LOGIN“Jangan bergerak!”
Suara berat itu terdengar tepat di samping telinga Roselline. “Atau… aku akan memastikan kau tidak bisa turun dari ranjang ini sampai besok, Rosie.” Sepasang lengan kokoh melingkari pinggangnya dari belakang. Roselline sontak menegang. Punggungnya menempel pada dada pria itu. Hembusan napas hangat menyentuh tengkuknya, membuat seluruh tubuhnya seketika kaku. “Z-Zal …” “Hmm?” “Ini sudah pagi.” “Aku tahu.” “Kalau tahu, kenapa kau masih memelukku?” dumel Roselline berusaha menyentak suaminya. “Karena aku belum ingin melepaskanmu.” Jawaban itu begitu santai hingga Roselline tidak tahu harus membalas apa. Ia menoleh sedikit. Wajah tampan Zal langsung memenuhi pandangannya. Rambut hitamnya berantakan setelah tidur. Beberapa helai jatuh di atas dahi, sementara mata abu-abunya menatap Roselline dengan ekspresi malas yang entah bagaimana tetap terlihat mengancam. Roselline segera mengalihkan pandangan. Di pagi hari dengan pemandangan seindah ini … jantungnya tidak kuat. “Lepaskan!” pinta Roselline. “Lima menit lagi,” balas Zal malah mempererat pelukannya. “Kau bilang begitu sepuluh menit lalu.” “Kalau begitu… lima menit berikutnya.” Pemuda itu semakin menenggelamkan wajahnya ke leher Roselline. “Dasar pemalas!” cibir Roselline sembari menahan tubuhnya yang mulai meremang karena posisi yang terlalu dekat. Sudut bibir Zal terangkat. “Aku hanya malas melepaskan istriku.” Jantung Roselline berdetak semakin tidak karuan. Mungkin Zal mampu mendengarnya. Mereka baru menikah kemarin. Semuanya terjadi terlalu cepat. Namun justru itu yang membuat Roselline gelisah. Ia tidak boleh terlena. Ia masih memiliki misi. Ia masih harus menemukan Evelyn Celestia sang Protagonis. Roselline menarik napas panjang. “Zal.” “Hm?” “Aku ingin pergi ke pasar.” Pelukan di pinggangnya mengendur sedikit. “Untuk apa?” “Belanja,” jawab Roselline yang tentu saja hanya sebuah alasan agar dia bisa keluar dari gubuk ini. “Kita punya cukup makanan,” kata Zal, jelas sekali menolak Roselline untuk pergi. Gadis itu menghela napas berat. Ia memutar otak untuk menemukan alasan lain. “Aku ingin melihat keadaan kota.” “Tidak perlu.” Zal menolak begitu cepat. Roselline mengernyit. “Kenapa?” “Karena aku tidak menyukainya.” “Apa?” “Pria-pria di luar.” Roselline menatapnya tidak percaya. “Serius?” “Serius.” “Jadi aku tidak boleh keluar hanya karena ada pria lain?” “Bukan." Zal akhirnya melepaskan pelukannya dan duduk di tepi ranjang. Tatapannya berubah lebih serius. “Aku tidak suka mereka melihatmu.” Roselline terdiam. Ada sesuatu dalam tatapan itu yang membuatnya sulit menganggap ucapan Zal sebagai candaan. “Aku bukan wanita cantik. Mereka tidak akan tertarik padaku,” ujar Roselline. Zal menatapnya lama. Kemudian ia berkata datar, “Jangan menghina selera suamimu.” Pipi Roselline langsung memanas. “Bukan begitu maksudku!” “Aku tahu.” Zal perlahan bangkit. Ia mengambil mantel hitam yang tergantung di dekat kursi dan mengenakannya. “Aku harus pergi sebentar.” “Ke mana?” tanya Roselline. “Memeriksa perbatasan kota.” Roselline langsung mengangguk. Kemarin ia sudah tahu pekerjaan Zal sebagai salah satu pengawal. Meski sistem tak menjelaskan secara lengkap mengenai pemuda itu. “Kalau begitu aku ikut.” Ia turun dari ranjang kayu mereka. “Tidak.” Zal berbalik, menatapnya galak. “Kenapa? Aku ingin pergi ke pasar tidak boleh. Ikut kau pun tak boleh. Jika kau begini … aku akan kabur sejauh mungkin!” ancam Roselline. Rahang Zal mengeras. Roselline sebenarnya sedikit takut dengan tatapan suaminya sekarang. Namun ia harus segera bergerak demi misinya. “Kalau jangan terlalu lama di luar,” kata Zal membuat mata Roselline berbinar. Pemuda itu mengambil sekantong uang koin dari sakunya dan meletakkannya di telapak tangan Roselline. “Gunakan ini.” Roselline melihat jumlahnya. Matanya