ログインBab 3
Menantu Idaman Zhao Anran baru saja selesai mengeringkan rambutnya ketika ponselnya berdering, ia bahkan belum sempat melihat nama penelepon sebelum suara Shen Kexin sudah terdengar dari balik speaker. "Aku sudah di depan rumahmu!" Anran melirik jam dinding. "Kau bilang akan menjemput jam delapan." "Aku ingin melihat tempat tinggal barumu." "Ya Tuhan...." Anran langsung memutus sambungan lalu keluar dari kamar yang masih berantakan karena barang-barang yang urung ia susun dan ketika Kexin tiba di kamar barunya Kexin bukan hanya menggelengkan kepalanya, matanya bahkan sampai terbelalak. "Kau yakin malam ini tidur di sini dengan barang-barang berantakan itu?" tanya Kexin. "Besok setelah pulang kerja, aku akan membeli beberapa perabotan lalu membereskan barang-barang itu," kata Anran sembari menyisir rambutnya yang belum ditata. Kemudian Anran mengaplikasikan riasan tipis di wajahnya sembari mengobrol dengan Kexin, ketika Anran mengambil pakaian dari dalam koper lalu mengenakannya, Kexin langsung menatapnya dengan tatapan tidak senang. "Aku tahu kau seorang dokter, tapi kau tidak harus berpakaian seperti hendak menghadiri seminar medis," ucap Kexin sembari mengerutkan keningnya. Anran menunduk melihat sweater rajut warna krem dan celana panjang hitam yang dikenakannya. "Aku hanya makan malam." "Kau makan malam di restoran baru yang reservasinya penuh sampai bulan depan," sahut Kexin. Mendengar ucapan Kexin, Anran menyipitkan matanya menatap sahabatnya. "Kau sudah lama merencanakan makan malam di sana?" Kexin mengedikkan bahunya. "Harusnya aku makan malam di sana bersama pria yang hampir saja menjadi pacarku, tapi ternyata dia jadian dengan gadis lain." Anran kehilangan kata-kata, sungguh menyedihkan kedengarannya. Namun, Kexin kelihatannya baik-baik saja. "Sekarang, ganti bajumu. Aku akan memilihkannya," kata Kexin. Shen Kexin adalah lulusan fashion designer dan sekarang bekerja di perusahaan fashion ternama sehingga tidak heran sangat memperhatikan penampilannya, bahkan akan mengomentari dengan pedas penampilan orang-orang terdekatnya jika menurutnya kurang sesuai. Pukul delapan kurang sepuluh menit, mobil melaju meninggalkan kawasan rumah milik nenek Anran. Selama perjalanan, Kexin terus mengobrol tanpa henti, sebagian besar tentang pekerjaannya di perusahaan fashion, gosip teman-teman SMA mereka, dan tentu saja topik favorit seluruh keluarga Zhao. "Kuharap Wei bisa datang malam ini," kata Kexin. Anran yang sedang membaca pesan dari rumah sakit langsung mengangkat kepala. "Bukannya dia di Beijing?" "Dia sudah di pesawat tadi?" "Apa?" Kexin tertawa. "Kenapa kalau ada dia?" Anran hanya menghela napas, tidak menjawab pertanyaan Kexin lalu kembali menatap layar ponselanya. "Keluargamu sangat menyukainya," kata Kexin seraya melirik Anran dan bibirnya melengkung, tersenyum menggoda. "Menurut nenekmu, dia sempurna." "Menurut nenekku, semua cucu teman mahjong-nya sempurna." "Itu juga benar." Anran menghela napas panjang. Sejak kembali ke Shanghai dua bulan lalu, ia sudah bertemu entah berapa pria yang diperkenalkan oleh neneknya. Sebagian besar berpendidikan tinggi, berasal dari keluarga baik-baik, dan memiliki pekerjaan yang mengesankan. Masalahnya, Anran tidak tertarik pada satu pun dari mereka. "Pasti lelah dengan kencan buta yang diatur nenekmu," kata Kexin. "Jika tidak segera menemukan pacar... gawat," gumam Anran. "Nenekmu tidak akan berhenti sampai kau menemukan pacar, nenekmu hanya akan berhenti sampai kau menikah," kata Kexin. "Kedua kakakku bahkan belum menikah," sungut Anran. "Mereka sudah bertunangan." "Aku baru dua puluh enam!" "Kurasa nenekmu hanya khawatir