Beranda / Urban / Godaan sang tante / Bab 4 Tante Yang Malang

Share

Bab 4 Tante Yang Malang

Penulis: TnaBook's
last update Terakhir Diperbarui: 2025-02-14 03:23:09

Elma sedang sibuk membaca dokumen di ruangannya ketika suara pintu yang terbuka tiba-tiba menarik perhatiannya. Dia mengangkat wajah, dan alisnya langsung bertaut saat melihat siapa yang masuk.

Aditya melangkah masuk dengan santai, diikuti oleh seorang wanita yang sudah sangat dikenalnya.

"Apa maksudmu membawa dia ke sini?" suara Elma dingin, namun matanya penuh kemarahan yang tertahan.

Aditya hanya tersenyum tipis, tidak menunjukkan rasa bersalah sedikit pun.

"Kenapa? Ini kantormu, bukan rumah kita. Aku hanya mampir sebentar," jawabnya santai.

"Dan kamu pikir wajar membawa wanita ini?" Elma berdiri, menatap tajam ke arah Arumi yang berdiri dengan gaya angkuh.

"Aditya, aku sudah cukup bersabar dengan semua kelakuanmu. Tapi membawa selingkuhanmu ke kantorku, itu sudah sangat keterlaluan! Kamu benar-benar tidak tahu malu!" Elma membagi pandangannya pada dua orang di hadapannya itu.

Wanita bernama Arumi itu tersenyum tipis penuh ejekan. Dia menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Kedua matanya menatap Elma dengan tatapan sinis.

"Kasihan sekali kamu Elma, bahkan suamimu sendiri sudah tidak mempedulikan perasaanmu lagi. Kamu hanya istri di atas kertas yang tidak berguna sama sekali." Terdengar kekehan kecil dari mulut Arumi dengan nada ejekan.

Elma menoleh tajam ke arah Arumi. "Aku tidak bicara denganmu, Arumi. Kamu tidak punya hak untuk ikut campur dalam urusan rumah tangga kami-"

"Tapi aku memang bagian dari hidup Aditya,"

potong Arumi dengan cepat.

"Dia mencintaiku. Kamu hanya istri yang tidak dia inginkan. Kalau bukan karena perjodohan keluarga kalian, Aditya tidak mungkin menikahi mu. Kalau aku jadi kamu, aku akan mundur dengan segera daripada terus-terusan mempermalukan diri sendiri," cibir Arumi tersenyum puas melihat wajah Elma yang menahan malu dan geram.

"Cukup, Arumi!" suara Elma meninggi. Dia menatap Aditya, yang berdiri diam seolah menikmati pertengkarannya dengan gundiknya itu.

"Aditya, bawa keluar gundikmu ini. Aku tidak mau lagi mendengar ocehannya! Aku hanya memintamu satu hal. Kalau kamu tidak bisa menghormati pernikahan ini, setidaknya hormati diriku. Aku masih istrimu, meskipun hanya di atas kertas. Jangan mempermalukan ku di depan umum seperti ini!" Tatapan tajam mata Elma tertuju pada wajah pria yang masih berstatus suaminya itu.

"Siapa yang peduli pada kehormatanmu Elma.

Pernikahan kalian hanya karena bisnis semata." Arumi masih melontarkan jawaban demi jawaban yang semakin membuat darah Elma mendidih.

"Aku tidak peduli pernikahan ini berdasarkan apa.

Tapi kita punya citra yang harus dijaga. Atau kamu mau semua orang tahu bahwa CEO besar seperti dirimu membawa perempuan lain di belakang istrinya? Bukan kah hal itu juga akan merusak citra mu?" Elma menjawab tegas, suaranya bergetar karena amarah.

Arumi kembali tertawa kecil. "Oh, Elma, kamu ini lucu sekali. Masih mencoba mempertahankan harga dirimu yang sebenarnya sudah hancur. Tidak heran Aditya lebih memilihku," ucapnya bangga.

Wajah Elma memerah, tangannya mengepal.

"Diam, Arumi! Jangan berpikir aku akan diam saja.

Kamu mungkin merasa menang sekarang, tapi aku tidak akan kalah darimu. Tidak kali ini!"

