LOGINIshrina terdiam cukup lama setelah semua itu diucapkan. Tatapannya tidak lepas dari wajah ayahnya, mencoba menemukan sesuatu penjelasan atau sekadar sisa kepedulian yang dulu pernah ada. Namun yang ia lihat sekarang justru semakin menegaskan satu hal yang selama ini ia sangkal.
Dari cara ayahnya memandang Iris sekarang… sudah dipastikan Iris adalah putri kandungnya.
Padahal, pria itu pernah mengaku dirinya tidak memiliki hubungan darah dengan sang kakak tiri. Bahwa tidak ada yang perlu dikhatirkan dengan kehadiran Iris dan sang ibu tiri
Dan wanita yang duduk di sampingnya adalah orang yang benar-benar ia cintai. Sementara dirinya hanya bagian yang tersisa.
“Bagaimana jika aku tidak mau?”
Suara Ishrina terdengar tenang saat akhirnya ia berbicara. Tidak tinggi, tidak bergetar. Namun cukup jelas untuk membuat suasana di ruangan itu berubah.
Countess Arlis tersenyum tipis, seolah pertanyaan itu tidak lebih dari sesuatu yang sudah ia perkirakan. “Iris jauh lebih pantas menjadi bagian dari keluarga kekaisaran,” ujarnya lembut, namun tanpa menyembunyikan maknanya.
Count Arlis menghela napas panjang, lalu menatap Ishrina dengan ekspresi yang mulai mengeras. “Terlebih lagi,” lanjutnya, “perjodohanmu dengan Putra Mahkota sebelumnya sudah gagal. Yang Mulia Kaisar tidak menginginkanmu lagi.”
Ishrina menatapnya lurus.
“Itu bukan salahku,” ucapnya pelan.
Untuk pertama kalinya, ada nada yang lebih tajam di dalam suaranya.
Namun Count Arlis justru menyipitkan mata. “Bukan salahmu?” ulangnya dingin. “kau memilih menjadi kekasih Grand duke.” Kata-kata itu terdengar begitu tajam dan tanpa belas kasihan.
Ishrina mengalihkan pandangannya perlahan. Ia tidak ingin menjawab. Tidak ada lagi yang perlu ia jelaskan pada orang-orang yang sejak awal sudah memutuskan untuk tidak percaya.
Namun Countess Arlis tidak berhenti.
“Kau tidak bisa membela diri,” ucapnya dingin. “Semua orang melihat tingkahmu selama ini.”
Kalimat itu terdengar seperti vonis.
Ishrina menoleh kembali. Tatapannya tenang, namun tidak lagi mengandung kehangatan sedikit pun.
“Aku hanya punya dua tangan untuk menutup telingaku,” katanya pelan, “jadi apa yang mereka katakan… tidak penting.”
Nada suaranya ringan, hampir seperti tidak peduli. Namun justru itu yang membuat wajah Countess sedikit berubah.
Count Arlis yang sejak tadi diam akhirnya berbicara. Tatapannya tajam, menilai.
“Kau seyakin ini tidak melakukan apa pun dengan Grand Duke?”
Pertanyaan itu tidak lagi disamarkan. Langsung dan menekan.
Ishrina menatapnya tanpa berkedip. Untuk sesaat, ia tidak langsung menjawab. Lalu sudut bibirnya terangkat tipis, bukan senyum, lebih seperti ironi.
“Bukankah jika seperti ini…” ucapnya pelan, “Ayah secara tidak langsung bukan hanya menghina kehormatan putri ayah, tapi juga sedang menghina kehormatan Yang Mulia Grand Duke?”
Selama ini, hubungannya dengan Kallias berjalan baik. Namun sekarang… segalanya hancur.
Bukan karena keinginannya, bukan juga karena ia berhenti bertahan. Namun karena keputusan orang-orang di depannya… bahkan sampai memfitnahnya tidak suci lagi.Ishrina menarik napas pelan.
Jika ia menikah dengan Kallias, ia berani bersumpah bahwa dirinya masih suci. Bahwa apa yang mereka tuduhkan tidak pernah benar-benar terjadi seperti yang mereka bayangkan.
Namun untuk apa?
Mereka tidak akan percaya.
“Ishrina.” Suara ayahnya kembali memotong pikirannya. “Berikan jawabanmu.”
Nada itu tegas. Tidak memberi ruang untuk menghindar.
