Share

5. Sedikit Pentunjuk

last update Last Updated: 2022-07-08 22:52:40

Widya menyambut kedatanganku dan Fadil dengan senang. Ia tampak bahagia setelah melewati tiga tahun menanti kehadiran sang buah hati. Tak lupa aku serahkan cake dan juga hampers bayi yang tadi aku beli di mall. Fadil terlihat senang melihat adik bayi yang imut dan juga montok. Putri kecil yang sehat dan cantik itu, diberi nama Sahara.

“Maaf ya Wid, baru sempat jenguk sekarang. Soalnya kemarin-kemarin gak enak tinggalin Mama di rumah sendirian. Kalau sekarang Mas Andra udah pulang,” ucapku seraya memandangi wajah bayi mungil yang sangat mirip dengan Widya.

“Santai aja, Beb. Gue juga paham kok. Alhamdulillah ni baby dah keluar dari perut gue. Kemarin mulesnya ya ampun, ampe sehari semalam!” ujar Widya sambil tertawa-tawa.

Aku ikutan tertawa mendengar candaannya. Widya adalah teman dekatku semasa di SMA. Saat lulus kami terpisah karena Widya diterima sebagai mahasiswa kedokteran sedangkan aku mengambil jurusan akuntansi. Selama itu kami masih menjalin komunikasi walaupun jarang bertemu. Sampai akhirnya aku menikah lebih dulu, lalu Widya menyusul dua tahun setelahnya.

“Suami lo ke mana, Wid? Masih di luar kota? Lo cuma berdua sama baby di rumah?” tanyaku karena tak melihat keberadaan Mas Alfi, suami Widya.

“Di luar pulau, dia. Lagi di Kalimantan, ngurusin tambang punya mertua gue. Kalau bokap nyokap gue kemarin 10 hari di sini, trus balik lagi ke rumah mereka. Soalnya ade gue ga bisa ditinggal lama-lama. Eh, Mas Andra mana? Kok gak ikutan ke sini? Biasanya kalian ke mana-mana bareng terus!” Widya malah balik menanyakan keberadaan Mas Andra.

Aku mendesah, tak bisa langsung menjawab. Sekilas aku melirik Fadil yang anteng melihat adik bayi, sambil memainkan mobil-mobilan kecil. Sementara Widya memandangiku dengan seksama.

“Nai, kok diem? Jangan bilang kalo lo lagi ada masalah sama Mas Andra?” selidiknya dengan mata menyipit.

Dadaku semakin berdebar. Haruskah aku benar-benar bercerita dengan Widya? Apakah ini termasuk aib rumah tangga yang tak boleh aku umbar? Ya Tuhan, aku harus bagaimana? Namun, jika tak berbagi mengenai hal ini, rasanya kepalaku mau pecah. Selama ini aku selalu menjaga kehormatan Mas Andra. Semua kekurangannya aku tutupi rapat-rapat. Tak ada orang lain yang tau selain aku dan mamanya bagaimana aslinya Mas Andra. Namun sekarang, bahkan Mama pun tak tahu apa yang sedang menimpa Mas Andra.

“Nai, woi, Nai! Kok lo malah ngelamun, sih?” tegur Widya sembari mencolek lenganku.

“Eh, i-iya, Wid. Sebenernya, gue ke sini mau curhat sama lo, Wid. Bukan hanya sebagai teman, tapi juga sebagai pasien,” lirihku.

Dahi Widya berkerut dengan mata memicing. Dia tampak kehilangan kata-kata untuk sesaat. Sedetik kemudian, ia tampak tersadar.

“Ya udah, bentaran. Gue ambil minum dulu. Lo mau minum apa? Jus? Teh? Kopi?” tawar Widya.

“Apa aja deh, Wid. Yang penting seger!” jawabku asal.

Widya mengangguk, lalu melihat ke arah Fadil. “Kalau Fadil mau minum apa, Nak? Tante ambilin. Jus mau, ya?”

Fadil melihat ke arahku, meminta persetujuan. Aku langsung mengangguk ke arahnya. Anak lelakiku tersenyum kecil.