membesar. “Sebanyak ini?” “Kurang?” “Bukan! Ini terlalu banyak!” “Kalau kurang, minta lagi.” Roselline menatap pria di depannya dengan curiga. Seorang penjaga biasa memiliki uang sebanyak ini? Pakaian sederhana. Penampilan seperti rakyat biasa. Tetapi uangnya… Tidak masuk akal. Dan bukan hanya itu. Ada sesuatu yang jauh lebih mengganggunya. Sejak pertama kali bertemu, Zal tidak pernah terlihat seperti seseorang yang baru mengenalnya. Tatapannya. Caranya berbicara. Bahkan caranya menyentuhnya. Semuanya terasa terlalu akrab. Seolah-olah … mereka sudah saling mengenal jauh lebih lama daripada yang seharusnya. “Kenapa menatapku seperti itu?” Roselline tersadar. Ia langsung tersenyum canggung. “Tidak ada.” Zal menyipitkan mata. “Kau sedang memikirkan sesuatu.” “Aku tidak!” Zal mendekat. Roselline mundur selangkah. Pria itu berhenti tepat di depannya. “Jangan pergi terlalu jauh. Dan jangan melakukan sesuatu yang berbahaya.” “Aku tahu,” balas Roselline berharap suaminya ini segera pergi. “Kalau ada masalah, panggil aku.” Roselline mengangguk. Zal kemudian menundukkan kepalanya dan mengecup keningnya singkat. “Bagus.” Setelah itu Zal pergi. Roselline berdiri diam beberapa saat. Tangannya perlahan menyentuh kening. “Pria ini …” Ia menggeleng. “Benar-benar aneh.” --- Beberapa saat kemudian, Roselline akhirnya keluar. Ia tidak berniat mencari masalah. Setidaknya, itu yang ia katakan kepada dirinya sendiri. Namun semakin jauh berjalan, semakin kuat perasaan aneh yang muncul dalam dirinya. Oakheven jauh lebih ramai daripada yang ia bayangkan. Pedagang memenuhi sisi jalan. Kereta kuda berlalu-lalang. Anak-anak berlarian di antara toko-toko kecil. Untuk pertama kalinya sejak terbangun di dunia ini, Roselline merasa sedikit bebas. “Kalau begini terus, aku bisa gila tinggal di rumah.” Ia berhenti di sebuah kios buah. Saat sedang memilih apel, suara aneh tiba-tiba terdengar di kepalanya. TING! Roselline membeku. Ia menelan ludah. “Apa lagi?” [PROTAGONIS UTAMA TERDETEKSI.] [LOKASI: DISTRIK LUAR OAKHAVEN.] [JARAK: 173 METER.] “Evelyn …” Jantungnya berdebar. Akhirnya, setelah tujuh hari mencari, ia akhirnya menemukan protagonis. Roselline segera meninggalkan kios. Namun baru beberapa langka, suara kepanikan terdengar dari arah jalan utama. “Minggir!” “Hati-hati!” “Kereta itu kehilangan kendali!” Roselline menoleh. Sebuah kereta kuda melaju liar ke arah kerumunan. Dua ekor kuda berlari tanpa kendali. Roda kereta menghantam batu jalan. Orang-orang berteriak dan berusaha menyingkir. Tanpa berpikir, Roselline berlari. Namun langkahnya terhenti. Kaki kanannya yang sebelumnya terkilir kembali terasa sakit. “Akh!” Tubuhnya kehilangan keseimbangan. Kereta itu semakin dekat. Kuda-kuda liar meringkik keras. Roselline menutup mata. Tiba-tiba— “Jangan bergerak!” Suara yang sangat dikenalnya terdengar dari belakang. Roselline membuka mata. Sosok hitam melesat melewatinya. Pria itu berlari menuju kereta dengan kecepatan yang tidak masuk akal. “Zal?!” pekik Roselline saat suaminya malah melompat ke arah kuda. Tangannya meraih tali kekang salah satu kuda. Kuda itu meringkik dan mengangkat kedua kaki depannya. Zal tidak bergeming. Otot lengannya menegang. Kakinya menyeret beberapa senti di atas tanah sebelum akhirnya berhenti. Kuda kedua masih berlari. Zal memutar tubuhnya. Tangannya menangkap tali kekang lainnya. Dengan satu tarikan keras— BRAK! Kedua kuda akhirnya berhenti. Kereta berguncang hebat. Akibatnya, pintu terbuka. Gadis berambut pirang itu hampir terjatuh. Zal langsung menangkapnya. Namun hanya sesaat. Ia segera menyerahkan gadis itu kepada pelayannya. Tatapannya kemudian beralih kepada Roselline. “Rosie!” Roselline menelan ludah. Gawat! Pemuda tampaknya sangat marah. Zal berjalan mendekat. Ia langsung membantu istrinya berdiri. “Kau terluka.” “Aku