Ishrina mengangkat wajahnya perlahan. Tatapannya kembali tenang, meski di dalam dirinya semuanya terasa berantakan.
Ia diam beberapa saat, lalu menarik napas pelan.
“Berikan aku waktu untuk berpikir.” Jawabannya singkat.
Namun cukup untuk membuat Countess Arlis hendak menyela. “Kau—”
“Cukup.”
Count Arlis mengangkat tangannya, menghentikannya. Ia menatap Ishrina beberapa saat, lalu menghela napas pendek, seolah sudah memutuskan sesuatu.
“Baiklah,” katanya akhirnya. “Masuklah ke kamarmu dan renungkan baik-baik.”
Tidak ada kelembutan dalam nada itu, yang ada hanya keputusan. Ishrina mengangguk kecil. Ia tidak ingin berada di ruangan itu lebih lama lagi. Perlahan, ia bangkit dari kursinya. Tanpa menatap mereka lagi, ia berbalik dan berjalan menuju pintu.
Baru saja Ishrina melangkah keluar dari ruang kerja itu, langkahnya langsung terhenti.
Di depan pintu, berdiri Iris.
Wanita itu tersenyum tipis penuh kemenangan, senyum yang selalu membuat dada Ishrina terasa sesak. Seolah ia sudah tahu bagaimana semuanya akan berakhir, bahkan sebelum Ishrina sempat memutuskan apa pun.
Untuk beberapa saat, Ishrina hanya menatapnya. Tidak ada kata-kata, tidak ada reaksi berlebihan. Lalu ia mengalihkan pandangan dan melangkah maju, berniat melewati Iris begitu saja.
Ia tidak ingin terlibat.
Namun Iris memang gemar mencari masalah denganya.
“Kau tidak akan pernah menang dariku.”
Langkah Ishrina terhenti.
Ia tidak langsung menoleh. Napasnya tertahan sesaat, sebelum akhirnya ia berbalik perlahan. Tatapannya jatuh tepat pada Iris tenang, namun dingin.
“Aku tidak sedang berkompetisi,” jawabnya singkat.
Iris terkekeh pelan. Suara itu ringan, namun jelas penuh ejekan. Ia tidak terlihat tersinggung sedikit pun, seolah semua yang dikatakan Ishrina hanyalah lelucon yang tidak berarti.
“Kau sama saja seperti ibumu,” lanjutnya santai. “Jalang. Tidak tahu diri. Benalu.”
Udara di lorong itu terasa berubah.
Ishrina tidak langsung bergerak. Ia hanya menatap Iris lebih lama, diam, tanpa ekspresi. Namun di dalam dirinya, sesuatu yang selama ini ia tahan mulai retak.
“Katakan sekali lagi,” ucapnya pelan dengan suara rendah.
Namun cukup untuk membuat siapa pun mengerti itu bukan permintaan biasa.
Iris menyeringai, tidak ada rasa takut di wajahnya. Tidak ada ragu.
“Ibumu jalang,” ulangnya, bahkan lebih jelas. “Tidak tahu diri. Benalu.”
Ishrina mengepalkan tangannya erat. Ia ingin melawan kakaknya, ingin sekali menampar wajahnya yang menyebalkan itu. Namun tidak mungkin. Tidak saat ada kedua orang tuanya, bahkan Grand Duke di kediamannya
Pada akhirnya, Ishrina hendak balik badan dan pergi dari sana. Namun sebelum benar-benar melakukannya, Iris tiba-tiba terhuyung.
Tubuhnya bergerak mundur, tidak stabil, seolah benar-benar kehilangan keseimbangan. Dalam sekejap, ia sudah jatuh ke lantai.
“Akhh!” Teriakannya pecah, menggema di lorong yang sunyi.
Ishrina membeku di tempat, napasnya tertahan. Ia bahkan tidak menyentuhnya menyentuhnya sama sekali.
Namun pemandangan di depannya terasa begitu familiar. Tindakan yang selalu Iris lakukan untuk permainan yang sama lagi.
“Ishrina.”
Suara itu terdengar dari belakang. Suara familiar yang sangat ia kenal, terdengar begitu dalam dan dingin.
Tubuh Ishrina menegang. Ia tidak langsung menoleh, seolah sudah tahu apa yang akan ia lihat jika ia melakukannya.