Arumi mendekat, senyumnya sinis.

"Kalah? Elma, kamu sudah kalah sejak awal. Aku mendapatkan Aditya yang lebih memilihku dibandingkan kamu."

"Arumi, hentikan! Lebih baik kita pulang." Setelah berdiam diri dan hanya menyimak perdebatan antara Elma dan Arumi, akhirnya Aditya angkat bicara.

"Sayang... aku belum selesai." Arumi menoleh ke arah Aditya dan nampak belum puas dengan ocehannya pada Elma.

"Sebentar lagi aku ada meeting, kita pulang sekarang ." Aditya menarik tangan Arumi untuk keluar dari ruangan Elma.

Arumi pun terpaksa menuruti keinginan Aditya meskipun ia masih belum puas mempermalukan Elma yang merupakan saingannya sejak duduk di bangku kuliah.

Elma menatap Aditya dan Arumi penuh penuh kebencian, tapi dia menahan diri untuk tidak ikut meledak dan meladeni permainan Arumi yang hanya ingin membuatnya malu.

Elma menghembuskan napas berat setelah kedua orang itu keluar dari ruangannya. Dia menjatuhkan dirinya kembali di kursi.

"Sialan! Apa mereka sengaja datang ke sini untuk mempermalukan ku?" gumam Elma bersenandika.

Langit sore mulai gelap, tanda malam segera tiba.

Elma melangkah keluar dari gedung kantornya dengan wajah muram.

Revan, yang sudah menunggu di lobi sejak beberapa menit lalu, langsung membuka pintu mobil untuknya tanpa berkata sepatah kata pun.

Elma masuk ke dalam mobil dengan ekspresi datar.

Revan menutup pintu dengan hati-hati sebelum masuk ke kursi kemudi. Suasana di dalam mobil terasa sunyi, hanya diisi suara mesin yang menderu halus.

Revan melirik sekilas melalui kaca spion, melihat Elma yang memijat pelipisnya sambil menatap kosong ke luar jendela. Ada sesuatu yang membuat hatinya tergerak, namun ia menahan diri untuk tidak mengajukan pertanyaan.

"Langsung pulang, Bu?" tanya Revan akhirnya dengan suara rendah.

Elma mengangguk tanpa mengalihkan pandangannya dari jendela. "Ya, pulang saja.'

Revan menginjak pedal gas dengan perlahan,

membawa mobil keluar dari pelataran gedung.

Perjalanan kembali diliputi keheningan.

"Apa Ibu ingin mendengarkan musik?" tawar Revan, mencoba sedikit mencairkan suasana.

"Tidak perlu. Saya lebih suka ketenangan."

Revan mengangguk, mengarahkan pandangannya kembali ke jalan. Dia hanya seorang sopir, bukan orang yang pantas ikut campur dalam urusan pribadi majikannya.

Namun, di sudut hatinya, ada rasa iba yang mulai muncul. Wanita itu, sekeras apa pun sikapnya, jelas sedang menahan beban berat yang mungkin tidak pernah ia ceritakan kepada siapa pun.

Setelah beberapa waktu, mobil akhirnya memasuki gerbang rumah Elma. Lampu-lampu halaman telah menyala. Revan mematikan mesin mobilnya dan turun untuk membukakan pintu.

"Terima kasih, Revan," ucap Elma singkat sebelum melangkah masuk ke rumah tanpa menunggu jawaban.

Revan berdiri sejenak di dekat mobil, menatap punggung Elma yang perlahan menghilang di balik pintu besar rumahnya.

"Sudah mau pulang Mas Revan?" sapaan security membuyarkan lamunan Revan.

"Eh, iya Pak. Saya ambil motor saya dulu." Revan bergegas memasukkan mobil mewah itu ke dalam garasi dan mengambil motor bututnya untuk pulang ke kost-annya.

Revan baru saja memarkir motornya di depan kost saat ia melihat seorang wanita berdiri dengan tangan bersedekap di depan pintu kamarnya.

"Melly?" Revan mengerutkan dahi, setengah bingung melihat teman kuliahnya itu tersenyum sambil melambaikan tangan.

