Home / Romansa / HASRAT TERLARANG ADIK TIRI / 125 - JANGAN ANGGAP AKU MUSUH

Share

125 - JANGAN ANGGAP AKU MUSUH

Author: Ranari Kka
last update Last Updated: 2025-12-24 23:20:28

"Buka! Aku mau turun!" teriak Talia.

"Talia, tunggu dulu. Dengarkan aku," suara Kael terdengar memohon, sedikit putus asa. Terdengar bunyi klik. Kael memastikan pintu terkunci bukan untuk menyekap, tapi agar Talia tidak nekat lompat.

"Aku tidak mau dengar! Setelah kau memotretku diam-diam, apa kau juga memasang penyadap padaku?!"

"Aku tidak memasang penyadap!” potong Kael cepat. Ia mencoba mencari kata-kata yang halus. Ia sebenarnya ingin minta maaf karena membuat Talia takut, tapi gengsinya terlalu tinggi. "Itu... anggap saja perlindungan. Aku cuma mau memastikan kau aman. Aku tahu caranya salah, tapi aku melakukannya karena aku khawatir."

"Khawatir? Kau itu obsesi!" bantah Talia.

Kael mendecakkan lidah, merasa frustrasi karena niat baiknya disalahartikan. Hingga tiba-tiba ia membanting setir ke kiri, membawa mobil masuk ke jalanan sepi yang gelap. Ia mau Talia fokus mendengarkannya.

Mobil berhenti mendadak. Hanya ada suara hujan dan napas mereka yang memburu.

Kael merogoh saku celan
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • HASRAT TERLARANG ADIK TIRI   138 - MEMULAI MISI PENCARIAN

    Di dalam mobil yang melaju menuju rumah sakit, suasana begitu hening hingga suara napas Talia yang memburu terdengar jelas.Kael mengemudi dengan satu tangan, sementara tangan lainnya sesekali mengetuk kemudi dengan irama yang sulit dibaca.Ponsel Kael yang diletakkan di dasbor kembali menyala. Sebuah notifikasi foto masuk dari informannya. Kael meliriknya sekilas, lalu matanya menyipit tajam."Talia," panggil Kael, suaranya kini berubah menjadi lebih serius dan dingin, tidak ada lagi nada menggoda seperti di kafe tadi."Apa? Ada kabar tentang Dante?" Talia menoleh cepat, matanya sembap namun penuh harap.Kael tidak menjawab, ia justru memberikan ponselnya kepada Talia. "Lihat foto itu. Itu tangkapan layar dari CCTV gerbang depan rumah sakit. Itu mobil yang membawa Dante."Talia menerima ponsel itu dengan tangan gemetar. Di sana terlihat mobil SUV hitam yang membawa Dante."Perhatikan plat nomornya," perintah Kael datar.Talia mengernyit, mencoba membaca deretan angka di sana. "Memang

  • HASRAT TERLARANG ADIK TIRI   137 - BUKAN KANTOR POLISI

    Begitu kain hitam yang membungkus kepalanya ditarik paksa, Dante terbatuk-batuk akibat debu yang menyesakkan. Cahaya lampu senter yang tajam menghujam matanya, membuatnya terpejam sesaat.Ia dibawa ke sebuah bangunan yang hanya berupa kerangka beton tak berpenghuni. Letaknya jauh di pinggiran kota yang sunyi.Ia mencoba menggerakkan tangannya, namun besi dingin dari borgol yang mengikatnya amengingatkannya pada posisinya saat ini."Polisi, hah? Kostum kalian cukup meyakinkan saat di rumah sakit tadi. Bahkan Talia dan ayahku pun tertipu." Dante mendongak, menyeringai sinis meskipun sudut bibirnya sudah robek dan berdarah.Tiga orang pria berdiri di hadapannya. Mereka melepaskan jaket bertuliskan 'POLISI' yang tadi mereka gunakan sebagai penyamaran.Dante tertipu karena dua orang yang datang menjemputnya adalah anggota rendahan yang tidak pernah sekalipun naik ke atas ring.Salah satu dari mereka, seorang pria bernama Viktor yang merupakan anggota senior Dominion. Pria itu melangkah maj

