แชร์

Empuk, Kok...

ผู้เขียน: Syamwiek
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2025-12-24 14:51:48

Aku tahu Om Kais menyadari ada yang aneh denganku. Sejak pulang dari rumah Safa tadi sore, aku jadi pendiam. Saat diajak ngobrol, aku cuma jawab seadanya tanpa menatap matanya. Saat dia peluk, aku menghindar dengan alasan mau ambil minum. Saat dia cium pipiku, aku diam saja—tidak membalas seperti biasanya.

"Sayang, kamu yakin nggak apa-apa?" Om Kais bertanya untuk kesekian kalinya sambil duduk di tepi ranjang, menatapku yang sedang lipat-lipat baju di lemari.

"Iya, Bunny. Aku baik-baik aja kok." Aku menjawab tanpa menoleh.

"Tapi kamu aneh dari tadi—"

"Enggak kok. Aku cuma capek aja. Habis dari perpus terus ke rumah Safa. Jadi agak lelah." Aku mencoba tersenyum, tapi tetap tidak menatapnya.

Om Kais terdiam. Aku tahu dia tidak percaya. Tapi dia tidak memaksa.

"Oke. Kalau kamu mau cerita, aku siap mendengarkan." Om Kais akhirnya berkata lembut.

"Iya, Bunny. Makasih." Aku masih sibuk dengan baju-baju yang sebenarnya sudah rapi.

Setelah selesai dengan baju, aku mengambil handuk. "Aku mandi
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก
ความคิดเห็น (4)
goodnovel comment avatar
~•°Putri Nurril°•~
dannnn endingnya.... satu ronde lagi hahaha
goodnovel comment avatar
SumberÃrta
jangan ke dokter kulit... coba ke obgyn ajaaa kali aja binar tekdung
goodnovel comment avatar
SumberÃrta
naah kannn beee... emang lebih enak yang empuk-emouk kokk
ดูความคิดเห็นทั้งหมด

บทล่าสุด

  • Hai Om, Aku Calon Istrimu!   Bunny, Mau Ini ...

    Setelah makan malam ronde dua ditemani Mama dan Papa, aku pamit ke kamar. Bukan untuk tidur, melainkan karena ada satu hal yang sejak tadi mengganjal di pikiranku.Om Kais sedang berada di kamarku, berbicara dengan klien dari China lewat telepon. Aku tidak ingin mengganggu, jadi memilih berbelok menuju kamar Mas Pandu.Lampu kamar masih menyala. Pintu tidak tertutup rapat. Aku mengetuk pelan lalu masuk. Mas Pandu duduk di tepi ranjang sambil menatap layar ponselnya.“Mas,” panggilku.Mas Pandu mengangkat kepala. “Iya, Dek?”Aku menutup pintu dan duduk di kursi seberang ranjang. Menatapnya langsung.“Mas tahu nggak, Mbak Nindi lagi ngambek.”Mas Pandu mengernyit. “Ngambek? Kenapa? Bukannya dia lagi sibuk di tempat kerja yang baru?”Aku menarik napas. “Mas, ngambek sama sibuk itu beda.”Dia diam, menungguku melanjutkan.“Mas Pandu salah beliin pesanan Mbak Nindi. Terus nggak minta maaf langsung. Baru tiga hari kemudian minta maafnya.”Mas Pandu mengusap tengkuknya. “Aku kira itu bukan m

  • Hai Om, Aku Calon Istrimu!   Ketiban Berkah

    Aku duduk di sofa ruang istirahat anak koas sambil bermain ponsel. Jarum jam sudah menunjuk pukul lima sore, tapi Mas Pandu masih berada di ruang operasi."Binar, kamu nggak pulang duluan?" tanya Dita yang duduk di sampingku."Nggak. Aku mau pulang bareng Mas Pandu. Kebetulan aku mau nginep di rumah Mama." Aku meregangkan badan yang mulai pegal."Wah, pulang ke rumah mama? Kangen ya?""Iya, kangen banget. Aku mau minta dimasakin makanan kesukaanku. Udah lama nggak makan masakan Mama." Aku tersenyum membayangkan soto ayam buatan Mama yang super enak.Tadi pagi aku sudah minta izin ke Mama Maya sebelum berangkat ke rumah sakit. Beliau langsung setuju dan bahkan bilang, "Kamu ini menantu Mama, tapi juga tetap anak kandung mama kamu. Pulang aja, nggak usah izin segala. Rumah mama ya rumah kamu juga."Hatiku langsung menghangat mendengar kata-kata Mama mertuaku.Tapi masalahnya, aku nggak bisa menghubungi Om Kais dari tadi.Akhirnya aku hubungi menghubungi Rayhan."Halo, Mas Rayhan?""Iya,