"Akhirnya kamu pulang juga, Van." Melly melangkah mendekat, wajah cantiknya tampak cerah meski sudah malam.

"Ada apa kamu di sini? Kok bisa tahu alamat kost-an aku?" Revan membuka kunci pintu dengan tatapan penuh tanya.

"Badru yang kasih tahu. Aku butuh buku referensi kamu untuk tugas kuliah. Kan kamu selalu paling rajin nyatat." Melly tersenyum manis, membuat Revan sedikit salah tingkah.

"Oh... gitu." Revan mendorong pintu dan mempersilakan Melly masuk. "Yaudah, masuk aja dulu. Kost-an aku kecil sih, jangan kaget, ya." Melly tertawa pelan, lalu masuk ke kamar Revan yang memang sederhana, hanya berisi kasur, meja kecil, dan lemari baju.

"Nggak apa-apa kok. Aku malah suka tempat yang cozy kayak gini," ujarnya, sambil duduk di pinggir kasur tanpa menunggu izin.

Revan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "

Bentar, ya. Aku cari bukunya dulu."

Ia membuka laci meja, mencari buku yang dimaksud, sementara Melly mengamati sekeliling kamar dengan santai.

"Kamu sering pulang malam, ya?" tanya Melly sambil memainkan ujung rambutnya.

"Kerja, Mel. Sopir pribadi." Revan meletakkan buku di atas meja, lalu duduk di kursi kecil di sudut ruangan.

Melly memiringkan kepala, menatap Revan dengan senyum menggoda.

"Hebat kamu. Kuliah sambil kerja. Padahal kalau dilihat-lihat, wajah kamu ini lebih cocok jadi model, tau nggak?"

"Melly, kamu ngomong apa sih? Jangan bercanda." Revan terkekeh, merasa sedikit canggung.

"Serius, Van. Kamu tuh terlalu tampan untuk jadi sopir." Melly berdiri, lalu mendekat ke arah Revan.

"Apa nggak pernah ada tawaran lain yang lebih...

menarik?" Tatapan nakal Melly membuat Revan merasa canggung dan sedikit salah tingkah.

"Tawaran apaan, maksud kamu?" Revan mengerutkan kening, merasa ada nada aneh dalam ucapan Melly.

"Ya... siapa tahu ada yang nawarin kerjaan yang lebih santai tapi penghasilannya lebih besar. Kamu nggak pernah kepikiran?" Melly mencondongkan tubuhnya sedikit, membuat Revan mundur ke belakang dengan gugup.

"Melly, kamu ini kenapa sih?" Revan tersenyum

kaku sambil bangkit dari kursinya, menjauhkan jarak.

"Aku ini cuma mahasiswa biasa, nggak ada yang spesial."

"Tapi buat aku, kamu spesial, Revan. Aku suka sama cowok yang pekerja keras kayak kamu." Melly tersenyum sambil mendekat lagi.

Revan terdiam, tidak tahu harus merespons bagaimana. Hatinya mendadak terasa kacau.

Melly tersenyum dengan tangan yang kini mulai menyentuh dad4 bidang Revan.

"Aku tahu kamu sudah punya pacar, tapi aku rela kok kalau kamu mau jadikan aku yang kedua." Di luar dugaan Melly menyatakan perasaannya pada Revan.

"Kamu ngomong apa sih Mel?" Revan tersenyum kaku.

Namun Melly malah semakin agresif. Tubuhnya yang tinggi semampai bisa dengan mudah mensejajarkan diri dengan Revan dengan hanya sedikit berjinjit.

"Aku sudah lama mendambakan saat-saat seperti ini Rev." Tangan Melly melingkar di leher pria tampan itu dengan tatapan yang tertuju pada bibir Revan yang terlihat sensual di mata Melly.

Dengan perlahan Melly mendekatkan bibirnya untuk men ci um bibir Revan yang masih terpaku tanpa mengatakan apapun.

Pria itu masih syok karena cewek tercantik di kelasnya kini tiba-tiba menyatakan rasa sukanya. Padahal sebelumnya Melly tidak pernah menunjukkan sikap kalau dia menyukai Revan.

.

