LOGINRevan menghela napas panjang saat memarkir mobil di halaman vila mewah itu. Udara Puncak yang sejuk menusuk kulit, membawa aroma pinus dan dedaunan basah. Vila itu berdiri megah, dengan desain modern minimalis dan jendela besar yang mencerminkan cahaya sore.
Hari itu hari Sabtu dan Elma menelponnya pagi-pagi, memintanya untuk mengantarnya ke Puncak. Ia melirik Elma yang masih diam di kursi penumpang, tatapannya kosong ke arah luar. Wanita itu tampak seperti patung porselen, cantik, tetapi dingin dan tak tersentuh. "Revan, bawa kopernya ke dalam," perintah Elma tiba-tiba tanpa menoleh. Suaranya terdengar datar, tanpa emosi. "Baik, Bu," jawab Revan singkat, segera keluar dari mobil dan membuka bagasi. Satu buah koper berukuran sedang terisi barang-barang Elma. Dan wanita cantik itu kini keluar dari dalam mobilnya. Berjalan dengan begitu anggun. Jeans biru press body memperlihatkan bokong sin tal Elma yang bulat berisi. Revan menelan ludah melihatnya. Ia berusaha mengusir bayangan-bayangan liar dari benaknya, tapi itu sangat sulit. Dia lelaki normal dan sudah punya pengalaman bercinta dengan beberapa orang wanita. Meski bukan seorang playboy tapi Revan dikelilingi banyak wanita yang akan dengan sukarela meyerahkan dirinya. "Selamat datang, Nyonya Elma," sapa Mang Darman, penjaga vila, dengan senyum ramah di depan pintu. "Siang, Mang Darman," jawab Elma singkat sambil melepas kacamata hitamnya, memperlihatkan mata cokelat yang tampak lelah. "Siapkan kamar tamu untuk sopir saya." perintahnya. Revan hanya diam. Ia mengikuti di belakang Elma, masuk ke vila yang terasa terlalu besar untuk hanya dihuni oleh mereka bertiga. Elma berjalan menuju ruang tamu dan langsung duduk di sofa besar sambil melepaskan sepatu hak tingginya. Tanpa bicara, ia membuka sebotol anggur dari meja di dekatnya, menuang segelas penuh, lalu menyesapnya perlahan. Revan tertegun menatap wanita cantik yang menyimpan sejuta luka dari sorot matanya itu. "Duduklah Revan." Elma memberi isyarat agar Revan duduk di sofa di dekatnya. Revan pun duduk dengan canggung dan hanya tertunduk tak berani menatap wajah Elma. "Kamu tahu kenapa aku mengajakmu ke sini?" tanya Elma kemudian. Revan menggeleng. "Ini adalah bagian dari tugasmu menjadi selingkuhanku," ungkap Elma dengan santai. Revan terdiam, terkejut mendengar kalimat itu. "Tugas? Tugas apa, Bu?" tanyanya dengan ragu. "Kita akan lihat nanti malam. Buktikan saja kalau kamu mampu." Elma tersenyum tipis lalu pergi dari hadapan Revan yang masih terpaku. Otak Revan masih nge-lag. Ia berusaha untuk mencerna maksud kata-kata Elma barusan. "Buktikan nanti malam? Apa dia akan mengetes keperkasaan si Otong?" gumam Revan melirik ke arah senjata pusaka miliknya yang langsung tegang saat mendengar kata-kata Elma barusan. Kalau memang begitu, ia akan dengan senang hati melakukannya. Siapa yang akan menolak ajakan dari Tante cantik seperti Elma. Revan pun menyeringai puas membayangkan adegan mesra yang akan dia lakukan nanti malam bersama Elma. Pukul tujuh malam selepas makan malam. Revan mengikuti langkah Elma dengan sedikit ragu. Perempuan itu mengajak Revan pergi ke rooftop. "Apa mungkin dia ingin