Share

2. Protagonis Utama

Author: VR Lien
last update publish date: 2026-07-05 19:53:54

“Jangan bergerak!”

Suara berat itu terdengar tepat di samping telinga Roselline.

“Atau… aku akan memastikan kau tidak bisa turun dari ranjang ini sampai besok, Rosie.”

Sepasang lengan kokoh melingkari pinggangnya dari belakang. Roselline sontak menegang.

Punggungnya menempel pada dada pria itu. Hembusan napas hangat menyentuh tengkuknya, membuat seluruh tubuhnya seketika kaku.

“Z-Zal …”

“Hmm?”

“Ini sudah pagi.”

“Aku tahu.”

“Kalau tahu, kenapa kau masih memelukku?” dumel Roselline berusaha menyentak suaminya.

“Karena aku belum ingin melepaskanmu.”

Jawaban itu begitu santai hingga Roselline tidak tahu harus membalas apa.

Ia menoleh sedikit. Wajah tampan Zal langsung memenuhi pandangannya.

Rambut hitamnya berantakan setelah tidur. Beberapa helai jatuh di atas dahi, sementara mata abu-abunya menatap Roselline dengan ekspresi malas yang entah bagaimana tetap terlihat mengancam.

Roselline segera mengalihkan pandangan. Di pagi hari dengan pemandangan seindah ini … jantungnya tidak kuat.

 “Lepaskan!” pinta Roselline.

“Lima menit lagi,” balas Zal malah mempererat pelukannya.

“Kau bilang begitu sepuluh menit lalu.”

“Kalau begitu… lima menit berikutnya.” Pemuda itu semakin menenggelamkan wajahnya ke leher Roselline.

“Dasar pemalas!” cibir Roselline sembari menahan tubuhnya yang mulai meremang karena posisi yang terlalu dekat.

Sudut bibir Zal terangkat. “Aku hanya malas melepaskan istriku.”

Jantung Roselline berdetak semakin tidak karuan. Mungkin Zal mampu mendengarnya. 

Mereka baru menikah kemarin. Semuanya terjadi terlalu cepat.

Namun justru itu yang membuat Roselline gelisah. Ia tidak boleh terlena.

Ia masih memiliki misi. Ia masih harus menemukan Evelyn Celestia sang Protagonis.

Roselline menarik napas panjang. “Zal.”

“Hm?”

“Aku ingin pergi ke pasar.”

Pelukan di pinggangnya mengendur sedikit. “Untuk apa?”

“Belanja,” jawab Roselline yang tentu saja hanya sebuah alasan agar dia bisa keluar dari gubuk ini.

“Kita punya cukup makanan,” kata Zal, jelas sekali menolak Roselline untuk pergi.

Gadis itu menghela napas berat. Ia memutar otak untuk menemukan alasan lain.

“Aku ingin melihat keadaan kota.”

“Tidak perlu.” Zal menolak begitu cepat.

Roselline mengernyit. “Kenapa?”

“Karena aku tidak menyukainya.”

“Apa?”

“Pria-pria di luar.”

Roselline menatapnya tidak percaya.

“Serius?”

“Serius.”

“Jadi aku tidak boleh keluar hanya karena ada pria lain?”

“Bukan."

Zal akhirnya melepaskan pelukannya dan duduk di tepi ranjang. Tatapannya berubah lebih serius.

“Aku tidak suka mereka melihatmu.”

Roselline terdiam.

Ada sesuatu dalam tatapan itu yang membuatnya sulit menganggap ucapan Zal sebagai candaan.

“Aku bukan wanita cantik. Mereka tidak akan tertarik padaku,” ujar Roselline.

Zal menatapnya lama. Kemudian ia berkata datar, “Jangan menghina selera suamimu.”

Pipi Roselline langsung memanas. “Bukan begitu maksudku!”

“Aku tahu.”

Zal perlahan bangkit. Ia mengambil mantel hitam yang tergantung di dekat kursi dan mengenakannya. “Aku harus pergi sebentar.”

“Ke mana?” tanya Roselline.

“Memeriksa perbatasan kota.”