Di lantai, Iris sudah mulai menangis. Bahunya bergetar pelan, air matanya jatuh tanpa henti, dan wajahnya terlihat pucat seolah benar-benar terluka.
“Yang Mulia…” ucapnya lirih, suaranya rapuh, “Anda lihat sendiri… Ishrina mendorong saya…”
Langkah kaki mendekat.
Lalu, dalam satu gerakan, tangan Ishrina ditarik dengan kuat.
Kallias.
Tubuh Ishrina sedikit terhuyung ke belakang karena tarikan itu. Ia akhirnya menoleh, dan benar saja mata merah itu menatapnya, dingin, tanpa kehangatan sedikit pun.
“Apa yang sebenarnya kau lakukan, Ishrina?!”
Pesta salon itu telah berlangsung ketika Ishrina tiba. Dari luar, kediaman tempat acara diselenggarakan tampak seperti bangunan bangsawan biasa, tetapi begitu pintu utama terbuka, suara percakapan, tawa, dan alunan musik langsung menyambutnya. Cahaya dari lampu-lampu kristal memenuhi ruangan utama, sementara para bangsawan dari berbagai keluarga berkumpul dalam kelompok-kelompok kecil, sibuk berbicara sambil menikmati minuman dan hidangan yang telah disediakan.Begitu Ishrina melangkah masuk, suasana di sekitar pintu seketika berubah.Beberapa percakapan terhenti. Tatapan para bangsawan langsung tertuju kepadanya.Ada yang hanya memandang dengan rasa ingin tahu, ada pula yang terang-terangan menilainya dari ujung kepala hingga kaki. Tidak membutuhkan waktu lama sebelum bisikan-bisikan mulai terdengar di antara kerumunan."Itu La
Ia berjalan menuju jendela dan menarik tirainya sedikit. Dari sana, Kastil Arlis terlihat begitu tenang, seolah tidak ada apa pun yang terjadi di balik dinding-dindingnya. Namun Ishrina tahu, ketenangan itu hanya sementara."Setiap kali mereka menyakitiku, aku memilih diam. Setiap kali mereka merendahkanku, aku membiarkannya. Aku selalu berpikir bahwa selama aku tidak membalas, semuanya akan berhenti dengan sendirinya."Jemarinya perlahan menggenggam kain tirai."Ternyata aku salah."Jerome tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya berdiri di belakang majikannya dan mendengarkan. Ishrina menatap halaman kastil cukup lama sebelum akhirnya tersenyum tipis."Orang-orang seperti mereka tidak akan berhenti hanya karena kita mengalah."Ia mengingat kembali suara Iris malam tad
Seluruh aula seketika membisu. Tidak ada nada tinggi, tidak ada kemarahan yang meledak-ledak, bahkan tidak ada sedikit pun keraguan dalam suaranya. Ia hanya mengajukan sebuah pertanyaan sederhana, tetapi semua orang yang mendengarnya tahu bahwa pertanyaan itu tidak mungkin dijawab dengan mudah.Countess Arlis yang sejak tadi berdiri di samping suaminya langsung menoleh. Wajahnya yang semula tenang perlahan menegang, sementara Iris tampak membeku seolah baru saja mendengar sesuatu yang sama sekali tidak pernah ia duga akan keluar dari mulut Ishrina."Apa maksudmu?" Iris akhirnya berseru. Suaranya terdengar lebih tinggi dari sebelumnya, dipenuhi kemarahan yang tidak mampu lagi ia sembunyikan.Ishrina bahkan tidak segera memandangnya. Tatapannya tetap tertuju kepada Count Arlis yang berdiri beberapa langkah di hadapannya. Ayahnya masih memasang wajah keras, tetapi
Kallias perlahan melangkah mendekat hingga hanya menyisakan sedikit jarak di antara mereka. Ia mengangkat tangan kanannya, lalu dengan gerakan yang begitu hati-hati menyeka sisa air mata yang masih membasahi pipi Ishrina menggunakan ibu jarinya. Sentuhan itu begitu lembut hingga membuat Ishrina memejamkan mata sesaat.Bukan karena nyaman. Melainkan karena ia terlalu lelah untuk kembali menyembunyikan perasaannya."Mulai malam ini," ucap Kallias pelan, "kau tidak perlu lagi menghadapi semuanya seorang diri."Ishrina membuka matanya perlahan dan menatap pria itu. Selama bertahun-tahun ia mengenal Kallias sebagai seseorang yang dingin, keras kepala, dan nyaris tidak pernah memperlihatkan emosinya kepada siapa pun. Bahkan ketika mereka masih menjalin hubungan, pria itu lebih sering menunjukkan perhatian melalui tindakan daripada kata-kata.Karena itulah, setiap janji yang keluar dari mulutnya selalu memiliki arti yang jauh lebih besar."Aku sudah mengatakan kepadamu," lanjut Kallias denga
