LOGINJeffreyan baru tiba dari meeting dengan perusahaan kontraktor yang akan menangani proyek barunya. Jas masih rapi di tubuhnya, meski dasi sedikit longgar karena rapat tadi cukup melelahkan. Begitu melangkah ke area kantor, netranya tak sengaja menangkap sosok Ana yang berjalan sendirian melewati lobi menuju kantin.
Langkah gadis itu tampak tergesa, seolah ingin segera menghilang dari pandangan banyak orang. Rambut hitam panjangnya tergerai sederhana, kontras dengan wajahnya yang terlihat lelah. Tanpa sadar, Jeffreyan memperlambat langkah. Ada sesuatu dalam sikap Ana yang membuatnya tak bisa begitu saja berpaling. Entah itu caranya menunduk, atau tangan mungilnya yang menggenggam erat tas selempangnya—seperti sedang menahan sesuatu. Jeffreyan hendak melanjutkan mengikuti Ana, namun getar ponselnya menghentikan langkah. “Ya, Tama?” suaranya ketus. “Maaf Tuan, saya baru saja mendapat laporan. Rudy menjual informasi rahasia perusahaan pada pihak pesaing.” “Shit!” maki Jeffreyan, urat di lehernya menegang. “Sekarang kau di mana?” “Saya di kantin, Tuan. Baru saja mendapat laporan ini.” “Keluar. Kutunggu di depan kantin. Dan suruh semua staf Rudy menghadapku satu per satu.” “Baik, Tuan.” Jeff menahan geram. Kali ini tikus itu tidak akan lolos. Namun matanya kembali menangkap sesuatu. Ana—yang beberapa menit lalu masuk ke kantin—tiba-tiba keluar tergesa dengan wajah pucat. Langkahnya kacau, seakan ingin lari dari sesuatu. Prang! Suara pecahan kaca terdengar dari arah pintu. Seorang cleaning service panik, sementara Ana berjongkok, berusaha memungut pecahan dengan tangan gemetar. “Biarkan saja, jangan dipungut! Nanti terluka!” tegur seseorang. Tapi Ana menggeleng keras. Dia takut. Belum siap untuk bertemu tatap dengan Jeffreyan—atasan yang juga perusak masa depannya. Perasaan khawatir, bersalah, sekaligus takut bercampur dalam dirinya. Tangan mungil itu kian gemetar saat menyentuh pecahan kaca. Ia berharap Jeffreyan sudah pergi. Namun ketika menoleh, pandangannya langsung terkunci pada sorot dingin yang berdiri tak jauh darinya. Deg! Ana membeku. Jeffreyan masih di sana. Tatapannya menusuk, dingin, membuat kaki Ana lemas. Dalam keadaan kacau, tubuhnya kehilangan keseimbangan. Ana terjatuh, tangannya menekan tumpukan pecahan kaca yang baru saja ia rapikan. “Sssth…” erangnya pelan, menahan perih. Tama yang baru keluar dari kantin refleks berlari membantu Ana. Ia terkejut melihat goresan besar di telapak tangan gadis itu. Sementara Jeff hanya menatap sekilas, lalu berbalik pergi dengan wajah dingin tanpa sedikit pun menolong. Kelegaan bercampur getir menyelip di hati Ana begitu melihat Jeff berlalu. Ia segera menarik tangannya dari genggaman Tama. Tama sama sekali tidak tersinggung. Ia paham betul betapa marahnya gadis itu. Bahkan jika Ana menamparnya, ia masih bisa menerima. Rasa bersalah pada Ana terlalu dalam. Sosok cleaning service datang membantu, dan Ana pun ikut membereskan kekacauan yang ia buat. Setelah selesai, ia buru-buru meminta maaf dan berterima kasih, lalu hendak pergi. Tapi suara lirih Tama menghentikan langkahnya. “Maafkan saya, Ana…” ucapnya pelan, penuh sesal. Ana tidak menjawab. Hatinya sudah terlalu penuh dengan kebencian—kebencian pada Jeffreyan, pada Tama, juga pada dirinya sendiri yang selalu tidak berdaya. *** Satu per satu staf dari divisi Rudy dipanggil masuk ke ruangan Jeffreyan. Ketegangan menyelimuti lantai kantor itu. Semua staff divisi bertanya-tanya serta beberapa orang menunduk, takut menjadi sasaran amarah sang CEO. Ana, yang semula berencana kabur setelah insiden di kantin, dicegat langsung oleh security. Rupanya, ia memang termasuk dalam divisi yang diawasi ketat. Tidak ada pilihan lain, ia hanya bisa duduk menunggu giliran dengan jantung berdegup kencang. Satu persatu masuk lalu keluar