Share

Bab 49

Penulis: Prettyies
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-25 22:57:27

Mobil Deva meluncur mulus memasuki area parkir basement Pondok Indah Mall. Ia turun lebih dulu, lalu membukakan pintu untuk Renita.

“Mas, kamu yakin nggak apa-apa kita ke sini?” Renita bertanya ragu sambil turun dari mobil.

Deva tersenyum tenang. “Nggak apa-apa. Santai aja.”

Ia refleks menggenggam tangan Renita. Renita sempat menoleh ke sekeliling, lalu membiarkannya. Mereka berjalan menuju eskalator, naik ke lantai satu.

Di tengah langkah, Deva menoleh. “Kamu mau makan siang apa?”

Renita mengangkat bahu pelan. “Terserah Mas aja.”

Deva berpikir sejenak. “Paper Lunch, gimana?”

“Boleh,” jawab Renita singkat.

“Kita ke PIM 1 ya. Lewat sini,” kata Deva sambil memberi arah.

Mereka berjalan berdampingan, menyusuri lorong mall yang mulai ramai. Renita beberapa kali melirik sekitar, terlihat gelisah.

“Kamu kenapa?” tanya Deva pelan.

“Nggak… cuma takut ketemu orang kantor,” Renita menjawab jujur.

Deva tersenyum tipis. “Kalau ketemu, bilang aja lagi makan sama dokter perusahaan atau kakak ipar.
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • HASRAT MEMBARA DOKTER TAMPAN   Bab 70

    “Udah, nggak usah diinget-inget,” ujar Nathalia sambil melipat tangan.“Kalau kamu nggak tahu, nanti aku tanya langsung teman sekelasnya Mas Deva.”Renita menoleh pelan.“Kalau nanti Mbak ketemu mantan Mas Deva,” tanyanya hati-hati,“Apa yang akan Mbak lakuin?”Nathalia tersenyum tipis, dingin.“Itu bukan urusan kamu, Ren.”“Udah, ayo.”“Rencananya aku mau bikinin sarapan buat Mas Deva,” lanjutnya cepat.“Tapi kamu yang masak, ya.”“Aku nggak bisa masak.”Renita menahan senyum.“Mau masak apa, Mbak?”“Nasi goreng aja,” jawab Nathalia enteng.“Bisa, kan?”“Bisa,” sahut Renita.“Tapi Mas Deva mau makan berat nggak ya?”“Takutnya lagi diet,” tambahnya sambil tertawa kecil.Nathalia menggeleng santai.“Dia mah makan apa aja.”“Nggak pilih-pilih.”Nggak pilih-pilih makanan…atau memang gak boleh memilih?batin Renita bergetar.“Yaudah,” katanya kemudian.“Aku masak dulu.”“Tapi Mbak bantuin potong-potong, ya.”“Gak bisa,” Nathalia langsung menolak.“Kamu aja.”Renita membalik badan ke arah

  • HASRAT MEMBARA DOKTER TAMPAN   Bab 69

    Pagi hari Renita terbangun bukan karena alarm, melainkan suara Reza yang terdengar kasar.“Ren! Bangun, Ren!”Reza menggoyang-goyangkan tubuh istrinya dengan tidak sabar.Renita meringis, lalu membuka mata perlahan.“Mas… ada apa sih?”“Bisa pelan-pelan nggak banguninnya? Masih pagi tau…”Reza berdiri di sisi ranjang dengan wajah merah padam.“Baju Mas mana, hah?”“Kenapa di bagasi mobil Mas Deva cuma ada satu koper—koper baju kamu doang yang semalam dibawa masuk?”Renita menghela napas, duduk perlahan.“Mas, jangan teriak-teriak. Ini masih pagi,” katanya menahan emosi.“Nanti kedengaran orang, nggak enak.”“Jawab!” bentak Reza.“Terus baju Mas mana?!”Renita menatapnya lelah.“Emang kamu nyuruh aku bawa baju kamu?”“Kamu cuma bilang suruh packing dan beresin rumah.”“Apa?” Reza tertawa sinis.“Packing yang Mas maksud itu semuanya, Ren! Termasuk baju Mas!”“Sekarang kamu berani membantah suami, ya?”“Mau jadi istri durhaka kamu?”Renita bangkit berdiri, matanya mulai berkaca-kaca.“Ak