melakukannya di rooftop? Ah, mungkin dia punya fantasi liar yang menyukai alam bebas." Batin Revan mulai membayangkan kalau ia akan menik mati tubuh mo lek Elma di atas sana. Sebuah tantangan yang membuatnya penasaran. Tidak masalah dimanapun tempatnya yang penting ia bisa menghabiskan waktunya bersama Elma. Namun Revan tertegun saat mereka tiba di rooftop, pemandangan yang disajikan membuatnya takjub. Meja kecil dengan lampu-lampu temaram menyala lembut, menciptakan suasana yang begitu romantis. Angin malam yang sejuk menyapu lembut, menambah kesan hangat di tempat itu. "Kapan Anda menyiapkan semua ini Bu?" Revan menatap dekorasi itu dengan heran. Elma tersenyum tipis, lalu duduk di salah satu kursi, tangannya dengan santai menunjuk kursi di seberangnya. Menyuruh agar Revan duduk di sana. "Aku punya banyak waktu untuk mempersiapkannya, Revan. Duduklah." Revan menuruti perintah itu, meski matanya tak bisa lepas dari penampilan Elma. Gaun hitam simpel yang dikenakan wanita itu tampak membingkai tubuhnya dengan sempurna, memberikan kesan seksi tanpa usaha berlebih. Bahkan tanpa riasan tebal, aura memikat Elma tetap memancar kuat. Di atas meja, sebotol wine merah sudah terbuka, dengan dua gelas anggur yang siap diisi. Elma menuangkan wine ke dalam gelasnya, lalu ke gelas Revan. "Kamu minum, kan?" tanyanya sambil menyodorkan gelas itu padanya. "Jarang sekali. Tapi... mungkin untuk malam ini, saya akan mencobanya," jawab Revan sambil mengambil gelas itu dengan hati-hati. Elma memandang Revan dengan tatapan dingin, seperti biasa, namun malam itu ada sesuatu yang berbeda. Ada kesan lembut yang hampir tak terlihat di balik sikap dinginnya. "Anggap ini sebagai perayaan, Revan. Aku ingin menikmati malam ini." Revan mengangguk perlahan, menyeruput sedikit anggur dari gelasnya. "Apakah ada hal baik yang sedang Ibu rayakan?" tanya Revan masih dalam batas kesopanannya. Elma mendesah, memutar gelas anggur di tangannya sambil menatap langit malam. "Tidak selalu hal baik yang harus kita rayakan. Kadang kegagalan juga perlu kita rayakan bukan?" Elma tersenyum getir. Kata-kata itu membuat Revan terdiam. Ia menatap wajah cantik yang terlihat sendu itu. Ia tahu rasa sakit pasti tengah dirasakan oleh wanita itu. Namun Revan memutuskan untuk pura-pura tidak tahu saja. "Orang bilang kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda. Dari kegagalan ada banyak hal yang bisa kita pelajari. Nikmati saja prosesnya dan jangan biarkan hal itu membuat hidup kita terpuruk. Bangkit dan buktikan kalau kita mampu bersinar terang." Revan memberanikan diri menyampaikan prinsip yang selama ini ia anut. Elma tersenyum mendengarnya. Kembali ia sesap wine di tangannya. "Pintar berkata-kata juga kamu," sindirnya yang membuat Revan tersipu. Elma meraih ponselnya dan memutar satu buah lagu klasik yang cukup enak untuk dipakai berdansa. "Temani aku dansa Revan." Elma bangun dari duduknya dan mengulurkan tangannya pada Revan yang cukup kagum dengan tindakan Elma. Tanpa pikir panjang lelaki tampan itu berdiri dan menggenggam tangan Elma lalu mengajaknya berdansa. "Tapi Bu, saya tidak pandai berdansa." Elma hanya mengangkat alis, sedikit tersenyum. Aku