dengan wajah pucat. Bahkan dua wanita menangis setelah keluar dari ruangan Jeffreyan. Ana yang belum juga dipanggil hanya bisa menunggu dalam cemas. Hanya tersisa dirinya yang belum masuk. Tak lama kemudian Revan keluar. “Tenanglah, Ana. Kau tidak bersalah. Beranilah,” bisik Revan sebelum dirinya dipanggil masuk. Kata-kata itu sedikit menguatkan Ana, meski lututnya tetap terasa lemas. Dan akhirnya— “Raisa Andriana.” Namanya dipanggil. Ana berdiri pelan, menunduk, lalu mengikuti langkah Tama masuk ke dalam ruangan. Suasana di dalam langsung membuat napasnya tercekat. Jeffreyan duduk di kursi utama, tegap, dengan tatapan tajam yang menusuk seolah mampu membaca isi kepala orang lain. “Silakan duduk,” ucap Jeffreyan datar. Ana menurut. Tubuhnya kaku, kedua tangannya meremas ujung rok yang ia kenakan. Ia tidak berani menatap ke arah Jeffreyan. Sesekali ia melirik Tama yang berdiri di dekat pintu. Kehadiran pria itu sedikit membuatnya tenang—setidaknya ia tidak benar-benar berdua dengan Jeffreyan. “Raisa Andrianna.” Jeffreyan menyebut namanya lagi, kali ini dengan nada lebih pelan. “Nama yang bagus.” Ana terdiam. Hanya menunduk, tak tahu harus menjawab apa. Jantungnya terus berdetak tak beraturan. Jeffreyan menatapnya lama, seakan tengah menimbang sesuatu. Sudut bibirnya terangkat tipis, seperti menemukan celah untuk bermain-main. “Tama,” panggilnya tiba-tiba. “Keluarlah. Bawakan kopi untukku, dan teh untuk gadis ini. Dia terlalu gugup untuk diajak bicara.” Ana tersentak. “Ti… tidak! Jangan!” suaranya keluar lebih keras dari yang ia maksud. Ia buru-buru menggigit bibir, sadar tindakannya lancang. Ia tidak mau ditinggal berdua saja dengan Jeffreyan. Jeffreyan justru menahan senyum. Menikmati ketakutan yang tergambar jelas di wajah Ana. “Bawakan kopi untukku, Tama. Pembicaraan ini akan panjang,” perintahnya lagi, kali ini tak memberi ruang untuk dibantah. Tama menoleh sekilas pada Ana, tampak ragu, namun akhirnya ia keluar meninggalkan ruangan. Begitu pintu tertutup, Jeffreyan bangkit dari kursinya. Langkahnya tenang, tapi cukup membuat tubuh Ana kaku. Ia menunduk semakin dalam, berharap tatapan itu tidak lagi menghantamnya. Jeffreyan menahan senyum, terlalu menggemaskan melihat wajah takut Ana. "Rilex, Ana. " Ucapnya tapi tatapan nya sama sekali tidak bergeser sedikitpun dari Ana. Sedangkan Ana yang dipandangi merasakan risih. Dan untuk melampiaskan rasa takut dan risih itu Ana meremas ujung roknya. Namun tanpa Ana sadari, apa yang dirinya lakukan justru membuat pikiran Jeffreyan justru dipenuhi oleh isi dibalik rok itu. Ah, mesum sekali! Jeffreyan berpindah duduk ke sebelah Ana. Gadis itu reflek menghindar hendak menjauh, namun pinggang nya lebih dulu di cegat. Membuat Ana jatuh di atas pangkuan Jeffreyan. "Ampun Tuan! Tidak! Lepaskan saya, saya nggak mau! Jangan lakukan! Saya mohon! " Jerit Ana. Berusaha melepaskan diri dari cengkraman. Dirinya masih trauma mmengingat setiap sentuhan kasar Jeffreyan pada tubuhnya. "Diam Ana! Kalau terus bergerak nanti dia bangun! Jika dia bangun akan sulit untuk ditenangkan." bisik Jeffreyan. Tetapi tangannya tidak berhenti menahan agar mainnya tidak bergerak kabur. “Tidak! Lepaskan saya! ” Ana terus meronta ingin diturunkan. Namun dengan mudah Jeffreyan malah membuat posisinya duduk mereka saling berhadapan. Kedua kaki yang terbuka membuat rok itu terangkat memperlihatkan paha mulus Ana. Ana menangis. Meronta minta diturunkan. Tanpa sadar kedua tangannya memukul dada bidang yang terbalut kemeja putih itu. " Lepaskan saya Tuan!" " Berhenti bergerak! Aku hanya ingin mengobati luka ditanganmu, jangan berpikir macam-macam. " " Tidak! Tuan tolong, saya tidak mau! Saya bisa sendiri." " Jangan menguji kesabaranku, Ana. Kubilang diam! Diam! " Bentaknya kesal pada penolakan Ana. Bentakkan keras itu membuat Ana berhenti memberontak. Tapi tubuhnya tidak bisa berhenti gemetarr. Air mata pun terus mengalir tanpa bisa dihentikan. Suara isak tangis yang ditahan-tahan itu masuk kependengaran Jeffreyan. Anehnya hal itu malah membuat sisi lain Jeffreyan terbangun. Bukannya merasa iba, dia justru terpancing. Bagian selatannya mengeras sempurna. Ana tidak sedang menggodanya. Gadis itu hanya menangis. Tapi cukup membangkitkan pusaka Jeffreyan. Shitt! dia bangun! Tanggung jawab, Raisa Andriana!