Roselline langsung mengangguk. Kemarin ia sudah tahu pekerjaan Zal sebagai salah satu pengawal. Meski sistem tak menjelaskan secara lengkap mengenai pemuda itu.

“Kalau begitu aku ikut.” Ia turun dari ranjang kayu mereka.

“Tidak.” Zal berbalik, menatapnya galak.

“Kenapa? Aku ingin pergi ke pasar tidak boleh. Ikut kau pun tak boleh. Jika kau begini … aku akan kabur sejauh mungkin!” ancam Roselline.

Rahang Zal mengeras. Roselline sebenarnya sedikit takut dengan tatapan suaminya sekarang. Namun ia harus segera bergerak demi misinya.

“Kalau jangan terlalu lama di luar,” kata Zal membuat mata Roselline berbinar.

Pemuda itu mengambil sekantong uang koin dari sakunya dan meletakkannya di telapak tangan Roselline. 

“Gunakan ini.”

Roselline melihat jumlahnya. Matanya membesar. “Sebanyak ini?”

“Kurang?”

“Bukan! Ini terlalu banyak!”

“Kalau kurang, minta lagi.”

Roselline menatap pria di depannya dengan curiga. Seorang penjaga biasa memiliki uang sebanyak ini?

Pakaian sederhana. Penampilan seperti rakyat biasa. Tetapi uangnya… Tidak masuk akal.

Dan bukan hanya itu. Ada sesuatu yang jauh lebih mengganggunya.

Sejak pertama kali bertemu, Zal tidak pernah terlihat seperti seseorang yang baru mengenalnya.

Tatapannya. Caranya berbicara. Bahkan caranya menyentuhnya. Semuanya terasa terlalu akrab.

Seolah-olah … mereka sudah saling mengenal jauh lebih lama daripada yang seharusnya.

“Kenapa menatapku seperti itu?”

Roselline tersadar. Ia langsung tersenyum canggung. “Tidak ada.”

Zal menyipitkan mata. “Kau sedang memikirkan sesuatu.”

“Aku tidak!” 

Zal mendekat. Roselline mundur selangkah. Pria itu berhenti tepat di depannya.

“Jangan pergi terlalu jauh. Dan jangan melakukan sesuatu yang berbahaya.”

“Aku tahu,” balas Roselline berharap suaminya ini segera pergi.

“Kalau ada masalah, panggil aku.”

Roselline mengangguk. Zal kemudian menundukkan kepalanya dan mengecup keningnya singkat.

“Bagus.”

Setelah itu Zal pergi.

Roselline berdiri diam beberapa saat. Tangannya perlahan menyentuh kening.

“Pria ini …” Ia menggeleng. “Benar-benar aneh.”

---

Beberapa saat kemudian, Roselline akhirnya keluar. Ia tidak berniat mencari masalah. Setidaknya, itu yang ia katakan kepada dirinya sendiri.

Namun semakin jauh berjalan, semakin kuat perasaan aneh yang muncul dalam dirinya. Oakheven jauh lebih ramai daripada yang ia bayangkan.

Pedagang memenuhi sisi jalan. Kereta kuda berlalu-lalang. Anak-anak berlarian di antara toko-toko kecil.

Untuk pertama kalinya sejak terbangun di dunia ini, Roselline merasa sedikit bebas.

“Kalau begini terus, aku bisa gila tinggal di rumah.”

Ia berhenti di sebuah kios buah. Saat sedang memilih apel, suara aneh tiba-tiba terdengar di kepalanya.

TING!

Roselline membeku. Ia menelan ludah.

“Apa lagi?”

[PROTAGONIS UTAMA TERDETEKSI.]

[LOKASI: DISTRIK LUAR OAKHAVEN.]

[JARAK: 173 METER.]

“Evelyn …”

Jantungnya berdebar. Akhirnya, setelah tujuh hari mencari, ia akhirnya menemukan protagonis.

Roselline segera meninggalkan kios. Namun baru beberapa langka, suara kepanikan terdengar dari arah jalan utama.

“Minggir!”

“Hati-hati!”

“Kereta itu kehilangan kendali!”

