Share

3. Menantu Idaman

last update publish date: 2026-06-17 00:54:32

Bab 3

Menantu Idaman

Zhao Anran baru saja selesai mengeringkan rambutnya ketika ponselnya berdering, ia bahkan belum sempat melihat nama penelepon sebelum suara Shen Kexin sudah terdengar dari balik speaker.

"Saya sudah di depan rumah Anda!"

Anran melirik jam dinding. "Anda bilang akan menjemput jam delapan."

"Saya ingin melihat tempat tinggal baru Anda."

"Ya Tuhan...."

Anran langsung memutus sambungan lalu keluar dari kamar yang masih berantakan karena barang-barang yang urung ia susun dan ketika Kexin tiba di kamar barunya Kexin bukan hanya menggelengkan kepalanya, matanya bahkan sampai terbelalak.

"Anda yakin malam ini tidur di sini dengan barang-barang berantakan itu?" tanya Kexin.

"Besok setelah pulang kerja, saya akan membeli beberapa perabotan lalu membereskan barang-barang itu," kata Anran sembari menyisir rambutnya yang belum ditata.

Kemudian Anran mengaplikasikan riasan tipis di wajahnya sembari mengobrol dengan Kexin, ketika Anran mengambil pakaian dari dalam koper lalu mengenakannya, Kexin langsung menatapnya dengan tatapan tidak senang.

"Saya tahu Anda seorang dokter, tapi Anda tidak harus berpakaian seperti hendak menghadiri seminar medis," ucap Kexin sembari mengerutkan keningnya.

Anran menunduk melihat sweater rajut warna krem dan celana panjang hitam yang dikenakannya. "Saya hanya makan malam."

"Kita makan malam di restoran baru yang reservasinya penuh sampai bulan depan," sahut Kexin.

Mendengar ucapan Kexin, Anran menyipitkan matanya menatap sahabatnya. "Anda sudah lama merencanakan makan malam di sana?"

Kexin mengedikkan bahunya. "Harusnya saya makan malam di sana bersama pria yang hampir saja menjadi pacar saya, tapi ternyata dia jadian dengan gadis lain."

Anran kehilangan kata-kata, sungguh menyedihkan kedengarannya. Namun, Kexin kelihatannya baik-baik saja.

"Sekarang, ganti baju Anda. Saya akan memilihkannya," kata Kexin.

Shen Kexin adalah lulusan fashion designer dan sekarang bekerja di perusahaan fashion ternama sehingga tidak heran sangat memperhatikan penampilannya, bahkan akan mengomentari dengan pedas penampilan orang-orang terdekatnya jika menurutnya kurang sesuai.

Pukul delapan kurang sepuluh menit, mobil melaju meninggalkan kawasan rumah milik nenek Anran. Selama perjalanan, Kexin terus mengobrol tanpa henti, sebagian besar tentang pekerjaannya di perusahaan fashion, gosip teman-teman SMA mereka, dan tentu saja topik favorit seluruh keluarga Zhao.

"Padahal saya berharap Wei bisa datang malam ini," kata Kexin.

Anran yang sedang membaca pesan dari rumah sakit langsung mengangkat kepala. "Bukannya dia di Beijing?"

"Dia sudah di pesawat tadi?"

"Apa?"

Kexin tertawa. "Kenapa kalau ada dia?"

Anran hanya menghela napas, tidak menjawab pertanyaan Kexin lalu kembali menatap layar ponselnya.

"Keluarga Anda sangat menyukainya," kata Kexin seraya melirik Anran dan bibirnya melengkung, tersenyum menggoda. "Menurut nenek Anda, dia sempurna."

"Menurut nenek saya, semua cucu teman mahjong-nya sempurna."

"Itu juga benar."

Anran menghela napas panjang. Sejak kembali ke Shanghai dua bulan lalu, ia sudah bertemu entah berapa pria yang diperkenalkan oleh neneknya. Sebagian besar berpendidikan tinggi, berasal dari keluarga baik-baik, dan memiliki pekerjaan yang mengesankan. Masalahnya, Anran tidak tertarik pada satu pun dari mereka.

"Pasti lelah dengan kencan buta yang diatur nenek," kata Kexin.

"Jika tidak segera menemukan pacar... gawat," gumam Anran.

"Nenek Anda tidak akan berhenti sampai kau menemukan pacar, dia hanya akan berhenti sampai Anda menikah," kata Kexin.

"Kedua kakak saya bahkan belum menikah," sungut Anran.

"Mereka memiliki pacar."

"Saya baru dua puluh enam!"

"Saya rasa nenek Anda hanya khawatir kelak tidak akan ada yang menikahi Anda."