baik-baik saja,” jawab Roselline. “Bukankah aku sudah bilang jangan pergi terlalu jauh?” “Aku cuma—” “Kau hampir tertabrak kereta. Itulah kenapa aku melarang mu keluar,” marah pemuda itu. Roselline terdiam. Betapa sialnya ia hari ini. "Astaga! Kalian tidak apa-apa?!" Sebuah suara cemas memotong perdebatan mereka. Dua orang wanita bergegas turun dari kereta dengan langkah tergesa-gesa. Wanita pertama, yang mengenakan gaun katun pelayan berwarna biru gelap yang sederhana, langsung berlari menghampiri Roselline dengan wajah panik. "Mohon maafkan kami! Kuda-kuda kami mendadak panik karena segerombolan babi hutan yang tiba-tiba melintas di jalan kami! Apakah Anda terluka?" Sementara itu, wanita kedua melangkah di belakangnya. Gaunnya bergaya Kekaisaran Barat, modis dengan sulaman perak di sepanjang lengannya, meskipun potongannya terlihat sedikit lebih praktis untuk perjalanan jauh. Wajahnya yang seputih salju tampak dipenuhi rasa bersalah yang amat dalam. "Liv, minggir lah sedikit. Biar aku yang memeriksa kondisinya," ucap wanita bangsawan itu dengan suara selembut denting lonceng kaca. Ia berhenti di dekat Roselline, menatapnya dengan netra biru safir yang berkilau jernih. "Nona, aku benar-benar meminta maaf atas kelalaian kusir ku. Apakah ada bagian tubuhmu yang sakit?" Ting! Sebuah kotak teks hologram biru neon mendadak muncul tepat di hadapan Roselline, berkedip lembut. [ Karakter Utama Terdeteksi! ] [ Nama: Evelyn Celestia ] [ Usia: 18 Tahun ] [ Peran: Protagonis Wanita / Female Lead ] Roselline terpaku di tempatnya, bahkan lupa bagaimana caranya bernapas. Sepasang matanya melebar sempurna menatap gadis di hadapannya.Obor dinding yang menyala memancarkan nyala api kuning kemerahan, menyoroti dinding batu tua yang dingin. Di salah satu sudut ruangan, Valentina dibaringkan di atas ranjang darurat. Luka-luka di tubuhnya telah diobati dengan salep medis bermutu tinggi berkat bantuan sihir penyembuhan Evelyn sebelumnya. Wanita itu kini tertidur pulas dalam pengaruh obat penenang, napasnya terdengar perlahan dan teratur, melepaskan diri dari cengkeraman rasa sakit yang sempat menyiksanya. Beberapa langkah dari sana, di balik sekat tirai beludru tebal yang memisahkan ruangan tersebut, ketegangan yang sama sekali berbeda sedang mencengkeram udara. Azrael berdiri tegak dengan jubah hitamnya. Topeng perak yang menutupi separuh wajahnya memantulkan pendar cahaya obor yang suram, sementara iris mata kekuningannya menatap tajam kepada satu-satunya sosok yang berdiri di hadapannya. Evelyn—yang saat ini terperangkap di dalam tubuh fisik Roselline—menelan ludah dengan susah payah. Kakinya terasa lemas, dan ke
Suara tamparan itu masih menyisakan gema tipis di sudut-sudut ruang bawah tanah yang berlembab. Valentina mematung di tempatnya. Kepala wanita itu terhuyung ke samping, dengan bekas telapak tangan yang perlahan memerah di kulit pipinya yang pucat pasi. Selama bertahun-tahun hidup di bawah bayang-bayang kekejaman keluarga Lunaria, tidak pernah ada satu pun bangsawan—bahkan dari faksi musuh seperti Evelyn—yang berani menyentuhnya dengan cara seperti itu. Napas Valentina terengah-engah. Bibirnya bergetar hebat, bukan karena rasa sakit di pipinya, melainkan karena kebingungan luar biasa yang melanda batinnya. "Kau ..." cicit Valentina lirih, matanya yang sayu menatap sosok bergaun indah di hadapannya dengan tatapan kosong. "Kenapa ... kenapa kau menamparku? Bukankah seharusnya kau tertawa di atasku?" Roselline menarik napas panjang. Kemarahan di dadanya kini melebur menjadi rasa iba yang teramat dalam. Tanpa ragu sedikit pun, ia menjatuhkan lututnya ke lantai batu yang kotor, mengabaik