#tripel update😍😍 ditunggu respon dan komen komennya bunda bunda ~~~~~~~~~~~ Beberapa hari terakhir, Ana menikmati perhatian Buk Sri. Tidak sekalipun wanita itu meninggalkannya sendirian terlalu lama. Kalaupun harus pergi, Buk Sri selalu berpamitan lebih dulu lalu kembali seperti yang dijanjikan. Seperti hari ini. Dua jam lalu, Buk Sri meninggalkan ruangan untuk pulang sebentar mengganti pakaian dan mengambil beberapa camilan sehat untuk Ana. Ana tidak memprotes. Meski jauh di lubuk hatinya, masih ada rasa takut saat harus ditinggal sendiri. Di pangkuannya terletak sebuah buku tentang kehamilan. Ana menyukai bacaan seperti itu. Hal-hal yang berkaitan dengan kehamilan selalu berhasil membuatnya sedikit lebih tenang. Usia kandungannya semakin mendekati hari perkiraan lahir. Membuat Ana mulai mempersiapkan diri. Namun, di balik semua itu, tetap ada ketakutan yang tak bisa ia abaikan. Berbagai kemungkinan buruk kerap melintas begitu saja di kepalanya. Bagaimana ji
#sebetulmya bab ini sama bab sebelumnya itu mau aku satuin, tapi karena beda pov jadinya aku buat dalam 2 bab yaa ~~~~~~~~~~~~~~ Di ruangan lain, Jeffreyan akhirnya membuka mata setelah tiga hari terjebak dalam ketidaksadaran. Pandangan pertamanya menangkap langit-langit putih rumah sakit yang terasa asing. Kepalanya berat. Tenggorokannya kering. Seluruh tubuhnya terasa kaku. Namun sebelum sempat mencerna apa pun, pikirannya lebih dulu mencari satu nama. Bara. Kesadarannya terakhir hanya saat Ana menangis histeris begitu menyadari dirinya terkena tembakan. Jeffreyan sedikit memiringkan kepala. Di sisi ranjang, seorang wanita paruh baya duduk dengan wajah lelah. Arasya. Kantong mata ibunya tampak menggelap. Rambutnya sedikit berantakan. Wanita yang biasanya selalu tampil rapi itu kini terlihat kacau. Seolah sudah terlalu lama berjaga. Melihat putranya akhirnya sadar, Arasya mengembuskan napas panjang. Bahunya sedikit turun, seperti baru saja melepaskan beban besar. “Mama
Seperti biasa,, #update setelah lama libur Begitu Ana membuka mata, hal pertama yang ia lihat adalah wajah lelah seorang wanita paruh baya yang tengah menatapnya dengan cemas. Butuh beberapa detik bagi pandangannya untuk fokus. Langit-langit putih dan aroma antiseptik membuat kesadarannya terkumpul cepat. Suara samar alat monitor membuat ia sadar berada dirumah sakit. Ana mengerjapkan mata perlahan. Cahaya yang masuk membuatnya sedikit menyipit. Di samping ranjang, wanita itu segera mendekat. “Ana, kamu sudah sadar, Nak?” tanyanya pelan. Ana menatap wajah itu lebih lama. Buk Sri. Atau lebih tepatnya—ibunya. Ana mengangguk kecil. Ia mencoba bangkit, tetapi Buk Sri segera menahan bahunya dengan lembut. “Berbaring saja dulu, Nak.” Ana menurut. Tubuhnya masih terasa berat, walau jauh lebih ringan dibanding terakhir kali ia ingat. Untuk beberapa saat, keduanya hanya saling diam. Ada sunyi yang terasa canggung diantara mereka. Ana sibuk memainkan jemarinya sendir
