Share

Bab 72

Penulis: Prettyies
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-14 17:06:41

Kayaknya aku salah ngomong…

Habis ini aku harus bujuk Renita, batin Deva sambil melirik Renita sekilas.

Mereka kembali melanjutkan makan, meski suasana terasa makin canggung.

“Mas,” ujar Nathalia sambil memainkan sendoknya,

“kan prewedding kita nanti konsepnya di hutan.”

“Renita jadi asisten aku aja, ya.”

Deva langsung menoleh.

“Kenapa harus Renita?” tanyanya.

“Kan ada asisten MUA kamu.”

Nathalia tersenyum tipis.

“Biar lebih praktis aja.”

“Lagipula Renita juga bisa bantu-bantu.”

Sebelum Deva menjawab, suara berat menyela.

“Lebih baik Renita yang jadi asisten Nathalia,” kata Hendra Pradipta tenang namun tegas.

“Daripada dia cuma bengong nggak ngapa-ngapain.”

Reza mengangguk cepat.

“Iya, Om.”

“Bener juga.”

“Daripada Renita nganggur.”

Renita mengepalkan jemarinya di bawah meja.

“Tapi…” Ayu menyela ragu,

“kami boleh ikut juga kan, Pak Hendra?”

“Tentu saja,” jawab Hendra singkat.

“Kalian ikut foto keluarga.”

“Oh syukurlah,” Ayu tersenyum lega.

Tiba-tiba seorang wanita elegan masuk ke ruang
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • HASRAT MEMBARA DOKTER TAMPAN   Bab 73

    “Ren, kita pergi dari sini,” ucap Deva pelan tapi tegas sambil memegang pipi Renita.“Tinggalkan suami dan mertua kamu itu.”Renita menatapnya kaget.“Maksud Mas apa?” tanyanya lirih.“Kenapa ngomong seperti ini?”Deva menunduk sedikit, menatap mata Renita dalam-dalam.“Mas ingin kita bersama,” katanya mantap.“Mas janji bakal bahagiain kamu.”“Mas berbeda dari Reza.”Belum sempat Renita menjawab, ponselnya tiba-tiba berdering.Renita refleks mengangkat telunjuk.“ Ssttt… ““Mas, diem dulu sebentar,” bisiknya.“Ibu aku nelpon.”Deva mengangguk pelan.Renita mengangkat telepon.“Halo, Bu.”“Halo, Ren,” suara Dina terdengar lemah tapi berusaha tenang.“Iya, Bu. Gimana kabar kalian?” tanya Renita cemas.“Semalam… jantung bapak kamu kumat, Ren.”Renita langsung menegakkan tubuh.“Apa? Terus gimana kondisi Bapak,Bu?”“Tapi sekarang udah nggak apa-apa,” lanjut Dina cepat.“Sudah dibawa ke dokter semalam.”“Kondisinya sudah stabil.”Renita mengusap dadanya.“Ya Allah…”“Renita lagi di Puncak

  • HASRAT MEMBARA DOKTER TAMPAN   Bab 72

    Kayaknya aku salah ngomong…Habis ini aku harus bujuk Renita, batin Deva sambil melirik Renita sekilas.Mereka kembali melanjutkan makan, meski suasana terasa makin canggung.“Mas,” ujar Nathalia sambil memainkan sendoknya,“kan prewedding kita nanti konsepnya di hutan.”“Renita jadi asisten aku aja, ya.”Deva langsung menoleh.“Kenapa harus Renita?” tanyanya.“Kan ada asisten MUA kamu.”Nathalia tersenyum tipis.“Biar lebih praktis aja.”“Lagipula Renita juga bisa bantu-bantu.”Sebelum Deva menjawab, suara berat menyela.“Lebih baik Renita yang jadi asisten Nathalia,” kata Hendra Pradipta tenang namun tegas.“Daripada dia cuma bengong nggak ngapa-ngapain.”Reza mengangguk cepat.“Iya, Om.”“Bener juga.”“Daripada Renita nganggur.”Renita mengepalkan jemarinya di bawah meja.“Tapi…” Ayu menyela ragu,“kami boleh ikut juga kan, Pak Hendra?”“Tentu saja,” jawab Hendra singkat.“Kalian ikut foto keluarga.”“Oh syukurlah,” Ayu tersenyum lega.Tiba-tiba seorang wanita elegan masuk ke ruang