  • HASRAT MEMBARA DOKTER TAMPAN   Bab 68

    Mobil Deva akhirnya tiba di depan villa keluarga Nathalia saat malam sudah turun. Lampu-lampu halaman menyala temaram.Deva turun lebih dulu, membuka bagasi dan menurunkan koper Renita.Pintu villa terbuka. Nathalia keluar dengan langkah cepat lalu langsung memeluk Deva erat.“Mas, kamu kenapa baru datang?” keluh Nathalia manja.“Aku kangen tau.”Deva menghela napas, lalu melepaskan pelukan itu lalu berbalik badan menatap Nathalia. “Apaan sih, Nat. Kita kan hampir tiap hari ketemu,” katanya datar.“Jangan lebay.”Tatapan Deva turun sesaat, lalu alisnya langsung berkerut.“Kamu ngapain pakai baju kayak gini?” tegurnya.Nathalia hanya mengenakan lingerie tipis dengan riasan wajah yang tebal. Ia tersenyum percaya diri, lalu mengalungkan tangannya ke leher Deva.“Gimana?” bisiknya genit.“Kamu suka nggak?”Deva langsung memalingkan wajah.“Kamu nggak malu dilihat orang?” katanya kesalkesal. “Ganti baju sana. Nanti masuk angin.”Nathalia tertawa kecil, mendekatkan wajahnya ke telinga Dev

  • HASRAT MEMBARA DOKTER TAMPAN   Bab 67

    Renita memasukkan ponselnya kembali ke dalam tas. Dengan langkah sedikit tergesa, ia keluar dari toilet dan menuju kasir.“Kamu lama banget,” ujar Deva sambil menoleh.“Ayo, keburu sore. Nanti macet.”“Iya, Mas,” jawab Renita pelan.Mereka keluar dari restoran menuju area parkir.Kasian Mas Deva…kalau sampai dijebak Natalia dan harus jadi ayah dari bayi yang bukan darah dagingnya, batin Renita gelisah.Deva membuka pintu mobil.“Ayo masuk. Kenapa bengong aja?”Renita tersentak kecil.“Iya,” katanya sambil masuk ke dalam mobil.Setelah pintu tertutup dan mesin mobil menyala, mobil pun melaju meninggalkan parkiran.Cerita nggak ya…Aduh, aku kok takut. Tapi kalau nggak dikasih tau, kasian Mas Deva, pikir Renita sambil menatap jalan di depan.Deva melirik sekilas ke arahnya.“Kamu kenapa, Ren?”“Ngelamun terus.”Ia mengulurkan tangan, mengelus rambut Renita lembut.“Ada yang mau diomongin sama Mas? Ngomong aja. Kayak sama siapa pun.”Renita menelan ludah.“Mas…”“Mas cinta nggak sih sam

  • HASRAT MEMBARA DOKTER TAMPAN   Bab 66

    “Suapin Mas dong, Ren,” kata Deva sambil sedikit mencondongkan tubuhnya.“Hah?” Renita tampak tidak fokus, tatapannya kosong sesaat.“Kamu mikirin apaan sih?” Deva tersenyum.“Mas ada di depan mata kamu, loh.”Renita tersentak.“Maaf, Mas. Tadi Mas ngomong apa?” tanyanya gugup.“Suapin Mas,” ulang Deva, nadanya dibuat manja.Renita menghela napas kecil sambil tersenyum.“Kamu nggak berubah dari dulu. Kalau makan selalu minta disuapin.”Deva menatapnya dalam.“Berarti kamu masih ingat,” katanya pelan.“Atau… kamu memang nggak pernah lupa sama Mas?”Renita langsung mengalihkan pandangan.“Udah, jangan dibahas,” katanya cepat.Ia mengambil sumpit, lalu menyuapi Deva.“Aaa.”Deva membuka mulut, lalu tersenyum puas.“Enak banget ramen-nya kalau kamu yang nyuapin.”Renita menggeleng kecil.“Itu karena ramen-nya memang enak, Mas.”Setelah mereka selesai makan, Deva mengangkat tangan memanggil pelayan.“Mbak, sini deh. Kita mau pesan dessert.”“Dessert apa, Pak?” tanya pelayan.“Dua es krim a

  • HASRAT MEMBARA DOKTER TAMPAN   Bab 65

    “Jangan bengong, Ren. Ayo berangkat,” ujar Deva sambil meraih koper.“Iya, Mas,” jawab Renita cepat, lalu mengikutinya keluar kamar.Deva menarik koper Renita ke arah pintu, lalu spontan menggenggam tangan Renita.“Mas, jangan,” Renita refleks menahan, menoleh ke kanan kiri.“Nanti orang-orang mikir yang nggak-nggak tentang kita.”Deva meliriknya sekilas, senyum tipis muncul.“Kamu penakut banget sih. Ayo.”Renita tak menjawab, hanya menunduk sambil membiarkan Deva tetap menggandeng tangannya.Mereka keluar dari unit apartemen, berjalan menuju lift. Suasana hening di dalam lift terasa canggung.Renita mencuri pandang.“Mas… orang bisa lihat.”Deva terkekeh pelan.“Lihat apa? Kita cuma jalan bareng.”Lift berhenti di basement. Deva lebih dulu keluar, menarik koper Renita menuju mobil, lalu membuka bagasi dan meletakkannya dengan rapi.“Udah,” katanya singkat.Ia lalu berjalan memutar dan membukakan pintu mobil untuk Renita.“Silakan.”Renita tersenyum kecil.“Terima kasih, Mas.”Deva m

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status