Sejak tiba dirumah sakit Ana hanya bisa berdiri sambil memandang lalu lalang orang yang sejak tadi begitu sibuk menangani pasien. Ana dilarang masuk lebih dalam. Sementara Jeffreyan langsung mendapat penanganan. Ia bisa mendengar bahwa Jeffreyan akan dipindah ke ruangan operasi. Ana membawa diri mengikuti brangkar Jeffreyan yang ditarik masuk ke ruang operasi. Namun begitu ingin ikut masuk dirinya dicegat. Ia disuruh menunggu di depan ruangan operasi. Tak punya pilihan selain menurut, Ana hanya bisa terpaku. Didepannya, tatapan tajam seorang pria menghujam tajam. Melihat itu membuat Ana perlahan menjauh. Memilih berdiri agak jauh sementara didepan ruangan Jeffreyan ada beberapa laki-laki yang Ana yakin anak buah pria itu yang berjaga. Tak jauh dari tempatnya berdiri, tepatnya diruangan operasi sebelah dia orang wanita sedmag berpelukan dalam tangis. Melihat itu, Ana menghela nafas. Tatapannya kosong. Pikirannya penuh. Baik tentang Jeffreyan maupun ucapan terakhir Davin yang
update!!! Jangan lupa follow dan komen yang banyak yaaa semakin banyak komen semakin cepat update ################# " Tolong jangan sampai hilang kesadaran.. " Ana duduk di bangku belakang. Sementara di depan, Salah seorang anak buah Jeffreyan mengemudi dengan kecepatan tinggi, membelah jalan tanpa ragu. Sesekali klakson dibunyikan keras, memaksa kendaraan lain menyingkir. Tubuh Ana terhuyung mengikuti laju mobil, tangannya berpegangan kuat pada kursi. Di sampingnya, Jeffreyan nyaris menutup mata. Tubuh bersimbah darah. beberapa saat lalu, - Semua terjadi begitu cepat hingga sulit dipahami—suara borgol yang beradu, langkah kaki yang berlarian, dan teriakan panik bercampur menjadi satu kekacauan yang menyesakkan, seolah waktu tidak memberi kesempatan bagi siapa pun untuk benar-benar bereaksi sebelum semuanya berubah. “Pegang dia!” Namun Davin—dengan tenaga yang tersisa dan amarah yang membakar—berhasil melepaskan satu tangannya. Gerakannya liar, tak terduga. Dalam satu
Maaf lama update. Kalau kalian lupa jalan ceritanya, silahkan baca kembali yaa bab sebelumnya. Selamat membaca.... ############## Jelita terpaku. Dadanya terasa nyeri saat mendengar makian itu keluar dari mulut Davin. Anak yang selama ini ia asuh, yang dulu begitu lembut padanya… kini berdiri dengan tatapan penuh kebencian. Sejak hubungan mereka merenggang, Davin memang berubah. Ia lebih banyak diam. Menghindari percakapan diantara mereka. Jelita bisa merasa Davin yang sengaja menjauh tiap kali dia mendekat. Namun tidak pernah—tidak pernah—seperti ini. Jelita menelan ludah. Suaranya tercekat. Pandangannya mengabur oleh air yang bertumpuk di kelopak mata. Semua ini… karena dirinya. Karena masa lalu yang ia bawa masuk ke dalam keluarga barunya. Karena dendam yang tidak pernah benar-benar selesai. Masa lalu dimana egonya membuat dirinya buta pada kebenaran. Dan kebodohannya itu menghancurkan semua orang yang dirinya sayang. “Davin… maafin Mama…” Suaranya lirih. Hampi
Pertemuan makan malam di kediaman Eyang Wicaksana berlangsung dalam atmosfer yang tegang. Sejak Jeffreyan dan Gunawan duduk di meja yang sama, udara terasa berat. Tak seperti biasanya, para pelayan diperintahkan menyajikan seluruh hidangan sekaligus, tanpa jeda—seolah tak seorang pun ingin memperp
“Buk Sri tolong… s-saya nggak mau lagi…” lirih Ana di sela isak tangisnya. Napasnya tersengal, dadanya naik turun tak beraturan. “Saya nggak mau dikurung lagi…” Buk Sri tertegun. Kalimat yang diucapkan Ana terdengar bukan sekadar ketakutan biasa. Itu jeritan dari trauma yang jelas nyata. Ia se
“Aaakh—ampun!!” Pekikan nyaring itu menggema di lorong bawah tanah yang lembap dan pengap. Bau darah bercampur air dingin memenuhi udara. Seorang wanita yang diikat ke sebuah tiang berbaring dengan tubuh penuh lebam, meronta ketika air kembali disiram ke luka-luka yang bahkan belum sempat menge
Dari kejauhan, seorang wanita memperhatikan semua itu. Rumi berdiri di sudut koridor rumah sakit, wajahnya setengah tertutup masker. Cahaya lampu memantul samar di matanya yang menyipit tajam. Lalu—perlahan—bibirnya melengkung, membentuk senyum tipis yang nyaris tak terlihat. Jadi… ini akhirnya.







