Share

8. Bingkisan Misterius

Penulis: pramudining
last update Terakhir Diperbarui: 2025-05-17 10:04:43

Happy Reading

*****

Mutia membungkam bibir Novita dengan cepat, sampai suara perempuan berkulit kuning langsat itu tak terdengar lagi. Istri Alfian tersebut bahkan sempat memukul pergelangan sahabatnya supaya melepas tangannya dari bibir.

"Semua pertanyaan konyolmu itu akan terjawab setelah kita selesai membagikan rapor." Mutia bergerak menjauhi sahabatnya yang sempat mengeluarkan kata-kata umpatan.

"Awas saja kalau kamu nggak cerita nanti," ancam Novita yang dibalas oleh perempuan beralis tebal di depannya dengan menjulurkan lidah. "Dih, genit."

"Biarin." Mutia melangkah meninggalkan sahabatnya. Dia harus segera menyelesaikan tugasnya sebagai seorang pendidik. Baru setelahnya, perempuan yang memiliki bibir tipis itu akan mengurus masalah pribadinya, termasuk masalah paket teror tadi.

Masuk ke ruang kelas yang sudah terisi beberapa wali murid, Mutia mulai berpidato. Menyampaikan beberapa hal penting tentang perkembangan para anak didiknya serta pengumuman dari kepala sekolah.

Hampir dua jam lebih, Mutia akhirnya bisa menyelesaikan tugasnya sebagai seorang pendidik dan wali kelas dari anak-anak kelas tujuh. Perempuan itu mulai membereskan mejanya dan bersiap meninggalkan tempat tersebut, tetapi suara seseorang datang menginterupsinya.

"Dengan Ibu Mutia?" tanya seorang lelaki yang mengenakan pakaian serba hitam.

Mutia mengamati lelaki paruh baya tersebut dari ujung kaki hingga kepala. Orang yang berdiri di hadapannya itu terlihat sopan dan berkelas, sama sekali tidak terlihat seperti penjahat yang mungkin akan mencelakai sang guru cantik.

"Benar, Pak. Saya Mutia. Ada yang bisa saya bantu?" tanya sang guru.

Lelaki berseragam hitam tersebut menyerahkan paper bag di tangannya pada Mutia. "Bu, ini titipan ...."

Belum selesai lelaki yang kemungkinan umurnya lebih tua darinya, Mutia memundurkan langkah bahkan kepalanya menggeleng dengan cepat. Rupanya, kejadian sebelum pembagian rapor membuat sang guru trauma untuk menerima suatu barang dari orang yang tak dikenal.

"Kenapa, Bu?" tanya si lelaki yang melihat ketakutan di wajah Mutia.

"Tolong bawa pergi saja barang itu jika hanya untuk menakuti saya," ucap Mutia gemetaran.

"Bu, maksudnya gimana? Saya, cuma ditugaskan untuk mengantar ini sama Bapak. Jika saya tidak bisa melaksanakan tugas dengan baik, pasti Bapak akan memecat saya," ucap sang lelaki, wajahnya mulai terlihat menyedihkan membuat Mutia mengerutkan kening.

"Jadi, benar? Apa yang Bapak bawa itu, hanya untuk meneror saya?" teriak Mutia.

"Hah?!" jawab si lelaki dengan wajah cengo. Sama sekali tidak mengerti dengan maksud dan ucapan sang guru.

"Pergi, Pak!" usir Mutia sambil mendorong tubuh lelaki tersebut.

"Mut, ada apa?" tanya Novita yang kebetulan melihat sahabatnya mendorong seorang lelaki.

"Sebentar, Bu. Sepertinya, njenengan salah paham," ucap si lelaki dengan potongan rambut belah tengah.

"Pergi dan bawa bungkusan itu!" usir Mutia seperti orang kesurupan.

"Mut, tenang. Jelaskan padaku, ini ada apa sebenarnya? Kenapa mukamu sampai pucat dan berteriak-teriak gini?" Novita merangkul sahabatnya dengan cepet, lalu menatap penuh curiga pada lelaki di hadapannya.

"Bapak siapa? Kenapa sampai membuat sahabat saya seperti ini. Saya bisa melaporkan kejadian ini ke pihak berwajib, lho. Ini lingkungan sekolah dan masih banyak orang di sekitarnya. Jika bapak sampai berbuat asusila pada Mutia, saya pasti akan berteriak agar semua orang datang dan memukuli Bapak."

"Hah?!" Lelaki itu makin bingung dan tidak mengerti dengan arah pembicaraan Novita.

"Pergi nggak, atau saya akan sungguh-sungguh berteriak supaya semua orang memukuli Bapak," kata Novita keras, sementara Mutia masih gemetaran di pelukan sahabatnya. Kekasih Nazar itu cuma bisa diam.

Si lelaki terdiam seperti memikirkan sesuatu. "Kayaknya Ibu dan Bu Mutia salah paham. Dari awal, saya sudah menyampaikan bahwa saya diminta datang menyerahkan paper bag ini sama bapak. Tidak ada maksud apa pun, apalagi sampai menakut-nakuti Bu Mutia."