tidak akan ada yang menikahimu." Anran mendengus, ia sudah beberapa kali berpacaran saat kuliah, tetapi tidak ingin menikah muda. "Kenapa tidak mempertimbangkan Tang Wei?" Tang Wei adalah salah satu sahabatnya. Dia tampan, mapan, sopan, dan berasal dari keluarga yang sudah berteman dengan keluarga Zhao selama puluhan tahun, bahkan semua orang menganggap mereka akan menjadi pasangan yang sempurna, kecuali dirinya sendiri. "Dia tidak menyuaiku," gumam Anran pelan dan ragu. "Kau tahu dengan sangat jelas kalau dia menyukaimu, tapi kau pura-pura tidak tahu." Anran menoleh ke jendela mobil. Lampu-lampu Shanghai mulai menyala satu per satu, menerangi jalanan yang masih ramai. "Aku tidak menyukainya." Kexin tertawa. "Ya, di situ masalahnya." Tidak lama kemudian mobil memasuki area Bund. Restoran yang menjadi tujuan mereka menempati lantai atas sebuah bangunan tua bergaya kolonial yang telah direnovasi total. Dari luar, bangunan itu terlihat sederhana dan elegan. Tidak ada papan nama besar atau dekorasi mencolok, hanya sebuah plakat logam berwarna hitam dengan logo restoran yang terpasang di dekat pintu masuk. Begitu lift terbuka, seorang pelayan langsung menyambut mereka. "Selamat malam, Nona Shen." "Kami punya reservasi ruang VIP," kata Kexin. Pelayan itu mengangguk hormat lalu mempersilakan mereka masuk, Anran sempat mengamati interior restoran saat berjalan melewati ruang utama. Tempat itu jauh berbeda dari restoran fine dining yang pernah ia kunjungi di London. Nuansanya tetap modern, tetapi terasa lebih hangat. Dominasi kayu gelap, marmer krem, dan pencahayaan lembut membuat suasana restoran terasa tenang. "Kau benar-benar memesan ruang VIP?" tanya Anran. "Tentu saja." "Demi pria itu?" "Aku menyukainya." "Kau gila dan boros." Kexin menyeringai. "Aku bekerja keras agar bisa boros." Anran memutar bola mata, ia tidak akan pernah menang berdebat dengan Kexin. Apa pun temanya tetaplah Kexin yang akan memenangkan perdebatan. Ruang VIP yang mereka cukup besar, dinding kaca setinggi langit-langit memperlihatkan panorama malam Shanghai yang menakjubkan. Dari sana mereka bisa melihat Sungai Huangpu yang berkilauan dan deretan gedung pencakar langit di Pudong yang berdiri megah di kejauhan. Lin Xiaoyu dan Gu Yiran sudah lebih dulu datang, mereka langsung berdiri ketika Anran dan Kexin memasuki ruangan. "Akhirnya!" seru Xiaoyu begitu melihat mereka. "Kami hampir mengira kalian kabur!" kata Yiran. "Kexin yang terlambat," sahut Anran sambil menarik kursi. "Fitnah," kata Kexin. Pelayan mulai menuangkan air dan menjelaskan menu malam itu. Tidak ada satu pun dari mereka yang terlihat kagum atau sibuk memotret tempat itu karena mereka semua berasal dari keluarga yang cukup berada dan sudah terbiasa menghadiri makan malam di tempat-tempat seperti ini sejak kecil, yang mereka ributkan justru orang yang tidak hadir. "Wei Wei benar-benar tidak datang?" tanya Xiaoyu. "Saat pesawatnya mendarat, mungkin kita sudah selesai," sahut Kexin. Yiran langsung menghela napas kecewa. "Kasihan." "Kenapa kasihan?" tanya Anran. "Karena calon menantu idaman keluarga Zhao gagal hadir," kata Kexin sambil menyeringai. Gu Yiran mengangguk serius. "Nenekmu pasti kecewa." "Nenekku selalu kecewa," sahut Anran. "Kecuali kalau kau pulang membawa surat nikah dengan Wei Wei," goda Yiran. Anran mengambil serbet dan melemparkannya ke arah Gu Yiran lalu mereka kembali tertawa lepas. Dua menit kemudian makanan pembuka selesai disajikan, tetapi lampu ruangan sedikit diredupkan kemudian suara percakapan dari ruang utama perlahan mereda. "Apa yang terjadi?" tanya Xiaoyu. Kexin mengangkat bahu. "Mungkin ada pertunjukkan khusus." Tak