Share

12 - DESIRE CLUB

Author: Ranari Kka
last update Last Updated: 2025-10-18 19:56:45
Sudah tiga hari sejak pagi itu.

Sejak saat itu juga, Dante selalu datang menjemput Chloe sepulang kerja. Bukan dengan mobil, melainkan berjalan kaki, lalu naik bus seperti penumpang biasa.

Mobilnya?

Tiga hari lalu, entah dari mana, tiga orang datang dan membawa kabur mobil yang baru didapat Dante. Sampai sekarang, Chloe masih tidak tahu bagaimana dia mendapatkan mobil itu. Dan ia tak tahu siapa yang mengambilnya.

Tapi melihat Dante yang tampak tenang-tenang saja, sepertinya kehilangan itu bukan hal besar baginya. Chloe tidak bisa menebak isi pikirannya.

Malam ini, Chloe sedang bersiap menutup kafe bersama Arga. Ia melepas celemeknya, melipatnya rapi, sementara suara gesekan kursi terdengar di belakang.

“Hari ini dijemput lagi?” tanya Arga sambil melirik ke luar lewat kaca besar.

Di seberang jalan Dante berdiri bersandar pada tiang lampu. Rokok di tangannya menyala kecil di antara gelap.

“Hmm,” jawab Chloe singkat, senyum tipis seadanya.

Arga menghela napas, menatapnya lebih lama. “Sepe
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • HASRAT TERLARANG ADIK TIRI   135 - CIUMAN SEBAGAI JAMINAN

    Talia sampai di parkiran bawah yang remang-remang. Di sana, sebuah mobil Mercedes hitam sudah menunggu dengan mesin yang masih menyala.Kaca mobil perlahan turun, menampilkan sosok Kael yang duduk tenang di kursi pengemudi sambil menyesap kopi hitamnya.“Aku senang kau menghubungiku duluan, Talia. Masuklah dan setelah itu kita bisa bicara.”Talia melangkah masuk ke dalam mobil dengan perasaan campur aduk. Aroma parfum maskulin Kael yang elegan biasanya terasa menenangkan, namun kali ini aroma itu terasa mencekik.Begitu Talia memasang sabuk pengaman, mobil yang dikemudikan Kael mulai melaju perlahan meninggalkan rumah sakit."Dante ditangkap polisi.”Tiga kata yang dilontarkan Tali langsung mengejutkan Kael detik itu juga.“Bisakah kau mengeluarkannya?”Kael hanya menyandarkan punggungnya ke kursi kulit yang empuk, lalu tertawa rendah. Suara tawa yang terdengar sangat meremehkan."Mengeluarkan dia? Setelah kekacauan yang dia buat? Biarkan saja bocah itu mendekam di sana sebentar, Tali

  • HASRAT TERLARANG ADIK TIRI   134 - DUA ANAK YANG HANCUR

    Tangkap aku juga! Aku yang menyuruhnya bertarung! Aku yang berada di sana! Jika dia seorang kriminal, maka aku adalah alasannya!""Nona, harap tenang. Anda sedang dalam masa perawatan."Polisi itu mencoba memberi pengertian, namun Chloe justru semakin histeris. Ia melepaskan pegangannya dari tiang infus dan mencoba meraih lengan Dante, membuat selang infusnya tertarik kencang dan darah mulai naik ke selang plastik itu."Chloe, hentikan!" Richard berteriak menahannya."Biarkan aku ikut, Yah! Aku tidak mau dia sendirian! Dante! Jangan tinggalkan aku!" Chloe meronta di pelukan Richard, matanya terus terkunci pada Dante.Dante hanya bisa berdiri terpaku, dikawal ketat oleh dua polisi. Ia ingin sekali menghapus air mata wanita itu. Ia ingin memeluknya dan mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja, tapi kedua tangannya terkunci besi. Ia hanya bisa menatap Chloe dan ayahnya dengan tatapan hancur."Ayah, kumohon jaga dia," lirih Dante sebelum polisi menariknya paksa menuju lift."DANTE!!! TI

  • HASRAT TERLARANG ADIK TIRI   133 - BORGOL DI PAGI HARI

    Pagi menyapa dengan cahaya yang pucat dan suasana rumah sakit yang mulai sibuk. Dante masih di sana, di kursi tunggu yang sama. Ia tidak tidur sedetik pun.Mata merah dan pakaiannya yang berantakan membuatnya tampak seperti gelandangan di koridor mewah itu.Talia baru saja sampai. Ia berjalan tergesa-gesa menyusuri lorong dengan tangannya menggenggam tas dengan erat. Ia tertegun saat melihat Dante yang tampak begitu mengenaskan."Dante? Kau tidak pulang?" tanya Talia lirih, berdiri di hadapan pria itu.Dante mendongak perlahan, mencoba memberikan senyum tipis yang gagal. "Bagaimana aku bisa pulang, Talia? Hatiku tertinggal di dalam kamar itu."Talia hendak menyahut, namun langkah kaki yang berat dan teratur dari ujung lorong mengalihkan perhatiannya.Dua orang pria berbadan tegap dengan jaket kulit gelap berjalan lurus ke arah mereka. Aura yang mereka bawa sangat berbeda dari pengunjung rumah sakit biasa."Dante?" Salah satu pria itu bertanya dengan nada otoriter."Ya, saya sendiri."