  • Hai Om, Aku Calon Istrimu!   Kamar Khusus Bumil

    "Alhamdulillah, visit terakhir selesai!" ucap Dita, teman satu tim koas, sambil meregangkan badannya.Aku duduk di kursi sambil mengelus perut yang mulai terlihat membuncit. Hari ini aku di stase jantung bareng Mas Pandu sebagai dokter pembimbing. Untung saja timku baik-baik semua. Nggak ada yang julid atau nyinyir kayak timnya Safa."Binar, untuk makan siang—kita tunggu kiriman dari Pak Kais, kan?" Reza, cowok satu-satunya di tim kami, nyengir lebar.Aku tertawa. "Iya, Om Kais bilang tadi pagi mau kirim makanan buat kita semua.""Asik! Makan enak dan gratis lagi!" seru Lina, teman lainnya.Nggak lama kemudian, pintu terbuka. Pak satpam masuk membawa kotak-kotak makan siang dengan logo restoran mewah."Pesanan untuk Mbak Binar dan tim?""Iya, Pak!" Aku mengangkat tangan.Pak satpam meletakkan enam kotak di meja. "Ini dari Pak Direktur. Selamat menikmati."Setelah Pak satpam pergi, kami langsung membuka kotak makanannya."WOOOW!" Semua kompak teriak.Di dalamnya ada nasi putih, ayam ba

  • Hai Om, Aku Calon Istrimu!   Safa❤️Rayhan Wedding

    Aku turun ke restoran hotel dengan riasan sudah sempurna. Makeup artist tadi bilang aku cantik banget, tapi jujur aku nggak terlalu percaya diri. Apalagi setelah lihat cermin—wajahku makin bulat dan jerawatnya nambah jadi lima!"Sayang!" Om Kais melambai dari meja di pojok. Di sampingnya ada Mama dan Papa yang sudah duduk sambil menikmati kopi pagi.Aku berjalan menghampiri mereka, tapi langkahku agak berat. Dress bridesmaid warna dusty pink yang aku pakai terasa sedikit sesak di bagian perut."Selamat pagi semua," sapaku sambil duduk di samping Om Kais."Pagi, Adek. Wah, cantik sekali Bumil hari ini," puji Papa sambil tersenyum hangat."Ah, Papa bisa aja. Aku lagi jelek nih. Badan makin bulat, jerawat nambah jadi lima!" Aku cemberut sambil menyentuh pipi."Biasa itu, Dek. Hormon kehamilan. Nanti setelah dedek bayi lahir, kita ke klinik buat perawatan. Mama jamin balik seperti semula,” ujar Mama."Beneran, Ma?""Iya. Mama dulu juga begitu waktu hamil Mas Pandu dan Adek. Jerawatan, bad

  • Hai Om, Aku Calon Istrimu!   Ya, begitulah...

    "AAAAHHH! AKU GUGUP BANGET!" Safa berteriak sambil melompat-lompat di atas kasur seperti anak kecil.Aku yang sedang duduk di sofa sambil membuka bungkus keripik kentang ketiga malam ini cuma bisa geleng-geleng kepala. "Sa, udah jam sepuluh. Besok pagi kamu harus bangun pagi buat makeup. Tidur sana.""Nggak bisa tidur, Bee! Aku gugup banget!" Safa turun dari kasur, berlari ke arahku. "Besok aku jadi istri Mas Rayyan! Istri! Kamu bayangin nggak sih?""Iya iya, aku bayangin." Aku melahap keripik sambil tersenyum geli. "Tapi kalo kamu nggak tidur sekarang, besok mata kamu bengkak.""Binar bener. Kamu harus tidur, Safa." Mbak Nindi—bridesmaid ketiga—sedang duduk di depan cermin dengan masker wajah menempel di wajahnya. "Besok kamu harus tampil cantik."Safa menghela napas dramatis lalu menjatuhkan dirinya di sofa sebelahku. "Kalian nggak ngerasain sih gimana rasanya besok mau nikah. Jantung aku kayak mau copot!""Aku juga pernah kok," ucapku sambil meraih bungkus coklat. Safa menatapku d

  • Hai Om, Aku Calon Istrimu!   Adek Koas

    Aku melangkah masuk ke lobby Rumah Sakit Arfamed sambil membawa paper bag berisi bekal makan siang untuk Om Kais. AC ruangan langsung menyambut, mendinginkan kulitku yang sedikit gerah karena panas terik di luar.Pandanganku menyapu sekeliling. Rumah sakit ini megah banget. Minggu depan aku akan mulai koas di sini. Deg-degan campur excited.Aku mengelus perutku yang masih rata sambil tersenyum. “Dedek, ini tempat Mommy bakal kerja nanti. Keren, kan?”Beberapa perawat yang lewat menatapku sambil tersenyum. Aku balas senyum canggung. Jangan-jangan mereka dengar aku ngomong sendiri.Aku melangkah masuk ke lift, menuju lantai tempat ruang administrasi dan ruang direktur berada—lantai di mana Om Kais biasa berkantor.Pintu lift terbuka. Aku baru melangkah keluar saat seseorang memanggilku."Binar?"Aku menoleh. Mas Pandu! Dia berjalan ke arahku dengan jas dokter putihnya, juga membawa paper bag."Mas Pandu!" Aku tersenyum lebar."Antar makan siang buat Mas Kais?" Tanyanya."Iya, Mas. Dia l

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status