“Fadil mau jus, Tante!” jawabnya riang.

“Oke!” seru Widya sebelum akhirnya berlalu ke dapur.

*

Mata Widya mengerjap cepat, sementara tangannya berkali-kali mengusap rambut. Jelas sekali kalau ia sebenarnya sedang khawatir karena mendengar ceritaku. Cerita yang mengalir lancar bagai tanpa beban. Suaraku sedikit bergetar saat menjelaskan hasil pemeriksaan Mas Andra di rumah sakit. Bagaimana kami sudah empat bulan tak bercampur, tapi Mas Andra malah mendapatkan penyakit itu.

Widya meraih gelas jus, lalu langsung menenggak isinya setengah gelas. Ia kemudian mendesah. Memijit pelipis sembari menunduk.

“Ja-jadi, gimana menurut lo, Wid?” tanyaku di akhir cerita.

Widya memandangiku lekat-lekat. Ia menggigit bibir bawahnya, grogi.

“Lo mau jawaban menenangkan apa jawaban jujur?” Ia balik bertanya, lalu menenggak jus lagi.

“Udah pasti jawaban jujur, Wid. Gue gak perlu kata-kata manis saat ini. Gue Cuma butuh fakta,” tegasku tanpa ragu.

Benar, bukan? Untuk apa kalimat-kalimat manis menenangkan? Toh aku bisa mendapatkan itu dari Mas Andra. Namun itu semua tak mengurangi rasa cemas dalam hati. Yang aku butuhkan saat ini adalah pencerahan.

“Oke, jadi lo yakin udah empat bulan lebih gak campur sama Mas Andra?” Widya memasang wajah serius.

Aku mengangguk mantap karena memang begitulah kenyataannya. Widya menopang dagunya dengan tangan kanan. Entah apa yang ada dalam pikiran sahabatku itu.

“Aku setuju sama penjelasan dokter Budi. Memang itu penyebab penyakit sifilis, Nai. Ga ada yang lain. Kalo misal Mas Andra ga pernah pake narkoba lewat jarum suntik non-steril, atau terima transfusi darah dari orang yang kena sifilis juga, berarti emang dia pernah tidur sama orang lain. Bisa jadi bukan cuma satu, dan salah satu dari mereka terinfeksi,” jelas Widya dengan suara pelan.

Aku terhenyak. Ia melirik sekilas ke arah Fadil yang fokus menonton tayangan kartun di TV. Sengaja kami mengalihkan perhatian lelaki kecil itu agar tidak mendengar percakapan ini.

“Jadi, memang gak mungkin penyakit itu datang begitu aja ya, Wid?” Pundakku terasa sungguh berat mendengar ucapan Widya barusan.

“Gak, Nai. Musti ada penyebab pastinya. Ga da ceritanya lo ujug-ujug kena sifilis. Ada sebab akibat.” Widya menarik napas sebelum melanjutkan.

“Mas Andra rutin minum obatnya, kan? Kalo ga cepet diobatin, bisa bahaya, merembet jadi penyakit lain,” imbuh Widya dengan wajah tenang.

“Ya diminum sih, Wid. Cuma, gue masih ragu mau deketin dia. Pengen nyentuh aja rasanya males. Gue jadi rada takut, udah parno duluan.” Aku menatap ke langit-langit rumah Widya yang berwarna putih tulang.

“Wajar, gue paham perasaan lo. Dan emang semestinya lo hati-hati, sih. Pokoknya jangan sampai campur dulu sama dia sampai dinyatakan bener-bener sembuh.”

“Ya gitu emang, Wid. Bahkan, walaupun Mas Andra dah sembuh, gue rasanya masih ragu. Soalnya gak jelas juga dia dapet penyakitnya dari mana, kan?”

Widya mengangguk. Suara rengekan Sahara memecah perhatian kami. Bayi mungil itu menggeliat, lalu menendang-nendang. Aku lantas melihat ke arah Fadil. Ternyata sedari tadi, diam-diam ia sudah tertidur di depan TV.

