Mag-log in"Kau selalu cantik meski sedang panik seperti ini."Kael menyesap kopi hitamnya perlahan, membiarkan uap panasnya menyentuh wajahnya. Di seberang meja, Talia tampak gelisah. Ia terus meremas jemarinya sendiri di bawah meja kayu kafe yang mulai sepi itu."Hentikan, Kael. Kita di sini bukan untuk membicarakan penampilanku," desis Talia tajam.Kael justru terkekeh rendah. Suaranya terdengar seperti vibrasi yang menggetarkan meja. Ia mencondongkan tubuh, memperpendek jarak hingga aroma parfum maskulinnya yang elegan mulai mendominasi udara di antara mereka."Kenapa tidak? Tadi di mobil, kau sangat berani. Ciuman itu aku masih bisa merasakannya di sini." Kael menyentuh bibir bawahnya dengan ibu jari, menatap Talia dengan tatapan lapar yang tidak disembunyikan. "Kau memberikan segalanya dengan begitu putus asa. Itu sangat... seksi.""Kael, kumohon fokuslah!" Talia memotong. Suaranya naik satu oktaf karena malu dan cemas. Ia tidak tahan lagi dengan permainan kata-pria ini. "Berapa lama waktu
Talia sampai di parkiran bawah yang remang-remang. Di sana, sebuah mobil Mercedes hitam sudah menunggu dengan mesin yang masih menyala.Kaca mobil perlahan turun, menampilkan sosok Kael yang duduk tenang di kursi pengemudi sambil menyesap kopi hitamnya.“Aku senang kau menghubungiku duluan, Talia. Masuklah dan setelah itu kita bisa bicara.”Talia melangkah masuk ke dalam mobil dengan perasaan campur aduk. Aroma parfum maskulin Kael yang elegan biasanya terasa menenangkan, namun kali ini aroma itu terasa mencekik.Begitu Talia memasang sabuk pengaman, mobil yang dikemudikan Kael mulai melaju perlahan meninggalkan rumah sakit."Dante ditangkap polisi.”Tiga kata yang dilontarkan Tali langsung mengejutkan Kael detik itu juga.“Bisakah kau mengeluarkannya?”Kael hanya menyandarkan punggungnya ke kursi kulit yang empuk, lalu tertawa rendah. Suara tawa yang terdengar sangat meremehkan."Mengeluarkan dia? Setelah kekacauan yang dia buat? Biarkan saja bocah itu mendekam di sana sebentar, Tali
Tangkap aku juga! Aku yang menyuruhnya bertarung! Aku yang berada di sana! Jika dia seorang kriminal, maka aku adalah alasannya!""Nona, harap tenang. Anda sedang dalam masa perawatan."Polisi itu mencoba memberi pengertian, namun Chloe justru semakin histeris. Ia melepaskan pegangannya dari tiang infus dan mencoba meraih lengan Dante, membuat selang infusnya tertarik kencang dan darah mulai naik ke selang plastik itu."Chloe, hentikan!" Richard berteriak menahannya."Biarkan aku ikut, Yah! Aku tidak mau dia sendirian! Dante! Jangan tinggalkan aku!" Chloe meronta di pelukan Richard, matanya terus terkunci pada Dante.Dante hanya bisa berdiri terpaku, dikawal ketat oleh dua polisi. Ia ingin sekali menghapus air mata wanita itu. Ia ingin memeluknya dan mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja, tapi kedua tangannya terkunci besi. Ia hanya bisa menatap Chloe dan ayahnya dengan tatapan hancur."Ayah, kumohon jaga dia," lirih Dante sebelum polisi menariknya paksa menuju lift."DANTE!!! TI
Pagi menyapa dengan cahaya yang pucat dan suasana rumah sakit yang mulai sibuk. Dante masih di sana, di kursi tunggu yang sama. Ia tidak tidur sedetik pun.Mata merah dan pakaiannya yang berantakan membuatnya tampak seperti gelandangan di koridor mewah itu.Talia baru saja sampai. Ia berjalan tergesa-gesa menyusuri lorong dengan tangannya menggenggam tas dengan erat. Ia tertegun saat melihat Dante yang tampak begitu mengenaskan."Dante? Kau tidak pulang?" tanya Talia lirih, berdiri di hadapan pria itu.Dante mendongak perlahan, mencoba memberikan senyum tipis yang gagal. "Bagaimana aku bisa pulang, Talia? Hatiku tertinggal di dalam kamar itu."Talia hendak menyahut, namun langkah kaki yang berat dan teratur dari ujung lorong mengalihkan perhatiannya.Dua orang pria berbadan tegap dengan jaket kulit gelap berjalan lurus ke arah mereka. Aura yang mereka bawa sangat berbeda dari pengunjung rumah sakit biasa."Dante?" Salah satu pria itu bertanya dengan nada otoriter."Ya, saya sendiri."
Chloe perlahan membuka matanya. Langit-langit putih yang asing menyambut penglihatannya yang masih sedikit kabur.Bau antiseptik yang menyengat menusuk indra penciumannya, mengingatkannya pada kejadian mengerikan di ring tinju itu.Ia menoleh ke samping. Di sana, di atas sofa kecil, Sarah dan Richard terlelap dalam posisi yang tidak nyaman. Wajah mereka tampak begitu kuyu, menyimpan beban kekhawatiran yang luar biasa.Namun, mata Chloe terus menyapu seisi ruangan. Kosong. Dante tidak ada di sana.Perlahan, meski rasa nyeri seperti menghujam ulu hatinya, Chloe mencoba bangkit. Ia meringis sambil memegangi pinggangnya.Dengan gerakan yang sangat hati-hati agar tidak menimbulkan suara, ia menurunkan kakinya pelan ke lantai yang dingin.Langkah demi langkah ia ambil dengan sisa kekuatannya. Tangannya merambat pada dinding sebagai tumpuan, menyeret tiang infus yang berderit pelan.Bagaimanapun juga ia harus menemukan pria itu. Ia harus memastikan Dante tidak pergi.Begitu pintu kamar rawat
Talia berjalan keluar dengan langkah kaku, setiap langkahnya terasa berat saat ia melihat punggung tegap Kael yang menunggunya di dekat parkiran. Begitu Talia sampai di hadapannya, Kael tidak langsung bicara. Pria itu justru melepas jasnya dan menyampirkannya ke bahu Talia yang gemetar karena udara malam rumah sakit yang dingin."Aku tidak suka melihatmu gemetar seperti itu di depan mereka," suara Kael berat, tidak sedingin biasanya, namun tetap tegas.Talia mendongak, menatap mata biru itu dengan benci sekaligus bingung.“Kau yang membantu Dante dan Chloe?”Kael menarik napas panjang. Tangannya terangkat hendak menyentuh pipi Talia, namun ia urungkan saat wanita itu menghindar. Kael tersenyum miring, senyum yang penuh luka tersembunyi.“Aku melakukannya untuk diriku sendiri,” jawab Kael setelah diam beberapa saat."Untuk dirimu sendiri? Maksudmu... kau ingin membuat mereka berutang budi padamu supaya kau bisa memegang kendali atas mereka? Kau benar-benar picik, Kael." Talia mengerutk







