Chapter: Bab 61Pagi itu Renita terbangun lebih dulu. Ia menatap langit-langit sebentar, lalu bangkit pelan agar tak membangunkan Reza. Seperti biasa, langkah kakinya langsung menuju dapur.Suara peralatan dapur terdengar pelan saat ia mulai menyiapkan sarapan.Belum lama ia mengoles mentega ke roti, pintu kamar terbuka.“Ren, cepetan masaknya ya,” ujar Reza sambil menguap. “Mas mau ke bengkel.”Renita menoleh, alisnya mengernyit.“Bengkel kan bukanya siang, Mas. Mau ngapain pagi-pagi begini?”Ia menatap Reza lekat-lekat. “Kenapa nggak sekalian bantuin aku beresin apartemen?”Reza mendecak, malas.“Pekerjaan rumah itu tugas istri, Ren.”Ia meraih ponselnya.“Mas mau ketemu temen. Nanti kamu beresin semuanya aja. Mas jemput kalau udah mau berangkat.”Tanpa menunggu jawaban, Reza kembali masuk ke kamar.Renita berdiri terpaku di dapur. Tangannya yang memegang spatula mengepal pelan.Kenapa makin hari kamu makin nggak berubah, Mas?Jangan salahkan aku kalau suatu saat aku berpaling ke Mas Deva…Ia menar
Terakhir Diperbarui: 2026-01-05
Chapter: Bab 60Renita duduk di tepi ranjang, memeluk lututnya sendiri. Lampu kamar hanya menyala temaram. Dadanya terasa sesak, nafasnya belum sepenuhnya stabil ketika ponselnya bergetar.Layar menyala.Deva melakukan panggilan video.Renita ragu sejenak, lalu mengusap wajahnya cepat-cepat sebelum menerima.“Hallo, sayang,” suara Deva terdengar lembut dari seberang.Renita memalingkan wajah sedikit.“Mas ngapain nelpon aku malam-malam?”Deva menatap layar lebih saksama. Alisnya langsung mengernyit. “Mata kamu sembab. Kamu habis nangis, ya?”Renita refleks mengusap sudut matanya.“Nggak. Kelilipan aja.”“Kamu bohong,” Deva berkata pelan tapi tegas. “Aku kenal kamu, Ren.”Renita menelan ludah.“Kamu berantem sama Reza?” tanya Deva lagi.“Nggak,” jawab Renita cepat, terlalu cepat. “Biasa aja.”Deva menghela napas.“Udah, Ren. Jangan bohong sama Mas.”Renita terdiam. Bibirnya bergetar, tapi ia berusaha tersenyum.Deva melanjutkan dengan suara lebih rendah, penuh keyakinan.“Mas udah bilang… tinggalin R
Terakhir Diperbarui: 2026-01-05
Chapter: Bab 59Mobil berhenti di basement apartemen. Renita turun tanpa banyak bicara, mengikuti langkah Reza menuju lift. Suasana di antara mereka terasa kaku.Begitu pintu lift terbuka dan mereka masuk unit, Reza langsung melepas sepatu. “Kamu masak, gih. Aku laper,” katanya datar.Renita meletakkan tasnya pelan. “Aku capek, Mas. Kenapa tadi nggak sekalian beli di luar?” ucapnya menahan lelah.Reza menoleh sekilas. “Sayang duitnya.”Renita tersenyum getir. “Sayang duitnya… atau sayang pakai uang kamu dulu?”Reza mendecak. “Itu kamu tau udah sana pesen in pakai uang kamu.”Renita menatapnya, tak percaya. “Kamu tuh gak pernah berubah.”“Nah, gitu dong,” Reza langsung tersenyum. “Pesanin sekarang ya. Aku mau mandi.”Belum sempat Renita menjawab, Reza sudah masuk kamar dan menutup pintu kamar mandi. Suara air menyala.Renita berdiri beberapa detik di ruang tamu, menatap layar ponselnya dengan tangan gemetar. Akhirnya ia membuka aplikasi ojek online dan memesan makanan.Kenapa ya… dia keluar uang buat
Terakhir Diperbarui: 2026-01-04