Udara malam di distrik bangsawan Faksi Lunaria terasa begitu lembap dan menusuk tulang. Di bawah naungan jubah hitam bertudung, Roselline dan Evelyn bergerak lincah menyusup melewati tembok belakang kediaman Marquess Lunaria. Berbekal pengetahuan sang penulis tentang denah rahasia bangunan tersebut, mereka berhasil menghindari para penjaga tanpa menimbulkan kecurigaan sedikit pun. Begitu tiba di depan pintu besi tua yang berkarat di sudut halaman belakang, bau anyir darah dan kelembapan langsung menguap keluar dari balik celahnya. Pintu itu menuju ke ruang bawah tanah—tempat di mana Valentina Lunaria dikurung. "Roselline, apa kau benar-benar yakin ingin masuk ke sini?" bisik Evelyn cemas, menarik pelan ujung jubah Roselline saat mereka menuruni anak tangga batu yang gelap dan berlumut. "Kalau ketahuan oleh keluarga Lunaria, kita bisa dianggap bersekongkol dengan musuh politik." Roselline tidak langsung menjawab. Langkah kakinya terhenti sejenak ketika sebuah layar transparan berwar
Bisik-bisik yang sedari tadi tertahan di antara para bangsawan Faksi Celestia seketika pecah begitu ucapan tajam Azrael mengudara di pelataran utama. Suasana yang awalnya dipenuhi kebanggaan atas kepulangan sang Putri Bulan mendadak berubah menjadi panggung gosip yang panas. Count Celestia terlihat salah tingkah, buru-buru maju beberapa langkah untuk meredakan situasi yang kian memanas di hadapan calon menantunya. "Y-Yang Mulia Grand Duke, mari kita bicarakan ini di dalam ruang tamu secara baik-baik," ujar Count Celestia canggung, berusaha merangkul suasana dengan senyum dipaksakan. "Putri saya tentu kelelahan setelah perjalanan panjang dari Val-Eldoria." Azrael melirik Count Celestia sekilas dengan tatapan dingin yang sanggup membekukan darah siapa pun. Namun, sebelum situasi menjadi semakin tak terkendali, Roselline dengan cepat mengambil alih kendali situasi. Sebagai penulis asli, ia tahu betul bagaimana cara meredam konflik sosial di depan
Langit di atas ibu kota Kekaisaran tampak kelabu, menyambut kepulangan rombongan ekspedisi kemanusiaan dari Lembah Val-Eldoria dengan udara dingin yang menggigit. Sepanjang gerbang utama, kerumunan rakyat tumpah ruah ke jalanan, bersorak-sorai dan memanggil nama Lady Evelyn dengan penuh pemujaan. Berita tentang keajaiban sihir suci yang memulihkan desa bencana itu telah menyebar seperti kobaran api di musim kering. Di atas kereta kuda mewah Faksi Celestia, Roselline menarik tirai beludru sedikit untuk melihat lautan manusia di luar. Kepalanya mendadak pening. "Rakyat benar-benar memuja tubuhmu sekarang, Eve," gumam Roselline pelan, menoleh ke arah Evelyn yang duduk di depannya. Evelyn, yang kini berwajah Roselline dan mengenakan seragam pengawal Faksi Callen, hanya bisa menghela napas pasrah. Gadis itu merapikan kerah bajunya dengan canggung. "Aku bahkan merasa asing dengan namaku sendiri saat mereka berteriak memanggilnya," balas Evelyn jujur, nada suaranya terdengar cemas. "Lagi
"Uhuk! Uhuk!" Batuk keras Azrael bergema nyaring memecahkan keheningan tenda utama. Suara deritan kayu tebal yang mengerak di bawah cengkeraman tangannya membuat udara malam yang dingin seketika mendadak tegang. Roselline membelalak sempurna. Jantungnya serasa berhenti berdetak saat melihat pendar sihir hitam bercampur merah membara meluap liar dari sela-sela jemari Azrael. Pria itu menunduk dalam, menopang tubuhnya yang mendadak gemetar hebat di atas meja. "Yang Mulia Grand Duke?!" panggil Roselline panik, raut wajah sok anggunnya sirna digantikan oleh kepanikan murni. "A-Ada apa dengan Anda? Apakah tehnya terlalu panas?" Cedric yang duduk di kursi utama secepat kilat berdiri dari tempatnya. Wajah sang Putra Mahkota berubah sangat dingin dan penuh selidik. Tangannya menyentuh gagang pedang di pinggang. "Azrael? Ada apa denganmu?" tanya Cedric curiga, matanya berganti menatap cangkir teh yang sudah kosong dan raut wajah 'Evelyn' yang pucat. "Apakah ada yang salah dengan minuman i







