Share

11- MOBIL UNTUKMU

Author: Ranari Kka
last update Huling Na-update: 2025-10-17 20:02:39

Chloe berdiri di depan rak dapur setelah menuang air mendidih ke dalam gelas. Aroma kopi segera menyelimuti ruang yang sunyi, menempel di udara pagi yang lembap.

Rambutnya dikuncir seadanya. Piyama masih menempel di badan. Sesekali ia menguap kecil sambil memutar sendok di dalam cangkir. Tatapannya fokus pada uap yang naik perlahan.

Rencananya pagi ini, ia hanya ingin menikmati ketenangan yang sederhana. Namun suara langkah berat dari arah pintu depan membuatnya berhenti.

Langkah itu pelan tapi pasti. Chloe menoleh. Matanya membulat kecil. Dante berdiri diam di sana, menatapnya dari ambang pintu.

Jaket hitamnya masih melekat. Rambutnya acak-acakan dan basah oleh keringat. Matanya tampak sembab dengan lingkar hitam yang dalam di bawahnya.

“Kau... kau baru pulang?” Suara Chloe nyaris bergetar.

“Hmm.”

“Apa kau tidur?”

“Tidur. Tapi tidak di sini.”

“Di mana?”

“Di tempat yang sepi. Walaupun kuberi tahu, kau tidak akan tahu.”

Senyum tipis muncul di bibir Dante. Tampak yang aneh dan terlalu r
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • HASRAT TERLARANG ADIK TIRI   134 - DUA ANAK YANG HANCUR

    Tangkap aku juga! Aku yang menyuruhnya bertarung! Aku yang berada di sana! Jika dia seorang kriminal, maka aku adalah alasannya!""Nona, harap tenang. Anda sedang dalam masa perawatan."Polisi itu mencoba memberi pengertian, namun Chloe justru semakin histeris. Ia melepaskan pegangannya dari tiang infus dan mencoba meraih lengan Dante, membuat selang infusnya tertarik kencang dan darah mulai naik ke selang plastik itu."Chloe, hentikan!" Richard berteriak menahannya."Biarkan aku ikut, Yah! Aku tidak mau dia sendirian! Dante! Jangan tinggalkan aku!" Chloe meronta di pelukan Richard, matanya terus terkunci pada Dante.Dante hanya bisa berdiri terpaku, dikawal ketat oleh dua polisi. Ia ingin sekali menghapus air mata wanita itu. Ia ingin memeluknya dan mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja, tapi kedua tangannya terkunci besi. Ia hanya bisa menatap Chloe dan ayahnya dengan tatapan hancur."Ayah, kumohon jaga dia," lirih Dante sebelum polisi menariknya paksa menuju lift."DANTE!!! TI

  • HASRAT TERLARANG ADIK TIRI   133 - BORGOL DI PAGI HARI

    Pagi menyapa dengan cahaya yang pucat dan suasana rumah sakit yang mulai sibuk. Dante masih di sana, di kursi tunggu yang sama. Ia tidak tidur sedetik pun.Mata merah dan pakaiannya yang berantakan membuatnya tampak seperti gelandangan di koridor mewah itu.Talia baru saja sampai. Ia berjalan tergesa-gesa menyusuri lorong dengan tangannya menggenggam tas dengan erat. Ia tertegun saat melihat Dante yang tampak begitu mengenaskan."Dante? Kau tidak pulang?" tanya Talia lirih, berdiri di hadapan pria itu.Dante mendongak perlahan, mencoba memberikan senyum tipis yang gagal. "Bagaimana aku bisa pulang, Talia? Hatiku tertinggal di dalam kamar itu."Talia hendak menyahut, namun langkah kaki yang berat dan teratur dari ujung lorong mengalihkan perhatiannya.Dua orang pria berbadan tegap dengan jaket kulit gelap berjalan lurus ke arah mereka. Aura yang mereka bawa sangat berbeda dari pengunjung rumah sakit biasa."Dante?" Salah satu pria itu bertanya dengan nada otoriter."Ya, saya sendiri."

