Partager

Part 114: Kampung Kila

Auteur: Ersula
last update Date de publication: 2026-11-05 15:41:17

***

"Besok kalian ke Bali, ta, Nduk?"

Ibu meletakkan cangkir-cangkir di atas nampan yang baru saja dibersihkan Kila. Aroma teh hangat menguar dari teko, menemani suasana santai sore itu.

"Iya, Bu. Sebenarnya Aksara menurut saja aku mau ke mana," jawab Kila sambil membuka bungkus camilan.

"Oh, kelihatannya Aksara memang niat sekali mau punya anak secepatnya." Ibu tertawa kecil.

Kila ikut tersenyum. "Didoakan saja, ya, Bu. Semoga aku dan Aksara cepat punya anak."

Namun, begitu mengucapkan kalimat
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Dernier chapitre

  • Hadiah: Bosku, Partner Rahasiaku.   Part 115: Akhirnya... bergandengan...

    ***"Bagaimana?" bisik Aksara.Kila tersenyum sambil menatap suaminya. Baginya, Aksara selalu terlihat menarik. Tubuh pria itu tegap, kulitnya terasa hangat, dan ada sesuatu dari dirinya yang selalu berhasil membuat Kila terpikat. Bahkan, kalau boleh jujur, Aksara sebenarnya jauh lebih menggairahkan daripada pemandangan di sekitar mereka.Namun, kali ini Kila ingin menikmati hal sederhana. Berjalan bersama, bergandengan tangan, dan sesekali bercanda seperti pasangan lain."Aku baik-baik saja.""Yakin?"Kila mengangguk, lalu mengangkat bahu. "Tidak tahu. Tapi dokter bilang aku seharusnya bisa menjalani semuanya dengan normal."Aksara tertawa kecil. "Hahaha. Mungkin waktu pertama kali bertemu denganku, kamu memang terlalu bernafsu.""Pfft … tidak lucu!" Kila menyikut lengannya. "Kalau aku sedang heat, kamu mau kita bercinta di depan orang-orang?"Aksara pura-pura berpikir. "Hmm … di sawah juga boleh.""Aksara!"Pria itu tertawa melihat wajah kesal istrinya.Kios bakso yang mereka tuju t

  • Hadiah: Bosku, Partner Rahasiaku.   Part 114: Kampung Kila

    ***"Besok kalian ke Bali, ta, Nduk?"Ibu meletakkan cangkir-cangkir di atas nampan yang baru saja dibersihkan Kila. Aroma teh hangat menguar dari teko, menemani suasana santai sore itu."Iya, Bu. Sebenarnya Aksara menurut saja aku mau ke mana," jawab Kila sambil membuka bungkus camilan."Oh, kelihatannya Aksara memang niat sekali mau punya anak secepatnya." Ibu tertawa kecil.Kila ikut tersenyum. "Didoakan saja, ya, Bu. Semoga aku dan Aksara cepat punya anak."Namun, begitu mengucapkan kalimat itu, Kila justru teringat sesuatu. Sebenarnya, tanpa harus pergi ke Bali pun mereka sudah cukup sering berusaha membuat anak di kamar sendiri. Dia menahan senyum geli sambil mengambil beberapa camilan."Nduk, kamu masih memanggil Aksara pakai nama?" tanya ibunya lagi.Kila mengangkat alis.Memangnya ada yang aneh?Sejak masih bekerja, dia memang terbiasa memanggil pria itu dengan sebutan Pak Aksara. Namun, Aksara sendiri sudah memintanya memanggil nama saja. Kila pun tidak tahu apakah setelah m

  • Hadiah: Bosku, Partner Rahasiaku.   Part 113: Usil

    ***"Ini teh panasmu, Sayang."Aksara menyerahkan sebuah mug berisi teh hangat kepada Kila. Kekasihnya itu tersenyum kecil sebelum menerimanya."Terima kasih."Aksara kemudian duduk di samping istrinya. Dia merentangkan tangan, menarik Kila mendekat, lalu memeluknya dari samping. Kila menyandarkan tubuhnya dengan nyaman ke dada Aksara sambil meniup permukaan teh."Lama-lama sofa ini bisa roboh," gumam Kila sebelum menyesap minumannya.Aksara terkekeh. "Hm, kenapa kita susah sekali pindah ke ranjang, ya?"Kila menoleh dan mendapati suaminya sedang tersenyum jahil."Memangnya siapa yang membuat kita betah di sini?""Aku?" Aksara menunjuk dirinya sendiri dengan wajah polos.Kila mendengus geli.Mereka masih telanjang, hanya bantal sofa yang menutupi sebagian tubuh. Aksara mengecup puncak kepala istrinya. Malam itu terasa menyenangkan baginya. Bahkan kejadian konyol gara-gara celana dalam aneh pemberian Sarah tadi justru menjadi hiburan tersendiri."Aku senang menikahimu secepatnya," bisi