Akhirnya bibir keduanya beradu. Dalam situasi ini tentu saja Revan tak bisa lagi menahan diri. Gadis cantik dengan tinggi 165 cm itu berhasil memantik ga irah Revan.

Pria itu membalas lu ma tan bibir Melly dengan lembut. Menyesap dan memainkan lidahnya di dalam rongga mulut gadis itu.

Napas keduanya terengah setelah beberapa saat bertukar saliva. Revan melepaskan tautan bibirnya dan menatap wajah Melly dengan senyum tipis di bibirnya.

"Terima kasih Revan." Melly tersipu malu. Ia senang karena keinginannya akhirnya terwujud.

"Sama-sama Mel, tapi sorry, gue nggak bisa nerima cinta lo. Gue punya Dinda dan nggak mungkin menduakannya." Melly tersenyum getir. Ia kira Revan seorang playboy tapi ternyata pria itu tidak seperti yang dia kira. Revan cukup setia pada cintanya.

"It's oke Revan. Tapi kalau kamu butuh teman atau lagi bosen, hubungi saja aku." Melly tersenyum pahit tapi meski ditolak pun ia tidak akan bisa membenci Revan.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Godaan sang tante   Bab 135

    liishhh jangan dibahas dong Sayang." Wajah Bunga kembali bersemu merah. la malu sekali karena Bimo membicarakan hal itu lagi.Terus terang ia sangat menikmatinya tadi. Dan sepertinya ia juga akan ketagihan melakukannya lagi dengan Bimo.Drrrtt...Ponsel Bunga berbunyi. la melihat ibunya menelpon."Mama?!" Bunga terkejut dan segera menjawab panggilan ibunya."Bunga, kenapa kamu masih belum pulang? Sudah hampir jam tujuh malam nih, kamu kemana saja Bunga?" Suara Bu Rasti terdengar dipenuhi kekhawatiran."Iya Ma, sebentar lagi aku pulang. Aku lembur Ma dan ini masih kerja. Jam tujuh nanti baru selesai." Bunga mencari alasan agar ibunya percaya."Ya sudah, langsung pulang ya jangan kelayapan lagi.""Iya Ma," pungkas Bunga menutup panggilan telepon ibunya.Bimo terkekeh saat mendengar Bunga terpaksa berbohong pada ibunya."Semua ini gara-gara kamu Mas. Padahal aku tidak pernah berbohong sama Mama se

  • Godaan sang tante   Bab 134

    "Kalau begitu bersiaplah Sayang Bimo pun merangkak naik ke atas tempat tidur. Sepertinya sore ini akan menjadi hari keberuntungannya.Bimo mengecup lembut bibir Bunga lalu merambat turun dengan mengecupi leher jenjang gadis cantik itu dan tak lupa meninggalkan jejak di sana."Jangan Mas...!" Bunga teriak."Kenapa?" tanya Bimo menghentikan gerakannya seketika."Aku nggak mau membuat Mama curiga jika melihatnya." Bunga menggigit bibirnya malu.Bimo tersenyum dan mengusap bibir itu dengan lembut."Maaf aku lupa Sayang. Baiklah aku akan buat tanda di tempat lain saja. Bimo mengangguk.Aksi selanjutnya membuah dada Bunga kembali berdebar karena Bimo perlahan tapi pasti melepas pakaiannya dan memainkan melon segarnya lagi seperti di dalam mobil tadi."Aaahhh....!" Bunga kembali mele nguh pelan sambil menggigit bibirnya yang seksi.Bimo pun membuat beberapa tanda kepemilikannya di sana.Keduanya semak

  • Godaan sang tante   Bab 133

    "Kamu membuatku gila Bunga..." ucap Bimo di sela kecupan bibirnya.Tatapan keduanya saling bertemu. Jantung keduanya berdetak kencang. Mata Bimo terlihat sayu. Wajah cantik Bunga terlihat sangat gugup dengan rona merah yang menghiasi pipi tirusnya.Bimo kembali tak kuasa menahan hasratnya. Kali ini ia mencium bibir Bunga dengan lebih lembut namun begitu dalam hingga beberapa kali lidah mereka saling membelit dan saling menyesap.Tangan nakal Bimo kembali tak bisa diam. la menyentuh dua melon mengkal yang tersembul di balik kemeja yang Bunga pakai.Bunga tidak menolak, otaknya seolah sudah membeku hingga tak peduli lagi sedang berasa dimana mereka sekarang.Tangan Bimo perlahan melepaskan kancing baju Bunga tanpa melepaskan tautan bibir mereka. Beruntung kaca mobil Bimo sudah dilapisi kaca film hingga apa yang mereka lakukan di dalam tidak akan terlihat dari luar."Aaahh...!" Bunga mende sah saat tangan Bimo mulai memainkan melon