Anran mendengus, ia sudah beberapa kali berpacaran saat kuliah, tetapi tidak ingin menikah muda.

"Kenapa tidak mempertimbangkan Tang Wei?" tanya Kexin.

Tang Wei adalah salah satu sahabatnya. Dia tampan, mapan, sopan, dan berasal dari keluarga yang sudah berteman dengan keluarga Zhao selama puluhan tahun, bahkan semua orang menganggap mereka akan menjadi pasangan yang sempurna, kecuali dirinya sendiri.

"Dia tidak menyuai saya," gumam Anran pelan dan ragu.

"Anda tahu dengan sangat jelas, Anda hanya pura-pura tidak tahu."

Anran menoleh ke jendela mobil. Lampu-lampu Shanghai mulai menyala satu per satu, menerangi jalanan yang masih ramai.

"Saya tidak menyukainya."

Kexin tertawa. "Ya, di situ masalahnya."

Tidak lama kemudian mobil memasuki area Bund. Restoran yang menjadi tujuan mereka menempati lantai atas sebuah bangunan tua bergaya kolonial yang telah direnovasi total. Dari luar, bangunan itu terlihat sederhana dan elegan. Tidak ada papan nama besar atau dekorasi mencolok, hanya sebuah plakat logam berwarna hitam dengan logo restoran yang terpasang di dekat pintu masuk.

Begitu lift terbuka, seorang pelayan langsung menyambut mereka. "Selamat malam, Nona Shen."

"Kami punya reservasi ruang VIP," kata Kexin.

Pelayan itu mengangguk hormat lalu mempersilakan mereka masuk, Anran sempat mengamati interior restoran saat berjalan melewati ruang utama. Tempat itu jauh berbeda dari restoran fine dining yang pernah ia kunjungi di London. Nuansanya tetap modern, tetapi terasa lebih hangat. Dominasi kayu gelap, marmer krem, dan pencahayaan lembut membuat suasana restoran terasa tenang.

"Anda benar-benar memesan ruang VIP?" tanya Anran.

"Tentu saja."

"Demi pria itu?"

"Saya menyukainya."

"Anda gila dan boros."

Kexin menyeringai. "Saya bekerja keras agar bisa boros."

Anran memutar bola mata, ia tidak akan pernah menang berdebat dengan Kexin. Apa pun temanya tetaplah Kexin yang akan memenangkan perdebatan.

Ruang VIP yang mereka cukup besar, dinding kaca setinggi langit-langit memperlihatkan panorama malam Shanghai yang menakjubkan. Dari sana mereka bisa melihat Sungai Huangpu yang berkilauan dan deretan gedung pencakar langit di Pudong yang berdiri megah di kejauhan.

Lin Xiaoyu dan Gu Yiran sudah lebih dulu datang, mereka langsung berdiri ketika Anran dan Kexin memasuki ruangan.

"Akhirnya!" seru Xiaoyu begitu melihat mereka.

"Kami hampir mengira kalian kabur!" kata Yiran.

"Kexin yang terlambat," sahut Anran sambil menarik kursi.

"Fitnah," kata Kexin.

Pelayan mulai menuangkan air dan menjelaskan menu malam itu. Tidak ada satu pun dari mereka yang terlihat kagum atau sibuk memotret tempat itu karena mereka semua berasal dari keluarga yang cukup berada dan sudah terbiasa menghadiri makan malam di tempat-tempat seperti ini sejak kecil, yang mereka ributkan justru orang yang tidak hadir.

"Wei Wei benar-benar tidak datang?" tanya Xiaoyu.

"Saat pesawatnya mendarat, mungkin kita sudah selesai," sahut Kexin.

Yiran langsung menghela napas kecewa. "Kasihan."

"Kenapa kasihan?" tanya Anran.

"Karena calon menantu idaman keluarga Zhao gagal hadir," kata Kexin sambil menyeringai.

Gu Yiran mengangguk serius. "Nenek Anda pasti kecewa."

"Nenek saya selalu kecewa," sahut Anran.

"Kecuali kalau Anda pulang membawa surat nikah dengan Wei Wei," goda Yiran.

Anran mengambil serbet dan melemparkannya ke arah Gu Yiran lalu mereka kembali tertawa lepas. Dua menit kemudian makanan pembuka selesai disajikan, tetapi lampu ruangan sedikit diredupkan kemudian suara percakapan dari ruang utama perlahan mereda.

"Apa yang terjadi?" tanya Xiaoyu.

Kexin mengangkat bahu. "Mungkin ada pertunjukkan khusus."