Ishrina tertegun.Countess Arlis menyandarkan punggungnya ke kursi dengan senyum puas yang perlahan mengembang di bibirnya. Sorot matanya begitu tenang, seolah semua yang baru saja mereka bicarakan hanyalah urusan biasa yang tidak menyisakan sedikit pun rasa bersalah."Karena itulah kita harus tetap berada di pihak Yang Mulia Ratu," ucapnya sambil mengangkat cangkir teh ke bibir. "Selama beliau berhasil menyingkirkan Putra Mahkota dan mengangkat pewaris yang baru, keluarga Arlis tidak akan pernah tersentuh. Semua yang kita lakukan akan terkubur selamanya."Iris mengangguk tanpa sedikit pun keraguan. Wajah cantiknya dihiasi senyum yang begitu puas hingga sulit dipercaya bahwa wanita itu baru saja membicarakan pembunuhan ibu kandung kakaknya sendiri."Tidak akan ada yang mampu menyelidiki kematian wanita itu lagi," katanya pelan. "Dan kalau Ishrina ikut mati, maka tidak akan ada lagi yang mengetahui bahwa Gunung Endless maupun seluruh warisan itu seharusnya menjadi miliknya."Countess t
Suara Iris.Ishrina seharusnya tetap berjalan. Ia tidak memiliki alasan untuk berhenti. Namun entah mengapa kakinya seakan kehilangan keinginan untuk bergerak. Pintu ruang di ujung lorong tidak tertutup sempurna. Dari celah kecil itulah suara percakapan di dalam ruangan terdengar jelas."Bersabarlah." Kali ini suara Countess Arlis yang terdengar. "Pernikahanmu dengan Grand Duke tetap akan berlangsung."Iris tertawa sinis. Tawa yang terdengar begitu tajam hingga membuat suasana di lorong terasa dingin."Setelah semua yang terjadi, Ibu masih bisa mengatakan itu?""Kallias hanya sedang bingung.""Dia tidak terlihat bingung." Jawaban Iris datang cepat. "Dia terlihat seperti pria yang kehilangan akal hanya karena melihat Ishrina."Ishrina menundukkan pandangan. Tidak ada perubahan di wajahnya. Ia sudah terlalu sering mendengar hal-hal seperti itu. Terlalu sering menjadi bahan pembicaraan mereka.Karena itulah kata-kata tersebut tidak lagi mampu melukainya seperti dahulu. Namun percakapan d
Ishrina terdiam cukup lama di tempatnya. Perlahan, ia memejamkan mata, seolah ingin menghapus semua yang baru saja ia dengar. Namun suara itu tetap terngiang jelas, dingin, dan tanpa ragu.Suara Kallias.Dadanya terasa sesak. Ia mengalihkan pandangan dari pintu itu, memaksa dirinya untuk tidak lagi
Kallias terdiam.Seolah mencoba memahami apakah kata-kata itu sungguh keluar dari Ishrina yang selama ini ia kenal.Ishrina menarik napas perlahan, mencoba menenangkan dirinya yang hampir runtuh. Namun suaranya tetap melemah saat ia kembali berbicara.“Aku tidak mau menjadi yang kedua…” ucapnya lir
Teriakan Kallias terdengar lebih dekat.“Aku tidak melakukan apapun!”Dalam sekejap, tangan Ishrina ditarik paksa ke belakang. Tubuhnya ikut tertarik menjauh, membuat jarak dengan Iris.Napas Ishrina memburu. Dadanya naik turun, matanya masih tertuju pada Iris, tapi Kallias sudah berdiri di antara
Urusan penting.Kata-kata itu terus terngiang di kepala Ishrina sejak tadi. Awalnya ia tidak terlalu memikirkannya, mencoba menerima seperti biasanya. Namun sekarang, berdiri di lorong panjang kediaman Count Arlis, ia akhirnya mengerti arti sebenarnya dari “urusan” yang dimaksud Kallias.Langkahnya