“Bentar, ya. Kayaknya laper tuh baby,” ucap Widya, lalu mengangkat Sahara. Tak lama kemudian, bayi itu sudah tenang lagi karena di-Asihi.

“Jadi, gue harus gimana ke depannya, Wid? Gue jadi ragu kalau Mas Andra bener-bener setia selama ini. Kemarin juga gue ajak periksa ke rumah sakit lain buat nyari second opinion, tapi dia nolak. Trus dia juga ga mau ngasih tau Mama soal penyakit itu, makanya gue curiga.” Aku melanjutkan perbincangan dengan suara pelan.

Widya tampak berpikir sejenak. Matanya mengerjap-ngerjap. Ia pun tampak bimbang dengan masalah yang tengah aku hadapi.

“Bentar, Nai. Tadi, lo bilang empat bulan ga ketemu sama Mas Andra, kan?” Mata Widya menyipit.

“Iya. Dia baru pulang seminggu. Empat bulan total kita LDR, ga ketemu sama sekali,” jelasku cepat.

“Astaga. Beneran kan, empat bulan dia ga pulang sama sekali?” tanya Widya sekali lagi, entah apa maksudnya.

Aku mengangguk mantap, dalam hati bertanya-tanya. Widya bangkit lalu mengambil ponselnya dari atas meja. Tangannya kemudian sibuk memencet.

“Lo mau ngapain, Wid?” Aku menjadi berdebar-debar melihat tingkah Widya.

“Bentar, gue jadi teringat sesuatu.”

Tak lama kemudian, ia tampak sedang menghubungi seseorang. Mataku terbelalak lebar. Jangan-jangan dia menghubungi Mas Andra? Ya ampun, Widya apa-apaan, sih?

Melihatku panik, Widya memberi isyarat menyuruhku tenang dan diam. Tak lama kemudian, suara bariton terdengar dari ponsel Widya.

“Halo Yang, lagi apa?” sapa Widya.

Aku menghembuskan napas lega. Ternyata dia menghubungi Mas Alfi. Pasangan suami istri itu sibuk bertukar kabar dan menanyakan hal-hal yang hanya mereka tahu. Namun, pertanyaan Widya kali ini berhasil menyita perhatianku.

“Oh iya, Yang. By the way, pas dua bulan lalu kamu mau berangkat ke Bandung itu, kamu ketemu sama Mas Andra di bandara Fatmawati, kan?” tanya Widya. Matanya menatap ke arahku tanpa berkedip. Aku sampai menahan napas.

“Dua bulan lalu? Oh, iya. Pas aku cerita ke kamu itu, kan? Kenapa emang?” Mas Alfi balik bertanya.

Dadaku berdebar-debar, badan terasa dingin seperti disiram air es. Sepertinya aku tahu ke mana arah pikiran Widya.

“Hooh, yang waktu itu. Kamu sama Andra ga sempet ngobrol sama sekali?”

“Kan aku dah bilang, waktu itu Andra gak lihat aku. Soalnya dia kayaknya buru-buru. Jadinya kita gak ngobrol. Emang kenapa sih, Yang?”

Aku menekan dada. Jantungku di dalam sana berdebar liar, seperti ingin copot dan keluar.

“Gak apa-apa, Yang. Nanya aja. Waktu itu, Mas Andra sendiri atau ada temennya?” selidik Widya lagi. Ia masih terus melihat ke arahku.

Mas Alfi terdiam sejenak, mungkin sedang mengingat-ingat di sana. Aku merasakan telapak tangan berkeringat dingin saking groginya. Jadi, dua bulan yang lalu Mas Andra pernah pulang? Dia pernah terlihat di bandara. Tapi ke mana dia? Dua bulan yang lalu dia tak pernah sampai ke rumah. Aku ingat betul, empat bulan tak bertemu dengannya sama sekali. Ya Tuhan, apakah ini sebuah petunjuk? Sepertinya langkahku memang dituntun untuk bertemu dengan Widya hari ini.

Lamat-lamat terdengar lagi suara Mas Alfi lewat ponsel Widya yang diatur dengan loud-speaker.