  • Godaan sang tante   Bab 132

    "Shit! Bagaimana aku bisa konsentrasi kerja kalau bayangan Bunga terus menari dipikiraku?" Bimo mendesah kesal.Seharian ini konsentrasinya buyar. Bayangan wajah Bungal yang sedang mendesah terekam jelas diingatannya.Ditambah lagi masih terasa di telapak tangannya saat benda kenyal itu ada dalam genggamannya. Rasanya sungguh kenyal dan hangat.Bimo tersenyum sendiri sambil melihat kedua telapak tangannya yang begitu nakal kemarin malam."Ah, Bunga... kamu terlalu indah untuk dilupakan Sayang. Rasanya aku bakal kecanduan untuk menyentuhmu." Bimo memejamkan matanya.Membayangkan kembali saat ia berada di atas tubuh wanita itu. Menyesap melonnya yang segar dan memabukkan. Otaknya berpikir keras untuk membawa Bunga kembali ke apartemennya sore itu.Bimo menghela napas berat, melepas dasinya yang terasa mencekik. Tubuhnya terasa gerah, bukan karena suhu ruangan yang panas, melainkan karena debaran di dadanya yang sulit ia kendalikan.

  • Godaan sang tante   Bab 131

    Hari itu, setelah jam kerja selesai, Bimo berdiri di lobi kantor, menunggu Bunga yang tampak sibuk membereskan dokumen di meja kerjanya. la bersandar di dinding sambil tersenyum, menunggu waktu yang tepat untuk mengajaknya keluar."Bunga, aku antar pulang ya," ujar Bimo dengan nada santai saat Bunga berjalan mendekat."Iya Mas..." Bunga tersenyum senang dan seperti biasamereka akan mengendap-endap berjalan ke arah parkiran tanpa seorang pun yang tahu."Bunga, kita mampir dulu ke apartemenku ya," ajak Bimo setelah mobilnya keluar dari area kantor."Mau ngapain Mas?" Bunga melirik ke arah kekasihnya itu."Nggak ada apa-apa sih cuma pengen ajak kamu keapartemen saja kita santai dulu sejenak, ngobrol-ngobrol gitu.""Baiklah kalau gitu." Akhirnya Bunga mengangguk setuju.itu. Bimo tampak senang dan mempercepat laju kuda besinyaSesampainya di apartemen Bimo, Bunga segera memperhatikan ruangan itu.

  • Godaan sang tante   Bab 130

    Hari itu Revan sedang duduk di ruangannya, tenggelam dalam laporan keuangan yang harus ia review. Pikirannya penuh dengan pekerjaan, mencoba memastikan semuanya berjalan lancar untuk presentasi minggu depan. Tiba-tiba, suara ketukan di pintu ruangannya memecah konsentrasinya. "Masuk," ujar Revan, tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptop. Pintu terbuka, dan Citra melangkah masuk dengan penuh percaya diri. Wanita itu mengenakan gaun merah elegan yang mempertegas pesonanya. Revan langsung mengangkat wajahnya, sedikit terkejut dengan kedatangan Citra tanpa pemberitahuan. "Bu Citra, ada yang bisa saya bantu?" tanya Revan dengan nada sopan, meski merasa sedikit tidak nyaman. Citra tersenyum manis. "Pak Revan, saya datang untuk membahas lanjutan dari meeting kita kemarin." Revan tertegun. Membicarakan bisnis, tapi pakaian yang digunakan oleh Citra seperti seseorang yang mau datang ke pesta. Pakaian wanita itu sedikit terbuka bahkan menampakkan belahan dadanya yang cukup menantan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status