"Bapak siapa yang Anda maksud?" tanya Mutia dan Novita bersamaan.

Lelaki berseragam hitam itu baru bisa tersenyum dan bernapas lega setelah dua perempuan tersebut tak lagi berkata keras seperti tadi.

"Pak Bagas," jawab si lelaki.

Mutia dengan cepat menyambar bingkisan yang berada di tangan lelaki berseragam tersebut. Lalu, berkata, "Sampaikan padanya saya sudah menerima bingkisan ini."

"Mut, siapa Pak Bagas yang dimaksud orang ini?" tanya Novita dengan wajah penasaran sekaligus curiga.

"Bapak boleh pergi sekarang," usir Mutia. Dia mencoba mengabaikan pertanyaan sahabatnya.

"Tapi, Bu. Bapak juga mengatakan bahwa Ibu harus segera pulang ke rumah sebelum Bapak pulang kantor," ucap si lelaki sama sekali tak peduli dengan tatapan aneh Novita padanya.

"Mut, apa maksudnya?"

"Bapak pulang sekarang," kata Mutia lebih keras dari sebelumnya membuat lelaki tersebut langsung meninggalkannya tanpa menoleh lagi.

Novita menyeret pergelangan sahabatnya masuk kelas. Kedua tangannya perempuan yang berstatus istri pengacaranya itu terlipat di depan dada. Matanya tajam menatap Mutia dari ujung rambut hingga kaki. Sementara orang yang ditatap malah menundukkan dalam.

"Jelaskan padaku. Siapa Bagas dan apa hubungannya denganmu? Mengapa orang itu sampai menyuruhmu seperti tadi. Ingat, ya, Mut. Nenek sudah menitipkanmu padaku, jadi aku berhak mengetahui apa saja yang terjadi dalam hidupmu," ucap Novita tegas. Persis seperti seorang ibu yang menginterogasi putrinya yang ketahuan pacaran.

"Nov, aku bisa jelaskan. Kamu jangan salah paham dulu," ucap Mutia dengan suara bergetar seperti menahan tangis.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Guru Cantik Simpanan Anak Pejabat   150. Tetaplah Mencintaiku

    Happy Reading*****"Agak aneh," sahut Arham."Nggak aneh, cuma kaget saja. Kamu bisa ngomong sebijak itu," tambah Surya."Anak Mama ternyata sudah semakin dewasa," timpal Anjani."Makin sayang kalau suamiku seperti ini," jawab Mutia."Kalian ini," ucap Bagas, malu-malu.Anjani tidak berani berkomentar karena takut Bagas akan tersinggung. Sementara itu, Nazar sudah berhasil memeluk Fardan. Sejak anak itu ditemukan dan dibawa pulang oleh anjani dan Surya, Nazar sebenarnya juga ingin dekat. Namun, sayangnya kebenciannya pada Bagas terlalu besar sehingga menyebabkan tembok pemisah yang menjulang tinggi. Pada dasarnya, Nazar itu penyayang dan sangat menyukai anak-anak."Boy, apa kamu mau manggil aku, Om?" tanya Nazar sebelum benar-benar memeluk si kecil yang hampir beranjak remaja.Tangan Fardan terangkat, mencegah Nazar mendekatinya."Boy, jangan begitu," nasihat Bagas disertai senyuman lembut."Apaan, sih, Pa," protes si kecil. Menatap lelaki di depannya. "Om boleh meluk, tapi ada syara

  • Guru Cantik Simpanan Anak Pejabat   149. Saling Memaafkan

    Happy Reading*****Mutia hampir melayangkan kembali tamparan di pipi Nazar andai tangan sang suami tidak bergerak cepat mencekalnya."Sayang, kekerasan tidak akan menyadarkannya. Lagian, saat ini dia sedang dipengaruhi oleh alkohol. Otaknya sudah bergeser," bisik Bagas memperingati sang istri. Mutia terdiam, baru menyadari jika suaminya memang sudah berubah. Biasanya, Bagas akan langsung melakukan kekerasan fisik pada seseorang yang nyata-nyata menentangnya."Mas, dia sangat menentangmu," kata Mutia, masih tak percaya jika suaminya akan dengan mudah memaafkan apa yang sudah dilakukan Nazar."Perkataan Mutia benar. Aku menantangmu secara terang-terangan. Serahkan dia untuk kembali padaku. Maka, aku akan melupakan semua dendam ini." Nazar menatap garang pada Bagas."Nazar, di mana hati nuranimu? Kenapa kamu tega melakukan ini? Jangan sampai Mas Bagas kembali marah dan nggak akan memaafkanmu," bentak Mutia."Biarkan dia melampiaskan semua kekesalan hatinya, Sayang," sahut Bagas, "Apa y