juga tidak meminta tarian yang sempurna. Ikuti saja langkahku, Revan." Jari-jari wanita itu terasa lembut namun tegas, membimbing Revan ke tengah area rooftop. Musik lembut dari ponsel Elma mulai terdengar, menambah suasana romantis yang semakin membuat Revan gugup. Elma melingkarkan tangannya ke bahu Revan, sementara Revan dengan ragu-ragu meletakkan tangannya di pinggang Elma. Tubuh wanita itu terasa hangat, aroma parfumnya yang lembut menyeruak, membuat jantung Revan berdetak lebih cepat. Dia mencoba menjaga fokus, tetapi sulit baginya untuk tidak mengabaikan pesona Elma yang begitu kuat. "Kamu terlihat tegang, Revan," komentar Elma sambil tersenyum kecil. "Santai saja." Revan mengangguk, mencoba mengendalikan dirinya. "Maaf, Bu. Saya hanya belum terbiasa dengan situasi seperti ini." Revan nyengir, kenapa ia tiba-tiba tegang begini. Padahal selama ini para gadis yang mendekatinya yang selalu ia buat tegang. Apalagi si Otong di bawah sana seperti tidak bisa di ajak kompromi membuat celananya terasa semakin sesak. Mereka berdansa dalam diam beberapa saat, sampai Elma memecah keheningan. "Revan apa pacarmu tidak akan marah kalau melihat kamu jalan sama aku nantinya?" Pertanyaan itu membuat Revan sedikit terkejut. "Emm, saya tidak tahu Bu. Saya belum membicarakan hal ini dengannya," jawab Revan jujur. "Nggak apa-apa aku hanya ingin tahu. Aku harap kamu bisa memberi pengertian pada pacarmu tentang pekerjaan dan kesepakatan kita. Aku tidak ingin dilabrak kekasihmu kalau dia lihat kamu jalan sama aku." Pesan Elma. "Baik Bu," jawab Revan dengan suara pelan. Dia merasa sedikit bersalah karena berada di situasi seperti ini, sementara Dinda tidak tahu apa-apa. Elma tersenyum tipis, menatap mata Revan dengan sorot yang sulit ditebak. "Bagus. Aku tidak peduli kamu punya pacar atau tidak. Selama kamu bisa memberi pengertian kepada pacarmu tentang hubungan kita, aku tidak akan mempermasalahkannya." Revan menelan ludah, bingung harus merespons bagaimana. "Maksudnya hubungan kita sebagai apa, Bu?" Elma tertawa pelan, nada suaranya dingin namun menawan. "Sebagai selingkuhanku. Kamu sudah tahu itu, kan?" Revan tidak bisa berkata apa-apa. Di satu sisi, dia merasa terjebak, tapi di sisi lain, pesona Elma begitu kuat hingga sulit baginya untuk menolak. Revan hanya mengangguk. Daya tarik Elma memang susah ditolak apalagi dengan gaun yang dia pakai sekarang semakin menunjukkan kalau Elma mempunyai nilai di atas rata-rata. Revan menarik pinggang ramping Elma secara perlahan. Namun Elma tidak menolaknya. Kedua mata Revan tertuju pada bibir sen sual milik wanita cantik itu. Menggemaskan. Ia ingin sekali me lu mat dan mencicipi rasanya. Namun tidak mungkin dia melakukannya tanpa izin dari yang punya. Bisa digo rok dia nanti. "Kalau boleh saya tahu, kenapa Ibu berselingkuh?" tanya Revan pura-pura tidak tahu. "Jangan banyak tanya sesuatu yang bukan urusan kamu," bentak Elma dengan nada tegas. Revan langsung mengatupkan bibirnya. Tak berani lagi untuk bertanya. Namun beberapa saat kemudian, Elma tersenyum lagi. Tangannya kini justru berkalung pada leher Revan. "Sorry kalau aku membuat kamu kaget." Elma sedikit melunak. Wajar