LOGINDi hadapan ribuan pasang mata bangsawan kekaisaran yang memenuhi aula utama Istana Pusat, detik-detik sakral pertunangan itu mencapai puncaknya. Pangeran Cedric tersenyum hangat, memegang kotak cincin berhiaskan permata biru yang berkilau di bawah pendar lampu kristal. Di hadapannya, Roselline berdiri dengan tatapan kosong dan pikiran yang bercabang, bersiap menyematkan cincin sebagai bagian dari sandiwara politik yang terpaksa ia jalani. Namun, tepat saat jari mereka hampir bersentuhan untuk bertukar cincin, tubuh Roselline mendadak menegang kaku. Deg! Gelombang rasa sakit yang begitu luar biasa dahsyat menghantam jiwa dan raganya seketika. Sensasi panas membara menjalar dari punggungnya, membakar setiap pembuluh darah seolah-olah ia baru saja dilemparkan ke dalam lautan api neraka. "Argh—!" Roselline terpekik tertahan. Penglihatannya langsung kabur, berputar hebat, hingga detik berikutnya kesadarannya benar-benar terenggut gelap. Tubuhnya ambruk lemas ke depan sebelum sempat m
Kesadaran Evelyn kembali secara perlahan, dihantam oleh rasa sakit yang menusuk di sekujur persendian tangannya. Saat ia mengerjap menyesuaikan penglihatan dengan temaram cahaya obor, napasnya seketika tertahan di tenggorokan. Kedua tangannya terikat kencang oleh rantai besi berat yang tergantung di dinding batu yang dingin. Ia tidak lagi berada di ruang ganti istana yang mewah, melainkan di dalam sebuah gua tersembunyi yang lembap. Dan yang membuat darahnya berdesir ngeri adalah sosok yang duduk tepat di hadapannya. Azrael bersedekap dada di atas sebuah batu besar, menatap lurus ke arahnya tanpa berkedip. "A-Azrael...?" panggil Evelyn dengan suara serak, tubuhnya bergetar hebat akibat rasa takut dan dingin. "Apa-apaan ini? Mengapa kau menculikku... atau lebih tepatnya, mengapa kau membawaku ke sini?!" Azrael bergeming. Namun, saat pria itu mengangkat wajahnya, Evelyn terkesiap hingga napasnya terhenti. Iris mata kekuningan yang biasanya tajam kini memancarkan pendar silau kemerah
Langkah kaki Roselline menyusuri koridor marmer Istana Pusat terasa begitu ringan namun penuh waspada. Di kepalanya, layar merah semitransparan dari Sistem terus berkedip memberikan peringatan penting mengenai ancaman yang mendekat. [ PERINGATAN PETAKA KELIMA ] [ DESKRIPSI: Ibu tiri Lady Evelyn merencanakan sabotase dengan menumpahkan racun gatal ke gaun utama dan menjatuhkan pilar hiasan di aula untuk mempermalukan sang putri di hadapan bangsawan istana. ] Roselline mendengus pelan di dalam hatinya. ‘Hah, trik murahan dari novel klise seperti itu tentu saja sudah bisa kuduga.’Sekarang ia bersyukur bisa bertukar tubuh dengan Evelyn karena untuk menghindari petaka, ia bisa selesaikan sendiri karena ia yang mengendalikan tubuh pemeran utama. Saat Roselline berjalan melewati lorong samping menuju aula utama bersama para pelayan pembawa gaun, ia melihat Eleanor tampak mondar-mandir mencurigakan di dekat pintu samping dengan botol kecil berisi cairan gatal di balik lipatan gaunnya. T
Hari yang paling ditakuti dan dinantikan itu akhirnya tiba. Aula utama Istana Pusat didekorasi secara megah dengan ribuan bunga sutra putih dan pendaran lampu kristal yang menyilaukan mata. Para bangsawan dari berbagai faksi berkumpul mengenakan busana terbaik mereka, merayakan momen sakral pertunangan antara Putra Mahkota Cedric dan Lady Evelyn dari Faksi Celestia.Roselline duduk di meja rias dengan tanagn bergetar hebat. Di hadapannya tergeletak dua kalung Lachyrma yang memancarkan cahaya biru dan merah yang redup. Awal mula pertukaran jiwa dari kalung ini, ia yakin jalan keluarnya juga lewat perantara yang sama.'Sistem ... apakah tidak reaksi pada dua kalung ini?'[ TIDAK TERDETEKSI! ]Jawaban sistem tetap sama. Ia berpikir Lacyrma hanya kehilangan kekuatannya karena meningkatkan sistem ke versi baru. Serta, gelombang yang memacu penukaran jiwa. Maka dari itu, Roselline berusaha mengisi kembali daya kalung itu dengan kekuatan spiritual Evelyn.'Ayolah ... kembalikan kekuatanmu ya
Sore menjelang senja menghadirkan bias jingga yang indah di atas distrik bangsawan ibu kota. Namun, keindahan pemandangan itu sama sekali tidak dirasakan oleh Roselline. Berjalan menyusuri jalanan batu yang rapi di bawah pengawalan ketat, ia merasa tengah berjalan di atas bara api yang menyala. Pangeran Cedric berjalan tepat di sampingnya, mengenakan jubah bangsawan berbulu tipis yang membuat penampilannya tampak semakin mempesona. "Udara sore ini sangat menyegarkan, bukan?" ucap Cedric ramah, menoleh sekilas ke arah wanita di sampingnya. "Aku senang kau mau menemaniku keluar hari ini, Evelyn. Akhir-akhir ini, urusan istana membuat kepalaku pening, dan berada di sisimu adalah satu-satunya hal yang bisa menenangkanku." Roselline tersenyum kaku, menarik sudut bibirnya setengah inci. Di balik senyuman manis itu, kepalanya berputar hebat memikirkan cara agar kencan terpaksa ini segera berakhir. * ‘Tenang, Roselline ... sebentar lagi selesai. Jangan sampai pangeran ini curiga,' ba
Usai pengepungan oleh Marques Lunaria, kediaman Celestia kembali tenang. Namun tidak berlaku untuk Roselline yang masih terjebak dengan Cedric.Di bawah naungan pohon rindang, mereka duduk berhadapan. Menikmati secangkir teh hangat untuk merilekskan saraf mereka yang sempat tegang. Cedric bercerita panjang lebar dengan binar bahagia yang kentara.Roselline menahan punggungnya agar tetap tegak seperti Evelyn biasanya. Ia ingin pergi, namun tak mungkin meninggalkan Cedric. Ia melirik Evelyn yang berdiri beberapa meter dari sana. Padahal harusnya momen manis ini untuk membangun hubungan kedua pemeran utama dalam novelnya.'Maafkan aku Eve ... malah membiarkanmu berdiri di sana sendirian.'Rasa bersalah mengantam batin Roselline. Ia memilih mengalihkan pandangan ke sisi lain taman Celestia. Tiba-tiba ... tanpa suara desau angin atau jejak langkah kaki, sesosok bayangan hitam tiba-tiba sudah berdiri tegak di balik pohon. Kehadirannya begitu senyap bagaikan hantu yang keluar dari celah keg