“Waktu itu ….”

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Hadiah Pahit dari Suamiku   62. Lembaran Lama dan Lembaran Baru

    Tak jauh dari sebuah losmen melati, mobil terparkir. Aku tak sendirian di sana, melainkan ditemani oleh Abah dan juga Mas Anton. Beberapa polisi yang mengenakan pakaian seperti preman pun sudah bersiap di depan sebuah pintu kamar yang diduga merupakan tempat persembunyian Mas Andra dan Mbak Della.Setelah berapa hari mencoba melacak keberadaannya, akhirnya semua semakin terang dan jelas saja. Penjaga losmen itu pun sudah mengaku kalau memang ada sepasang laki-laki yang ciri-cirinya sama seperti orang yang kami cari.Liciknya, untuk menginap di losmen itu, mereka tidak perlu memberikan jaminan kartu identitas. Cukup bayar dua kali lipat saja dan mereka sudah bisa menginap.“Gimana, Bah? Mereka udah bergerak?” tanyaku, dengan keringat di pelipis dan telapak tangan. Jujur saja aku gugup dengan rencana penangkapan ini.“Sepertinya sudah, Nai. Itu mereka mulai ketok-ketok pintunya, tapi gak dibukakan,” ucap Abah yang sampai sengaja membawa teropong kecil agar bisa menyaksikan semuanya.Ke

  • Hadiah Pahit dari Suamiku   61. Buronan

    Mama harus menghadapi kenyataan bahwa dirinya menderita stroke setelah pingsan mendengar apa yang terjadi pada anak kesayangannya kemarin. Perempuan itu terus meneteskan air mata walaupun mulutnya tidak berbicara sama sekali.Aku antara tega tak tega melihatnya, sebab sejujurnya hatiku jauh lebih sakit lagi. Sampai detik ini pun, dua hari setelah ketahuan dengan kelakuan bejatnya, laki-laki yang masih berstatus sebagai suamiku itu tidak juga menunjukkan itikad baik sama sekali.Akhirnya Mas Andra resmi berstatus menjadi buronan setelah kami memasukkan laporan ke pihak kepolisian. Nomor ponselnya dan mbak Della tidak bisa dihubungi sama sekali, mungkin mereka sengaja agar tidak bisa dilacak keberadaannya.Aku kembali mendesah, menatap Mama yang terus melihat ke arah plafon yang berwarna putih. Tubuhnya terbaring lemah, dengan mulut sebelah kiri yang timpang. Sejak kemarin dia tidak bersuara sama sekali. Hanya helaan nafasnya saja yang sesekali terdengar.Sebenarnya aku sangat enggan be

  • Hadiah Pahit dari Suamiku   60. Beban Baru

    “Nai, Naira! Bangun, Nak!”Perlahan aku membuka mata di saat mendengar suara abah yang diiringi dengan tepukan pelan di pipi. Kepala ini terasa begitu berat seperti habis tertimpa benda yang besar.“A-abah …,” ucapku dengan suara parau.Abah mendesah pelan. “Syukurlah kamu udah sadar, Nai. Abah khawatir sekali pas datang tadi, lihat kamu terkapar di lantai. Hampir putus nyawa abah, Nai,” bisiknya.Ternyata kami tak hanya berdua saja di sana. Sudah ada Pak RT dan beberapa tetangga yang semuanya berkumpul di ruang tamu, sementara aku dibaringkan di atas sofa.Saat mencoba bangkit, aku mengernyit merasakan pedih di bagian pelipis. Entah sekeras apa Mas Andra menghantamku tadi. Bajing@n itu benar-benar tidak punya hati.“Berbaring aja kalau pusing, Nai. Gak usah dipaksakan duduk,” sergah Abah dengan suara bergetar. Aku yakin kalau dia pasti panik sekali di saat mendapati putrinya seperti sudah tidak bernyawa.“Gak apa-apa, Bah. Gak enak kalau Nai baring terus sementara banyak orang.”Deng