lama kemudian suara seorang pria terdengar melalui pengeras suara. "Selamat malam semuanya. Terima kasih telah meluangkan waktu untuk hadir di restoran kami malam ini." Perhatian mereka otomatis tertuju ke luar, ke arah area utama restoran yang bisa dilihat melalui kaca dari dalam ruang VIP. "Karena restoran ini baru dibuka, izinkan kami memperkenalkan sosok di balik seluruh konsep dan menu yang Anda nikmati malam ini." Beberapa pelayan berhenti berjalan dan tamu mulai memperhatikan. "Chef kami merupakan lulusan Le Cordon Bleu London dan pernah bekerja di beberapa restoran fine dining ternama di Eropa sebelum memutuskan kembali ke Shanghai. Filosofinya adalah menggabungkan teknik kuliner Prancis dengan cita rasa yang dekat dengan masyarakat Tiongkok," lanjut pria itu. Anran awalnya tidak terlalu memperhatikan ucapan pegawai restoran tersebut, tetapi saat sebuah nama disebut, tangan Anran yang sedang mengangkat gelas langsung berhenti di udara dan dari area dapur terbuka, ia melihat seorang pria mengenakan seragam chef hitam melangkah keluar lalu berdiri di bawah sorot lampu dengan penuh percaya diri. Tubuhnya tinggi, rambut rapi, dan wajah yang sangat dikenalnya membuat beberapa detik Anran hanya bisa menatap tanpa berkedip. Wang Zeyan, ia ternyata seorang chef di restoran fine dining.Chapter 11Teman SMAPukul setengah lima sore, Zhao Anran memasuki jalanan menuju tempat tinggalnya, matahari mulai condong ke barat, meninggalkan semburat jingga di balik deretan pepohonan yang tumbuh di sepanjang jalan. Hari itu UGD lebih sibuk dibanding biasanya sehingga bahu Anran terasa pegal dan kepalanya sedikit berat dan Anran ingin segera tiba di rumahnya kemudian mandi air hangat, makan malam lalu tidur lebih awal.Namun, begitu mobilnya berbelok ke jalanan depan rumah, spontan Anran mengurangi kecepatan karena sebuah sedan hitam terparkir tepat di depan pagar. Anran sangat mengenali mobil itu dan segera menurunkan kaca mobil.Tang Wei juga menurunkan kaca mobil lalu tersenyum dan berkata, "Akhirnya pulang juga."Anran juga tersenyum, tetapi tidak menjawab. Ia membuka pintu mobil lalu menghampiri Tang Wei. "Bukannya semalam aku sudah bilang tidak ingin merepotkanmu?""Aku tidak merasa direpotkan," ujar Tang Wei.Anran mengedikkan bahunya. "Baiklah. Kalau begitu, aku menganda
Chapter 10Salah MengiraUntuk beberapa saat Anran membeku karena pengakuan Zeyan, sementara angin malam berembus melewati jalan kecil di antara kedua rumah mereka. Sejak melihat Zeyan menggendong anak perempuan. Anran sibuk membayangkan pria di depannya memiliki keluarga kecil yang sempurna. Seorang istri cantik yang menunggunya pulang setiap malam, seorang putri yang manja, rumah hangat dengan lampu-lampu yang selalu menyala. Rupanya semua itu hanya kesimpulan yang ia buat sendiri."Maaf," ucap Anran pelan sambil tersenyum canggung. "Saya... salah mengira."Zeyan tersenyum. "Tidak masalah." Anran mengangguk kecil dan suasana mendadak menjadi sedikit kikuk, ia baru mengenal pria itu beberapa hari, tetapi sudah dua kali salah menilai. Pertama mengira Zeyan mencoba bunuh diri, sekarang mengira pria itu masih memiliki istri.Zeyan melirik ke arah dalam rumah. ."Tawaran saya masih berlaku."Anran mengikuti arah pandangan Zeyan lalu mengembuskan napas pelan. Tawaran Zeyan seperti oase di
