Share

|7| Penjara Pernikahan

Kepala lelaki itu tertunduk, di depan Paman Adam Tuan Harraz terlihat begitu menghormati. Seakan menatap balik mata pamannya, diharamkan oleh lelaki itu.

“Talita adalah perempuan baik, Raz. Dia sempurna untukmu, seharusnya kamu pertimbangkan hal itu. Jika ada satu hal yang tidak kamu sukai dari istrimu, bersabarlah, sesungguhnya Talita memiliki lebih banyak kelebihan yang bisa menyenangkan hatimu. Kamu hanya perlu bersyukur dan akan menyadari hal itu.”

Tuan Harraz masih diam dengan jemari yang saling meremuk satusama lain. Tuan Harraz terlihat enggan balik bicara, karena takut terjadi adu mulut dengan orang yang lelaki itu hormati. Lain halnya jika yang mengajaknya bicara Tuan Fauzan atau Mas Nazar, perselisihan pendapat tidak bisa dihindari.

Karena didiamkan keponakannya, Paman Adam menghela napas dengan kasar, “Baiklah jika memang itu keputusanmu, tapi kami tidak akan menyerah untuk meyakinkanmu sampai Talita melahirkan. Bisa katakan, kenapa kamu menalak Talita? Apa dia memiliki kekurangan yang tak bisa kamu terima—sepertinya tidak mungkin, buktinya pernikahan kalian bertahan sampai lima tahun. Atau dia melakukan sesuatu yang tidak bisa kamu toleransi?”

“Saya tidak mencintainya,” jawab lelaki itu singkat dan dingin. Mendengar jawaban lelaki itu, hatiku berdenyut sakit.

“Bohong,” Paman Adam nyeletuk sambil tertawa mengejek. “Kenapa kamu menikahinya jika tidak mencintainya?” Balas lelaki itu dengan nada kesal.

“Kamu tadi bilang padaku, 38 kali kamu istikharah, jawaban Allah menentang keputusanmu dan mulutmu yang selalu bilang tidak mencintai Talita dan memutuskan untuk menceraikannya ‘kan?” Lelaki itu mengingatkan sambil meluruskan satu jarinya untuk menunjuk-nunjuk Tuan Harraz.

“Tapi di istikharah terakhirku yang ke-39 kali, Allah sependapat denganku,” Tuan Harraz menambahkan.

“Allah menjawab perasaanmu kalau kamu mencintai Talita sebanyak 38 kali Harraz. Perbandingannya sangat jauh dengan jawaban yang mengatakan kamu tidak mencintai Talita yang hanya sekali,” Paman Adam menjelaskan dengan suara menggeram yang seperti meredam emosi.

“Layaknya seperti sebuah amalan, jika sebelum-sebelumnya seorang manusia beribadah menyembah Tuhan dan di akhir hayatnya dia menistakan syahadat, dia tetaplah manusia yang gagal. Berbeda dengan seorang manusia yang dulu-dulunya bermaksiat tapi berakhir dengan taubat, dia ‘lah orang-orang yang beruntung. Pada akhirnya, jawaban terakhir ‘lah yang paling harus didengar.”

“Kalimatmu bijak, tapi kelakuanmu tidak,” Paman Adam berkata ketus. “Baiklah kalau begitu Harraz, genapkan istikharahmu ke-40. Istikharah ‘lah lagi malam ini dan beritahukan jawabannya padaku besok.”

“Jika ternyata, jawaban istikharahmu sama dengan yang terakhir kali, baiklah, aku tidak akan memaksamu lagi. Mungkin keluarga Ghazalah yang lain yang akan berusaha meyakinkanmu, karena dalam pernikahan, bukan cinta saja yang harus kamu pertimbangkan untuk mempertahankan istrimu atau tidak, Harraz.”

Akhirnya pembicaraan tersebut disudahi. Paman Adam bangkit berdiri meninggalkan Tuan Harraz di ruang tamu begitu saja. Tante Hanifa yang tadi ikut diam sepertiku untuk menguping tersenyum getir, ditarik-tariknya lagi lenganku sebelum kehadiran kami disadari oleh suami dan keponakannya.

“Tak usah dipikirkan,” ujar wanita itu setelah menutup pintu kamar. Aku yang duduk lesu hanya tersenyum untuk menanggapi, “Harraz memang keras kepala dan tipe pembangkang. Memang susah sekali meyakinkan lelaki itu, tapi aku masih bersyukur kepada pamannya lelaki itu tahu sopan-santun dan begitu menghormati. Padahal dari segi kekayaan, Harraz lebih segala-galanya dari kami.”