Roselline menoleh. Sebuah kereta kuda melaju liar ke arah kerumunan.

Dua ekor kuda berlari tanpa kendali. Roda kereta menghantam batu jalan. Orang-orang berteriak dan berusaha menyingkir.

Tanpa berpikir, Roselline berlari. Namun langkahnya terhenti. Kaki kanannya yang sebelumnya terkilir kembali terasa sakit.

“Akh!”

Tubuhnya kehilangan keseimbangan. Kereta itu semakin dekat. Kuda-kuda liar meringkik keras.

Roselline menutup mata. Tiba-tiba—

“Jangan bergerak!”

Suara yang sangat dikenalnya terdengar dari belakang. Roselline membuka mata.

Sosok hitam melesat melewatinya. Pria itu berlari menuju kereta dengan kecepatan yang tidak masuk akal.

“Zal?!” pekik Roselline saat suaminya malah melompat ke arah kuda.

Tangannya meraih tali kekang salah satu kuda. Kuda itu meringkik dan mengangkat kedua kaki depannya.

Zal tidak bergeming. Otot lengannya menegang. Kakinya menyeret beberapa senti di atas tanah sebelum akhirnya berhenti.

Kuda kedua masih berlari. Zal memutar tubuhnya. Tangannya menangkap tali kekang lainnya.

Dengan satu tarikan keras—

BRAK!

Kedua kuda akhirnya berhenti. Kereta berguncang hebat. Akibatnya, pintu terbuka.

Gadis berambut pirang itu hampir terjatuh. Zal langsung menangkapnya. Namun hanya sesaat.

Ia segera menyerahkan gadis itu kepada pelayannya. Tatapannya kemudian beralih kepada Roselline.

“Rosie!” 

Roselline menelan ludah. Gawat! Pemuda tampaknya sangat marah.

Zal berjalan mendekat. Ia langsung membantu istrinya berdiri. “Kau terluka.”

“Aku baik-baik saja,” jawab Roselline.

“Bukankah aku sudah bilang jangan pergi terlalu jauh?”

“Aku cuma—”

“Kau hampir tertabrak kereta. Itulah kenapa aku melarang mu keluar,” marah pemuda itu.

Roselline terdiam. Betapa sialnya ia hari ini. 

"Astaga! Kalian tidak apa-apa?!"

  Sebuah suara cemas memotong perdebatan mereka. Dua orang wanita bergegas turun dari kereta dengan langkah tergesa-gesa.

  Wanita pertama, yang mengenakan gaun katun pelayan berwarna biru gelap yang sederhana, langsung berlari menghampiri Roselline dengan wajah panik. 

"Mohon maafkan kami! Kuda-kuda kami mendadak panik karena segerombolan babi hutan yang tiba-tiba melintas di jalan kami! Apakah Anda terluka?"

  Sementara itu, wanita kedua melangkah di belakangnya. Gaunnya bergaya Kekaisaran Barat, modis dengan sulaman perak di sepanjang lengannya, meskipun potongannya terlihat sedikit lebih praktis untuk perjalanan jauh. 

Wajahnya yang seputih salju tampak dipenuhi rasa bersalah yang amat dalam.

  "Liv, minggir lah sedikit. Biar aku yang memeriksa kondisinya," ucap wanita bangsawan itu dengan suara selembut denting lonceng kaca. 

Ia berhenti di dekat Roselline, menatapnya dengan netra biru safir yang berkilau jernih. 

  "Nona, aku benar-benar meminta maaf atas kelalaian kusir ku. Apakah ada bagian tubuhmu yang sakit?"

  Ting!

  Sebuah kotak teks hologram biru neon mendadak muncul tepat di hadapan Roselline, berkedip lembut.

  [ Karakter Utama Terdeteksi! ]

  [ Nama: Evelyn Celestia ]

  [ Usia: 18 Tahun ]

  [ Peran: Protagonis Wanita / Female Lead ]

  Roselline terpaku di tempatnya, bahkan lupa bagaimana caranya bernapas. Sepasang matanya melebar sempurna menatap gadis di hadapannya. 