  • HASRAT MEMBARA DOKTER TAMPAN   Bab 71

    Renita tersadar, refleks melepaskan pelukan Deva.Wajahnya masih panas ketika tiba-tiba sebuah suara menyela.“Eh, Mas Deva kamu ternyata disini toh,” ujar Nathalia dari ambang dapur,“Kamu udah cobain belum nasi goreng buatan aku?”Renita dan Deva sama-sama menoleh.Deva mengernyit sedikit.“Kamu yang masak?” tanyanya, nada suaranya terdengar datar.“Iya,” jawab Nathalia cepat sambil melangkah masuk.“Tadi aku sempat ke toilet sebentar.”“Nasi gorengnya dijagain sama Renita kok.”Renita menegang, tapi memilih diam.“Oh… tumben,” sahut Deva singkat.Ia lalu menarik kursi dan duduk di meja makan.Nathalia tersenyum bangga, seolah ingin memastikan Renita melihatnya.Deva melirik Renita sekilas, lalu menepuk kursi di sampingnya.“Duduk, Ren,” katanya santai.“Cobain masakan Dokter Nathalia.”Renita ragu sejenak.“Mas…” ucapnya pelan.“Duduk aja,” ulang Deva sambil menarik tangan Renita ringan,“Kan nggak ada salahnya nyobain.”Renita akhirnya duduk di samping Deva, jantungnya masih berde

  • HASRAT MEMBARA DOKTER TAMPAN   Bab 70

    “Udah, nggak usah diinget-inget,” ujar Nathalia sambil melipat tangan.“Kalau kamu nggak tahu, nanti aku tanya langsung teman sekelasnya Mas Deva.”Renita menoleh pelan.“Kalau nanti Mbak ketemu mantan Mas Deva,” tanyanya hati-hati,“Apa yang akan Mbak lakuin?”Nathalia tersenyum tipis, dingin.“Itu bukan urusan kamu, Ren.”“Udah, ayo.”“Rencananya aku mau bikinin sarapan buat Mas Deva,” lanjutnya cepat.“Tapi kamu yang masak, ya.”“Aku nggak bisa masak.”Renita menahan senyum.“Mau masak apa, Mbak?”“Nasi goreng aja,” jawab Nathalia enteng.“Bisa, kan?”“Bisa,” sahut Renita.“Tapi Mas Deva mau makan berat nggak ya?”“Takutnya lagi diet,” tambahnya sambil tertawa kecil.Nathalia menggeleng santai.“Dia mah makan apa aja.”“Nggak pilih-pilih.”Nggak pilih-pilih makanan…atau memang gak boleh memilih?batin Renita bergetar.“Yaudah,” katanya kemudian.“Aku masak dulu.”“Tapi Mbak bantuin potong-potong, ya.”“Gak bisa,” Nathalia langsung menolak.“Kamu aja.”Renita membalik badan ke arah

  • HASRAT MEMBARA DOKTER TAMPAN   Bab 69

    Pagi hari Renita terbangun bukan karena alarm, melainkan suara Reza yang terdengar kasar.“Ren! Bangun, Ren!”Reza menggoyang-goyangkan tubuh istrinya dengan tidak sabar.Renita meringis, lalu membuka mata perlahan.“Mas… ada apa sih?”“Bisa pelan-pelan nggak banguninnya? Masih pagi tau…”Reza berdiri di sisi ranjang dengan wajah merah padam.“Baju Mas mana, hah?”“Kenapa di bagasi mobil Mas Deva cuma ada satu koper—koper baju kamu doang yang semalam dibawa masuk?”Renita menghela napas, duduk perlahan.“Mas, jangan teriak-teriak. Ini masih pagi,” katanya menahan emosi.“Nanti kedengaran orang, nggak enak.”“Jawab!” bentak Reza.“Terus baju Mas mana?!”Renita menatapnya lelah.“Emang kamu nyuruh aku bawa baju kamu?”“Kamu cuma bilang suruh packing dan beresin rumah.”“Apa?” Reza tertawa sinis.“Packing yang Mas maksud itu semuanya, Ren! Termasuk baju Mas!”“Sekarang kamu berani membantah suami, ya?”“Mau jadi istri durhaka kamu?”Renita bangkit berdiri, matanya mulai berkaca-kaca.“Ak

  • HASRAT MEMBARA DOKTER TAMPAN   Bab 68

    Mobil Deva akhirnya tiba di depan villa keluarga Nathalia saat malam sudah turun. Lampu-lampu halaman menyala temaram.Deva turun lebih dulu, membuka bagasi dan menurunkan koper Renita.Pintu villa terbuka. Nathalia keluar dengan langkah cepat lalu langsung memeluk Deva erat.“Mas, kamu kenapa baru datang?” keluh Nathalia manja.“Aku kangen tau.”Deva menghela napas, lalu melepaskan pelukan itu lalu berbalik badan menatap Nathalia. “Apaan sih, Nat. Kita kan hampir tiap hari ketemu,” katanya datar.“Jangan lebay.”Tatapan Deva turun sesaat, lalu alisnya langsung berkerut.“Kamu ngapain pakai baju kayak gini?” tegurnya.Nathalia hanya mengenakan lingerie tipis dengan riasan wajah yang tebal. Ia tersenyum percaya diri, lalu mengalungkan tangannya ke leher Deva.“Gimana?” bisiknya genit.“Kamu suka nggak?”Deva langsung memalingkan wajah.“Kamu nggak malu dilihat orang?” katanya kesalkesal. “Ganti baju sana. Nanti masuk angin.”Nathalia tertawa kecil, mendekatkan wajahnya ke telinga Dev

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status