Chapter: Bab 58Sore hari setelah selesai semua pekerjaan, Renita menunggu di lobby gedung kantor. Tak lama kemudian, mobil Reza berhenti di depan pintu masuk.“Ayo, masuk,” ujar Reza singkat.Renita membuka pintu dan duduk di kursi penumpang. Mobil langsung melaju meninggalkan area parkir.Belum lima menit berjalan, Reza bersuara tanpa menoleh. “Kamu ada uang nggak?”Renita menatap ke depan. “Buat apa, Mas?”“Servis mobil di bengkel. Sebelum besok kita berangkat ke villa Nathalia di Puncak,” jawab Reza datar.Renita mengernyit. “Memangnya mobil kenapa?”“Namanya juga mobil. Tiap beberapa bulan harus servis,” katanya seolah itu hal sepele.Renita menarik napas. “Mas nggak ada uang?”Reza langsung menoleh tajam. “Ini kan tanggung jawab kamu. Tiap servis juga kamu yang bayar. Kenapa masih tanya? Kemarin aja kamu nggak mau bayar cicilan mobil. Ya sekarang kamu bayar servisnya.”Renita mengepalkan jari di pangkuannya. “Cicilan itu sudah dibayar, Mas. Ibu aku yang nutupin, dan aku sudah transfer balik ke
Terakhir Diperbarui: 2026-01-03
Chapter: Bab 57Taksi berhenti tepat di depan lobby gedung perusahaan. Renita segera turun, merapikan tasnya, lalu melangkah masuk dengan wajah profesional.Belum sempat duduk di meja kerjanya, seorang staf menghampiri.“Bu Renita, Pak Direktur meminta Ibu segera ke ruangannya.”Renita mengangguk sopan.“Baik, terima kasih.”Ia melangkah menuju lift dan menekan tombol lantai enam puluh. Pintu lift terbuka, Renita langsung keluar dan menuju ruang direktur.Di depan ruangan, Tiara—sekretaris direktur—tersenyum ramah.“Bu Renita, silakan masuk. Pak Direktur sudah menunggu.”Renita mengetuk pintu pelan.“Tok… tok…”“Silakan masuk.”Renita membuka pintu dan sedikit menunduk sopan.“Permisi, Pak. Maaf, Bapak memanggil saya?”“Masuk, Ren. Silakan duduk,” ujar Arman sambil menunjuk kursi di depannya.“Iya, Pak.” Renita duduk dengan sikap tegap.Arman membuka map di mejanya, menatap Renita dengan ekspresi puas.“Saya ingin menyampaikan langsung, saya sangat puas dengan kinerja kamu sebagai manajer selama ini.
Terakhir Diperbarui: 2026-01-02
Chapter: Bab 56Nathalia membuka pintu ruang praktik tanpa mengetuk.“Kamu ngapain masuk lagi?” tanya Deva sambil mengangkat wajah, mengira Renita yang kembali. “Kamu berubah pikiran?”“Siapa?” suara perempuan itu terdengar dingin.Deva tersentak. “Eh… Nat. Aku kira pasien.”“Oh,” Nathalia melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya. “Kamu lagi sibuk?”“Kamu ngapain ke sini?” Deva berdiri, nada suaranya datar.“Aku mau ngasih tahu,” ujar Nathalia sambil menyilangkan tangan. “Kalung yang kemarin aku lihat… sudah dibeli orang. Nyebelin banget. Kamu sih kemarin malah beli yang lain bukan yang itu. ”“Kamu kan bisa beli yang lain,” jawab Deva singkat. “Nggak harus yang itu.”“Itu limited, Mas,” Nathalia mendesah kesal. “Aku sudah bilang ke geng sosialitaku bakal pakai itu pas arisan. Sekarang aku malu.”“Kamu bilang saja sudah keburu dibeli orang lain,” Deva mencoba menenangkan.“Masalahnya,” Nathalia menatap tajam, “aku lihat Renita pakai kalung yang mirip. Walaupun katanya imitasi.”“Itu kan cuma imi
Terakhir Diperbarui: 2025-12-30