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Celine Alo08
Ada apa dengan Evelyn, mengapa Zal ingin membunuhnya?
goodnovel comment avatar
Eliyen Author
Woah, keren si Zal. Munculin satu lakik kayak gini ke dunia nyata, dong
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Grand Duke, Jangan Terlalu Dalam   79. Ekstrak Jamur

    Suasana malam di Lembah Val-Eldoria terasa sangat dingin. Angin malam yang berembus dari arah perbukitan es membawa hawa menggigit yang menusuk kulit. Namun, di dalam salah satu tenda medis yang agak terpencil, suasana justru terasa hangat oleh cahaya lentera yang redup. Roselline sedang duduk bersila di depan sebuah meja kayu kecil. Di atas meja itu, terdapat sebotol cairan bening yang memancarkan pendar kebiruan yang sangat tipis. Dengan sangat hati-hati, Roselline meneteskan sari dari jamur Nero-Glacis yang tadi sore ia petik di tepi hutan. Di balik sudut pandangnya, layar transparan berwarna biru dari Sistem terus mengapung, memberikan petunjuk langkah demi langkah.Ting! [ PROSES EKSTRAKSI SELESAI ] [ TAKARAN: DOSIS RINGAN (MENGATUR SARAF SPIRITUAL TANPA MERUSAK TUBUH) ] Roselline tersenyum lebar. Matanya berbinar riang saat melihat botol kecil di tangannya. "Sempurna!" bisik Roselline pada dirinya sendiri. Di dalam pikirannya, Roselline sudah membayangkan hasil yang sanga

  • Grand Duke, Jangan Terlalu Dalam   Manakah yang Lebih Baik?

    Hallo Readers ... Adakah yang membaca sampai sejauh ini? Jika ada, MinR (Sebutan Author VR) ingin menawarkan sesuatu pada kalian. MinR ingin merevisi beberapa konflik cerita agar lebih menegangkan lagi terutama fokus romansa karena ini Novel Fantasi Romansa. Berdasarkan draft awal MinR untuk cerita ini ada beberapa hal yang ingin Mimin ubah: 1. Pembukaan -> Bab 1 saat ini bagus, namun melihat performa buku ini selama 30 hari terakhir, hasil analisis menunjukkan 3 bab awal Mimin 'Sangat Kurang'. Untuk itu, Mimin akan merevisi ulang adegan agar menampilkan adegan yang kemungkinan 'Lebih Menarik'. 2. Konflik Pemeran Utama -> Ini kesalahan MinR sendiri karena tidak pernah ada penjelasan perihal 'Petaka' untuk Pemeran Utama (Evelyn Celestia) yang mana jumlahnya ada '13 Petaka'. Selain itu, Pertunangan Evelyn sebenarnya awal mula MinR gandeng kan dengan 'Grand Duke Azrael'. Namun pada saat menulis, Mimin tiba-tiba kepikiran untuk merubah pertunangan itu menjadi 'Pangeran Cedric' k

  • Grand Duke, Jangan Terlalu Dalam   78. Perubahan yang Tidak Menyenangkan

    "Suatu kehormatan melihat Anda di sini, Sepupu," tegur Cedric seraya mengangguk sopan, menjaga etika kebangsawanan meski nada suaranya mengeras tipis. "Saya tidak menyangka Grand Duke Azrael Drachenfeld memiliki waktu luang untuk mengunjungi wilayah bencana sepi seperti Val-Eldoria." Azrael meletakkan satu tangannya di gagang pedang di pinggangnya. Iris mata kekuningan nya menatap dingin ke arah Cedric. "Tugas militer dan keamanan kekaisaran berada di bawah pengawasan saya, Yang Mulia Putra Mahkota," sahut Azrael dengan suara berat yang menggema, menggunakan panggilan formal Kekaisaran kepada sepupunya. "Melindungi wilayah perbatasan dari serangan tersembunyi adalah kewajiban Faksi Barat." Kata 'serangan tersembunyi' diucapkan Azrael dengan penekanan yang teramat dalam. Pandangan sang Naga sempat melirik tajam ke arah Roselline sebelum kembali menatap Cedric. Di balik punggung Cedric, Evelyn yang berdiri agak jauh ketakutan setengah mati. 'Atmosfer di antara sepupu ini benar-b