Tak lama kemudian suara seorang pria terdengar melalui pengeras suara. "Selamat malam semuanya. Terima kasih telah meluangkan waktu untuk hadir di restoran kami malam ini."

Perhatian mereka otomatis tertuju ke luar, ke arah area utama restoran yang bisa dilihat melalui kaca dari dalam ruang VIP.

"Karena restoran ini baru dibuka, izinkan kami memperkenalkan sosok di balik seluruh konsep dan menu yang Anda nikmati malam ini."

Beberapa pelayan berhenti berjalan dan tamu mulai memperhatikan.

"Chef kami merupakan lulusan Le Cordon Bleu London dan pernah bekerja di beberapa restoran fine dining ternama di Eropa sebelum memutuskan kembali ke Shanghai. Filosofinya adalah menggabungkan teknik kuliner Prancis dengan cita rasa yang dekat dengan masyarakat Tiongkok," lanjut pria itu.

Anran awalnya tidak terlalu memperhatikan ucapan pegawai restoran tersebut, tetapi saat sebuah nama disebut, tangan Anran yang sedang mengangkat gelas langsung berhenti di udara dan dari area dapur terbuka, ia melihat seorang pria mengenakan seragam chef hitam melangkah keluar lalu berdiri di bawah sorot lampu dengan penuh percaya diri.

Tubuhnya tinggi, rambut rapi, dan wajah yang sangat dikenalnya membuat beberapa detik Anran hanya bisa menatap tanpa berkedip. Wang Zeyan, ia ternyata seorang chef di restoran fine dining.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • HOT DUDA DI SEBELAH RUMAH    43. Masa Lalu

    Chapter 43Masa LaluSetelah menghabiskan hari liburnya di rumah orang tua dan kembali mendapat jadwal masuk siang, anran belum sempat bertemu Zeyan. Rencana kecil di rumah orang tua Anran ternyata juga mendadak gagal, Yuan mengatakan ada kesibukan mendadak, padahal Anran sudah bersusah payah menyetir pulang ke rumah orang tuanya setelah bekerja.Paginya, Anran terbangun lebih cepat dari biasanya dan saat berusaha memejamkan mata lagi, ternyata kantuknya sepertinya sudah hilang. Mungkin karena terlalu memikirkan kejanggalan alasan kakaknya yang tiba-tiba membatalkan acara makan malam keluarga di rumah mereka. Kakaknya adalah orang yang sangat rapi, bahkan dalam hal kecil sekalipun. Namun, Anran tidak ingin mendesak kakaknya untuk mengatakan hal yang sebenarnya karena meskipun mereka sangat dekat, bukan berarti tidak ada batasan di antara mereka. Karena masih memiliki cukup banyak waktu sebelum berangkat bekerja, ia tidak langsung bersiap ke rumah sakit. Setelah beberapa saat memikir

  • HOT DUDA DI SEBELAH RUMAH    42. Pulang

    Chapter 42PulangSetelah menyelesaikan beberapa urusan di rumah dan beristirahat sebentar, Anran yang sedang mendapatkan liburnya memutuskan untuk pulang ke rumah orang tuanya pada sore hari. Sudah beberapa hari ia tidak pulang, bukan karena tidak ingin bertemu keluarganya, tetapi karena belakangan sela waktu luangnya ia lebih sering menghabiskan waktu bersama Zeyan.Anran sengaja membeli beberapa kotak makanan, kue, dan hidangan yang disukai orang tuanya dan neneknya. Saat memasuki rumah, ia mendengar suara percakapan dari ruang keluarga dan ternyata benar saja ibunya, ayahnya, dan neneknya sedang berada di sana.Anran baru berjalan beberapa langkah ketika ibunya langsung menoleh."Anda akhirnya pulang juga," kata Xu Jinghua sambil tersenyum. "Kata Yuan, Anda kemarin mentraktirnya makan?"Anran yang masih membawa beberapa kotak makanan langsung menghela napas panjang. "Mama benar-benar tidak bisa menunggu saya duduk?" Ia meletakkan kotak-kotak tersebut di atas meja sebelum duduk di