Chapter: Makan siang bersamaArumi melangkah mundur dari meja, menatap Bastian dengan campuran marah dan takut. "Apa semua ini karena tadi malam?" tanyanya pelan, nyaris berbisik. Bastian tidak langsung menjawab. Tatapannya tak berubah, tetap tajam dan menghanyutkan. Ia berdiri, perlahan mendekat. "Aku tidak pernah melakukan sesuatu tanpa alasan," katanya akhirnya. "Kau pintar, Arumi. Kau tahu kenapa aku tak ingin kau pergi." Arumi menahan napas saat Bastian kini hanya berjarak satu langkah darinya. "Ini bukan tentang pekerjaan lagi, kan?" suaranya bergetar. Bastian menatapnya dalam-dalam, lalu mengangkat tangan dan menyelipkan helaian rambut dari wajah Arumi. Sentuhan itu membuat tubuh Arumi menegang, tapi ia tidak bergerak. "Aku tidak suka main-main," ujar Bastian. "Kalau aku menginginkan sesuatu, aku pastikan aku memilikinya." Arumi menatapnya tak percaya. "Saya bukan barang, Pak." Bastian tersenyum kecil, tapi tak ada tawa di matanya. "Aku tahu. Justru karena itu." Ia melangkah menjauh, kem
Terakhir Diperbarui: 2025-05-02
Chapter: first kiss Jam menunjukkan pukul sebelas malam. Arumi berdiri di depan lobi perusahaan, memeluk tasnya erat. Jalanan sudah mulai sepi, dan udara dingin menusuk kulitnya.Tiba-tiba, sebuah suara berat terdengar di belakangnya."Ayo masuk, saya antar kamu pulang," suara Bastian terdengar datar, tanpa emosi.Arumi menoleh, sedikit terkejut. "Terima kasih, Pak, tapi saya bisa naik taksi—""Jangan membantah. Sudah malam," potong Bastian tajam.Arumi akhirnya mengangguk dan mengikuti Bastian menuju mobilnya—sebuah Lamborghini hitam mengilap. Saat Bastian membuka pintu, Arumi secara refleks masuk ke kursi belakang.Namun, baru saja ia duduk, suara dingin Bastian menyela, "Memangnya saya supir kamu?"Arumi terdiam, merasa salah tingkah. "Eh… terus saya duduk di mana, Pak?"Bastian menatapnya datar. "Di depan."Malu, Arumi buru-buru pindah ke kursi depan. Begitu duduk, ia berusaha memasang seat belt, tetapi gespernya tersangkut."Kenapa lama sekali?" Bastian melirik sekilas."Seat belt-nya macet, Pak…" g
Terakhir Diperbarui: 2025-03-18
Chapter: Jantung berdetak kencangSetelah William Chen pergi, suasana ruangan tetap dipenuhi ketegangan yang menggantung. Arumi duduk di kursinya, masih mencerna percakapan tadi. Bastian, di sisi lain, tampak tenang seperti biasa. Ia mengambil gelas airnya, menyesapnya perlahan, lalu menatap timnya. “Kalian dengar sendiri, kan? Kita punya waktu satu bulan untuk membuktikan bahwa Mengantara Luxury layak mendapatkan investasi.” Para eksekutif saling bertukar pandang, lalu mengangguk. Mereka tahu apa yang dipertaruhkan. Seorang manajer pemasaran, Andre, angkat bicara. “Kita bisa dorong kampanye digital lebih agresif. Gunakan influencer kelas atas untuk meningkatkan hype.” Arumi mengerutkan kening. “Tapi kalau kita hanya mengandalkan influencer, bukankah terlalu mainstream? Kita butuh strategi yang benar-benar bisa bikin orang merasa kalau produk ini eksklusif.” Bastian menoleh ke arahnya dengan ketertarikan. “Lanjutkan.” Arumi berpikir sejenak sebelum berkata, “Kita buat event private launch untuk sosialita dan bea
Terakhir Diperbarui: 2025-03-18