Chapter 9Duda Sebelah Rumah Zhao Anran tidak langsung kembali ke rumahnya, ia mengemudikan mobilnya ke arah yang berlawanan dengan tempat tinggalnya menuju sebuah restoran untuk mengambil makanan untuk makan malamnya yang telah dipesan sebelum ia meninggalkan tempat kerjanya. Ketika memasuki kawasan rumah lama neneknya, ia memperlambat laju kendaraannya, dan setelah berada di depan rumah, ia tidak langsung keluar dari mobil untuk membuka pagar. Anran menatap pintu gerbang rumah Zeyan, rumah bergaya Eropa modern itu selalu tampak hidup. Ketika hari mulai gelap, lampu-lampu terasnya menyala dan ketika siang hari selalu terlihat tenang. Pasti keluarga kecil chef Wang hidup rukun dan bahagia di dalam rumah itu, istrinya juga cantik, pikir Anran.Seorang chef berbakat, tampan, mapan, memiliki putri yang menggemaskan, dan keluarga yang hangat. Kehidupan Chef Wang benar-benar sempurna, pikirnya lagi. Anran menggeleng pelan lalu menghela napas berat dan buru-buru keluar dari mobil kemudia
Chapter 8Pemeriksaan Rutin"Jangan berlarian."Suara Wang Zeyan terdengar tenang, tetapi gadis kecil yang mengenakan baju kuning itu sama sekali tidak memedulikannya. Nuonuo justru tertawa riang sambil berlari menyusuri lorong poliklinik anak, kedua kepang pendeknya bergoyang ke kanan dan kiri mengikuti langkah-langkah kecilnya."Nuonuo menang!" serunya bangga.Zeyan mengembuskan napas pelan. Ia sudah memperingatkan putrinya sejak mereka turun dari mobil. Rumah sakit bukan taman bermain. Banyak pasien yang sedang beristirahat dan anak-anak lain yang mungkin kondisinya jauh lebih buruk daripada Nuonuo. Namun, di mata anak berusia empat tahun, lorong rumah sakit yang panjang justru terlihat seperti lintasan lomba lari."Awas, hati-hati jangan sampai jatuh.""Aku enggak jatuh!" Nuonuo berhenti, lalu menoleh sambil menyeringai jahil. "Papa lambat!""Benarkah?"Zeyan melangkah sedikit lebih cepat. Belum sempat Nuonuo kabur lagi, tubuh mungil itu sudah terangkat ke udara dan mendarat di p
Chapter 7Salah PahamPukul lima sore, Tang Wei sudah tiba di depan rumah Zhao Anran tepat waktu seperti yang dijanjikannya. Anran membawa tas kecil lalu keluar dari rumah sambil masih melihat daftar barang di ponselnya."Aku merasa seperti mahasiswa baru," gumamnya sembari menunjukkan layar ponselnya.Tang Wei yang bersandar di samping mobil tersenyum sembari membaca daftar di layar yang ditunjukkan Anran. "Kasur, lemari, rak buku, rak sepatu, meja kerja....""Aku benar-benar tidak bisa memakai barang-barang lama nenekku," kata Anran. "Tentu. Kurasa aku pun akan membeli barang-barang baru dibandingkan menggunakan furnitur lama milik nenekku," kata tang Wei sembari menjauh dari mobil lalu membukakan pintu mobil untuk Anran. "Jika butuh bantuan membereskan barang-barangmu, katakan saja." Anran menatap Tang Wei dan berpikir kalau Kexin pasti memberitahu keadaan tempat tinggalnya. "Aku bisa mengatasinya sendiri," kata Anran lalu masuk ke dalam mobil."Aku tahu," kata Tang Wei lalu men
Chapter 6Tetangga Sebelah RumahPukul empat sore, Zhao Anran akhirnya sampai di rumah setelah menyelesaikan sif paginya. Meski disebut sif pagi, bekerja sebagai dokter UGD tidak pernah benar-benar terasa seperti jadwal normal. Ada saja pasien yang datang tiba-tiba atau kondisi darurat yang membuat waktu berjalan tanpa terasa, dan ketika akhirnya bisa pulang, tubuhnya terasa seperti baru saja melewati perang kecil.Anran mematikan mesin mobil lalu bersandar sebentar di kursi pengemudi sambil memejamkan mata. Kepalanya sedikit pusing, bukan hanya karena kelelahan, tetapi juga karena sejak pagi ia sudah memikirkan kondisi barang-barangnya yang masih berantakan.Bukan hanya perlu membeli beberapa furnitur baru, sepertinya ia juga memerlukan jasa kebersihan rumah karena jika mengerjakannya sendiri sepertinya dirinya tidak sanggup. Di London, Anran terbiasa tinggal sendiri dan mengurus dirinya sendiri bukan hal yang baru, tetapi mengurus rumah sebesar itu sendirian dan membagi tenaga denga