  • Hadiah: Bosku, Partner Rahasiaku.   Part 112: Reaksi Yang Panas

    ❗❗BAB MENGANDUNG ADEGAN DEWASA❗❗Harap bijak dalam membaca.***"Kamu tidak apa-apa, Sayang?" Aksara menyadari Kila mulai gelisah, wajahnya memerah.Kila hanya terdiam, mati-matian menahan rangsangan akibat mutiara-mutiara yang bergesekan di bagian paling sensitifnya. Dia benar-benar merasa tersiksa dengan celana dalam itu!"Ini sangat aneh..." bisik Kila, berusaha mati-matian mengatur napasnya. Dia mencoba sadar agar tidak terlena oleh gelombang stimulasi di balik roknya, memaksa diri untuk fokus menatap orang-orang yang sedang menikmati makan siang bersama mereka.“Aneh?” Aksara menaikkan alisnya.“Celana dalam!” Desis Kila.Aksara baru ingat. "Oh... Mutiara itu? Enak?" Goda Aksara."Huh! Awas saja, aku akan balas dendam," cibir Kila dengan tatapan sebal karena keisengan suaminya menyuruh memakai benda itu di keramaian.Aksara hanya menaikkan sebelah alisnya geli. "Ayo jawab apa rasanya sakit atau enak, hm?" bisik Aksara sembari tersenyum penuh godaan."Kamu benar-benar menyebalkan!

  • Hadiah: Bosku, Partner Rahasiaku.   Part 111: Mutiara

    ***"Apa ini?"Aksara menarik kain tipis itu dari dalam tas Kila, lalu mengangkatnya di depan wajah istrinya lalu memutar-mutar benda tersebut dengan satu jari.Kila justru merasa geli melihat tingkah suaminya. Aksara tampaknya terlalu serius memperhatikan barang pemberian Sarah."Itu… celana dalam," jawab Kila."Celana dalam?" ulang Aksara. Alisnya terangkat, seolah baru pertama kali mendengar nama benda itu. Namun, bukan namanya yang membuat pria itu tertarik. Pandangannya justru tertuju pada modelnya yang mungil, dengan hiasan mutiara putih di bagian tengah.Dia membolak-baliknya sebentar, lalu menyeringai kecil."Ini seksi juga."Kila memalingkan wajah. "Hmmm …""Kenapa ada mutiara di tengahnya?" Aksara kembali bertanya. Kali ini, dia bahkan mengangkat benda itu lebih tinggi agar bisa mengamati hiasannya dengan jelas.Kila menggigit bibir bawahnya. Dia tahu persis apa fungsi hiasan tersebut karena Sarah sudah menjelaskannya saat memberikan hadiah itu. Namun, membicarakannya dengan

  • Hadiah: Bosku, Partner Rahasiaku.   110: Persiapan Bulan Madu

    ***Aksara terperanjat. Dia langsung duduk di kasur dan buru-buru melihat jam di meja tidur. Benar saja, dia terlambat. Sudah jam sembilan lewat, dan Kila sudah tidak ada di sampingnya.Masih telanjang, Aksara menguap sambil menggaruk kepalanya. Dia tahu Kila sengaja tidak membangunkannya karena paham betapa lelahnya dia semalam. Dan semalam… memang sangat luar biasa.Dia bangkit dari ranjang dan berjalan ke kamar mandi. Di depan cermin, dia mengusap embun yang menempel, lalu menatap refleksi dirinya."Hm… kerjaan Kila," gumamnya sambil melihat banyaknya kissmark di leher dan dadanya. Dia hanya menggeleng, lalu menyalakan shower.Beberapa menit kemudian, pintu kamar mandi terbuka. Kila masuk sambil membawa handuk bersih, lalu melirik suaminya yang sudah selesai mandi dan sedang menyikat gigi. Meskipun memakai mantel mandi, jejak kemerahan di leher dan dada Aksara masih jelas terlihat.Aksara membalas tatapan itu. Istrinya sudah wangi, rapi, dan terlihat sangat cantik pagi ini. Dia men

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status