Chapter: Balas dendamArumi melangkah keluar dari mobil dengan kepala tegak. Jika sebelumnya ia hanya bekerja demi uang untuk operasi ibunya, sekarang ada satu alasan tambahan: membalas pengkhianatan Bara. Bastian berjalan di depannya, memasuki lobi Mengantara Luxury dengan aura dingin dan penuh kuasa. Para karyawan langsung memberi salam dan menunduk hormat. Begitu mereka masuk ke dalam lift, Arumi tak bisa menahan diri untuk bertanya. "Jadi, bagaimana caranya saya bisa menjadi kartu truf Anda?" Bastian meliriknya sekilas. “Aku ingin kau tetap menjadi dirimu sendiri. Tapi di saat yang sama, aku ingin Bara melihat bahwa kau sekarang adalah bagian dari kekuasaanku.” Arumi mendengus. Kekuasaannya? “Dan itu artinya?” Bastian menyeringai tipis. “Mulai sekarang, kau bukan hanya sekretarisku. Kau adalah wanita di sisiku.” Arumi tersentak. “Tunggu—maksud Anda?” Lift berbunyi, pintu terbuka di lantai 40. Bastian melangkah keluar lebih dulu, meninggalkan Arumi yang masih tercengang. Seorang pria dengan ja
Terakhir Diperbarui: 2025-03-18
Chapter: kerja samaArumi menatap tanda tangannya di atas kertas. Gue beneran udah masuk perangkap ini. Bastian mengambil kontrak itu, menyimpannya dalam laci. “Mulai sekarang, kau milikku.” Arumi mendongak dengan tatapan tajam. “Milik perusahaan, maksud Anda.” Bastian menyeringai. “Terserah bagaimana kau mengartikannya.” Arumi menghela napas panjang. “Baik. Jadi, apa tugas pertama saya?” Bastian berdiri, meraih jasnya. “Kita ada meeting di luar. Ikut.” Arumi buru-buru mengikuti langkah cepat pria itu. Saat mereka keluar dari ruangan, semua mata pegawai tertuju padanya. Bisik-bisik mulai terdengar. "Dia yang diterima? Cantik juga, tapi berapa lama dia bisa bertahan?" "Sebelumnya juga ada yang cantik, tapi cuma bertahan sebulan." "Lihat saja, sebentar lagi dia pasti menyerah." Arumi menggigit bibirnya. Gue nggak peduli omongan orang. Yang penting, gue butuh uang. Saat mereka sampai di basement, seorang sopir sudah menunggu dengan mobil hitam mewah. “Masuk,” perintah Bastian. Arumi duduk di sa
Terakhir Diperbarui: 2025-03-18
Chapter: kontrakArumi tertegun. “Apa?”Bastian menyandarkan punggungnya ke kursi, tatapannya tajam menembus mata Arumi. “Aku bilang, kau diterima sebagai sekretarisku.”Arumi masih berdiri kaku di tempatnya. “Tapi… tadi Anda bilang saya harus—”“—melepas pakaianmu?” potong Bastian dengan nada datar. “Itu hanya ujian.”Kedua tangan Arumi mengepal. “Ujian?! Anda main-main dengan harga diri saya?”Bastian mengangkat bahu. “Aku tidak main-main. Aku hanya ingin tahu seberapa jauh seseorang rela merendahkan dirinya demi uang.”Arumi menggigit bibir. Jadi semua wanita sebelum dirinya…?“Mereka semua gagal?” tanyanya pelan.Bastian mengangguk. “Hanya sedikit yang menolak. Dan kau satu-satunya yang menolaknya dengan tetap percaya diri.”Arumi masih berusaha mencerna kata-kata pria itu. “Jadi, selama ini Anda tidak benar-benar…?”“Tidak.” Bastian bersandar di kursinya, menatapnya lekat. “Aku tidak butuh sekretaris yang hanya mengejar uang. Aku butuh seseorang yang punya harga diri, punya prinsip, dan bisa meno
Terakhir Diperbarui: 2025-03-18