  • HOT DUDA DI SEBELAH RUMAH    41. Ciuman

    Chapter 41CiumanAnran masih melingkarkan kedua tangannya di leher Zeyan ketika pria itu membawanya naik menuju lantai atas. Tubuhnya terasa ringan dalam pelukan Zeyan, sementara wajahnya masih sedikit panas karena ucapan yang tadi tanpa sengaja keluar dari mulutnya. Ia benar-benar datang hanya untuk melihat Zeyan, tetapi sekarang memang sudah sangat terlambat untuk pulang. "Bagaimana makan malam Anda dengan Kak Yuan?" tanya Zeyan."Baik-baik saja," jawab Anran sambil memainkan ujung rambut Zeyan dengan jarinya. "Saya makan cukup banyak."Zeyan tersenyum tipis. "Bagus.""Saya juga bertemu Kexin sebentar.""Kexin?" Zeyan mengangkat alis, lalu kembali menatap tangga di depannya.Anran mengangguk. "Minum kopi. Sudah lama saya tidak bertemu dengannya."Zeyan hanya mengangguk pelan. "Teman Anda... yang mabuk itu, kan?"Anran langsung melotot menatap Zeyan. "Anda selalu mengingat itu?"Zeyan justru tersenyum. "Anda sering menyebutnya, saya rasa dia yang paling dekat dengan Anda."Anran te

  • HOT DUDA DI SEBELAH RUMAH    40. Sahabat yang Terlupakan

    Chapter 40Sahabat yang TerlupakanSetelah makan malam bersama kakaknya, Anran tidak langsung pulang tetapi mampir ke sebuah toko untuk membeli beberapa pengharum ruangan karena pengharum di kamarnya akan segera habis. Setelah mendapatkan barang dan membayar, Anran keluar berjalan menuju area parkir sambil membuka ponselnya dan melihat beberapa pesan yang masuk di grup pertemanan mereka. Salah satunya dari Kexin yang sejak beberapa hari terakhir memang belum sempat ditemuinya.Kexin: Anran, Anda masih hidup?Anran langsung tersenyum dan mengetik balasan: Tentu saja.Tidak sampai beberapa detik, balasan Kexin muncul: Bagus. Saya kira Anda sudah meninggal karena sibuk pacaran.Anran tertawa kecil ketika membaca pesan itu lalu memasukkan ponselnya ke dalam tas sambil berjalan menuju mobil, tetapi kemudian berhenti sebentar sebelum akhirnya membalas.Anran: Kalian di mana?Kexin langsung membalas seolah memang sedang menunggu kesempatan untuk mengomel: Akhirnya Anda ingat kami masih sahab

  • HOT DUDA DI SEBELAH RUMAH    39. Mentraktir Kakak

    Chapter 39Mentraktir Kakak Anran datang lebih awal ke restoran yang sudah dipilih Yuan. Restoran tersebut merupakan salah satu restoran Shanghai cuisine yang cukup terkenal dan selalu ramai, tetapi suasananya tetap nyaman dan tidak terlalu mewah. Begitu masuk, Anran langsung melihat Yuan dan Shenya yang sudah lebih dulu datang. Yuan mengangkat tangan untuk memanggilnya, sementara Shenya tersenyum ketika melihat Anran berjalan menghampiri mereka."Maaf membuat kalian menunggu," ucap Anran sambil menarik kursi."Kami juga baru sampai," jawab Shenya.Anran duduk di sebelah Yuan dengan wajah ceria. Entah karena baru menerima gaji atau karena akhirnya bisa mentraktir kakaknya menggunakan uang hasil kerjanya sendiri sehingga malam itu suasana hatinya terasa lebih baik. "Bagaimana pekerjaan Anda hari ini?" tanya Yuan seraya menyodorkan buku menu pada Anran. "Lumayan lelah, UGD hampir tidak pernah sepi," jawab Anran seraya membuka buku menu lalu membaliknya beberapa kali untuk membaca kes

  • HOT DUDA DI SEBELAH RUMAH    38. Kunci Rumah Sebelah

    Chapter 38Kunci Rumah SebelahSetelah dua hari berada di rumah Zeyan, kondisi Anran akhirnya benar-benar pulih. Demamnya sudah turun, kepalanya tidak lagi terasa berat, tenggorokannya juga sudah jauh lebih baik dan ia sudah bisa makan seperti biasa. Li Shuyan yang sejak datang terus memperhatikan keadaan Anran akhirnya merasa tenang setelah memastikan Anran benar-benar tidak lagi terlihat seperti orang sakit. Setelah makan siang, Li Shuyan dan Nuonuo pun bersiap untuk pulang. Nuonuo sempat beberapa kali memeluk Anran dan mengatakan bahwa ia akan merindukan Kakak Dokter, sementara Li Shuyan kembali mengingatkan Anran agar menjaga tubuh dan tidak terlalu memaksakan diri bekerja.Anran berdiri di depan rumah bersama Zeyan ketika taksi online yang dipesan Li Shuyan berhenti di depan pagar. Nuonuo melambaikan tangannya dari dalam mobil dengan wajah ceria, tetapi setelah mobil mulai bergerak, Anran masih berdiri di tempat sambil memandanginya sampai kendaraan itu berbelok dan menghilang da

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status