jika Revan menanyakan hal itu. "Maaf Bu kalau saya lancang." Revan tertunduk tapi pandangannya justru bertumpu pada melon segar milik Elma yang begitu menantang. Ukurannya cukup besar dan pastinya terlihat masih kencang dan padat. Jantung Revan berdebar, lama-lama bisa gila dia kalau terus menerus berada di situasi ini. "Kamu kenapa Revan?" tanya Elma mengerutkan alisnya melihat tingkah aneh Revan yang memalingkan wajahnya ke arah lain. "Nggak apa-apa Bu." Bohong Revan. Elma tertegun sejenak dan menyadari kalau barusan Revan memperhatikan dadanya dan membuat pipi Bu wanita itu merona merah. "Sudah malam, aku mau tidur." Elma mendadak melepaskan pelukannya dan berjalan mengambil ponselnya. "Bu...!" Revan terbengong. Yakin nih sampai di sini saja? Pria itu melihat Elma turun dan kembali masuk ke dalam rumah. Dengan langkah gontai, Revan pun kembali masuk ke dalam rumah mengikuti Elma yang menghilang di balik pintu kamarnya. "Anjrit mana udah terlanjur on lagi." Revan mengarahkan pandangannya ke arah bawah. Celananya terasa sesak dan mau tidak mau dia harus pergi ke kamar mandi untuk menuntaskan has ratnya. Revan berjalan melewati kamar Elma menuju kamar tamu yang sekarang menjadi kamarnya. Namun saat melewati kamar Elma dia mendengar sebuah suara yang mencurigakan. "Aaaahhh... Ssshh...!""Untuk itulah aku ajak kamu makan malam. Biar kamu nggak sumpek di rumah terus," seloroh Dirga. Dia tidak tahu kalau di belakangnya ada Aditya yang membuat Nayla gundah seketika. Tatapan Nayla kembali mengarah pada meja Aditya. Sepertinya Aditya dan Ratna bersiap pergi dari situ. Tatapan mereka berdua beradu dan Nayla merasakan Aditya begitu dingin padanya. Membuat hatinya mencelos sakit. "Kamu kenapa sih? Ngelihatin siapa dari tadi?" tanya Dirgal penasaran dan langsung menoleh ke belakang. Namun ia hanya melihat sebuah meja yang kosong karena Aditya dan Ratna baru saja pergi. "Aku nggak ngelihatin siapa-siapa." Nayla mengerucutkan bibirnya karena sifat posesif Dirga dan rasa kesalnya sama Aditya.
Sore itu, Aditya pulang dari kantor dengan pikiran yang masih dipenuhi oleh berbagai urusan pekerjaan. Namun, langkahnya terhenti sejenak ketika melihat deretan sepatu tamu di depan pintu rumahnya. la merasa heran, karena tidak mengingat adanya rencana kunjungan hari ini. Saat memasuki ruang tamu, Aditya disambut oleh pemandangan yang tak terduga. Di sana, duduklah keluarga Ratna. Pak Darman, Bu Sari, Ratna, dan bahkan Nenek Hamidah. Mereka semua tersenyum hangat ke arahnya. Nyonya Selly segera bangkit dan mendekati putranya. "Aditya, lihat siapa yang datang! Keluarga Ratna dari Bandung," ujar Nyonya Selly dengan antusias. Aditya tersenyum sopan dan menghampiri tamu-tamunya. la menyalami Pak Darman dan Bu Sari dengan hormat, lalu beralih ke Nenek Hamidah. "Nenek, senang sekali bisa melihat Nenek di sini, Nenek tidak usah pulang ke Bandung lagi, Nenek tinggal di