  • Guru Cantik Simpanan Anak Pejabat   148. Saling Memaafkan

    Happy Reading*****Mutia menoleh ke arah sang suami. Mengerutkan keningnya sambil bertanya dengan gerak bibir. "Siapa?"Bagas mengangkat kedua bahunya karena memang tidak mengetahui siapa yang menelpon Mutia dan tidak mempercayai jika dia adalah suami si ibu guru."Tolong jangan marah dulu, Pak. Saya cuma pekerja kafe yang diminta untuk menelpon nomor ini. Orang itu mengatakan jika Bu Mutia adalah istrinya dan sekarang Bapak mengaku sebagai suami Bu Mutia. Jadi, saya bingung. Siapa yang benar dan salah di sini," jelas suara di seberang. "Ngawur saja!" bentak Bagas. Mutia dengan cepat memencet tombol speaker untuk mengetahui penyebab kemarahan sang suami. "Sabar, Sayang," bisik Mutia disertai kecupan di pipi sang suami. "Maaf, kalau memang salah, Pak. Kami cuma menjalankan tugas saja. Kafe kami sudah mau tutup dan orang ini mabuk berat. Jadi, tujuan saya menelpon Bu Mutia sebagai istrinya supaya mau menjemput beliau."Mutia dan Bagas saling pandang. Lalu, si ibu guru membisikkan se

  • Guru Cantik Simpanan Anak Pejabat   147. Gagal

    Happy Reading*****Mutia menempelkan kedua tangannya pada pipi sang suami. Menatap Bagas penuh cinta."Maaf, Mas Sayang," ucap si ibu guru membuat Bagas membulatkan kelopak matanya. Mutia beringsut, menggeser posisinya semula, mundur.Senyum si lelaki terbit, lalu menyerang bibir Mutia secara membabi buta. Bagas sama sekali tidak memberikan kesempatan pada sang istri untuk melanjutkan perkataannya tadi. Mengapa Mutia sampai harus meminta maaf.Selang beberapa menit kemudian karena ciuman Bagas yang menuntut, Mutia mulai kehabisan napas. Memukul-mukul pelan dada bidang sang suami, si ibu guru meminta untuk menghentikan aksi mereka.Bagas melepaskan pagutannya. Menyatukan kening dengan napas memburu. "Kenapa minta maaf, Hem?" tanyanya."Kita nggak bisa melakukan itu," kata Mutia."Kenapa?" Kedua alis Bagas hampir menyatu. Keningnya berkerut dan raut mukanya menunjukkan kekecewaan yang sangat.Si ibu guru mendekatkan bibirnya ke telinga sang suami. Lalu berkata cukup lirih, "Aku lagi da

  • Guru Cantik Simpanan Anak Pejabat   146. Sah

    Happy Reading*****Bagas mengutuk lelaki yang memecah konsentrasinya tadi. Dia menatap tajam pada tamu yang tak dikenalnya itu. Keringat pun mulai turun membasahi dahinya.Mutia dengan cepat menggerakkan tangannya, menggenggam tangan sang calon imam dan menggelengkan kepalanya supaya tidak marah pada tamu yang sedang menelepon dengan berisik tadi."Nggak usah marah-marah di hari bahagia kita. Mas bisa ngulang lagi, kok," bisik Mutia lembut."Ya, bisa. Tapi, Mas, malu, Sayang. Gara-gara orang itu ngomongnya kenceng banget. Konsentrasinya Mas buyar," kata Bagas membalas perkataan sang pujaan."Ya, sudah. Sabar, ulang saja, Mas."Tak lama setelah Mutia mengatupkan bibir, sang penghulu memintanya untuk mengulang kalimat akad tersebut. Saat itu, semua tamu undangan sudah berhenti tertawa dan mulai menyimak apa yang akan diucapkan oleh sang mempelai pria."Ayo, Mas. Kita mulai lagi, konsentrasi, ya. Jangan sampai fokusnya hilang lagi. Nanti, makin lama belas durennya," goda sang penghulu un

  • Guru Cantik Simpanan Anak Pejabat   145. Dibayar Kredit

    Happy Reading*****Mutia menganga menatap lelaki di depannya yang terlihat sangat tampan. Tampilan Bagas sungguh mempesona dan sangat menakjubkan. Pantas jika banyak wanita kepincut padanya."Terpesona, ya? Masmu ini memang ganteng, kok," bisik Bagas yang melihat Mutia masih belum berkedip dan terus menatapnya."Dih," ucap si ibu guru. Baru sadar jika dia terlena oleh ketampanan sang calon suami. Para sahabat keduanya pun tertawa melihat tingkah lucu sang calon pengantin."Jujur saja kenapa?" kata Bagas."Udah nggak usah banyak ngomong. Ayo berangkat keburu telat," ajak Mutia."Hahai, sudah ada yang nggak betah pengen segera nikah," goda Azalia.Mutia mencebik, setelahnya masuk mobil tanpa menggubris candaan para sahabatnya. Bersama Bagas sebagai sopirnya, perempuan itu melaju ke tempat pernikahan."Mas kita mau ke mana sebenarnya? Arah ini kan nggak menuju rumah utama," tanya Mutia."Hmm, siapa yang mengatakan kita nikahnya di rumah?" Menoleh pada sang pujaan, tangan Bagas mulai jah

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status