“Boleh aku bertanya sesuatu Talita?” Tante Hanifa bertanya, wanita itu menatap balik pantulan wajahku di cermin saat memoleskan krim. Aku mengangguk mengiakan, meski tidak yakin bisa menjawabinya dengan benar.

“Kurasa aku bisa membaca isi hati Harraz dengan menanyakannya padamu,” wanita itu tersenyum. “Mungkin sikap lelaki itu dingin, tak acuh padamu dan cara dia memandangmu, seakan tidak ada perasaan cinta sama sekali. Orang seperti Harraz memang sudah ditebak isi hatinya, atau jangan-jangan dia bahkan tidak menyadari perasaannya sendiri.”

Aku mendengarkan dengan seksama, hingga giliranku yang menjelaskan saat wanita itu bertanya, “Apa Harraz pernah membelamu dari orang-orang terdekatnya padahal ada kemungkinan mereka yang menjelekkanmu berkata benar?” Teringat cerita Ummu Hilza, aku mengangguk.

“Berarti dia berarti untukmu,” Tante Hanifa menyisiri rambutku. “Padahal bisa saja ‘kan orang-orang terdekatnya yang mengatakan sesuatu yang buruk tentangmu benar, dia memilih untuk membelamu dan tidak memercayainya, meski mungkin ada perasaan ragu dalam dirinya.”

“Apakah dia pernah mencumbumu, padahal lelaki itu tidak tengah ingin dilayani?” Pertanyaan Tante Hanifa kali ini membuatku malu. Aku mengangguk lagi, karena dulu lelaki itu berkali-kali tiba-tiba memeluk dan mencumbuku dengan lembut, tapi setelah aku siap hendak melayaninya, lelaki itu malah tidak melanjutkan.

“Berarti di dekatmu membuatnya nyaman, bukan hanya untuk melampiaskan syahwat saja,” Tante Hanifa bicara lagi, membuat dadaku berdebar sangat keras.

“Apa saat dia ada masalah, dia menceritakannya dengan emosi padamu seakan marah, tapi marahnya bukan ke kamu?”

Semua pertanyaan Tante Hanifa kujawab dengan anggukan. Apa yang dia tanyakan, selalu diiyakan oleh hatiku yang mengalami betapa sakit dan terkejutnya dan kepalaku yang menyimpan memori itu dengan baik.

“Berarti, kamu rumah untuknya,” Tante Hanifa mencium kepalaku. “Jika hanya dilihat dari luar, lelaki itu memang keterlaluan. Jika hatinya ditelisik lebih dalam, kamu akan tahu apa yang sebenarnya lelaki itu rasakan padamu.”

Melihat mataku yang berair, Tante Hanifa langsung menyekanya dengan jari. “Jangan rusak wajah cantikmu dengan air mata,” pintanya. “Hiasi dengan senyuman,” paksanya lagi dan memintaku tersenyum. Aku benar-benar memamerkan senyum, Tante Hanifa memujiku yang cantik di matanya.

“Dari tebakanku Talita,” sambung Tante Hanifa sampil memainkan pita-pita gamisku dari belakang, “Harraz-mu itu sekarang tengah dilanda kebingungan yang beruntun. Seorang lelaki biasanya akan menyadari perasaan hatinya yang sesungguhnya jika tahu dia akan ditinggalkan Talita, setelah itu yakin ‘lah, jika Harraz benar-benar mencintaimu di ambang perpisahan kalian dia akan gila mengejar dan mempertahankan.”

“Kami akan begitu berbahagia jika kalian bersama lagi karena ada Ghazalah kecil di sini,” tangannya turun mengusap perutku. “Tapi yang perlu kutanyakan, bagaimana dengan hatimu?” Tanyanya lagi.

“Aku pernah melihatmu begitu memuja suamimu, tapi sekarang, saat kamu menatap Harraz hanya ada rasa kecewa dan kebencian yang tersisa.”

Saat Tante Hanifa menebak seperti itu, sebenarnya tidak salah. Rasanya memang sakit, tapi perasaan semua manusia bisa berubah-rubah. Sekalipun di dadaku masih tersisa secuil cinta untuknya, aku tidak akan lupa betapa lelaki itu sudah menyakiti dan mengecewakanku. Terutama setelah Ayah meninggal tapi lelaki itu begitu egois tidak membiaranku pergi.

Sampai sekarang, aku bahkan tidak diizinkan pulang hanya untuk berziarah. Menikah dengannya, kuanggap sebagai penjara pernikahan. Dan masa iddah ini, kuanggap sebagai penjara terakhir untukku dari lelaki itu.

Aku sangat berharap, aku tidak akan kembali ke penjara pernikahan itu lagi. Hanya karena aku masih mencintai Tuan Harraz, perasaan kecewa lebih mendominasi dan tidak semua orang bisa bahagia hanya karena cinta.

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status