  • HASRAT TERLARANG ADIK TIRI   136 - KEBERADAANNYA YANG TIDAK DIKETAHUI

    "Kau selalu cantik meski sedang panik seperti ini."Kael menyesap kopi hitamnya perlahan, membiarkan uap panasnya menyentuh wajahnya. Di seberang meja, Talia tampak gelisah. Ia terus meremas jemarinya sendiri di bawah meja kayu kafe yang mulai sepi itu."Hentikan, Kael. Kita di sini bukan untuk membicarakan penampilanku," desis Talia tajam.Kael justru terkekeh rendah. Suaranya terdengar seperti vibrasi yang menggetarkan meja. Ia mencondongkan tubuh, memperpendek jarak hingga aroma parfum maskulinnya yang elegan mulai mendominasi udara di antara mereka."Kenapa tidak? Tadi di mobil, kau sangat berani. Ciuman itu aku masih bisa merasakannya di sini." Kael menyentuh bibir bawahnya dengan ibu jari, menatap Talia dengan tatapan lapar yang tidak disembunyikan. "Kau memberikan segalanya dengan begitu putus asa. Itu sangat... seksi.""Kael, kumohon fokuslah!" Talia memotong. Suaranya naik satu oktaf karena malu dan cemas. Ia tidak tahan lagi dengan permainan kata-pria ini. "Berapa lama waktu

  • HASRAT TERLARANG ADIK TIRI   135 - CIUMAN SEBAGAI JAMINAN

    Talia sampai di parkiran bawah yang remang-remang. Di sana, sebuah mobil Mercedes hitam sudah menunggu dengan mesin yang masih menyala.Kaca mobil perlahan turun, menampilkan sosok Kael yang duduk tenang di kursi pengemudi sambil menyesap kopi hitamnya.“Aku senang kau menghubungiku duluan, Talia. Masuklah dan setelah itu kita bisa bicara.”Talia melangkah masuk ke dalam mobil dengan perasaan campur aduk. Aroma parfum maskulin Kael yang elegan biasanya terasa menenangkan, namun kali ini aroma itu terasa mencekik.Begitu Talia memasang sabuk pengaman, mobil yang dikemudikan Kael mulai melaju perlahan meninggalkan rumah sakit."Dante ditangkap polisi.”Tiga kata yang dilontarkan Tali langsung mengejutkan Kael detik itu juga.“Bisakah kau mengeluarkannya?”Kael hanya menyandarkan punggungnya ke kursi kulit yang empuk, lalu tertawa rendah. Suara tawa yang terdengar sangat meremehkan."Mengeluarkan dia? Setelah kekacauan yang dia buat? Biarkan saja bocah itu mendekam di sana sebentar, Tali

  • HASRAT TERLARANG ADIK TIRI   134 - DUA ANAK YANG HANCUR

    Tangkap aku juga! Aku yang menyuruhnya bertarung! Aku yang berada di sana! Jika dia seorang kriminal, maka aku adalah alasannya!""Nona, harap tenang. Anda sedang dalam masa perawatan."Polisi itu mencoba memberi pengertian, namun Chloe justru semakin histeris. Ia melepaskan pegangannya dari tiang infus dan mencoba meraih lengan Dante, membuat selang infusnya tertarik kencang dan darah mulai naik ke selang plastik itu."Chloe, hentikan!" Richard berteriak menahannya."Biarkan aku ikut, Yah! Aku tidak mau dia sendirian! Dante! Jangan tinggalkan aku!" Chloe meronta di pelukan Richard, matanya terus terkunci pada Dante.Dante hanya bisa berdiri terpaku, dikawal ketat oleh dua polisi. Ia ingin sekali menghapus air mata wanita itu. Ia ingin memeluknya dan mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja, tapi kedua tangannya terkunci besi. Ia hanya bisa menatap Chloe dan ayahnya dengan tatapan hancur."Ayah, kumohon jaga dia," lirih Dante sebelum polisi menariknya paksa menuju lift."DANTE!!! TI

  • HASRAT TERLARANG ADIK TIRI   133 - BORGOL DI PAGI HARI

    Pagi menyapa dengan cahaya yang pucat dan suasana rumah sakit yang mulai sibuk. Dante masih di sana, di kursi tunggu yang sama. Ia tidak tidur sedetik pun.Mata merah dan pakaiannya yang berantakan membuatnya tampak seperti gelandangan di koridor mewah itu.Talia baru saja sampai. Ia berjalan tergesa-gesa menyusuri lorong dengan tangannya menggenggam tas dengan erat. Ia tertegun saat melihat Dante yang tampak begitu mengenaskan."Dante? Kau tidak pulang?" tanya Talia lirih, berdiri di hadapan pria itu.Dante mendongak perlahan, mencoba memberikan senyum tipis yang gagal. "Bagaimana aku bisa pulang, Talia? Hatiku tertinggal di dalam kamar itu."Talia hendak menyahut, namun langkah kaki yang berat dan teratur dari ujung lorong mengalihkan perhatiannya.Dua orang pria berbadan tegap dengan jaket kulit gelap berjalan lurus ke arah mereka. Aura yang mereka bawa sangat berbeda dari pengunjung rumah sakit biasa."Dante?" Salah satu pria itu bertanya dengan nada otoriter."Ya, saya sendiri."

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status