan malam.”"Baik, Tuan."Ardan kembali menatap putranya dengan serius."Sudah menemui ibumu?" tanyanya datar, namun dengan tatapan yang sulit dibaca. Seolah paham dengan kebiasaan bokapnya, Reihan langsung mengangguk cepat."Aku menemuinya sekarang."Reihan melangkah menaiki tangga dengan satu tangannya masih berada di saku jaketnya. Langkahnya tenang, tatapannya menelisik ke seluruh penjuru, seolah memastikan tidak ada yang berubah, kecuali asisten rumah.Sementara Ardan masih berdiri

  • Godaan Tuan Majikan   GTM 34 : Kedatangan Reihan

    Ardan menarik pinggang Lastri lebih dekat tanpa melepas lumatannya. Matanya ikut terpejam, merasakan kelembutan dan kekenyalan bibir Lastri yang berlapis lipstick tipis. Manis. Bagai madu yang membuatnya candu.Ia menjulurkan lidah, mendorongnya masuk ke rongga mulut Lastri. Lidah mereka saling beradu, menyesap lembut, sesekali saling menggigit tanpa benar-benar membuatnya sakit.Lastri mulai terengah. Tangannya terangkat cepat menyentuh dada Tuan Ardan. Lalu dengan sedikit paksaan, ia mendorong dada Tuan Ardan hingga ciuman itu akhirnya terlepas."Tuan..."Napas Lastri terengah. Dadanya naik turun seirama tarikan napasnya. Matanya berkedip cepat, seolah menyadarkan diri dari apa yang baru saja ia lakukan bersama majikannya.Ardan kembali mendekat, bukan untuk memulai lagi, tapi menyentuh bibir Lastri dan mengusapnya lembut untuk membersihkan sisa-sisa jejak percintaan mereka.Lastri terdiam. Ia tahu ini salah. Ia tahu ini tidak seharusnya terjadi—terlebih di rumah yang sama, di bawah

  • Godaan Tuan Majikan   GTM 33 : Setelah Pelepasan

    Malam itu terasa berbeda setelah semuanya benar-benar terjadi. Hujan di luar masih turun, meski tidak sederas sebelumnya. Suaranya kini lebih pelan, seperti sisa-sisa badai yang belum sepenuhnya pergi.Di dalam kamar, hanya ada cahaya redup dari lampu tidur yang menyisakan bayangan lembut di dinding. Lastri duduk di tepi ranjang. Diam. Kedua tangannya saling menggenggam di pangkuannya, jemarinya sesekali bergerak gelisah tanpa arah. Napasnya sudah mulai teratur, tetapi dadanya masih terasa penuh oleh sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan.Ia menunduk. Pikirannya kosong… sekaligus terlalu penuh.Baru beberapa menit lalu, ia masih berada dalam dekapan Tuan Ardan. Terhanyut dalam sesuatu yang selama ini hanya berani ia bayangkan dalam batas yang samar. Namun kini semuanya nyata. Terlalu nyata.Lastri menelan ludah. Perlahan, ia mengangkat tangannya dan menyentuh bibirnya sendiri, seolah masih bisa merasakan sisa kehangatan yang tertinggal. Lalu, tanpa sadar, tangannya turun ke dadanya. Jan

  • Godaan Tuan Majikan   GTM 32 : Pelepasan 2

    Sedikit demi sedikit, pusaka itu berhasil masuk ke dalam lembah surgawi milik Lastri. Tenggelam dalam kehangatan sempit yang begitu menjepit."Ouhh... " Lastri kembali tersentak hebat saat merasakan pusaka itu mulai memenuhi lembah miliknya. Tubuhnya menegang, punggungnya melengkung ke atas, terangkat dari ranjang.Bukan rasa sakit, melainkan sengatan aneh yang begitu kuat pada inti lembah surgawinya, namun sengatan itu menjalar langsung ke seluruh saraf di tubuhnya.Ia belum pernah merasakannya, bahkan dengan Arman, suaminya. Rasa ini lebih dalam, lebih menekan, dan lebih membuatnya tak ingin berhenti untuk terus merasakan. Seperti zat adiktif yang terus membuatnya ketagihan.Ardan berhenti sejenak, tidak memaksakan lebih jauh untuk saat itu. Ia menatap Lastri lebih lama, ada ketegangan samar di balik sorot matanya. Namun, Ardan tak ingin menarik pusakanya keluar, justru membiarkan Lastri merasakannya lebih dulu sebelum pusaka itu benar-benar menghantam lebih dalam."Coba rasakan dul

  • Godaan Tuan Majikan   GTM 31 : Pelepasan

    Masih dengan posisi Ardan menggendong tubuh Lastri sambil berpagutan, udara kamar tamu yang semula terasa pengap, kini berubah hangat. Ardan membawa tubuh Lastri ke ranjang. Dengan perlahan dan hati-hati, ia membaringkan Lastri tanpa melepas ciuman. Kemudian menindihnya lembut, seolah tanpa tekanan.Ciuman itu terus berlanjut—lembut, tapi jelas menuntut. Turun perlahan ke rahang Lastri... leher... lalu kembali mengusai dadanya.Lastri menggelinjang. Tubuhnya menggeliat gelisah. Tangannya meremas rambut Tuan Ardan—bukan lagi penolakan, tapi sebuah pegangan untuk bertahan. Kadang ia menekan, seolah tak ingin Tuan Ardan menghentikan hisapan atau jilatan yang memabukkan.Beberapa saat ciuman itu menjadi semakin tak terkendali. Tak hanya bagian dada, Ardan menggeser bibirnya memberi kecupan-kecupan mesra di permukaan kulit perut Lastri. Setiap kecupan itu bagai sengatan-sengatan llistrik kecil—mengejutkan, tapi juga membuatnya terus menginginkan.Saat ciuman itu akhirnya tiba di bawah pusa

  • Godaan Tuan Majikan   GTM 30 : Menghancurkan Batas

    Ciuman Ardan berlanjut, tidak lembut, tapi juga tidak menuntut. Itu adalah desakan dari seseorang yang menahan semuanya terlalu lama. Tak ada bayangan Ratih dalam benaknya, apalagi rasa bersalah. Yang ada hanya Lastri dan perasaan yang ia benarkan dalam hati.Sementara bayangan Arman masih hadir dalam benak Lastri. Tapi bayangan itu tak lagi jelas, tersamarkan oleh rasa nyaman akan kehangatan Tuan Ardan.Jemari tangan Lastri yang menarik kuat ujung gaun, perlahan melemah, berpindah pada dada bidang dan pundak Tuan Ardan—bukan lagi untuk mendorong, tapi bertahan dari gelombang gairah yang mulai pasang.Ketika ciuman itu perlahan terlepas, Ardan tidak langsung menjauh.Tatapannya jatuh pada wajah Lastri yang memerah-napasnya masih belum teratur, bibirnya sedikit terbuka, matanya setengah terpejam seolah masih tertinggal di dalam ciuman tadi.Ada campuran rasa malu… dan sesuatu yang lebih dalam dari itu.Ardan mengangkat tangannya, menyentuh pipi Lastri dengan punggung jari. Lembut. Hamp

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status