  • Grand Duke, Jangan Terlalu Dalam   77. Menyusul

    Roselline refleks menyembunyikan tangannya yang memegang bungkusan sapu tangan ke balik lipatan gaun indahnya. Ia memasang senyum paling manis dan paling polos yang bisa ia tampilkan di wajah Evelyn. "A-Ah ... Yang Mulia Grand Duke!" sahut Roselline dengan nada suara yang sengaja dibuat agak panik namun diusahakan tetap tenang. "Kami hanya ... sedang menikmati udara segar sore hari setelah menyembuhkan warga desa." Azrael menyipitkan matanya di balik topeng perak. Langkah kakinya yang panjang maju satu tapak, mengikis jarak di antara mereka. Suasana di sekitar mereka mendadak menjadi tegang dan sarat akan tekanan sihir yang berat. "Menikmati udara segar?" ulang Azrael lambat, suaranya terdengar dingin dan penuh selidik. "Dengan berlutut di tanah basah dan menyembunyikan sesuatu di balik punggungmu?" Evelyn seketika menegang kaku, bulu kuduknya berdiri. Ia tahu betul betapa mengerikannya insting sang Grand Duke jika sudah mencurigai sesuatu. Namun, Roselline justru tidak menunju

  • Grand Duke, Jangan Terlalu Dalam   76. Barang Bagus!

    Pendar cahaya suci yang baru saja menyelimuti Lembah Val-Eldoria perlahan menyurut, meninggalkan aroma keheningan yang menenangkan di udara. Luapan es yang semula membeku kaku kini mencair menjadi aliran air jernih, mengalir tenang menyusuri parit-parit desa yang mulai bersih dari lumpur beracun. Warga desa menyeka air mata haru, membungkuk dalam-dalam memberi penghormatan kepada sosok yang mereka yakini sebagai Sang Putri Bulan. "Terima kasih, Lady Evelyn! Kebaikan Anda tidak akan pernah kami lupakan!" seru seorang tetua desa dengan suara bergetar. Roselline menyunggingkan senyum anggun, mengangguk pelan seraya membalas salam warga. Namun, begitu melangkah agak jauh dari kerumunan, ia segera menyikut lengan Evelyn yang berjalan mengekor di sampingnya. "Eve, ayo kita jalan-jalan menyusuri sudut desa," bisik Roselline pelan, matanya melirik ke sekeliling. "Kita harus memastikan tidak ada sisa-sisa sihir hitam atau anomali lain yang tertinggal di daerah ini." Evelyn mengangguk set

  • Grand Duke, Jangan Terlalu Dalam   75. Desa Val-Eldoria

    Dekapan di pinggangnya terasa begitu erat, protektif, dan sarat akan kekuatan yang amat dahsyat. Aroma wangi kayu cendana yang bersatu dengan pendar sihir kegelapan seketika menyengat indra penciuman Roselline. Namun, begitu pandangannya beradu dengan pria bertopeng perak yang memeluknya—Sang Pria Tertinggi di militer Kekaisaran, Grand Duke Azrael Drachenfeld—pikiran Roselline justru berputar ke arah yang sepenuhnya salah. ‘Tunggu dulu ... kenapa Grand Duke Azrael menyelamatkanku seerat ini?!’ batin Roselline panik sekaligus jengkel setengah mati. Sebab di matanya saat ini, ia hanyalah Lady Evelyn Celestia—seorang wanita asing yang tidak ada hubungannya dengan sang Grand Duke! ‘Apa-apaan pria bertopeng ini?! Apakah dia tipe pria yang suka tebar pesona pada wanita bangsawan lain?! Kurang ajar sekali ... Padahal dia sendiri sudah punya tunangan.’ Dengan rasa dongkol yang membakar dada, Roselline mendorong dada tegap Azrael secara kasar. "Lepaskan saya, Yang Mulia Grand Duke!" des

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status