  • HASRAT TERLARANG ADIK TIRI   132 - ANTARA RANJANG DAN KORIDOR

    Chloe perlahan membuka matanya. Langit-langit putih yang asing menyambut penglihatannya yang masih sedikit kabur.Bau antiseptik yang menyengat menusuk indra penciumannya, mengingatkannya pada kejadian mengerikan di ring tinju itu.Ia menoleh ke samping. Di sana, di atas sofa kecil, Sarah dan Richard terlelap dalam posisi yang tidak nyaman. Wajah mereka tampak begitu kuyu, menyimpan beban kekhawatiran yang luar biasa.Namun, mata Chloe terus menyapu seisi ruangan. Kosong. Dante tidak ada di sana.Perlahan, meski rasa nyeri seperti menghujam ulu hatinya, Chloe mencoba bangkit. Ia meringis sambil memegangi pinggangnya.Dengan gerakan yang sangat hati-hati agar tidak menimbulkan suara, ia menurunkan kakinya pelan ke lantai yang dingin.Langkah demi langkah ia ambil dengan sisa kekuatannya. Tangannya merambat pada dinding sebagai tumpuan, menyeret tiang infus yang berderit pelan.Bagaimanapun juga ia harus menemukan pria itu. Ia harus memastikan Dante tidak pergi.Begitu pintu kamar rawat

  • HASRAT TERLARANG ADIK TIRI   131 - PERMINTAAN UNTUK PRIA YANG DIBENCI

    Talia berjalan keluar dengan langkah kaku, setiap langkahnya terasa berat saat ia melihat punggung tegap Kael yang menunggunya di dekat parkiran. Begitu Talia sampai di hadapannya, Kael tidak langsung bicara. Pria itu justru melepas jasnya dan menyampirkannya ke bahu Talia yang gemetar karena udara malam rumah sakit yang dingin."Aku tidak suka melihatmu gemetar seperti itu di depan mereka," suara Kael berat, tidak sedingin biasanya, namun tetap tegas.Talia mendongak, menatap mata biru itu dengan benci sekaligus bingung.“Kau yang membantu Dante dan Chloe?”Kael menarik napas panjang. Tangannya terangkat hendak menyentuh pipi Talia, namun ia urungkan saat wanita itu menghindar. Kael tersenyum miring, senyum yang penuh luka tersembunyi.“Aku melakukannya untuk diriku sendiri,” jawab Kael setelah diam beberapa saat."Untuk dirimu sendiri? Maksudmu... kau ingin membuat mereka berutang budi padamu supaya kau bisa memegang kendali atas mereka? Kau benar-benar picik, Kael." Talia mengerutk

  • HASRAT TERLARANG ADIK TIRI   130 - BISIKAN DI AMBANG PINTU

    Suara deru napas Talia yang memburu terdengar sebelum sosoknya muncul di lorong. Ia berlari terengah-engah, wajahnya menunjukkan kecemasan yang luar biasa. Begitu melihat Dante yang terduduk lesu di kursi tunggu dengan kondisi berantakan, Talia langsung menghampirinya."Dante! Ya Tuhan, kenapa kau di sini? Tidak masuk?" Talia bertanya dengan nada menuntut, matanya menyapu luka-luka di wajah Dante.Dante hanya menggeleng lemah, bahkan tidak sanggup menatap mata Talia. "Masuklah. Dia menunggumu.""Apa Chloe baik-baik saja? Bagaimana bisa dia ada di sana, hah?" Talia mencecar dengan rentetan pertanyaan, suaranya naik satu oktav karena panik."Kau masuk saja. Aku sedang tidak ingin membicarakannya sekarang," sahut Dante parau, suaranya terdengar seperti orang yang sudah menyerah pada keadaan.Talia mengembuskan napas kasar. Ia merasa frustrasi melihat Dante yang tampak seperti mayat hidup.Tanpa membuang waktu lagi, wanita berkaca mata itu berbalik dan meraih kenop pintu kamar rawat Chloe

  • HASRAT TERLARANG ADIK TIRI   129 - SKENARIO YANG TERDENGAR MENJIJIKAN

    "Kau tampak menyedihkan, Zero. Atau haruskah aku memanggilmu Dante? Nama yang terlalu manis untuk seorang pecundang yang bahkan tidak bisa masuk ke kamar kekasihnya sendiri," ujar Kael. Suaranya rendah nyaris berbisik, namun bergema di lorong yang sepi."Apa yang kau inginkan, Kael? Kau sudah mendapatkan apa yang kau mau. Aku sudah hancur.” Dante mengepalkan tangan, buku-buku jarinya memutih.Kael terkekeh. Suara tawa yang hambar dan tidak mencapai matanya. Ia melangkah maju, memperpendek jarak hingga Dante bisa mencium aroma parfum mahal yang kini terasa memuakkan."Aku punya berita bagus untukmu. Kau tidak perlu khawatir soal The Dominion lagi. Desire Club sudah ditutup secara resmi. Garis polisi melingkar di seluruh gedung itu," ucap Kael datar.Dante tertegun. Matanya membelalak tak percaya. "Ditutup? Bagaimana mungkin?""Beberapa laporan anonim tentang perjudian ilegal dan perdagangan manusia sudah cukup untuk membuat kepolisian menyerbu tempat itu. Sebagian besar anggota inti di

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status