  • HASRAT TERLARANG ADIK TIRI   132 - ANTARA RANJANG DAN KORIDOR

    Chloe perlahan membuka matanya. Langit-langit putih yang asing menyambut penglihatannya yang masih sedikit kabur.Bau antiseptik yang menyengat menusuk indra penciumannya, mengingatkannya pada kejadian mengerikan di ring tinju itu.Ia menoleh ke samping. Di sana, di atas sofa kecil, Sarah dan Richard terlelap dalam posisi yang tidak nyaman. Wajah mereka tampak begitu kuyu, menyimpan beban kekhawatiran yang luar biasa.Namun, mata Chloe terus menyapu seisi ruangan. Kosong. Dante tidak ada di sana.Perlahan, meski rasa nyeri seperti menghujam ulu hatinya, Chloe mencoba bangkit. Ia meringis sambil memegangi pinggangnya.Dengan gerakan yang sangat hati-hati agar tidak menimbulkan suara, ia menurunkan kakinya pelan ke lantai yang dingin.Langkah demi langkah ia ambil dengan sisa kekuatannya. Tangannya merambat pada dinding sebagai tumpuan, menyeret tiang infus yang berderit pelan.Bagaimanapun juga ia harus menemukan pria itu. Ia harus memastikan Dante tidak pergi.Begitu pintu kamar rawat

  • HASRAT TERLARANG ADIK TIRI   131 - PERMINTAAN UNTUK PRIA YANG DIBENCI

    Talia berjalan keluar dengan langkah kaku, setiap langkahnya terasa berat saat ia melihat punggung tegap Kael yang menunggunya di dekat parkiran. Begitu Talia sampai di hadapannya, Kael tidak langsung bicara. Pria itu justru melepas jasnya dan menyampirkannya ke bahu Talia yang gemetar karena udara malam rumah sakit yang dingin."Aku tidak suka melihatmu gemetar seperti itu di depan mereka," suara Kael berat, tidak sedingin biasanya, namun tetap tegas.Talia mendongak, menatap mata biru itu dengan benci sekaligus bingung.“Kau yang membantu Dante dan Chloe?”Kael menarik napas panjang. Tangannya terangkat hendak menyentuh pipi Talia, namun ia urungkan saat wanita itu menghindar. Kael tersenyum miring, senyum yang penuh luka tersembunyi.“Aku melakukannya untuk diriku sendiri,” jawab Kael setelah diam beberapa saat."Untuk dirimu sendiri? Maksudmu... kau ingin membuat mereka berutang budi padamu supaya kau bisa memegang kendali atas mereka? Kau benar-benar picik, Kael." Talia mengerutk

  • HASRAT TERLARANG ADIK TIRI   130 - BISIKAN DI AMBANG PINTU

    Suara deru napas Talia yang memburu terdengar sebelum sosoknya muncul di lorong. Ia berlari terengah-engah, wajahnya menunjukkan kecemasan yang luar biasa. Begitu melihat Dante yang terduduk lesu di kursi tunggu dengan kondisi berantakan, Talia langsung menghampirinya."Dante! Ya Tuhan, kenapa kau di sini? Tidak masuk?" Talia bertanya dengan nada menuntut, matanya menyapu luka-luka di wajah Dante.Dante hanya menggeleng lemah, bahkan tidak sanggup menatap mata Talia. "Masuklah. Dia menunggumu.""Apa Chloe baik-baik saja? Bagaimana bisa dia ada di sana, hah?" Talia mencecar dengan rentetan pertanyaan, suaranya naik satu oktav karena panik."Kau masuk saja. Aku sedang tidak ingin membicarakannya sekarang," sahut Dante parau, suaranya terdengar seperti orang yang sudah menyerah pada keadaan.Talia mengembuskan napas kasar. Ia merasa frustrasi melihat Dante yang tampak seperti mayat hidup.Tanpa membuang waktu lagi, wanita berkaca mata itu berbalik dan meraih kenop pintu kamar rawat Chloe

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status