  • Hadiah Pahit dari Suamiku   59. Tak Mau Disalahkan

    Plak! Sebuah tamparan keras mendarat di wajah mulus Mbak Della. Aku sampai sedikit terperanjat, tak menyangka Mas Andra akan sekasar itu. Padahal tadi dia memanggil Mbak Della dengan panggilan ‘Sayang’.“M-mas, kamu nampar aku?” tanya perempuan itu dengan suara bergetar.“Tutup mulut busukmu itu, Della! Sejak kapan aku merayu kamu, hah? Kamu aja yang keganjenan setiap hari godain aku! Termasuk hari ini tadi!” geram Mas Andra seolah dialah yang paling benar.Aku hanya berdiri mematung menyaksikan pertengkaran di antara pasangan tak halal itu. Rupanya Mas Andra benar-benar pengecut dan ingin membuatku percaya kalau yang salah hanyalah Mbak Della.“Kamu keterlaluan, Mas! Bu Naira, saya berani sumpah kalau kami melakukan ini atas dasar suka sama suka! Saya gak bohong, Bu!” teriak Mbak Della setengah menangis.Aku manggut-manggut mendengarkan keluhannya. Kenapa sekarang menangis? Tangan Mas Andra kembali terangkat ke arah wajah Mbak Della. Saat itu juga aku bersuara.“Cukup, Mas! Kamu bole

  • Hadiah Pahit dari Suamiku   58. Tepat di Depan Mata

    Apakah ini hari di mana pernikahanku dan Mas Andra akan berakhir sepenuhnya? Kurasa, setelah ini nanti, dia tak akan punya kekuatan lagi untuk mengelak. Bukannya aku senang karena Mas Andra terbukti melakukan hal yang tidak senonoh, tetapi itu memang perbuatan yang dia lakukan sendiri dalam keadaan sadar dan tanpa tekanan dari siapapun. Tak ada yang memaksanya untuk bertindak tidak terpuji dengan Mbak Della. Bahkan, yang membawa perempuan itu ke rumah ini adalah Mama dan Mas Andra sendiri. Setelah aku mengirimkan rekaman yang pertama, Abah sempat mencoba menelpon, tetapi aku tolak. Meski demikian, aku segera mengirimkan pesan padanya. [Bah, Nai mau gerebek Mas Andra hari ini. Jangan telpon dulu ya, Bah. Nanti Nai kabari lagi] Aku tahu kedua orang tuaku di sana pasti khawatir. Sejujurnya aku pun tak tahu bagaimana reaksi Mas Andra nanti. Aku harus siap dengan segala kemungkinan terburuk. [Kamu hati-hati, Nai. Abah akan nyusul kamu ke sana sendirian. Biar Fadil sama umimu di rumah]

  • Hadiah Pahit dari Suamiku   57. Berduaan dengan Della

    (PoV Andra)“Kamu itu jadi suami yang tegas sedikit sama Naira! Lihat dia semakin ngelunjak aja!” omel Mama setelah Naira dan Fadil berlalu dengan mobil.Aku menghembuskan napas berat. Sebenarnya malas sekali mendengarkan omelan Mama seperti ini. Namun, aku juga tak kuasa untuk menahan Naira. Mobil itu memang miliknya, aku gunakan bekerja setiap hari.Jadi, di akhir pekan jika dia mau menggunakan kendaraan roda empat itu, aku tak bisa mencegah. Apalagi kalau hanya sekedar untuk mengantar Mama arisan.“Sudahlah Ma, kan udah Andra bilang, nanti Andra bayarin uang taksi. Pokoknya Mama tenang aja!” ucapku berusaha meredakan emosi Mama.Wajahnya masih memerah dan ditekuk sedemikian rupa. Terlihat jelas kalau Mama marah dan kesal. Mau bagaimana lagi?“Bukan masalah itu, Andra! Lihatlah kamu gak punya wibawa sebagai suami! Naira itu gak kerja apa-apa di rumah! Kerjanya ongkang-ongkang kaki aja! Main sama Fadil! Makan, tidur! Tapi masih aja kamu kasih uang belanja!” Mata Mama melotot saat m

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status