"Aditya tersenyum kecut. la penasaran pria seperti apa yang Nayla sukai. Nayla mengaminkan dengan tatapan yang sulit terbaca. Namun satu hal yang Aditya sadari ialah kalau tatapan Nayla padanya sedikit berbeda malam itu. Sedikit hangat dan. membuat jantungnya berdebar kencang. Namun tentu saja Aditya tidak mau gegabah menyimpulkan sesuatu yang belum pasti hasilnya. Bisa saja itu hanya perasaannya dan pada kenyataannya Nayla mencintai pria lain yang bukan dirinya. Malam itu, setelah percakapan panjang, Nayla merasa sedikit lebih tenang. la mengucapkan terima kasih kepada Aditya dan kembali ke rumah. "Siapa pria yang Nayla sukai?" gumam Aditya saat berada. dalam perjalanan pulang. "Kalau saja aku bisa mengatakan perasaanku padanya," gumamnya pelan. Namun, ia takut jika kej
"Aditya... maaf mengganggumu malam-malam begini," ujar Nayla dengan suara pelan, hampir berbisik. Kedua mata indahnya memandang lelaki tampan yang memakai jaket hitam dengan celana jeans yang kini duduk di depannya itu. Aditya tampak cemas karena malam-malam harus menemui Nayla. la takut terjadi apa-apa sama perempuan cantik itu. "Tidak apa-apa. Ada apa? Apa Bu Nayla baik-baik saja?" tanya Aditya, nada khawatir langsung terasa dari suaranya. "Please jangan panggil aku Bu, panggil saja Nayla. Kita tidak sedang bekerja sekarang." Nayla merasa terganggu dengan panggilan Aditya yang terlalu formal dan menggelitik telinganya.. Pandangannya beradu dengan tatapan Aditya yang lembut. Perempuan itu mengerjapkan matanya dan kembali menyesap coklat hanya di depannya. "I-iya maaf Nayla. Ada apa kamu memanggilku
"Nayla, akhirnya kamu datang lagi ke sini! Kami sudah rindu sekali," ucap Nyonya Wulan sambil menggenggam tangan Nayla dengan lembut. "Terima kasih, Tante," jawab Nayla dengan sopan, meski dalam hati ia merasa sedikit canggung, la tahu betul, kunjungannya malam ini pasti akan diiringi dengan pembicaraan tentang pernikahan yang terus-menerus menghantuinya akhir-akhir ini. Tuan Arman, yang sejak tadi duduk di ruang tamu, menyambut Nayla dengan senyuman hangat. "Ayo duduk, Nayla. Kita makan malam bersama. Tante Wulan sudah memasak makanan kesukaanmu." Mereka pun duduk di meja makan besar yang sudah dipenuhi berbagai hidangan lezat. Suasana makan malam terasa hangat dan akrab. Dirga sesekali melontarkan candaan kecil yang membuat Nayla tersenyum, meski senyumnya terasa dipaksakan. Di tengah-tengah makan malam, Nyonya Wulan membuka pembicaraan yang membuat Nayla terkejut. "Nayla, Tante ingin tahu...
Nyonya Selly tersenyum melihat Aditya yang akhirnya menuruti keinginannya."Gitu dong Dit, Mama nggak ada maksud apa-apa kok Mama hanya ingin menjalin silaturahmi dengan keluarga Ratna yang telah banyak menolong keluarga kita." Kata-kata Nyonya Selly terdengar lebih lembut dari sebelumnya."Iya Ma." Aditya hanya mengangguk.Aditya telah menyelesaikan sarapannya. la bersiap untuk berangkat ke kantor, tapi sebentar itu sebuah ide tiba-tiba terlintas di pikirannya."Ma, kenapa kita nggak bawa Nenek ke sini saja? Mama kan bisa ngurusin nenek dengan tangan sendiri."Nyonya Selly menghela napas kasar. "Bukannya Mama nggak mau Dit, tapi nenek kamu itu susah sekali dibujuk. Dia bilang nggak betah tinggal di kota karena udaranya panas. Dia lebih memilih tinggal sendirian di Bandung."Aditya mengatupkan bibirnya bingung."Tapi nanti Mama coba bujuk lagi deh. Siapa tahu nenekmu luluh hatinya dan mau tinggal sama kita di sini."







